7

Kata — Bab 7

7


BAB 7 – MENCARI YANG HILANG


“Tapi…”

Ia tahu apa yang ingin Binta katakan, ia tahu jawaban Binta adalah tidak, “Aku tidak butuh jawabanmu, Ta, karena aku tau kamu tidak bisa mencintaiku. Tapi itu gapapa, beneran.”

“Jangan mencintaiku, Nug,”

“Kenapa, Ta? Padahal aku nggak minta kamu untuk bilang iya, nggak paksa kamu untuk mencoba dulu.”

“Karena aku nggak mau kamu menggantungkan hatimu sama sesuatu yang rapuh kayak aku.”

“Ta, aku cuma mau mencintaimu, dan yang kubutuhkan cuma izin darimu.”

“Kenapa kamu butuh izinku?”

“Kalau tidak dapat izin, lalu bagaimana caranya aku bisa menempati ruangan kosong yang ada di hatimu, Ta?”

“Bagaimana kalau tidak ada yang kosong?”

Nug diam, padahal mulutnya sudah siap untuk menanggapi ucapan Binta selanjutnya, tapi justru sebaliknya.

“Bagaimana, Nug? Bagaimana kalau tidak ada yang kosong? Bagaimana kalau tidak ada ruang yang tersisa untukmu? Kamu tahu aku tidak akan pernah bisa memberikan hatiku seutuhnya, kamu tahu kamu sedang berdiri di tepi jurang yang akan membunuhmu. Kumohon, Nugraha, jangan mencintaiku.”

Wajah Nug berubah muram, seperti cahaya lampu yang perlahan meredup, “Kali ini, aku gak suka kamu banyak bicara,” ia membuang pandangannya dari Binta dan mengarah lurus ke depan, melanjutkan kalimatnya yang ternyata belum selesai, “Ketidakpercayaanmu menyakitiku, Ta, padahal aku tidak minta balasan perasaan, cuma sebatas keyakinan, dan ternyata kamu gak bisa.”

Gantian Binta yang termenung, apakah ketakutan yang ia rasakan bisa menyakiti perasaan orang lain yang, mungkin, tulus padanya, Tapi aku baru mengenalnya belum sampai satu minggu, aku dan Nugraha bukanlah Romeo dan Juliet yang bertemu di pesta dansa kemudian langsung jatuh cinta. Aku ini Binta, dan dia Nugraha, dan kita takkan pernah bisa membuat cerita bersama.

Selama di metro mini, mereka saling diam. Seperti dua ekor ikan cupang yang dihalangi tembok hitam, yang apabila dipertemukan akan saling berusaha untuk mengalahkan. Binta tahu Nug butuh waktu, begitu pula dengannya. Walau Nug tak meminta hatinya, tetap saja, Binta tidak suka apabila ada seorang laki-laki berhati baik yang harus terjebak di dunianya.

Metro mininya berhenti, seorang pengamen dengan gitarnya naik. Sepertinya dia pengamen senior. Rambutnya gondrong, pakai baju putih kumal dan celana jeans yang robek-robek.

“Ya, selamat sore bapak, ibu, izinkan saya membantu Anda menghilangkan penat yang ada di ibu kota.”

Lalu ia mulai ambil posisi, dan mulai membungukan genjrang-genjreng dari gitarnya yang dipenuh banyak sticker itu, “Andai kau ijinkan… Walau sekejap memandang… Kubuktikan kepadamu… Aku memiliki rasa…”

Suaranya merdu, mirip dengan penyanyi aslinya, Iwan Fals.

“Cinta yang kupendam… Tak sempat aku nyatakan… Karena kau tlah memilih… Menutup pintu hatimu…”

Binta menelan ludah, dan bertanya dalam hatinya, Kenapa bisa kebetulan seperti ini?

Padahal ia adalah tipe manusia yang tidak percaya dengan yang namanya kebetulan, semua yang terjadi, pasti sudah digariskan. Tapi kenapa pengamen itu bisa memilih sebuah lagu yang membuatnya semakin terpojokkan? Karena kalau dipikir-pikir lagi, dari jutaan lagu yang tercipta, kenapa harus yang itu?

“Ijinkan aku membuktikan… Inilah kesungguhan rasa… Ijinkan aku menyayangimu…”

Pengamen itu mendekat, mengeluarkan bungkusan bekas permen untuk meminta upah setelah menghibur lewat sepotong lagu yang tak selesai. Ketika Binta hendak mengeluarkan selembaran uang dua ribu, Nug lebih dulu memasukkan selembaran uang seratus ribuan ke dalam bungkusan bekas permen. Pengamen itu langsung terperanjat, “Mas, maaf, nggak salah?”

“Nggak, suara Mas pantas untuk diapresiasi.”

Pengamen itu langsung tersenyum lebar, kemudian turun dari metro mini, tentu saja. Ia pasti langsung pulang ke rumah, menemui anak istrinya dan mengajak mereka makan ke warung padang.

Binta memasukkan kembali uang dua ribunya ke saku celana, melirik ke arah Nug sebentar, menyadari bahwa ia masih marah, dan kembali memandang keluar jendela.

“Kebetulan alam semesta berada di pihakku hari ini,” kata Nug pelan.

“Aku tidak percaya dengan kebetulan.”

“Tidak minta juga kamu percaya,”

“Terus ngapain bicara?”

“Aku nggak bicara, pengamen tadi sudah mengerjakan tugasku untuk bicara sama kamu.”

Binta diam.

“Pernah dengar lagu tadi, Ta?

Binta bohong, “Enggak,”

“Mau tahu judulnya?”

“Enggak,”

“Berarti kamu pernah dengar lagunya,”

Binta kembali diam. Siapa yang tidak tahu lagu itu? Orang yang gemar bersembunyi di bawah cangkang kura-kura saja juga pasti tahu.

Binta kembali teringat akan sesuatu, “Tapi katamu, kamu tidak suka dengar lagu?”

“Tidak suka, kan, bukan berarti tidak pernah dengar.”

“Ini masih lama nyampenya?”

“Kamu gak liat ini macet?”

Binta memutar matanya, menandakan bahwa ia mulai kesal dan ingin pulang, ya walaupun memang dari awal ia tidak ingin ke mana-mana.

Tidak seperti biasanya, Nug tidak banyak bicara. Binta jadi merasa bersalah, sedikit. Tapi tidak mungkin kalau ia tiba-tiba bertanya, “Aku salah ya?” atau “Kok kamu jadi banyak diamnya?”

Tidak. Benar-benar tidak mungkin. Nug pasti akan semakin besar kepala.

“Kamu gak merasa bersalah?” tanya Nug tanpa disangka-sangka.

“Memangnya sekarang kamu lagi marah?”

“Ini aku lagi ngambek sama kamu, Ta! Sedikit aja gak paham,”

“Iya maaf…” 

“Maaf untuk apa? Kamu harus tau dulu salahmu apa, baru minta maaf.”

“Iya salahku apa, Nug?”

“Coba pikir.”

Padahal Binta tahu, padahal Binta mengerti betul apa yang Nug maksudkan, tapi Binta tak mungkin membahasnya lagi.

“Ini kamu mau bawa aku ke mana?”

“Sudah selesai mikirnya?”

“Belum,”

“Mikir dulu, baru aku kasih tau.”

“Nug, come on. Harus banget dibahas?”

“Izinkan aku menyayangimu.”

“Hah?”

“Tadi judul lagunya itu.”

“Iya.”

“Terus?”

“Terus apa, Nug?”

“Ya terus aku diizinkan atau nggak?”

“Enggak.”

“Binta…”

“Nugraha…”

“Tau ah!”

Wajahnya cemberut. Tidak cocok sekali ia begitu. Mahasiswa arsitektur berwajah tampan yang banyak diidolakan para juniornya itu ternyata bisa ngambek juga. 

“Begini saja deh, Ta,” kata Nug yang masih belum mau menyerah.

“Begini apanya?”

“Aku tidak jadi minta izinmu. Pokoknya aku akan tetap mencintaimu, aku akan terus mengganggumu, aku akan terus menunggu sampai ada ruangan yang kosong di dalam hatimu.”

Tidak ia sangka kalimat itu yang keluar dari mulut Nug, “Tapi…”

“Bang, kiri!”

Tidak dijawab, justru Nug meminta metro mininya supaya berhenti. Mereka akhirnya turun, dengan keadaan Binta yang masih dibuat bingung.

Nug jalan duluan dan Binta mengikuti dari belakang. Nug masih marah rupanya. Binta sama sekali tidak berani bicara, ia memilih bungkam.

***

Nug berhenti di depan kedai kopi setelah berjalan kira-kira sepuluh menit, kemudian masuk ke dalam. Tapi ia tidak meminta Binta untuk ikut masuk, akhirnya Binta memilih untuk duduk di kursi tunggu dekat pintu masuk.

Nug menyapa barista yang juga merupakan sahabatnya ketika masih di bangku sekolah.

“Hei, Man, ama siapa lo?” tanya Barista bernama Riza yang sedang celingak-celinguk mengintip perempuan yang tadi bersama Nug.

“Ama calon, bro,”

“Hah? Calon? Calon istri?”

“Maunya calon istri, tapi calon pacar aja susah banget lulusnya.”

“Ahahahaha,” Riza ketawa.

Nug menoleh ke belakang, baru sadar kalau Binta masih ada di depan, “Loh, anaknya ke mana?” 

“Di depan kayaknya,”

Nug kembali keluar, “Astaga Binta, kenapa duduk di sini?!”

“Kan kamu lagi marah,”

“Dan kamu lagi buat aku makin marah.”

“Kok gitu?”

Nug meraih tangan Binta, “Udah, ayo,”

“Ooh jadi ini nona manisnya…”

Binta tersenyum kaku tanpa menjawab.

“Nona manis mau pesan apa?” tanya Riza sambil menunjukkan menu baru.

Nug menyahut, “Ada racikan kopi yang bisa jadi ramuan cinta gak, Za?”

“Hahaha elo, Nug, masa cinta pake racikan kopi.”

“Abisnya, pake hati doang gak mempan, Za.”

Oke deh, Ta, selamat hari disindir sedunia, ucap Binta pada dirinya sendiri dalam hati.

“Gue long black aja, Za,”

“Gue gak nawarin lo, Nug. Ini nona manis mau minum kopi apa?”

“Teh panas aja, ada?”

“Yah masa teh panas aja, nona, kan saya bisanya buat kopi.”
jawab Riza sedih.

“Ya udah sama kayak Nug aja, mas.”

“Jangan, selera dia gak cocok sama nona,”

“Terus apa dong?”

“Cappuccino, aja ya? Seindah yang akan menikmatinya.”

Binta diam, Nug ikut diam. Tapi tidak setelahnya, “Apaansi, Za, trik lama lo ah! Ayo, Ta, cari tempat duduk,” ajak Nug sambil menggandeng tangannya.

Riza tertawa melihat tingkah lakunya. Mungkin Nug cemburu, atau mungkin Nug sekadar tidak ingin punya saingan baru.

Akhirnya mereka memilih tempat duduk yang disediakan untuk dua orang. 

“Kata Riza, yang suka minum cappuccino itu hanya orang-orang yang menjunjung tinggi nilai keindahan.”

“Memang keindahan itu ada nilainya?”

“Tau deh, itu kata Riza.”

“Kalau katamu?”

“Kalau kataku, keindahan itu tidak ada nilainya. Hal yang indah itu bukan untuk dinilai, tapi dimaknai. Kayak kamu.”

“Kok jadi aku?”

“Kamu indah, Ta, dan aku tak pernah bisa menilaimu, tapi memaknai arti dari tiap ucapanmu.”

“Apa maknanya?”

“Belum ketemu, karena kamu terlalu menutup diri dengan tembok tinggi.”

“Kamu menyerah?”

“Kan aku pernah bilang, sama soal matematika saja aku tidak mau menyerah, apalagi sama perempuan yang membuatku tergila-gila.”

“Gitu?”

“Gitu.”

“Menyerah saja, Nug,”

“Tidak mau, Ta,”

“Apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau?”

“Hmm… sebenernya ada sih caranya.”

“Apa?”

“Mencintaiku. Nanti aku menyerah. Nanti akan kuserahkan hatiku seutuhnya, duniaku, untukmu.”

“Bukan, bukan itu maksudku, Nug…”

“Memang, tapi aku maunya begitu.”

Riza datang membawa dua cangkir kopi, “Yang satu untuk nona manis, satunya lagi untuk prajurit yang sedang tempur.” kata Riza sambil menyindir keduanya.

Thanks, Man,”

“Diminum dulu, Nona,”

“Terima kasih, Tuan..”

“Aduh… suaranya, Nug, gak sanggup gue dengernya. Indah…”

“Ah! Udah sana balik kerja lo!”

Benar, Nug cemburu.

Secangkir kopi yang masih panas itu mengingatkan Binta pada seorang laki-laki. Biru, tentu saja. Sosok yang sekarang tidak diketahui keberadaannya itu, yang mungkin juga tidak ada di peta, selalu menghantui pikirannya. Mungkin kalian, yang sedang membaca ini, juga akan berkenalan dengannya nanti. Atau Biru cuma sebatas tokoh masa lalu yang akan menjadi angin lalu dan kalian tidak akan pernah mengenalnya lebih jauh.

“Aku menyukai Biru, Nug, tapi aku nggak tau aku mencintainya atau nggak.”

Kalimat itu keluar dari mulut Binta tanpa Nug duga-duga. Entah apakah Binta harusnya mengucapkan kalimat itu dalam hati dan dia keceplosan, atau dia memang benar-benar ingin mengatakan itu.

“Ta?”

“Bagiku, cinta itu, gak pernah membuatku ngerti. Aku nggak ngerti cinta yang kamu maksud itu sama atau nggak dengan yang kumaksud. Apalagi kita sering punya maksud yang bertabrakan.”

“Ta, aku mencintaimu,”

“Iya, aku tahu, aku dengar, tapi aku nggak yakin, Nug. Bukannya nggak yakin sama kamu, bukannya nggak yakin sama perasaanmu, tapi akunya yang mungkin nggak bisa lagi yakin sama yang namanya cinta.”

“Binta…”

“Nug, Biru sangat berarti buat aku. Awalnya, aku kira aku mencintainya. Tapi kemudian dia pergi secara tiba-tiba, seperti ditelan bumi, dia membawa segenap perasaanku bersamanya. Dan sekarang tidak ada yang tersisa, Nug, tidak ada perasaan yang bisa kuberikan untukmu. Cinta sudah membuat hidupku jadi abu-abu, padahal aku nggak ngira kamu akan secepat ini membahas masalah cinta, nggak ngira kamu akan secepat ini punya perasaan yang berbeda,”

“Ta, aku nggak pernah berniat punya perasaan ini. Tapi cinta lahir begitu saja dengan sangat cepat.”

“Iya, aku tahu, Nug. Aku pernah merasakan itu. Biru membawa cerita baru untukku, tapi dia tiba-tiba hilang.”

“Oh, aku mengerti sekarang, kamu cuma takut. Iya, kan? Ta, aku bukan Biru, aku nggak akan hilang.”

“Biru terlalu istimewa, dan tidak ada sedikit pun bagian dari dirinya yang bisa kutemukan di kamu.”

“Iya itu memang karena aku bukan Biru, Binta. Kalau harus jadi persis kayak dia berarti aku gak bisa, Ta, berarti semua usahaku sia-sia.”

“Makanya menyerah, Nug, kamu berharap sama sesuatu yang tidak bisa diharapkan.”

“Aku cuma mau mencintaimu,”

“Dan sesuatu yang cuma itu akan menyakitimu.”

“Ta, aku nggak akan pergi, nggak akan tiba-tiba hilang dari kamu.”

“Bagaimana kalau aku yang pergi? Bagaimana kalau aku yang tiba-tiba menghilang?”

“Tidak apa-apa, aku akan tetap mencintaimu. Karena aku nggak takut kehilanganmu, Ta. Kita dilahirkan saja untuk menemui kematian, lalu untuk apa aku diam saja membuat hatiku jadi barang tak berguna hanya karena aku terlalu takut untuk mengambil resiko?”

“Nugraha, aku ini tidak akan bisa mencintaimu. Perasaanku yang tadinya mengenal cinta, sudah hilang.”

“Ya sudah, kita cari sama-sama, ya?”

Tags: No tags

7 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *