2

Kata — Bab 2

2


BAB 2 – KURA-KURA


“Ta, lo masih punya utang, lho… sama gue…”

“Utang apaan?” jawab Binta acuh.

“Kemarin, lo janji buat nggak ke mana-mana sampe gue selesai kelas. Tapi, lo malah balik.”

“Itu terhitung utang?”

“Iyalah, Ta. Harusnya, kalo lo emang nggak mau, nggak usah ngangguk.”

“Ya, terus?”

“Ya… utang harus dibayar dong, Ta…”

Semesta, jangan buat aku terjebak dengan orang ini. Tolong jangan merumitkan hidupku yang sudah pelik.

“Ta? Binta?”

“Nggak lebih dari lima belas menit, abis itu gue pulang.”

“Oke, janji, lima belas menit.”

“Emang lo mau ngajak gue ke mana, sih?”

“Kiri, Bang!”

Binta terkejut, tidak ia duga Nug akan langsung menghentikan bisnya dan mengajaknya turun detik itu juga. Awalnya Binta menolak, tapi kernet bis menyuruh mereka untuk segera turun. Daripada membuat gaduh, Binta akhirnya menurut. 

“Kenapa jadi turun, sih?”

“Tadi katanya mau bayar utang?”

“Ya, nggak sekarang juga!”

Amarah Binta meluap. Ia sudah di ujung batas kesabarannya. Ia mungkin sedang berdoa dalam hati supaya semesta mau memindahkannya ke planet lain sekarang juga. Ia segera mempercepat langkahnya walau yang punya tujuan adalah Nug, bukan dirinya. Tapi Binta sudah biasa pergi tanpa tujuan. Ia senang menjadi sesuatu yang asing di bumi tempat ia tinggal.

“Tunggu dong, Ta…” kata Nug pelan.

Matahari menerikkan cahayanya. Walau keringat sudah mengucur, Binta tetap berjalan tanpa menoleh apalagi bicara. Tak ada angin yang muncul, hanya truk sampah yang memaksa Binta untuk menutup hidung dan mulutnya. Untungnya Nug sedang berhadapan dengan Binta, perempuan yang tak suka mengeluh apalagi minta tolong pada orang lain. Binta tidak suka bergantung pada orang lain, ia menggantungkan hidupnya pada dirinya sendiri. Supaya jika hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi, ia tidak perlu kecewa dengan siapa-siapa kecuali dirinya sendiri.

“Ta? Lo mau sampe kapan kayak gini terus?”

Binta tetap diam. Sesekali ada taksi yang melipir untuk menawarkan tumpangan, juga iring-iringan mobil pejabat yang membuatnya semakin jengkel. “Binta, dengerin gue dulu,”

“Kalo lo nggak mau dengerin gue, kita akan makin lama nyampenya. Dan semakin lama nyampe, semakin lama juga lo stuck sama gue.”

Mendengar itu, Binta langsung berhenti dan diam. Nug akhirnya punya kesempatan untuk mendahuluinya dan berdiri di dekatnya. Ketika ia melihat wajah Binta yang menunduk dan penuh keringat, ia segera mengeluarkan sapu tangannya,

“Nih.”

Binta menolak, “Nggak.”

“Ambil atau gue akan buat ini semakin lama.”

“Lo, tuh, rese banget, ya!” ketus Binta sambil mengambil kasar sapu tangan milik Nug dan mengelap keringatnya. “Ini semua tuh salah lo! Kalo aja tadi lo nggak minta turun, gue juga nggak akan keringetan!”

“Tapi tempat yang mau gue datengin sama lo arahnya nggak ke sana, lagi pula… kalo cepet nyampe, cepet juga berakhir jatah lima belas menit gue.”

Binta sudah tidak punya kemampuan lagi untuk mengerti laki-laki asing yang mulai menganggu hidupnya itu, “Udah ah, cepet!”

Nug tersenyum dan berjalan di usampingnya, “Kalo jalannya sambil ngobrol, pasti nggak akan terasa lama.”  

“Nggak perlu.”

“Ta, lo mau tau, nggak? Sebenarnya gue itu nggak suka gambar, gue dipaksa masuk arsi sama bokap yang dulunya juga anak arsi. Tadinya gue pengen jadi chef, karena gue pengen masakin nyokap gue makanan yang enak-enak. Tapi, kalo waktu bisa diulang lagi, gue pengen jadi anak hukum. Supaya bisa menjarain pejabat-pejabat yang lewat pake iring-iringan mobil polisi yang tadi bikin lo kesel.”

“Lo pikir lulusan sarjana hukum kerjaannya cuma menjarain pejabat yang bikin gue kesel?”

“Kan berbeda itu seru, Ta.”

Binta berusaha mengalihkan pembicaraan, “Ini sebenernya mau ke mana sih?”

“Nanti juga lo tau sendiri.”

Sepanjang perjalanan menuju tempat yang ada di kepala Nug, ia terus saja bercerita walau Binta sudah muak sekali mendengarnya.  

“Ta, lo suka binatang, nggak?”

“Enggak.”

“Wah, sayang banget, Ta. Binatang itu teman cerita yang baik loh.”

“Teman cerita yang baik gimana? Emang mereka bisa bahasa manusia, apa?”

“Justru itu. Mereka nggak bisa bahasa manusia, dan kita nggak bisa bahasa binatang. Oleh karena itu, kalo cerita sama mereka, kita bisa merasa lebih bebas, nggak perlu denger tanggapan mereka terhadap cerita kita. Karena yang mereka lakukan cuma mendengarkan.”

“Yaudah, entar kapan-kapan gue coba.”

“Nah gitu dong, Ta. Coba sesuatu yang kedengarannya aneh, padahal menyenangkan. Hmm… tapi masa satu pun binatang nggak ada yang lo suka, Ta?”

“Nggak ada.”

“Pasti ada, Ta.”

“Gak ada, Nug.”

“Coba dipikir baik-baik. Binatang yang udah punah juga nggak apa-apa.”

Binta benar-benar mencoba untuk berpikir. Ia memang tidak pernah menyukai sesuatu. Sekalipun binatang yang menggemaskan.

“Mungkin kura-kura,” jawabnya tiba-tiba.

Nug menoleh penasaran, “Kura-kura?”

“Kura-kura bisa bawa rumahnya ke mana-mana, bisa hidup sendirian. Kura-kura itu makhluk paling beruntung yang hidup di muka bumi. Jalan mereka yang lambat, seakan lebih banyak mencuri kenangan ketimbang manusia, mereka bisa merasakan apa pun dengan waktu yang lebih lama. Mereka nggak pernah berlomba jadi juara, mungkin kura-kura adalah binatang paling bahagia. Enak kali ya, kalau semua manusia di dunia berjalan selayaknya kura-kura, mungkin takkan ada yang namanya juara, mereka sudah cukup bahagia dengan langkah lambat yang mereka punya.”

Matahari yang terasa terik sekali, berubah menjadi udara sejuk yang menyapa Nug. Tiap kata yang keluar dari mulut Binta, seakan memberi warna baru dalam hidupnya. Terlalu indah, entah bagaimana caranya ia bisa melupakan kalimat beberapa detik lalu yang keluar dari mulut seorang perempuan paling dingin yang ia kenal. Binta terus berjalan, menyusuri rel kereta, sedang Nug hanya bisa memandangi punggungnya dari belakang yang membuatnya ingin terus tersenyum. 

“Masih jauh, ya?”

Mungkin Binta mulai kelelahan. Hampir dua jam mereka berjalan, walau sebenarnya jadi hanya terasa satu jam karena ocehan Nug yang tak henti-hentinya membuat Binta jengkel. 

“Kapten Nug?!”

“Kapteeeennnn!!!”

Segerombolan anak kecil berlari, menghampiri, memeluk Nug bersamaan. Pakaian yang tidak terlihat seperti pakaian itu, semakin membuat mereka terlihat kumal. Nug membalas pelukan mereka, seakan senang apabila kemeja yang ia kenakan harus ikutan kotor.

“Kapten, hari ini kita mau gambar apa?” tanya salah seorang anak laki-laki dengan topi yang sudah ditambal berkali-kali.

“Kemarin kita gambar apa?”

“Gambar tinkerbell!!” seru anak yang lain.

“Berarti hari ini kita gambar…”

PETERPAN!” seru mereka berbarengan.

“Eits… tunggu dulu. Hari ini Kapten bawa teman, lho…” Nug segera menyiku Binta seakan memberi kode untuk menyuruhnya memperkenalkan diri.

“Ha? Oh, hei teman-teman… Aku Binta, salam kenal…” sapa Binta dengan hangat. 

“Kak Binta cantik seperti tinkerbell!” kata seorang anak perempuan yang rambutnya dikuncir dua. 

Binta segera membungkukkan tubuhnya, kemudian tersenyum, “Waduh… sepertinya si tinkerbell kalah cantik sama kamu.”

Ada sembilan anak, empat di antaranya perempuan. Binta belum bisa mengerti sepenuhnya mengapa Nug mengajaknya ke tempat ini. Kehidupan di pinggir rel kereta. Binta tak sanggup membayangkan bagaimana anak-anak itu bisa tersenyum dalam dimensi yang mungkin tak pernah mereka sukai. 

Anak perempuan yang bilang Binta seperti tinkerbell tadi meraih tangan Binta dan menghentikan lamunannya, “Kak Binta, ayo,” ajaknya perlahan.

Ia menuntun Binta mengikuti jejak lainnya yang sudah jalan lebih dulu. Hati Binta rasanya seperti teriris. Ia kira yang merasa asing di bumi ini cuma ia sendiri, ternyata tidak, ia tidak sendirian. Sedikit lega namun hatinya terus bergetar, mungkin ia ingin menangis, tapi ia masih cukup normal untuk tidak menangis di pinggir rel kereta dengan kondisi yang begitu kumuh dan tak terurus itu.

Langkahnya berhenti di sebuah lahan kecil, masih di sepanjang pinggir rel kereta, hanya saja ada papan tulis, spidol dan pensil warna, juga beberapa hasil karya mereka yang diletakkan di tumpukan kertas, yang apabila kereta lewat, semua akan berhamburan ke mana-mana.

Nug mengambil spidol hitam dan mulai menggambar sosok peterpan, sesuai janjinya. Sedangkan Binta berdiri di belakang anak-anak yang asyik memerhatikan Nug menggambar. 

Kalau ia ingin aku menggambar dengan maksud seperti ini, kenapa tidak ia bilang sejak awal?

Binta meninggalkan mereka, berbalik arah kemudian berjalan pelan menyusuri rel kereta, mumpung belum ada kereta yang lewat. Ia berniat hanyut dalam lamunannya, supaya ketika ada kereta yang lewat, ia takkan menyadari, dan kereta itu akan langsung menghantam tubuhnya dan membawanya ke dimensi yang lain, dimensi yang mungkin lebih baik dari yang sekarang ini. 

Sesekali ada orang yang lewat dengan membawa karung di punggungnya, juga ibu-ibu yang membakar sampah sehingga membuat rambut Binta jadi bau asap.

Orang-orang di sini tidak ramah, Ma, mungkin keramahan mereka sudah habis sepanjang usia kereta yang lewat.

“Kalau pagi, di sini seperti ada pasar, Ta.”

Binta menoleh ke kanan, ada Nug yang sedang berjalan di sampingnya, “I can’t.”

“Maksudnya?”

“Gue bukan lo, Nug, gue nggak bisa bantu mereka, gue bukan orang semacam itu.”

And I never ask you for that.”

“Hah?”

“Kan, gue cuma mau ngajak lo ke sini, buat ngeliat mereka. Gue nggak minta apa-apa, Ta, nggak berharap lo bisa suka sama dunia mereka, tapi gue seneng lo ada di sini, ya… walaupun dipaksa dikit, sih.”

“Gue suka kok, cuma, mungkin gue agak kaget.”

“Kaget kenapa?”

Mereka terus berjalan, Binta berdiri tepat di atas rel kereta, sedang Nug di sampingnya.

“Waktu gue masih seumuran mereka, nyokap selalu bacain dongeng setiap kali gue mau tidur. Dan Peterpan mungkin adalah dunia dongeng yang jadi impian gue sekarang.”

“Kenapa?”

Peterpan nggak pernah tumbuh jadi orang dewasa. Dia mampu hidup sendirian, bisa terbang, bisa bicara sama tinkerbell, bisa senang-senang ketika manusia yang nyata sedang tidur lelap dalam mimpinya. Peterpan bisa buat mimpinya sendiri, apa pun yang dia mau.”

“Walau mampu hidup sendirian, dia juga bisa merasa kesepian, Ta. Waktu Wendy balik ke bumi contohnya?”

“Ya… tapi dia berhasil ngalahin Kapten Hook.”

Nug tertawa. Pasti karena jawaban Binta sama sekali tidak nyambung dengan perkataannya sebelumnya. Ia hanya bisa membatin, Binta memang berbeda. Semakin ketus nada bicaranya, semakin senang aku menantikan tiap kata keluar dari mulutnya.

“Udah ah, balik yuk, mereka pasti lagi nungguin kaptennya.”

***

Seorang anak laki-laki menghampiri Binta dengan membawa selembar kertas yang sudah ia gambar, “Ini buat kakak,” sambil memberi Binta kertas itu.

“Wah… makasih ya, siapa namamu?”

“Surya, Kak.”

“Kamu tau nggak arti namamu apa?”

Surya cuma geleng-geleng kepala.

“Kalau dalam bahasa indonesia, Surya itu artinya matahari, kalau dalam bahasa Sanskerta, Surya itu berarti penguasa langit.”

“Dineschara dalam bahasa Sanskerta juga artinya matahari,” sahut Nug yang sedang merapikan peralatan gambar.

Binta agak terkejut ketika Nug tahu arti nama belakangnya itu. Sebenarnya, ia tidak suka dibuat terkejut, ia ingin merasa biasa saja terhadap apa pun yang ada di sekelilingnya. 

“Teman-teman, kapten harus nganterin Kak Binta pulang. Minggu depan, kita akan jumpa lagi, setuju?”

Mereka langsung memeluk Nug, membuat lekuk sabit dalam bibir Binta keluar. Mungkin baru kali ini, ia melihat kehangatan yang nyata walau hanya di pinggir rel kereta. Setelah selesai berpamitan, mereka berdua kembali menyusuri jalan menuju jalan raya untuk mencari bis kota yang lewat.

“Maaf ya, Ta, tadi itu lebih dari lima belas menit.”

“Nggak apa-apa, menyenangkan kok.”

Nug tersenyum.  

“Aku boleh ketemu mereka lagi?”

Nug tercengang.

“Binta?”

“Kenapa?”

“Itu.. tadi barusan ngomong aku?”

Gantian Binta yang tercengang. “Iya ya? Maaf, Nug, gue…”

“Nggak apa-apa, Ta, lebih enak didengar seperti itu.”

Siapa dia, semesta? Untuk apa dia masuk ke dalam kehidupanku? Pengganggu yang aneh, tapi sepertinya bukan benalu, mungkin.

“Ta, selain Peterpan, kamu suka dongeng sebelum tidur apa lagi?”

“Kamu berharap aku jawab dongeng putri tidur?”

“Ya… mungkin? Siapa yang tidak percaya dengan true love kiss?”

Binta tertawa terbahak-bahak, Nug bingung, “Kok ketawa, Ta?”

“Nugraha, Nugraha. Aku kira kamu ini jenius, ternyata kamu aneh. Denger ya, yang percaya sama true love kiss itu cuma anak kecil yang punya cita-cita jadi princess. Untuk sebagian orang yang punya banyak masalah di dalam hidup mereka, nggak ada satu detik pun waktu yang bisa digunakan untuk mikirin hal-hal semacam itu.”

“Kalo cinta, Ta?”

“Apalagi itu, Nug. Bagiku, cinta itu seperti iklan di televisi. Cuma bagus di TV, padahal aslinya biasa saja, bahkan mengecewakan.”

“Terus kamu maunya apa, Ta?”

“Aku ingin selalu berada dalam masalah, supaya semakin tidak ada celah untuk berkenalan dengan yang namanya cinta apalagi true love kiss. Itu cuma dongeng, Nug. Cinta yang ada di bumi tidak seindah cerita putri tidur yang berakhir hidup bahagia. Aku cuma malas berurusan dengan sesuatu yang menjanjikan kebahagiaan, padahal kepedihan akan segera menyusulnya.”

“Nggak bisa gitu, Ta…”

“Bisa, Nug…”

Tapi, Binta harus mengenal cinta, harus, kata Nug dalam hati.

“Bagaimana dengan teori cinta pada pandangan pertama?”

“Ini lagi, sudah deh, Nug. Buat aku, yang berhubungan sama cinta itu nggak pernah masuk ke dalam logikaku.”

“Tapi semua orang butuh cinta, Ta, dunia ini butuh cinta.”

“Itu masalahnya, Nug. Di dunia ini, aku tidak pernah diterima dengan baik. Mungkin aku salah planet. Harusnya aku dilahirkan di dunia yang tak pernah mengenal cinta. Coba saja kamu ini alien, Nug, mungkin pemikiran kita akan sejalan.”

“Perbedaan itu akan selalu ada, Ta, tidak ada dua manusia yang hidup dengan berbekal kesamaan saja.”

“Makanya, kamu jadi alien dulu.”

“Binta, Binta, kamu terlalu sering makan nasi uduk, jadi pikiranmu terlalu campur-aduk.”

“Waktu itu, aku pernah nanya sama seseorang, mengapa laki-laki dan perempuan harus saling jatuh cinta, tapi tidak ia jawab.”

“Karena peterpan saja, butuh tinkerbell, Ta. Peterpan nggak bisa hidup sendiri, Ta. Walaupun dia bisa terbang.”

Tags: No tags

7 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *