IMG_3301

Kemarin

IMG_3301

 

“Selamat ya,”

 

Dia meraih jabatan tanganku, “Selamat juga ya.”
“Aku selalu mendoakan yang terbaik, semoga kamu bisa meraih semua cita-citamu.”
Dia menjawab dengan matanya yang mulai berbeda, “Aku pun begitu, nggak pernah ada hari yang terlewat untuk mendoakanmu. Jangan berhenti mengejar apa yang kamu inginkan, aku selalu percaya kamu bisa.”
Aku tersenyum sambil melepas tanganku dari jabatannya, “Pasti.”

 

Aku berbalik, kemudian pergi meninggalkannya yang mungkin juga sudah melangkah pergi.

 

Nggak ada hubungan yang benar-benar berakhir begitu saja, karena hubungan melibatkan perasaan, dan itu dia masalahnya.

 

Perasaan itu, aku bisa merasakannya. Jantung ini, masih berdetak cepat ketika tadi berjabat tangan dengan dia. Rasa yang sudah lama hilang, namun masih sangat familiar.

 

Situasi dan kondisinya memang sudah berubah, dia berdua dan aku tetap disini. Kelihatan berdiri padahal duduk, kelihatan berlari padahal diam, kelihatan menerima padahal nggak sama sekali.

 

“Kenapa kamu pilih dia?”

 

Pertanyaan yang sampai sekarang, aku bahkan belum tahu jawabannya apa. Aku marah, kenapa bisa kamu pilih dia? Kenapa kamu nggak berusaha memperbaiki dulu? Kita cari solusinya sama-sama, tapi kamu justru terlanjur sama dia.

 

Semua sudah terjadi, semua sudah telanjur berakhir. Bentuk usaha apa pun, sebesar apa pun, sekarang nggak akan ada gunanya. Aku yang salah, aku sudah menyia-nyiakan laki-laki yang baik. Wajar jika kamu memilih menyerah, pergi dan bersama dia. Semuanya menjadi hal yang wajar untukku sekarang.

 

Tapi yang aneh, ketika semua kondisinya kelihatan berubah, kamu nggak pernah kelihatan seperti itu. Nggak ada yang baru dari kamu, masih sama, masih tertata rapih bahkan nggak bergeser sedikit pun. Anehnya lagi, aku nggak pernah merasa kehilangan kamu.

 

Aku hanya merasa, kita sedang sama-sama beristirahat. Membalas chatmu, masih terasa sama. Aku nggak ingin kamu balasnya lama, apalagi sampai hanya dibaca saja. Tidakkah kamu merasa ini aneh? Kamu pun nggak akan bisa menjawabnya bukan?

 

Aku menghentikan langkahku, berbalik, kemudian berlari dan memeluknya yang masih mengarah kepadaku dari tadi.

 

“Apapun yang terjadi, kamu akan tetap jadi yang paling berarti. Bahkan ketika aku pergi dari sini, perasaan ini nggak akan pernah berubah. Akan rapih pada posisi awalnya, dan akan tetap seperti itu. Jangan tinggalkan dia, perempuan yang nggak pernah membuatmu lelah. Ini memang sudah jalannya untuk terjadi, dia yang terbaik bukan aku. Aku minta maaf untuk semuanya, sampai jumpa.”

Tags: No tags

53 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *