5

Kata — Bab 5

5

 

BAB 5 – RUMAH ADALAH KOTA MATI

 

Salah sekali memang naik taksi di hari kerja, karena Jakarta sulit dijadikan teman. Rumit sekali peraturan di kota ini. Untuk manusia yang tidak bisa diatur dengan peraturan, Binta lebih senang menghabiskan waktunya di rumah. Karena baginya, rumah adalah kota mati yang tidak bisa memaksanya patuh dengan peraturan.

“Ah, pake macet segala, sih!” 

“Macet itu juga takdir, Ta. Mungkin Tuhan ingin kita berlama-lama di dalam mobil, supaya aku punya lebih banyak waktu denganmu.”

“Berarti Tuhan tidak adil.”

“Dia Maha Adil, Binta…”

“Kalau memang takdir-Nya adalah macet, berarti yang bahagia cuma kamu.”

Nug tertawa, “Sebentar lagi kamu juga ikut bahagia.”

“Kalau di sebelahku masih ada kamu, tidak ada yang namanya bahagia.”

“Hmm…. kalau berada di sebelahmu sudah tidak ada kesempatan lagi, berarti di hidupmu boleh ya, Ta?”

Aneh sekali rasanya ketika Nug mengeluarkan kalimat menggelikan itu. Aku bahkan sekarang tidak tahu itu hanya lelucon atau memang sungguhan. Kuharap ia tidak benar-benar serius. Aku tidak suka membuat percakapan serius dengan orang aneh itu, sungguh, pikir Binta.

“Hidupmu kurang seru sampai harus menggangguku?”

“Sebenarnya hidupku sudah seru, tapi belum indah.”

“Nug, kamu makan apa sih?”

“Makan apa maksudnya, Ta?”

“Kamu aneh.”

“Loh bukannya katamu aku memang aneh?”

“Ya iya sih, tapi sekarang makin aneh.”

“Makanya jangan terlalu diperhatikan, Ta. Nanti kalau kamu tiba-tiba jadi makin nyaman denganku, kan, kamu sendiri yang tidak mau…”

Binta akhirnya diam. Ia memilih tidak lagi meneruskan percakapan yang selalu berujung membuatnya jengkel. Entah dari mana Nug belajar bicara seperti itu. Kalau perempuan itu bukan Binta, pasti dengan mudah akan jatuh cinta dengan Nug. Pintar, berkharisma, tampan pula. Sayangnya perempuan itu Binta, yang bahkan senja tidak berhasil mencuri hatinya.

“Ta, kamu sukanya apa, sih?”

Binta masih pada keputusannya untuk diam membisu. Ia tidak tertarik untuk mendengar gombalan Nug yang semakin membuat perasaannya merasa ada yang keliru. 

“Ta? Taa? Bintaaa?” Nug terus memanggil Binta selayaknya anak kecil yang memanggil temannya dari luar pagar untuk diajak bermain.

“Payah, Binta tidak mencerminkan anak komunikasi yang baik.”

“Biarin.”

“Ayo jawab dong, Ta,”

“Aku nggak suka apa-apa, Nug.”

“Nggak mungkin.”

“Ya udah kalo nggak percaya.”

“Jangan terlalu menutup diri sama dunia, Ta.”

“Dunia yang terlalu sibuk untuk aku ajak bicara baik-baik.”

 “Maksudnya, Ta?”

“Kamu nggak perlu ngerti. Di sini aku yang anak komunikasi.”

“Sudah sampai, Mas, Mba.”

Binta keluar dari taksi lebih dulu. Hatinya itu memang sensitif sekali. Kalau ada orang yang berusaha memberinya nasihat pasti berakhir dengan pendapatnya yang harus selalu benar. Itu salah. Binta pun tahu itu salah. Tapi dia sudah telanjur tidak peduli.

Halloween masih lama, Nug.”

“Bukan untuk Halloween, tapi untukmu.”

“Untukku?”

“Air mineralmu sudah habis, kan? Kalau kamu haus, aku yang repot.” jawab Nug sambil memasuki area toko.

“Siang, Mas, ada yang bisa dibantu?”

“Saya cari kostum yang mirip-mirip princess seperti di Disney gitu, Mba, ada nggak?”

“Oh, ada-ada. Mari ikut saya, Mas.”

Binta memanggil Nug, “Mau apa sih, Nug?”

Nug sama sekali tidak menghiraukannya. Ia lantas mengikuti Mba penjaga toko tadi. “Maunya princess apa, Mas?”

“Ha?” Nug kebingungan sendiri.

Binta yang dari tadi cuma berdiri dan memerhatikan Nug ribet seperti itu, tidak kuasa menahan tawa, “Hahaha, princess itu ada banyak, Nug.”

“Oh… iya.. ya?”

“Makanya besok lagi riset dulu.”

“Jadi besok mau pergi denganku lagi?”

“Gak.”

“Memangnya ada princess apa aja, Mba?”

“Ada Aurora, Cinderella, Snow White dan Belle.”

Nug berbisik ke telinga Binta dengan wajah sedikit ragu, “Ta, Belle itu yang pangerannya dikutuk jadi monster itu bukan sih? Yang wajahnya jelek.”

“Iya bener.”

“Aha! Ya sudah, Mba, yang Belle saja. Tolong dicarikan ukuran yang seperti ini ya,” jawab Nug sambil menunjuk Binta.

Mata Binta langsung membelalak saking kagetnya, “Aku?! Kok aku!!!”

“Udah deh…” jawab Nug santai walau sebenarnya ia takut sekali dipukul Binta.

Binta benar-benar geram, ia mengepal tangan kanannya seperti sedang ambil posisi untuk memukul seseorang yang tidak lain tidak bukan adalah Nug. 

“Mari Mba ikut saya,” dengan mudahnya si Mba penjaga toko mengajak Binta mengepas kostum yang sudah Nug pilihkan untuknya. Walau anaknya sangat dingin, ia tidak suka berlaku galak dengan seorang pegawai yang cuma sedang melakukan tugasnya. Jadi untuk kesekian kalinya, Binta harus menurut.

***

Setelah mendapat ukuran yang pas, Nug segera membayar kostum Belle itu di kasir. Sedangkan Binta menunggu di luar, wajar, ia pasti sedang berada di puncak kekesalannya. Berulang kali mondar-mandir, antara resah atau mungkin sedang menggerutu di dalam hatinya. Dari dalam toko, Nug menonton kegelisahan Binta sambil terus berpikir, Kenapa Binta tidak mau dibuat bahagia? Tuhan, Kau ciptakan dia dari apa? Padahal wujudnya indah, sayang sekali kalau hatinya tidak pernah dipedulikan.

Nug akhirnya keluar setelah kostum itu sudah dibungkus dengan rapi, dan perlahan ia menghampiri perempuan yang dari tadi ia buat kesal, “Bukan untukmu kok, Ta,”

Binta menoleh lega, “Beneran?”

“Iya, sepupuku mau ulang tahun, postur tubuhnya tidak jauh beda denganmu.”

“Duh kirain,”

“Tapi kalau kamu juga mau, aku belikan, Ta,”

“Jangan cari masalah.”

“Ehehehe iya ampun-ampun, Binta mau ke mana lagi?”

“Yakin nanya?”

“Nggak sih, makan yuk, aku laper.”

Percuma kalau dijawab. Selama jawabannya tidak sama dengan Nug, selama itu pula jawaban Binta cuma sebatas angin lalu. Karena Nug tahu, Binta cuma ingin pulang, dan ia tidak mau itu terjadi.

Ketika bersama Binta, aku lebih merasa dunia ini punya arti yang berbeda. Aku merasa ada senyuman hilang yang harus segera kutemukan.” kata Nug dalam hati sambil mengajak Binta jalan kaki, katanya ada warung sate yang enak di dekat situ.

Nug menenteng cermin dan kresek berisi kostum yang ia beli tadi. Punggungnya masih menggemblok tas ransel Binta. Ia takut kalau dikembalikan, Binta akan langsung kabur naik metro mini. Sedangkan Binta yang sejak dari toko melipat tangannya karena tidak membawa barang bawaan apa-apa, melirik ke arah Nug yang tetap berjalan seakan tak membawa beban. Warung satenya memang dekat, ketika sampai Binta segera duduk disusul Nug yang meletakkan barang-barangnya di dekat meja.

“Binta mau apa? Sate ayam atau sate kambing?”

“Aku nggak laper.”

“Tapi kamu belum makan apa-apa, Ta, tadi di kantin kan cuma minum air putih.”

“Tapi kamu yang dari tadi bawa ranselku, berat tau.”

“Hah?”

“Kamu dulu aja,”

“Mas, sate ayamnya sepuluh tusuk, nasinya satu, es teh manisnya satu.” kata Nug pada si penjual sate.

“Pacarnya gak pesan, Mas?” gantian si penjual sate berbalik tanya yang membuat Nug tertawa, “Hahaha, dia maunya sepiring berdua, Mas…” jawab Nug iseng.

Binta segera mencubit kecil tangan kanan Nug yang spontan membuatnya teriak,

“Aduh, Ta!”

“Kamu tuh nyebelin banget, tau?”

“Ah masa sih, Ta?” jawabnya sambil memeriksa bekas cubitan Binta yang ternyata memerah di tangannya itu, berarti tadi Binta benar-benar kesal.

“Mau kucubit lagi?! Seumur-umur belum pernah aku sekesal itu sama seseorang sampai harus kucubit kecil.”

Nug melongo, “Ha? Beneran, Ta?”

“Beneran apanya?”

“Aku orang pertama yang kamu cubit kecil?”

“Hhhh! Kenapa sih kamu selalu salah mengartikan maksudku!”

Nug menyodorkan tangan kirinya, “Nih, Ta, tangan yang satunya lagi belum.”

“Nug!!”

“Kamu itu jangan terlalu kesal denganku, nanti kesalnya berubah jadi kangen.”

“Nugraha, kamu itu emang gak akan bisa jadi temanku.”

“Iya sih, aku mikirnya juga begitu. Aku memang lebih cocok jadi pacarmu.”

Binta beranjak, “Dah ah pulang yuk,” wajahnya semakin menggambarkan kepasrahannya. Ia benar-benar sudah tidak sanggup menghadapi Nug.

“Iya-iya, maaf ya Binta. Sekarang kita makan dulu, habis itu baru tasmu kukembalikan.”

“Padahal tasnya gak penting-penting amat, kenapa juga aku harus menggantungkan waktuku pada benda mati itu.”

“Ya berarti karena kamu memang senang buang waktumu untukku.”

“Terserah. Aku capek emosi sama orang aneh.”

“Berarti kamu gak akan kesal lagi denganku?”

“Nug kenapa sih tiap kali aku bilang A selalu kamu maknainya dengan B?”

Satenya datang tepat ketika Nug ingin menjawab pertanyaan Binta. “Yakin gak mau? Ini terkenal enak lho, Ta,” tanya Nug berusaha menawarkan Binta sekali lagi. 

“Terkenal atau enak?” 

“Maksudnya?” 

“Iya terkenal karena enak, atau enak jadinya terkenal?”

“Maksudnya, maksudnya gimana, Ta?”

“Ngomong sana sama tembok.”

Nug mulai menggigit sate ayam yang ia celupkan terlebih dulu ke sambal kacangnya. Binta cuma duduk manis, melihat si bapak mengipas-ipas sate untuk pelanggan berikutnya. Berbeda dengan yang sedang makan, sambil mengunyah, Nug terus saja memandangi wajah Binta.

Mungkin kini memandangi wajah Binta jadi hobi baru yang sedang ia tekuni, tak peduli diizinkan atau tidak, ia akan terus melakukan itu.

Percaya atau tidak, memandangi wajah Binta seperti melihat pemandangan indah di dimensi yang tak akan pernah sanggup kudatangi. Untung saja memandanginya masih gratis, kalau berbayar, entah sudah berapa banyak biaya yang kukeluarkan, kata Nug dalam hati sambil terus melakukan kegiatan yang ia lakukan sejak tadi.

***

“Aku antar pulang ya?”

“Nggak usah, barang bawaanmu terlalu banyak, ribet. Sudah mana tasku?”

“Gak ribet kok, Ta, aku sanggup bawanya,”

“Aku yang ribet ngeliatnya,”

“Cuma sampe depan komplek deh, Ta?”

“Nug? Udah deh, kayak ga ada besok aja,”

“Berarti kalau besok boleh?”

Mereka berdua sudah berdiri di pinggir jalan. Mata Binta tertuju pada kendaraan yang lewat, ia tidak mau sampai ketinggalan metro mini. Nug cuma berusaha mencari ide supaya bisa mencegah Binta pulang, walau sama sekali tidak ada celah.

Rasanya aneh sekali kalau Binta mau pulang. Tidak tahu. Ini aneh. Aku cuma ingin ikut dia kemana pun. Kemana pun, pikirnya.

Dari kejauhan sudah terlihat metro mini arah rumah Binta, ia segera bersiap-siap,

“Nah itu dia, akhirnya.”

“Kayak habis keluar dari penjara ya, Ta? Bebas ya kalau udah gak sama aku?”

“Hmm… sedikit,”

Metro mininya semakin dekat. Tiba-tiba ada sesuatu yang berlari di dalam perasaan Nug. Sesuatu yang memaksanya untuk bilang, “Ta? Bagaimana kalau yang keluar dari mulutku beneran?”

Binta yang sedang siap-siap untuk memberhentikan metro mini langsung menoleh ke arah Nug dengan wajah bingung, “Hah?”  

“Kalau aku menyukaimu gimana, Ta?”

Rasanya seperti melihat meteor jatuh. Fokusku buyar. Aku masih mengira ini mimpi, atau mungkin Nug keracunan sate ayam yang ia makan tadi. Aku harus apa? tanya Binta pada dirinya sendiri.

Metro mininya sudah tepat berada di depannya, kernetnya pun sudah menyuruh Binta untuk buru-buru naik. Dan dari semua kosa kata yang ada di kepalanya, Binta memilih untuk mengucapkan, “Berarti itu salah.”

Akhirnya ia naik, meninggalkan Nug dengan banyak perasaan yang baru. Pikiran Binta ke mana-mana. Ia tahu percakapan antara mereka belum tuntas, dan ia tidak suka meninggalkan sesuatu yang belum selesai. Ia tidak mau ketika sampai di rumah pikirannya masih ada pada masalah itu. Sempat berpikir untuk turun kembali, tapi ia mencegah niatan itu.

Lagi pula, iya pasti cuma berandai-andai. Dalam kalimatnya masih ada kata bagimana. Berarti itu bukan pernyataan yang harus dijadikan masalah. Tidak mungkin juga dia menyukaiku. Dia pasti hanya sedang berusaha membuatku kesal lewat lelucon seperti biasanya, begitulah pembelaan Binta dalam hati. Walau sebenarnya, semakin memberi pembelaan, ia semakin merasa bahwa yang ia lakukan itu salah.

Selama duduk di dalam metro mini, ia terus berdoa supaya kendaraan ini nyasar ke Merkurius, atau terbakar di matahari. Karena Binta tahu akan ada masalah baru ketika ia turun dari metro mini ini.

Tidak, itu bukan masalah baru yang harus aku selesaikan.

***

Binta membuka pintu rumahnya, “Mamaa, mamaa… Binta pulaang,” dengan cepat ia melupakan perkara aneh yang menghantuinya selama kurang lebih satu jam itu.

Sang Mama sedang duduk dekat kolam yang ada di belakang rumahnya, padahal ikannya selalu mati karena airnya jelek. Tapi Binta tetap mengisi kolam itu dengan ikan koi karena ia paham betul betapa sang mama mencintai ikan yang katanya membawa keberuntungan itu.

“Mama lagi apa?”

Dalam hati Binta menjawab sendiri pertanyaan yang ia tanyakan, Binta, apa kamu tidak lihat? Ia sedang duduk. Duduk. Cuma duduk.

“Sudah ada ikan yang mati lagi belum, Ma? Oh iya, Ma, Binta mau cerita tentang seorang laki-laki yang beberapa hari lalu Binta ceritakan ke mama. Namanya Nugraha. Tidak tahu pasti maksud dia apa, tapi dia selalu mengangguku. Menurut Mama, dia mau apa? Karena kalau dipikir-pikir, tidak ada yang bisa ia dapatkan dari Binta, lalu untuk apa dia ngotot ingin jadi teman? Aku tidak mau dia masuk ke dalam dunia Binta, Ma, Binta takut dia kecewa setelah tahu apa yang ada di dalamnya.”

Seperti sebuah fenomena langka, ada keajaiban yang langsung terjadi. Walau tak memberi reaksi pada wajahnya, sang mama tiba-tiba mengangkat tangannya kemudian memegang pipi Binta. Binta menangis. Ya, ia menangis sebisa mungkin. Tangisan yang sudah bertahun-tahun ia sembunyikan dari rembulan dalam hidupnya itu.

Bi Suti mengetuk pintu, “Kak Binta? Itu ada kurir di depan, mengantar paket,”

“Dari siapa, Bi?”

“Ndak tahu, Kak…”

“Sebentar ya, Ma,” kata Binta sambil mencium tangan beliau sebelum beranjak.

Ia buru-buru ke depan rumah, benar, ada kurir.

“Atas nama Binta Dineschara?”

“Iya, Mas, saya sendiri.”

“Mohon tanda tangan di sini, Mba,” katanya sambil memberi kertas tanda terima.

“Maaf tapi dari siapa ya?”

“Di atas paketnya ada surat dari pengirimnya kok, Mba,”

“Oke, makasih ya, Mas.”

Dari bentuknya familiar sekali. Ia langsung curiga bahwa paket itu adalah dari seseorang yang ingin sekali ia usir dari bumi. Ia mengambil amplop berisi surat yang menempel di bungkusan itu. Ketika di buka, tertulis;

 

Ini untukmu, Ta. Aku bohong. Tidak ada sepupuku yang sedang berulang tahun. Cermin beserta kostum Belle ini kuberikan supaya kamu percaya bahwa seorang yang mengaku cuma Binta itu bisa jadi princess. Seperti Belle dan pangeran buruk rupanya. Walau baru sebentar mengenalmu, rasanya kamu berhasil menghilangkan kutukan yang tadinya ada di dalam hidupku. Rasanya sekarang duniaku jadi lebih menyenangkan. Makanya aku ingin sekali diizinkan mengunjungi duniamu itu, Ta. Tidak usah besok, tidak usah lusa, aku akan menunggu sampai kamu mengizinkan.
— Nug

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *