Kepada Juni

Seperti kata Biru, “Manusia dilahirkan lewat pertemuan untuk menghasilkan pelajaran dan kenangan.”

Sebenarnya, kata-kata itu saya rangkai ketika sedang mengingatnya. Namanya Juni. Seorang laki-laki yang masuk ke dalam dunia saya, yang berhasil mengubah cara pandang saya terhadap dunia, yang mengenalkan saya tentang makna kesederhanaan, walau ia nggak bisa singgah lama-lama di dunia saya.

Juni ada jauh sebelum saya mengenal Geez. Miripnya, saya bertemu dengannya juga setahun sekali. Biasanya ketika libur semester. Rumahnya yang satu kota dengan eyangkung saya, membuat saya nggak sulit untuk menjangkamunya. Walau sangat jauh dari Jakarta. Di perbatasan antara jawa tengah dan jawa timur.

Seperti kata Biru, bahwa nggak semua orang masuk ke dunia kita untuk menetap. Ada yang lama singgah lalu pergi, ada yang baru sebentar singgah tapi sudah harus pergi, karena memang ia dikirim semesta untuk menitipkan pelajaran atau beberapa kenangan indah yang menyebalkan karena nggak bisa dilupakan.

Terakhir, dua tahun lalu saya berkomunikasi dengannya. Juni sudah saya anggap sebagai kakak sendiri. Umurnya yang lima tahun lebih tua dari saya, membuat saya mendapat sosok kakak lelaki yang selama ini ingin saya miliki.

Perkenalan sederhana. Ketika itu, waktu masih SD, saya lupa tepatnya umur berapa, saya yang baru belajar naik sepeda, sudah bergaya ingin naik sepeda ke tepi sawah yang letaknya cukup jauh dari rumah eyangkung. Alhasil, saya jatuh. Baju saya penuh lumpur dan tanah. Sampai seseorang mengulurkan tangan dan akhirnya membantu saya. Penampilannya yang begitu sederhana, dengan tutur kata yang lembut sekali bila didengar. Ia menuntun sepeda saya dan menemani saya berjalan sampai rumah. Sesampainya di rumah, eyangkung tertawa dan rupanya beliau sudah kenal lebih dulu dengan Juni. Dalam bahasa jawa eyang mengucapkan terima kasih padanya.

Sejak itulah, kami menjadi dekat. Walau nggak pernah berkomunikasi lewat telepon, karena ia nggak memiliki handphone, tapi kami merasa dekat. Karena Juni selalu bilang, “Dekat ya karena dekat, nggak harus dengan suara, pesan, atau dering telepon.”

Sampai waktu membuat semua berjalan dan berubah. Saya semakin beranjak dewasa, pun dengannya. Setelah lulus SMA, ia mendapat beasiswa penuh di Universitas Diponegoro, Semarang. Ia pun lulus dengan predikat cum laude. Karena nggak bisa datang saat ia wisuda, saya segera menemuinya saat liburan, dua tahun lalu, ya, pertemuan terakhir saya dengannya.

Ia menjemput saya di rumah eyang dengan sepeda onthel tua yang selalu ia gunakan ke mana-mana, termasuk ke sawah. Hari itu, saya masih ingat sekali, ia mengajak saya ke perkebunan jagung milik bapaknya. Berjalan menikmati pemandangan dan kesunyian, karena di perkebunan yang luas itu, hanya ada saya dan Juni di sana. Namun dari awal saya sudah membatin, bahwa ada sesuatu yang ingin Juni sampaikan, sesuatu yang serius.
“Sudah dapat kuliah, Tsana?”
“Sudah, Mas (panggilanku padanya), di Jakarta,”
“Baguslah bila dapat yang dekat, jadi nggak perlu jauh dari rumah,”
“Ya.. begitulah. Bagaimana wisudamu kemarin?”
“Bapak, ibu, dan adikku datang, membahagiakan sekali, Na,”
“Padahal aku ingin sekali datang,”
“Doamu sudah cukup,”
“Lalu setelah ini?”
“Ya, aku di sini, di desa yang berada di kota mati, meneruskan bapakkku,”
“Menjadi petani?” saya agak terkejut mendengarnya.
“Ya, beliau semakin tua, sudah nggak mampu lagi mengurus sawahnya. Jadi harus aku. Aku nggak mungkin meninggalkan sawah yang menghidupi keluargaku selama ini,”
“Tapi gelar sarjanamu?”
“Kubiarkan hanya menempel di belakang namaku, dan nggak akan kugunakan,”
“Nggak sayang? Kamu kan lulus dengan nilai terbaik,”
“Bapakku hanya butuh aku di rumah, menjadi petani dan mengurus sawah. Juga sapi-sapi yang kini merupakan tanggung jawabku. Tsana, aku lahir di kota mati, wajar bila aku nggak harus punya mimpi.”

Ketika itu saya mulai mengerti arah pembicarannya.
“Kita terlampau berbeda, Tsana,”
“Apanya yang berbeda?”
“Dunia. Duniamu dengan duniaku selayaknya langit dan bumi.”
“Aku nggak pernah merasa begitu,”
“Tsana, dengar aku. Bapakku cuma petani, ibuku cuma pensiunan guru, dan aku nggak akan memakai gelar sarjanaku untuk kerja kantoran, karena aku harus mengabdikan hidupku untuk menjadi petani. Jadi apa yang kamu harapkan dariku? Dari mana kamu yakin aku mampu membahagiakanmu?”
“Dari caramu berusaha.”

Ia memilih untuk nggak melanjutkan topik pembicaraan tentang itu. Mungkin karena ia tahu topik itu membuat saya sedih. Akhirnya kami pulang. Dan esoknya saya kembali ke Jakarta. Kali ini entah mengapa terasa berbeda, saya merasa bahwa pembicaraan itu merupakan dialog terakhir antara saya dengan dirinya. Saya merasa ia sudah memberikan salam perpisahan walau nggak ia utarakan secara langsung. Sampai ketika saya mengirimkan dua buku saya, dan ia balas dengan sepucuk surat yang membuar air mata saya menetes. Sedih sekaligus bahagia.

Aku selalu percaya dengan mimpi-mimpimu, Tsana. Termasuk mimpimu yang akan menjelajahi isi dunia. Aku selalu percaya. Semustahil apa pun kedengarannya. Termasuk menulis buku karyamu sendiri. Percayalah manggaku berkaca-kaca ketika membacanya. Nggak menyangka bahwa gadis kecil yang jatuh dari sepeda di sawah waktu itu, kini sudah tumbuh menjadi seorang novelis dengan pendirian teguh dan nggak mudah dijatuhkan. Dan hal itu membuat kita semakin berbeda. Lanjutkan hidupmu, Tsana, raih segala mimpi-mimpimu, segila apa pun kelihatannya. Aku akan selalu di sini mendoakanmu. Nggak ke mana-mana. Seperti sedia kala. Kamu akan bertemu dengan orang lain, yang lebih mampu mewujudkan mimpi-mimpi aneh sekaligus luar biasa itu. Maaf, orang itu nggak akan pernah aku. Kamu harus mengerti dan menerima. Kamu perempuan yang baik, kupercayakan apa yang ada di depan pada semesta, karena aku yakin semesta akan memberikanmu yang terbaik pula. Teruslah menulis, karena dengan terus membaca tulisanmu, itulah cara agar kita selalu dekat. Karena memiliki nggak harus dengan menjadi satu, Na. Tetaplah menjadi Tsana yang seperti ini. Yang nggak suka pakai tas bermerek, yang sepatunya nggak pernah diganti, yang walau sudah rusak tapi malah kamu perbaiki di tukang sol sepatu langgananmu, dan yang menangis bila mendengar suara petir yang menggunjang jantungmu. Ketika semua orang mengejar mewahnya dunia, tetaplah menjadi Tsana yang semakin sederhana di tiap harinya. Dan aku ingin kamu tahu, dengan siapa pun akan kuhabiskan hidupku, akan selalu ada bagian dari diriku yang akan selalu menjadi milikmu.

Juni.

Setelah hari itu. Nggak kudengar lagi kabarnya. Tiap berkunjung ke rumah eyang, ia nggak lagi datang dan menjemput. Kami kini hidup masing-masing. Dia dengan dunianya, pun dengan saya. Tapi bila kita mengikhlaskan, kita nggak akan pernah merasa kehilangan. Seperti kata Juni, memiliki nggak harus dengan menjadi satu. Selama ia baik dan bahagia, saya pun akan begitu. Memiliki nggak harus selamanya. Saya sudah memilikinya, dan akan selalu memilikinya dalam satu momen yang saya abadikan di dalam sebuah buku yang nggak perlu dituliskan.

111 Comments

  1. fithricsrApril 30, 2020

    karena dia datang hanya menitipkan pelajaran atau beberapa kenangan indah yang menyebalkan yang nggak bisa dilupakan.

    Reply
    1. DinidwMay 20, 2020

      Huaaa:”)

      Reply
    2. Syahla NadyaMay 20, 2020

      Ngena banget 😭lgi dialamin pula

      Reply
    3. IntanMay 21, 2020

      Karena memiliki nggak harus menjadi satu, huaa😭😭😭 ngena parah sih😔

      Reply
    4. LilisMay 23, 2020

      Banyak bawaanggggnya:'(

      Reply
    5. LehaMay 29, 2020

      Walau pun gak pernah ngalaminnya, tapi aku nangis bacanya karna kebawa sama ceritanya…kereeenn parahhhh

      Reply
    6. AuliaJune 1, 2020

      Aku adalah juni. aku melepas orang yang aku sayang sama persis dengan cara juni melepas tsana.
      posisi kita terbalik. aku adalah wanita yang melepas pria yang memilih ku. aku harap dia punya kehidupan yang lebih sekarang 🙂

      Reply
  2. VanApril 30, 2020

    ini yang paling ngena di aku, nangissss😭😭❤

    Reply
    1. SherlyMay 15, 2020

      SAMAAAA😭

      Reply
    2. Theresya septieMay 19, 2020

      Terkadang memang benar adanya, memiliki enggak harus jadi satu. Semesta juga tau akan cerita yabg sudah pernah lalu.

      Reply
      1. ChubbybunnyMay 20, 2020

        Hubungan 4 tahunku baru saja berakhir dengan cara yang menyedihkan..
        Sama halnya seperti juni..
        Lelaki yang aku sayangi memutuskan hubungan karena keluarganya merasa dunia kami sangat berbeda, keluarganya berucap bahwa mereka dari keluarga yang sangat sederhana yang tidak sebanding dengan keluargaku..
        Sedih luar biasa, berat rasanya ketika hanya doa yang bisa kita panjatkan untuk dia ketika raga sudah tidak bisa menjaganya seperti dulu..

        Reply
        1. sunshineJune 19, 2020

          hubungan yang sudah lama aku jalani dengan status ldr akhirnya selesai, awalnya aku kira tak akan ada yang bisa menggantika nya, namun seseorang datang membawa pelangi setelah hujan, dan kini aku bersamanya 🙂

          Reply
  3. SalsApril 30, 2020

    Nangisss😭

    Reply
  4. LindaApril 30, 2020

    Dari semua cerpen nya ini yang pertama buat saya menangis hebat 🙂

    Reply
    1. DeeMay 16, 2020

      siang-siang baca ini rasanya kacau!

      Reply
  5. rmdn.puputMay 1, 2020

    Jujur kak, aku kejer banget baca ini :”(

    Reply
  6. ShafitriMay 1, 2020

    Harus mengikhlaskan kepergiannya dan tidak semua harus menjadi satu.🙃

    Semangat selalu kak tsana👍💪

    Reply
  7. DewiMay 1, 2020

    Tsana aku Mewek bacanya.. Ttp selalu menginspirasi ya..

    Reply
  8. MrohidsMay 1, 2020

    Merindinggg

    Reply
  9. varaMay 1, 2020

    nangis baca ini😭

    Reply
  10. MelidaMay 1, 2020

    Menyayat napas

    Reply
  11. Awwalun Nissa HeristamaMay 1, 2020

    Ikhlas. 🙂

    Reply
  12. sellvaMay 1, 2020

    disini saya belajar ikhlas

    Reply
    1. AinunMay 16, 2020

      Memiliki nggak harus selamanya. Saya sudah memilikinya, dan akan selalu memilikinya dalam satu momen yang saya abadikan di dalam sebuah buku yang nggak perlu dituliskan.

      Reply
  13. kylaMay 1, 2020

    sangat menyentuh.

    Reply
  14. JoyyyMay 2, 2020

    Tsana selalu lihai menulis dari hati ke hati. Membuat seluruh pembaca teraduk-aduk. Sedih, kecewa, senang, dan kebijaksanaan seluruhnya menjadi satu. Makasih ya tsan. Tetap membumi dan jadi rintiksedu yang kita kenal.

    Reply
  15. Rezky PutriMay 2, 2020

    Terimakasih sudah menulis cerita ini, kak. 🙂

    Reply
  16. Rezky PutriMay 2, 2020

    Terimakasih sudah menulis cerita ini, kak. 🙂 Bagus banget

    Reply
  17. rabbitMay 2, 2020

    gemes bgt tsana 🙁 semoga kamu selalu bahagia!

    Reply
  18. AkuMay 3, 2020

    Nangis boleh kan ya?

    Reply
  19. ZafirardhianyMay 3, 2020

    Seperti birunya ‘kata’mu kak. Duh, bersyukur sekali rasanya bisa sepertimu kak, beretemu banyak orang, dan yang setiap jadi isitimewa selalu benar benar memberi pelajaran. Salam cinta❤

    Reply
  20. NinikMay 4, 2020

    hanya bisa berucap terima kasih buat tulisan indahnya

    Reply
  21. SedunianMay 10, 2020

    Beruntung sekali keikhlasan itu. Ia digunakan dengan baik, tidak munafik. Terimakasih Juni dan Tsana sudah menggunakan Keikhlasan dengan jalan baik.

    Reply
  22. rajennnMay 12, 2020

    Ikut sedih juga baca suratnya:(

    Reply
  23. karinatrisnawatiMay 12, 2020

    Aku jadi pengen ketemu Juni,seperti apa ya dia?Dia pasti nggak pake kacamata,dan juga nggak pake sepatu Converse lusuh,Duh kak…kakak buat aku jadi Karina yang lain!!

    Reply
  24. merah baikMay 12, 2020

    🙂

    Reply
  25. a l y aMay 14, 2020

    sumpah nangiss..suratnya itu weyyy:(

    Reply
  26. BellaMay 14, 2020

    Kak sumpah semua ceritamu mampu membuat pembacanya tersentuh haru, termasuk aku yang selama ini sulit meneteskan air mata, tapi ketika membaca tulisanmu yang ini entah kenapa air mata itu jatuh seketika:( . Terimakasih telah merangkai suatu kata yang sangat indah💛

    Reply
  27. RainjaniMay 15, 2020

    Kehadiran seseorang yang berarti tapi tak dipersatukan oleh semesta, tak apa mungkin memang sudah takdirnya.

    Ngenaa bangett 😭

    Reply
  28. AzzahraMay 15, 2020

    Soooo deep

    Reply
  29. WeniMay 15, 2020

    “Tapi bila kita mengikhlaskannya, kita nggak akan pernah merasa kehilangan”
    Wahh 🤗🤗

    Reply
  30. DindaMay 15, 2020

    Kak terimakasih

    Reply
  31. DaamarMay 15, 2020

    Huhuu aku nangis 😂 wagelaseh suratnya itu loh huuu sediiih😟

    Reply
  32. InsaniaMay 15, 2020

    Dan aku ingin kamu tahu, dengan siapa pun akan kuhabiskan hidupku, akan selalu ada bagian dari diriku yang akan selalu menjadi milikmu.

    Juni.

    Mengandung bawang dah 😭😭

    Reply
  33. nadalemmMay 15, 2020

    memang benar kata juni, “dengan terus membaca tulisanmu, itulah cara agar kita selalu dekat.” sangat dekat, dan pasti memiliki. sangat beruntung kamu, na.🙂😭

    Reply
  34. PramMay 15, 2020

    Gila sih ini bikin air mata auto netes :'(

    Reply
  35. ...May 15, 2020

    :’)

    Reply
  36. VaMay 15, 2020

    “Dan aku ingin kamu tahu, dengan siapa pun akan kuhabiskan hidupku, akan selalu ada bagian dari diriku yang akan selalu menjadi milikmu.”

    -Juni-

    Kamu selalu punya tempat di hati Juni Tsan 🙂

    Reply
  37. Atriyuni GintingMay 15, 2020

    huaaa tsanaa you the best, writing this part, and make me crying today huhu

    Reply
  38. fauziahMay 15, 2020

    Kak Tsana terimakasih sdh menulis cerita ini.

    Reply
  39. SofiaMay 15, 2020

    Nangis 😭

    Reply
  40. NeptMay 16, 2020

    waktu baca balasan dari Juni, air mata gatau netes sendiri

    Reply
  41. DeeMay 16, 2020

    kok gue nangis?!?!?

    Reply
  42. DeeMay 16, 2020

    siang-siang baca ini rasanya kacau!

    Reply
  43. nadineeeqzMay 16, 2020

    aaa bagusss

    Reply
  44. raraMay 17, 2020

    siapa yang naro bawang di sini T.T

    Reply
  45. Mey.May 17, 2020

    😭😭😭😭😭😭😭

    Reply
  46. ZEMay 17, 2020

    Dan aku ingin kamu tahu, dengan siapa pun akan kuhabiskan hidupku, akan selalu ada bagian dari diriku yang akan selalu menjadi milikmu.

    Reply
  47. Echa AnastasyaMay 18, 2020

    Reply
    1. Fadhiyah NurulMay 26, 2020

      Juni, terimakasih sudah lahir.

      Reply
  48. Fitri MileniaMay 18, 2020

    Suka pake banget🌻

    Reply
  49. Sasa (penyedap rasa)May 18, 2020

    Juni cancer ya?

    Reply
  50. SayaMay 18, 2020

    Nyesek.

    Reply
  51. SansevieriaMay 19, 2020

    ♥️

    Reply
  52. MayangMay 20, 2020

    Us aku sedih

    Reply
    1. sindyriaMay 21, 2020

      Kenapa pas baca surat dari juni tiba tiba airmatanya netes sendiri :v

      Reply
  53. Vera awaliaMay 20, 2020

    Sumpah yaaa iniii(‘:

    Reply
  54. rhvaMay 20, 2020

    Nangis banget😭

    Reply
  55. MilenyetMay 20, 2020

    Nangisssss😭

    Reply
  56. aeraMay 21, 2020

    sumpah ini beneran mitip seperti ceritaku

    Reply
  57. Saskia feby andiniMay 21, 2020

    Dalem bgtt ini kaaaa:'(

    Reply
  58. Ayu MsMay 21, 2020

    Juni :))

    Reply
  59. AprilMay 21, 2020

    Juni aduhh.. hubungan ku juga berakhir di juni emmmm.. ngenaa bangettt:”

    Reply
  60. ririiiMay 21, 2020

    juniii😭😭, ih terharu nih bacanyaa😭

    Reply
  61. ZiwanrforMay 21, 2020

    Ini paling kacau us😭Juni, bulan gua jadian sma doi wkwk. Tapi pliss ini ngena bgt😭

    Reply
  62. FidiarMay 21, 2020

    💙💙💙

    Reply
  63. jeanetteMay 21, 2020

    menangis :(((

    Reply
  64. PatrickMay 22, 2020

    pling suka part in “Dan aku ingin kamu tahu, dengan siapa pun akan kuhabiskan hidupku, akan selalu ada bagian dari diriku yang akan selalu menjadi milikmu.”:)))

    Reply
  65. Ashifa SataraMay 22, 2020

    mba Tsanaaa😭😭

    Reply
  66. Rahsa.RenjanaMay 22, 2020

    akan selalu ada bagian dari diriku yang akan selalu menjadi milikmu

    Suka banget kak 😍😍 kata”nya
    Dan selamanya akan terus begitu

    Reply
  67. AleMay 22, 2020

    Terima kasih 🙂

    Reply
  68. AleMay 22, 2020

    Terima kasih :’)

    Reply
  69. tanpatulang_May 22, 2020

    Kamu benar-benar inspirasi saya, Kak Tsana. Terima kasih:) semangat! Tidak sabar dengan karyamu selanjutnya, Kak.

    Reply
  70. Kiki Faridhatul UmmahMay 23, 2020

    Sangat menyayat:)

    Reply
  71. metisMay 23, 2020

    aku sedih sekali bacanya, menangis

    Reply
  72. BudiadMay 23, 2020

    Aku membaca ini begitu juga dirimu

    Reply
  73. savercaMay 23, 2020

    Sedih banget. Nangis 😭

    Reply
  74. depiMay 23, 2020

    asli deres banget ini hujan dimataku😭

    Reply
  75. TitanbalqisMay 24, 2020

    Ngeh banget, jiwa yang baperan ini mulai tergoncang 😂

    Reply
  76. NaMay 27, 2020

    Kacauuu jam 3 pagi baca ini dan nangid 🥺🥺

    Reply
  77. PutriMay 28, 2020

    Terima kasih kak tsana telah menuliskan cerita ini.

    Reply
  78. DaraMay 29, 2020

    Keren bngt si cerpen nya:(
    Bikin nyesek gitu

    Reply
  79. OlnJune 1, 2020

    Cerita paus bikin candu pembacanya💙💙💙

    Reply
  80. AuliaJune 1, 2020

    Aku adalah juni. aku melepas orang yang aku sayang sama persis dengan cara juni melepas tsana.
    posisi kita terbalik. aku adalah wanita yang melepas pria yang memilih ku. aku harap dia punya kehidupan yang lebih sekarang 🙂

    Reply
  81. AdindaJune 4, 2020

    aaaa nangisss akutuu
    Karena memiliki ga harus menjadi satu:(
    Balasannya Juni itu loh, ngejleb bgt:(

    Reply
  82. EgidamJune 4, 2020

    Untuk kamu, tetaplah jadi kamu yang selalu mengejekku tidak bisa memasak, aku suka pura-pura idiot didepanmu karna hanya bersamamu aku menjadi diri ku sendiri.

    Luv,
    Miming❤

    Reply
  83. AzzrahJune 5, 2020

    Setidaknya tsana dan biru banyak memiliki kesamaan ketimbang ketidak samaan nya, sama sama bernapas dan berdarah merah”)

    Reply
  84. HazniJune 7, 2020

    kak tsan slalu punya tempat disetiap hati pembaca🥺

    Reply
  85. Allza26June 8, 2020

    Tepat satu tahun yang lalu dibulan ini kamu memutuskan untuk meninggalkan 🙂Ra apa kamu masih ingat?

    Reply
  86. nonatigadimensiJune 10, 2020

    ada satu kisah dimana aku dengan seseorang yang aku kenal akhirnya menjalin satu kisah. dari awal aku sudah tahu bagaimana ahirnya, tapi aku tetap mencoba. waktu berjalan, sepertinya akan lebih sulit bila diteruskan, aku takut akan timbul rasa yang semakin dalam dan sulit untuk melepaskan. maka dari itu, aku memutuskan untuk kita berhenti meneruskan, bahwa aku dan dia tak akan bisa bersama. ada benteng yang terlalu tinggi untuk kita gapai. bukan soal prinsip keyakinan atau apapun. hanya saja keluargaku dan keluarganya tak akan bisa bersatu. melihat dari sebelum kita dekat, mereka tak bisa membaur bahkan menjurus kata “tidak suka”. karena keluargaku adalah the most important in my life. so i dicede it.

    Reply
  87. GitaJune 10, 2020

    Kenapa diri ini cengeng sekali kalo baca cerita orang T°T

    Reply
  88. SyfysJune 11, 2020

    “memiliki nggak harus selamanya”
    Adalah kalimat yang menampar jiwa, tapi ini realitanya..

    Reply
  89. AyurikaJune 11, 2020

    agar kita selalu dekat. Karena memiliki nggak harus dengan menjadi satu,na langsung nangis😢

    Reply
  90. AyurikaJune 11, 2020

    Karna memiliki ga harus jadi satu, Na langsung nangis😢

    Reply
  91. AyurikaJune 11, 2020

    Karna memiliki ga harus jadi satu, Na langsung nangis

    Reply
  92. FitriJune 14, 2020

    Tenggelam sama ceritanya:'( pagiku udah ambyar

    Reply
  93. sunshineJune 19, 2020

    hubungan yang sudah lama aku jalani dengan status ldr akhirnya selesai, awalnya aku kira tak akan ada yang bisa menggantika nya, namun seseorang datang membawa pelangi setelah hujan, dan kini aku bersamanya 🙂

    Reply
  94. susi haryantiJune 23, 2020

    juni ga kalah misteriusnya sprti geez

    Reply
  95. CaaaaahyaaaaaJuly 4, 2020

    ngena bgt tolong :((

    Reply
  96. NazmaJuly 10, 2020

    Nangis aku bacanya, na

    Reply
  97. DawaniAugust 1, 2020

    Yaampun menangis akuu:’)

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top