IMG_3299

Geez, apakah kamu membacanya?

IMG_3299

 

Saya menulis ini di beranda sebuah rumah sederhana, di kota kecil dan terpencil. Saya sedang berada jauh sekali rumah. Sengaja menepi dari Jakarta. Mengasingkan diri sebentar dari ibu kota yang telanjur membuat saya jatuh cinta. Memang nggak lama, tapi paling nggak cukup untuk menghidupkan kembali mimpi-mimpi yang tertunda karena realita menyita waktu saya. Di sebelah saya ada dua ekor sapi yang sedang asyik memakan rumput hijau, sulit sekali mencari sinyal di sini. Untuk memposting ini saja, saya harus berkendara ke alun-alun kota untuk mendapat sinyal. Tapi ini menyenangkan. Ah, saya terlalu mengulur waktu.

 

Gazza Chayadi.

 

Saya tahu pasti sudah nggak asing lagi. Mendengarnya kalian akan reflek berucap, “Geez!”
Sudah terlalu banyak kata, kalimat, bahasa, dan cerita tentangnya. Entah apa yang membuat kalian bisa merasakan kehadirannya di tiap paragraf yang kutuliskan di dalam buku. Sampai ketika pertanyaan demi pertanyaan yang sama, singgah di kotak pesan yang semakin hari semakin penuh.

 

“Kak, apakah ia nyata?”

 

Saya selalu terkejut bila membaca pertanyaan itu. Bahkan hingga sekarang. Saya masih ingat betul, ketika acara Festival Pembaca Indonesia tahun lalu, kebetulan saya jadi pembicara di sana. Kali pertama bercerita langsung di depan banyak orang. Dan pertanyaan itu ditanyakan oleh salah seorang Kawan yang datang. Saya terkejut, dan panik tentu saja. Dan ternyata sulit sekali untuk berbohong. Sudah saya coba untuk mengalihkan, tapi pertanyaan demi pertanyaan semakin menyudutkan saya. Hingga pada akhirnya…

 

“Oke. Baik. Begini.”

 

Setelah menghela napas, saya coba untuk memberi pengakuan.

 

Jadi… ya, ia nyata. Ia hidup di bumi bersama kita. Ia sungguh ada. Bukan hanya di dalam sebuah buku. Tapi nggak dengan cerita yang kamu baca. Itu murni fiksi. Murni hasil khayalan saya. Murni hasil imajinasi saya yang terlalu mengaguminya.

 

“Bagaimana, Kak? Bagaimana? Kurang paham.”

 

Menyebalkan sekali. Dari pertanyaan sederhana, “Nyata atau nggak?” menjelma cerita panjang yang nggak ada habisnya. Tapi rasanya memang nggak adil bila menyimpan ini sendirian.

 

Dulu, dia adalah kakak kelas saya ketika SMP. Tapi ketika itu ia sudah lulus dan sudah SMA. Ingat bab pertama di buku Geez & Ann? Ya, kurang lebih mirip dengan apa yang terjadi sesungguhnya. Termasuk hoodie berwarna hijau toska, sepatu converse-nya yang lusuh, juga kacamata yang hingga detik ini, nggak pernah ia ganti.

 

Tapi bila kalian kira ia begitu romantis, tampan, dan pintar mengeluarkan kata-kata yang akan melelehkan siapa saja yang mendengarkan, kalian salah. Sudah sejak lama ingin saya ceritakan sisi aslinya, dan akhirnya saya menemukan waktu terbaik untuk menceritakannya.

 

Ia dingin. Sangat dingin. Sangat idealis, dan serius. Tapi juga menyebalkan. Sering menggoda dan mengejek. Ia menyenangkan dan menyebalkan dalam satu waktu. Ia bercanda dan serius dalam saat yang bersamaan. Memang aneh. Ajaib. Dan mungkin itu yang membuat saya mengaguminya hingga berani menuliskannya sebuah buku yang ajaib pula, karena isinya benar-benar di luar kenyataan. Kami hanya berteman. Berteman dan nggak lebih. Sejak dulu hingga sekarang. Kami nggak pernah membahas tentang cinta dan sejenisnya, kami cukup bahagia dengan menjadi dekat walau nggak erat.

 

Oh, ya. Ia juga sangat mencintai buku. Seperti Pram dan Widji Thukul. Dua penulis favoritnya yang membuatnya menjadi begitu idealis. Juga mencintai musik rock yang sangat menyakitkan bila didengar. Maaf saya nggak bisa memberi tahu lagu atau band kesukaannya, Rahasia, katanya.

 

Tiap kali ia meminta saya untuk mendengar salah satu lagu kesukaannya, “Terlalu keras, nggak bisa didengar,”
“Bisa, asal kamu fokus pada nada yang ada di dalamnya.”

 

Gagasannya nggak boleh ditentang. Apabila ia menyatakan sesuatu, semua harus mengiyakan. Karena bila kamu nggak setuju, akan panjang jadinya. Ia akan terus membalas pendapatmu sampai kamu menyerah. Menyebalkan.

 

“Lalu, Kak? Apa dia sudah membacanya?”

 

Ini juga akan menjawab pertanyaan mengapa akhirnya akan saya tulis lanjutan ceritanya, buku yang menjadi akhir dari cerita Geez & Ann nanti.

 

Pertama, dia adalah manusia yang nggak bisa geer. Manusia paling nggak peka sedunia. Itu alasan pertama mengapa saya berani menuliskannya sebuah buku. Karena, Ah, ia nggak akan membacanya, pikir saya sebelum akhirnya menulis cerita Geez & Ann.

 

Sampai ketika itu. Sebulan setelah bukunya terbit. Saya masih ingat betul, tentu saja, di penghujung bulan Desember. Setelah lima tahun nggak bersua, nggak saling kontak, karena kami saling sibuk dan keadaan membuat kami nggak saling mengabari, semesta membuat saya kembali bertemu dengannya. Entah apa rencana yang sedang semesta buat, yang jelas kami bertemu kembali. Di malam itu. Kami bertemu.

 

Dan ia nggak berubah. Nggak bertemu lima tahun dengannya nggak membuat kami merasa asing. Langsung terjadi percakapan hangat yang membuat saya berucap, “Ia masih sama.” Masih dirinya yang menyebalkan, dan idealis. Bahkan suara tawanya yang nggak pernah hilang dari telinga, juga nggak berubah. Kacamata, senyuman, ah, Kawan, nggak ada yang berubah.

 

“Tsana?”
Dia yang pertama kali mengenali dan menyapa. Ada rasa haru dan senang yang bersamaan hadir di dalam hati.
“Kakak?”
“Apa kabar?”
“Baik.”
“Dengar-dengar Tsana menulis buku. Buku tentang apa?”

 

Kemudian semua terasa hening. Seketika saya berusaha untuk berbohong walau akhirnya justru terlihat konyol.
“Hah? Masa? Kata siapa? Enggak, enggak menulis buku.”
“Tsana… kamu tetap nggak pintar berbohong.”
Sial.

 

“Cerita yang… aneh.. Bukan jenis buku yang Kakak suka, nggak penting, nggak usah dibahas,”
“Kan belum dibaca…”
Ketika itu, dengan segera saya berkata ketus, “Pokoknya nggak boleh dibaca!” juga dengan sedikit panik.
“Kenapa memangnya?”
“Pokoknya nggak boleh!”

 

Padahal harusnya saya nggak perlu panik. Toh ceritanya berbeda. Dan ia nggak mungkin merasa. Ia nggak mudah geer. Jadi harusnya aman-aman saja. Semua baik-baik saja setelah pertemuan malam itu, hingga ketika muncul pesan masuk di handphone saya, yang lama nggak bersuara itu, “Tsana?”
“Iya, Kak?”
“Aku sudah membaca kedua bukunya, akan menjadi sebuah kehormatan bila bisa mendapat tanda tangan langsung dari penulisnya.”

 

Tolong jangan bertanya seperti apa kondisi saya ketika itu. Berantakan. Saya benar-benar terlihat konyol. Saya terus berusaha mencari jawaban agar ia nggak perlu meminta tanda tangan agar kami nggak perlu bertemu lagi. Tapi salah memang beradu argumen dengannya, saya pasti kalah.
“Nah gitu dong, ya sudah aku ke rumah ya?”
“JANGAN!” saya langsung panik. “Di-gojek-in aja!”
“Loh kenapa?”
“Aku sedang nggak di rumah.”
“Ya sudah nanti malam aku ambil lagi, ya?”
“JANGAN! Nanti malam aku gojek-in lagi,”
“Tsana, nanti malam aku ambil ke rumah.” jawabnya seakan nggak peduli dengan apa yang saya katakan. Menyebalkan. Benar, kan? Ia menyebalkan.

 

Padahal saya ada di rumah dan sedang nggak ingin ke mana-mana. Nggak lama, gojeknya datang, ia selalu bilang istilah gojek dengan kesatria hijau. Bukunya sampai dan ia menyelipkan sebuah kertas bertuliskan, “Boleh minta tanda tangannya?”

 

Di situ saya tersenyum. Nggak mengira buku akan menjadi jembatan yang membuat kami bertemu kembali. Dia sempat minta maaf terlebih dulu karena bukunya lecek dan ada bekas tumpahan kopi. Dan saya tipe manusia yang nggak suka memberi tanda tangan pada buku yang lecek, apalagi kotor. Itu sebabnya, saya menukar bukunya dengan yang baru. Nggak lupa menyelipkan sebuah pesan yang tentu saja nggak akan saya beri tahu di sini. :p

 

Malam yang saya harap nggak pernah ada pun tiba. Mobilnya berhenti di depan rumah. Sebelum ia masuk, saya segera melarang, “Jangan masuk, di sini saja,”
“Kenapa?”
“Pokoknya nggak bisa.”
“Ya sudah, mana bukunya?”
“Nih.” kuberikan buku yang baru dan ia menyadari bahwa itu adalah buku berbeda.
“Ini bukan bukuku.”
“Memang.”
“Aku maunya buku yang lama.”
“Yang lama nggak bisa kuberi tanda tangan.”
“Tsana lupa kalau aku suka baca buku?”
“Tentu saja ingat.”
“Kalau bukunya sampai lecek berarti buku yang kubaca berhasil menarik perhatianku, berarti bukunya bagus.”

 

Saya cuma bisa diam. “Ya sudah, gapapa deh, dari pada gak ada tanda tangannya,” katanya.
“Ya sudah, pulang,”
“Memang betul, bukunya belum berakhir?”
“Iya, akan ada satu lagi. Buku ketiga dari trilogi Geez & Ann.”
“Aku nggak sabar membacanya.”
“Tahun depan. Dan nanti di ending-nya, mereka pisah aja kayaknya.”
Ia langsung menoleh ke arahku dan berbicara serius, “Jangan!”
“Jangan?”
“Jangan, biarkan waktu yang menjawab,”
“Kelamaan, bukunya harus terbit tahun depan.”
“Tsana penulisnya. Aku tahu Tsana pasti bisa menulis akhir yang baik.”
“Yang terbaik, bukan yang baik.”

 

Kini kamu tahu, bukan? Mengerti, bukan?

 

Pertemuan yang baru menghasilkan cerita yang baru. Semesta pasti punya maksud. Dan di buku ketiganya nanti, ceritanya akan benar-benar berakhir. Semoga akan menjawab semua pertanyaanmu selama ini.

 

Saya bukan, Ann. Saya hanya seorang perempuan yang menuliskannya sebuah buku, dan itu sudah cukup membahagiakan.
Jadi, bagaimana kelanjutannya? Seperti kata Geez, kita biarkan waktu yang menjawab

Tags: No tags

97 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *