4

Kata — Bab 4

4

 

BAB 4 – KACA DAN MATA

 

Binta beranjak.

“Laper,” katanya singkat, kemudian berjalan pergi. Sempat bingung sebentar, namun Nug akhirnya ikut berjalan di belakangnya seakan mengerti bahwa maksud perkataan Binta barusan adalah “Temenin makan, yuk.”

“Binta mau makan apa?”

“Air putih.”

“Tadi katanya laper?”

“Katamu air putih bagus untuk tubuhku?”

“Iya-iya, ya sudah.”

Akhirnya Binta duduk, Nug membeli air putih seperti permintaan Binta barusan. Sekembalinya, Binta langsung memulai sebuah cerita, “Dari dulu, aku tidak pernah bisa dekat sama banyak orang, Nug.”

“Iya, aku juga nggak kaget, kok.”

“Waktu SD sampai SMA, aku cuma punya satu temen. Sekarang di kampus juga cuma Cahyo.”

“Kalau aku, Ta? Aku belum bisa jadi temanmu ya?”

“Belum,” jawab Binta jujur.

“Ada syaratnya ya, Ta? Apa ada seleksinya?”

“Seleksi? Yang minat saja cuma kamu.”

“Aku mau, Ta. Aku mau sekali jadi temanmu.”

“Nggak usah jadi temanku.”

“Aku kira karena udah sering ngobrol sama kamu bisa membuatku jadi temanmu.”

“Sama tukang nasi goreng juga aku sering ngobrol.”

“Dipikir-pikir dulu juga gapapa, Ta. Siapa tau besok kamu mau jadi temanku. Siapa tau lusa kamu mau jadi pacarku.”

“Nugraha…”

Nug nyengir, “Tapi kalau mau beneran gapapa lho, Ta,”

“Mau apa?”

“Jadi pacarku.”

Binta beranjak, “Balik yuk.”

“Eh iya-iya…”

“Emang nggak ada kelas?”

“Ada, tapi udah sering. Kalau nemenin Binta di kantin kan jarang-jarang.”

Binta cuma bisa geleng-geleng kepala. Di satu sisi ia ingin sekali tersenyum, karena memang menyenangkan sekali mendengar lelucon Nug. Tapi di sisi yang lain, Binta tidak mau Nug merasa dekat dengannya. Binta mau ia tetap berjaga jarak dengan Nug, atau bisa dibilang, Nug tidak boleh bergabung dengan dunianya.

“Ta?”

“Hmm?”

“Pernah pacaran, nggak?”

Dengan percaya diri Binta menjawab, “Ya, enggaklah!”

“Ah masa? Waktu SMA?”

“Nggak pernah, Nug.”

“Tapi SMA kan masa paling indah yang bisa terjadi di hidup kita, Ta.”

“Nggak selalu.”

“Masa, sih?”

“Nanti deh, kalau kamu jadi temanku, kamu akan ngerti.”

“Kalau suka sama orang? Pasti pernah kan, Ta?”

Pertanyaan Nug membawa Binta kembali pada hari itu, beberapa tahun lalu. Kembali pada sosok itu, yang hanya dengan mengingatnya, menjadi kebahagiaan Binta paling sederhana dan paling mudah untuk dilakukan.

“Memangnya, suka itu apa, Nug?”

“Suka itu… ya… kalau kamu merasa senang karena orang itu.”

“Berarti pernah.”

Nug agak terkejut, ada bagian dalam perasaannya yang terasa sedikit ngilu, “Oh iya?”

“Biru namanya.”

“Biru? Beneran Biru namanya?”

“Iya, Biru.”

“Masih suka nggak, Ta?”

“Aku suka sama dia sekali-sekali doang. Nggak setiap waktu. Nggak sering. Jarang. Soalnya, dia orang yang rumit dan nggak pernah menetap di satu titik. Dia terlalu ngebingungin. Menurut aku, suka sama orang sejenis dia, cuma buat capek sendiri.”

“Kalau sekarang? Lagi suka sama dia nggak?”

“Nggak.”

Nug langsung tersenyum lebar, “Aku pesen mie bakso dulu ya, Ta!!”

***

“Kamu beneran nggak masuk kelas?”

“Udah telat setengah jam, Ta.”

“Siapa tau masih boleh masuk.”

“Percuma kalau di kelas tapi pikiranku di kantin. Kasihan ada princess sendirian.”

“Nug…”

“Loh? Benar, kan?”

Binta menggelengkan kepalanya, “Sampai kapan pun aku tidak akan jadi princess.”

“Ikut aku, yuk.”

“Ke mana?”

“Udah, ayo!” seru Nug sambil beranjak pergi.

“Nggak mau!”

Dari kejauhan Nug memperlihatkan tas ransel Binta, Binta memeriksa tas yang tadi ada persis di sebelahnya, kini berpindah ke tangan Nug. Ia membalasnya dengan cemberut. Dalam hati ia menyampaikan kebingungannya, Kapan dia ambil tasku ya?

“Binta? Bintaaa?”

“Hhhh, iya-iya sebentar!”

Binta berjalan dengan membawa botol air mineralnya yang belum habis, dan juga dengan wajah kesal yang belum hilang, tentunya. 

“Aku tidak mau diajak beli burung merpati lagi lho, Nug.”

“Iya, bukan ke pasar burung kok.”

“Terus ke mana?”

“Toko cermin.”

“Toko cermin?”

Nug tidak menjawabnya lagi. Ia hanya meneruskan langkahnya sampai keluar gerbang kampus. Kali ini gantian Binta yang mengikutinya dari belakang. Kalau bukan karena tas ranselnya berada di genggaman Nug, ia pasti tidak akan mau ke mana-mana sekarang.

Mereka menunggu bus kota yang lewat. Sesekali Binta menengok jam tangannya untuk menandakan pukul berapa manusia ini menyita waktunya. Berbeda dengan Nug, ia justru asyik menonton Binta yang dari tadi sibuk sekali bermain dengan kegelisahannya.

“Kayak lagi sama penculik aja,” ledek Nug.

“Mukamu cocok jadi penculik.”

“Ya… sedikit.”

“Lama banget busnya, tumben.”

“Segitu keselnya ya harus menghabiskan waktu sama aku? Dicatat saja berapa lama, nanti waktumu aku ganti.”

“Pakai apa?”

“Pakai cintaku.”

“Ih! Mendingan nggak usah.”

Nug tertawa. Ia memang senang sekali mengganggu nona manis yang hobinya marah-marah itu. Setelah sekitar sepuluh menit menanti, akhirnya busnya datang juga. Yang paling lega tentu saja Binta. Ia langsung naik duluan. Tidak peduli Nug ikut naik atau ketinggalan di halte. Beruntungnya, kala itu bus tidak terlalu penuh. Binta duduk, dan Nug duduk di seberangnya. 

“Berharap aku tidak ikut naik, ya?”

“Tasku hilang kalau kamu tidak ikut naik.”

“Tidak akan hilang, Ta, kan tasnya sama aku.”

“Mana ada barang yang aman di tangan pencuri,” Binta gantian meledeknya.

“Kamu jangan terlalu ngeselin deh, Ta, aku malah makin suka. Coba bersikap manis sama aku, siapa tau aku jadi benci.”

Penumpang di sekitar ikut tersenyum mendengar percakapan mereka. Untung saja di dalam bus tidak ada tulisan dilarang bicara. Nug terus memperhatikan Binta dengan senyuman yang tidak mau ia singkirkan dari wajahnya, membuat Binta yang sesekali sadar dengan perhatian Nug itu menjadi semakin geram dengan laki-laki ini.

“Pacarnya ya, Neng?” sahut ibu-ibu yang duduk di sebelah Binta.

“Kalau pacar masa duduknya gak sebelahan, bu,” jawab Binta bergurau.

“Ibu mau kok tukeran sama dia,” tanggap si ibu dengan serius.

“Eh, enggak Bu, saya bercanda, itu cuma teman kuliah.”

Di tempat duduknya, Nug menahan tawa. “Sudah saya tawarin, Bu, tapi dia nggak mau..” kata Nug meledek.

Binta melotot, “Nug!”

“Masa muda itu harus dinikmati, Neng, dan mencinta itu salah satu cara menikmatinya.”

Binta cuma tersenyum maksa. 

“Iya nanti kapan-kapan saya coba deh, Bu.”

“Coba mencintai orang?”

Binta mengangguk, “Iya…”

“Loh, kenapa nanti kalau bisa sekarang? Pacaran dengan teman sendiri itu seru lho, Neng…”

“Aduh, bu, saya belum siap, lagian nggak mungkin dia.” jawab Binta sambil menunjukkan wajah ”Ogah banget gue.” 

“Hati seseorang itu selalu butuh pasangannya, Neng.”

Binta menelan ludah. Nug masih saja menahan tawa. Padahal semesta merestui mereka. Tapi percuma kalau Binta memenjarakan hatinya di dasar laut dan lupa di mana menaruh kuncinya.

Halte tempat mereka tuju sudah sampai. Nug turun diikuti Binta sambil nyeletuk,

“Gimana? Sudah mau belum jadi pacarku?”

“Nug sekali lagi kamu nanya itu aku pukul.”

“Pukul pakai hatimu aja biar rasanya menyenangkan.”

Binta berbalik, “Dah, aku pulang.”

“Iya-iya, udah yuk, nanti kalau kelamaan bisa membusuk.”

“Apanya?”

“Perasaanku.”

“Hhh!!!” jawab Binta sambil berlalu. Nug hanya tersenyum sendiri melihat tingkahnya. Ia masih membawa tas Binta yang jadi jaminan sampai misinya hari itu selesai.

***

“Terus? Ngapain?”

Mereka sudah berdiri tepat di depan toko cermin. “Ya nggak ngapa-ngapain, Ta.”

“Masa kamu ngajak ke sini tapi gak ngapa-ngapain?”

“Kamu maunya ngapain?”

“Aku cuma mau tasku, terus pulang.”

“Jangan pulang, Ta,”

“Ya makanya yang jelas!”

“Tadi di kantin kamu bilang apa.”

Binta mengingat-ingat kembali, “Tau. Lupa.”

“Ya, udah kalau lupa. Binta tunggu sini sebentar, aku mau beli cermin dulu.”

“Cermin buat apa sih?”

Nug masuk ke dalam. Menemui penjual cermin yang sedang sibuk mengelap kaca-kaca yang berdebu.

“Yang ini berapaan, Pak?”

“Itu seratus lima puluh aja, Mas,”

“Ya sudah, satu ya Pak, tolong dibungkus dan diberi tali rafia supaya mudah bawanya.”

Nug keluar membawa jinjingan besar dan agak panjang. Binta yang melihatnya cuma bisa geleng-geleng kepala. 

“Cermin di rumah pecah sampai harus beli segala?” tanya Binta heran.

“Cermin di rumah masih bagus.”

“Terus?”

“Binta diem aja, nanti haus.”

Mereka kembali berjalan menelusuri trotoar yang lebih sering dipijak kendaraan roda dua itu. Sesekali Binta memeriksa handphonenya, berjaga-jaga kalau Bi Suti menghubunginya. Tapi tidak ada pemberitahuan apa-apa. Mungkin mamanya sedang tidur siang, atau melamun dekat jendela, atau bisa juga sedang makan siang. Sebenarnya Binta tak perlu terlalu khawatir, karena mamanya juga tidak akan melakuan apa-apa selain duduk diam di kursi roda.

“Ta, ada rujak tuh, mau nggak?” tanya Nug tiba-tiba.

Binta menggelengkan kepala menolaknya.

“Kalau dikasih pertanyaan, jawabanmu akan selalu tidak, ya, Ta?”

“Gak juga.”

“Apa pertanyaan yang jawabannya iya?”

“Binta mau pulang ya?”

Nug tersenyum lebar, “Ya sudah, jawab tidak terus saja. Asal kamu jangan bosan menjawab pertanyaanku yang jawabannya akan selalu tidak.”

Semesta, aku tau hubungan kita tidak pernah baik. Tapi kali ini aku benar-benar butuh bantuanmu. Aku mau pulang. Aku sudah muak sekali dengan orang ini. Tolong datangkan hujan, atau badai, atau apa saja, supaya dia bisa menyerah dengan rencananya, ucap Binta dalam benaknya.

“Kenapa melamun? Lagi mikirin cara supaya bisa kabur dari aku ya?”

“Iya!”

“Besok aku bawain kotak kesabaran, ya? Bisa kamu pakai ketika tingkat kekesalanmu sama aku sudah berada di puncaknya.”

“Gak usah!” ketus Binta sambil berjalan pergi.

“Rujaknya, Ta?!”

Binta tidak menghiraukannya. Nug segera membeli sepotong buah pepaya untuk ia makan sambil jalan. Padahal ia ingin sekali beli satu porsi dengan sambal rujaknya. Tapi ada yang lebih ia inginkan; Binta.

“Ta, tunggu, Ta!”

“Nih sebenernya mau ke mana sih, Nug?”

“Binta capek ya? Mau naik taksi aja? Naik taksi aja deh, emang jauh sih kalau jalan kaki.” setelah berucap Nug segera memberhentikan taksi yang pas sekali sedang lewat.

“Pak, ke Toko Kostum Sumber Cahaya.”

Binta segera menyahut, “Toko Kostum?!”

“Nih, minum dulu, kamu pasti haus,” jawab Nug dengan memberinya sebotol air mineral yang tidak Binta terima.

“Pacarnya ya, Mas?”

“Sebentar lagi, Pak.”

“Apaan sih!” dengan sigap Binta menyikutnya.

Supir taksi itu tertawa, “Bapak jadi ingat masa muda ahahaha. Si Mbak sama Si Mas ini cocok sekali lho…”

“Memang sangat cocok, Pak. Sudah saya tawarin jadi pacar saya tapi belum diterima.”

Binta tak kuasa menahan amarah, ia merasa harga dirinya terancam, “Maaf, Pak, ini temen saya emang suka gila kalau di jam-jam segini.”

Jawaban Binta ternyata memancing perang yang baru, “Ciee… sudah hafal sama kebiasaanku, nih?”

Supir taksi itu menahan tawa, Binta cuma bisa tersenyum walah dalam hatinya ia ingin sekali melempar Nug keluar mobil.

“Nanti aku tanya lagi ya, Ta? Aku nggak bosen kok nanyanya,”

“Nanya apa?”

 

“Itu nanya kamu kapan mau jadi pacarku?”

Tags: No tags

2 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *