IMG_3302

Ada apa, Jingga?

IMG_3302

 

“Bisa temui aku sebentar?”

 

“Jingga? Apa kabar? Ini kamu?”
“Nggak begitu baik,”
“Kamu sedang dimana?”
“Nggak tahu.”
“Jangan kemana-mana, saya akan ke sana dalam lima belas menit.”

 

Nggak perlu lama-lama untuk tahu dia sedang berada dimana jika kondisinya sedang seperti ini.

 

Ketika turun dari motor kemudian meletakan helm, saya termangu melihatnya duduk dengan tatapan nanar dan mata sendu seperti habis menangis. Saya menghampirinya dengan langkah perlahan, takut menganggu lamunannya yang kelihatan sedang seru sekali.

 

“Ayo,” saya mencoba untuk mengajaknya bermain ayunan yang hanya ia lihat dari tadi.
“Nggak selera.”
“Kamu duduk saja, saya yang ayunkan.”
“Tetap nggak selera.”
Nggak menghiraukan keputusannya, “Sudah deh, ayo.”

 

“Lelah,” sambil menghampirinya dari depan kemudian duduk di depannya.
“Payah.”
“Matamu kenapa tuh? Sedang musim hujan ya?”
“Musim pancaroba. Kadang hujan, kadang kemarau, lalu tiba-tiba hujan lagi, musim yang aneh.”

 

Saya diam, menyaksikan pertunjukkan yang paling saya nantikan sepanjang masa, wajahnya. Bibirnya terlihat sedikit pucat, pasti ada sesuatu yang terjadi. Nggak mungkin nggak.

 

“Kamu ingin saya ke sini untuk disuruh apa?”
“Ke sini.”
“Iya untuk apa?”
“Ke sini.”

 

Saya tersenyum, nggak memintanya untuk melakukan apa-apa. Saya akan bicara jika dia suruh bicara, saya diam jika dia diam, saya peluk ketika dia menangis. Ya, saya memang hanya perlu menjadi bayangannya ketika ia sedang bersedih.

 

“Kamu diam.”
Dia memang nggak bisa didiamkan lama-lama, “Habis kamu diam.”
“Memang sedang ingin diam, nggak boleh memangnya?”
“Boleh,”
“Lalu masalahnya apa?” ia bertanya lagi.
Saya menjawab serius, “Masalahnya kamu sudah terlalu larut dalam diam, itu bahaya.”

 

“Lalu aku harus apa?”
“Jika ingin berbicara, saya akan diam dan menjadi pendengar yang baik.”
“Dari mana aku tahu jika kamu mendengarkan?”
“Nanti beri saja saya pertanyaan, pasti benar.”

 

Saya mendengar ia menghela nafas, pun dengan saya.

 

“Aku nggak tahu harus cerita apa.”
Saya mencoba membuatnya tenang, “Apa saja, dari dulu pasti seru kalau kamu yang cerita.”

 

Dia menatap saya, matanya mulai berkaca-kaca. Saya tahu, ia pasti sudah nggak sanggup lagi menahannya. Dia mulai menangis. Di sini saya hancur, beban terberat adalah ketika harus melihatnya menangis. Saya nggak bisa apa-apa, kecuali perlahan memeluknya.

 

“Jingga…” terisak, dia nggak mampu bercerita.
“Keluarkan saja, biarkan pundak saya menampung air hujanmu supaya nggak terbuang cuma-cuma.”

 

Saya bisa merasakan, dia sedang mempererat pelukannya.

 

“Kalau kamu mau pulang, saya antar.”
“Jingga sudah pulang dan nggak mau kemana-mana lagi.”
“Maksudmu?”
“Kenapa kamu masih mau datang?”
“Saya nggak mengerti,”
“Kenapa kamu ada di sini? Setelah sekian lama aku menghilang tanpa kabar kemudian menangis di depanmu sekarang?”

 

Lidah ini tiba-tiba saja membeku nggak mampu mengeluarkan satu huruf pun, “Karena…”
“Apa karena perasaan itu? Perasaanmu yang nggak pernah aku hiraukan, iya?”
“Jingga…”
“Jawab!” ia membenggak.

 

Saya diam, menunduk dan nggak berani melihat wajahnya.
“Saya minta maaf.”
Dengan tangisannya yang semakin deras, “Kenapa harus aku? Kenapa nggak kamu?”

 

Saya menghela nafas kemudian berusaha untuk menjawabnya, “Karena menyayangimu adalah penderitaan yang paling saya nikmati, pelukanmu adalah sebuah kejutan yang selalu saya tunggu dan akan selalu begitu.”

Tags: No tags

45 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *