4

Geez & Ann — Bab 4

4


BAB 4

 

Hari ini, tepat dua bulan semenjak Geez pergi, dan hari ini umurku juga genap berumur 16 tahun. Aku sempat memeriksa email pukul 00.00 WIB, dan ada pesan masuk dari Geez di sana. Kubuka, kubaca, tapi tidak kubalas.

 

Selamat berulang tahun peri kecil, kudoakan semua yang terbaik untukmu, tetaplah menjadi gadis periang paling menyenangkan yang pernah kutemui. Jangan berubah jadi orang lain, kamu akan selalu jadi Ann dan akan selalu begitu.

 

Geez.

 

Setelah keberangkatannya dua bulan lalu, dia menepati janjinya untuk terus mengirimkanku email. Kelihatannya memang tidak ada yang salah, mungkin aku-nya saja yang merasa ada yang salah. Tiga tahun mengenalnya, tiga kali bertemu dengannya, kalian merasa ada yang salah tidak, sih? Hanya tiga kali tapi Geez berhasil mengubahmengubah hidupku. Awalnya kukira berubah menjadi indah, tapi semakin hari aku semakin mengerti kalau ternyata ia datang hanya untuk memberiku banyak pertanyaan.

Ada yang bilang rindu itu indah, masa sih? Indah dari mananya? Dari segi sudut pandang sepasang kekasih yang saling mencinta kali ya? Karena rindu tidak akan pernah jadi indah kalau dirasakan seorang diri, tidak akan pernah.

Entahlah, aku cuma lagi berpikir, menunggu Geez itu pilihan atau kebodohan?

***

Pagi ini adalah hari pertamaku masuk SMA. Berita baiknya, aku berhasil masuk ke SMA pilihanku di Yogyakarta, sedangkan teman-temanku yang lain tetap menetap di Jakarta. Satu langkah lagi memasuki gerbang sekolah baru, aku berbisik dalam hati, jangan temukan aku dengan Geez yang lain, semesta, aku mohon.

Realita yang sangat melelahkan, masa orientasi siswa, pengenalan materi, dan penyesuaian diri. Beruntungnya aku dapat kelas IPA, mencapai target awalku untuk jadi dokter. Kesan pertama masuk ke dalam kelas itu ternyata tidak terlalu banyak menarik perhatianku. Bukan berarti aku mencari Geez, tidak akan ada yang bisa menyamakan juga. Aku hanya tidak bisa menemukan sosok tujuh manusia kesayanganku di dalam kelas itu, kecuali seorang perempuan yang cukup menyenangkan, namanya Tari.

“Halo, aku Tari,” sapanya sambil meminta izin untuk duduk di sebelahku, “Boleh duduk di sebelah kamu? Ada orangnya, nggak?”

“Belum ada yang isi, kok. Duduk aja.”

Kami pun berkenalan.Anaknya cantik, mirip Hana, tapi ia lebih tembam. Rambutnya dikuncir dua, pakai behel dan kulitnya putih. “Kamu dari Jakarta ya?” tanyanya.

Tidak butuh waktu lama, kami langsung akrab setelah itu. Membicarakan soal SMP kita masing-masing, soal keluarga, teman-teman, ya… begitu deh. Aku dan Tari duduk di baris ketiga, entah kenapa kami masih merasa asing dengan yang lain. Mungkin memang tidak harus terlalu buru-buru untuk mengenal semuanya, aku butuh beberapa waktu untuk menyesuaikan diri.

“Pacar gimana? Pasti punya dong,” kata Tari menebak-nebak.

Aku hanya menjawabnya sambil tersenyum. Langsung muncul nama Geez di pikiranku. Geez? Apa Geez bisa dibilang sebagai pacar? Ah, tentu saja tidak. Kalau yang namanya pacar, kan didahului dengan pernyataan cinta dari laki-laki, lalu si perempuan akan bilang iya atau tidak. Kalau aku dengan Geez… boro-boro deh, ketemu saja sekali-sekali. “Enggak punya. Kamu?”

“Baru putus, Ke…” jawabnya dengan nada sedih.

Aku tersenyum. “Gini ya, Ta. Kamu sama dia itu, seperti sepasang sepatu. Tapi, si pembuat sepatu lupa kalau kalian berdua ternyata beda ukuran. Sayangnya kalian telanjur dimasukkan ke dalam satu kotak dan dibeli seseorang. Kalian telanjur menjalani sebuah cerita sama-sama, entah itu senang, sedih, beda argumen, lalu baikan lagi, ya pokoknya seperti itu. Sampai akhirnya, sang pemakai sepatu sadar jika ia memakai sepatu yang berbeda, yang membuatnya merasa tidak nyaman. Tentu saja ia tukar, dengan mengambil pasangan sepatumu. Jadi, kenapa harus sedih jika akhirnya kamu akan dapat pasangan dengan ukuran yang sama?”

Tari tersenyum sambil menyimak perkataanku baik-baik, matanya kelihatan berkaca-kaca, lalu memelukku. Aku membalas pelukannya sambil berkata pelan, “Tenang saja, katanya di SMA kamu bisa cari pasangan sepatumu yang hilang.”

***

Setelah dua minggu masuk sekolah baru, aku belum juga merasakan ada perubahan. Sampai pada suatu pagi Tari memberiku sebuah kabar, “Keana, katanya hari ini kita kedatangan siswa baru.”

“Oh, iya?”

Tidak lama setelah ucapan Tari, pak guru masuk dengan seorang anak laki-laki. Postur tubuhnya tidak begitu tinggi, rambutnya keriting, kulitnya sawo matang yang kemudian berdiri di depan kelas, “Nama gue, maaf, maksudnya, nama saya, Raka Adam. Panggil aja Raka.”

Kemudian dia berjalan untuk duduk tepat di depanku. Tari memperhatikannya sambil berbisik padaku, “Mukanya nyebelin ya.” Aku tertawa kecil mendengar Tari, tapi dia benar. Mukanya menunjukkan sekali jika anak baru itu adalah orang yang menyebalkan, angkuh dan pasti pilih-pilih dalam berteman. Entah apa dia sadar kalau sedang aku bicarakan dengan Tari, atau memang dia memiliki indera ke enam, aku tidak tahu, yang jelas tiba-tiba saja ia menengok ke belakang.

Dia menyodorkan tangannya, “Gue Raka.”

 

***

“Pulang yuk, Ke?” Tanya Tari untuk mengajakku pulang bersama. Rumahku dan Tari memang searah, jadi hampir setiap hari kami pulang bareng. Tapi untuk kali ini aku menolak, karena eyang menitip minta dipesankan bunga untuk acara arisan di rumah.

“Yah, maaf ya Ta. Aku harus ke toko bunga nih, eyang minta dipesenin bunga buat acara arisannya minggu depan. Nggak apa-apa, kan?”

“Tapi Ann… kamu yakin bisa sendiri? Kamu tahu tokonya dimana?”

Aku mengangguk mantap.

“Nanti kalau kesasar tanya aja, orang Jogja ramah-ramah kok, Ke.”

Iya, aku tahu orang Jogja ramah-ramah. Geez pernah bilang.

Akhirnya aku berpisah dengan Tari di persimpangan jalan. Kata eyang toko bunganya tidak terlalu jauh dari sekolahku. Makanya, aku memutuskan untuk jalan kaki saja sekalian menghemat ongkos. Supaya uang sisanya bisa kutabung untuk menyusul Geez ke Berlin. Ah! Apa-apaan sih kamu, Keana? Sudah gila, ya.

Setelah jalan kaki setengah jam dan ternyata melelahkan karena aku baru ingat kalau aku membawa ransel yang cukup berat, akhirnya aku tiba di sebuah kios bunga. Aneh, tiba-tiba aku merasa waktu membawaku kembali ke hari itu, hari dimana Geez membawaku ke kios bunga dulu. Kalian masih ingat kan? Bagaimana dia membuat pipiku menjadi sebuah apel yang merah karena ia samakan aku dengan bunga lily?

 “Cari apa, Mbak?”

 “Saya pesan tiga puluh ikat bunga apa saja deh, yang biasanya sering dipakai untuk arisan. Minggu depan saya ambil.”

“Oh, baik, Mbak. Mari saya antar untuk bayar dan ambil notanya.”

Tepat di samping meja kasir, aku melihat banyak sekali bunga lily yang dipajang, “Pak? Ini dijual nggak? Boleh saya beli?”

“Ambil saja, tidak usah bayar.”

“Ah, Bapak bercanda, nih.”

Si bapak langsung membungkuskan tiga petik bunga lily dan memberikannya padaku. “Beberapa waktu lalu pernah ada seorang laki-laki yang mampir ke sini, dia memberikan sejumlah uang dan bilang sama bapak untuk selalu menyediakan bunga lily kalau nanti ada seorang perempuan yang akan mencari bunga itu.”

Geez?

“Siapa, Pak?”

“Waduh, saya ndak sempat nanya namanya, karena si mas kelihatan sedang buru-buru. Hanya–”

“Hanya apa, Pak?” tanyaku benar-benar penasaran.

“Hanya mbak mirip sekali dengan ciri-ciri yang si mas dulu kasih tahu ke saya.”

“Memang dia bilang apa sama bapak? Kasih tahu ciri-ciri apa?”

“Dia bilang, tidak sulit untuk membedakan perempuan itu dengan perempuan yang lain. Pokoknya perempuan itu memiliki senyuman yang akan membuat siapa pun yang melihatnya ikut tersenyum dan merasa tenang, perempuan itu juga memiliki sepasang mata paling indah, katanya saya nggak akan kesulitan menebak dia, matanya adalah cerminan kejujuran paling tulus. Begitu katanya, mbak.”

Iya, itu Geez. Tapi untuk apa dia seniat itu sampai ke sini hanya untuk melakukan itu? Oh iya aku lupa, dia Geez. Tapi kalau memang lelaki itu adalah Geez… entahlah aku mungkin tetap tidak bisa melakukan apa-apa. Dia punya banyak sekali rencana gila sekaligus indah.

 

Dengan membawa tas ransel yang berat dan seikat bunga lily, aku berjalan pulang menuju rumah. Kadang kalau sedang sendirian, kita memang jadi sering memikirkan hal-hal yang jauh. Maksudku, sesuatu yang seharusnya tidak perlu dipikirkan. Seperti…

Mungkin tidak, ya, aku bertemu lagi dengan Geez? Mungkin tidak, ya, tiba-tiba dia mendatangiku lagi seperti tahun-tahun sebelumnya? Tapi kalau pertanyaannya mungkin atau tidak, berarti jawabannya adalah kemungkinan dan bukan kepastian. Ah! Dari semua laki-laki di dunia ini kenapa juga, sih, aku harus menggantungkan diriku padanya? Seseorang yang bahkan tidak jelas kehidupannya apalagi perasaannya! Dia tidak mungkin menghampiriku di Jogja tiba-tiba, memberiku kejutan seperti yang pernah ia lakukan. Kenapa? Karena dia berada ribuan mil dariku. Itu sudah cukup memberi kesimpulan yang logis, bukan?

***

Sesampainya aku di rumah, aku langsung buru-buru membuka laptop. Ya, aku harus mengklarifikasi dengan Geez atas apa yang terjadi di kios bunga tadi.

 

Keana Amanda: Kamu tuh ngapain sih?

Gazza Chayadi: Aku hanya mengucapkanmu selamat ulang tahun, Ann

Keana Amanda: Bukan itu!!!

Gazza Chayadi: Oh… jadi kamu sudah beli bunga lily hari ini?

Keana Amanda: Aku tidak perlu beli, dikasih.

Gazza Chayadi: Kamu marah?

Keana Amanda: Enggak. Aku cuma nggak pernah berhasil mengerti isi pemikiran seorang Gazza Chayadi. Kamu ini sebenarnya mau apa?

Gazza Chayadi: :)

Keana Amanda: Aku mengatakan kalimat itu berharap kamu akan memberiku penjelasan, bukannya malah memberiku simbol tersenyum!

Gazza Chayadi: Kan, kamu sudah tahu apa penjelasannya.

Keana Amanda: Apa? Karena kamu Geez? Apa tidak ada penjelasan yang lebih bermutu dari itu?

Gazza Chayadi: Kejadian di kios bunga adalah hadiah dariku untukmu yang sedang berulang tahun.

Keana Amanda: Lalu? Aku harus bilang terima kasih karena sudah dibuat bingung sama kamu?

Gazza Chayadi: Ann, ke depan rumah sebentar, deh.

Keana Amanda: Ngapain?

Gazza Chayadi: Kayaknya ada tukang antar paket datang.

Keana Amanda: Jangan bercanda, aku sedang tidak ingin main-main.

Gazza Chayadi: Periksa saja sendiri.

Jangan-jangan dia berulah lagi. Aku langsung berlari ke depan rumah dan… benar saja, ada seorang pengantar paket dengan motornya. Ia seperti membawa secarik kertas yang kuduga adalah tanda terima.

“Mas, bisa nggak kalau saya tolak aja?”

Dia kelihatan bingung, “Maksudnya, mbak nggak mau ambil kiriman ini? Jangan mbak, nanti saya dimarahi atasan. Setiap paket harus sampai kepada yang dituju.”

Setelah paketnya berada di kamarku, aku mendengar bunyi email masuk dari laptop.

Gazza Chayadi: Sudah diterima?

Keana Amanda: Tidak boleh dikembalikan sama tukang paketnya.

Gazza Chayadi: Aku harus apa supaya kamu berhenti marah?

Keana Amanda: Pikir saja sendiri!

Gazza Chayadi: Nanti kamu buka paketnya, ya, peri kecil.

Keana Amanda: Kalau aku ada waktu. Sudah dulu aku mau pergi.

Padahal aku tidak mau ke mana-mana, aku hanya benar-benar kesal. Dia selalu membuat sesuatu hal tanpa penjelasan walau aku sudah menanyakannya berkali-kali. Aku memandangi paket darinya, sebuah kotak berukuran sedang yang dibungkus dengan rapi, tidak mau kubuka, gengsi. Malah kuletakkan di bawah tempat tidur, saking kesalnya. Pokoknya aku mau buka hadiah itu sama dia!

***

Saat istirahat, tiba-tiba Raka menghampiriku yang sedang makan siang di kelas. “Nanti pulang sekolah temenin gue, ya.”

Hampir tersedak aku berusaha menjawabnya, “Hah?”

Tapi, dia tidak menjawab, hanya membalikkan tubuhnya ke depan. Aku kira dia hanya bercanda, tapi ternyata dia sungguh-sungguh. Sepulang sekolah ketika aku dan Tari berjalan keluar ingin pulang, ia mendatangiku dengan sepedanya, “Ayo, naik.”

Aku memandang ke Tari. Dia hanya mengangkat bahu tidak mengerti. Dengan pasrah, aku diboncengi dengan sepeda untuk pertama kalinya oleh seorang makhluk asing.Tak disangka Raka mengajakku ke kios bunga yang kemarin.ke mana

Aku sempat bertengkar dengan Raka di tengah jalan yang berbuntut Raka menyuruhku jalan kaki menyusulnya. Apa-apaan dia? Laki-laki macam apa, sih orang ini? Aku sampai di depan kios bunga dengan tubuh penuh peluh. Raka yang lebih dulu sampai dan memarkir sepedanya di depan kios malah sedang enaknya duduk sambal meminum air mineral dingin. Rasanya panas hari itu mempercepat kemarahanku mendidih. Kalau bukan untuk menghormati pemilik kios bunga, pasti sudah kutonjok mukanya.

“Loh… si mbak yang kemarin?” sapa si bapak pemilik kios.

“Hehe, pak,” balasku sambil nyengir. Cuma bisa bicara itu karena aku benar-benar lelah sekali. Si aneh itu berani-beraninya menyahut secara tiba-tiba, “Pak ini temen saya yang tadi saya ceritakan.”

“Cerita apa kamu?” Aku tidak bisa berhenti bernada ketus ketika sedang menghadapinya.  Melihat mukanya saja bisa membuatku darah tinggi. Kenapa di kota menyenangkan ini, aku harus bertemu dengan alien dari planet lain yang tidak punya sopan-santun sama sekali?!

“Tadi si mas cerita, mbak ini pintar sekali memilih bunga, makanya dia minta ditemani mbak untuk mencari bunga.”

“Enak banget, ya, dia minta ditemenin! Teman juga bukan!”

Si bapak jadi ikut bingung, “Nyuwun sewu, mbak?”

 “Saya mau beli bunga yang kemarin si culun ini beli, Pak.”

“Oh iya, tunggu sebentar.”

Aku heran, makhluk ini tahu dari mana kalau aku habis beli bunga? Tapi aku sengaja diam, tidak bertanya, daripada aku jadi semakin emosi lebih baik memang diam.

“Nah, ini mas,” kata si bapak sambil memberikannya bunga lily.

Setelah ia bayar, kami pulang. Tapi ia tidak menaiki sepedanya, ia tuntun sambil berjalan persis di sebelahku. Lagi-lagi aku diam, aku mau tahu saja apa yang ingin dia lakukan sebenarnya.

 “Eh culun, lo nggak kepengen tahu apa ini bunga buat siapa?”

“Paling buat pacar.”

 “Kenapa ya cewek seneng banget dikasih bunga? Apa gunanya?”

“Kamu mau dengar filosofinya?”

“Filosofinya?”

“Bunga-bunga yang kamu lihat di kios tadi, sebenarnya tidak pernah ingin laku terjual. Ia ingin berada di kios itu sampai layu, sampai mati pun tidak apa-apa. Yang penting ia tetap bersama si bapak penjual bunga, yang merawatnya setiap hari, menyiraminya, yang menggantungkan hidupnya hanya untuk menunggu si bunga sampai layu.”

“Lalu apa persamaannya dengan cewek?”

“Mereka sama-sama tidak mau asal laku jadi milik orang lain yang tidak mau menyayanginya, yang hanya menjadikannya sebuah pajangan di ruang tamu, lalu dibuang ketika sudah layu.”

“Gue nggak ngerti,”

“Aku mengerti kalau kamu tidak mengerti.”

“Hah?”

“Fungsi nurani yang berada di otakmu tidak pernah digunakan dengan baik, makanya ketika membahas suatu tentang perasaan kamu tidak bisa mengerti.”

Aku tersenyum, “Aku pulang ke kanan, duluan ya.”

Tiba-tiba ia menghadangku untuk tidak pulang, “Temenin gue main basket dulu dong.”

 “Nggak, ah.”

“Nggak mau ikut ekskul basket?”

“Nggak, aku mau ikut fotografi.”

“Itu ekskul anak cupu.”

“Aku, kan, memang anak cupu. Lagipula bagiku fotografi itu bukan ekskul, tetapi pekerjaan menguntungkan.”

“Menguntungkan?” Ia kelihatan bingung sekaligus penasaran.

“Iya, karena tanpa sengaja aku sudah mengabadikan banyak hal yang kadang tidak sempat disimpan di dalam otak. Udah, ya. Bye!”

***

Sesampainya di rumah, seperti biasa aku langsung membuka laptop. Baru ingat, email terakhirku dengan Geez, aku sedang ngambek. Walaupun sekarang masih sedikit kesal, tetap saja aku tidak sabar membuka email darinya.

Gazza Chayadi: Ya sudah, hati-hati kalau kamu ingin pergi

Gazza Chayadi: Ann, aku mohon kalau sempat berikan waktumu untuk membuka paket yang kuberikan

Gazza Chayadi: Aku tidak bisa mengabarimu untuk beberapa saat, ada suatu hal yang akan membuatku tidak bisa membalas email-mu beberapa hari ke depan

Gazza Chayadi: Pasti kamu menangis ketika membaca ini, tapi tenang saja, aku sudah minta abangmu untuk menyediakan tissue di meja belajarmu.

Gazza Chayadi: :)

Gazza Chayadi: Pasti sekarang hatimu bertanya-tanya, “Kenapa Geez?”

Gazza Chayadi: Alasannya tidak penting, Ann. Yang paling penting sekarang kamu harus serius sekolah supaya bisa mengejar cita-citamu. Aku akan selalu mendukungmu apa pun itu, karena aku tahu kamu yang terbaik dan kamu tahu yang terbaik untuk dirimu sendiri

Gazza Chayadi: Berjanjilah untuk tetap bahagia, aku janji aku akan baik-baik saja.

Tubuhku mendadak kaku, aku merasakan sesuatu yang tidak aku tahu apa namanya, sesuatu yang pedih, menyakitkan.

Aku hanya berusaha mencegah tubuhku untuk jatuh, meyakinkan diriku jika semuanya akan kembali seperti sedia kala. Tapi tidak bisa, kali ini hati dan otakku sedang tidak bisa diajak bekerja sama.

Sunyiku berganti menjadi langkah yang terburu-buru, aku harus pergi, meninggalkan realita yang kian berusaha membuatku hangus dibakar berita pedih. Aku tidak tahu mau ke mana, tidak tahu harus ke mana, tidak tahu mau apa, yang jelas aku ingin saja melangkah pergi.

Tapi sebelum tenagaku habis, aku sampai di Kalibiru. Setibanya di sana aku justru banyak berpikir kenapa aku bisa datang ke tempat itu. Tidak afdal rasanya kalau tidak naik ke atas puncak, melihat keindahan karya Tuhan yang mungkin bisa menenangkanku sekarang. Dari atas sini, aku bisa melihat Bukit Menoreh dan Waduk Sermo, juga terlihat dari kejauhan derasnya ombak Pantai Selatan. Ah, sempurna sekali untuk menemaniku diriku yang sedang setengah hancur ini.

Aku tahu tempat ini bukan dari ibu, bulik, atau siapa saja, tetapi dari Geez. Dia pernah bilang waktu itu, “

“Kalibiru.”

 “Di sana ada sebuah pohon tinggi yang bisa kamu naiki seperti rumah pohon, pemandangan yang kamu lihat juga lebih indah dari yang kupunya, Kalau kamu sedang sedih, pergilah ke sana. Pemandangannya bisa membuat hatimu merasa lebih baik.”

Ya, ampun, pantas saja sekarang aku bisa ke sini. Geez adalah alasan kakiku bisa melangkah ke tempat yang tidak pernah kuduga. Intuisi yang kupunya menuntunku hingga sampai di sini, kata-kata Geez berhasil melekat permanen dalam otakku.

Aku menangis.

Kalibiru, sampaikan salam rinduku padanya. Sebarkan pesan rindu lewat angin yang menyusuri ombak deras, alirkan hingga ia bisa merasakannya, hingga ia tahu kalau aku marah akan pesan terakhirnya di email.

Setelah itu aku teriak, sekuat yang kubisa, berharap suaraku sampai di telinganya.

“SEMESTA, AKU RINDU GEEZ.”

***

Tags: No tags

4 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *