6

Kata — Bab 6

6


BAB 6 – HUJAN TAK BUTUH ALASAN UNTUK JATUH


“Kecepetan, Man,” ucap Cahyo sambil meneguk teh tawar panas.

I know. Tapi apa bedanya kemarin sama lusa? Apa bedanya sekarang sama besok?”

“Binta itu manusia yang selalu butuh waktu yang lama, seperti kura-kura. Lo salah kalau terlalu terburu-buru.”

Mendengar itu Nug tertegun, selayaknya mobil yang mengerem mendadak karena ada kura-kura yang tiba-tiba melintas entah dari mana datangnya. 

Cahyo menepuk bahunya, “But it’s fine, seenggaknya lo jujur. Cuma lo musti siap dengan segala bentuk dari reaksi Binta nanti.”

“Dia bakal marah, Yo?”

“Sebenernya dia cuma kaget, tapi mungkin reaksinya bakal marah. Tapi gak tau juga, ya udah, gue ke kelas dulu. Good luck, Man.” kata Cahyo yang kemudian beranjak.

Suasana hati Nug berubah tidak tenang, mendadak ia ingin sekali mendengar kabar Binta setelah mendapat paket darinya kemarin. Ia terus memikirkan keputusannya yang ternyata berujung pada sebuah kesalahan fatal. Ia takut Binta menjauh, ia takut ia semakin jauh dari dunia Binta yang sangat ingin ia kunjungi sejak pertama kali bertemu dengannya.

“Nug, gak kelas?” 

Teman satu kelasnya memecahkan lamunan yang dari tadi menjadi fokusnya, “Iya, bentar lagi.”

***

Di dalam kelas pun begitu. Mata kuliah “Struktur dan Konstruksi Bangunan Bertingkat Tinggi” tidak berhasil mencuri perhatiannya sedikit pun. Padahal itu lebih penting, ketimbang seorang perempuan cuek yang sekarang ada di kepalanya itu.

Dari dalam hatinya, muncul satu pertanyaan yang dari tadi terus berulang, Bagaimana kalau Binta menjauh?

Ya. Nug cuma ingin dekat, dan kalau ternyata apa yang ia lakukan kemarin justru membuat Binta menjauh, entah akan seberapa kecewanya dia dengan dirinya sendiri. Mahasiswa dengan IP tertinggi di kelasnya itu ternyata bisa membuat kesalahan juga, sambil melamun ia terus menghina dirinya dalam hati, Ternyata benar, Binta lebih sulit dari soal matematika, dan gue gak bisa memecahkan persoalannya. Mungkin guenya yang terlalu bodoh atau Binta yang terlalu rumit, seperti soal yang tidak bisa diselesaikan.

Keresahannya itu membuatnya berdiri dari bangku tempat ia duduk, membuat seisi kelas langsung melihat ke arahnya. Awalnya, ia tidak sadar dengan apa yang ia lakukan, tapi kemudian ia bilang, “Maaf pak, saya harus keluar sebentar.” katanya pada dosen yang sedang ada di depan lalu ia pergi keluar kelas.

Ia bergegas, berlari menuju gedung fakultas ilmu komunikasi, tempat Binta berada pastinya. Ia menaiki tangga, menyusuri lorong, sampai akhirnya ia berdiri tepat di depan kelas dimana Binta seharusnya ada. Tanpa berpikir dulu, tanpa mengetuk pintunya dulu, ia langsung membuka pintu, dan mulutnya berucap, “Binta!?”

Semua yang ada di dalam kelas langsung menoleh, termasuk dosen yang terkenal galak itu. Matanya terus mencari seorang perempuan yang gemar pakai kaos berwarna hitam, dan dikuncir satu ke belakang dengan walkman yang tersambung di telinganya. Kemudian ia melihat Cahyo, yang menggelengkan kepalanya, seakan memberi isyarat bahwa Binta tidak ada di kelas, bahwa dia tidak masuk hari ini.

Ketika mengetahui itu, Nug langsung bergegas ke parkiran motor. Ia takut ada sesuatu terjadi pada Binta. Mungkin tadi Binta terlambat lagi masuk kelas, jadinya dia pulang. Tidak tahu kenapa, tapi Nug yakin bahwa Binta pasti pulang ke rumah. Benar, rumah, satu-satunya ruang yang nyata untuknya di bumi, yang tidak pernah membuatnya pergi kemana-mana.

***

Ia matikan motornya di depan pagar rumah Binta, melepas helm, turun, kemudian berusaha membuka pagar rumah Binta dengan keresahan mendalam yang ia rasakan.

“Binta!!!” 

Tidak ada jawaban.

“BINTAA!!!!” ia teriak.

Di dalam, Binta mengintip dari balik jendela. Perasaannya merasakan sesuatu yang jarang sekali muncul. Bi Suti menghampirinya dengan kain lap yang selalu ada di bahu sebelah kanannya itu, “Kak Binta, itu temannya ada di luar.”

“Iya, Bi, biar aku aja.” jawab Binta sambil meninggalkan jendela tempat ia mengintip Nug yang masih berdiri di depan pagar.

Berat sekali langkahnya untuk keluar dan membuka pintu untuk menemui Nug. Tapi Binta harus berani, karena yang di depan itu cuma Nugraha, bukan masa lalu yang bisa menghantuinya seperti dulu.

Nug menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka, apalagi ketika ia lihat Binta sendiri yang membukakan pintu. Mulutnya bersuara pelan, “Binta?”

Binta menghampirinya dan membuka gembok pagar. Di luar dari perkiraan Nug sebelumnya, Binta tidak langsung marah-marah. Padahal ia sudah menyiapkan dirinya untuk dibentak-bentak oleh Binta, namun yang terjadi justru sebaliknya.

“Hei, Ta,”

“Masuk,”

“Aku boleh masuk, Ta?” tanyanya dengan wajah terkejut.

“Ya udah kalau kamu mau di luar.” kata Binta lalu kembali masuk ke dalam.

Tentu saja Nug buru-buru mengikutinya dari belakang dengan senyuman lebar yang tidak bisa disembunyikan.

Binta mengajak Nug ke ruang tamu dan memintanya duduk, “Mau minum apa?”

“Aku cuma mau ketemu kamu doang kok, Ta,”

“Ini udah ketemu, terus mau apa lagi?”

“Mau mastiin kamu gak kenapa-kenapa, soalnya kamu gak ada di kampus tadi.”

Belum lama duduk, Binta langsung beranjak, “Sini, ikut,”

Nug agak bingung, karena ketika mengucapkan itu, muncul kesedihan yang besar dari wajah Binta. Selayaknya langit cerah berubah mendung seketika.

Ia berjalan mengikuti Binta. Sepertinya menuju halaman belakang. Nampak seorang perempuan terduduk di kursi roda dekat kolam ikan. Mamanya Binta, tentu saja.

Nug mulai merasa ada yang aneh, “Ta? Binta?”

Tapi Binta tak menjawab, ia terus berjalan menghampiri mamanya, membuat Nug yang tidak tahu apa-apa semakin kebingungan.

“Ma, ini ada temanku,” kata Binta lembut sambil membungkukkan tubuhnya untuk berbisik.

Nug kaget, pastinya. Wajahnya membeku, perasaannya seperti batu yang tiba-tiba retak, matanya fokus pada Mama Binta tanpa berkedip. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang ia lihat sekarang benar-benar nyata. Ia harus bisa menguatkan hatinya untuk melihat sesuatu yang selama ini ternyata menjadi alasan Binta tidak mau membuka dirinya untuk dunia.

“Nug?” tanya Binta memastikan bahwa Nug sudah sadar dari kagetnya.

Sikapnya berubah 180 derajat, ia langsung memasang senyum yang lebar, dan menghilangkan wajah kagetnya tadi. Ia lantas mencium tangan Mama Binta kemudian menyapanya hangat, “Halo, Tante, saya Nugraha, temannya Binta. Tapi anak tante lebih senang panggil saya Nug, karena Nugraha kepanjangan. Berhubung Binta ini nggak suka bicara banyak-banyak.”

Di sini Binta jadi lebih kaget. Tidak ia sangka reaksi Nug akan seperti itu. Ia kira Nug akan kaget, kemudian pulang, dan ia akan terbebas dari orang aneh itu karena pasti ia tidak mampu masuk ke dunianya yang terlalu hitam.

Walau Mama Binta tidak memberi reaksi apa-apa, tapi Nug terus mengajaknya bicara, “Tante, kemarin saya sama Binta makan sate lho, yaa sebenernya saya doang sih yang makan, soalnya Binta susah diajak makan yang enak. Dia senangnya cuma minum air putih.”

Binta terus tersenyum melihat bagaimana Nug mengobrol dengan mamanya. Mereka seperti langsung akrab, Nug memberi kehangatan seperti dengan ibunya sendiri. Binta tidak percaya bahwa orang yang ingin sekali ia sulap jadi debu itu, justru berhasil menyejukkan hatinya.

“Sepertinya sudah waktunya mama istirahat,” kata Binta sambil memanggil Bi Suti yang sejak tadi melihat dari dalam untuk mengantar mamanya ke kamar.

Setelah mamanya sudah kembali ke dalam, Binta duduk di sebuah bangku taman dekat kolam ikan tadi, diikuti Nug tentunya.

“Itu duniaku, Nug. Duniaku yang kamu kira menyenangkan itu sebenarnya cuma gumpalan awan mendung yang cuma bisa menurunkan hujan.”

“Sejak kapan, Ta?”

Binta menoleh bingung, “Sejak kapan apanya?”

“Skizofrenia?”

“Sejak umurku masih lima tahun.”

“Kenapa aku boleh lihat isi duniamu, Ta?”

“Supaya kamu pergi.”

“Kamu tahu hal itu justru akan semakin membuatku tidak mau pergi.”

Binta bersikap memohon sambil memegang kedua tangan Nug, “Kamu harus pergi, Nug, duniaku cuma…”

Ia langsung memotong kalimat Binta lalu membentaknya, “Gak! Aku gak mau. Aku gak mau pergi.”

Matanya berkaca-kaca, hatinya seperti diberi dentuman keras, Binta menangis. Bentakan Nug berubah menjadi lembut, “Aku maunya di sini, Ta,”

“Nug, kamu tahu duniaku sudah terlalu berantakan.”

“Binta,” gantian ia yang memegang kedua tangan Binta, “Aku gak tahu masa lalu apa yang tega menyakitimu sampai kamu terlalu takut untuk memberi sedikit ruang untuk orang lain, dan aku juga gak bisa menyembuhkan luka yang telanjur ada pada perasaanmu, tapi aku bisa memberimu warna dan cerita yang baru asal kamu mengizinkannya.”

Binta melepas tangannya dari genggaman Nug, “Kamu harus pulang,”

“Tapi aku boleh datang lagi kan?”

“Kalau untuk kasih aku kostum konyol lagi, aku usir.”

Nug langsung tersenyum, “Hmm kalau itu gak janji sih Ta…”

“Nug!”

“Ehehehe sudah dicoba belum?”

“Apanya?”

“Kostum Bellenya,”

“Kukasih anaknya Bi Suti.”

“Demi apa, Ta?” wajah Nug berubah shock.

Binta tertawa sambil berjalan pergi meninggalkan Nug yang masih kaget campur tidak terima karena hadiah pemberiannya itu justru diberikan ke orang lain.

“Binta? Binta!”

***

Binta mengantar Nug ke depan rumah, padahal Nug masih ingin berlama-lama di sana.

“Kok aku diusir sih, Ta?”

“Kamu ke sini pasti ninggalin kelas, kan?”

“Yah, Ta, masuk kelas kan…”

“Udah sering?” potong Binta dengan melanjutkan kalimat Nug sebelumnya.

“Ta aku gak mau pulang..” katanya sambil terus mengemis izin pada Binta untuk dibolehkan singgah lebih lama lagi. 

“IP-ku memang nggak sebagus kamu, tapi aku gak mau gara-gara temenan sama aku, IP-mu jadi turun.”

Ada satu bagian dari ucapan Binta barusan yang membuat Nug kepedean, “Teman, Ta? Ini aku sudah jadi temanmu, Ta?!”

“Hah? Ih, bukan gitu maksudku…”

“Maksudmu gitu aja dong, Ta, sekali-kali bikin aku geer sedikit kenapa.”

Binta menahan tawa, “Pokoknya tetap belum.”

“Hmm… belum? Berarti kesempatan sudah ada di depan mataku ya, Ta?”

“Ah udah sana pulang,” jawab Binta sambil mendorong tubuh Nug menuju pagar rumah.

“Nanti sore aku ke sini lagi ya?”

“Ish, mau ngapain?”

“Mau menggunakan kesempatan dengan baik.”

“Alesannya selalu ada aja.”

“Makanya cepat jadikan aku temanmu, langsung jadi pacar juga gapapa.”

“Nug… jangan mulai buat aku kesel plis.”

“Ta, kamu beneran udah baca surat yang kemarin belum sih?”

“Yang ada di bungkusan paket darimu?”

“Iya, udah dibaca belum?”

“Udah.”

“Terus?”

“Terus apanya?”

“Ya aku menyukaimu, Ta.”

Binta menelan ludah, “Ya, terus aku harus gimana?”

“Yaa kamu harus siap-siap,”

“Untuk apa?”

“Untuk kucintai. Soalnya aku sudah menyukaimu, dan setelah itu pasti prosesnya berubah jadi mencintaimu. Walaupun sebenarnya aku sudah siap sih… kalau harus jatuh cinta denganmu, kamunya yang juga harus siap dicintai sama orang yang kamu benci setengah mati.”

“Nug…” cuma itu yang bisa keluar dari mulutnya, cuma itu kalimat yang bisa menutupi kegugupannya karena mendengar ucapan Nug barusan.

“Iya deh aku pulang,”

Nug berjalan keluar, menuju motornya. Tapi ketika ia baru saja mengambil helm, ia mengembalikkan helmnya lagi dan menggantungkannya di kaca spion sebelah kiri,

“Eh iya, Ta,” ucap Nug seperti kelupaaan sesuatu.

“Kenapa? Ada yang ketinggalan?”

“Enggak aku cuma lupa bilang,”

“Bilang apa? Perasaan kamu udah kebanyakan ngomong dari tadi,”

Ia meraih tangan Binta, “Binta harus kuat ya? Kalau Binta flu, atau demam, Binta harus kuat, gak boleh kalah sama flu, karena…. karena Binta adalah orang terkuat yang pernah kutemui. Tapi kalau flunya terlalu kuat… ya gapapa sih kan ada obat buat flu, ya kan?”

“Nug kamu ngomong apaan sih?”

“Pokoknya, Binta harus selalu kuat. Oh iya, satu lagi. Skizofrenia itu bukan penyakit kejiwaan, tapi hadiah dari Tuhan. Jadi jangan marah sama Tuhan karena Dia ngasih kondisi mamamu seperti itu, justru itu tanda cinta Tuhan pada mamamu, Ta. Jangan pernah dijadikan beban ya?”

Binta tersenyum. Perasaannya yang sebelumnya seperti awan mendung itu berubah menjadi berwarna biru indah dan cerah. Mungkin karena mendung memang tidak melulu berarti akan hujan, kan?

“Iya, Nug,”

“Ya udah deh, aku pulang, nanti sore aku ke sini lagi, kamu mau kubawain apa? Ah, tapi percuma kalo ditanya, langsung kubawakan saja ya.”

***

Binta masuk ke dalam setelah Nug pergi. Menghampiri mamanya yang sedang tidur di kamar. Ia tersenyum melihatnya. Mengingat kembali perkataan Nug. Memang benar, Skizofrenia itu bukan penyakit kejiwaan, tapi hadiah dari Tuhan. Binta merasa damai sekali tiap mengingat perkataan Nug yang ternyata membawa ketenangan bagi hatinya.

Ia duduk di sebelah mamanya, memulai cerita walau beliau sedang tertidur pulas,

“Ma, Nug sudah pulang.”

Lagipula tidur atau bangun, reaksinya akan sama saja. “Iya Ma, itu yang namanya Nugraha, nyebelin kan anaknya?”

“Tapi Binta masih tidak percaya. Orang yang kerjaannya cuma gangguin Binta itu ternyata bisa mengeluarkan kata-kata yang menyejukkan.”

“Binta terlalu berpikiran buruk tentang dia ya, Ma? Padahal sebenarnya anaknya baik, mungkin…”

“Yang Binta rasakan semakin aneh, Ma, sudah lamaaa sekali Binta nggak ngerasain perasaan semacam ini.”

“Tapi ini pasti hilang. Ini pasti cuma sementara. Pun dengan Nug, ia pasti akan menyerah pada waktunya. Dan ketika ia menyerah, maka perasaan yang aneh ini akan kembali normal.”

“Iya kan, Ma?”

***

Binta mendengar suara air. Seperti ada sesuatu yang jatuh ke kolam ikan. Ia terbangun, membuka matanya. Ia sadar bahwa ia baru saja tertidur. Melihat mamanya sudah tidak ada di tempat tidur, matanya langsung membelalak, “Mama? Mama!?”

Perasaannya terkuncang. Ia panik. Buru-buru ia beranjak dan berlari keluar kamar,

“Mama?? Mama???!”

Ia memeriksa ke kamar mandi, tidak ada. Ke ruang makan, juga tidak ada.
Ia berlari ke dapur, melihat Bi Suti sedang mencuci piring, “Loh, Bi? Mama mana?”

“Di halaman belakang, Kak…”

“Hah sama siapa?”

Bi Suti cuma menunjuk ke jendela yang mengarah ke halaman belakang, terlihat di sana mamanya sedang duduk di kursi roda dengan seorang laki-laki yang sekarang sangat mudah untuk dikenali, “Nug?”

Binta menghampiri mereka, “Mama?”

Nug yang menengok, “Eh, sapinya sudah bangun nih, Tante…”

Binta melihat bungkusan besar berisi air, “Ini bekas apa? Kamu bawa apa tadi, Nug?”

“Habis beli ikan mas koki, biar kolam ikannya makin ramai. Iya kan, Tante?”

“Ya ampun, Nug…?”

“Gapapa kan, Tante?”

Apa yang dia lakukan? Untuk apa dia melakukan itu? Kalau cuma karena dia menyukaiku, apa harus? Kalau cuma untuk membuatku menyukainya, apa harus? tanya Binta dalam hati.

“Saya juga suka ikan mas koki, Tante, cuma di rumah gak ada kolam ikan, jadi paling saya taruh di akuarium kecil.” 

“Pasti Binta gak suka ikan mas koki, dia itu sukanya ikan piranha, cocok sekali dengan wajahnya yang menyeramkan seperti mau makan orang. Tapi… nilainya tinggi, Tante, gak sebanding dengan ikan-ikan biasa.”

Binta menyahut, “Terus? Kamu ikan apa?”

“Ikan cupang. Tenang… damai…. sendirian….”

“Ish! Gak cocok!”

“Iya juga ya, itu mah Binta.”

“Nug!”

“Berarti aku ikan lele. Ekonomis, mudah diurusin, dan enak untuk dinikmati semua kalangan.”

“Hahaha kamu itu ikan lele atau pecel lele?”

Binta tertawa. Bahagia sekali melihatnya. Kalau saja ia berada di depan kaca sekarang, pasti ia akan sadar bahwa ia sangat cantik ketika sedang tertawa seperti itu, kagum Nug akan Binta yang cuma berani ia sampaikan dalam hati.

“Tante, Bintanya boleh saya pinjam sebentar nggak?”

“Nggak, nggak!” malah Binta yang menjawab.

“Ah, pasti boleh. Mamamu kan baik, Ta, gak kayak…”

“Gak kayak siapa?!”

“Tante, sebentar ya?” izin Nug sekali lagi untuk meminjam anak satu-satunya itu jalan-jalan sebentar.

“Aku ganti baju dulu,”

“Nggak usah, kelamaan.”

“Ish aku kayak gembel gini, Nug,” katanya berusaha membela pendapatnya dengan melihat celana hitam dan kaos kumal yang ia kenakan.

“Justru itu. Supaya kamu dikira gembel dan gak ada yang memperhatikanmu. Karena yang boleh melakukan itu cuma aku.”

“Idih! Emang kamu siapa.”

“Pacarmu, baru calon sih….”

“Hhhhh! Terserah!”

Binta meninggalkan Nug yang sedang cekikikan tertawa sendirian. Mereka kemudian berjalan keluar, motor Nug terlihat terpakir di garasi, bukan di depan pagar lagi. Tapi Nug melewati motornya, bukannya segera naik dan menyalakan mesinnya.

“Loh? Kamu mau kemana?” tanya Binta bingung.

“Naik metro mini aja ya, Ta? Biar macet, biar aku lama sama kamunya. Kalau naik motor, pasti nyampenya cepet.”

Binta menaikkan alisnya, “Maksudnya??”

“Ayo, Ta, nanti keburu sorenya diambil malam.”

***

Hampir saja mereka ketinggalan metro mini, tapi beruntung Binta segera melambaikan tangan supaya metro mininya berhenti. Mereka naik, lumayan penuh, tapi ada dua tempat duduk bersampingan yang masih kosong.

Binta duduk dekat jendela, diikuti Nug. Padahal Binta sendiri tidak tahu mau dibawa kemana, tapi kali ini ia memilih untuk menurut tanpa banyak bertanya seperti biasanya, karena Nug sudah membuat mamanya senang hari ini, tidak ada salahnya kalau gantian ia yang membuat Nug senang.

“Binta?”

Binta yang tadinya sedang menghadap ke jendela, menoleh, “Hmm?”

“Kamu tahu nggak, orang yang belum pernah ketemu aja bisa saling jatuh cinta?”

“Ah, mana ada.”

“Ih, Ta… iya aja kenapa.”

“Iya-iya…”

“Kadang, kita gak butuh waktu yang lama untuk mencintai seseorang,”

“Maksudnya?”

“Ta, ini hari keempat aku bersamamu. Di hari pertama aku gagal ngajak kamu pergi, di hari kedua aku berhasil ngajak kamu ketemu anak-anak pinggir rel dan ternyata mereka sangat menyukaimu, di hari ketiga aku berhasil buat kamu jadi Princess Binta, dan sekarang, aku sudah mencintaimu, Ta.”

Seperti tata surya yang berhamburan, seperti itulah kira-kira kondisi Binta sekarang. Ia tidak menyangka ada kata cinta yang muncul di antara mereka. 

“Kenapa? Kenapa kamu harus jatuh cinta denganku, Nug?”

“Kenapa hujan selalu menjatuhkan dirinya ke tanah berulang-ulang kali, Ta?”

Seperti hujan yang menjatuhkan dirinya ke tanah tanpa alasan, seperti itu pula Nug menggambarkan cintanya untuk Binta. Ia cuma jatuh pada Binta, begitu saja. Padahal ia sadar, ia sedang menjatuhkan hatinya pada lubang hitam yang tidak menjanjikan kebahagiaan di dalamnya.

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *