1

Geez & Ann — Bab 1

1


BAB 1

 

“Eh, band alumni udah mau tampil tuh! Ke sana yuk!” ajak Dina.

Semuanya bersemangat untuk cepat-cepat menuju area panggung kecuali aku.

“Keana, ayo!!” Gizka memaksa sambil terus menarik tanganku.

“Kalian duluan deh, nanti aku nyusul.”

April berusaha memastikan jika aku akan ke sana.

Aku mengangguk, sedangkan mereka langsung berlari menuju ke lapangan. Lucu juga ya kalau diperhatikan, mau lihat band alumni saja senangnya seperti mau lihat pangeran tampan yang datang dari kerajaan dongeng dengan kuda putih yang ditumpanginya. Memang sih band alumni yang satu ini selalu dinanti-nanti oleh anak perempuan di angkatanku. Bukan hanya karena bandnya bagus, tapi personilnya tampan-tampan. Tapi itu bukan kataku, kata mereka.

Oh iya, jadi hari ini sedang ada acara pentas seni sekolah. Ada panggung yang cukup besar, panitia pengurus yang kelihatan sedang kerepotan sana sini, ada beberapa alumni yang datang menggunakan seragam putih abu-abunya. Ada juga teman-temanku yang paling heboh menanti band alumni mulai tampil, dan ada aku yang dari tadi cuma duduk memperhatikan sekelilingku.

Jika kamu berjalan dan menemui delapan orang yang tidak bisa diam, aku adalah salah satu di antara mereka. Tapi tenang saja, teman-temanku bukanlah sejenis makhluk yang akan dikhawatirkan meresahkan banyak orang dan dibenci oleh seisi sekolah. Kami hanya berteman, karena berdelapan saja, jadi sering dianggap negatif oleh kebanyakan orang. Ada Dina yang paling bersih, Hana yang paling cantik di antara kita semua, April yang kesulitan move on, Gizka si anak basket dan paling sibuk, Natha yang paling rusuh dan paling jahil, Thalia yang paling genit dan kerjaannya cuma pacaran, dan ada juga si iklan shampoo, Alya.

Seperti janjiku, setelah beberapa menit, aku menyusul mereka supaya bisa berada di barisan paling belakang. Acara seperti ini memang bukan untuk manusia sejenis aku, yang lebih suka duduk manis di rumah sambil baca buku. Dina berkali-kali menarik tanganku untuk pindah ke barisan depan, tapi berkali-kali pula aku menolak. Lagunya saja aku tidak tahu, lalu di depan aku harus melakukan apa? Loncat-loncat seperti kanguru sedang olahraga? Tidak, tempatku memang sudah benar ada di sini.

Dina kelihatan paling bersemangat di antara kita berdelapan. Coba tebak kenapa? Karena dia naksir sama gitarisnya, Kak Bima. Padahal orangnya tidak terlalu tampan, kulitnya hitam-manis, tubuhnya tinggi. Bukan seleraku. tapi kalau kata Dina dia sangat berkharisma.

Tiba-tiba seseorang berdiri tepat di sebelah kiriku. Aku diam dan menoleh ke arahnya sebentar. Sepertinya dia teman Kak Bima, karena sama-sama memakai seragam putih abu-abu. Dia tidak setinggi Kak Bima sih, tapi kulitnya putih dan pakai kacamata serta sepatu converse hitam yang sepertinya sudah lama tidak dicuci, karena warnanya kusam. Ia juga mengenakan hoodie berwarna hijau toska.

Secara tiba-tiba juga dia bersuara, “Pasti nontonin vokalisnya, ya? Kenapa banyak banget yang naksir sama dia, ya?”

Kemudian aku menoleh ke sekeliling dan hanya ada aku dan dia di situ, maka masuk akal jika barusan tadi dia sedang bicara denganku. Dengan alasan itu, aku berusaha untuk menjawab walaupun dengan jeda beberapa menit karena aku perlu memperhatikannya terlebih dulu, “Kakak ngomong sama aku?”

Tanpa menengok, ia tersenyum sambil menjawab tenang, “Enggak, lagi ngomong sama keramaian.”

Sial. Suasananya berubah menjadi canggung. Aku merasa sudah geer dan sok akrab menjawab perkataannya yang kukira ditujukan padaku. Dan karena itu aku memutuskan untuk pergi ke kantin dan menuju warung Om Gus penjual es teh manis paling juara itu.  

“Om Gus, satu, ya, seperti biasa.”

Dan tiba-tiba saja ada suara itu datang lagi menyambar ikut-ikutan seperti anak kecil ingin diajak main, “Dua ya, Om!”

Lalu aku menoleh, ternyata dia lagi.

“Kakak ngikutin, ya?” Entah pertanyaan bodoh apa yang baru saja keluar dari mulutku. Tapi aku tidak peduli, dia benar-benar membuatku heran.

Dia tersenyum dan menjawab, “Geez,” sambil menawarkan tangannya untuk dijabat.

“Sekarang kakak ngomong sama aku, atau masih betah dengan keramaian yang sepertinya tidak dengerin kakak sama sekali?”

“Aku Geez.”

“Bohong.”

“Kok, kamu tahu aku bohong?”

“Geez, kan, artinya dewa, kakak pasti sedang ngarang. Mana mungkin kakak diberi nama yang artinya dewa. Ini, kan, bukan zaman kerajaan lagi,”

“Kok, kamu tahu artinya dewa?”

“Karena aku senang baca buku.”

“Gazza Chayadi,” sambil menawarkan kembali tangannya untuk dijabat.

“Nama sebagus itu kakak ganti jadi Geez?”

“Ya sudah, terserah kamu ingin panggil aku apa.”

“Keana Amanda, tapi Keana saja.”

Dia tersenyum kecil, “Ann.”

“Bukan Ann, Kak. Keana,” jawabku sambil heran dia memanggilku dengan nama yang lain.

“Ini dua es teh manisnya,” kata Om Gus sembari memberikan es teh manis kepadaku juga pada makhluk asing itu. Baru saja seteguk, wajahnya kelihatan seperti terkejut. Aku menahan tawa, dia pasti tidak tahu es teh manis seperti apa yang biasa kubeli. Jelas-jelas es teh manisnya hanya memakai setengah sendok gula saja, jadi kira-kira rasanya tidak begitu manis bahkan tidak manis.

“Kakak, sih, sok tahu,” sindirku sambil menahan tawa.

Setelah itu aku meninggalkannya dan menuju ke teman-teman yang sepertinya sudah menunggu sejak tadi. Mereka hanya memperhatikanku dengan tatapan tidak percaya.

“Kalian baik-baik aja?” Wajar sih, anak SMP kan memang sedang genit-genitnya. Jadi pasti agak sedikit ricuh jika ada salah satu temannya bicara dengan seorang alumni angkatan pertama itu. Mereka tidak bisa berhenti bertanya bagaimana aku bisa mengobrol berduaan, “Tidak seperti kelihatannya kok, aku cuma ngobrol sebentar, bukan hal penting.”

***

Akhirnya kami melupakan kejadian barusan, lalu kembali mengikuti acara pensi hingga selesai. Tepat pada pukul empat sore, acaranya selesai dan ditutup oleh bintang tamu utamanya. Setelah semua siswa bubar aku kembali ke kelas, merapikan barang-barang dan pulang duluan.

Ketika sedang menunggu metro mini, seseorang yang kini sudah tidak asing lagi tiba-tiba datang dan berdiri tepat di sebelahku. Aku diam, dia pun begitu. Sampai metro mininya datang kami tetap saling diam, sialnya tempat duduk yang tersisa tinggal dua, bersebelahan pula. Aku masuk duluan dekat jendela kemudian disusul olehnya.

Asap kendaraan, suara pengamen bernyanyi, membuatku menginginkan sedikit ketenangan. Kemudian aku mengambil ipod dan memilih Rachel Portman sebagai teman melodi sore itu. Tetapi tidak lama setelah lagunya disetel, tiba-tiba saja ia mencabut earphone yang terhubung dengan ipodku kemudian dipindahkan ke sebuah ipod miliknya, “Lagu yang kamu dengar cocoknya jadi teman tidur.”

Setelah tersambung, earphone sebelah kirinya ia berikan padaku dan sebelah kanan untuknya. Ia memilih sebuah lagu yang tidak pernah aku dengar sebelumnya, “Stand By Me, Oasis,” katanya seakan membaca pikiranku. Entah kenapa di situ aku hanya mengangguk seperti terhipnotis. Aku dengarkan lagunya baik-baik, lagu yang semakin lama semakin enak didengar.

“Pasti kakak penggemar berat.”

Dia tersenyum melihat raut wajahku yang kelihatan penasaran, “Kamu suka lagunya?”

Aku mengangguk, “Suka. Nanti kalau ada konsernya aku pasti nabung supaya bisa nonton.”

“Sepertinya mereka nggak bisa ditonton lagi.”

“Kok gitu?”

“Sudah sejak 2009 Oasis bubar.”

“Yah… untuk apa kakak setel lagunya?”

“Kan, hanya bandnya yang bubar, lagunya tetap bisa kamu nikmati, kok.”

“Kakak?”

“Iya, Ann?”

“Kakak suka lagu band, tapi kok kelihatan nggak senang tadi di pensi?”

“Kok, kamu tahu aku nggak senang?”

“Ya… karena kakak juga berdiri di barisan paling belakang kayak aku.”

“Iya, ya, mungkin karena telingaku nggak bisa dengar lagu-lagu yang terlalu masa kini.”

“Kakak memang sering naik metro mini? Kok nggak pernah ketemu, ya?”

“Ini baru pertama kali, sebenarnya bawa motor, tapi tadi aku tinggal di sekolah.”

“Kenapa ditinggal? Mogok?”

“Bukan, Ann.”

“Kak, namaku Keana, bukan Ann.”

“Motorku tidak mogok.”

“Lalu?”

“Karena aku harus ketemu kamu lagi.”

Mendengar kalimatnya aku sedikit terkejut, “Untuk apa?”

“Untuk beri tahu kamu kalau lagu-lagu Rachel Portman tidak cocok didengar di dalam metro mini, Keana Amanda.”

Aku tertawa kecil sambil kembali mengalihkan pandanganku ke jendela dan bergumam, manusia yang satu ini memang tidak bisa ditebak. Tiba-tiba saja datang seperti angin, tidak jelas apa mau dan tujuannya. Aku jadi curiga sepertinya Geez bukan manusia biasa, tapi tunggu sebentar. Kami hanya bertemu dan mengobrol dua kali, ini jelas-jelas kejadian yang tidak perlu dianggap serius. Besok juga dia hilang dari bumi, lenyap seperti jejak langkah dihapus hujan. Setelah puas bergumam aku lantas memperhatikan penampilannya, wajahnya terlihat penuh debu, ia tidak bisa menyembunyikan wajah lelahnya padaku karena sangat kelihatan.

Aku berdiri karena perumahanku sudah hampir kelihatan, lucunya Geez juga ikut berdiri. Aku sengaja membiarkannya melakukan apa pun, toh ini adalah angkutan umum, semua penumpang berhak untuk turun dimana saja.

“Jadi rumah kakak di sini juga?”

“Tidak di sini, rumahku jauuuh sekali dari rumahmu.”

“Terus kakak ngapain turun?”

“Ann, kamu harus, ya, naik metro mini?”

“Kak, aku nanya kakak ngapain ada di sini?”

“Nggak tahu, ingin saja nemenin kamu sampai depan rumah.”

“Nggak perlu ditemenin, aku biasa pulang sendiri. Kakak aja sana yang pulang, sudah mau gelap.”

“Kamu tahu, kan, akhir-akhir ini marak berita tentang penculikan anak SMP yang mau pulang ke rumah?”

“Ya, iya, tahu, tapi rumahku sudah tinggal beberapa meter lagi, kak. Lagipula, tidak akan terjadi apa-apa.”

“Di sini yang namanya Geez siapa, aku atau kamu? Yang arti namanya dewa, aku atau kamu? Yang bisa tahu semuanya, aku atau kamu?”

“Kakak…”

“Ya, sudah jangan sok tahu. Aku saja yang dewa tidak bisa menebak sehebat itu. Pokoknya aku harus mengantarmu sampai depan rumah.”

“Baik.”

Akhirnya kami berjalan, sesekali ia menendang batu yang menghalangi langkahnya. Mungkin karena kulitnya yang putih, jadi kalau kena debu sedikit, wajahnya menjadi kumal. Ia tidak memandangiku sama sekali, pandangannya selalu lurus ke depan. Makanya aku berani sebebas ini memperhatikannya. Setelah berjalan kaki sebentar, aku sampai persis di depan rumah. “Nah… sekarang kakak tidak perlu lagi takut aku diculik,”

“Ya sudah, aku pulang ya?” Aku mengangguk, tapi belum sampai selangkah ia berbalik lagi, “Oh iya, Ann?”

“Iya, kak?”

“Lain kali kalau kita ketemu lagi, tolong panggil Geez saja, jangan kakak.”

“Kenapa tidak Gazza?”

“Karena…”

“Karena Geez lebih keren?”

Ia tersenyum, “Kita pasti ketemu lagi.”

Akhirnya aku menyaksikan dia pulang, sampai langkahnya benar-benar hilang. Masih tidak menyangka aku bertemu manusia seantik dia. Jangan-jangan Geez adalah jin yang keluar dari botol, lalu hilang deh. Ah, tidak peduli. Aku buru-buru masuk ke dalam rumah, dan langsung tercium aroma lezat nomor satu: bolu tape buatan… “Ibu?”

“Sudah bisa dimakan belum, nih, Bu?” tanyaku mendekat ke dapur.

“Lima belas menit lagi matang.”

“Nanti ibu panggil aja ya, Keana mau ke kamar dulu,”

Sesampainya di kamar, aku buru-buru membuka laptop. Mencari informasi tentang Band Oasis, entah kenapa aku ingin saja melakukan itu. Dari sejarah, nama semua personilnya, album-albumnya, dan semua daftar lagunya aku catat dengan baik. Bahkan aku juga mencatat semua lirik lagunya di kertas, biar cepat hafal. Walaupun nggak ngerti, aku ingin sekali bisa mengerti. Jadi kalau ketemu Geez lagi, aku akan nyambung kalau membahas Oasis, setidaknya bisa menyaut sedikit. Keana, apasih kamu ini? Katamu besok Geez akan hilang ditelan bumi?

 

***

Karena hari ini hari Jumat, aku akan mampir ke toko buku untuk seperti biasa membeli Buku Lima Sekawan karya Enid Blyton. Aku tahu, sebenarnya buku itu lebih cocok dibaca waktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Tapi, waktu masih SD, aku belum berani baca Lima Sekawan. Karena judulnya seram-seram, dan abang waktu itu membohongiku dengan bilang kalau itu adalah certia horor, jadi aku baru berani baca sekarang.

Ya, memang sedatar itu hidupku. Aku tidak bisa seperti teman-temanku yang lain, yang memiliki kegiatan yang menyenangkan, misalnya ekskul. Aku bahkan tidak tahu ekskul yang cocok untukku ada atau tidak. Aku lebih senang membaca buku sambil makan es krim. Kalau tidak ada Natha, Dina, Gizka, Hana, April, Alya dan Thalia, aku sudah pasti tidak punya teman. Kalau mereka ngajak nonton film di bioskop saja, mereka sampai capek dengar alasanku supaya tidak ikut. Aku tidak suka saja, berisik, volumenya terlalu besar.

Jadi dari berdelapan hanya Dina yang satu kelas denganku, maka sesampainya di kelas aku buru-buru menghampirinya yang kelihatan sedang sibuk mengerjakan tugas yang akan dikumpulkan ketika bel masuk berbunyi, “Din… Dina..”

“Kamu nggak lihat aku sedang apa!”

“Din… kemarin…”

“Duh aku lagi dalam situasi genting nih!”

“Dina, aku pulang sama Kak Gazza kemarin.”

Dina langsung melempar penanya dan berubah menjadi terkejut seperti habis melihat penampakan, “Gazza?! Geez maksud kamu?”

“Kok, kamu juga tahu namanya Geez?”

“Siapa, sih, yang nggak tahu dia? Kamu beneran pulang sama dia? Dia bisa ngomong?”

“Iya aku pulang sama dia, kamu apa deh, dia manusia yang bisa bicara, Dina.”

“Aku kasih tahu ya, dia itu alumni paling pinter tapi nggak pernah mau temenan sama banyak orang.”

“Loh? Kayak aku dong, ya?”

“Ih, tunggu dulu. Dia emang pinter, wajahnya juga tampan, tampanan dia bahkan daripada Bima. Tapi orangnya dingin, apalagi ke perempuan. Boro-boro deh pulang bareng, ngobrol saja dengan teman perempuan di kelasnya dia nggak pernah mau.”

Mataku membelalak. Kebingungan sekaligus tidak percaya. Masa, sih? Kayaknya yang dimaksud Dina itu Geez yang lain deh.

“Coba deh kamu ceritain kenapa bisa sampe pulang bareng kayak gitu.”

Akhirnya aku menceritakan seluruh alur ceritanya pada Dina yang kemudian ia ceritakan lagi kepada teman-temanku yang lain ketika istirahat, dan reaksi mereka semua sama: terkejut dan heboh. Kalau tahu begini akhirnya, mungkin lebih baik aku diam saja. Lagi pula, apa sih yang spesial dari kejadian kemarin? Tidak ada sepertinya.

 “Nomor telepon! Dia minta nomor teleponmu, tidak?” tanya Natha bersemangat. Aku menggeleng.

Kalau dari pendapatku sendiri, setelah ini dia tidak akan menghubungiku lagi. Toh, kejadian itu bukanlah sesuatu yang harus dijadikan masalah besar. Aku tidak mungkin bertemu lagi dengannya, kalau mungkin, untuk apa?

Akhirnya peristiwaku dengan Geez mulai mereda. Teman-temanku sudah mulai melupakannya, begitu pula denganku. Aku memeriksa buku Enid Blyton yang terakhir kubeli ternyata sudah habis kubaca. Aku harus segera membelinya lagi.

“Din, pulang sekolah bisa…”

“Temani kamu beli buku Lima Sekawan?”

Aku nyengir, “Mau ya?”

“Keana, ini tahun berapa dan kamu masih sejadul itu?”

“Tapi Lima Sekawan tidak jadul, Dina, hanya–”

“Hanya jarang yang suka?”

“Sebentar aja kok, habis beli langsung pulang,”

“Kalau aja kamu mintanya ditemenin nonton film, aku mau deh, Ke!”

Setelah bel pulang berbunyi aku buru-buru mengejar metro mini yang tumben sekali sudah datang, beruntungnya aku berhasil. Karena jarak sekolahku dengan toko buku tidak terlalu jauh, dalam dua puluh menit pun aku sudah turun dan sampai tepat di depan toko buku tanpa perlu menyebrang terlebih dahulu karena searah. Aku langsung menuju lantai dua, memilah-milih judul buku dan akhirnya aku mendapatkan yang kucari, lalu pergi ke kasir untuk membayarnya. Biasanya setelah beli buku aku pasti beli es krim di kedai Mas Danu. Kedainya berada tepat di samping toko buku, dan karena sering beli aku jadi akrab dengan Mas Danu yang anak pertamanya baru saja lahir minggu lalu.

Sulit memang kalau tidak ke sana, aku membelokkan langkahku dan mampir ke kedai es krim Mas Danu. Begitu masuk aku langsung memesan es krim kesukaanku, “Matcha ditambah oreo ya mas, seperti biasa!” Tidak perlu menunggu lama hingga es krimnya jadi, aku mengambilnya dan menuju tempat duduk yang selalu aku duduki setiap kali ke sini. Aneh. Tumben sekali tempat duduk itu ada yang menduduki, karena biasanya tidak pernah ada yang mau duduk di situ, entah kenapa.

Aku merasa terusik dan tidak terima karena tempat yang selalu jadi milikku kini ditempati orang lain. Laki-laki itu menggunakan sepatu converse hitam lusuh dan kacamata yang cukup tebal, astaga! Jangan bilang dia…

Oh semesta, kenapa harus kau pertemukan aku lagi dengan makhluk ini? Apa rencana yang sedang kau buat? Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sampai akhirnya aku diam.

Dia melihatku dan langsung menyapa, “Ann? Kok kamu di sini? Duduk!.”

“Oh, nggak, Kak, ini sudah mau pulang, kok. Tadi habis beli buku lalu mampir sebentar beli es krim.”

Dia berdiri tanpa berkata apapun kemudian mengantarku untuk duduk. Sial, bukan seperti ini jalan ceritanya. Harusnya aku tidak perlu beli es krim segala tadi.

“Tapi kak, aku mau pulang.”

Dia menjawab dengan jawabannya yang selalu tidak pernah nyambung, “Kan, sudah kubilang, kalau kita ketemu lagi panggilnya Geez saja.”

Aku mengangguk, “Geez, sekarang aku mau pulang.”

“Iya, tapi aku nggak mau kamu pulang.”

“Tapi…”

“Ann habis beli buku? Buku apa? Coba aku mau lihat.”

Aku menunjukkan buku Enid Blyton yang baru saja aku beli tadi, “Pasti kamu nggak akan suka.”

Jauh dari perkiraanku, ia justru terlihat penasaran, “Lima Sekawan? Tentang apa?”

“Memecahkan misteri gitu deh, seperti detektif,” jawabku berusaha memperjelas.

Dia tidak menjawab lagi, hanya memperhatikan buku yang tadi kubeli hingga bagian dalamnya. Karena itu, aku jadi ikut diam dan sesekali menyuapkan es krim ke dalam mulutku. Lalu terdengar lagu dari speaker kedai Mas Danu, lagunya ringan dan mudah untuk didengar. Aku langsung memejamkan mata kemudian menikmati lagunya, aku memang senang melakukan itu kepada hal-hal yang menurutku indah, terutama pada lagu.

Lights will guide you home, and ignite your bones, and I will try to fix you,” Geez bersenandung pelan tapi kedengaran.

Aku membuka pejaman mataku, “Geez tahu lagunya?”

“Tahu. Kenapa? Kamu suka?”

Aku mengangguk. Setelah kujawab, ia mengeluarkan sebuah ipod dan diberikannya padaku.

“Tapi aku sudah punya ipod.”

“Tapi kamu tidak punya referensi lagu-lagu yang menyenangkan. Sudah, kamu bawa saja biar kamu bisa dengar lagu-lagu kesukaanku.”

“Nanti bagaimana cara ngembaliinnya?”

“Nanti kalau kita ketemu lagi.”

“Tapi kalau nggak ketemu lagi?”

Dia melanjutkan perkatannya dengan sambil mengatur posisi duduknya, seperti ingin berbicara masalah penting yang membuatku semakin cemas, “Kamu tahu kan, aku tipikal orang yang nggak suka acara-acara seperti kemarin?”

Aku mulai tidak mengerti dan berusaha untuk mencerna kalimatnya duluan sebelum ia mencapai to the point, “Iya tahu, lalu?” tanyaku.

“Tapi kemarin itu, aku ngerasa senang aja, nggak nyesel udah dateng ke acara pentas seni kayak gitu.”

“Kenapa?” tanyaku gugup. Hei Keana! Kenapa juga kamu harus gugup?

“Karena kemarin ketemu kamu.”

Badanku membeku, lidahku tiba-tiba saja mati rasa, ingin tersedak tapi aku sedang tidak minum apa-apa. Aku berusaha untuk tetap bersikap wajar dengan mencairkan suasana serius yang ia buat dengan tertawa, tertawa paling aneh di jagat raya.

Dia pun heran, “Kok kamu ketawa? Aku ngomongnya aneh ya?”

“Ya, aneh saja, masa hanya karena aku?” Entahlah perasaanku jadi ikutan aneh, suasananya berubah menjadi sedikit berbeda, aku terus berusaha tertawa walaupun terlihat memaksa, sangat memaksa.

 “Kamu berbeda dan aku senang bisa bertemu orang yang sangat berbeda kayak kamu.”

Barusan dia bilang apa? Aku menelan ludah, ternyata perkiraanku benar. Kali ini aku tidak tahu lagi bagaimana caranya mencairkan suasana, karena benar-benar dingin dan beku. Yang lebih parah setelah kalimat terakhir yang dia ucapkan, dia justru memperparah keadaan dengan bilang, “Pulang, yuk?”

Belum sempat menolaknya, dia keburu menarik tanganku, “Tapi Geez…”

Keputusan yang salah memang kalau harus menolak, prinsipnya terlalu kuat. Kami pun turun menuju parkiran bawah, di sana hanya ada motor karena parkiran mobil ada di atas. Dia menghentikan langkahnya di depan sebuah motor vespa, yang kelihatannya sudah lama sekali. Aku lupa beri tahu Geez, kalau selama ini aku belum pernah diantar pulang selain oleh supir metro mini. Mungkin ini akan menjadi pengalaman pertamaku, pengalaman yang sedang ingin aku cegah untuk terjadi bagaimana pun caranya.

Geez memberikan helmnya untuk aku pakai, entahlah untuk sejenak aku tidak tahu helm itu digunakan untuk apa, otakku jadi kesulitan berpikir, “Dipakai, Ann, nanti kita bisa ditilang,” katanya.

Bahkan aku masih tidak percaya akan diantar pulang oleh seorang misterius seperti dia, “Geez, kita mau ke mana?” dan keluarlah pertanyaan bodoh dari mulut seorang Keana Amanda.

Dia tersenyum sambil membantuku memakai helm, “Kamu mau pulang atau mau ditilang?” Untuk kesekian kalinya, apa yang dikeluarkan dari mulutnya selalu saja tidak nyambung dengan apa yang aku ucapkan sebelumnya.

“Mau pulang..”

Akhirnya helmnya terpasang pas di kepalaku, “Nah, kan, aman jadinya. Yuk?”

Sampai helmnya terpasang pun aku masih belum percaya akan pulang dengannya naik motor. Berdua.

“Nanti kalau jatuh?” Tanpa menjawab apa-apa dia hanya menuntunku untuk naik.

Di tengah jalan ketika berhenti di sebuah lampu merah persimpangan jalan dia mengambil tanganku, “Kalau pegangan, kamu tidak perlu takut jatuh.”

 Ketika tangannya menyentuh tanganku, ada sesuatu terjadi. Bumi seperti berhenti berotasi, tata surya berhamburan. Aku bahkan tidak dapat mendeskripsikan seperti apa rasanya. Rasanya berbeda, aneh sekali. Setelah tiga puluh menit tersingkat itu, kami sampai di rumahku. Aku berusaha untuk menghilangkan senyuman yang daritadi menempel, aku tidak mau sampai dia berpikir macam-macam. Setelah turun dan mengembalikan helmnya, “Makasih ya kak, jadi ngerepotin, deh. Rumah kakak, kan, jauh dari rumahku.”

Dia menerima helm pemberianku tadi dan menaruhnya di bagasi motor, “Aku yang harusnya bilang makasih, karena kamu sudah mau memberikan waktumu untuk aku gangguin.” Setelah semuanya rapi dan dia tinggal pulang, dia duduk di jok motornya dengan menghadap ke arahku.

“Geez, kamu boleh kok kalau mau masuk, mau minum mungkin?”

“Nggak.”

“Kamu mau apa?”

“Aku nggak mau apa-apa kok, Ann.”

“Tapi kamu harus mau sesuatu karena sudah capek-capek nganterin aku sampai rumah.”

“Ya sudah, kalau kamu maunya aku mau sesuatu.”

“Mau apa?”

“Mau duduk saja di jok motorku, tapi kamu nggak boleh masuk dulu, biar capekku hilang.”

Tidak tahu ada angin apa aku spontan memukul lengannya, “Geez!”

Dia tertawa kecil, “Aduh, sakit tahu, Ann…”

 “Tahu gitu mending aku nggak nawarin aja!”

“Kamu sebentar lagi naik kelas tiga, harus serius belajar nggak boleh baca buku terus.”

“Siap, kapten! Oh iya, aku sampai lupa mau tanya. Kok, kamu nggak bilang aku aneh karena baca buku Lima Sekawan?”

“Aneh? Kenapa harus aneh?”

“Iya aneh, kata teman-temanku aku terlalu kuno karena baca gituan. Geez, dengar ya. Aku ini orangnya aneh beneran. Kamu nggak takut temenan sama aku? Nih ya, ekskul aja aku nggak punya. Temanku di sekolah saja, ya, hanya tujuh itu.”

“Justru yang aneh itu yang membuatku menyukaimu.”

Hening. Setelah ia berkata barusan semuanya berubah hening. Wajahku pasti sudah menyusut, aku berkali-kali menelan ludah, benar-benar kehabisan kosa kata untuk bicara.

“Sudah, ah, aku pulang, mau ngerjain PR. Dadah, peri kecil,” katanya sambil mengelus rambutku.

Tubuhku masih membatu, diam di tempat, masih berpikir keras harus melakukan apa.

“Peri kecil?”

***

Satu, dua, tiga, bahkan lima bulan setelahnya, tak lagi kudengar kabar tentangnya. Aku kira sehari setelah itu dia akan main ke rumahku lagi, atau paling tidak menghubungiku, tapi nomorku saja dia tidak minta. Mungkin salahku dari awal berdoa supaya esok hari dia lenyap dari bumi. Aku mau sekali tidak menyesal sudah berdoa seperti itu tapi tidak bisa, aku menyesal.

Setiap pulang sekolah aku selalu tanya ibu, apakah ada lelaki berseragam putih abu-abu datang ke rumah, tapi jawabannya selalu tidak. Masa iya aku tidak bisa lagi menemuinya? Atau sesuai dengan doaku waktu itu kalau apa yang terjadi tidak perlu dijadikan sebuah perkara serius? Kejadian waktu itu hanya seperti pemeran figuran yang numpang lewat dan tidak memiliki peran penting dalam kehidupanku? 

Tags: No tags

27 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *