Untitled_Artwork 45

Lima

Kesan pertama Pra ketika sampai di rumah duka itu adalah sepi. Tidak ada orang sama sekali kecuali Rina, dan beberapa petugas yang mengurus keperluan jenazah sebelum dikuburkan. Sebenarnya ia juga tidak menduga bahwa tujuan Kinan siang itu benar-benar rumah duka dalam arti yang sebenarnya. Ia kira akan mengunjungi sebuah rumah sederhana, di mana banyak sanak keluarga, teman, yang berkumpul untuk menyampaikan doa atau sekadar hutang maaf yang tidak sempat diucapkan. Tetapi, tidak. Ia justru tiba di sebuah rumah duka yang dari luar lebih terlihat sebagai bangunan tua yang tidak terurus, terlihat cat pada dinding banyak yang mengelupas. Ah, tapi siapa juga yang mau menyerahkan waktunya untuk mengurus tempat bagi orang mati? Ya, kecuali ada upahnya. Atau sekadar uang rokok dan kopi juga tidak masalah.

Pra berusaha untuk membungkam mulutnya sebab sejak berangkat Kinan bilang, “Nanti kalau udah sampe, pokoknya diem aja.” Ah, kalau ia tahu keadaannya akan seperti ini, mungkin harusnya tadi ia bertanya: Memangnya kenapa harus diam?

“Nan, ini beneran ada yang meninggal?” 

Dan seperti sudah bisa menebak Pra akan melontarkan pertanyaan itu kepadanya, Kinan cuma berlalu menghampiri Rina yang menggendong Kamila ¾ anak perempuannya yang masih berusia tiga tahun, di tangannya.

“Tidak ada yang datang sama sekali?” tanya Kinan.

Rina menggelengkan kepalanya sambil berucap, “Dia orang baik, Nan.”

Kinan menenangkan sahabatnya itu dengan tidak banyak bertanya. Sementara itu, Pra yang masih menyimpan banyak pertanyaan, memilih duduk diam. Bagaimana mungkin ada upacara kepergian yang cuma dihadiri oleh tiga orang? Apa dengan begitu masih bisa disebut dengan upacara? Lalu, ke mana semua orang? Apa tidak pernah benar-benar ada semua orang? Apakah akan seperti itu aku nanti ketika mati? Apakah Kinan juga tidak akan datang? Sejak detik itu ia sadar, bahwa kesepian, lebih menakutkan dari kematian itu sendiri.

Mungkin ia benar dengan apa yang diyakininya saat ini, bahwa mungkin, perlahan Kinan berusaha menunjukan kepadanya segala maksud dibalik urusannya dengan rumah duka. Mungkin tidak secara terang-terangan, bahkan mungkin Kinan tidak pernah bermaksud apa-apa, tapi Pra yakin, ada makna penting yang harus diartikannya. Karena kalau pun tidak ada apa-apa, lantas mengapa ia mengizinkanku untuk selalu ikut? Apa ia telah mengikutsertakan aku dalam kedukaannya?

“Mikir apa?”

Pra tidak langsung menanggapi Kinan yang menghampirinya. Sudah Kinan duga pasti Pra kebingungan. Dan ia tetap pada sikapnya yang sejak awal, untuk tidak akan menjelaskan pada siapa tentang apa, juga tentang siapa pada apa pun. Pra ingin sekali menangkis dengan bilang tidak sedang memikirkan apa pun, tapi ia sendiri yang pernah bilang bahwa sepasang mata adalah satu hal paling jujur di dunia.

“Kamu sudah selesai?” tanya Pra.

“Baru juga sampai,”

“Tapi tidak ada siapa-siapa, Nan,” jawabnya dengab jantung yang berlari kencang. Ia ingin sekali bertanya, Mengapa tidak ramai? Mengapa tidak ada karangan bunga? Mengapa tidak ada tangisan dan lantunan doa-doa? Mengapa harus kuterima bahwa ternyata tidak semua upacara kepergian memaklumi kesedihan?

“Kamu kalau mau pulang, pulang saja. Aku bisa pulang dengan Rina.”

“Aku tidak bisa pulang tanpamu.”

Dipeluknya Pra begitu erat dan tidak bisa lagi dibendung air matanya yang selama ini membuatnya terlihat kuat, walau kenyatannya sebaliknya. Kinan membiarkan dirinya, untuk sebentar saja, bersedih. Pra bangkit membalas pelukannya. Menyudahi segala macam kalimat tanya yang diciptakannya, takut bilamana Kinan mengetahuinya. Dibelainya rambut hitam legam yang indah, seakan hidup rasanya berubah jadi sangat sederhana: bahwa dari air mata, ada mata air yang muncul dari sana.

“Tempat terakhir kita di bumi itu tanpa sekat, Pra,”

“Aku tahu.”

“Lantas mengapa mereka sengaja tidak menyempatkan?”

“Waktu mungkin memiliki batas, tapi batas tidak mengenal waktu, Nan.”

Kinan tidak menyahut. Ia memilih tidak menanggapi perkataan Pra. Bukan karena ia tidak ingin mencoba mengerti, ia cuma berusaha menghindari hal-hal yang ia yakini lebih baik tidak didekati. Dan memang benar lebih baik begitu. Seandainya ia menjelaskan, segala sesuatu yang diketahuinya akan semakin menyakitkan. Tuhan memang benar Penyayang, tapi mungkinkah Ia kesepian? Tapi Kinan bukan Tuhan. Kalau pun ia tidak penyayang sebagaimana dikisahkan, ia tetap tidak berhak diperlakukan sedemikian rupa oleh oleh ketakutannya sendiri, oleh titik di mana nyata dan fana tidak ada bedanya. Dan aku sungguh-sungguh ketika kukatakan tidak akan pulang tanpanya. Karena bila tidak dengannya, maka tidak di mana pun.

“Ketika kita dilahirkan, kita bersumpah untuk mati, Pra. Itu janji kita bukan pada Tuhan, bukan pada alam raya tempat kita memijakkan kaki, bukan. Itu janji yang harus kita tepati pada diri kita sendiri.”

***

“Sotonya satu ya, Bu.”

Tadi pagi ketika sedang membuang sampah, seorang perempuan yang menempati kamar kos di sebelahnya, mengajaknya berkenalan. Namanya Wati, dia asal Pekalongan. Dia cerita kalau dia juga baru seminggu ini di Semarang, ikut suaminya yang bekerja sebagai dosen di salah satu universitas daerah Tembalang. Dia juga bilang, “Enak banget kamu, Nan, punya kerjaan, punya kesibukan.”

“Bukannya lebih enakan kamu? Sudah menikah, makan dari gaji suami,”

“Ah. Menikah ternyata cuma begini saja, Nan.”

“Begini gimana?”

“Ya, gitu.”

“Kamu bisa ikut kerja denganku,”

“Kalau bisa, mah, sudah kupakai ijazah sarjanaku dari dulu.”

Kinan menganga, “Haa? Kamu sarjana?”

“Lalu menikah. Lalu begini saja.”

Darmanto, suami Wati, tidak menyukai wanita karir. Baginya, tempat paling sesuai buat perempuan adalah rumah. Dari situ, Kinan menyadari bahwa hidupnya masih lebih beruntung dibanding hidup Wati. Sebab, apa yang lebih beuntung dari bisa menentukan nasib kebebasan hidup sendiri?

Wati bilang tidak jauh dari tempat kos ada rumah makan soto enak. Harganya juga murah. Sambil mengenal lingkungan barunya, Kinan menurut. Dicobanya semangkuk soto ayam berisi nasi, bihun, tauge, suwiran daging ayam, potongan tomat, potongan daun bawang, dan kuah bening bercita rasa manis gurih. Dalam balutan rasa lezat di mulutnya, tentu teringat wajah laki-laki yang paling berhasil kalau urusan berantem dengannya. Pra suka soto. Ini favoritnya.

Kenangan adalah lorong tanpa ujung. Tiada pernah siapa pun mengetahui bentuk sebenar-benarnya. Apakah kenangan ialah sejarah? Atau hanya tumpukan kertas yang sebaiknya dibiarkan berserakan di gudang atau loteng atau tempat mana pun yang jarang dikunjungi? Tapi kenangan juga bisa merupakan museum yang dibangun mendadak. Tiba-tiba ada, tiba-tiba tidak ada. Bahkan bisa muncul di mangkuk mungil soto ayam khas Semarang. Jadi, sebenarnya apa bentuk kenangan itu? Apakah ia persegi seperti papan catur? Atau ia seperti air yang mengikuti bentuk tiap benda yang melekat dengannya? Tiada pernah siapa pun mengetahui, maka bila ada yang menjelaskan bentuk kenangan, pasti orang itu cuma sedang berdongeng.

“Apa kau takut mati, Pra?”

“Tadinya.”

“Sejak kapan jadi berani?”

“Sejak di rumah duka.”

“Aneh.”

“Nan, hal paling menakutkan dari kehilangan nyawa adalah mengetahui bahwa ternyata selama hidup, kita tidak pernah memiliki siapa pun.”

Menerima atau tidak pendapat Pra yang barusan, Kinan lebih baik tidak membela lagi argumennya. Dengan Pra hidup tidak akan tentang kemanangan. Lagipula ia tahu Pra sudah lapar. “Sudahlah, Pra. Kita lanjut saja kapan-kapan. Aku lapar. Aku ingin cari soto.”

“Aku juga ingin cari soto, tapi carinya denganmu.”

“Tidak bisa cari sendiri-sendiri saja?”

“Bisa, cuma tidak mau.”

“Kalau sotonya nggak ketemu? Gimana?”

“Soto bisa dicari lagi, Nan, kalau kamu yang nggak ketemu, itu baru bagaimana?”

“Tapi suatu hari nanti aku pasti pergi, Pra,”

“Tidak hari ini, kan?”

Menjelang magrib, mereka kembali. Pra mengantar Kinan pulang ke indekosnya dengan mengendarai motor milik Dawan. Di situ Kinan menyadari bahwa sejak dari rumah duka, sikap Pra agak berubah. Ia jadi sering melamun dan tidak banyak mengeluarkan pertanyaan seperti biasanya. Kinan tahu bahwa ia sendiri yang melarang Pra untuk bertanya, ia ingat betul bahwa ia juga yang meminta Pra untuk diam dan cukup menyaksikan segala hal yang terlihat di sana. Percayakah ia sekarang bahwa upacara kepergian tidak selalu memaklumi kesedihan?

Pertanyaan ada apa bukanlah gaya Kinan. Jika memang kebingungan akan membawa Pra pada kejelasan yang nyata, untuk apa ia menghadiahkannya sebuah pemahaman? Lagipula, ulang tahunnya sudah lewat tiga bulan. Sekarang sudah masuk bulan Februari, bulan kesukaan Kinan.

Pra mengerem motornya mendadak. Melipir ke pinggir jalan, seperti ada sesuatu yang penting. Pra diam. Kinan menunggu.

“Astaga, Nan, ini sudah bulan Februari.”

“Sampe berhenti segala cuma karena itu?”

“Bulan kesukaanmu!”

Untuk kesekian kali, Kinan merasa suatu embusan udara yang menenangkan, mengarah ke dalam hatinya. Betapa ingin ia katakan pada Pra bahwa: Iya, Pra. Benar sekali. Kita sudah masuk bulan Februari. Bulan kesukaanku. Februari keempat bersamamu. Aku bahkan tidak tahu mengapa kusebut kata kita dalam paragraf ini. Mungkin karena denganmu, Februari jadi lebih menyala. Ya. Kamu, kalau kuiibaratkan sebagai cahaya, mungkin belum seperti matahari, tapi ya cukuplah kalau cuma untuk sekadar jadi lampu kamar.

Pra memandang Kinan seolah mengerti. Dia kemudian menyalakan kembali mesin motornya, dan mengantar Kinan pulang. Ah. Apakah aku bisa seperti Kinan yang menyukai sesuatu? Sebab, orang sekeras dia pun bisa menyukai sesuatu, walau sesuatu itu adalah bulan kelahirannya sendiri. Aku hanya sudah lupa rasanya menginginkan sesuatu. Aku mungkin menyayangi Kinan, tapi aku tidak tahu pengertian jelasnya apakah ini wujud kasih yang belum pernah kuketahui, atau cuma rasa senang sebentar yang bisa berakhir kapan saja? Empat tahun aku mengenalnya, dan cuma di bulan ini kulihat raut wajahnya begitu bahagia. Tapi aku bukan Februari, Nan. Apa bisa dengan begitu aku membuatmu senang?

“Pra itu anak yang baik,” kata ibu kos yang sedang duduk di teras, ketika Kinan baru membuka pagar. Pra memang sudah terkenal di kalangan penghuni kos. Bahkan tidak jarang yang menitip salam untuknya lewat Kinan, dan biasanya cuma dijawab dengan, Iya, nanti. Kinan sendiri bukan kurir yang baik dan bisa dipercaya. Apalagi tidak terbayangkan kalau Pra sampai tahu bahwa banyak yang terpesona oleh perawakannya yang begitu rupawan. Ah, biasa saja. Rambutnya bau. Jarang keramas. Kalau makan berantakan. Kalau merokok sembarangan. Dia tidak seperti yang terlihat.

Ketika Kinan melihat kota Semarang yang begitu cerah, mendengar percakapan orang-orang di kerumunan yang tidak ia paham betul bahasanya, entah bagaimana bisa perasaannya begitu tenang. Untuk hidup dalam ketidaktahuan. Untuk bernyawa dalam ketiadaan. Jadi ternyata mudah sekali untuk hidup sendirian di bumi, bukan? Pikirnya sambil melihat motor berseliweran di depan matanya.  

“Jadi gimana rasanya ngurusin orang?” tanya Kinan pada Wati.

“Ya, kayak kamu bekerja saja. Cuma bedanya, aku merasa senang.”

“Senang? Aku juga senang walau belum menikah.”

“Yakin senang?”

Kinan diam. Ia tahu bahwa ia sendiri bahkan tidak pernah mengenal seperti apa rasa senang itu. Yang ia tahu semua orang bahagia dan itulah akhir dari tiap cerita yang dibacanya.

“Nggak ada waktu mikirin kesenangan, Ti, yang penting aku bisa makan biar nggak sakit dan uangnya bisa kupakai untuk bayar kos.”

“Memang belum kepikiran menikah?”

“Ya, gitu deh.”

“Responmu biasa saja. Tidak tertarik?”

“Ngurus diriku sendiri saja gagal begini, gimana ceritanya ngurus orang lain?”

“Ngurus orang lain kan nggak ada buku panduannya, Nan,”

“Tiba-tiba bisa aja gitu?”

“Tiba-tiba terbiasa.”

Keadaan seperti ini sebenarnya tidak asing buatnya. Sebab hampir semua orang di tempat ia bekerja sudah menikah. Hal yang sering jadi alasan mengapa ia tidak pernah mau diajak makan siang bersama. Jelas ia tidak tahan mendengar obrolan yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupannya. Kalau sudah begitu, ia jadi sering membayangkan betapa mudahnya hidup di tengah laut. Sendirian, tanpa ada realita atau segala hal yang perlu ia ketahui.

Tapi Pra selalu bilang, “Sekuat-kuatnya manusia, tidak ada yang tidak ingin pulang, Nan.”

Dan ini adalah yang dikatakan Kinan ketika itu, “Tapi kan nggak semua orang punya tujuan untuk pulang.”

“Jadi hidup harus terus tentang berlari dan kabur-kaburan?”

“Ya… Kayaknya itu cara paling aman,”

“Aman? Memang apa yang sedang kamu jaga? Nan, kamu tahu semakin kamu jauh berlari, kamu nggak pernah ke mana-mana.”

“Aman dari perasaan berumah dan memiliki, sebab kita nggak punya kendali itu, terlebih atas orang lain. Aku nggak mau kehilangan, Pra, nggak untuk kedua kalinya.”

Pra sebenarnya tidak pernah benar-benar mengetahui seberapa dalam kegelapan di alam bawah sadar Kinan. Apa yang sebetulnya mengganggu pikirannya, mengapa bisa dengan begitu rapi ia menata sifat kompleksnya yang berlapis. Sampai-sampai tidak ada celah yang bisa diisi.

Kinan hanya selalu berpikir bahwa tidak seharusnya ia melekat pada apa dan pada siapa pun. Sebab buatnya, kualitas bahagia seseorang tidak dinilai dari siapa pasangan dan apa tumpu kehidupannya. Padahal, ia cuma sedang membela teorinya sendiri, yang tidak percaya dengan keberadaan sebuah ruangan yang banyak orang sebut dengan rasa senang. 

“Padahal kamu bekerja di salon ya, Nan, tapi masih kurang juga buatmu mengerti.”

“Kenapa jadi dihubungin sama salon?”

“Ya orang ke tempatmu untuk apa kalau bukan mempercantik diri? Kamu sendiri tahu, nggak, kenapa kamu sering ditegur sama atasanmu?”

Kinan memang yang paling sering ditegur dalam urusan penampilan. Ia sebenarnya tahu cara merias wajahnya, tahu bagaimana mengatur rambutnya supaya lebih menarik. Lantas tidak ia lakukan, ya, karena ia memang tidak ingin melakukannya. Sesederhana itu. Kalau bukan karena Rina kenal baik dengan pemilik salon itu, sudah sejak lama Kinan diberhentikan.

“Kenapa jatahku jadi manusia harus milik mereka juga, Pra? Mereka bayar aku untuk memberi pelayanan yang memang di bidangku, bukan untuk mengubah apa adanya aku.”

“Ya itu aku juga sudah tahu. Maksudku, Nan―”

“Sudahlah, Pra. Kalau memang tidak suka denganku, kenapa mereka belum juga memecatku?”

Pra memang tidak bisa membawa dirinya menjadi sosok yang cukup buat Kinan. Tidak sekali dua kali ia merasa kesulitan ketika harus memposisikan akal sehatnya di antara hati dan logika Kinan. Benar bila dikatakan Pra ingin Kinan bahagia, tapi bila harus di antara sekat yang membuat hal benar jadi sesak, jelas tidak selamanya ia bisa membiarkan hal itu terjadi. Kinan harus bangun dari kebenaran yang keliru, dari kenyamanan yang salah.

***

Sebenarnya, menciptakan rasa penasaran terhadap Kinan bukan hal yang sulit. Sifatnya yang begitu tertutup, raut wajah penuh rahasia, pasti mengundang banyak tanya bagi siapa saja yang mulai mendengar namanya. Tapi Kinan bukan kembang desa. Ia cuma perempuan jelek yang kebetulan saja kulitnya putih, bersih, begitu. Ia pasti tidak akan percaya dengan apa yang sebenarnya orang pikirkan terhadapnya. Siapa sebenarnya Kinan itu? Seperti apa mukanya? Siapa bapak dan ibunya? Apakah ia masih sendiri atau sudah bersuami?

Kinan sendiri tidak begitu peduli bila benar semacam itu isi kepala lelaki yang dijumpainya. Yang ia pikirkan adalah: Apakah hari ini bisa makan dengan ayam? Atau hanya sayur dan tempe goreng saja? Mengapa pengering rambut ini tidak berfungsi?

Buatnya, angan yang terlalu jauh buat manusia jadi lupa sama kenyataan yang dekat. Itu sebabnya ia tidak ingin menyusahkan dirinya sendiri dengan menaiki tangga yang terlalu tinggi, “Yang seadanya saja lah, Pra.”

“Nan, kamu tuh merasa memiliki hidup dan tubuhmu sendiri nggak sih?”

“Apa yang terjadi kalau aku bilang tidak?”

“Ya nggak kiamat juga sih, Nan,”

Pra tahu bahwa Kinan sendiri tidak tertarik dengan topik hidup bahkan soal kiamat. Sering terbayang di kepalanya bila suatu saat ada kekuatan sihir yang mengubahnya menjadi sosok periang, tapi lamunannya itu tidak pernah terselesaikan karena yang buruk di hadapannya saja sudah membuatnya jatuh cinta.

“Sedang di dunianya siapa ya, aku, Pra?”

“Aku tidak tahu, Nan, tapi kalau kamu mau cari tahu, aku bisa bantu.”

Kinan tersenyum mengingat kejadian-kejadian itu dalam semangkuk soto ayam khas Semarang yang sudah habis disantapnya. Aku ini seperti sedang memilah mana yang akan kumasukkan ke dalam kardus, dan mana yang akan tetap kugunakan di kehidupanku. Dan, hari-hari bersama Pra mungkin akan kuletakkan ke dalam kardus dan tidak akan kubuka lagi. Ia bahkan bukan keluargaku, segala hal yang walau pernah menyenangkan itu pada akhirnya cuma sebuah hal. Ya. Sudah saatnya meninggalkan. Sudah.

Tags: No tags

62 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *