IMG_3362

Satu

IMG_3362

 

Jadi, bagaimana Jakarta? Pra melepas sepatunya, meletakannya di belakang sebuah pot putih berisikan tanaman monstera. Dibaca dari banyaknya monstera yang tumbuh, pemilik rumahnya pasti sibuk bekerja. Sebab, monstera bukan tanaman yang manja. Ia bahkan mau memaafkan cahaya paling terang sekalipun dengan tetap hidup.

 

“Siapa lagi yang berpulang?”

 

“Ibunya. Ibu kandungnya.”

 

Pra diam sebentar, tak lama ia melangkah masuk ke dalam rumah yang diisi orang berpakaian serba hitam. Ia kemudian melihat kemejanya sendiri, “Nan, ini biru tua apa hitam?”

 

“Sudah. Duduklah.”

 

Semua orang duduk mengelilingi jenazah seorang perempuan yang bahkan tidak ia kenal sebelumnya. Membacakan doa-doa, entah itu isinya ucapan selamat atau terima kasih. Selamat sudah abadi. Terima kasih sudah pernah hidup. “Kok, ada yang buka handphone di saat lagi begini, Nan?”

 

“Kan, sekarang banyak aplikasi doa di handphone. Kamu nggak tahu?”

 

“Kitab suci modern gitu?”

 

“Susah ngomong sama orang jadul!”

 

Tampak seorang gadis kecil duduk tepat di samping jenazah, bersimpuh, memohon agar kedua mata itu bisa terbuka lagi. Pra menilik, Kenapa tidak ada yang berusaha menenangkan tangis anak kecil itu? Apa upacara kepergian selalu memaklumi kesedihan?

 

Kinan ikut mengamati kebingungan Pra, segera ia bertanya sebelum laki-laki paling sok tahu itu seenaknya mengambil keputusan. “Hei, lihat apa?”

 

Pra lantas berjalan merangkak, semakin dekat dengan gadis kecil itu. Dihantui hantu atau rasa  penasarannya sendiri sudah tidak ada bedanya. Orang-orang yang ada di situ berhenti membaca doa, memerhatikan Pra yang entah sedang melakukan apa. Kinan hanya menampung malu dengan terus tersenyum. Awas Si Jadul itu. Aku pukul dia nanti!

 

“Kenapa menangis?”

 

Sungguh pertanyaan yang tidak pantas dikeluarkan oleh laki-laki berusia dua puluh empat tahun di sebuah rumah duka. Kinan yang melihatnya cuma bisa menarik nafas panjang. Jangan sampai sepulang dari sini gantian aku yang mati karena habis sudah paham maklumku padamu, Pra.

 

Yang terdengar hanya suara sesenggukan, hal normal yang dilakukan anak kecil ketika ditinggal ibunya. Hal yang selalu normal untuk dilakukan semua orang ketika ditinggal orang yang dicintainya. Kinan menghampiri Pra, mengajaknya keluar.

 

“Kamu ini udah gila, ya?”

“Nan, apa ucapara kepergian selalu memaklumi kesedihan?

 

Perempuan yang paling marah bila ditanya ada apa itu memelankan laju suaranya, “Kita pulang aja deh.”

***

 

“Nan, kamu memang senang ya datang ke rumah duka? Memang tadi yang meninggal siapamu?”

“Bukan siapa-siapa, Pra.”

“Lalu? Aku ngapain tadi?”

“Aku tidak memintamu ikut. Bukannya kamu sendiri yang bertanya aku ada di mana?”

“Nan, nggak melayat orang yang bahkan nggak kamu kenal itu nggak dosa,”

“Kamu ngomong kayak gitu kalau baru sehari kenal aku nggak jadi masalah deh.”

“Cie. Tumben anak kekinian ini senang punya masalah.”

 

Tempat favorit Kinan di muka bumi ini adalah sebuah rumah, rumah duka lebih tepatnya. Pra sudah berulang kali menebak-nebak mengapa ia senang sekali melayat orang mati yang juga tidak ia kenal.

 

Karena kamu juga mau mati, Nan?

Karena kamu senang dengar orang baca doa bareng-bareng?

Karena ramai aja gitu?

Oh! Aku tahu. Pasti karena kamu bisa lihat yang begitu-begituan, kan.

Sudahlah, Nan, biarkan mereka pergi dengan tenang. Apa kamu nggak takut ketemu hantu?

Ya kalau bukan itu semua, terus apa dong?

 

Kinan tidak menjawab. Perempuan paling jelek di tempat ia bekerja itu tidak pernah mau menanggapi pertanyaan Pra yang tidak jarang kelewat gila. Seperti:

 

Nan, sekarang ke bulan sudah gampang. Apa nggak mau daftar?

Nan, apa menurutmu alam raya perlu dibela?

Duh, Nan, kamu ini terlalu sibuk dengan batas waktu yang memburu, sampai tidak sadar bahwa selama ini kamus bahasa memperlakukan manusia dengan tampa. Tidakkah pantas kata tanya diciptakan tanpa ada kata jawabnya?

Hei, Nan, kamu menyukaiku, kan?

Yang terakhir adalah pertanyaan yang pernah buat Kinan marah. Sampai-sampai, seminggu lamanya ia tidak mau melihat wajah Pra muncul di tempat ia bekerja. “Kamu kalau masih berani ke sini, aku lurusin rambutmu!”

***

 

“Tadi… bagus ya, Nan, tanaman monsteranya? Itu yang meninggal tadi pasti orang sibuk itu.” Pra masih saja mencoba untuk mencairkan suasana dari rumah duka. Padahal ia pun tahu, kalau sudah begini, kebaikan seputih mutiara pun tidak akan benar buat Kinan; perempuan yang umurnya dua tahun lebih tua darinya, perempuan yang walau sudah hampir empat tahun mengenalnya masih saja penasaran sebenarnya Pra ini orang beneran atau bukan.

 

Satu-satunya hal yang membuat mereka masih berada di tempat yang sama adalah karena mereka sama-sama sendirian. Pra hidup sendiri, sedangkan ibu Kinan meninggal ketika melahirkannya dan bapaknya sudah menikah lagi dan entah sekarang berada di mana. Nasib buruk menghadirkan rasa cukup.

 

“Kamu juga tau nggak kalau monstera itu beracun?”

“Wah. Berarti keindahan itu berbahaya, ya, Nan?”

 

Kinan adalah monsteraku. Tidak pernah membuatku susah, bahkan aku yang lebih sering membebaninya. Seperti daun monstera yang cukup besar dan tidak mudah gugur, kesabarannya padaku seperti kasih sayang seorang ibu. Kalau monstera luarnya indah tetapi beracun, maka Kinan tampak buruk namun dalam hatinya ia seperti karpet berbahan wol di rumah duka tadi. Tidak. Jangan sampai Kinan tahu apa yang sedang Pra pikirkan dalam kepalanya. Bisa-bisa ia mengirimnya ke neraka. Walau Kinan sendiri tidak percaya bahwa ada tempat yang bisa lebih mengerikan dari dunia yang sedang dia huni sekarang. Atau jangan-jangan, selama ini mereka memang sudah tinggal di neraka?

 

Waktu itu, Kinan masih kelas satu SMP ketika bapaknya memutuskan untuk menikahi sales rokok yang lebih cocok jadi kakaknya ketimbang jadi ibu angkatnya. Bahkan Kinan yakin pasangan yang tidak sudi ia anggap orangtua baru itu, sekarang, pasti sudah berpisah. Heran, padahal bapakku bukan orang kaya. Kenapa perempuan yang kakinya seputih tepung terigu itu mau memberikan mahkotanya untuk kakek-kakek? Dan kenapa harus menikah segala? Padahal masih banyak hotel melati yang kosong dan banyak kesempatan bahkan di luar batas angka-angka yang mereka ketahui. Kenapa harus dengan menikah? Apakah ikatan suci sekarang bisa untuk kepentingan saja? Pikiran kotornya itu selalu tidak terpecahkan karena pada akhirnya ia kembali pada keyakinannya bahwa cinta adalah sesuatu yang valid tanpa perlu diuji, yang mengalir dalam darah manusia tanpa perlu dilihat di ruang laboratorium. Ia percaya, cinta adalah hal terakhir yang masih bisa membedakan dunia yang ia huni sekarang dengan neraka yang akan datang. Ya. Ia selalu percaya itu. Tapi mungkinkah cinta yang ia butuhkan ada dalam tubuh penyair gagal yang pikirannya jadul itu?

 

“Aku tidak akan mau sama kamu, Pra,”

“Aku cuma bahas monstera dari tadi.”

“Terus? Kenapa ke sini? Hmm? Kenapa masih ke sini lagi?”

 

Pra diam. Mengingat perpisahan yang baru terjadi beberapa jam sebelumnya. Bahwa ada yang lebih menyedihkan dari tangisan gadis kecil di rumah duka tadi. Bahwa sebenarnya ia ingin sekali menangis, bersimpuh, berdoa, agar… agar tidak pernah kembali. Tapi kalau harus ia ceritakan semua, mungkin sejak awal ia tidak akan pernah mencintai puisi; tanah lapang di mana yang kelihatan akan sulit untuk benar-benar terlihat. Ia tidak suka menjelaskan sebuah maksud, juga memaksudkan yang sudah benar-benar jelas. Buatnya, tidak ada yang perlu dibentuk karena manusia adalah abstrak. Seperti lingkaran hitam yang ketika didekati ternyata merupakan bagian atap dari sebuah topi. Yang membuat suatu hal jadi benar karena ada yang tidak benar, Nan, kalau semua masih terlihat mudah, di situ letak masalah.

 

“Kamu sekarang cuma bisa bahasa serangga, ya?”

 

Pra tidak menjawab. Ia malah membayangkan bagaimana bila besok ketika bangun, ia sudah menjelma menjadi seekor serangga? Tapi ia tidak sendiri, Kinan juga ikut menemaninya. Kira-kira serangga apa yang cocok buat menggambarkannya? Apa kita setia seperti kupu-kupu saja, Nan? Tapi apa harus jadi kupu-kupu dulu untuk bisa setia? Mereka cuma kawin sekali dalam seumur hidupnya. Menolak hati lain yang mendekatinya. Apa kita mampu, Nan?

 

“Nan, kalau jadi kupu-kupu, mau?”

“Nggak. Umurnya pendek.”

 

Tidak ada yang tersisa kecuali dirinya sendiri. Tubuh jangkung yang kian hari kian kurus itu dengan rambut ikalnya yang sengaja dibiarkan panjang, supaya semakin sepadan dengan hidupnya yang berantakan. Tidak ada yang tersisa dari Jakarta. Termasuk bau aspal, jembatan penyebrangan, tempat ibadah, restoran siap saji yang padahal jual burger kesukaannya, juga tukang parkir yang akhirnya jadi gila karena ditinggal istrinya. Jangankan rumah, tempat berpijak pun tidak ada. Senja kesayangannya sudah lumer dan membentuk sebuah kota mati yang memanggilnya untuk melahirkan sebuah puisi.

 

“Nan, tunggu dong, apa nggak bisa jalannya lebih pelan sedikit?”

 

Kinan menghentikan langkahnya.

 

“Pra, aku nggak bisa ngikutin semua mau kamu. Kalau yang kamu cari adalah pasangan puisimu itu, maka sudah sampai bosan kukatakan bahwa bukan aku orangnya. Sastraku sudah lama tidak terdengar nafasnya, Pra. Sekarang yang kuinginkan cuma hidup, bukan tentang buku-buku itu. Maaf, tapi fantasimu tidak cukup untuk duniaku. Pulang, Pra, pulanglah.”

 

Oke. Akan kubiarkan ia meneruskan langkahnya yang terburu-buru, jika memang itu maunya. Tapi aku tidak akan pulang, tidak selain kepadanya.

***

 

Meskipun sebenarnya ia ingin sekali mengejar Kinan, yang gerakan kakinya seolah-olah dikejar kereta api itu, tapi tidak. Bukti bahwa sebenarnya segala hal yang Kinan inginkan bisa ia berikan, sekalipun waktu. Kamu tidak bisa santai sedikit, ya, Nan? Tidak usah dijawab kalau dengan buru-buru, toh, sama juga menjelaskan, begitu kata Pra ketika itu.

 

“Apa?”

“Yang biasa saja, Bu.”

 

Pra membeli sebungkus rokok. Berdiri di depan sebuah warung pinggir jalan yang juga jual es kelapa muda kesukaannya. Tempo hari ia mengajak Kinan juga, tapi tetap, bukan juga tempat yang bisa membuatnya senang.

 

“Aku cuma mau berusaha.”

“Kamu tau tidak semua yang diusahakan bisa ada hasilnya.”

“Terus gimana dong? Masa hidup cuma duduk manis saja sampai mati?”

“Kalau dengan begitu kamu tidak ganggu aku, ya sudah, mungkin lebih baik memang begitu.”

“Terus ke mana, Nan? Kalau nggak sama kamu aku harus ke mana?”

 

Perempuan yang senang pakai jeans teratung itu menatapnya kasihan. Dalam hatinya ia berusaha memaafkan sikap dirinya sendiri terhadap satu-satunya laki-laki di dunia yang mustahil membuatnya jatuh cinta. Atau justru sebaliknya. Dasar bego kamu, Pra. Apa aku harus menerima cintamu dulu baru puisi-puisi jelekmu itu berhenti kamu kirim? Apa kamu tidak tahu bahwa ibu kos lah yang selalu jadi pembaca pertama puisi-puisimu itu? Pra. Cinta yang kamu anggap suci itu tidak lebih dari bon belanja sayur yang berkerut-kerut. Kertas-kertas itu lebih indah bila kulipat jadi perahu daripada harus kubaca. Aku tidak akan membiarkan hatiku senang karenamu, Pra. Aku tidak mau jadi bait dalam puisimu. Lebih baik aku menikah dengan nelayan yang paling-paling akan meninggalkanku karena ditelan laut, bukan pergi tanpa pesan seperti yang bisa kamu lakukan. Pra, aku tidak akan memberimu kesempatan itu. Tidak selama aku hidup.

 

Ia kembali sendirian, keadaan paling bermasalah sekaligus solusi dari masalah itu sendiri. Tidak jarang dipikirkannya tentang ke mana perginya doa-doa itu. Aku tidak pernah minta hujan, tapi hujan dikirim-Nya. Aku tidak pernah minta diriku sendiri, tapi aku dikirim-Nya ke bumi. Selama ini yang kuinginkan cuma sebuah surat balasan, tapi tidak juga kuterima. Apakah di surga tidak ada tukang pos? Kinan bilang sekarang kitab suci sudah ada di dalam handphone, lantas apa Tuhan tidak bisa belajar menjawab lewat sms saja? Atau lewat whatsapp karena kuota internetku masih banyak. Tuhan, Kau di mana? Apakah tidak sampai pertanyaan-pertanyaan itu? Lalu, harus ke mana lagi? Kalau kamus bahasa saja selama ini memperlakukanku dengan tampa?

 

Pembunuh paling kejam nomor satu di dunia itu berkeliaran di dalam kepalanya sendiri. Mungkin dia akan baik-baik saja, tapi tidak sekarang. Mungkin juga dia tidak akan baik-baik saja, tapi cuma untuk sekarang. Dalam kenyataannya, nggak ada yang benar-benar tahu berapa sebetulnya takaran kesembuhan yang kita butuhkan. Karena bisa jadi, rasa sakit adalah keadaan paling sembuh yang bisa kita rasakan.

 

Tags: No tags

1,522 Responses