IMG_3298

Kepada Juni

IMG_3298

 

Seperti kata Biru, “Manusia dilahirkan lewat pertemuan untuk menghasilkan pelajaran dan kenangan.”

 

Sebenarnya, kata-kata itu saya rangkai ketika sedang mengingatnya. Namanya Juni. Seorang laki-laki yang masuk ke dalam dunia saya, yang berhasil mengubah cara pandang saya terhadap dunia, yang mengenalkan saya tentang makna kesederhanaan, walau ia nggak bisa singgah lama-lama di dunia saya.

 

Juni ada jauh sebelum saya mengenal Geez. Miripnya, saya bertemu dengannya juga setahun sekali. Biasanya ketika libur semester. Rumahnya yang satu kota dengan eyangkung saya, membuat saya nggak sulit untuk menjangkamunya. Walau sangat jauh dari Jakarta. Di perbatasan antara jawa tengah dan jawa timur.

 

Seperti kata Biru, bahwa nggak semua orang masuk ke dunia kita untuk menetap. Ada yang lama singgah lalu pergi, ada yang baru sebentar singgah tapi sudah harus pergi, karena memang ia dikirim semesta untuk menitipkan pelajaran atau beberapa kenangan indah yang menyebalkan karena nggak bisa dilupakan.

 

Terakhir, dua tahun lalu saya berkomunikasi dengannya. Juni sudah saya anggap sebagai kakak sendiri. Umurnya yang lima tahun lebih tua dari saya, membuat saya mendapat sosok kakak lelaki yang selama ini ingin saya miliki.

 

Perkenalan sederhana. Ketika itu, waktu masih SD, saya lupa tepatnya umur berapa, saya yang baru belajar naik sepeda, sudah bergaya ingin naik sepeda ke tepi sawah yang letaknya cukup jauh dari rumah eyangkung. Alhasil, saya jatuh. Baju saya penuh lumpur dan tanah. Sampai seseorang mengulurkan tangan dan akhirnya membantu saya. Penampilannya yang begitu sederhana, dengan tutur kata yang lembut sekali bila didengar. Ia menuntun sepeda saya dan menemani saya berjalan sampai rumah. Sesampainya di rumah, eyangkung tertawa dan rupanya beliau sudah kenal lebih dulu dengan Juni. Dalam bahasa jawa eyang mengucapkan terima kasih padanya.

 

Sejak itulah, kami menjadi dekat. Walau nggak pernah berkomunikasi lewat telepon, karena ia nggak memiliki handphone, tapi kami merasa dekat. Karena Juni selalu bilang, “Dekat ya karena dekat, nggak harus dengan suara, pesan, atau dering telepon.”

 

Sampai waktu membuat semua berjalan dan berubah. Saya semakin beranjak dewasa, pun dengannya. Setelah lulus SMA, ia mendapat beasiswa penuh di Universitas Diponegoro, Semarang. Ia pun lulus dengan predikat cum laude. Karena nggak bisa datang saat ia wisuda, saya segera menemuinya saat liburan, dua tahun lalu, ya, pertemuan terakhir saya dengannya.

 

Ia menjemput saya di rumah eyang dengan sepeda onthel tua yang selalu ia gunakan ke mana-mana, termasuk ke sawah. Hari itu, saya masih ingat sekali, ia mengajak saya ke perkebunan jagung milik bapaknya. Berjalan menikmati pemandangan dan kesunyian, karena di perkebunan yang luas itu, hanya ada saya dan Juni di sana. Namun dari awal saya sudah membatin, bahwa ada sesuatu yang ingin Juni sampaikan, sesuatu yang serius.
“Sudah dapat kuliah, Tsana?”
“Sudah, Mas (panggilanku padanya), di Jakarta,”
“Baguslah bila dapat yang dekat, jadi nggak perlu jauh dari rumah,”
“Ya.. begitulah. Bagaimana wisudamu kemarin?”
“Bapak, ibu, dan adikku datang, membahagiakan sekali, Na,”
“Padahal aku ingin sekali datang,”
“Doamu sudah cukup,”
“Lalu setelah ini?”
“Ya, aku di sini, di desa yang berada di kota mati, meneruskan bapakkku,”
“Menjadi petani?” saya agak terkejut mendengarnya.
“Ya, beliau semakin tua, sudah nggak mampu lagi mengurus sawahnya. Jadi harus aku. Aku nggak mungkin meninggalkan sawah yang menghidupi keluargaku selama ini,”
“Tapi gelar sarjanamu?”
“Kubiarkan hanya menempel di belakang namaku, dan nggak akan kugunakan,”
“Nggak sayang? Kamu kan lulus dengan nilai terbaik,”
“Bapakku hanya butuh aku di rumah, menjadi petani dan mengurus sawah. Juga sapi-sapi yang kini merupakan tanggung jawabku. Tsana, aku lahir di kota mati, wajar bila aku nggak harus punya mimpi.”

 

Ketika itu saya mulai mengerti arah pembicarannya.
“Kita terlampau berbeda, Tsana,”
“Apanya yang berbeda?”
“Dunia. Duniamu dengan duniaku selayaknya langit dan bumi.”
“Aku nggak pernah merasa begitu,”
“Tsana, dengar aku. Bapakku cuma petani, ibuku cuma pensiunan guru, dan aku nggak akan memakai gelar sarjanaku untuk kerja kantoran, karena aku harus mengabdikan hidupku untuk menjadi petani. Jadi apa yang kamu harapkan dariku? Dari mana kamu yakin aku mampu membahagiakanmu?”
“Dari caramu berusaha.”

 

Ia memilih untuk nggak melanjutkan topik pembicaraan tentang itu. Mungkin karena ia tahu topik itu membuat saya sedih. Akhirnya kami pulang. Dan esoknya saya kembali ke Jakarta. Kali ini entah mengapa terasa berbeda, saya merasa bahwa pembicaraan itu merupakan dialog terakhir antara saya dengan dirinya. Saya merasa ia sudah memberikan salam perpisahan walau nggak ia utarakan secara langsung. Sampai ketika saya mengirimkan dua buku saya, dan ia balas dengan sepucuk surat yang membuar air mata saya menetes. Sedih sekaligus bahagia.

 

Aku selalu percaya dengan mimpi-mimpimu, Tsana. Termasuk mimpimu yang akan menjelajahi isi dunia. Aku selalu percaya. Semustahil apa pun kedengarannya. Termasuk menulis buku karyamu sendiri. Percayalah manggaku berkaca-kaca ketika membacanya. Nggak menyangka bahwa gadis kecil yang jatuh dari sepeda di sawah waktu itu, kini sudah tumbuh menjadi seorang novelis dengan pendirian teguh dan nggak mudah dijatuhkan. Dan hal itu membuat kita semakin berbeda. Lanjutkan hidupmu, Tsana, raih segala mimpi-mimpimu, segila apa pun kelihatannya. Aku akan selalu di sini mendoakanmu. Nggak ke mana-mana. Seperti sedia kala. Kamu akan bertemu dengan orang lain, yang lebih mampu mewujudkan mimpi-mimpi aneh sekaligus luar biasa itu. Maaf, orang itu nggak akan pernah aku. Kamu harus mengerti dan menerima. Kamu perempuan yang baik, kupercayakan apa yang ada di depan pada semesta, karena aku yakin semesta akan memberikanmu yang terbaik pula. Teruslah menulis, karena dengan terus membaca tulisanmu, itulah cara agar kita selalu dekat. Karena memiliki nggak harus dengan menjadi satu, Na. Tetaplah menjadi Tsana yang seperti ini. Yang nggak suka pakai tas bermerek, yang sepatunya nggak pernah diganti, yang walau sudah rusak tapi malah kamu perbaiki di tukang sol sepatu langgananmu, dan yang menangis bila mendengar suara petir yang menggunjang jantungmu. Ketika semua orang mengejar mewahnya dunia, tetaplah menjadi Tsana yang semakin sederhana di tiap harinya. Dan aku ingin kamu tahu, dengan siapa pun akan kuhabiskan hidupku, akan selalu ada bagian dari diriku yang akan selalu menjadi milikmu.

 

Juni.

 

Setelah hari itu. Nggak kudengar lagi kabarnya. Tiap berkunjung ke rumah eyang, ia nggak lagi datang dan menjemput. Kami kini hidup masing-masing. Dia dengan dunianya, pun dengan saya. Tapi bila kita mengikhlaskan, kita nggak akan pernah merasa kehilangan. Seperti kata Juni, memiliki nggak harus dengan menjadi satu. Selama ia baik dan bahagia, saya pun akan begitu. Memiliki nggak harus selamanya. Saya sudah memilikinya, dan akan selalu memilikinya dalam satu momen yang saya abadikan di dalam sebuah buku yang nggak perlu dituliskan.

Tags: No tags

113 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *