3

Geez & Ann — Bab 3

3


BAB 3


“Heh, hari libur itu produktif, bukannya tidur-tiduran,” kata abang.

Tiga minggu setelah pertemuan itu, tidak kujumpai lagi dirinya di depan pagar rumahku seperti ketika terakhir kali ia mengantarku pulang dengan motor balapnya.

“Abang, abang pernah suka seseorang, nggak?”

Dia yang tadinya sudah beranjak ingin keluar dari kamar, berbalik kemudian duduk di dekatku, “Mungkin kedengaran agak cengeng sih, tapi kalau lo mau cerita, abang siap dengerin.”

“Tanda-tandanya orang tertarik sama kita biasanya ditunjukkan lewat apa sih, bang?”

“Setiap orang punya cara yang berbeda untuk nunjukin perasaannya.”

“Kalau abang?”

“Abang langsung bilang mau serius, kalau dia mau diajak serius ya ayo. Tapi kalau mau main-main, ya, abang cari yang lain.”

Simple as that?!

“Kalau dibuat rumit, jadinya begini, nih.”

“Begini gimana?”

“Ya, cuma tidur-tiduran di kamar kayak nggak ada harapan hidup.”

“Ah, sok tahu. Aku punya harapan hidup, kok.

Abang tertawa, “Oh iya ampe lupa gua, nih,” katanya sambil memberiku sebuah amplop. “Tadi pagi ada yang anter.”

Surat?

 

Dear Mr. Gazza Chayadi,

Congratulations, you have been accepted as a student at Berlin University. For re-registration, will be informed immediately.

 

Aku buru-buru menutup suratnya, berusaha menyadarkan diri jika aku tidak sedang bermimpi, jika aku memang sudah bangun. Apakah ini sungguh-sungguh? Apakah Gazza Chayadi adalah orang yang sama dengan Geez dalam surat ini? Tapi kenapa suratnya bisa sampai ke rumahku? Kenapa dia harus ke Berlin? Kenapa rencananya menjadi serius? Kenapa aku jadi terdengar tidak senang menerima berita ini? Aku masih tidak bisa berhenti bertanya-tanya, apa maksudnya?

Aku buru-buru berlari menuju kamar abang yang terdengar berisik sekali dari luar, ia memang senang mendengar musik yang merusak pendengaran seisi rumah, “Abang!”

Ia mematikan musiknya, “Apaan, sih?”

“Tadi yang antar suratnya laki-laki atau perempuan?”

“Laki-laki. Tukang poslah.”

Ah!

Seharian ini aku hanya membaca surat itu berulang kali, aku cermati baik-baik dengan satu pertanyaan yang belum juga terjawab, kenapa suratnya bisa sampai salah alamat begini? Aku duduk di bangku meja belajarku, memandangi surat yang kuletakkan di meja begitu saja. Harusnya tidak perlu sedih karena aku saja tidak sering bertemu dengannya.

***

Dua bulan menuju pengumuman kelulusan. Pagi ini aku berangkat ke sekolah dengan banyak kekhawatiran. Dalam dua bulan lagi, aku harus mnerima kenyataan bahwa akan pisah dengan teman-teman SMP. Lalu…dia.

Aku duduk di bangku koridor, mengeluarkan surat yang kemarin sampai di rumahku pada mereka yang langsung menjerit ketika Natha membacanya.

“Berlin?!” seru mereka berbarengan.

“Kamu yakin ini Geez yang itu?” tanya April.

“Tadinya aku nggak mau yakin, tapi namanya persis sekali. Lagi pula, terakhir bertemu dengannya ia memang sempat bicara soal kuliah ke Berlin,” jelasku.

“Tapi Berlin kan jauh banget, Ke?”

Aku menunduk. Jelas saja aku tahu Berlin jauh. Kalau dekat, mungkin tidak akan jadi masalah. Karena dekat saja aku hanya bertemu dia setahun sekali. Kalau dia di Berlin, mungkin tidak akan pernah ketemu lagi.

“Kamu sudah coba hubungi dia?” tanya Hana pelan berusaha menenangkanku.

“Aku tidak tahu bagaimana caranya menghubungi dia, kan kami tidak sempat bertukar nomor telepon.”

“Hah?!” sahut Thalia terkejut.

“Tapi kalau memang dia niat ingin memberimu kabar, tidak sulit kalau harus ke rumahmu, kan?” giliran Gizka berpendapat.

Bel masuk berbunyi, aku berusaha mengumpulkan niat untuk masuk kelas. Kepalaku hanya fokus pada masalah yang harusnya tidak jadi masalahku sama sekali. Kenapa jadi seperti ini sih. Harusnya masa bodoh mau dia kuliah di Berlin atau bahkan di planet lain. Dia kan bukan siapa-siapaku. BUKAN SIAPA-SIAPA. Coba diketik tebal, BUKAN SIAPA-SIAPA.

***

Sudah jam istirahat makan siang. Tumben sekali Dina tidak makan di kantin. Teman-temanku yang lain juga begitu.Pasti ada yang tidak beres, mereka sedang menyembunyikan sesuatu. Akhirnya aku berjalan menuju kantin dan memesan ayam goreng satu porsi. Baru saja suapan pertama, tiba-tiba seseorang duduk di sebelahku, “Aku pesenin es teh manis setengah gula ya?”

Aku tersedak bukan main, kenapa makhluk asing itu bisa muncul tiba-tiba?

Dia menepuk-nepuk pundakku pelan, “Ya ampun, ya ampun. Aku buat kamu kaget ya?”

“Apa kamu tidak bisa membedakan aku sedang kaget atau tidak? Hobi sekali, sih, memberiku kejutan!”

“Ya… kan, aku Geez.”

“Lalu kalau kamu Geez, bebas untuk ngagetin aku? Gitu?

 Kamu ke sini mau apa?”

“Mau nemenin kamu makan ayam goreng.”

“Makan nih, aku kenyang!” ketusku.

“Ann?”

Kalau suaranya sudah mengeluarkan kalimat itu, pasti suasana hatiku berubah menjadi tidak karuan, “Apa?”

“Kamu pasti kecewa, ya, sama surat yang kemarin datang ke rumah?”

“Jadi itu suratmu beneran? Kenapa bisa sampai ke rumahku? Kenapa tidak kamu saja yang berikan langsung?”

“Karena aku nggak bisa lihat mukamu sedih. Makanya aku putuskan untuk tidak memberikannya langsung ke kamu, biar saja suratnya yang melihat wajahmu bersedih, aku nggak bisa.”

“Kenapa harus beneran di Berlin? Aku kira waktu itu cuma rencana yang tidak kamu seriusin.”

“Aku juga nggak mau jauh-jauh, tapi keputusannya seperti itu, aku bisa apa, Ann?” Dia menunduk. Bukannya harusnya aku yang sedih? Kok, jadi dia yang kelihatannya kecewa dengan keputusan yang ia buat? Aku mau sedih jadi mikir dua kali. Mau marah apa lagi. Untuk apa juga aku marah?

Aku berusaha menahan air mataku sebisa mungkin, aku tidak mau Geez berpikiran macam-macam, “Ya, sudah.”

“Masa secepat itu bilang ya sudahnya? Kamu sudah tidak kenapa-kenapa? Kamu pasti masih kecewa.”

“Sudah deh, mungkin lebih baik pertanyaan itu tidak perlu kamu tanyakan lagi padaku.”

Geez berdiri.“Hari ini pulangnya tidak usah naik metro mini dulu ya, aku tunggu di warung bebek goreng di seberang sekolah. Setuju peri kecil?”

Akhirnya dia kabur keluar sekolah, meninggalkanku dengan wajah yang terus saja tersenyum. Nyebelin. Entah dari mana dia belajar hingga bisa menjadi orang yang sangat penuh kejutan seperti itu? Juga.. entah dari mana ia belajar bisa membuatku senyum-senyum seperti ini.

Dan seperti janjinya tadi, ketika bel pulang sekolah berbunyi, aku bergegas ke depan gerbang sekolah. Kulihat Geez sedang duduk di bangku panjang di depan pos satpam. “Katanya aku harus ke warung bebek goreng?” tanyaku sambil menghampirinya.

“Iya, aku baru sadar kenapa jadi kamu yang harus nyeberang. Yuk!”

 Aku mengikutinya jalan dari belakang, dan tidak lama setelah itu ia berhenti di depan sebuah mobil sedan, “Kok, berhenti? Motornya kamu parkir di mana?”

“Motor?”

“Lah, tadi kamu bilang aku tidak perlu naik metro mini?”

“Iya tapi aku nggak bilang naik motor, kan?”

 “Kalau naik motor nanti kamu kepanasan, aku juga nggak mau lihat kamu ngucek-ngucek mata berkali-kali karena kelilipan debu.”

Ya ampun, semesta, bagaimana bisa perkataannya selalu memunculkan lekukan sabit pada bibirku? Bagaimana mungkin Tuhan menciptakan manusia yang segitunya memperlakukanku dengan baik? Sangat baik, terlalu baik, terlalu istimewa. Aku jadi berpikir kenapa bisa ia memperlakukanku sespesial ini. Ah, mungkin menurutnya ini hal yang biasa, akunya saja yang berlebihan.

Ketika sudah di dalam mobil, kami sempat saling diam. Berkali-kali ia memperhatikanku, berkali-kali pula jantungku berusaha ingin lepas dari tempat melekatnya. Karena suasananya sangat sunyi, aku jadi khawatir detak jantungku bisa kedengaran. Lagian ngapain naik mobil coba! Aku lebih baik kena debu daripada harus menahan jantungku supaya jangan berlari dulu seperti ini. Semesta, tolong buat aku turun dari mobil ini sekarang juga. Bagaimana pun caranya.

“Kok, Ann diam?” tanya Geez.

“Habisnya kamu diam juga. Lagian kenapa nggak naik motor aja, sih? Kalau naik motor, kan, nggak terlalu menegangkan gini.”

“Loh, kamu tegang? Tegang kenapa?”

Oh semesta, aku salah bicara. Kenapa sih aku selalu saja mengeluarkan perkataan bodoh setiap kali sedang sama dia. “Geez, kamu itu hobi banget, ya, muncul tiba-tiba?” tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Kamu ngerasa gitu, ya?”

“Iya lah! Dari pertama kali ketemu kamu semuanya serba dadakan, nggak pernah direncakan sama sekali. Biasanya kalau orang-orang kan pasti janjian dulu kek, apa kek,”

Dia tersenyum, “Ya, kan, aku Geez.”

“Tapi bagiku kamu tetap Gazza Chayadi, seseorang yang buat aku bingung kenapa punya nama bagus tetapi memilih Geez.”

“Kan, kamu sudah tahu artinya apa.”

“Tapi maksudnya enggak.”

“Geez artinya dewa, karena dari kecil aku ingin sekali jadi dewa.”

“Hah? Kamu percaya gitu-gituan?”

 “Aku mau jadi dewa untuk diriku sendiri. Maksudnya itu aku mau mengatur semuanya yang ada dalam hidupku, nggak mau diatur sama orang lain, bahkan sama peri kecil kayak kamu.”

“Ih siapa juga yang mau mengatur hidup seseorang paling penuh kejutan seperti kamu. Lebih baik pergi saja, deh, ke bulan daripada capek-capek harus ngurusin kamu.”

“Pergi saja yang jauh, jauh sekali juga boleh. Agar kamu tahu kalau kamu butuh aku bahkan ketika baru saja keluar dari pintu rumahmu.”

Lalu aku diam seperti bangku taman yang sedang menunggu sekelompok anak kecil mendudukinya. Kok bisa-bisanya dia bicara seperti itu? Tahu darimana kalau aku membutuhkannya? Kenapa dia sok tahu? Kenapa jadi terasa benar seperti itu? Ah, curang!

Aku mengangguk dan dia hanya membalasnya dengan tersenyum kecil, senyuman yang ingin sekali aku masukkan ke dalam saku seragamku. Mari kugambarkan seperti apa senyumannya. Bibirnya kecil, jadi ia lebih sering tersenyum kecil dengan lesung pipi yang malu-malu kucing untuk keluar.

ke mana “Nah, sudah sampai nih,” katanya.

“Ini di mana Geez?”

“Toko lukisan langgananku, kamu mau ikut turun atau di mobil aja? Nggak lama kok.”

“Di mobil aja, deh.”

Akhirnya ia turun sementara aku terus memperhatikannya dari dalam mobil. Sebelum kalian salah kira, toko lukisannya bukan seperti galeri lukisan yang megah dan mewah. Hanya berupa kios yang menjual beberapa lukisan di pinggir jalan. Kulihat Geez menyapa hangat sembari mencium tangan seorang lelaki tua yang sedang duduk mencuci beberapa kuas. Sudah kutebak, lelaki itu pasti pemilik sekaligus pelukisnya. Damai sekali rasanya melihat kehangatan yang ia berikan. Sekarang aku paham kenapa yang mencintainya bukan hanya dari kalangan perempuan di sekolahnya, tetapi rakyat kecil yang sangat bernilai di matanya. Ah, turun ah…

Aku menghampirinya, ia menoleh, “Loh, kok turun? Sebentar lagi aku selesai.”

“Halo, Pak.” Aku mencium tangan lelaki tua itu.

“Siapa ini, Gazza?”

“Aku Keana, Pak.”

“Keana itu anak perempuan yang sering kamu ceritakan bukan, ya? Bapak lupa.” Si bapak justru berbalik tanya pada Geez.

“Iya, Pak. Keana Amanda lengkapnya.”

Ini aku sedang mimpi tidak, ya? Kok Geez ngomong seperti itu mudah sekali! Apa dia tidak berpikir kalau aku bisa senyum-senyum sendiri setelah ini? Aku tidak lagi bicara apa-apa. Hanya mendengarkan si bapak dan Geez yang terus saja mengobrol. Tahu begitu aku di mobil saja deh.

Sekitar dua puluh menit setelah itu, Geez berpamitan dengan si bapak pelukis lalu diikuti denganku. Tapi Geez masuk duluan ke mobil karena si bapak tiba-tiba mengajakku untuk masuk ke dalam kiosnya, katanya ia hendak menunjukkanku sesuatu. Dan ternyata ia mengajakku untuk melihat vas bunga berisi bunga lily yang tampak segar. Aku tahu pasti itu dari Geez.

“Istri dan anak bapak pergi ketika usaha lukisan yang bapak bangun bangkrut. Nak Gazza datang menolong bapak dan dia lah yang membuatkan bapak kios ini. Walaupun kelihatan sederhana, tapi karena kios darinya ini bapak bisa terus bertahan hidup. Makan dari sini, tinggal juga di sini. Kamu adalah perempuan yang beruntung, Keana, jadi jangan kecewakan hatinya, ya?”

Aku hanya mengangguk karena tidak tahu harus merespons pembicaraannya dengan apa. “Ini adalah bunga lily yang selalu ia berikan setiap seminggu sekali, dan katanya ia akan berhenti memberikan bapak bunga lily ketika ia akan mengajak seorang perempuan mengunjungi kios lukisan bapak. Ternyata kamu perempuan itu.”

Ia memberikanku bunga lily yang ada di vas bunga miliknya. Ingin kutolak tetapi dia memaksa. Akhirnya aku kembali ke mobil dengan beberapa ikat bunga lily. Setibanya di dalam mobil Geez sama sekali tidak bertanya kenapa aku membawa bunga lily. Dia lantas menyetir dengan fokus.

ke mana “Geez?”

“Apa, Ann?”

“Bapak di kios tadi hebat ya, aku kagum. Dia hebat bisa membuat karya lukisan sebanyak itu. Aku takut tidak bisa seperti dia. Kira-kira apa, ya, karya yang nanti bisa kubuat ketika beranjak dewasa? Menyanyi tidak bisa apalagi membuat lagu, melukis juga tidak bisa. Aku bisanya buat apa, ya?”

“Ann, sebuah karya tidak harus selalu berasal dari kanvas.”

“Dari nilai matematika? Dari medali emas? Begitu? Itu mah aku juga tahu, tapi kan aku tidak sejenius itu, Geez.”

“Ketulusan hatimu juga termasuk salah satu mahakarya terindah yang pernah kutemui.”

***

Aku menengok ke kaca mobil, “Toko vinyl?”

Geez membuka pintu dan mengajakku untuk masuk ke dalam. “Wehey, Bang Ge!” seru salah satu karyawan toko ketika baru saja kami memasuki area toko.

“Geez?” tanyaku lagi memastikan sebenarnya untuk apa aku ada di sini.

“Kamu duduk, ya,” katanya yang justru menuntunku menuju bangku tunggu. Aku mematuhi apa yang ia suruh. Aku duduk di bangku dekat pintu masuk. Bisa kulihat kalau toko vinylnya sangat unik, aku kira penjual vinyl sudah punah, ternyata masih ada. Geez tahu-tahuan saja tempat seperti ini. Kepalaku tidak bisa berhenti menengok ke sekeliling, maklum sih, ini pertama kalinya aku melihat vinyl sungguhan. Biasanya hanya di film. Jadi tidak apa-apa kalau norak sedikit.

“Sudah nih.”

“Loh, kok sebentar?” tanyaku karena ia pergi memang sebentar sekali.

“Tadi sebelum ke sini, aku sudah pesan dulu supaya kamu nunggunya nggak kelamaan.”

“Aku nggak kenapa-kenapa disuruh menunggu lama, tempatnya keren.”

“Kamu suka?”

“Iya, ini pertama kali aku ke tempat penjual vinyl, kukira cuma ada di dalam film.”

Dia duduk di sebelahku, menatap mataku lalu bicara, “Aku senang melakukan hal yang kamu suka, aku senang bisa membuatmu senang.” Aku cuma diam sembari terus membalas tatapannya itu. Untungnya dia mengerti kalau tidak ada kata-kata yang bisa kukeluarkan lagi. Ia tersenyum dan meraih tanganku, “Yuk?”

“Ke mana lagi?”

Lagi-lagi tidak dijawab. Dia cuma menggandeng tanganku dan mengajakku keluar toko. Sebelum masuk ke mobil, Geez tiba-tiba saja melepas tanganku lalu pergi. Ia mengampiri seorang anak laki-laki yang sedang duduk dengan membawa karung berisi tissue. “Adik jualan tissue, ya?” Geez bertanya dengan suaranya yang sangat lembut. Si anak itu hanya mengangguk dan Geez bertanya lagi, “Berapa satunya?”

“Dua ribuan, Kak.”

“Kakak beli semua boleh?” Anak itu mengangguk kegirangan. Sesegera mungkin ia membungkus semua tissue dagangannya dan ia berikan pada Geez. Setelah Geez membayar, anak itu pergi dengan senyuman lebar yang membuatku ikut tersenyum. Tuhan, kok ada ya manusia yang senangnya berbagi kebahagiaan dengan orang lain?

“Ini untukmu.”

“Untuk apa tisu sebanyak itu?”

“Kamu akan membutuhkan itu, Ann.”

Nada bicaranya sedikit berubah. Ketika mengeluarkan kalimat itu, ada raut kecewa di wajahnya. Ia tidak menatapku ketika bicara itu

“Yuk, nanti kesorean.”

“Mau dibawa ke mana, sih, aku, Geez?” Dan dia tetap diam, berjalan terus ke dalam mobil. Sulit sekali untuk membacanya. Seperti membaca buku tebal dengan bahasa sanskerta.

 Sekembalinya di dalam mobil, aku mulai sedikit kesal, “Kamu, tuh, emang nggak suka jawab pertanyaan orang, ya?”

“Kamu maunya kalau lagi nanya itu dijawab, ya?”

 “Oke, mulai detik ini aku lebih baik nanya saja dalam hati.”

“Kamu mau dengar lagu, nggak?”

“Nggak.”

Dia menyetel sebuah lagu. Lagu yang selalu asing untukku.

There she goes in front of me

Take my life and set me free again

We’ll make a memory out of it

“Sebelum kamu tanya, judulnya Not Today, Ann. Yang nyanyi Imagine Dragons.”

Ish. Siapa juga yang mau tahu judul lagunya. Aku menoleh, dan dia sedang senyum-senyum lalu ikut menoleh ke arahku. Aku membuang pandanganku, menoleh ke arahnya lagi dan dia masih saja memandangiku.

 “It’s gotta get easier, oh easier somehow… Cause i’m falling, i’m falling… Oh easier and easier somehow… Oh i’m calling, i’m calling…” Dia bernyanyi. Dan setiap aku menoleh ke arahnya, pasti dia juga menoleh.

Aku memiringkan tubuhku supaya menghadap ke jendela, kesal karena setiap kali aku marah, Geez justru tersenyum. Setelah itu aku lupa apa yang terjadi, ya ampun, aku tertidur. Kalau ngambek lama-lama memang membuat mata jadi ngantuk. Ketika aku ngambek pun Geez tidak berusaha mengajakku bicara apalagi minta maaf. Dia malah menunjukkan senyuman jahilnya.

Tiba-tiba aku bisa merasakan seseorang mengelus rambutku pelan, “Ann, bangun!”

 “Apa…” kataku setengah sadar.

“Nggak apa-apa, memang jauh, kok.”

“Sejauh apa, sih? Belum sampai juga?ke mana”

“Harus dijawab?”

“Geez kalau kamu nggak jawab berarti kamu sedang culik aku. Aku bisa saja sekarang teriak minta tolong, dan kamu ditangkap karena terbukti menculik anak di bawah umur!”

Ia tersenyum, “Coba teriak. Aku, kan, belum pernah dengar kamu teriak.”

Tidak ada untungnya juga teriak, yang ada Geez semakin senyum-senyum karena berhasil ngerjain aku.

Aku merengut, kulihat dari jendela mobil ternyata di luar sudah gelap, “Duh.. Geez, pulang yuk. Aku pasti dicariin ibu, nih.”

“Tenang Ann, aku sudah izin sama ibumu untuk membawa anaknya ke Bandung,”

Setelah mendengar perkataannya itu, mataku melotot, “Bandung?! Bandung kamu bilang? Ini kita ada di Bandung sekarang?”

Dia tersenyum, “Aku senang mendengar kata kita keluar dari mulutmu, Ann.”

Aku makin cemberut. Kalah. Pasrah. Karena aku jauh dari rumah.“Sudah, sudah. Turun!”

Wajahnya selalu bisa meyakinkan aku kalau semuanya pasti baik-baik saja. Akhirnya aku turun dari mobil, mengikuti langkahnya untuk berbelok ke kiri. Di sana tidak ada apa-apa.

“Geez!”

“Lihat ke atas!”

Oke, aku lihat ke atas.

Oh semesta, benarkah apa yang sedang aku lihat sekarang? Rumah pohon? Bagaimana mungkin dia tahu aku memimpikan sebuah rumah pohon sejak kecil, namun tidak pernah kesampaian karena rumahku tidak muat untuk menampung rumah pohon. Semesta, sebenarnya terbuat dari apa, sih, dia? Kenapa gemar sekali menerbitkan lekukan sabit di bibirku? Ada, ya, orang yang hobinya membuatku bahagia?

Dia berdiri di sampingku yang masih asyik melihat ke atas, “Kamu suka, nggak?”

“Suka.”

“Mau naik?”

Aku tersenyum (kesejuta kalinya) kemudian mulai menaiki tangga. Geez mengikutiku dari bawah, memperhatikan tiap langkahku untuk terus berhati-hati. Setelah anak tangga terakhir, aku masuk ke bagian dalam rumah pohon. Tidak ada apa-apa, hanya sebuah jendela besar yang sepertinya mengarah ke suatu tempat.

“Geez, kok, kosong?”

Kemudian ia menyalakan sebuah lampu-lampu kecil. “Kamu sudah lihat ke jendela belum?”

Benar saja, seorang seperti Geez tidak mungkin memberikan sesuatu yang bukan sesuatu. Ketika aku menoleh ke jendela, banyak sekali kelap kelip lampu rumah-rumah penduduk yang seperti sedang berlomba adu cahaya dengan bintang-bintang di langit.

“Masih kosong nggak, Ann?”

Aku menggelengkan kepala tanpa mengeluarkan kata-kata. Duh, kenapa yang ia berikan selalu jauh dari prediksiku? Dugaanku selalu salah dengan kebenarannya. Kok bisa sih ada orang seperti Geez?

 “Kamu suka?”

Aku menoleh, “Suka, suka sekali. Bagaimana bisa aku tidak suka?”

Ia tersenyum. “Aku lega kamu menyukainya.”

 

Jika saja waktu bisa dipilih-pilih, mungkin saat ini bersamanya adalah momen yang ingin sekali aku beri formalin, supaya bisa diawetkan dan bisa kulihat dan kubawa setiap saat. Ingin sekali hari esok tidak usah ada, aku tidak mau hari ini jadi kenangan, aku ingin kejadian seperti ini bisa terjadi setiap hari. Aku ingin sekali bertanya pada Geez dari mana ia tahu aku memimpikan rumah pohon sejak kecil. Tapi kutunda niatku karena pasti percuma saja. Seperti yang kubilang tadi, aku cuma perlu bertanya dalam hati. Toh, aku juga sudah tahu jawabannya. Karena dia Geez.

“Dari kecil, aku senang sekali dengan sesuatu yang kelap-kelip. Karena tidak pernah melihat kunang-kunang sungguhan. Aku punya lampu-lampu kecil di dalam kamar yang selalu kuanggap sebagai kunang-kunang beneran. Geez mau tahu nggak kenapa aku sebegitu jatuh cintanya sama kunang-kunang?”

“Karena sama-sama mungil kayak kamu?”

“Bukan.”

“Terus kenapa?”

“Karena kunang-kunang itu sempurna, walaupun kecil tapi sinarnya selalu dicemburui hewan lain bahkan sama manusia. Aku ingin punya cahaya seindah itu, cocok nggak ya?”

“Kamu nggak perlu jadi kunang-kunang untuk bisa bersinar, Ann.”

“Tapi, kan, menyenangkan sekali pasti rasanya. Akan ada banyak orang yang iri sama aku.”

“Untukku, kamu sudah indah tanpa perlu punya cahaya yang berkilau. Aku menyukai Ann yang seperti ini saja, tidak usah ditambah-tambah.”

Pipiku pasti memerah seperti cabai yang baru saja dipetik. Aku berusaha berbicara tapi tidak bisa, yang keluar dari mulutku jadi seperti ini, “A….u….e….i….”

Ia tersenyum, “Sudah, tidak usah dijawab juga nggak apa-apa.”

Aku kembali melihat keluar jendela sampai tiba-tiba Geez memanggilku dengan nada yang cukup serius, “Ann?”

 Setelah itu aku menoleh dan melihat wajahnya yang lebih serius dari ucapannya.

“Apa?”

“Besok malam aku take off.”

Rasanya itu seperti baru dijatuhkan dari gedung tinggi, kemudian hancur ketika sampai di aspal. Kepalaku mendadak pusing. Entah kenapa perkataannya bisa menyakitiku sampai seperti ini. Mataku tiba-tiba spontan ingin mengeluarkan air mata tanpa perlu diperintahkan. Tangisku menjadi parah ketika Geez menggenggam tanganku. “Jangan menangis, aku mohon, Ann,” katanya.

Aku melepaskan tangannya, lalu turun ke bawah dan lari sebisa mungkin. Geez mengikutiku dari belakang. Bodohnya, aku marah tanpa melihat kondisi sekitarku terlebih dahulu. Lokasinya seperti berada di tengah hutan yang gelap. Jadi aku segera menghentikan langkahku begitu juga dengan Geez yang persis berada tepat di belakangku, “Ann mau ke mana?” tanyanya.

 

Aku membalikkan tubuhku dan menunduk di hadapannya, “Kalau Geez di Berlin aku sama siapa? Makan es krim sama siapa? Lihat kelap-kelip sama siapa? Kalau nanti di SMA aku cerita sama siapa? Kalau sedang sedih, harus ke mana? Jangan pergi, Geez di sini aja.”

Aku terus bertanya dengan pertanyaan yang sama yang hanya kubolak-balik sambil mengencangkan isakanku. Ia memegang tanganku erat, “Aku pasti pulang.”

“Kalau Geez pergi, aku pasti akan merasa sendirian lagi.”

“I won’t ever let you have a feeling like that, setiap hari akan kukirimkan email sebanyak mungkin supaya kamu bisa tetap merasa dekat denganku.”

Aku melepas genggaman tangannya karena ia tidak mau menuruti permintaanku untuk tetap tinggal, “Aku mau pulang.”

“Ann…”

“Sekarang.”

Hari yang harusnya indah, ditutup dengan keinginanku untuk pulang detik itu juga. Aku ingin menangis sendirian saja di kamar. Karena semakin lama sama dia, semakin berat jika harus melihat keberangkatannya besok malam. Selama perjalanan pulang, kami sama sekali tidak berbicara. Aku menghadap ke kiri jendela, dengan memegang tissue yang tadi dia beli.  Sekarang aku mengerti dengan makna ucapannya sore tadi. Mungkin, tisu diciptakan karena air mata butuh dihapus, tapi bukan untuk dihentikan.

Aku tiba di rumah sekitar pukul tiga dini hari. Aku langsung turun dari mobil dan bergegas masuk rumah. Abang yang menungguku di pagar sempat bertanya ada apa namun aku tidak menjawab, tetapi yang kudengar sepertinya ia berbincang cukup lama dengan Geez di luar. Karena mobilnya baru pergi sekitar pukul empat pagi sebelum subuh.

***

Dia akan pergi, ya, dia akan pergi sebentar lagi. Dan sekarang, sampai pada pukul tujuh malam pun, aku masih diam di kamar seperti orang bodoh. Tidak, tidak. Aku tidak mungkin pergi tanpa menyampaikan salam perpisahan dengannya. Keana, cepat!

Aku buru-buru mencari abang dan memohon padanya supaya mau mengantarku ke bandara, tidak tahu sedang kena virus apa, dia mau secara cuma-cuma.

Selama di perjalanan aku tak henti-hentinya menggigit jariku sampai luka. Berkali-kali meneriaki abang supaya lebih cepat, karena aku tidak mau sampai terlambat. Dan akhirnya dengan piyama kelinci yang membuatku tampak konyol, aku turun dari mobil dan berlari secepat mungkin mencari Geez. Ah! Aku baru ingat kalau aku ini tidak pernah ke bandara sendirian. Harusnya aku bareng abang saja karena pasti dia yang lebih tahu bagaimana cara mencari Geez. Perasaanku tidak karuan, tingkat kecemasanku akan gagal menemuinya menjadi tinggi, aku ketakutan, panik, bisingnya bandara membuatku semakin frustrasi. Aku menyerah. Aku menuju bangku tunggu, menutup wajahku dengan kedua tanganku, lalu menangis sesenggugukan.

“Aku paling tidak suka melihatmu kelelahan, harusnya kamu duduk saja biar aku yang mencarimu.”

“Geez?”

Dia duduk di sampingku, “Aku hampir pulang lagi saking takutnya kamu tidak jadi ke sini.”

“Tahu gitu aku tidak usah datang supaya kamu nggak jadi pergi.”

“Ann.. we’ve talk about this.”

“Maaf ya, harusnya aku tidak perlu marah seperti kemarin.”

Ia tersenyum, “Nanti sepulang dari sini, ada sesuatu yang menunggu Ann di rumah.”

“Apa? Kamu?”

“Ann…”

Kemudian ia mengajakku beli es krim sebelum boarding, ia terus saja menggandeng tanganku. Mungkin takut aku akan hilang. Nyebelinnya adalah semakin lama tangannya menggenggam tanganku, akan semakin sakit jika harus dilepas nanti. “Rasa matcha satu ya, mba, ukuran besar.”

“Tumben, aku boleh makan yang ukuran besar.”

Are you okay, Ann?

As soon as it possible?” Jawabku dengan ragu.

Dia tersenyum mendengar jawabanku, “Di Jogja kamu sama siapa nanti?”

“Eyang. Waktu itu kan aku sudah bilang, kamu lupa.”

“Kamu pasti akan dapat banyak teman di sana. Orang-orang di Jogja terkenal ramah kok.”

Aku menaikkan bahuku, “Mungkin.”

“Belum selesai ngambeknya?”

“Belum.”

“Ayolah, Ann…”

“Harus ya ke Berlin-nya sekarang? Ditunda saja deh, ya? Besok?”

“Ann, lihat aku. Aku nggak akan paksa kamu untuk bisa percaya kalau aku akan pulang. Aku hanya berharap kalau kamu bisa memahami kalimat Geez akan pulang untuk Ann.”

It’s not easy, you know that.

“Tidak usah cepat-cepat pahamnya, pelan-pelan asal nantinya kamu bisa mengerti dan aku yakin pasti bisa.”

Sesudah makan es krim, aku berjalan keluar dengan tangan yang masih dia gandeng dari tadi. Kami pun akhirnya berdiri tepat di dekat pintu masuk, aku mempererat genggaman tangannya. Takut, takut sekali. Semesta, tolong beri sebuah kejadian yang dapat mencengahnya pergi apapun itu. Astaga, aku ingin sekali menangis. 

Panik dalam diriku, resah dalam hati, mendadak lenyap ketika ia memelukku tanpa bicara apa-apa. Lama, lama sekali. Sampai hingga panggilan terakhir dari penerbangan memanggil namanya. Akhirnya dia masuk ke dalam ruangan menuju boarding, aku menyaksikannya pergi dengan hati yang berusaha percaya kalau dia pasti kembali. Jarak itu tidak akan jadi masalah, selama aku percaya Geez akan pulang dan makan es krim lagi denganku. Dan, aku memilih untuk percaya.

***

Sesampai di rumah, aku buru-buru menemui kejutan yang tadi Geez katakan. Ketika masuk kamar, aku melihat vinyl yang ia beli waktu itu beserta alat pemutarnya. Ya ampun… Bagaimana mungkin?!

 

Untuk peri kecil,

Cara menggunakannya ada di buku panduan, kalau kamu bingung minta tolong saja sama Abangmu, ia pasti mengerti. Sudah aku belikan vinyl-vinyl dengan band kesukaanku yang akan menemanimu selama aku di Berlin, dengar saja kalau kamu sedang ingin bicara sama Geez. Di samping buku-bukumu ada juga sebuah buku catatan untuk menceritakan apa saja yang ingin kamu ceritakan jika aku sedang tidak bisa mendengarkan. Anna, aku akan pulang. Aku akan pulang untukmu, untuk menemanimu makan es krim lagi. Jangan pernah bersedih apalagi menangis, karena aku sudah minta tolong sama bintang dan kunang-kunang untuk mengawasimu jika saja ada hujan yang keluar dari matamu. Sampai itu terjadi, akan kututup semua toko es krim di dunia ini. Tunggu ya, Geez pasti pulang.

 

Geez.

Tags: No tags

7 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *