Untitled_Artwork 42

Lembaran yang tertinggal di bandara

Untitled_Artwork 42


(Surat terakhir dari Geez untuk Ann)


Sejak dulu, di antara kita berdua, kamu yang paling pintar menulis. Dan sejak dulu juga, aku yang kebagian tugas untuk membacamu. Ann, kamu ceritaku yang sudah selesai namun tak akan pernah habis kuceritakan.


Tidak. Aku tidak sedang merapikan hidupku yang berantakan, karena aku baik-baik saja. Kamu ingat Mei tahun lalu? Sewaktu kita berpisah? Ya. Kita berpisah dua hari sebelum hari ulang tahunku. Tadinya, kupikir, kita bisa merayakannya di Berlin. Ada restoran yang ingin kutunjukkan padamu, restorannya romantis, tidak cocok untukku tapi aku tahu kamu pasti menyukainya.


Setahun sudah ya, Ann? Rasanya baru seperti kemarin aku menghampiri gadis kecil dengan baju seragam yang kebesaran. Ia berdiri sendirian di barisan paling belakang yang mungkin sekarang sangat melegenda. Bila tidak untukmu, setidaknya untukku. Ann, sekarang kamu sudah tumbuh dewasa, semakin cantik, semakin nyaman dengan penampilanmu yang aku tahu dulu kamu tidak pernah percaya diri. Perubahan baik dalam hidupmu kini jadi alasanku melanjutkan hidup.


Aku memutuskan berbicara lagi denganmu melalui surat ini, sebab kudengar Leo juga mengirimkanmu salam perpisahan. Aku tidak pernah menyangka jika ia juga menaruh hati padamu. Walau harusnya bisa kumengerti, betapa mudahnya untuk jatuh cinta denganmu.


Awalnya aku agak bingung, apa isi surat yang tepat untuk kuberikan padamu. Karena kalau harus tentang perpisahan, itu sudah kita lakukan. Maka yang akan kusampaikan padamu adalah sebuah batas. Sebab setelah dari surat ini kamu baca, tidak ada lagi yang bisa kita lewati.


Maafkan aku, Ann. Untuk menuntut banyak hal sulit tanpa peduli kamu mampu atau tidak. Untuk membiarkanmu menyayangi seseorang yang jaraknya jauh sekali dari jangkauanmu. Untuk memintamu menunggu dengan banyak kebingungan yang harus kamu telan sendirian. Untuk memaksamu mengerti caraku mencintai. Dan untuk segala hal yang tidak sepatutnya kamu terima. Aku minta maaf.


Di awal tadi, aku bilang bahwa aku tidak sedang merapikan hidupku sebab aku baik-baik saja. Sebenarnya itu bukan karena aku kuat, Ann, tetapi karena aku ingat permintaan terakhirmu di bandara adalah supaya aku baik-baik saja. Ya, Ann. Aku tidak berantakan dan akan melanjutkan hidupku, karena itu adalah satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk mewujudkan perasaan cintaku padamu. Itu caraku, Ann. Cara yang selalu kamu bilang aneh dan tidak masuk akal, tapi dengan itu, aku mempertahankanmu. Walau bentuknya tidak di sampingmu, tapi selalu ada bagian dari diriku yang hidup untukmu. Dan untuk yang itu, maaf, aku tidak bisa menghilangkannya, karena itu bukan kendaliku. Ya, Ann. Aku tidak akan pernah bisa mengendalikan diriku sendiri untuk berhenti menyayangimu.


Beberapa minggu lalu, ada seorang perempuan menyatakan cintanya padaku. Dia tidak mirip kamu. Jauh bila harus kayak kamu. Dan aku pun tidak mencintainya. Bukan karena dia tidak suka matcha, bukan karena dia tidak seperti bunga lily, bukan. Aku tidak mencintainya karena kupikir ia bisa membuatku merasakan hal yang sama seperti ketika aku dulu denganmu. Aku tidak mencintainya karena aku tidak berusaha untuk itu. Sampai ketika pada hari ini aku menuliskan surat untukmu, karena dengan ini kuputuskan untuk berusaha. Bukan berusaha membuka hati, Ann, tapi untuk menerima orang lain.


Aku mungkin tidak akan pernah bisa mencintainya sebesar aku mencintaimu, tidak, tidak akan mungkin. Dan aku tidak mau berusaha melupakanmu karena itu semakin membebaniku. Tapi aku bisa menemaninya berjalan ke depan, ke sebuah tujuan yang nyata adanya, ke sebuah kota besar yang ramai yang tidak pernah memperlakukanmu dengan baik. Karena kupikir, kalau jawabannya harus selalu kamu, maka baik-baik saja akan jadi permintaanmu yang paling sulit untuk diwujudkan.


Dulu, kupikir yang kuinginkan cuma akhir cerita yang bahagia. Namun ternyata hidup lebih dari itu, Ann. Dan kamu benar soal ending cerita, kita butuh yang baik, bukan cuma bahagia. Kamu cerita bahagiaku, Ann, tapi tidak cukup baik untukku. Kini aku semakin mengerti mengapa kita berpisah, karena berpasangan bukan jadi tujuan yang kita butuhkan. Terima kasih untuk perasaan senangnya selama lebih dari sepuluh tahun itu.


Tetap jadi dirimu, Ann, karena dengan begitu aku tahu aku selalu mengenalmu.


Dari ceritamu yang tidak tergantikan,

Gazza Chayadi

Tags: No tags

370 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *