5

Geez & Ann — Bab 5

5

 

BAB 5

 

Untuk Geez dan selalu untuk Geez

Satu tahun sudah kamu pergi, sepuluh bulan sudah tidak lagi kulihat email-mu masuk ke dalam kotak inbox. Sedang apa kamu? Bagaimana Berlin? Sudah kepikiran untuk pulang belum? Kamu mau tahu sesuatu tidak? Aku tidak bisa melewatkan satu hari saja untuk tidak membeli bunga lily, karena hanya itu yang dapat mengobati rasa rinduku. Iya, Geez, aku merindukanmu.

Setahun ini kuhabiskan waktu dengan banyak pertanyaan yang pasti sudah kamu tahu apa itu. Duh Geez… kenapa sih kamu harus menghilang? Apa karena aku nakal jadi kamu menghukumku dengan cara seperti itu? Tapi nakal kenapa? Aku melakukan apa sampai kamu tega menghilang dari bumi? Mana janjimu untuk tidak akan membuatku merasa sendirian? Bumi terasa kosong sekali, Jogja yang tadinya indah menjadi biasa saja.

Ada banyaaaaak sekali hal yang ingin aku ceritakan padamu, tentang Tari sahabatku di SMA, juga Raka si laki-laki alien yang selalu buat tekanan darahku jadi tinggi. Aku benci sekali dengan Raka. Dia benar-benar tidak punya sopan santun, dia memperlakukanku seenaknya. Aku ingin ceritakan semuanya, Geez, munculah sebentar.

Aku belum bisa membuktikan perkataanmu kalau SMA adalah masa-masa paling indah dalam hidup seseorang. Entahlah Geez, aku hanya ingin mendapatkan jawaban atas kebingunganku setahun ini. Itu saja.

Sekarang aku mengerti bahkan sangat mengerti kenapa kamu memilih nama Geez sebagai identitasmu untuk dikenal oleh dunia, itu karena kamu memang seperti dewa yang tidak bisa diganggu gugat kemauannya, dewa yang mengatur kehidupannya sendiri dan tidak mau ada satu orang pun yang boleh ikut campur, termasuk aku.

Dulu ketika pertama kali kamu beri tahu makna sebuah nama “Geez”, mungkin belum terlalu jadi masalah untukku. Bahkan aku sangat tidak mau ikut campur dengan kehidupanmu, aku tidak mau mengurusi hidup orang seperti kamu. Tidak tahu ya, aku jadi sedikit menyesal pernah bicara seperti itu. Aku hanya ingin kamu sedikit mengerti kalau aku tidak ingin masuk ke dalam rencanamu. Aku tidak mau diatur untuk menunggu, untuk tiba-tiba bahagia, lalu sedih lagi. Tidak.

Oh iya, coretan tidak penting ini aku tulis di buku yang kamu berikan waktu itu, waktu aku ulang tahun, buku yang aku gunakan kalau kamu sedang tidak bisa dengar ceritaku. Sudah dulu ya Geez, aku mau berangkat sekolah dulu. Aku tahu kalau sebenarnya aku hanya sedang membuang waktuku sepuluh menit karena menulis surat yang tidak tahu akan kamu baca atau tidak.

Dari peri kecilmu,

Ann.

 “Pagi Keana.”

“Oh hei, Ta.”

Sambil melepas tas dan duduk, Tari memperhatikan wajahku, “Kamu baik kan, Ke?”

“Sedang berusaha baik.”

“Ya ampun… Geez? Kamu masih mikirin dia? Sudah hampir setahun dan kondisi perasaannmu masih sama?”

“Tidak kelihatan semudah itu, Ta. Aku sudah berusaha melupakan banyak momen tapi semakin kesini semakin terasa mustahil untuk dilupakan.”

“Kalau mustahil berarti kamu tidak berusaha apa-apa.”

“Aku berusaha.”

“Tapi hatimu tidak pernah ikhlas untuk berusaha melupakan dia. Iya, kan?”

Aku menunduk, membenarkan perkataan Tari barusan. Di satu sisi aku merasa harus melupakan manusia misterius itu, tapi ada sisi lain yang bilang untuk apa melupakannya? Memang sudah pasti dia akan lenyap? Masih ada kemungkinan dia akan kembali, bukan?

***

Seperti biasa, sepulang sekolah aku pergi ke kios bunga untuk membeli bunga lily, aktivitas yang sudah kulakukan hampir setahun ini.

  Lalu, ketika bunga lily itu ada di tanganku, aku diam, memfokuskan pikiranku pada satu pertanyaan. Untuk apa, ya, ini? Tapi kalau bukan dari bunga lily, dari mana lagi aku bisa merasa dekat dengan Geez? Kalau tidak membeli bunga lily, lalu aku harus melakukan apa lagi? Memandangi layar laptop, berharap ada pesan masuk darinya? Kan, tidak mungkin.

Aku meninggalkan kios bunga dan pulang ke rumah, mengambil sepeda kemudian pergi ke Kalibiru dengan tiga petik bunga lily yang masih segar.

Tempat ini memang jadi tempat terbaikku untuk menangis, untuk bisa menjadi diriku sendiri, untuk meluapkan apa saja yang ingin aku keluarkan tanpa takut dilihat orang banyak, termasuk Geez.

Aku naik ke atas puncak, menarik napasnapasku dan membuangnya pelan-pelan. Aku hanya merasa sudah kehilangan diriku yang dulu, Keana Amanda yang periang kini sudah dikubur oleh pengharapan bodoh.

Aku teriak dan terus teriak sekuat yang kubisa, “AAAAAAAAAA!!!!!”

Seram! Tiba-tiba ada seseorang yang menutup mulutku dengan tangannya, seperti adegan penculikan anak kecil yang sering aku tonton di televisi. Tentu saja aku berusaha untuk teriak minta tolong walaupun tidak akan kedengaran, “TOLONG!”

Si penculik melepas tangannya dari mulutku, “Ish, siapa juga yang mau nyulik lo.”

“Raka?”

Kenapa jadi ada dia? Siapa yang mengundang alien di acara menyedihkan ini? Kenapa harus dia yang melihat mataku sedang berhujan? Ih, tidak sudi! Setelah membuatku merasa ingin diculik, ia duduk tanpa merasa punya salah apa-apa.

“Ngapain kamu di sini?” pertanyaan yang sangat harus aku tanyakan.

“Bebas lah, emangnya ada tulisan Raka dilarang masuk?”

“Ya nggak ada sih, tapi kan…”

“Nah ya udah, nggak usah pake acara nambah-nambah argumen lo yang nggak penting.”

“Nggak penting?!”

“Iya, nggak penting. Semua yang berhubungan sama lo, tuh, nggak penting.”

“Hah?!” Aku benar-benar kelewat kesal mendengar perkataannya. Apa mulutnya tidak bisa mengeluarkan kalimat yang lebih sopan dari itu?!

“Mana ada manusia di bumi ini yang setiap hari kerjaannya beli bunga yang sama? Nggak normal tau gak lo.”

“Hah?” nada kesalku berubah jadi pelan mendengar perkataannya.

 “Lo jadi aneh begini karena lo lagi jatuh cinta sama seseorang, kan?”

 “Ah, sok tahu!”

 “Tanya aja sama Kalibiru, siapa yang lebih dulu ke sini.”

“Jadi kamu sering ke sini?”

“Udah deh, denger ya culun, nggak ada gunanya lo kayak gitu. Beli bunga setiap hari, meratapi hidup lo yang makin hari makin ikutan aneh kayak orangnya.”Aku terdiam, memandangi wajahnya yang menyebalkan. Bagaimana mungkin orang yang paling aku benci itu bisa mengeluarkan kalimat yang sangat menamparku. Aku bergumam pelan, “Enak ya jadi laki-laki, bisa membuat keputusan seenaknya, bisa menyatakan apa saja yang ingin dikatakan.”

“Nggak juga,”

“Nggak juga?”

“Namanya Sarah, gue suka dia tapi gue nggak pernah berani ngomong.”

“Karena?”

“Karena gue nggak berani buat keputusan,”

“Karena?”

“Karena dia terlalu sulit ditempuh, Keana, dia cantik, banyak banget yang suka sama dia.”

“Lalu?”

“Ya mana mungkin dia suka sama orang kayak gue?”

“Iya juga, ya.”

“Eh, ngomong sembarangan!”

ke mana***

“Ta, temenin ke Malioboro, yuk,” ajakku sambil merapikan buku. Bel pulang sekolah belum lama berbunyi.

“Kenapa? Kamu mau cari sesuatu?”

“Cari objek buat difoto, mau?”

“Ah males ah, aku kira kamu mau belanja. Panas tau, Ke, nggak deh aku pulang aja.”

Akhirnya aku pergi duluan meninggalkan Tari yang masih menunggu sang pujaan hati, menunggu becak yang tumben sekali lama datangnya.

“Ayo, naik.”

Dia muncul, aku tidak sanggup lagi untuk heran, dia benar-benar sedang aneh sekali hari ini, “Raka, udah deh.”

“Gua bisa bantu lo cari objek foto!!”

Daripada berdebat dan aku memang sedang ada deadline di ekskul fotografi, aku duduk di bangku belakang sepedanya. Yogyakarta sedang panas sekali hari ini.

Ternyata omongannya sungguhan, ia tahu di mana sudut terbaik untuk mengambil foto di Malioboro. Aku kira dia cuma mengada-ada, seakan membaca pikiranku dia menyaut, “Bener, kan bagus. Gue nggak pernah bohong!”

“Iya, iya. Maaf deh, habis mukamu penuh kebohongan,” kataku sambil menahan ketawa.

“Astaga, segitunya apa?”

Aku tidak menjawabnya, hanya melanjutkan mengambil foto kesana kemari. Malioboro termasuk salah satu tempat yang menurutku tidak pernah sepi, selalu bising akan suara pedagang yang tidak berhenti menjualkan dagangannya. Tapi lensa kameraku tiba-tiba mengarah pada sebuah cinderamata yang membuat Malioboro sekejap menjadi terasa sunyi, seakan hanya ada aku di sana, tidak kudengar suara apapun kecuali degup jantungku yang entah kenapa tiba-tiba menjadi bergerak kencang. Aku meletakkan kameraku ke dalam tas, berjalan cepat menuju penjual cinderamata yang menarik perhatianku daritadi.

“Brandenburg Gate,” gumamku pelan.

Aku tersenyum kecil, “Yang ini saja satu, pak.”

 “Sepuluh ribu saja deh, saya diskon lima ribu untuk si mbak yang ayu.”

Setelah membayar aku pergi duduk di sebuah trotoar depan toko yang sudah tutup, meletakkan miniatur Brandenburg Gate persis di depan mataku. Menghela napas pelan, seketika wajahnya muncul lagi dibenakku.

Di tengah kerumunan seramai ini saja, masih kudengar suara tawamu yang muncul pada ingatan. Sudut kota Jogja selalu menyediakan tempat untukmu, dan anehnya aku selalu menemukan hal kecil itu. Geez, bagaimana caranya menghapus semua ini? Bagaimana bersikap biasa saja menghadapi kerinduan yang selalu membengkak di setiap harinya?

“Hoi!”

“Ah, ngagetin aja sih!”

“Keana, Keana.”

Raka duduk di sebelahku. “Sesuatu yang cuma buat lo sakit, berarti harus disembuhin, dan sebenernya cuma lo yang tahu gimana caranya.”

“Gimana?”

“Ikhlas. Berusahalah merelakan sesuatu yang lo pasti tahu emang harus direlakan.”

“Tapi kalau dia balik lagi? Gimana kalau dia cuma pergi sebentar?”

“Setahun masih hitungan sebentar? Ke, coba deh, pikir lagi baik-baik. Menyelamatkan pengharapan setahun kemarin atau menghidupkan harapan yang baru dengan hari besok?”

Aku kembali memperhatikan miniatur Brandenburg Gate baik-baik, aku tidak bisa membedakan mana hal yang normal mana yang tidak.

“Raka, tapi…”

“Mau sampe kapan jawabannya selalu tapi? Gue yang ngeliat aja capek, apa lo nggak capek? Nungguin sesuatu yang nggak tahu masih ada atau nggak?”

“Pulang, yuk,” kataku sambil berbalik badan.

***

Raka mengantarku pulang dengan sepedanya. Setiba di rumah, aku turun dan masuk ke dalam tanpa bicara apa-apa padanya. Masuk ke dalam rumah lalu menuju kamarku. Aku duduk di bangku meja belajar. Membuka laptop, memerika pesan masuk tapi tidak ada. Kali ini aku akan coba untuk bicara dengannya, tidak peduli dibalas atau tidak, dibaca atau tidak.

Keana Amanda: Aku mulai membenci bunga lily.

Keana Amanda: I buy them everyday after school. I’m getting more friendly with the florist and he never gives me a disappointed flowers.

Keana Amanda: I know, i know it doesn’t look like there’s something wrong.

Keana Amanda: But there was a day, when i sit and stared at those lily, and suddenly i hate them. I hate every single time when they start to be withered, then died, then i have to throw them out, and then i realize that it’s time to buy new flowers again.

Keana Amanda: You know, i hate them. But i hate myself more.

Keana Amanda: Can you imagine how does it feel? Doing the same thing in almost one year, without know the reason why i still keep doing that.

Keana Amanda: It’s disgusting.

Keana Amanda: Everything makes me sick, Geez.

“Keana, ada telepon dari si mas,” seru eyang dari dapur.

“Iya, eyang sudah aku sambungkan ke telepon kamar,”

Tumben sekali dia telepon, pasti ada maunya, “Halo?”

“Halo adek abang paling jelek,”

“Pasti abang lagi mau sesuatu.”

“Ih dasar bocah, orang gua beneran kangen sama adek sendiri emang nggak boleh apa?”

“Ah, biasanya abang telepon juga kalau ada maunya.”

“Eh, Gazza gimana Gazza?”

Ih! Ngapain sih dia ngomongin nama itu, “Tahu deh.” Aku berusaha tidak peduli. Mengeluarkan nada suara yang sedikit kesal.

“Apa kabar dia? Terakhir kali dia bilang sama gue suruh ingetin lo untuk jangan lupa makan, jangan suka main ujan-ujanan, karena dia paling nggak mau denger lo sakit.”

Mataku membelalak. Dia kasih tahu abang tapi dia gak ngomong apa-apa sama aku?! “Biarin aja sakit. Udah sakit juga.”

“Dia sering banget nyuruh gue ngingetin lo soal itu, tapi gue-nya aja yang lupa melulu.”

“Kenapa nggak dia aja coba yang langsung ngomong ke aku?”

“Ya lu kayak nggak tahu aja dia orangnya gimana. Tapi, lu masih in contact sama dia kan?”

“Nggak.”

“Serius? Masa sih? Lo udah coba buka kado dari dia belom?”

“Nggak mau buka.”

“Lu jadi keras kepala nurunin siapa, sih?”

Aku lantas diam, tidak menjawab pertanyaan abang yang membuat otakku yang tadinya ingin tidur jadi harus bekerja lembur. Aku menengok ke bawah tempat tidur, aku sengaja meletakkan kado yang diberikan Geez di sana supaya aku tidak perlu melihatnya setiap hari dan jadi ingin membukanya, dan kotak kadonya masih diam dengan rapi walaupun sudah mulai berdebu.

“Pokoknya, aku mau buka kadonya sama Geez!” bentakku sambil menutup teleponnya.

Eyang kemudian menghampiriku yang kelihatan sedang sangat emosi, “Ono opo to, ndok?”

“Nggak ada apa-apa eyang, tadi si mas biasa godain aku.”

***

Semenjak hari itu, hubunganku dengan Raka menjadi lebih baik. Ternyata dia harus lebih dikenal dulu untuk tahu kalau dia tidak semenyebalkan yang kubayangkan. Ia membantuku untuk menghidupkan lagi hati yang tengah sekarat, dari mulai pergi mencari tempat-tempat menarik di Jogja yang belum aku tahu sebelumnya, melakukan hal-hal gila yang menyenangkan. Pokoknya dia mengajakku masuk kedalam kehidupannya yang abstrak, tetapi keren! Seru! Raka berhasil mewarnai kanvas kosong yang pernah Geez tinggalkan, hari-hariku tidak lagi gelap walaupun kesedihan tetap muncul setiap kali ingat dengannya.

Aku dibonceng di sepedanya lagi. Dengan seragam yang masih menempel, aku dan Raka pergi menuju alun-alun. Kita memang tidak boleh terlalu membenci seseorang. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.

“Bu, dua ya.” Ia bicara dengan penjual wedang ronde langganannya.

“Ih, aku teh panas aja,” kataku mencegahnya untuk langsung mesan.

“Bu ya udah, teh panas satu sama kopi hitamnya satu.”

“Loh, kamu nggak jadi minum wedang?”

Angin Jogja sedang dingin sekali malam ini. Entah sedang apa dia di negeri itu, memikirkanku kah? Tentu tidak jawabannya, mungkin ia sedang bersama peri kecilnya yang lain. Apa dia tahu apa yang kurasakan sekarang? Kerinduan yang menyakitkan ini butuh disembuhkan sesegera mungkin, tapi dia tidak memahami itu. Geez, aku hanya ingin kamu mengerti kalau aku tidak menyukai semua ini.

Lamunan menyedihkan ini dihentikan oleh aroma sesuatu yang sangat…. ah aku tidak bisa mendeskripsikannya.

Si ibu wedang ronde datang dengan pesananku dan Raka, “Iki mas, monggo.”

Matur nuwun, Bu.”

“Raka itu apa?”

“Ini? Kopi lah,”

“Pahit ya?”

“Kenapa? Takut?”

 “Kita bisa mendapatkan banyak pelajaran dari secangkir kopi, Keana. Di dunia yang kejam ini, sebenarnya kita hanya perlu sedikit kepahitan untuk dinikmati. Walaupun tidak semanis teh panasmu, tetapi dia sudah jujur dari awal. Dia tidak mau dibilang kopi manis kalau akhirnya akan terasa pahit, lebih baik dari awal sudah ketahuan pahit tapi akhirnya bisa dinikmati dengan sempurna. Daripada teh panasmu yang dipesan manis ternyata rasanya tawar?”

Aku mengecap kopi yang disodorkan Raka. Indra perasaku langsung terkejut. Ada rasa yang aneh yang belum terdefinisikan oleh lidahku. Pahit sekali. Tapi berbeda.

“Hmm…” aku cuma bisa bergumam untuk menyembunyikan kekagumanku akan kalimatnya yang baru keluar barusan.

“YA AMPUN, KEANA!”

Tiba-tiba dia memelukku, mataku membelalak, bingung, tidak tahu harus apa.

Dia hanya berbisik pelan, “Bagaimana bisa gua lupa? Selamat ulang tahun, Keana. Tetaplah jadi musuh sejati Raka satu-satunya, jangan berhenti benci gua supaya gua selalu punya waktu untuk buat lo kesel. Happy birthday.”

Tags: No tags

One Response

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *