Untitled_Artwork 27

Empat

 

Kinan menutup matanya kuat-kuat. Masih tidak disangkanya bahwa ia akan melanjutkan petualangannya sendirian, dengan bekal keberanian yang tiap hari kian menipis. Apakah benar yang kupilih ini? Bagaimana kalau laki-laki yang mengaku bernama Hara itu adalah orang jahat? Tapi apakah orang jahat selalu mudah dipercaya? Apakah juga adalah hal yang benar kalau aku pergi tanpa menyisakan pamit untuk Pra? Tunggu dulu, mengapa tiba-tiba ia jadi topik penting sampai masuk dalam pertanyaan? Biarlah Pra dengan hidupnya. Aku mungkin tidak bisa memintanya untuk memilih, tapi aku bisa memilih untuk tidak ikut berantakan sebagaimana dirinya.

 

“Permisi?”

“Pencet saja belnya, Mbak.”

 

Kinan menoleh ke belakang. Seorang perempuan paruh baya duduk di teras sebuah rumah yang berada tepat di depan tempat indekosnya yang baru. Kinan lalu mengangguk, “Iya, Bu, terima kasih.”

 

Apa semua orang di sini ramah-ramah, ya? Kinan bergumam bingung. Sejak turun pesawat, orang-orang di sekelilingnya seperti memberinya panduan perjalanan. Tentang habis ini harus bagaimana, harus melangkah ke mana. Juga sewaktu tadi mau naik taksi, seorang bapak tua di sebelahnya berkata pelan, Naik bus umum saja, Mbak, sampai ketemu becak. Agak lama sih nunggunya, tapi lebih murah.

 

“Mbak Kinan, ya?”

“Iya, Pak..”

“Mari, silakan masuk. Nomor yang di internet itu nomor istri saya, kebetulan dia masih di luar,”

“Nggak apa-apa, Pak,”

“Biar saya saja yang bawa barang-barangnya,”

 

Awalnya, Kinan sempat gugup mengetahui bahwa Rina tidak punya kenalan sama sekali di Semarang. Tapi ia bilang, “Cari saja di internet.” Dan ternyata memang banyak hal sudah dimudahkan oleh teknologi. Ia menyewa sebuah kos murah di pusat kota Semarang. Dapat AC dan TV, walau salurannya cuma ada beberapa. Bahkan kamar mandinya di dalam.

 

“Ini kuncinya, ya, Mbak. Jam sepuluh malam biasanya pagarnya saya gembok, jadi kalau mau buka pakai kunci yang ini, yang ada goresan cat warna hijau,”

“Oh jadi setelah jam sepuluh nggak boleh keluar ya, Pak?”

Yo, boleh, to. Cuma kalau keluar musti digembok dan kalau baru pulang juga digembok lagi.”

“Baik, Pak,”

“Yowes, kalau ada butuh apa-apa bilang saja, atau lewat sms juga ndak apa-apa. Selamat istirahat, Mbak Kinan,”

 

Kinan percaya bahwa hidup mempunyai rencanya sendiri, tapi yang namanya manusia selalu bisa menciptakan waktu yang tepat dalam tiap hal yang sempat. Dan itulah yang dilakukannya. Ketika pada akhirnya ia sadar bahwa roda yang sedang membebaninya itu tidak akan bergerak, bila ia sendiri tetap jalan di tempat. Hal baik atau buruk yang datang setelahnya akan jadi konsekuensi yang sudah ia setujui sebelumnya.

 

“Malam itu kita tidak sempat berkenalan. Saya Hara.”

 

Pada suatu sore, selang beberapa waktu setelahnya, Kinan kembali ke tempat itu. Saat itu, pembelaannya bukan tentang kebaikan yang harus dibayar lunas, tetapi ia tidak mau hidup dalam sebuah ketakutan. Ia kembali karena ia memilih untuk membawa kemungkinan yang bisa saja jadi takdir hidup yang harus diterimanya.

 

“Aku sudah tahu namamu,”

 

Dalam nada yang ramah, ia menyampaikan kekagumannya, “Kok sudah tahu? Kemarin saya tanya Barry, dia bilang belum mengenalkan saya padamu.”

 

“Barry?”

“Orang yang membuatmu takut, yang membuat pergelangan tanganmu merah.”

“Tidak sampai merah.”

“Tapi sampai membuatmu takut, kan?”

“Aku baru tahu namamu sekitar lima menit lalu,”

 

Seperti berusaha menunjukan darimana ia akhirnya mengetahui nama laki-laki itu. Kinan menoleh ke arah meja depan. Seorang penjaga dengan seragam seperti satpam tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya. Ia belum pernah melihat sikap seorang karyawan kepada atasannya sebagaimana yang ia lihat sekarang. Sosok yang halus namun tegas. Ya, cuma itu yang bisa disimpulkannya ketika pertama kali bersemuka dengan Hara.

 

“Jangan melihat dari caranya bersikap pada saya, Kinan.”

“Aku tidak menilai apa pun. Tidak berhak juga.”

 

Hara bukan jenis orang yang menyukai perdebatan. Ia lebih akrab dengan kata mengalah daripada harus menguji siapa yang paling benar. Karena itulah ia tidak menanggapinya lagi. Tidak juga menyahut ke percakapan yang lain. Kedatangan Kinan sore itu seperti kiriman paket yang salah alamat. Hara cuma bisa menilainya dengan sosok perempuan cerdas namun pendiam. Dan ia menyukai sikap Kinan yang itu.

 

Ia mengambil sebatang rokok dari saku kemejanya, lalu menyalakannya. Kinan cuma diam dengan cukup lama memerhatikan sikap Hara yang begitu tenang. Tampaknya, Kinan juga berpikir tentang tempat di mana ia sedang berdiri sekarang. Sebuah kafe dengan konsep minimalis, dengan dinding bangunan luar yang dilapisi batu bata berwarna merah gelap. Di setiap sudut, terdapat pot-pot berisi tanaman hijau. Ah, pasti Pra tahu jenis apa tanaman-tanaman itu.Tempatnya memang tidak terlalu besar, tapi tata letak yang disusun rapi membuat kesan yang begitu nyaman. Kinan semakin dikuasai oleh rasa keingintahuannya.

 

“Jadi ini tempat apa?”

“Yang kau tahu ini tempat apa?”

“Entah. Hanya kalau sore begini, tidak begitu gelap.”

 

Hara tersenyum mendengar jawabannya. Pribadi yang keras namun mudah dikenali. Diputuskannya untuk tidak menyinggung hal-hal yang sudah tidak lagi jadi masalah. Bahkan sebenarnya, tanpa perlu dijelaskan, ia tahu mengapa malam itu Kinan memilih pergi dengan tatapan takut yang mengarah kepadanya. Bagaimana bisa baru sekarang?

 

Melihat adanya perubahan raut muka Hara setelah mendengar jawabannya, ia buru-buru menjelaskan maksud kedatangannya dengan sesingkat mungkin. Bahwa ia tidak bermaksud untuk bekerja seenak hati, bahwa segala hal yang terjadi di luar perkiraannya.

 

Kinan tampak lega setelah menyampaikannya. Seperti mengembalikan barang yang dipinjam dengan kondisi utuh. Tidak ada lecet. Tidak ada rusak. Seperti pertama kali barang itu sampai pada genggamannya.

 

“Saya senang kamu tidak minta maaf,”

“Kau menyindir?”

“Tidak. Itu sungguh-sungguh,” ucap Hara lembut sambil melanjutkan, “Tadinya saya khawatir kamu akan mengira sudah melakukan kesalahan, karena sebenarnya tidak. Tidak seharusnya Barry memperlakukanmu seperti itu.”

 

Kinan lantas diam. Ragu-ragu untuk menjawab. Ia takut salah bicara. Sebab, ketika mengetahui bahwa pemilik café tempat seharusnya ia bekerja dengan begitu baik menerima sikapnya, ia tidak mau mengulangi hal bodoh untuk kedualinya. Kinan sebenarnya sangat menyukai percakapan yang sedang berjalan di antara mereka, ia ingin berucap tentang apa saja yang saat itu muncul di kepalanya. Tetapi tidak, ia harus mengingat kembali siapa dirinya. Bukankah lancang untuk berbincang dengan seorang bos yang tangannya dihiasi jam mewah berwarna keperakan itu.

 

“Aku ke sini supaya tidak ada salah paham.”

“Memang tidak ada salah paham, Nan.”

“Itu menurutmu. Aku cuma tidak suka menyimpan perasaan hutang budi.”

“Kau tidak meminjam apa pun,”

 

Suara azan magrib terdengar. Kinan menengok keluar jendela dan langit memang sudah mulai gelap. Kalau ditanya masih adakah yang ingin disampaikannya, jawabannya tidak. Tapi kalau ditanya ia sudah ingin pulang atau tidak, jawabannya akan sederhana saja: Aku sebenarnya masih ingin menuntaskan banyak pertanyaanku di tempat ini. Tentang pukul berapa café ini buka. Tentang di mana Hara membeli batu bata yang merahnya begitu indah, tidak seperti batu bata pada umumnya. Tentang berapa harga jam tangan yang dipakainya. Tentang bagaimana ia tidak bernada marah sedikit pun, padahal yang kulakukan jelas menjengkelkan.

 

Pertanyaan yang mengejutkan. Ia tidak tahu darimana datangnya pertanyaan-pertanyaan itu. Walau cuma bersuara di dalam kepalanya, seketika itu pula ia kaku. Wajahnya berubah canggung. Untuk sejenak Kinan tidak tahu harus melakukan apa, padahal jelas sebelumnya ia tahu bahwa ia hanya perlu segera pulang.

 

“Magrib begini jangan melamun,” tegurnya lembut.

“Aku boleh gak ya gila sedikit?”

“Mau ngapain?”

“Masuk akal gak kalau aku minta satu kesempatan lagi?”

Hara segera mengerti. Dia diam sebentar, lalu mengutarakan sebuah penawaran.

“Kesempatan untuk bekerja atau untuk bernyanyi?”

“Maksudmu?”

“Saya yang sedang nanya maksudmu,” sambil tersenyum Hara menambahkan, “Bahkan saya belum tahu betul kamu ini bisa nyanyi atau tidak.”

Kinan tidak menyahut. Rasa bersalahnya baru datang sekarang. Ia membetulkan perasaan tidak enak itu. Harusnya kata maaf sudah cukup. Harusnya egoku tidak perlu diberi instruksi untuk jalan ke depan. Berlawanan dengan harapan besar yang ada di dalam dirinya, ia mengulangi kebodohannya. “Kalau tidak bisa tidak apa-apa. Harusnya aku sudah cukup senang kamu menerima maafku.”

“Minta maaf? Bukannya tidak ada maaf daritadi?”

 

Pertemuannya dengan Hara berujung pada kebingungan sekaligus pengertian. Ia seperti berada di sebuah labirin. Hara menciptakan jalan berliku-liku di antara percakapan mereka. Dan Kinan sudah berusaha untuk mempertajam pemahamannya agar dapat melihat apa yang sebenarnya coba Hara nyatakan, tapi tidak bisa. Kalimat-kalimat orang yang berkuasa yang tidak akan bisa kumengerti. Kalaupun aku mengerti, tidak ada gunanya juga. Kepentingan orang seperti Hara itu seperti instruksi sekali jalan. Jadi, mungkin mendengar semua perkataannya adalah perintah pertama yang harus kupatuhi.

 

Di sudut kegugupannya, Hara menjemputnya dengan sebuah pertimbangan.

 

“Kalau untuk memberimu kesempatan bernyanyi, saya tidak yakin, Nan,” ucapnya yang disambung dengan bujukan lembut, “Tapi kalau kesempatan yang lain saya mau. Mau sekali.”

***

 

Kita mungkin cuma ingin bahagia dan berbahagia. Segala bentuk kebendaan yang datang sesudahnya, cuma pemanis yang akan habis di batas waktu yang ada. Dan itu yang kerap kali tidak Kinan mengerti. Harusnya, jadi perihal yang masuk akal bila untuk sesekali ia memikirkan perkara kebahagiaannya sendiri. Seperti yang pernah ia bilang, “Pra, andai hidup bisa dicopot-pasang kayak batre, ya,”

 

“Maksudnya? Mati, terus hidup, terus mati lagi, gitu?”

“Mati, tapi pas hidup lagi jadi orang lain.”

 

Demikian tenangnya Kinan menjelaskan rekaan hidupnya yang rumit dengan kalimat yang begitu sederhana. Aku sayang dia. Aku mengasihi hidupnya lebih dari hidupku sendiri. Dulu aku memang senang mengetahui ada orang yang sama hancurnya denganku, tapi semakin lama mengenal Kinan, aku berharap lebih dari itu. Pra tahu bahwa cita-citanya itu akan jadi jurang curam yang siap menelannya, bahwa mimpi adalah kegelapan tanpa ujung. Ia tahu tidak seharusnya ia menaruh harap, terlebih pada satu orang yang paling mungkin mematahkan hatinya. Di antara celah untuk jalan ke depan atau berhenti, bila bisa bersama Kinan, maka lebih baik hidup dalam pengungsian daripada kembali pada tanah kelahiran.

 

“Jangan jadi batre deh, Nan, yang lain,”

“Jadi tahun saja kalau begitu, biar selalu berubah,”

“Bertambah tidak melulu berubah, Nan.”

“Terus apa dong?”

“Yang berubah itu pohon, yang tidak berubah itu tanah.”

 

Kebiasaan Pra mengutak-atik kata-kata tidak jarang membuat Kinan kesal. Bukan karena istilah-istilah yang tidak ia pahami, tapi karena semua itu tidak pernah ditulisnya. Dibiarkan hilang setelah diucapkan, direlakan habis setelah disampaikan. Dan tiap kali ditegur, jawabannya selalu sama, “Aku kan punya super memory.”

 

Kini, Kinan sudah tidak bisa membedakan dirinya ketika sedang menoleransi sifat-sifat Pra, dan ketika membenarkan perlakuannya. Jika Pra adalah tokoh yang hadir untuk mengusik kententeraman hidup seseorang, sungguhlah ia berhasil memerankannya. Lagipula, mau sampai kapan ia percaya pada memori di dalam kepalanya itu? Apa susahnya sih menulis? Apa dia tidak tahu caranya? Apa perlu aku?

 

“Jadi maksudmu… daripada jadi batre, lebih baik jadi tanah? Begitu?”

“Sekeliling kita pasti berubah, Nan, tapi tempat kita berpijak, termasuk diri kita sendiri, nggak boleh. Nggak boleh berubah. Karena kalau bumi aja berputar pada porosnya, kenapa kamu harus jadi orang lain cuma untuk menghidupi hidup? Pohon bisa selalu ditanam lagi, Nan, tapi tanah? Dia nggak boleh sampai habis. Sama aja kayak kamu. Yang namanya hari besok masih bisa dibangun lagi, selama kamu bisa jaga diri kamu sendiri.”

 

Suara ramai di sekitar pantai yang sejenak menjadi sunyi, membuatnya sadar bahwa di saat-saat tertentu, Pra mampu menyapu segala suara bising di bumi. Dan cuma dia yang bisa begitu.

 

“Tetangga Rina ada yang meninggal, Pra,”

“Kau mau ke sana sekarang?”

“Aku tidak mengajakmu,”

“Aku antar,” katanya tanpa ragu-ragu sambil melambaikan tangan ke arah Dawan, “Wan, pinjam motor!”

 

Pra benar. Yang berubah itu pohon, yang tidak berubah itu tanah. Maka, mungkin itu juga yang jadi salah satu alasan mengapa Kinan memelihara rutinitasnya berkunjung ke rumah duka, karena kematian adalah kehidupan terakhir yang tidak akan bisa berubah.

 

“Aku mau punya motor sendiri,” katanya sambil melihat Kinan di kaca spion motor.

“Ngapain? Nggak punya motor aja hidupmu sudah susah,” sahut Kinan sambil menambahkan, “Mending cara pekerjaan lain yang uangnya lebih pasti daripada nyari ikan.”

“Nanti, kalau aku sudah punya motor, aku yang nganterin kamu. Ke rumah duka mana pun, Nan, aku antar!”

“Males.”

“Kenapa?”

“Kalau orang yang meninggal gak kamu kenal? Atau gak aku kenal? Mana mau kamu nganterin aku,”

“Lah, ini sekarang aku lagi ngapain?”

 

Melihat gelagat Pra yang kesal, Kinan tertawa. Kalau urusan mengakhiri percakapan dengan nada menyebalkan, Kinan memang jagonya. Kira-kira dia setia benar tidak, ya? Kenapa tidak pernah diturutinya permintaanku untuk tenggelam di dasar laut? Toh, tidak ada yang akan mencariku. Bapak sudah punya anak lagi dari istri barunya. Sanak keluarga lain juga sedang susah dengan hidupnya masing-masing. “Apa kita menjemput kematian saja, Pra? Mungkin dosa besar yang kekal itu justru bisa menyelamatkan kita.”

 

“Sabarlah, Nan, biar yang itu Tuhan saja yang kerjakan.”

“Lantas, bagaimana dengan banyak penjahat yang memilih untuk menyerahkan dirinya sendiri, Pra? Apalagi kalau bukan karena merasa lebih hidup di penjara?”

“Jadi kau percaya surga?”

“Aku cuma tau kita sedang di neraka.”

 

Pra ingin sekali menyela ucapan Kinan dengan: Apa hadirku tidak sedikit pun membawa perubahan apa-apa, Nan? Mengapa kita masih saja di neraka? Apa karena selama ini kita tidak pernah ke mana-mana?

 

Tapi bagaimanapun juga, tidak banyak yang bisa Pra lakukan. Apalagi, peranannya juga tidak terlalu istimewa. Ia tidak lebih dari seorang yang hampir selalu menemani Kinan pergi melayat ke rumah duka. Dan dalam hal ini, ia sangat bangga dengan keputusan Kinan. Ia tahu betul dengan mengizinkan Pra menemaninya berkunjung ke rumah duka, maka Kinan sudah melampaui batas dari peraturannya sendiri. Karena jika dikatakannya bahwa ia tidak akan pernah membiarkan orang lain ikut campur dalam hal-hal yang bersifat prinspil, dengan urusan yang berkaitan dengan hati dan kepalanya, maka dengan begitu, orang pertama yang mengingkari janjinya justru dirinya sendiri.

 

“Kalau dunia harus mengikuti aturanmu, besok juga kiamat, Nan.”

“Ya makanya aku nggak maksa,”

“Kamu juga nggak perlu maksa diri kamu sendiri, sih,”

“Untuk ikutin aturan dunia?”

“Untuk ikutin aturan yang kamu buat.”

 

Hidup Kinan mungkin sama saja dengan kehidupan kebanyakan orang. Yang ketika tidur memikirkan menu makan besok, yang ketika bangun mencari upah atas pertanyaan yang semalam diciptakannya. Tetapi ada kalanya ia ingin presisi itu diubahnya menjadi ketenangan hati. Ketenangan yang akan menyuruhnya untuk tidak melakukan apa pun. Walau ia mengerti hakikat hidupnya sendiri. Bahwa nasi akan jadi basi, bahwa sabar tidak selalu mendatangkan subur, bahwa uang juga akan berujung usang, bahwa pada akhirnya tanah akan selalu jadi panah, bahwa hidup… cuma perkara hirup.

 

Tags: No tags

160 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *