Untitled_Artwork 22

Di balik fiksi Geez & Ann

Untitled_Artwork 22


Ini bukan klarifikasi. Rasanya aneh juga kalau penulis harus klarifikasi segala sama bukunya sendiri. Tapi karena saya sayang kalian, sedikit, dan karena saya tahu bingung itu nggak enak, ya walau untuk beberapa keadaan menjadi tidak tahu adalah keadaan paling menenangkan, dan karena juga saya terlalu menyukai cerita ini, kita bongkar saja rahasianya. Rahasia yang sudah tidak lagi jadi rahasia, karena buat apa saya pendam, kalau satu-satunya orang yang paling tidak boleh tahu soal teka-teki ini justru jadi orang pertama yang memecahakannya.


Geez & Ann. Diambil dari nama Gazza Chayadi dan Keana Amanda. Cerita tentang dua manusia yang harus berhadapan dengan jarak yang membuat mereka harus memilih antara cinta dan cita-cita. Beberapa bulan lalu, bagian ketiga dari trilogi bukunya, yang merupakan penutup cerita mereka, baru saja terbit. Dan mungkin sudah banyak yang tahu bagaimana akhir cerita mereka. Tenang, tidak akan saya spoiler di sini, toh, bukan itu tujuan saya membicarakannya.


Empat tahun lalu, ketika saya memutuskan untuk bergabung ke wattpad, sebuah platform menulis. Ketika itu saya bingung, apa ya yang perlu saya bagikan di sana? Padahal ketika itu, di laptop saya cuma ada cerita Geez & Ann. Karena cerita itu sebenarnya sudah saya simpan di microsoft word lebih dari enam tahun lalu. Ya, ceritanya sudah lama sebenarnya. Tapi nggak, saya memilih untuk menerbitkan cerpen sederhana. Kalau ada yang ingat, judulnya 7 hari. Cerpen yang jadi awal mula novel Kata. Kalo ditanya kenapa saya nggak langsung membagikan Geez & Ann saja ketika itu, jawabannya sederhana: saya takut.


Dan jawaban sederhana itu yang mau saya bahas. Dan untuk membahasnya, saya harus mengajak kalian untuk kembali ke 8 tahun lalu.


8 tahun lalu, lama ya? Saat itu saya masih kelas 3 smp waktu sekolah mengadakan acara pensi, pentas seni. Dan zaman saya waktu itu, belum boleh manggil band/artis gitu dari luar, jadi pensi biasa, biasa banget. Cuma biasanya ada alumni yang datang, bahkan ada satu band yang selalu ditunggu-tunggu, ya, sama tipikal anak SMP centil pada umumnya, termasuk teman-teman saya. Dan hari itu, mereka udah duluan ke depan panggung, dan kalau nggak salah saya masih di kelas, lupa, nggak ingat lagingapain. Terus selang beberapa waktu, saya keluar, niatnya mau nyusul mereka. Tapi penuh banget. Untuk ke tengah-tengah aja susah, apalagi ke depan. Saya yakin banget mereka pasti di depan, karena katanya, vokalisnya ganteng.


Terus ya udah, saya berdiri di barisan paling belakang, bahkan itu bisa dibilang udah nempel sama tembok. Ya udah saya senderan aja. Merhatiin orang loncat-loncat, nyanyi-nyanyi, dalam hati ngebatin, pada ngapain sih. Terus nggak lama, hadeh saya masih deg-degan tiap kali mengingat ini, terus nggak lama, ada seseorang berdiri tepat di sebelah saya. DUH. Deg-degan gini. Huh, oke.


Dia pakai seragam putih abu-abu, hoodie warna hijau tosca, kacamata yang bentunya standar, dan sepatu converse. Bahkan warna sepatunya udah pudar, kayak udah lama nggak dicuci. Ya jadi jelas kalo dia bukan seangkatan saya. Tapi saat itu saya pikir kayak, ya udahlah. Dan baru aja saya mikir, tiba-tiba ini orang ngomong, dia bilang, “Ciee, pasti nonton vokalisnya ya?”


Wkwkwkwkw. Ya. Persis sekali seperti di novel. Dan itu awkward banget. Parah. Kayak. Apaansi ni orang. Saya nengok ke kanan kiri nggak ada orang, ternyata di belakang itu cuma ada saya dan dia. Ya karena saya bingung, dan super awkward, ya saya cabutlah, saya kabur ke kantin. Jadi dulu di kantin SMP, sohib saya tuh ibu-ibu yang jualan ciki. Dan posisinya memang membelakangi lapangan. Makanya saya pikir, untuk kabur ke situ jadi pilihan tepat. Kayak dikejar-kejar hantu padahal nggak. Ya udah saya duduk. Si ibu yang jual ciki nanya, “Kenapa kak?” Saya cuma geleng-geleng kepala, sambil ambil sebungkus ciki, terus duduk, terus makan cikinya. Duh, aneh banget perasaan saya ketika itu.


Dan makin aneh lagi, tiba-tiba orang tadi tuh muncul depan saya. Sok acting banget lagi. Ya nggak tahu sih acting atau nggak, tapi dia ikut-ikutan beli ciki yang sama. Dan beruntungnya saya salah satu temen saya tiba-tiba manggil dan nyamperin saya, “Tsan, gue cariin juga.” Terus saya cepat-cepat narik tangan teman saya untuk pergi dari situ. Mungkin karena gerak-gerik saya yang sangat nggak kayak biasanya. Teman saya nanya, “Tsan, lo sakit? Aneh banget kayak cemas gitu, kayak dikejar hantu.” Terus saya bilang aja “Iya, emang lagi dikejar hantu.”


Akhirnya saya cerita ke teman saya itu, dan ternyata, orang aneh yang membuat saya merasa ikut aneh itu namanya… namanya Geez.


Dia alumni sekolah saya juga ternyata, bahkan dia adalah sahabatnya kakak teman saya tadi. Dia nemenin teman-temannya yg lg manggung, dia emang nggak ikutan ngeband. Teman saya juga bilang, “Anaknya baik kok. Di antara temen-temen kakak gue, dia yang paling diem.”


Diem? Diem dari mana? Nggak kenal aja udah sok kenal, sok ngajak ngobrol. Ah, tapi saya berusaha untuk membenarkan semua dugaan saya ketika itu. Kayak, ya udahlah, nggak bakal ketemu lagi ini.


Dan ucapan saya barusan, malah jadi kenyataan. Kenyataan yang kebalikan. Pas bubaran sekolah, dan semua teman-teman saya udah pada pulang, dan saya masih nunggu dijemput, saya nunggu di pos security. Biar aman. Dan di samping pos security ada tiga atau empat motor gitu. Salah satunya motor vespa. Warna putih. Jam 3 sore. Saya masih inget banget, saya masih inget bahkan masih bisa terdengar di telinga saya waktu suara dia dan teman-temannya muncul lagi. Dan benar aja. Saya kayak, kok, kok gini sih. Kok masih ada di sini sih. Kok belom pulang.


Saya cukup panik ketika itu, karena dia dan teman-temannya semakin mendekat. Di situ saya udah mikir aneh-aneh, cuma untungnya saya lagi sama satpam jadi kalo pun dia mau macem-macem, ya dia nggak mungkin macem-macem juga sih.


Dia persis di depan saya lalu bicara, “Eh, ketemu lagi.”

Saya diem. Saya gngak mau nanggepin. Toh dia juga belum tentu ngomong sama saya.

“Belum dijemput?”

Sial dia ngomong lagi.

“Pak, jagain ya, temenin sampe dijemput, kalo hilang bahaya.”

Saya lupa dia ngomong apa aja, tapi kurang lebih kayak gitu, dan sebelnya, ternyata si pak satpam ini kenal juga sama dia. Saya cuma diem. Aneh banget rasanya. Terus dia ngambil motor, yang ternyata vespa warna putih tadi itu punya dia, terus sebelum cabut dia bilang. “Pulang ya? Hati-hati di jalan, kalau ada yang nanya dijawab, jangab disombongin.”

Hahahahaha


Abis dia pergi, saya senyum-senyum sendiri. Aneh banget rasanya. Saya kalo harus disuruh mengingat lagi mau senang gimana, mau sedih juga gimana. Huft. Oke, saya coba lanjutin ceritanya karena kalo boleh jujur untuk mengingat-ingat kyk gini lagi tuh agak berat, ya.


Sesampainya di rumah, saya buka komputer, waktu itu saya gak punya handphone, jd kalo hubungin temen pakai yahoo messenger atau pinjam hp ibu. Saya langsung lapor lah sama temen saya, saya cerita apa yang terjadi tadi. Dan temen saya bilang, “Iya tadi dia ngechat gue di BBM. Katanya lo kocak, diajak ngomong diem aja, terus dia minta juga pin bb lo, ya gue bilang lo nggak punya hp,”


Dan, cerita Geez & Ann bermula dari situ.


Saya nggak pernah tau bahwa tiba-tiba aja, ya… astaga, cuma dia yang bikin saya habis kata kayak gini. Ya, saya nggak perlu lah cerita detail, cuma kalo tentang sosoknya yang nyata, itu benar adanya. Dia hidup di planet yang sama kayak kita. Sampai ketika dia harus kuliah ke Jerman, setelah tiga tahun dekat, ya, seperti yg saya bilang, antara cinta dan cita, kadang kita emang harus milih. Akhirnya di ke Jerman, dan awalnya semua masih baik-baik aja. Sampai mulai dari kesibukan, perbedaan waktu, buat saya merasa ada dia atau nggak jadi sama aja, jadi nggak ada bedanya. Terus saya milih untuk selesai. Lagipula, selama ini juga nggak pernah ada yang pernah benar-benar dimulai. Jadi setelah 3 tahun, kedekatan itu harus terasing kembali. Dia kembali ke hidupnya, pun dengan saya.


Dia istimewa. Dia berarti banget buat saya. Ya yang seperti banyak orang bilang, rasa pertama itu susah untuk digantikan dengan rasa berikutnya. Mungkin rasa berikutnya bisa lebih indah, tapi yang pertama, tidak tergantikan. Ini salah saya, setelah dia nggak terdengar kabar, saya coba untuk jalin cerita dengan orang lain, dan selalu berujung gagal, karena saya selalu cari yang kayak dia dan itu salah. Itu nggak benar. Dan tiap kali saya coba untuk lupa, kenangan-kenangan itu muncul menggerogoti perasaan saya sendiri. Bahkan sekarang tiap kali buka laptop dan iseng buka skype, dia bahkan udah nggak pernah online lagi, padahal dulu setiap hari, sampai ketiduran, saya ingat waktu pertama kali dia sampai ke flat dia. Dia nunjukin ini tempat sampahnya, ini tempat aku bikin mi, kalo ini meja, nggak terlalu besar sih. Saya terlalu mengenal dia, sampai terlampau banyak hal di diri saya sudah jadi bagian dari dia.


Lalu saya sadar bahwa, ketika saya milih untuk selesai, ternyata perasaan itu justru baru memulai. Saya baru sadar saya nggak bisa kalo nggak ada dia, ketika dia udah nggak bisa ada sama saya. Saya sadar saya sudah menaruh segenap perasaan saya di langkah pertama saya ketemu dia di barisan paling belakang, ketika sekarang di sudah berpuluh ribu kilometer jauh dari saya. Saya menyanginya, hanya saja sayaterlambat.


Dan, itu dia. Itu alasan saya menulis. Itu alasan mengapa sekarang saya menulis ini semua karena, itu adalah satu-satunya cara untuk terus menyayanginya. Tahun 2017, buku Geez & Ann terbit. Yang pertama dan yang kedua. Lega sekaligus sesak, senang sekaligus sedih. Karena pada saat yang sama, saya sudah membiarkan ia dimiliki semua orang, dikagumi oleh kalian pembaca saya, bahwa dengan menulis, saya sudah menyimpan sekaligus melepasnya.


Saat itu, nggak pernah terbesit di kepala saya bahwa suatu hari dia akan membacanya. Setahun setelah bukunya terbit, di penghujung tahun 2018, ibu dari sahabat saya tadi meninggal dunia. Ya, teman, sahabat saya yang pertama kali mengenalkan saya pada Geez. Di rumahnya malam itu, ketika lantunan ayat-ayat quran terdengar, pandangan saya tertuju pada sosok laki-laki yang tentu saja tidak pernah jadi asing buat saya. Dia duduk dekat tangga. Mengenakan kemaja panjang warna hitam, dan masih kacamata yang sama. Saya langsung membalikan badan dan berjalan ke area luar. Duduk di antara teman-teman saya dan terus menduduk. Saya cuma nggak mungkin harus papasan sama dia lagi. Perasaan saya benar-benar campur aduk. Tapi bukan dia namanya kalau tidak menyebalkan. Tanpa basa basi, dia datang dan duduk tepat di sebelah saya.


Mengajak teman-teman saya ngobrol, “Jadi, kabar gimana nih?” katanya menyapa semua orang. Saya tetap diam. Padahal saya kangen, kangen sekali. Astaga, rasanya cuma baru seperti kemarin. Nggak ada yang berubah.

Lalu dia bilang, “Nih denger-denger ada yang jadi penulis, ya?”


Duh. Mati saya. Kok dia tau sih. Oke tenang, stay cool, mungkin yang dia maksud orang lain, enggak. Tentu saja itu saya.


“Tsana nulis buku ya?”


Caranya memanggil nama saya dengan sempurna. Dia nggak pernah menyingkat, Tsan atau Na, selalu Tsana. Saya mengelak, “Nulis buku? Nggak.”


“Kamu kalo boong tuh lucu tahu, nggak? Pernah nggak kamu ngaca kalo lagi boong gitu?”

Saya ingin sekali tersenyum. Tapi nggak. Saya memilih untuk pulang. Saya cuma… saya nggal bisa ada dia. Susah. Sulit sekali menyembunyikan perasaan kalau ada dia.


“Aku antar, ya?”

“Aku bareng temanku.”

“Oh, oke, hati-hati.”

Dan sebelum pergi dia sempat bilang, “Aku senang. Aku senang ketemu kamu lagi.”


Semesta memang hobi bercanda. Saya nggak mungkin melanjutkan kembali cerita yang sudah lama selesai. Tapi kemungkinan itu dibalas sebuah kejelasan ketika setelah bertahun lamanya, namanya muncul di notifikasi hp saya.

Saya bacain ya, kebetulan masih saya simpen. Kebetulan.


Halo, tsana

Halo

Bukunya bagus

Pas baca itu, saya langsung membelalak. Rasanya kayak… kayak main petak umpet terus ketauan. Tapi rules number 1: stay cool.

 

Buku apa?

Ya buku kamu

Hah buku apa?

Tsana….


Selalu ada satu orang yang nggak bisa kita boongin ya. Dan buat saya orang itu… dia sih. Percuma mau bohong gimana juga, karena dia pasti udah lebih tahu dari awal.


Iya, makasih ya,

Aku boleh minta tanda tangannya gak?

Hah? Ngapain minta tanda tangan segala

Tiap pembaca pasti pengin buku yg dibacanya ditanda tanganin sama penulisnya

Saya nggak suka berdebat dengan dia jadi saya memilih untuk bilang:

Ya udah, nanti

Aku ke rumah ya

Apaansih jangan, udah di gojekin aja.

Okeee kesatria hijau meluncyuuurr


Dia memang suka punya istilah aneh-aneh gitu, gojek dibilang kesatria hijau. Terus nggak lama kesatria hijaunya datang, di halaman depan ada notes bertuliskan halo, boleh minta tanda tangannya gak?.


Bukunya dateng, saya tanda tangan, saya foto ke dia dan bilang, “Udah ditanda-tanganin nih, aku gojekin lagi ya ke rumah kamu?”

“Jangan, nanti malem aku ambil.”


Dan malam itu, ketika akhirnya setelah sekian lama langkahnya kembali, ada perasaan lama yang minta disapa lagi. Saya nggak nyuruh dia masuk, walau dia bilang, “Nih tamunya gak disuruh masuk nih?”

“Udah deh kan cuma ambil buku.”

“Berarti ngobrol bentar di dluar gapapa lah ya?”


Mana mungkin menolak? Mana mungkin saya bilang nggak? Ketika malam itu adalah momen yang saya tunggu-tunggu, yang tanpa saya sadari saya menulis buku Geez & Ann untuk nunggu dia datang dan membacanya.


Di depan mobilnya, kami bersandar, melihat bintang yang malam itu seperti ikut mendengar cerita. Saya senang sekali melihatnya baik. Dia bilang juga dia menangis membaca buku yang kedua. Terus saya bilang, “Bukunya belum selesai, aku sedang mengerjakan bagian terakhirnya.”


“Oh iya? Buat yang epic ya?”

“Nggak tahu, deh. Akhirnya mereka pisah kayaknya.”


Dia diam. Hening.


“Tsana, kita gak pernah tau hari esok…”


Biasanya saya nggak pernah nanggepin dia kalau dia sudah bilang gitu, tapi malam itu saya bilang, “Kayaknya udah terlalu lama aku nunggu hari esok, kayaknya udah waktunya aku buat jawabanku sendiri. Pulang, Geez. Pulang sebagaimana seharusnya.”

Dia memahami tanpa perlu jelas saya terangkan bahwa semua memang sudah selesai, tanpa pernah dimulai. Dan sekarang ketiga bukunya sudah saya rampungkan, dan dengan itu, saya, mengikhlaskannya.

Tags: No tags

193 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *