1

Kata — Bab 1

1


BAB 1 – DI AMBANG PINTU


“Ma, Binta berangkat dulu ya.”

Binta Dineshcara. Perempuan biasa yang kuliah di jurusan komunikasi semester tiga. Hidup berdua dengan sang mama yang mengidap penyakit skizofrenia. Itulah kenapa ayahnya pergi, meninggalkan mereka menjadi keluarga yang rapuh. Jadi sudah bisa disimpulkan bahwa tidak ada banyak bahagia dalam hidupnya. Skizofrenia adalah penyakit kejiwaan yang membuat si penderita tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang ada di dalam pikirannya. Penderita skizofrenia mengalami delusi, halusinasi, banyak diam dan melamun, dan juga sering bicara aneh. 

“Kalau mau apa-apa, Mama bilang aja sama Bi Suti. Binta berangkat ya, Ma?”

Tidak pernah jadi hal yang mudah untuk Binta meninggalkan satu-satunya harta dalam hidupnya itu. Berkali-kali ia berpikir untuk berhenti kuliah, tapi itu tidak mungkin. Binta harus bisa membanggakan perempuan yang bahkan tidak pernah menanggapi ucapannya itu.

Cahyo, sahabat satu-satunya Binta, sudah parkir di depan rumahnya untuk menjemput. Hanya Cahyo yang mengetahui kondisi Binta, karena di depan banyak orang, Binta memilih untuk dikenal sebagai mahasiswi yang paling tidak bisa diajak berkomunikasi dengan baik. Semuanya heran kenapa Cahyo sanggup berteman dengannya, mungkin karena ia mampu mengerti Binta sebagaimana keadaannya, tanpa memintanya untuk berubah. 

Binta keluar rumah, meninggalkan kekhawatirannya di ambang pintu rumahnya. Ia berjalan sambil tersenyum walau Cahyo mengerti hal itu sama sekali tidak perlu dilakukan.

“Udah, Ta?”
“Lo udah sarapan belom? Sarapan nasi uduk depan kampus dulu, yuk.” sahut Binta.
“Siap, boss!”

Hampir setiap hari mereka sarapan nasi uduk sebelum masuk kelas. Ibu paruh baya penjual nasi uduknya sudah seperti ibu kedua Binta karena Binta lebih sering cerita dengan beliau ketimbang dengan ibunya sendiri. 

Dua tahun berteman dengan Binta, Cahyo tidak pernah banyak bertanya tentang keadaan mamanya. Baginya, itu tidak perlu. Cahyo akan bicara kalau Binta yang mulai cerita duluan, dan akan selalu seperti itu.

“Pagi, ibuk!!” sapa Binta sambil memeluk Bu Idah (si penjual nasi uduk) dari belakang.  
“Aih… Si Cantik… seperti biasa?”

Cahyo memesan teh tawar panas lalu duduk di depan Binta. Menyemil kerupuk yang tidak perlu membuatnya keluar uang untuk sarapan. 

“Ta, lo nggak mau ikut organisasi? Atau UKM mungkin?”
“Yo, kita kan udah pernah bahas ini.”
“Ya, tapi kan kalo lo ikut kegiatan kemahasiswaan, lo bisa nambah pengalaman baru, dapet temen yang lebih banyak.”
“Tapi pengalaman nggak harus dari kegiatan di kampus juga, kan?”
“Paling nggak, lo bisa nyibukin diri.”
“Terus? Gue harus lebih banyak ngeluarin waktu di kampus daripada nemenin nyokap gue?”
“Bukan gitu, Ta…”
“Yo, gue cuma mau kuliah, lulus, terus udah.”

Salah memang mengajak Binta berdebat. Cahyo hanya ingin membuat temannya itu lebih bersemangat lagi menjalani hidupnya, tapi segala cara yang ia lakukan selalu gagal. Karena buat Binta, mamanya adalah hidupnya. Tidak ada yang lebih penting daripada itu, bahkan kebahagiaannya sendiri.

“Oh iya, Ta, sebenernya gue mau ngasih tahu sesuatu…”
“Ah, tapi lo janji nggak boleh marah.”
“Iya apaan?”
“Nugraha…”
“Nugraha siapa?”
“Ada senior di arsitektur…”
“Jangan bilang…”

Ini adalah kesejuta kalinya Cahyo berusaha mencomblangi Binta dengan teman-temannya. Cahyo sendiri adalah anak pecinta alam, bisa dibilang ia cukup dikenal di kampus. Sudah tidak terhitung berapa kali ia ingin mencarikan Binta pacar. Ia ingin menunjukkan kepada Binta kalau hidup yang ramai itu menyenangkan, paling tidak dengan satu orang yang bisa mencintainya, yang bisa berbagi bebannya. 

“Ayo dong, Ta, dicoba…”
“Jangan bikin gue marah, plis.”
“Eh, ini gue nggak mengajukan elo, kok, dia sendiri yang emang udah kagum sama lo.”
“Kagum gimana ceritanya? Gue nampakin diri di muka umum aja nggak pernah. Nggak usah ngarang.”
“Ta…” ucap Cahyo dengan wajah memelas.
“Nggak.”
“Minimal lo chat-an sama dia sekaliii… aja.” ucap Cahyo terus memohon.
“Nggak.”

“Nih, Cantik… nasi uduknya.”
“Makasih, Ibu!!” jawab Binta gemas. Memang cuma si ibu nasi uduk ini yang bisa membuat suara girang dari dalam dirinya keluar. Karena cuma di tempat nasi uduk ini Binta bisa tertawa lepas, selebihnya tidak. Ia banyak melamun dan memikirkan ibunya yang entah bisa kembali normal atau tidak. 

Selesai menyantap sarapannya, Binta bergegas menuju kelas karena kelas pagi akan dimulai pukul sembilan. Cahyo mengikutinya dari belakang dengan masih memegang bakwan goreng. Di depan pintu kelas, ada seorang laki-laki bertubuh tinggi, seperti sedang menunggu seseorang. Tapi ketika laki-laki itu melihat Binta, ia segera menegakkan tubuhnya seakan ingin menghampiri Binta. Dan ternyata benar.

“Binta, ya?”

Binta menatap lelaki itu dengan curiga, “Tau nama gue dari mana?”

Lelaki itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya, “Ini pasti punya lo,” sambil memberi sobekan koran yang terdapat sebuah gambar di dalamnya.

Binta langsung bicara dalam hati, Sial.

“Gue Nugraha, arsitektur semester lima.”

Binta pasti lupa memasukkan sobekan kertas itu ke dalam tasnya kemarin setelah makan di tempat nasi uduk langganannya. Mungkin karena ia sudah terlambat untuk masuk kelas, sehingga ia terburu-buru dan tak sempat memeriksa lagi. Cahyo yang ketika itu memang tak berniat untuk masuk kelas, dengan tenang menyantap nasi uduknya. Tak lama setelah Binta pergi, Nugraha mendatangi tempat nasi uduk untuk sarapan. Tak ia sangka akan bertemu Cahyo yang juga merupakan temannya.

“Bu, nasi uduknya satu ya, tapi jangan dipakein bawang goreng,”

Cahyo masih asyik dengan nasi uduknya, “Tumben sarapan nasi uduk, biasanya lo sarapan ala eropa. Ahahahaha,”

“Telen dulu tuh yang ada di mulut lo, jijik liatnya. Eh, by the way, lo gak ada kelas?”

“Gak ada, libur.”

“Libur apa meliburkan diri?”

“Belom ngerjain tugas gue, males jadinya.”

Nugraha melihat sobekan kertas yang berada dekat dengannya, ia mengambil dan memandangi gambar indah yang bertabrakan dengan deretan kalimat berita yang ada, “Punya siapa nih?”

Cahyo menoleh, “Ohh… itu punya Binta.”

“Binta? Binta siapa?”

“Binta temen gue…”

Nugraha semakin penasaran, “Temen lo? Sejak kapan temen lo ada yang namanya Binta?”

“Temen kelas gue dari awal masuk kuliah. Emang gitu anaknya, invisible,”

“Ah, boong lo.”

“Ya gitu tuh, Binta, senengnya jadi orang yang gak keliatan, senengnya gambar di kertas koran, tapi gak mau nunjukkin gambarannya ke orang-orang. Kadang dibuang, kadang jadi bungkus gorengan, anaknya emang aneh.”

“Ini lo lagi bercanda apa lagi kekenyangan sih, Yo? Biasanya kan, kalo orang bisa gambar kayak gini, difoto, diupload ke instagram, biar eksis, biar banyak yang kenal.”

“Gini, deh. Kalo lo gak percaya ada manusia kayak Binta, lo besok ke kelas gue, balikin tuh koran ke dia. Lo pasti kaget.”

“Kaget kenapa?”

“Kaget karena untuk pertama kalinya ada perempuan yang akan dengan gampangnya menolak seorang Nugraha Pranadipta.”

Merasa tertantang, pagi ini ia menghampiri Binta di depan kelasnya. Menunggu sejak pagi agar rencananya bisa berjalan dengan baik. Sedangkan Binta, mulai tidak nyaman dengan situasi ini. Ia tahu ini pasti ulah Cahyo. Ia segera mengubah wajahnya menjadi begitu masam.

“Tadi siapa lo?”

“Nugraha,”

“Gini ya, Nug. Itu gambar bukan punya gue, dan gue gak bisa gambar. Jadi urusan soal koran cuma sampe di sini.”

Tanpa panjang lebar, Binta masuk ke kelas, sedangkan Cahyo berusaha untuk menyusun kembali strategi untuk membuat Binta dan Nugraha menjalin pertemanan. 

“Sabar, Man… Binta gitu anaknya.”
“Lo bener, dia emang beda. She doesn’t even know me. Misterius. Judes. Galak. But unique. Gue gak akan nyerah, Yo, karena gue menemukan sesuatu yang beda, she’s a magic.”
“Apa gue bilang,” sambil menepuk lengan Nug, Cahyo menyusul Binta masuk. 

Untuk Binta, dunia bagaikan planet asing. Ia selalu merasa kalau bumi bukan tempat yang cocok untuk dihuni. Sambil memasang headset ke telinganya, Binta menyalakan walkman-nya dan duduk di bangku paling belakang. Ia memejamkan matanya, seakan masuk ke dalam dunia bayangannya yang lebih ia sukai ketimbang yang nyata.

“Binta Dineshcara? Binta Dineshcara hadir atau tidak?” 

Dosen mata kuliah Etika Komunikasi itu sudah geram dengan sifat Binta yang terlalu tidak peduli dengan sekelilingnya. Tapi semua orang pasti setuju kalau Binta tidak pernah pantas jadi anak komunikasi. Apa ada anak jurusan ilmu komunikasi tapi tidak suka berkomunikasi?

Cahyo sudah berkali-kali memanggil Binta tapi volume suara walkman-nya terlalu besar dan membuat Bu Endah, dosen Etika Komunikasi, mendatanginya dengan wajah geram. Ia melepas headset yang terpasang di telinga Binta, “Keluar, kamu!”

Tanpa memberi pembelaan apa-apa, Binta keluar, membawa tas ransel berwarna hitam yang tak pernah ia ganti sejak semester satu itu beserta walkman, sahabat keduanya setelah Cahyo, yang ia beli di pasar loak. Memang terlalu kuno, tapi Binta begitu mencintai walkman-nya itu.

Binta seringkali dijuluki The Invisible Girl di kampus karena saking tak terlihatnya dia, saking tidak ada yang tahu kalau ada perempuan bernama Binta Dineshcara yang kuliah di sana. Anehnya, semakin tidak kelihatan, Binta semakin merasa tenang. Karena baginya, semakin sendirian, hidup akan semakin mudah dijalani. 

Ia berjalan santai menuju kantin, satu-satunya tempat yang ada di pikirannya saat ini. Kantin sedang tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa mahasiswa yang kelihatan sedang sibuk dengan laptop masing-masing. Binta hanya membeli sebotol air mineral, kemudian duduk.

Ia mengeluarkan koran yang tiap pagi tergeletak di depan pagar rumahnya, juga pensil yang tumpul karena ia malas sekali merautnya. Itu lah Binta. Ia gemar menggambar apa yang ada di kepalanya pada halaman sebuah koran. 

“Katanya gak suka gambar?”

Nug mengikutinya sejak ia keluar dari kelas. Binta menoleh sebentar, lalu melipat koran dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Tanpa merespon perkataan Nug, ia meneguk air mineralnya, lalu beranjak pergi. Namun, Nug tetap mengikutinya dari belakang, walau Binta tidak menanggapinya sama sekali. 

“Sayang lho, punya bakat tapi cuma ditaruh di koran.”

Binta terus berjalan, dan Nug tetap mengikutinya, “Ta…”

“Ta.”

“Binta.”

Akhirnya Binta kesal sendiri, menghentikan langkahnya, membalikkan badannya supaya bisa menatap Nug langsung untuk marah-marah, “Apa sih mau lo?!”

“Gue cuma mau temenan sama lo aja masa nggak boleh?”

“Nggak.”

“Kata Cahyo lo nggak ikut organisasi atau UKM apa-apa ya? Padahal lo punya skill, sayang kalo gak mau diasah.”

“Udah?”

“Udah apanya?”

“Ngebelain argumen lo yang serasa paling bener.”

Nug segera membuka matanya lebar-lebar, terkejut dengan perkataan Binta yang barusan ia dengar. Bukannya menyerah, ia justru mengejar Binta, “Ta, tunggu, Ta!”

“Duh, apaan lagi?”

“Lo mau ke mana?”

“Hah?”

“Ini lo mau ke mana?”

“Pulang.”

“Jangan balik dulu dong. Lo tunggu gue sampai kelar kelas.”

“Nggak mau.”

“Bentaaar aja, Ta.”

“Mau ngapain, sih, emangnya?”

“Gue mau ngajak lo ke sesuatu tempat, abis itu gue janji nggak ngintilin lo lagi.”

“Oke.”

“Beneran, Ta?”

“Kalo lo masih banyak nanya, gue pulang beneran.”

“Oke, Ta. Binta diam di sini ya, jangan ke mana-mana.”

Selagi Nug melangkah pergi, Binta cuma bisa geleng-geleng kepala. Setelah itu Binta pulang. Ya. Tentu saja dia tidak diam di sana. Tidak ada satu orang pun yang bisa mengubah keinginannya. Apalagi, Nug. Laki-laki paling nekat yang ia temui itu. Baru juga pagi tadi ia sebut namanya di hadapan wajah Binta, siangnya ia langsung berani menyuruh Binta untuk jangan ke mana-mana?

***

“Mama?? Mamaaa?” 

Binta masuk ke rumah sambil memanggil mamanya seperti anak kecil mengajak temannya untuk bermain. Di depan sang mama, Binta harus sebisa mungkin kelihatan bahagia. Tidak pernah ada setetes air mata yang muncul ketika ia sedang berdua dengan beliau. Karena buat Binta, bersedih di hadapannya akan semakin mempersulit keadaan.

Di tiap harinya, ia pulang dengan beragam kekhawatiran. Ketakutan akan jawaban dari Bi Suti selalu jadi alasan ia tidak berani pulang ke rumah,

Bi Suti keluar dengan membawa mangkuk berisi bubur ayam. Binta buru-buru mencuri bubur itu dari tangan Bi Suti, “Biar Binta aja, Bi,” kata Binta, “Oh, iya, hari ini mama marah-marah nggak, Bi?”

“Iya, Kak… tadi ngamuk sambil manggil nama Bapak, seperti kemarin.”

Mendengar itu membuat hatinya hancur, padahal itu bukan hal yang baru ia dengar, bahkan hampir terjadi setiap hari, tapi tetap tak bisa terbiasa dengan keadaan itu.”

“Ya udah, deh, Binta ke kamar mama dulu, ya?”

Binta mengetuk pintu, “Maamaaa!”

Ketika pintunya terbuka, beliau sedang duduk di kursi roda sambil menghadap ke jendela yang mengarah ke taman kecil di halaman belakang rumah. 

“Kenapa? Mama mau ganti bunga yang ada di taman?”

Binta duduk di sebelahnya.

“Tapi bunganya cantik kan, Ma? Soalnya lagi musim kemarau, kata tukang tanamannya bunga bougenvil memang lebih cantik waktu musim panas begini.”

“Sekarang mama makan dulu, nanti bulan depan kita ganti bunganya, ya? Kalau masih musim kemarau kita ganti bunga iris. Tapi kalau sudah masuk musim hujan, terpaksa bunga mawar lagi, deh.”

Sambil menyuapkan bubur buatan Bi Suti, Binta cerita, “Oh iya, Ma?”

“Tadi di kampus, ada cowok…” lanjut Binta mulai bercerita dengan ragu, “Namanya Nugraha, dia anak arsi, semester lima. Dia ngajak Binta kenalan, terus sempet mau ngajak Binta ke suatu tempat tapi Binta malah pulang. Ya… gitu doang sih, Ma, pasti dia cuma iseng kan, Ma? Cuma… cuma dia cowok kedua di kampus yang ngajak Binta kenalan setelah Cahyo. Padahal Binta tau sih, ini pasti akal-akalan Cahyo doang.”

“Kenapa sih, Ma? Cewek sama cowok itu harus saling jatuh cinta?”

Mungkin Binta berharap sang mama akan menjawab dengan segera, tapi baginya, diam sudah berarti jawaban.

“Menurut Mama, kira-kira… Binta akan jatuh cinta, nggak? Sama siapa ya, Ma? Seperti apa, ya, rasanya?”

***

Pagi ini, Binta sarapan sendiri di rumah, karena sang mama masih tertidur pulas, takkan tega ia membangunkannya. Bi Suti menghampiri Binta, memberitahunya kalau ada temannya yang sudah menunggu di depan. 

“Ya udah, sarapannya Binta lanjutin di kampus aja, deh. Nanti kalau mama udah bangun, bilangin kalau Binta udah berangkat, ya, Bi.”

Binta segera memakai sepatunya dan menyandang tas ranselnya, berjalan menuju pagar rumah. “Lo kepagian tau, Yo. Sarapan gue belom kelar!!” sahut Binta sambil mendekatinya.

“Pagi, Binta Dineschara.”

“Elo?! Kok elo, sih?”

“Cahyo lagi nggak bisa jemput lo, terus dia minta tolong sama gue buat jemput lo.”

“Dia itu selalu bisa jemput gue. Ini pasti akal-akalan lo doang, kan?!”

“Gue nggak tau, Ta, gue mau nolongin Cahyo aja.”

Binta pergi meninggalkan Nug untuk mencari bis umum. Cahyo akan menjadi santapan besarnya di kampus nanti. Binta menoleh ke belakang, ternyata Nug juga sedang mengikutinya dengan motor yang ia tinggal di depan rumah Binta sambil berusaha membuatnya mengerti, “Ta, naik motor aja sama gue biar cepet.”

“Lo aja sana yang naik motor!”

Nug mempercepat langkahnya supaya bisa berdiri tepat di hadapan Binta untuk akhirnya bilang, “Lo, tuh, kenapa, sih?”

“Gue itu orang dengan banyak ‘kenapa’, jadi berhenti ngikutin gue!”

Binta memberhentikan metro mini, naik, diikuti dengan Nug di belakangnya. Pagi itu bis penuh, jam sibuk orang berangkat kerja dan sekolah. Binta berdiri, begitu juga dengan Nug. Tingkat kejengkelan Binta sudah tak tertahankan lagi, tapi ia tahu ia tidak mungkin bertengkar di dalam bis umum. Maka yang ia lakukan cuma diam, sedangkan Nug, yang memiliki postur tubuh lebih tinggi darinya, hanya memerhatikannya dengan saksama. 

“Kayak lagi dikasih soal matematika,” kata Nug tiba-tiba.

“Hah?”

“Waktu SD, setiap ulangan matematika, pasti gue pandangin tiap soal-soalnya dulu. Terus gue mikir gimana cara ngerjain soalnya, biasanya gue mikirnya lama, tapi pasti kejawab.”

“Lo ngomong apaan, sih?”

“Iya, lo mirip sama soal matematika. Bedanya, gue sama sekali nggak tau harus gimana buat ngerti lo.”

Binta menelan ludah, “Ya, nggak usah ngertilah.”

“Gue bukan tipe orang yang gampang menyerah, Ta. Gue yakin setiap soal itu pasti bisa dikerjain dan ada jawabannya.”

Binta menatap Nug dengan tajam, benaknya diisi kebingungan, Ini orang apaan sih?

Jalanan ibukota memang sudah tidak kelihatan seperti jalan pada normalnya, lebih mirip dengan parkir gratis. Binta berkali-kali menekuk lututnya bergantian, sendi-sendi pada lututnya sudah mulai terasa kaku. Nug masih saja memandanginya, walau sesekali ia melihat ke arah jalanan yang semakin lama semakin tidak bergerak. 

“Pegal, Ta?”

“Lo emang banyak nanya, ya, orangnya?”

“Kalo nggak nanya, kan, bisa nyasar, Ta.”

Binta menggerutu dalam hati, Kenapa sih bisnya nggak terbang aja biar cepet sampe kampus?!

“Bentar ya, Ta.”

“Lama juga malah bagus.”

Nug berjalan pelan menuju bangku belakang, mendatangi seorang laki-laki yang sepertinya seumuran dengannya, “Hei, Man.”

“Nug? Apa kabar, lo? Tumben naik bis. Motor lo ke mana?”

It was a long story, gue pengen minta tolong, sih, sebenernya. Lo liat nggak, cewek yang pake kaos putih sama celana jeans robek itu? Yang lagi berdiri deket bapak-bapak baju hitam?”

“Ohh, kenapa dia? Cewek lo?”

“Hampir…”

“Cakep juga.”

“Dia pegel, deh, kayaknya. Nggak apa-apa, ya, dia duduk di bangku lo?”

Of course, Man!”

Nug kembali menghampiri Binta dan mengajaknya ke kursi belakang. Awalnya Binta menolak, tapi Nug menarik tas ranselnya dari belakang supaya Binta mau menurut. Setelah itu Binta duduk, dengan sesekali menatap sinis Nug yang justru membalasnya dengan tersenyum.

“Masih pegel?”

“Denger ya, Nug, kalau lo cuma mau buat gue ngerasa punya utang budi–”

“Apaan sih, Ta? Lo nggak bisa artiin kebaikan orang dengan maksud yang berbeda,” sela Nug segera.

Then don’t! Nggak usah nunjukin kebaikan lo di depan gue, karena gue nggak butuh itu.”

Nug ingin sekali marah, tapi semakin dibuat kesal, ia semakin penasaran dengan perempuan ini. Ia malah berbalik minta maaf, “Ya udah, maaf, ya. Makanya besok lagi naik motor aja sama gue, biar nggak pegel, dan lo nggak perlu nganggap gue sok baik karena ngasih tempat duduk buat lo. Oke?”

Tags: No tags

14 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *