IMG_3297

Manusia Tanpa Nama

IMG_3297

 

Kamu pasti pernah bertemu seseorang di tempat yang nggak terduga. Seseorang yang asing, yang terlihat angkuh, dan begitu dingin. Tapi semua menjadi berbalik ketika alam raya memutuskan untuk mengirimkanmu sebuah cerita.

 

Beberapa darimu pasti sudah nggak asing. Seseorang yang bahkan nggak saya tahu namanya itu, seseorang yang cuma bisa saya temui di dalam bus kota, justru memberi saya banyak cerita di tiap pertemuan yang nggak pernah berlangsung lama. Paling lama satu setengah jam. Kami juga nggak pernah bertukar nomor telepon. Seolah-olah, bus kota adalah dunia yang berbeda, kami bisa menjadi manusia yang lain, manusia tanpa nama, tanpa beban, tanpa kebenaran, juga tanpa sandiwara.


Ah, rasanya terlalu cepat bila diceritakan dari sini. Akan saya ceritakan awal ceritanya.

***


Setiap pagi, pukul 6 tepat, kami selalu bertemu di halte, menanti dan menaiki bis yang sama. Saya selalu duduk di belakangnya. Ia membaca buku, sedangkan saya melihat kendaraan dari kaca jendela. Ia selalu turun lebih dulu, di tempat pemberhentian yang sama. Ketika pulang, kami juga selalu berada di bis yang sama. Pukul setengah lima. Ia duduk lagi di depan saya. Tapi gantian saya yang turun lebih dulu. Saya nggak ingin percaya dengan kebetulan, tapi ini selalu terjadi. Saya kira ia nggak menyadari kejadian yang selalu berulang ini, sampai ketika pada sore itu, pukul empat, saya pulang lebih cepat dari jadwal. Saya melihatnya sudah di halte, terduduk. Canggung. Saya berdiri jauh darinya. Setengah jam menanti, bis tiba dan kami naik. Sialnya, sore itu bis penuh sekali. Kami berdiri. Ia tepat di sebelah saya, dan nggak lama setelah itu ia bertanya, “Turun di tempat biasa, Mbak?”


Pertanyaan pertama yang mengawali sebuah cerita. Jalanan macet menjadi menyenangkan. Kaki pun nggak terasa pegal walau harus berdiri dua jam lamanya, karena jalanan ibu kota lumpuh total. Ternyata ia bekerja di sebuah perusahaan asing. “Kalau, Mbak?”


Kalau saya jawab yang sejujurnya, apa ia percaya?


”Saya pembaca,”
Ia agak bingung, “Pembaca? Apakah itu pekerjaan? Atau semacamnya?”
Saya tertawa kecil. Memang sulit menjelaskan apa pekerjaan saya ini, ”Pembaca pertama tiap buku yang saya buat, Mas,”
“Mbak penulis?”
“Saya menulis, Mas, tapi bukan penulis.”
Ia menangkap maksud yang saya utarakan. Untuk orang yang suka membaca sepertinya, pasti nggak sulit memahami perkataan saya barusan. Kami berdua saling membalas senyum. Dialog sore itu diakhirinya dengan mengatakan, “Besok pagi jangan duduk di belakang saya, di sebelah saya saja.”

***


Lelaki di bus kota yang hingga kini nggak saya tahu namanya. Saya ingat, suatu hari ia pernah membawakan saya kopi, ia bercerita tentang tetangganya yang baru saja membuka toko roti. Saya menyimak, selalu senang mendengar suaranya bercerita. Dan sore ini, saya menunggunya di halte. Dari kejauhan saya lihat ia sedang berjalan menuju ke arah saya. Semakin dekat, semakin terlihat bahwa ada yang berbeda dari wajahnya, nggak seceria pagi tadi. Ia hanya diam, saya lebih diam. Bus datang, kami naik. Ia tetap nggak bersuara. Mungkin sedang ada masalah pekerjaan, pikirku. Ingin sekali saya bertanya, Ada apa? Tapi rasanya belum bisa sejauh itu. Kami hanya dekat, namun nggak erat.


Sampai akhirnya ia bicara, “Ibu saya sakit.”


Ternyata karena itu. Kesedihan tergambar jelas pada wajahnya, keresahan terpancar di matanya. Ibunya tinggal di Semarang. Di Jakarta ia hidup sendiri. Ingin pulang, namun perizinan menjadi penghalang.


“Memangnya sakit apa?” saya bertanya.
“Ibu bilang hanya kelelahan, sudah saya suruh istirahat tapi tetap saja buat kue.”
Saya tersenyum. Ia hanya sedang khawatir. “Doa, Mas, bukan hanya untuk kesembuhan beliau, tapi agar Mas nggak terlalu khawatir.”


Ia tersenyum. Lega mungkin. “Mbak, kalau orang-orang itu ingin terbebas dari macetnya ibu kota, saya malah sebaliknya. Saya malah berdoa, semoga jalannya lebih macet dari hari-hari sebelumnya, karena percakapan ini masih butuh banyak waktu. Apakah bisa dilanjutkan di luar bus kota?”

***


Kadang, kita akan lebih merasa dekat dengan seseorang yang baru kita kenal kemarin daripada dengan seseorang yang sudah kita kenal bertahun lamanya.


Dan pagi tadi, ia memberi tahu bahwa ia akan dipindahkan tugas kerjanya ke luar kota. Saya sedikit terkejut. Sudah terbayang hari ini dan esok hari tanpa adanya teman bercerita di dalam bus kota. Lalu saya berpikir lagi, bila kami dipertemukan pada keadaan yang nggak terduga, maka perpisahan seharusnya bukan menjadi perkara yang berat. Tapi manusia mana yang mudah menerima perpisahan?


Sampai akhirnya dia berkata, “Kita pasti akan ketemu lagi, Mbak, mungkin nggak di dalam bus ini. Dunia terlalu luas, alangkah menyedihkan bila kita hanya bertemu di sini saja.”


Ia benar. Bila pertemuan selalu berujung pada perpisahan, maka bukan mustahil bila perpisahan akan diawali dengan pertemuan yang sama.


Saya nggak tahu akan bertemu lagi dengannya atau nggak. Yang saya tahu, di dunia yang luas ini, saya pasti akan bertemu dengan orang-oranf  yang baru, dengan mereka yang akan menawarkan sebuah cerita. Dan bila kamu berkata, “Tapi ceritanya nggak akan sama.”


Justru itu. Justru karena ceritanya berbeda saya tahu saya akan belajar dari sebuah makna yang juga berbeda.


“Mungkin kita akan bertemu lagi saat kamu sudah mau memanggil dirimu sendiri seorang penulis.” katanya.
“Berarti kita nggak akan pernah bertemu lagi.”
“Benar-benar nggak mau dipanggil penulis?”
“Benar-benar.”
“Memang kenapa? Apa yang salah dengan sebutan itu?”
“Nggak ada. Saya hanya nggak pantas. Penulis yang saya tahu, mereka adalah orang-orang hebat, saya nggak mungkin sama dengan mereka. Itu sebabnya saya nggak akan pernah bisa jadi penulis. Saya sudah cukup bahagia menjadi seperti ini. Seorang gadis yang menulis, yang akan selalu menulis.”
“Hmm.. berarti kita akan bertemu di dalam bukumu.”
“Bagaimana mungkin? Nama saya saja kamu nggak tahu.”
“Tapi saya tahu bahasamu.” jawabnya.

Tags: No tags

77 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *