7

Kata — Bab 7

7


BAB 7 – MENCARI YANG HILANG


“Tapi…”

Ia tahu apa yang ingin Binta katakan, ia tahu jawaban Binta adalah tidak, “Aku tidak butuh jawabanmu, Ta, karena aku tau kamu tidak bisa mencintaiku. Tapi itu gapapa, beneran.”

“Jangan mencintaiku, Nug,”

“Kenapa, Ta? Padahal aku nggak minta kamu untuk bilang iya, nggak paksa kamu untuk mencoba dulu.”

“Karena aku nggak mau kamu menggantungkan hatimu sama sesuatu yang rapuh kayak aku.”

“Ta, aku cuma mau mencintaimu, dan yang kubutuhkan cuma izin darimu.”

“Kenapa kamu butuh izinku?”

“Kalau tidak dapat izin, lalu bagaimana caranya aku bisa menempati ruangan kosong yang ada di hatimu, Ta?”

“Bagaimana kalau tidak ada yang kosong?”

Nug diam, padahal mulutnya sudah siap untuk menanggapi ucapan Binta selanjutnya, tapi justru sebaliknya.

“Bagaimana, Nug? Bagaimana kalau tidak ada yang kosong? Bagaimana kalau tidak ada ruang yang tersisa untukmu? Kamu tahu aku tidak akan pernah bisa memberikan hatiku seutuhnya, kamu tahu kamu sedang berdiri di tepi jurang yang akan membunuhmu. Kumohon, Nugraha, jangan mencintaiku.”

Wajah Nug berubah muram, seperti cahaya lampu yang perlahan meredup, “Kali ini, aku gak suka kamu banyak bicara,” ia membuang pandangannya dari Binta dan mengarah lurus ke depan, melanjutkan kalimatnya yang ternyata belum selesai, “Ketidakpercayaanmu menyakitiku, Ta, padahal aku tidak minta balasan perasaan, cuma sebatas keyakinan, dan ternyata kamu gak bisa.”

Gantian Binta yang termenung, apakah ketakutan yang ia rasakan bisa menyakiti perasaan orang lain yang, mungkin, tulus padanya, Tapi aku baru mengenalnya belum sampai satu minggu, aku dan Nugraha bukanlah Romeo dan Juliet yang bertemu di pesta dansa kemudian langsung jatuh cinta. Aku ini Binta, dan dia Nugraha, dan kita takkan pernah bisa membuat cerita bersama.

Selama di metro mini, mereka saling diam. Seperti dua ekor ikan cupang yang dihalangi tembok hitam, yang apabila dipertemukan akan saling berusaha untuk mengalahkan. Binta tahu Nug butuh waktu, begitu pula dengannya. Walau Nug tak meminta hatinya, tetap saja, Binta tidak suka apabila ada seorang laki-laki berhati baik yang harus terjebak di dunianya.

Metro mininya berhenti, seorang pengamen dengan gitarnya naik. Sepertinya dia pengamen senior. Rambutnya gondrong, pakai baju putih kumal dan celana jeans yang robek-robek.

“Ya, selamat sore bapak, ibu, izinkan saya membantu Anda menghilangkan penat yang ada di ibu kota.”

Lalu ia mulai ambil posisi, dan mulai membungukan genjrang-genjreng dari gitarnya yang dipenuh banyak sticker itu, “Andai kau ijinkan… Walau sekejap memandang… Kubuktikan kepadamu… Aku memiliki rasa…”

Suaranya merdu, mirip dengan penyanyi aslinya, Iwan Fals.

“Cinta yang kupendam… Tak sempat aku nyatakan… Karena kau tlah memilih… Menutup pintu hatimu…”

Binta menelan ludah, dan bertanya dalam hatinya, Kenapa bisa kebetulan seperti ini?

Padahal ia adalah tipe manusia yang tidak percaya dengan yang namanya kebetulan, semua yang terjadi, pasti sudah digariskan. Tapi kenapa pengamen itu bisa memilih sebuah lagu yang membuatnya semakin terpojokkan? Karena kalau dipikir-pikir lagi, dari jutaan lagu yang tercipta, kenapa harus yang itu?

“Ijinkan aku membuktikan… Inilah kesungguhan rasa… Ijinkan aku menyayangimu…”

Pengamen itu mendekat, mengeluarkan bungkusan bekas permen untuk meminta upah setelah menghibur lewat sepotong lagu yang tak selesai. Ketika Binta hendak mengeluarkan selembaran uang dua ribu, Nug lebih dulu memasukkan selembaran uang seratus ribuan ke dalam bungkusan bekas permen. Pengamen itu langsung terperanjat, “Mas, maaf, nggak salah?”

“Nggak, suara Mas pantas untuk diapresiasi.”

Pengamen itu langsung tersenyum lebar, kemudian turun dari metro mini, tentu saja. Ia pasti langsung pulang ke rumah, menemui anak istrinya dan mengajak mereka makan ke warung padang.

Binta memasukkan kembali uang dua ribunya ke saku celana, melirik ke arah Nug sebentar, menyadari bahwa ia masih marah, dan kembali memandang keluar jendela.

“Kebetulan alam semesta berada di pihakku hari ini,” kata Nug pelan.

“Aku tidak percaya dengan kebetulan.”

“Tidak minta juga kamu percaya,”

“Terus ngapain bicara?”

“Aku nggak bicara, pengamen tadi sudah mengerjakan tugasku untuk bicara sama kamu.”

Binta diam.

“Pernah dengar lagu tadi, Ta?

Binta bohong, “Enggak,”

“Mau tahu judulnya?”

“Enggak,”

“Berarti kamu pernah dengar lagunya,”

Binta kembali diam. Siapa yang tidak tahu lagu itu? Orang yang gemar bersembunyi di bawah cangkang kura-kura saja juga pasti tahu.

Binta kembali teringat akan sesuatu, “Tapi katamu, kamu tidak suka dengar lagu?”

“Tidak suka, kan, bukan berarti tidak pernah dengar.”

“Ini masih lama nyampenya?”

“Kamu gak liat ini macet?”

Binta memutar matanya, menandakan bahwa ia mulai kesal dan ingin pulang, ya walaupun memang dari awal ia tidak ingin ke mana-mana.

Tidak seperti biasanya, Nug tidak banyak bicara. Binta jadi merasa bersalah, sedikit. Tapi tidak mungkin kalau ia tiba-tiba bertanya, “Aku salah ya?” atau “Kok kamu jadi banyak diamnya?”

Tidak. Benar-benar tidak mungkin. Nug pasti akan semakin besar kepala.

“Kamu gak merasa bersalah?” tanya Nug tanpa disangka-sangka.

“Memangnya sekarang kamu lagi marah?”

“Ini aku lagi ngambek sama kamu, Ta! Sedikit aja gak paham,”

“Iya maaf…” 

“Maaf untuk apa? Kamu harus tau dulu salahmu apa, baru minta maaf.”

“Iya salahku apa, Nug?”

“Coba pikir.”

Padahal Binta tahu, padahal Binta mengerti betul apa yang Nug maksudkan, tapi Binta tak mungkin membahasnya lagi.

“Ini kamu mau bawa aku ke mana?”

“Sudah selesai mikirnya?”

“Belum,”

“Mikir dulu, baru aku kasih tau.”

“Nug, come on. Harus banget dibahas?”

“Izinkan aku menyayangimu.”

“Hah?”

“Tadi judul lagunya itu.”

“Iya.”

“Terus?”

“Terus apa, Nug?”

“Ya terus aku diizinkan atau nggak?”

“Enggak.”

“Binta…”

“Nugraha…”

“Tau ah!”

Wajahnya cemberut. Tidak cocok sekali ia begitu. Mahasiswa arsitektur berwajah tampan yang banyak diidolakan para juniornya itu ternyata bisa ngambek juga. 

“Begini saja deh, Ta,” kata Nug yang masih belum mau menyerah.

“Begini apanya?”

“Aku tidak jadi minta izinmu. Pokoknya aku akan tetap mencintaimu, aku akan terus mengganggumu, aku akan terus menunggu sampai ada ruangan yang kosong di dalam hatimu.”

Tidak ia sangka kalimat itu yang keluar dari mulut Nug, “Tapi…”

“Bang, kiri!”

Tidak dijawab, justru Nug meminta metro mininya supaya berhenti. Mereka akhirnya turun, dengan keadaan Binta yang masih dibuat bingung.

Nug jalan duluan dan Binta mengikuti dari belakang. Nug masih marah rupanya. Binta sama sekali tidak berani bicara, ia memilih bungkam.

***

Nug berhenti di depan kedai kopi setelah berjalan kira-kira sepuluh menit, kemudian masuk ke dalam. Tapi ia tidak meminta Binta untuk ikut masuk, akhirnya Binta memilih untuk duduk di kursi tunggu dekat pintu masuk.

Nug menyapa barista yang juga merupakan sahabatnya ketika masih di bangku sekolah.

“Hei, Man, ama siapa lo?” tanya Barista bernama Riza yang sedang celingak-celinguk mengintip perempuan yang tadi bersama Nug.

“Ama calon, bro,”

“Hah? Calon? Calon istri?”

“Maunya calon istri, tapi calon pacar aja susah banget lulusnya.”

“Ahahahaha,” Riza ketawa.

Nug menoleh ke belakang, baru sadar kalau Binta masih ada di depan, “Loh, anaknya ke mana?” 

“Di depan kayaknya,”

Nug kembali keluar, “Astaga Binta, kenapa duduk di sini?!”

“Kan kamu lagi marah,”

“Dan kamu lagi buat aku makin marah.”

“Kok gitu?”

Nug meraih tangan Binta, “Udah, ayo,”

“Ooh jadi ini nona manisnya…”

Binta tersenyum kaku tanpa menjawab.

“Nona manis mau pesan apa?” tanya Riza sambil menunjukkan menu baru.

Nug menyahut, “Ada racikan kopi yang bisa jadi ramuan cinta gak, Za?”

“Hahaha elo, Nug, masa cinta pake racikan kopi.”

“Abisnya, pake hati doang gak mempan, Za.”

Oke deh, Ta, selamat hari disindir sedunia, ucap Binta pada dirinya sendiri dalam hati.

“Gue long black aja, Za,”

“Gue gak nawarin lo, Nug. Ini nona manis mau minum kopi apa?”

“Teh panas aja, ada?”

“Yah masa teh panas aja, nona, kan saya bisanya buat kopi.”
jawab Riza sedih.

“Ya udah sama kayak Nug aja, mas.”

“Jangan, selera dia gak cocok sama nona,”

“Terus apa dong?”

“Cappuccino, aja ya? Seindah yang akan menikmatinya.”

Binta diam, Nug ikut diam. Tapi tidak setelahnya, “Apaansi, Za, trik lama lo ah! Ayo, Ta, cari tempat duduk,” ajak Nug sambil menggandeng tangannya.

Riza tertawa melihat tingkah lakunya. Mungkin Nug cemburu, atau mungkin Nug sekadar tidak ingin punya saingan baru.

Akhirnya mereka memilih tempat duduk yang disediakan untuk dua orang. 

“Kata Riza, yang suka minum cappuccino itu hanya orang-orang yang menjunjung tinggi nilai keindahan.”

“Memang keindahan itu ada nilainya?”

“Tau deh, itu kata Riza.”

“Kalau katamu?”

“Kalau kataku, keindahan itu tidak ada nilainya. Hal yang indah itu bukan untuk dinilai, tapi dimaknai. Kayak kamu.”

“Kok jadi aku?”

“Kamu indah, Ta, dan aku tak pernah bisa menilaimu, tapi memaknai arti dari tiap ucapanmu.”

“Apa maknanya?”

“Belum ketemu, karena kamu terlalu menutup diri dengan tembok tinggi.”

“Kamu menyerah?”

“Kan aku pernah bilang, sama soal matematika saja aku tidak mau menyerah, apalagi sama perempuan yang membuatku tergila-gila.”

“Gitu?”

“Gitu.”

“Menyerah saja, Nug,”

“Tidak mau, Ta,”

“Apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau?”

“Hmm… sebenernya ada sih caranya.”

“Apa?”

“Mencintaiku. Nanti aku menyerah. Nanti akan kuserahkan hatiku seutuhnya, duniaku, untukmu.”

“Bukan, bukan itu maksudku, Nug…”

“Memang, tapi aku maunya begitu.”

Riza datang membawa dua cangkir kopi, “Yang satu untuk nona manis, satunya lagi untuk prajurit yang sedang tempur.” kata Riza sambil menyindir keduanya.

Thanks, Man,”

“Diminum dulu, Nona,”

“Terima kasih, Tuan..”

“Aduh… suaranya, Nug, gak sanggup gue dengernya. Indah…”

“Ah! Udah sana balik kerja lo!”

Benar, Nug cemburu.

Secangkir kopi yang masih panas itu mengingatkan Binta pada seorang laki-laki. Biru, tentu saja. Sosok yang sekarang tidak diketahui keberadaannya itu, yang mungkin juga tidak ada di peta, selalu menghantui pikirannya. Mungkin kalian, yang sedang membaca ini, juga akan berkenalan dengannya nanti. Atau Biru cuma sebatas tokoh masa lalu yang akan menjadi angin lalu dan kalian tidak akan pernah mengenalnya lebih jauh.

“Aku menyukai Biru, Nug, tapi aku nggak tau aku mencintainya atau nggak.”

Kalimat itu keluar dari mulut Binta tanpa Nug duga-duga. Entah apakah Binta harusnya mengucapkan kalimat itu dalam hati dan dia keceplosan, atau dia memang benar-benar ingin mengatakan itu.

“Ta?”

“Bagiku, cinta itu, gak pernah membuatku ngerti. Aku nggak ngerti cinta yang kamu maksud itu sama atau nggak dengan yang kumaksud. Apalagi kita sering punya maksud yang bertabrakan.”

“Ta, aku mencintaimu,”

“Iya, aku tahu, aku dengar, tapi aku nggak yakin, Nug. Bukannya nggak yakin sama kamu, bukannya nggak yakin sama perasaanmu, tapi akunya yang mungkin nggak bisa lagi yakin sama yang namanya cinta.”

“Binta…”

“Nug, Biru sangat berarti buat aku. Awalnya, aku kira aku mencintainya. Tapi kemudian dia pergi secara tiba-tiba, seperti ditelan bumi, dia membawa segenap perasaanku bersamanya. Dan sekarang tidak ada yang tersisa, Nug, tidak ada perasaan yang bisa kuberikan untukmu. Cinta sudah membuat hidupku jadi abu-abu, padahal aku nggak ngira kamu akan secepat ini membahas masalah cinta, nggak ngira kamu akan secepat ini punya perasaan yang berbeda,”

“Ta, aku nggak pernah berniat punya perasaan ini. Tapi cinta lahir begitu saja dengan sangat cepat.”

“Iya, aku tahu, Nug. Aku pernah merasakan itu. Biru membawa cerita baru untukku, tapi dia tiba-tiba hilang.”

“Oh, aku mengerti sekarang, kamu cuma takut. Iya, kan? Ta, aku bukan Biru, aku nggak akan hilang.”

“Biru terlalu istimewa, dan tidak ada sedikit pun bagian dari dirinya yang bisa kutemukan di kamu.”

“Iya itu memang karena aku bukan Biru, Binta. Kalau harus jadi persis kayak dia berarti aku gak bisa, Ta, berarti semua usahaku sia-sia.”

“Makanya menyerah, Nug, kamu berharap sama sesuatu yang tidak bisa diharapkan.”

“Aku cuma mau mencintaimu,”

“Dan sesuatu yang cuma itu akan menyakitimu.”

“Ta, aku nggak akan pergi, nggak akan tiba-tiba hilang dari kamu.”

“Bagaimana kalau aku yang pergi? Bagaimana kalau aku yang tiba-tiba menghilang?”

“Tidak apa-apa, aku akan tetap mencintaimu. Karena aku nggak takut kehilanganmu, Ta. Kita dilahirkan saja untuk menemui kematian, lalu untuk apa aku diam saja membuat hatiku jadi barang tak berguna hanya karena aku terlalu takut untuk mengambil resiko?”

“Nugraha, aku ini tidak akan bisa mencintaimu. Perasaanku yang tadinya mengenal cinta, sudah hilang.”

“Ya sudah, kita cari sama-sama, ya?”

6

Kata — Bab 6

6


BAB 6 – HUJAN TAK BUTUH ALASAN UNTUK JATUH


“Kecepetan, Man,” ucap Cahyo sambil meneguk teh tawar panas.

I know. Tapi apa bedanya kemarin sama lusa? Apa bedanya sekarang sama besok?”

“Binta itu manusia yang selalu butuh waktu yang lama, seperti kura-kura. Lo salah kalau terlalu terburu-buru.”

Mendengar itu Nug tertegun, selayaknya mobil yang mengerem mendadak karena ada kura-kura yang tiba-tiba melintas entah dari mana datangnya. 

Cahyo menepuk bahunya, “But it’s fine, seenggaknya lo jujur. Cuma lo musti siap dengan segala bentuk dari reaksi Binta nanti.”

“Dia bakal marah, Yo?”

“Sebenernya dia cuma kaget, tapi mungkin reaksinya bakal marah. Tapi gak tau juga, ya udah, gue ke kelas dulu. Good luck, Man.” kata Cahyo yang kemudian beranjak.

Suasana hati Nug berubah tidak tenang, mendadak ia ingin sekali mendengar kabar Binta setelah mendapat paket darinya kemarin. Ia terus memikirkan keputusannya yang ternyata berujung pada sebuah kesalahan fatal. Ia takut Binta menjauh, ia takut ia semakin jauh dari dunia Binta yang sangat ingin ia kunjungi sejak pertama kali bertemu dengannya.

“Nug, gak kelas?” 

Teman satu kelasnya memecahkan lamunan yang dari tadi menjadi fokusnya, “Iya, bentar lagi.”

***

Di dalam kelas pun begitu. Mata kuliah “Struktur dan Konstruksi Bangunan Bertingkat Tinggi” tidak berhasil mencuri perhatiannya sedikit pun. Padahal itu lebih penting, ketimbang seorang perempuan cuek yang sekarang ada di kepalanya itu.

Dari dalam hatinya, muncul satu pertanyaan yang dari tadi terus berulang, Bagaimana kalau Binta menjauh?

Ya. Nug cuma ingin dekat, dan kalau ternyata apa yang ia lakukan kemarin justru membuat Binta menjauh, entah akan seberapa kecewanya dia dengan dirinya sendiri. Mahasiswa dengan IP tertinggi di kelasnya itu ternyata bisa membuat kesalahan juga, sambil melamun ia terus menghina dirinya dalam hati, Ternyata benar, Binta lebih sulit dari soal matematika, dan gue gak bisa memecahkan persoalannya. Mungkin guenya yang terlalu bodoh atau Binta yang terlalu rumit, seperti soal yang tidak bisa diselesaikan.

Keresahannya itu membuatnya berdiri dari bangku tempat ia duduk, membuat seisi kelas langsung melihat ke arahnya. Awalnya, ia tidak sadar dengan apa yang ia lakukan, tapi kemudian ia bilang, “Maaf pak, saya harus keluar sebentar.” katanya pada dosen yang sedang ada di depan lalu ia pergi keluar kelas.

Ia bergegas, berlari menuju gedung fakultas ilmu komunikasi, tempat Binta berada pastinya. Ia menaiki tangga, menyusuri lorong, sampai akhirnya ia berdiri tepat di depan kelas dimana Binta seharusnya ada. Tanpa berpikir dulu, tanpa mengetuk pintunya dulu, ia langsung membuka pintu, dan mulutnya berucap, “Binta!?”

Semua yang ada di dalam kelas langsung menoleh, termasuk dosen yang terkenal galak itu. Matanya terus mencari seorang perempuan yang gemar pakai kaos berwarna hitam, dan dikuncir satu ke belakang dengan walkman yang tersambung di telinganya. Kemudian ia melihat Cahyo, yang menggelengkan kepalanya, seakan memberi isyarat bahwa Binta tidak ada di kelas, bahwa dia tidak masuk hari ini.

Ketika mengetahui itu, Nug langsung bergegas ke parkiran motor. Ia takut ada sesuatu terjadi pada Binta. Mungkin tadi Binta terlambat lagi masuk kelas, jadinya dia pulang. Tidak tahu kenapa, tapi Nug yakin bahwa Binta pasti pulang ke rumah. Benar, rumah, satu-satunya ruang yang nyata untuknya di bumi, yang tidak pernah membuatnya pergi kemana-mana.

***

Ia matikan motornya di depan pagar rumah Binta, melepas helm, turun, kemudian berusaha membuka pagar rumah Binta dengan keresahan mendalam yang ia rasakan.

“Binta!!!” 

Tidak ada jawaban.

“BINTAA!!!!” ia teriak.

Di dalam, Binta mengintip dari balik jendela. Perasaannya merasakan sesuatu yang jarang sekali muncul. Bi Suti menghampirinya dengan kain lap yang selalu ada di bahu sebelah kanannya itu, “Kak Binta, itu temannya ada di luar.”

“Iya, Bi, biar aku aja.” jawab Binta sambil meninggalkan jendela tempat ia mengintip Nug yang masih berdiri di depan pagar.

Berat sekali langkahnya untuk keluar dan membuka pintu untuk menemui Nug. Tapi Binta harus berani, karena yang di depan itu cuma Nugraha, bukan masa lalu yang bisa menghantuinya seperti dulu.

Nug menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka, apalagi ketika ia lihat Binta sendiri yang membukakan pintu. Mulutnya bersuara pelan, “Binta?”

Binta menghampirinya dan membuka gembok pagar. Di luar dari perkiraan Nug sebelumnya, Binta tidak langsung marah-marah. Padahal ia sudah menyiapkan dirinya untuk dibentak-bentak oleh Binta, namun yang terjadi justru sebaliknya.

“Hei, Ta,”

“Masuk,”

“Aku boleh masuk, Ta?” tanyanya dengan wajah terkejut.

“Ya udah kalau kamu mau di luar.” kata Binta lalu kembali masuk ke dalam.

Tentu saja Nug buru-buru mengikutinya dari belakang dengan senyuman lebar yang tidak bisa disembunyikan.

Binta mengajak Nug ke ruang tamu dan memintanya duduk, “Mau minum apa?”

“Aku cuma mau ketemu kamu doang kok, Ta,”

“Ini udah ketemu, terus mau apa lagi?”

“Mau mastiin kamu gak kenapa-kenapa, soalnya kamu gak ada di kampus tadi.”

Belum lama duduk, Binta langsung beranjak, “Sini, ikut,”

Nug agak bingung, karena ketika mengucapkan itu, muncul kesedihan yang besar dari wajah Binta. Selayaknya langit cerah berubah mendung seketika.

Ia berjalan mengikuti Binta. Sepertinya menuju halaman belakang. Nampak seorang perempuan terduduk di kursi roda dekat kolam ikan. Mamanya Binta, tentu saja.

Nug mulai merasa ada yang aneh, “Ta? Binta?”

Tapi Binta tak menjawab, ia terus berjalan menghampiri mamanya, membuat Nug yang tidak tahu apa-apa semakin kebingungan.

“Ma, ini ada temanku,” kata Binta lembut sambil membungkukkan tubuhnya untuk berbisik.

Nug kaget, pastinya. Wajahnya membeku, perasaannya seperti batu yang tiba-tiba retak, matanya fokus pada Mama Binta tanpa berkedip. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang ia lihat sekarang benar-benar nyata. Ia harus bisa menguatkan hatinya untuk melihat sesuatu yang selama ini ternyata menjadi alasan Binta tidak mau membuka dirinya untuk dunia.

“Nug?” tanya Binta memastikan bahwa Nug sudah sadar dari kagetnya.

Sikapnya berubah 180 derajat, ia langsung memasang senyum yang lebar, dan menghilangkan wajah kagetnya tadi. Ia lantas mencium tangan Mama Binta kemudian menyapanya hangat, “Halo, Tante, saya Nugraha, temannya Binta. Tapi anak tante lebih senang panggil saya Nug, karena Nugraha kepanjangan. Berhubung Binta ini nggak suka bicara banyak-banyak.”

Di sini Binta jadi lebih kaget. Tidak ia sangka reaksi Nug akan seperti itu. Ia kira Nug akan kaget, kemudian pulang, dan ia akan terbebas dari orang aneh itu karena pasti ia tidak mampu masuk ke dunianya yang terlalu hitam.

Walau Mama Binta tidak memberi reaksi apa-apa, tapi Nug terus mengajaknya bicara, “Tante, kemarin saya sama Binta makan sate lho, yaa sebenernya saya doang sih yang makan, soalnya Binta susah diajak makan yang enak. Dia senangnya cuma minum air putih.”

Binta terus tersenyum melihat bagaimana Nug mengobrol dengan mamanya. Mereka seperti langsung akrab, Nug memberi kehangatan seperti dengan ibunya sendiri. Binta tidak percaya bahwa orang yang ingin sekali ia sulap jadi debu itu, justru berhasil menyejukkan hatinya.

“Sepertinya sudah waktunya mama istirahat,” kata Binta sambil memanggil Bi Suti yang sejak tadi melihat dari dalam untuk mengantar mamanya ke kamar.

Setelah mamanya sudah kembali ke dalam, Binta duduk di sebuah bangku taman dekat kolam ikan tadi, diikuti Nug tentunya.

“Itu duniaku, Nug. Duniaku yang kamu kira menyenangkan itu sebenarnya cuma gumpalan awan mendung yang cuma bisa menurunkan hujan.”

“Sejak kapan, Ta?”

Binta menoleh bingung, “Sejak kapan apanya?”

“Skizofrenia?”

“Sejak umurku masih lima tahun.”

“Kenapa aku boleh lihat isi duniamu, Ta?”

“Supaya kamu pergi.”

“Kamu tahu hal itu justru akan semakin membuatku tidak mau pergi.”

Binta bersikap memohon sambil memegang kedua tangan Nug, “Kamu harus pergi, Nug, duniaku cuma…”

Ia langsung memotong kalimat Binta lalu membentaknya, “Gak! Aku gak mau. Aku gak mau pergi.”

Matanya berkaca-kaca, hatinya seperti diberi dentuman keras, Binta menangis. Bentakan Nug berubah menjadi lembut, “Aku maunya di sini, Ta,”

“Nug, kamu tahu duniaku sudah terlalu berantakan.”

“Binta,” gantian ia yang memegang kedua tangan Binta, “Aku gak tahu masa lalu apa yang tega menyakitimu sampai kamu terlalu takut untuk memberi sedikit ruang untuk orang lain, dan aku juga gak bisa menyembuhkan luka yang telanjur ada pada perasaanmu, tapi aku bisa memberimu warna dan cerita yang baru asal kamu mengizinkannya.”

Binta melepas tangannya dari genggaman Nug, “Kamu harus pulang,”

“Tapi aku boleh datang lagi kan?”

“Kalau untuk kasih aku kostum konyol lagi, aku usir.”

Nug langsung tersenyum, “Hmm kalau itu gak janji sih Ta…”

“Nug!”

“Ehehehe sudah dicoba belum?”

“Apanya?”

“Kostum Bellenya,”

“Kukasih anaknya Bi Suti.”

“Demi apa, Ta?” wajah Nug berubah shock.

Binta tertawa sambil berjalan pergi meninggalkan Nug yang masih kaget campur tidak terima karena hadiah pemberiannya itu justru diberikan ke orang lain.

“Binta? Binta!”

***

Binta mengantar Nug ke depan rumah, padahal Nug masih ingin berlama-lama di sana.

“Kok aku diusir sih, Ta?”

“Kamu ke sini pasti ninggalin kelas, kan?”

“Yah, Ta, masuk kelas kan…”

“Udah sering?” potong Binta dengan melanjutkan kalimat Nug sebelumnya.

“Ta aku gak mau pulang..” katanya sambil terus mengemis izin pada Binta untuk dibolehkan singgah lebih lama lagi. 

“IP-ku memang nggak sebagus kamu, tapi aku gak mau gara-gara temenan sama aku, IP-mu jadi turun.”

Ada satu bagian dari ucapan Binta barusan yang membuat Nug kepedean, “Teman, Ta? Ini aku sudah jadi temanmu, Ta?!”

“Hah? Ih, bukan gitu maksudku…”

“Maksudmu gitu aja dong, Ta, sekali-kali bikin aku geer sedikit kenapa.”

Binta menahan tawa, “Pokoknya tetap belum.”

“Hmm… belum? Berarti kesempatan sudah ada di depan mataku ya, Ta?”

“Ah udah sana pulang,” jawab Binta sambil mendorong tubuh Nug menuju pagar rumah.

“Nanti sore aku ke sini lagi ya?”

“Ish, mau ngapain?”

“Mau menggunakan kesempatan dengan baik.”

“Alesannya selalu ada aja.”

“Makanya cepat jadikan aku temanmu, langsung jadi pacar juga gapapa.”

“Nug… jangan mulai buat aku kesel plis.”

“Ta, kamu beneran udah baca surat yang kemarin belum sih?”

“Yang ada di bungkusan paket darimu?”

“Iya, udah dibaca belum?”

“Udah.”

“Terus?”

“Terus apanya?”

“Ya aku menyukaimu, Ta.”

Binta menelan ludah, “Ya, terus aku harus gimana?”

“Yaa kamu harus siap-siap,”

“Untuk apa?”

“Untuk kucintai. Soalnya aku sudah menyukaimu, dan setelah itu pasti prosesnya berubah jadi mencintaimu. Walaupun sebenarnya aku sudah siap sih… kalau harus jatuh cinta denganmu, kamunya yang juga harus siap dicintai sama orang yang kamu benci setengah mati.”

“Nug…” cuma itu yang bisa keluar dari mulutnya, cuma itu kalimat yang bisa menutupi kegugupannya karena mendengar ucapan Nug barusan.

“Iya deh aku pulang,”

Nug berjalan keluar, menuju motornya. Tapi ketika ia baru saja mengambil helm, ia mengembalikkan helmnya lagi dan menggantungkannya di kaca spion sebelah kiri,

“Eh iya, Ta,” ucap Nug seperti kelupaaan sesuatu.

“Kenapa? Ada yang ketinggalan?”

“Enggak aku cuma lupa bilang,”

“Bilang apa? Perasaan kamu udah kebanyakan ngomong dari tadi,”

Ia meraih tangan Binta, “Binta harus kuat ya? Kalau Binta flu, atau demam, Binta harus kuat, gak boleh kalah sama flu, karena…. karena Binta adalah orang terkuat yang pernah kutemui. Tapi kalau flunya terlalu kuat… ya gapapa sih kan ada obat buat flu, ya kan?”

“Nug kamu ngomong apaan sih?”

“Pokoknya, Binta harus selalu kuat. Oh iya, satu lagi. Skizofrenia itu bukan penyakit kejiwaan, tapi hadiah dari Tuhan. Jadi jangan marah sama Tuhan karena Dia ngasih kondisi mamamu seperti itu, justru itu tanda cinta Tuhan pada mamamu, Ta. Jangan pernah dijadikan beban ya?”

Binta tersenyum. Perasaannya yang sebelumnya seperti awan mendung itu berubah menjadi berwarna biru indah dan cerah. Mungkin karena mendung memang tidak melulu berarti akan hujan, kan?

“Iya, Nug,”

“Ya udah deh, aku pulang, nanti sore aku ke sini lagi, kamu mau kubawain apa? Ah, tapi percuma kalo ditanya, langsung kubawakan saja ya.”

***

Binta masuk ke dalam setelah Nug pergi. Menghampiri mamanya yang sedang tidur di kamar. Ia tersenyum melihatnya. Mengingat kembali perkataan Nug. Memang benar, Skizofrenia itu bukan penyakit kejiwaan, tapi hadiah dari Tuhan. Binta merasa damai sekali tiap mengingat perkataan Nug yang ternyata membawa ketenangan bagi hatinya.

Ia duduk di sebelah mamanya, memulai cerita walau beliau sedang tertidur pulas,

“Ma, Nug sudah pulang.”

Lagipula tidur atau bangun, reaksinya akan sama saja. “Iya Ma, itu yang namanya Nugraha, nyebelin kan anaknya?”

“Tapi Binta masih tidak percaya. Orang yang kerjaannya cuma gangguin Binta itu ternyata bisa mengeluarkan kata-kata yang menyejukkan.”

“Binta terlalu berpikiran buruk tentang dia ya, Ma? Padahal sebenarnya anaknya baik, mungkin…”

“Yang Binta rasakan semakin aneh, Ma, sudah lamaaa sekali Binta nggak ngerasain perasaan semacam ini.”

“Tapi ini pasti hilang. Ini pasti cuma sementara. Pun dengan Nug, ia pasti akan menyerah pada waktunya. Dan ketika ia menyerah, maka perasaan yang aneh ini akan kembali normal.”

“Iya kan, Ma?”

***

Binta mendengar suara air. Seperti ada sesuatu yang jatuh ke kolam ikan. Ia terbangun, membuka matanya. Ia sadar bahwa ia baru saja tertidur. Melihat mamanya sudah tidak ada di tempat tidur, matanya langsung membelalak, “Mama? Mama!?”

Perasaannya terkuncang. Ia panik. Buru-buru ia beranjak dan berlari keluar kamar,

“Mama?? Mama???!”

Ia memeriksa ke kamar mandi, tidak ada. Ke ruang makan, juga tidak ada.
Ia berlari ke dapur, melihat Bi Suti sedang mencuci piring, “Loh, Bi? Mama mana?”

“Di halaman belakang, Kak…”

“Hah sama siapa?”

Bi Suti cuma menunjuk ke jendela yang mengarah ke halaman belakang, terlihat di sana mamanya sedang duduk di kursi roda dengan seorang laki-laki yang sekarang sangat mudah untuk dikenali, “Nug?”

Binta menghampiri mereka, “Mama?”

Nug yang menengok, “Eh, sapinya sudah bangun nih, Tante…”

Binta melihat bungkusan besar berisi air, “Ini bekas apa? Kamu bawa apa tadi, Nug?”

“Habis beli ikan mas koki, biar kolam ikannya makin ramai. Iya kan, Tante?”

“Ya ampun, Nug…?”

“Gapapa kan, Tante?”

Apa yang dia lakukan? Untuk apa dia melakukan itu? Kalau cuma karena dia menyukaiku, apa harus? Kalau cuma untuk membuatku menyukainya, apa harus? tanya Binta dalam hati.

“Saya juga suka ikan mas koki, Tante, cuma di rumah gak ada kolam ikan, jadi paling saya taruh di akuarium kecil.” 

“Pasti Binta gak suka ikan mas koki, dia itu sukanya ikan piranha, cocok sekali dengan wajahnya yang menyeramkan seperti mau makan orang. Tapi… nilainya tinggi, Tante, gak sebanding dengan ikan-ikan biasa.”

Binta menyahut, “Terus? Kamu ikan apa?”

“Ikan cupang. Tenang… damai…. sendirian….”

“Ish! Gak cocok!”

“Iya juga ya, itu mah Binta.”

“Nug!”

“Berarti aku ikan lele. Ekonomis, mudah diurusin, dan enak untuk dinikmati semua kalangan.”

“Hahaha kamu itu ikan lele atau pecel lele?”

Binta tertawa. Bahagia sekali melihatnya. Kalau saja ia berada di depan kaca sekarang, pasti ia akan sadar bahwa ia sangat cantik ketika sedang tertawa seperti itu, kagum Nug akan Binta yang cuma berani ia sampaikan dalam hati.

“Tante, Bintanya boleh saya pinjam sebentar nggak?”

“Nggak, nggak!” malah Binta yang menjawab.

“Ah, pasti boleh. Mamamu kan baik, Ta, gak kayak…”

“Gak kayak siapa?!”

“Tante, sebentar ya?” izin Nug sekali lagi untuk meminjam anak satu-satunya itu jalan-jalan sebentar.

“Aku ganti baju dulu,”

“Nggak usah, kelamaan.”

“Ish aku kayak gembel gini, Nug,” katanya berusaha membela pendapatnya dengan melihat celana hitam dan kaos kumal yang ia kenakan.

“Justru itu. Supaya kamu dikira gembel dan gak ada yang memperhatikanmu. Karena yang boleh melakukan itu cuma aku.”

“Idih! Emang kamu siapa.”

“Pacarmu, baru calon sih….”

“Hhhhh! Terserah!”

Binta meninggalkan Nug yang sedang cekikikan tertawa sendirian. Mereka kemudian berjalan keluar, motor Nug terlihat terpakir di garasi, bukan di depan pagar lagi. Tapi Nug melewati motornya, bukannya segera naik dan menyalakan mesinnya.

“Loh? Kamu mau kemana?” tanya Binta bingung.

“Naik metro mini aja ya, Ta? Biar macet, biar aku lama sama kamunya. Kalau naik motor, pasti nyampenya cepet.”

Binta menaikkan alisnya, “Maksudnya??”

“Ayo, Ta, nanti keburu sorenya diambil malam.”

***

Hampir saja mereka ketinggalan metro mini, tapi beruntung Binta segera melambaikan tangan supaya metro mininya berhenti. Mereka naik, lumayan penuh, tapi ada dua tempat duduk bersampingan yang masih kosong.

Binta duduk dekat jendela, diikuti Nug. Padahal Binta sendiri tidak tahu mau dibawa kemana, tapi kali ini ia memilih untuk menurut tanpa banyak bertanya seperti biasanya, karena Nug sudah membuat mamanya senang hari ini, tidak ada salahnya kalau gantian ia yang membuat Nug senang.

“Binta?”

Binta yang tadinya sedang menghadap ke jendela, menoleh, “Hmm?”

“Kamu tahu nggak, orang yang belum pernah ketemu aja bisa saling jatuh cinta?”

“Ah, mana ada.”

“Ih, Ta… iya aja kenapa.”

“Iya-iya…”

“Kadang, kita gak butuh waktu yang lama untuk mencintai seseorang,”

“Maksudnya?”

“Ta, ini hari keempat aku bersamamu. Di hari pertama aku gagal ngajak kamu pergi, di hari kedua aku berhasil ngajak kamu ketemu anak-anak pinggir rel dan ternyata mereka sangat menyukaimu, di hari ketiga aku berhasil buat kamu jadi Princess Binta, dan sekarang, aku sudah mencintaimu, Ta.”

Seperti tata surya yang berhamburan, seperti itulah kira-kira kondisi Binta sekarang. Ia tidak menyangka ada kata cinta yang muncul di antara mereka. 

“Kenapa? Kenapa kamu harus jatuh cinta denganku, Nug?”

“Kenapa hujan selalu menjatuhkan dirinya ke tanah berulang-ulang kali, Ta?”

Seperti hujan yang menjatuhkan dirinya ke tanah tanpa alasan, seperti itu pula Nug menggambarkan cintanya untuk Binta. Ia cuma jatuh pada Binta, begitu saja. Padahal ia sadar, ia sedang menjatuhkan hatinya pada lubang hitam yang tidak menjanjikan kebahagiaan di dalamnya.

5

Kata — Bab 5

5

 

BAB 5 – RUMAH ADALAH KOTA MATI

 

Salah sekali memang naik taksi di hari kerja, karena Jakarta sulit dijadikan teman. Rumit sekali peraturan di kota ini. Untuk manusia yang tidak bisa diatur dengan peraturan, Binta lebih senang menghabiskan waktunya di rumah. Karena baginya, rumah adalah kota mati yang tidak bisa memaksanya patuh dengan peraturan.

“Ah, pake macet segala, sih!” 

“Macet itu juga takdir, Ta. Mungkin Tuhan ingin kita berlama-lama di dalam mobil, supaya aku punya lebih banyak waktu denganmu.”

“Berarti Tuhan tidak adil.”

“Dia Maha Adil, Binta…”

“Kalau memang takdir-Nya adalah macet, berarti yang bahagia cuma kamu.”

Nug tertawa, “Sebentar lagi kamu juga ikut bahagia.”

“Kalau di sebelahku masih ada kamu, tidak ada yang namanya bahagia.”

“Hmm…. kalau berada di sebelahmu sudah tidak ada kesempatan lagi, berarti di hidupmu boleh ya, Ta?”

Aneh sekali rasanya ketika Nug mengeluarkan kalimat menggelikan itu. Aku bahkan sekarang tidak tahu itu hanya lelucon atau memang sungguhan. Kuharap ia tidak benar-benar serius. Aku tidak suka membuat percakapan serius dengan orang aneh itu, sungguh, pikir Binta.

“Hidupmu kurang seru sampai harus menggangguku?”

“Sebenarnya hidupku sudah seru, tapi belum indah.”

“Nug, kamu makan apa sih?”

“Makan apa maksudnya, Ta?”

“Kamu aneh.”

“Loh bukannya katamu aku memang aneh?”

“Ya iya sih, tapi sekarang makin aneh.”

“Makanya jangan terlalu diperhatikan, Ta. Nanti kalau kamu tiba-tiba jadi makin nyaman denganku, kan, kamu sendiri yang tidak mau…”

Binta akhirnya diam. Ia memilih tidak lagi meneruskan percakapan yang selalu berujung membuatnya jengkel. Entah dari mana Nug belajar bicara seperti itu. Kalau perempuan itu bukan Binta, pasti dengan mudah akan jatuh cinta dengan Nug. Pintar, berkharisma, tampan pula. Sayangnya perempuan itu Binta, yang bahkan senja tidak berhasil mencuri hatinya.

“Ta, kamu sukanya apa, sih?”

Binta masih pada keputusannya untuk diam membisu. Ia tidak tertarik untuk mendengar gombalan Nug yang semakin membuat perasaannya merasa ada yang keliru. 

“Ta? Taa? Bintaaa?” Nug terus memanggil Binta selayaknya anak kecil yang memanggil temannya dari luar pagar untuk diajak bermain.

“Payah, Binta tidak mencerminkan anak komunikasi yang baik.”

“Biarin.”

“Ayo jawab dong, Ta,”

“Aku nggak suka apa-apa, Nug.”

“Nggak mungkin.”

“Ya udah kalo nggak percaya.”

“Jangan terlalu menutup diri sama dunia, Ta.”

“Dunia yang terlalu sibuk untuk aku ajak bicara baik-baik.”

 “Maksudnya, Ta?”

“Kamu nggak perlu ngerti. Di sini aku yang anak komunikasi.”

“Sudah sampai, Mas, Mba.”

Binta keluar dari taksi lebih dulu. Hatinya itu memang sensitif sekali. Kalau ada orang yang berusaha memberinya nasihat pasti berakhir dengan pendapatnya yang harus selalu benar. Itu salah. Binta pun tahu itu salah. Tapi dia sudah telanjur tidak peduli.

Halloween masih lama, Nug.”

“Bukan untuk Halloween, tapi untukmu.”

“Untukku?”

“Air mineralmu sudah habis, kan? Kalau kamu haus, aku yang repot.” jawab Nug sambil memasuki area toko.

“Siang, Mas, ada yang bisa dibantu?”

“Saya cari kostum yang mirip-mirip princess seperti di Disney gitu, Mba, ada nggak?”

“Oh, ada-ada. Mari ikut saya, Mas.”

Binta memanggil Nug, “Mau apa sih, Nug?”

Nug sama sekali tidak menghiraukannya. Ia lantas mengikuti Mba penjaga toko tadi. “Maunya princess apa, Mas?”

“Ha?” Nug kebingungan sendiri.

Binta yang dari tadi cuma berdiri dan memerhatikan Nug ribet seperti itu, tidak kuasa menahan tawa, “Hahaha, princess itu ada banyak, Nug.”

“Oh… iya.. ya?”

“Makanya besok lagi riset dulu.”

“Jadi besok mau pergi denganku lagi?”

“Gak.”

“Memangnya ada princess apa aja, Mba?”

“Ada Aurora, Cinderella, Snow White dan Belle.”

Nug berbisik ke telinga Binta dengan wajah sedikit ragu, “Ta, Belle itu yang pangerannya dikutuk jadi monster itu bukan sih? Yang wajahnya jelek.”

“Iya bener.”

“Aha! Ya sudah, Mba, yang Belle saja. Tolong dicarikan ukuran yang seperti ini ya,” jawab Nug sambil menunjuk Binta.

Mata Binta langsung membelalak saking kagetnya, “Aku?! Kok aku!!!”

“Udah deh…” jawab Nug santai walau sebenarnya ia takut sekali dipukul Binta.

Binta benar-benar geram, ia mengepal tangan kanannya seperti sedang ambil posisi untuk memukul seseorang yang tidak lain tidak bukan adalah Nug. 

“Mari Mba ikut saya,” dengan mudahnya si Mba penjaga toko mengajak Binta mengepas kostum yang sudah Nug pilihkan untuknya. Walau anaknya sangat dingin, ia tidak suka berlaku galak dengan seorang pegawai yang cuma sedang melakukan tugasnya. Jadi untuk kesekian kalinya, Binta harus menurut.

***

Setelah mendapat ukuran yang pas, Nug segera membayar kostum Belle itu di kasir. Sedangkan Binta menunggu di luar, wajar, ia pasti sedang berada di puncak kekesalannya. Berulang kali mondar-mandir, antara resah atau mungkin sedang menggerutu di dalam hatinya. Dari dalam toko, Nug menonton kegelisahan Binta sambil terus berpikir, Kenapa Binta tidak mau dibuat bahagia? Tuhan, Kau ciptakan dia dari apa? Padahal wujudnya indah, sayang sekali kalau hatinya tidak pernah dipedulikan.

Nug akhirnya keluar setelah kostum itu sudah dibungkus dengan rapi, dan perlahan ia menghampiri perempuan yang dari tadi ia buat kesal, “Bukan untukmu kok, Ta,”

Binta menoleh lega, “Beneran?”

“Iya, sepupuku mau ulang tahun, postur tubuhnya tidak jauh beda denganmu.”

“Duh kirain,”

“Tapi kalau kamu juga mau, aku belikan, Ta,”

“Jangan cari masalah.”

“Ehehehe iya ampun-ampun, Binta mau ke mana lagi?”

“Yakin nanya?”

“Nggak sih, makan yuk, aku laper.”

Percuma kalau dijawab. Selama jawabannya tidak sama dengan Nug, selama itu pula jawaban Binta cuma sebatas angin lalu. Karena Nug tahu, Binta cuma ingin pulang, dan ia tidak mau itu terjadi.

Ketika bersama Binta, aku lebih merasa dunia ini punya arti yang berbeda. Aku merasa ada senyuman hilang yang harus segera kutemukan.” kata Nug dalam hati sambil mengajak Binta jalan kaki, katanya ada warung sate yang enak di dekat situ.

Nug menenteng cermin dan kresek berisi kostum yang ia beli tadi. Punggungnya masih menggemblok tas ransel Binta. Ia takut kalau dikembalikan, Binta akan langsung kabur naik metro mini. Sedangkan Binta yang sejak dari toko melipat tangannya karena tidak membawa barang bawaan apa-apa, melirik ke arah Nug yang tetap berjalan seakan tak membawa beban. Warung satenya memang dekat, ketika sampai Binta segera duduk disusul Nug yang meletakkan barang-barangnya di dekat meja.

“Binta mau apa? Sate ayam atau sate kambing?”

“Aku nggak laper.”

“Tapi kamu belum makan apa-apa, Ta, tadi di kantin kan cuma minum air putih.”

“Tapi kamu yang dari tadi bawa ranselku, berat tau.”

“Hah?”

“Kamu dulu aja,”

“Mas, sate ayamnya sepuluh tusuk, nasinya satu, es teh manisnya satu.” kata Nug pada si penjual sate.

“Pacarnya gak pesan, Mas?” gantian si penjual sate berbalik tanya yang membuat Nug tertawa, “Hahaha, dia maunya sepiring berdua, Mas…” jawab Nug iseng.

Binta segera mencubit kecil tangan kanan Nug yang spontan membuatnya teriak,

“Aduh, Ta!”

“Kamu tuh nyebelin banget, tau?”

“Ah masa sih, Ta?” jawabnya sambil memeriksa bekas cubitan Binta yang ternyata memerah di tangannya itu, berarti tadi Binta benar-benar kesal.

“Mau kucubit lagi?! Seumur-umur belum pernah aku sekesal itu sama seseorang sampai harus kucubit kecil.”

Nug melongo, “Ha? Beneran, Ta?”

“Beneran apanya?”

“Aku orang pertama yang kamu cubit kecil?”

“Hhhh! Kenapa sih kamu selalu salah mengartikan maksudku!”

Nug menyodorkan tangan kirinya, “Nih, Ta, tangan yang satunya lagi belum.”

“Nug!!”

“Kamu itu jangan terlalu kesal denganku, nanti kesalnya berubah jadi kangen.”

“Nugraha, kamu itu emang gak akan bisa jadi temanku.”

“Iya sih, aku mikirnya juga begitu. Aku memang lebih cocok jadi pacarmu.”

Binta beranjak, “Dah ah pulang yuk,” wajahnya semakin menggambarkan kepasrahannya. Ia benar-benar sudah tidak sanggup menghadapi Nug.

“Iya-iya, maaf ya Binta. Sekarang kita makan dulu, habis itu baru tasmu kukembalikan.”

“Padahal tasnya gak penting-penting amat, kenapa juga aku harus menggantungkan waktuku pada benda mati itu.”

“Ya berarti karena kamu memang senang buang waktumu untukku.”

“Terserah. Aku capek emosi sama orang aneh.”

“Berarti kamu gak akan kesal lagi denganku?”

“Nug kenapa sih tiap kali aku bilang A selalu kamu maknainya dengan B?”

Satenya datang tepat ketika Nug ingin menjawab pertanyaan Binta. “Yakin gak mau? Ini terkenal enak lho, Ta,” tanya Nug berusaha menawarkan Binta sekali lagi. 

“Terkenal atau enak?” 

“Maksudnya?” 

“Iya terkenal karena enak, atau enak jadinya terkenal?”

“Maksudnya, maksudnya gimana, Ta?”

“Ngomong sana sama tembok.”

Nug mulai menggigit sate ayam yang ia celupkan terlebih dulu ke sambal kacangnya. Binta cuma duduk manis, melihat si bapak mengipas-ipas sate untuk pelanggan berikutnya. Berbeda dengan yang sedang makan, sambil mengunyah, Nug terus saja memandangi wajah Binta.

Mungkin kini memandangi wajah Binta jadi hobi baru yang sedang ia tekuni, tak peduli diizinkan atau tidak, ia akan terus melakukan itu.

Percaya atau tidak, memandangi wajah Binta seperti melihat pemandangan indah di dimensi yang tak akan pernah sanggup kudatangi. Untung saja memandanginya masih gratis, kalau berbayar, entah sudah berapa banyak biaya yang kukeluarkan, kata Nug dalam hati sambil terus melakukan kegiatan yang ia lakukan sejak tadi.

***

“Aku antar pulang ya?”

“Nggak usah, barang bawaanmu terlalu banyak, ribet. Sudah mana tasku?”

“Gak ribet kok, Ta, aku sanggup bawanya,”

“Aku yang ribet ngeliatnya,”

“Cuma sampe depan komplek deh, Ta?”

“Nug? Udah deh, kayak ga ada besok aja,”

“Berarti kalau besok boleh?”

Mereka berdua sudah berdiri di pinggir jalan. Mata Binta tertuju pada kendaraan yang lewat, ia tidak mau sampai ketinggalan metro mini. Nug cuma berusaha mencari ide supaya bisa mencegah Binta pulang, walau sama sekali tidak ada celah.

Rasanya aneh sekali kalau Binta mau pulang. Tidak tahu. Ini aneh. Aku cuma ingin ikut dia kemana pun. Kemana pun, pikirnya.

Dari kejauhan sudah terlihat metro mini arah rumah Binta, ia segera bersiap-siap,

“Nah itu dia, akhirnya.”

“Kayak habis keluar dari penjara ya, Ta? Bebas ya kalau udah gak sama aku?”

“Hmm… sedikit,”

Metro mininya semakin dekat. Tiba-tiba ada sesuatu yang berlari di dalam perasaan Nug. Sesuatu yang memaksanya untuk bilang, “Ta? Bagaimana kalau yang keluar dari mulutku beneran?”

Binta yang sedang siap-siap untuk memberhentikan metro mini langsung menoleh ke arah Nug dengan wajah bingung, “Hah?”  

“Kalau aku menyukaimu gimana, Ta?”

Rasanya seperti melihat meteor jatuh. Fokusku buyar. Aku masih mengira ini mimpi, atau mungkin Nug keracunan sate ayam yang ia makan tadi. Aku harus apa? tanya Binta pada dirinya sendiri.

Metro mininya sudah tepat berada di depannya, kernetnya pun sudah menyuruh Binta untuk buru-buru naik. Dan dari semua kosa kata yang ada di kepalanya, Binta memilih untuk mengucapkan, “Berarti itu salah.”

Akhirnya ia naik, meninggalkan Nug dengan banyak perasaan yang baru. Pikiran Binta ke mana-mana. Ia tahu percakapan antara mereka belum tuntas, dan ia tidak suka meninggalkan sesuatu yang belum selesai. Ia tidak mau ketika sampai di rumah pikirannya masih ada pada masalah itu. Sempat berpikir untuk turun kembali, tapi ia mencegah niatan itu.

Lagi pula, iya pasti cuma berandai-andai. Dalam kalimatnya masih ada kata bagimana. Berarti itu bukan pernyataan yang harus dijadikan masalah. Tidak mungkin juga dia menyukaiku. Dia pasti hanya sedang berusaha membuatku kesal lewat lelucon seperti biasanya, begitulah pembelaan Binta dalam hati. Walau sebenarnya, semakin memberi pembelaan, ia semakin merasa bahwa yang ia lakukan itu salah.

Selama duduk di dalam metro mini, ia terus berdoa supaya kendaraan ini nyasar ke Merkurius, atau terbakar di matahari. Karena Binta tahu akan ada masalah baru ketika ia turun dari metro mini ini.

Tidak, itu bukan masalah baru yang harus aku selesaikan.

***

Binta membuka pintu rumahnya, “Mamaa, mamaa… Binta pulaang,” dengan cepat ia melupakan perkara aneh yang menghantuinya selama kurang lebih satu jam itu.

Sang Mama sedang duduk dekat kolam yang ada di belakang rumahnya, padahal ikannya selalu mati karena airnya jelek. Tapi Binta tetap mengisi kolam itu dengan ikan koi karena ia paham betul betapa sang mama mencintai ikan yang katanya membawa keberuntungan itu.

“Mama lagi apa?”

Dalam hati Binta menjawab sendiri pertanyaan yang ia tanyakan, Binta, apa kamu tidak lihat? Ia sedang duduk. Duduk. Cuma duduk.

“Sudah ada ikan yang mati lagi belum, Ma? Oh iya, Ma, Binta mau cerita tentang seorang laki-laki yang beberapa hari lalu Binta ceritakan ke mama. Namanya Nugraha. Tidak tahu pasti maksud dia apa, tapi dia selalu mengangguku. Menurut Mama, dia mau apa? Karena kalau dipikir-pikir, tidak ada yang bisa ia dapatkan dari Binta, lalu untuk apa dia ngotot ingin jadi teman? Aku tidak mau dia masuk ke dalam dunia Binta, Ma, Binta takut dia kecewa setelah tahu apa yang ada di dalamnya.”

Seperti sebuah fenomena langka, ada keajaiban yang langsung terjadi. Walau tak memberi reaksi pada wajahnya, sang mama tiba-tiba mengangkat tangannya kemudian memegang pipi Binta. Binta menangis. Ya, ia menangis sebisa mungkin. Tangisan yang sudah bertahun-tahun ia sembunyikan dari rembulan dalam hidupnya itu.

Bi Suti mengetuk pintu, “Kak Binta? Itu ada kurir di depan, mengantar paket,”

“Dari siapa, Bi?”

“Ndak tahu, Kak…”

“Sebentar ya, Ma,” kata Binta sambil mencium tangan beliau sebelum beranjak.

Ia buru-buru ke depan rumah, benar, ada kurir.

“Atas nama Binta Dineschara?”

“Iya, Mas, saya sendiri.”

“Mohon tanda tangan di sini, Mba,” katanya sambil memberi kertas tanda terima.

“Maaf tapi dari siapa ya?”

“Di atas paketnya ada surat dari pengirimnya kok, Mba,”

“Oke, makasih ya, Mas.”

Dari bentuknya familiar sekali. Ia langsung curiga bahwa paket itu adalah dari seseorang yang ingin sekali ia usir dari bumi. Ia mengambil amplop berisi surat yang menempel di bungkusan itu. Ketika di buka, tertulis;

 

Ini untukmu, Ta. Aku bohong. Tidak ada sepupuku yang sedang berulang tahun. Cermin beserta kostum Belle ini kuberikan supaya kamu percaya bahwa seorang yang mengaku cuma Binta itu bisa jadi princess. Seperti Belle dan pangeran buruk rupanya. Walau baru sebentar mengenalmu, rasanya kamu berhasil menghilangkan kutukan yang tadinya ada di dalam hidupku. Rasanya sekarang duniaku jadi lebih menyenangkan. Makanya aku ingin sekali diizinkan mengunjungi duniamu itu, Ta. Tidak usah besok, tidak usah lusa, aku akan menunggu sampai kamu mengizinkan.
— Nug

4

Kata — Bab 4

4

 

BAB 4 – KACA DAN MATA

 

Binta beranjak.

“Laper,” katanya singkat, kemudian berjalan pergi. Sempat bingung sebentar, namun Nug akhirnya ikut berjalan di belakangnya seakan mengerti bahwa maksud perkataan Binta barusan adalah “Temenin makan, yuk.”

“Binta mau makan apa?”

“Air putih.”

“Tadi katanya laper?”

“Katamu air putih bagus untuk tubuhku?”

“Iya-iya, ya sudah.”

Akhirnya Binta duduk, Nug membeli air putih seperti permintaan Binta barusan. Sekembalinya, Binta langsung memulai sebuah cerita, “Dari dulu, aku tidak pernah bisa dekat sama banyak orang, Nug.”

“Iya, aku juga nggak kaget, kok.”

“Waktu SD sampai SMA, aku cuma punya satu temen. Sekarang di kampus juga cuma Cahyo.”

“Kalau aku, Ta? Aku belum bisa jadi temanmu ya?”

“Belum,” jawab Binta jujur.

“Ada syaratnya ya, Ta? Apa ada seleksinya?”

“Seleksi? Yang minat saja cuma kamu.”

“Aku mau, Ta. Aku mau sekali jadi temanmu.”

“Nggak usah jadi temanku.”

“Aku kira karena udah sering ngobrol sama kamu bisa membuatku jadi temanmu.”

“Sama tukang nasi goreng juga aku sering ngobrol.”

“Dipikir-pikir dulu juga gapapa, Ta. Siapa tau besok kamu mau jadi temanku. Siapa tau lusa kamu mau jadi pacarku.”

“Nugraha…”

Nug nyengir, “Tapi kalau mau beneran gapapa lho, Ta,”

“Mau apa?”

“Jadi pacarku.”

Binta beranjak, “Balik yuk.”

“Eh iya-iya…”

“Emang nggak ada kelas?”

“Ada, tapi udah sering. Kalau nemenin Binta di kantin kan jarang-jarang.”

Binta cuma bisa geleng-geleng kepala. Di satu sisi ia ingin sekali tersenyum, karena memang menyenangkan sekali mendengar lelucon Nug. Tapi di sisi yang lain, Binta tidak mau Nug merasa dekat dengannya. Binta mau ia tetap berjaga jarak dengan Nug, atau bisa dibilang, Nug tidak boleh bergabung dengan dunianya.

“Ta?”

“Hmm?”

“Pernah pacaran, nggak?”

Dengan percaya diri Binta menjawab, “Ya, enggaklah!”

“Ah masa? Waktu SMA?”

“Nggak pernah, Nug.”

“Tapi SMA kan masa paling indah yang bisa terjadi di hidup kita, Ta.”

“Nggak selalu.”

“Masa, sih?”

“Nanti deh, kalau kamu jadi temanku, kamu akan ngerti.”

“Kalau suka sama orang? Pasti pernah kan, Ta?”

Pertanyaan Nug membawa Binta kembali pada hari itu, beberapa tahun lalu. Kembali pada sosok itu, yang hanya dengan mengingatnya, menjadi kebahagiaan Binta paling sederhana dan paling mudah untuk dilakukan.

“Memangnya, suka itu apa, Nug?”

“Suka itu… ya… kalau kamu merasa senang karena orang itu.”

“Berarti pernah.”

Nug agak terkejut, ada bagian dalam perasaannya yang terasa sedikit ngilu, “Oh iya?”

“Biru namanya.”

“Biru? Beneran Biru namanya?”

“Iya, Biru.”

“Masih suka nggak, Ta?”

“Aku suka sama dia sekali-sekali doang. Nggak setiap waktu. Nggak sering. Jarang. Soalnya, dia orang yang rumit dan nggak pernah menetap di satu titik. Dia terlalu ngebingungin. Menurut aku, suka sama orang sejenis dia, cuma buat capek sendiri.”

“Kalau sekarang? Lagi suka sama dia nggak?”

“Nggak.”

Nug langsung tersenyum lebar, “Aku pesen mie bakso dulu ya, Ta!!”

***

“Kamu beneran nggak masuk kelas?”

“Udah telat setengah jam, Ta.”

“Siapa tau masih boleh masuk.”

“Percuma kalau di kelas tapi pikiranku di kantin. Kasihan ada princess sendirian.”

“Nug…”

“Loh? Benar, kan?”

Binta menggelengkan kepalanya, “Sampai kapan pun aku tidak akan jadi princess.”

“Ikut aku, yuk.”

“Ke mana?”

“Udah, ayo!” seru Nug sambil beranjak pergi.

“Nggak mau!”

Dari kejauhan Nug memperlihatkan tas ransel Binta, Binta memeriksa tas yang tadi ada persis di sebelahnya, kini berpindah ke tangan Nug. Ia membalasnya dengan cemberut. Dalam hati ia menyampaikan kebingungannya, Kapan dia ambil tasku ya?

“Binta? Bintaaa?”

“Hhhh, iya-iya sebentar!”

Binta berjalan dengan membawa botol air mineralnya yang belum habis, dan juga dengan wajah kesal yang belum hilang, tentunya. 

“Aku tidak mau diajak beli burung merpati lagi lho, Nug.”

“Iya, bukan ke pasar burung kok.”

“Terus ke mana?”

“Toko cermin.”

“Toko cermin?”

Nug tidak menjawabnya lagi. Ia hanya meneruskan langkahnya sampai keluar gerbang kampus. Kali ini gantian Binta yang mengikutinya dari belakang. Kalau bukan karena tas ranselnya berada di genggaman Nug, ia pasti tidak akan mau ke mana-mana sekarang.

Mereka menunggu bus kota yang lewat. Sesekali Binta menengok jam tangannya untuk menandakan pukul berapa manusia ini menyita waktunya. Berbeda dengan Nug, ia justru asyik menonton Binta yang dari tadi sibuk sekali bermain dengan kegelisahannya.

“Kayak lagi sama penculik aja,” ledek Nug.

“Mukamu cocok jadi penculik.”

“Ya… sedikit.”

“Lama banget busnya, tumben.”

“Segitu keselnya ya harus menghabiskan waktu sama aku? Dicatat saja berapa lama, nanti waktumu aku ganti.”

“Pakai apa?”

“Pakai cintaku.”

“Ih! Mendingan nggak usah.”

Nug tertawa. Ia memang senang sekali mengganggu nona manis yang hobinya marah-marah itu. Setelah sekitar sepuluh menit menanti, akhirnya busnya datang juga. Yang paling lega tentu saja Binta. Ia langsung naik duluan. Tidak peduli Nug ikut naik atau ketinggalan di halte. Beruntungnya, kala itu bus tidak terlalu penuh. Binta duduk, dan Nug duduk di seberangnya. 

“Berharap aku tidak ikut naik, ya?”

“Tasku hilang kalau kamu tidak ikut naik.”

“Tidak akan hilang, Ta, kan tasnya sama aku.”

“Mana ada barang yang aman di tangan pencuri,” Binta gantian meledeknya.

“Kamu jangan terlalu ngeselin deh, Ta, aku malah makin suka. Coba bersikap manis sama aku, siapa tau aku jadi benci.”

Penumpang di sekitar ikut tersenyum mendengar percakapan mereka. Untung saja di dalam bus tidak ada tulisan dilarang bicara. Nug terus memperhatikan Binta dengan senyuman yang tidak mau ia singkirkan dari wajahnya, membuat Binta yang sesekali sadar dengan perhatian Nug itu menjadi semakin geram dengan laki-laki ini.

“Pacarnya ya, Neng?” sahut ibu-ibu yang duduk di sebelah Binta.

“Kalau pacar masa duduknya gak sebelahan, bu,” jawab Binta bergurau.

“Ibu mau kok tukeran sama dia,” tanggap si ibu dengan serius.

“Eh, enggak Bu, saya bercanda, itu cuma teman kuliah.”

Di tempat duduknya, Nug menahan tawa. “Sudah saya tawarin, Bu, tapi dia nggak mau..” kata Nug meledek.

Binta melotot, “Nug!”

“Masa muda itu harus dinikmati, Neng, dan mencinta itu salah satu cara menikmatinya.”

Binta cuma tersenyum maksa. 

“Iya nanti kapan-kapan saya coba deh, Bu.”

“Coba mencintai orang?”

Binta mengangguk, “Iya…”

“Loh, kenapa nanti kalau bisa sekarang? Pacaran dengan teman sendiri itu seru lho, Neng…”

“Aduh, bu, saya belum siap, lagian nggak mungkin dia.” jawab Binta sambil menunjukkan wajah ”Ogah banget gue.” 

“Hati seseorang itu selalu butuh pasangannya, Neng.”

Binta menelan ludah. Nug masih saja menahan tawa. Padahal semesta merestui mereka. Tapi percuma kalau Binta memenjarakan hatinya di dasar laut dan lupa di mana menaruh kuncinya.

Halte tempat mereka tuju sudah sampai. Nug turun diikuti Binta sambil nyeletuk,

“Gimana? Sudah mau belum jadi pacarku?”

“Nug sekali lagi kamu nanya itu aku pukul.”

“Pukul pakai hatimu aja biar rasanya menyenangkan.”

Binta berbalik, “Dah, aku pulang.”

“Iya-iya, udah yuk, nanti kalau kelamaan bisa membusuk.”

“Apanya?”

“Perasaanku.”

“Hhh!!!” jawab Binta sambil berlalu. Nug hanya tersenyum sendiri melihat tingkahnya. Ia masih membawa tas Binta yang jadi jaminan sampai misinya hari itu selesai.

***

“Terus? Ngapain?”

Mereka sudah berdiri tepat di depan toko cermin. “Ya nggak ngapa-ngapain, Ta.”

“Masa kamu ngajak ke sini tapi gak ngapa-ngapain?”

“Kamu maunya ngapain?”

“Aku cuma mau tasku, terus pulang.”

“Jangan pulang, Ta,”

“Ya makanya yang jelas!”

“Tadi di kantin kamu bilang apa.”

Binta mengingat-ingat kembali, “Tau. Lupa.”

“Ya, udah kalau lupa. Binta tunggu sini sebentar, aku mau beli cermin dulu.”

“Cermin buat apa sih?”

Nug masuk ke dalam. Menemui penjual cermin yang sedang sibuk mengelap kaca-kaca yang berdebu.

“Yang ini berapaan, Pak?”

“Itu seratus lima puluh aja, Mas,”

“Ya sudah, satu ya Pak, tolong dibungkus dan diberi tali rafia supaya mudah bawanya.”

Nug keluar membawa jinjingan besar dan agak panjang. Binta yang melihatnya cuma bisa geleng-geleng kepala. 

“Cermin di rumah pecah sampai harus beli segala?” tanya Binta heran.

“Cermin di rumah masih bagus.”

“Terus?”

“Binta diem aja, nanti haus.”

Mereka kembali berjalan menelusuri trotoar yang lebih sering dipijak kendaraan roda dua itu. Sesekali Binta memeriksa handphonenya, berjaga-jaga kalau Bi Suti menghubunginya. Tapi tidak ada pemberitahuan apa-apa. Mungkin mamanya sedang tidur siang, atau melamun dekat jendela, atau bisa juga sedang makan siang. Sebenarnya Binta tak perlu terlalu khawatir, karena mamanya juga tidak akan melakuan apa-apa selain duduk diam di kursi roda.

“Ta, ada rujak tuh, mau nggak?” tanya Nug tiba-tiba.

Binta menggelengkan kepala menolaknya.

“Kalau dikasih pertanyaan, jawabanmu akan selalu tidak, ya, Ta?”

“Gak juga.”

“Apa pertanyaan yang jawabannya iya?”

“Binta mau pulang ya?”

Nug tersenyum lebar, “Ya sudah, jawab tidak terus saja. Asal kamu jangan bosan menjawab pertanyaanku yang jawabannya akan selalu tidak.”

Semesta, aku tau hubungan kita tidak pernah baik. Tapi kali ini aku benar-benar butuh bantuanmu. Aku mau pulang. Aku sudah muak sekali dengan orang ini. Tolong datangkan hujan, atau badai, atau apa saja, supaya dia bisa menyerah dengan rencananya, ucap Binta dalam benaknya.

“Kenapa melamun? Lagi mikirin cara supaya bisa kabur dari aku ya?”

“Iya!”

“Besok aku bawain kotak kesabaran, ya? Bisa kamu pakai ketika tingkat kekesalanmu sama aku sudah berada di puncaknya.”

“Gak usah!” ketus Binta sambil berjalan pergi.

“Rujaknya, Ta?!”

Binta tidak menghiraukannya. Nug segera membeli sepotong buah pepaya untuk ia makan sambil jalan. Padahal ia ingin sekali beli satu porsi dengan sambal rujaknya. Tapi ada yang lebih ia inginkan; Binta.

“Ta, tunggu, Ta!”

“Nih sebenernya mau ke mana sih, Nug?”

“Binta capek ya? Mau naik taksi aja? Naik taksi aja deh, emang jauh sih kalau jalan kaki.” setelah berucap Nug segera memberhentikan taksi yang pas sekali sedang lewat.

“Pak, ke Toko Kostum Sumber Cahaya.”

Binta segera menyahut, “Toko Kostum?!”

“Nih, minum dulu, kamu pasti haus,” jawab Nug dengan memberinya sebotol air mineral yang tidak Binta terima.

“Pacarnya ya, Mas?”

“Sebentar lagi, Pak.”

“Apaan sih!” dengan sigap Binta menyikutnya.

Supir taksi itu tertawa, “Bapak jadi ingat masa muda ahahaha. Si Mbak sama Si Mas ini cocok sekali lho…”

“Memang sangat cocok, Pak. Sudah saya tawarin jadi pacar saya tapi belum diterima.”

Binta tak kuasa menahan amarah, ia merasa harga dirinya terancam, “Maaf, Pak, ini temen saya emang suka gila kalau di jam-jam segini.”

Jawaban Binta ternyata memancing perang yang baru, “Ciee… sudah hafal sama kebiasaanku, nih?”

Supir taksi itu menahan tawa, Binta cuma bisa tersenyum walah dalam hatinya ia ingin sekali melempar Nug keluar mobil.

“Nanti aku tanya lagi ya, Ta? Aku nggak bosen kok nanyanya,”

“Nanya apa?”

 

“Itu nanya kamu kapan mau jadi pacarku?”

3

Kata — Bab 3

3

 

BAB 3 – KE NEVERLAND

 

“Kalo kamu, Ta? Kenapa pilih komunikasi?”

“Biar bisa belajar cara berkomunikasi dengan baik… mungkin?”

“Hasilnya belum juga keliatan ya, Ta?”

Binta tertawa kecil, “Mungkin aku nggak akan bisa lulus dari jurusan ini.”

“Nggak bisa sama nggak mau beda lho, Ta.”

“Hmm.. berarti aku dua-duanya.”

“Ta, kalo aku ajak ke satu tempat lagi, mau nggak?”

“Enggak.”

“Sepuluh menit deh, Ta.”

“Sepuluh menit?”

“Ya.. lebih dikit, sih…”

“Sebelas menit berarti?”

“Ta…”

Binta berjalan. Baru kali ini langit melihatnya dapat tersenyum karena hal yang memang membuatnya ingin tersenyum. Nug tidak ingin Binta menjadi Peterpan. Nug ingin Binta bisa jadi anak komunikasi yang baik. Nug ingin Binta bisa membuka hatinya untuk dunia. Nug ingin Binta bisa merasa lebih baik.

“Nug?”

“Iya, Ta?”

“Tadi aku kura-kura, kamu apa?”

“Burung merpati. Karena burung merpati itu melambangkan perdamaian.”

“Tapi burung merpati nggak bisa buat dunia ini damai, Nug.”

“Setidaknya, masih ada sisa perdamaian di dunia ini.”

“Kalau alasannya karena kamu ingin mengirim surat untuk Tuhan lewat burung merpati, aku setuju.”

“Kamu mau coba?”

Binta agak kaget, “Coba?”

Nug tidak menjawabnya lagi. Ia segera memberhentikan taksi dan meminta Binta untuk menurut dan ikut. Di dalam taksi, Binta mengeluarkan walkman kesayangannya itu. Nug segera menilik ke arahnya.  

“Masih zaman emang dengerin lagu pake walkman?”

“Kalau zaman berubah, apa yang kita sukai juga harus diubah?”

Apa yang selalu keluar dari mulut Binta, selalu membuatnya berdecak kagum.

“Punya kaset apa aja, Ta?”

“Cuma satu. Itu pun tanpa kuduga langsung ada di dalam walkman-nya ketika kubeli.”

“Hah? Kamu serius?”

“Iya. Aku serius. Stevie Wonder. Sudah bertahun-tahun, cuma sepuluh lagunya saja yang kudengar di telingaku.”

“Nggak bosan?”

Binta menggelengkan kepala dan Nug juga jadi ikutan geleng-geleng kepala. Ia masih tidak percaya ada manusia seperti Binta.

Don’t You Worry ‘Bout a Thing.”

“Kenapa, Ta?”

“Itu lagu Stevie Wonder yang paling kusuka. Kapan pun aku merasa kurang baik, lalu aku dengar lagu itu, rasanya semua kekhawatiran yang kurasakan malah mengajakku menari. Rasanya, everything’s will be alright.”

“Memang, Ta, semua pasti akan baik-baik saja.”

“Kamu orang pertama yang tahu lagu kesukaanku.”

“Sebuah kehormatan untukku, princess…”

“Aku bukan princess, Nug, aku ini cuma Binta.”

“Iya, Princess Binta, kan?”

“Binta, Nug. Binta aja.”

“Binta banget kali…”

Binta hanya berusaha menahan senyumnya. Ia lantas menengok ke kaca mobil, memerhatikan jalan raya yang dipenuhi motor dan bus kota, yang asapnya mengabu di udara. Sebenarnya ia tidak suka naik bus, tidak suka pakai masker karena ia takut polusi udara itu masuk ke paru-parunya, tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak mungkin naik burung gereja yang semakin hari semakin menjauhi kota ini.

“Aku tidak suka lagu, Ta.”

“Mmm?”

“Aku tidak pernah suka mendengar lagu.”

Ternyata ada satu manusia yang bisa hidup tanpa mendengar sebuah lagu. Dialah Nugraha. Binta langsung kesulitan untuk membalas perkataannya. Ia tidak mengira ada orang yang lebih menyedihkan ketimbang dirinya.

“Satu pun?” tanya Binta berusah memastikan.

“Satu pun.”

“Kenapa emangnya?”

“Mungkin karena dunia ini sudah terlalu menyeramkan, Ta. Aku cuma sudah tidak bisa lagi menikmatinya.”

“Dunia boleh menyeramkan, Nug, tapi duniamu tidak boleh ikut menyeramkan.”

Taksinya berhenti. Binta melongok, “Di mana ini, Nug?”

“Pasar Burung Pramuka.”

“Mau ngapain?”

Nug tidak menjawab, ia lantas turun. Binta menyusul setelahnya. Seperti namanya, pasar ini menjual banyak jenis burung. Walaupun ada juga yang menjual hewan-hewan lain seperti hamster dan sejenisnya. Tempatnya cukup sumpek, dan baunya… ya… bau kotoran burung. Binta terus mengikuti Nug dengan tangan yang terus ia gunakan untuk menutup hidungnya.

“Nah, ini dia tempatnya!” seru Nug dengan semangat.
“Toko Burung Kurnia?” Binta membaca plang yang menempel di depan toko. 
“Binta tunggu di sini aja ya, di dalam bau.”

Binta mengangguk. Sesekali ia membalas tatapan orang yang berlalu-lalang melewatinya. Ia jarang sekali berada di tempat seramai ini. Ia mengambil ikat rambut yang ada di saku celananya, kemudian menguncir satu rambutnya. Ia sudah mulai kegerahan. Ditambah lagi panas matahari yang menembus bangunan pasar ini.

“Sudah, Ta.”

Nug keluar dengan membawa sebuah burung dara berwarna putih yang berada di sebuah kandang cantik.

“Mau kamu apakan?”

“Mau ajak kamu kirim surat ke Tuhan.”

Binta masih belum juga paham dengan maksud Nug.

“Burung dara dan merpati itu mirip, Ta, karena mereka sama-sama termasuk ke dalam famili Columbidae.”

“Kamu pikir aku nggak tahu?”

“Enggak.”

“Aku tahu, Nug. Yang aku tidak tahu itu mau kamu apakan mereka?”

“Kan, sudah kubilang…”

“Iya, tapi aku tidak tahu mau kirim surat apa ke Tuhan. Mungkin Dia juga tidak mau membacanya.”

“Berarti kamu mau, kamu cuma terlalu cemas. Ta, denger ya, terlalu cemas sama sesuatu hal yang sebenernya nggak perlu dikhawatirkan itu sama sekali nggak ada gunanya.”

“Aku tahu, Nug…”

“Tapi kamu tidak mau mengerti.”

Baru kali ini Binta dibuat bungkam oleh orang yang bahkan belum sampai tiga hari mengenalnya.

“Hmm… apa, ya, yang belum kamu tahu lagi?”

Dari tadi Nug hanya bicara sendiri. Sepertinya ia sudah kebal dibenci Binta, atau mungkin ia senang dengan situasi seperti ini.

Nug bergumam dalam hati sambil tersenyum, Aku suka Binta yang tidak banyak bicara, namun ketika satu kalimat keluar dari mulutnya, seakan semesta ini malu karena kalah indah dengan ucapannya.

“Ta, kamu tahu nggak kalau burung merpati itu makhluk paling setia?”

“Tau. Karena mereka nggak pernah gonta-ganti pasangan.”

“Hmm… tau ya. Kalau… Aha! Kamu tahu nggak kalau burung merpati itu adalah makhluk paling romantis?”

“Aku tau, Nug, aku pernah mendengarnya di radio.”

“Oh… jadi Binta yang kuno ini suka mendengar radio juga?”

“Kuno? Kok aku kuno?”

Walkman-mu?”

“Itu nggak kuno, Nug. Dengan kita menggunakan sesuatu yang sudah tidak ada lagi di masa yang baru, bukan berarti itu kuno, tapi kita menghargai sejarah.”

“Pantas saja kamu masuk komunikasi.”

“Karena aku suka sejarah?”

“Nggak nyambung.”

“Logikamu yang nggak keren.”

Binta bicara dalam hati, Entah makan apa manusia ini tadi pagi. Entah tindakannya ini adalah tindak kriminal atau bukan. Pertama dia mengembalikan tawa yang selama ini dicuri oleh bumi, dan yang kedua dia berani mengajakku berbicara.

“Kamu hina saja aku terus, Binta Dineschara, aku senang.”

“Dihina, kok, senang.”

“Dihina sama makhluk sempurna adalah sebuah kehormatan.”

Binta tidak mau mengambil serius rayuan Nug. Walau ia ingin sekali tersenyum, walau merah di pipinya ingin sekali dimunculkan. Tapi tidak. Binta tidak suka kemakan sebuah rayuan konyol yang berujung pada cerita yang jauh dari kenyataan.

“Di dekat sini ada taman kota, kita buat suratnya di sana saja.”

“Kamu aja yang buat, aku nggak.”

“Tapi aku telanjur beli dua burung dara, Binta.”

“Ya sudah, kamu tinggal buat dua surat, susah banget.”

“Ta, kamu tahu nggak burung merpati itu nggak punya empedu. Jadinya mereka nggak pernah menyimpan kepahitan, makanya mereka itu makhluk yang tidak pendendam.”

“Tapi aku ini manusia, Nug, aku punya empedu.”

“Kamu memang orangnya gak mau kalah, ya?”

“Bukannya gak mau kalah, tapi kamu memang gak bisa menyamakan manusia sama burung merpati.”

“Cuma karena empedunya?”

“Karena manusia adalah pendendam, sedangkan burung merpati tidak.”

“Jadi kamu mendendamkan sesuatu?”

“Semua manusia pasti memendam sesuatu, Nug, dan apa yang didendamkan tidak bisa hilang.”

Tidak. Binta harus menghilangkan dendam dalam hatinya itu. Bagaimana pun caranya, kata Nug dalam hati.

“Sepertinya burung daranya sedih.”

“Jadi sekarang burung dara bisa menangis juga?”

“Bisa, kalau Bintanya tidak mau buat surat.”

“Apa sih, Nug?”

“Ayo lah, Ta, ini cuma surat.”

“Ya karena cuma surat aku tidak mau membuatnya. Nggak ada gunanya, tau?”

Mereka berdua berjalan seperti sepasang kekasih yang sedang saling diam karena sang tuan putri salam paham. Tapi mereka bukan sepasang kekasih. Mereka cuma Nug dan Binta.

“Sini, Ta.”

“Di sini?”

“Kalau di rumahmu kan jauh,” jawabnya sambil tersenyum jahil.

Nug mengambil secarik kertas dan bolpoin hitam dari dalam tasnya, kemudian duduk dan menulis sesuatu. Binta cuma berdiri dan tidak mau melihat apa yang Nug tulis. Ia tidak suka jadi manusia yang terlalu ikut campur akan sesuatu yang bukan urusannya.

“Kamu mau baca nggak, Ta?”

“Nggak.”

“Berarti aku bacain.”

“Ih, kan aku bilang aku nggak mau baca.”

“Kan, pertanyaanku tadi mau baca atau nggak, bukannya mau dengar atau nggak.”

Nug mulai membaca, “Untuk Tuhan. Jadi begini, kemarin aku bertemu salah satu cucu Hawa. Dia itu berbeda sekali, Tuhan. Dia tidak suka tersenyum. Sukanya merengut dan bicara ketus. Sepertinya terlalu banyak kepahitan dalam hatinya. Aku tidak tau juga sih, Tuhan, soalnya dia tidak suka banyak bicara. Dia banyak diamnya. Jadi aku cuma menebak-nebak. Tapi, Kau pasti tahu mengapa dia begitu kan, Tuhan? Untuk itu, tolong beri tahu aku cara supaya bisa menjadikan senyuman menjadi riasan yang selalu ada di wajahnya setiap hari.”

Binta menelan ludahnya. Lalu menelan ludahnya sekali lagi. Tiba-tiba saja ia merasakan ada ketukan drum berbunyi dari dalam jantungnya. Lama-lama semakin kencang, lama-lama semakin membuatnya senang.

Ini pasti cuma rayuan tingkat tinggi. Aku tidak boleh tergoda. Apalagi dengan makhluk asing yang baru berumur satu hari itu.

“Nah, sekarang gantian Binta deh…”

“Nggak mau.”

Nug mengambil tangan kanan Binta, memberinya pensil dan kertas, “Udah cepet tulis.”

Binta berpikir keras. Ia sama sekali tidak tahu harus menulis apa. Ia tidak tahu mau minta apa. Seperti yang sudah ia khawatirkan, ia yakin Tuhan tidak mau membaca surat darinya.

“Bagaimana bila suratnya nggak sampe ke Tuhan?”

“Kan, kamu juga tahu, Ta, tanpa dibuat jadi surat pun, Tuhan akan selalu tahu.”

Ia menulis satu kata. Kemudian ia coret. Ia menulis satu kalimat, kemudian ia coret. Sampai satu kertas itu habis dengan coretan yang sama sekali tidak bisa dibaca.

“Tenang aja, Ta, aku masih punya banyak kertas. Kalau habis, aku beli lagi, pokoknya aku tunggu sampai berhasil.”

Tuhan, Binta ingin belajar ikhlas. Tolong beri tahu caranya.

Binta memberi secarik kertas itu pada Nug. Nug membacanya, lalu memandangi Binta. Satu kalimat yang Binta tulis berhasil membekukan perasaan Nug seketika. Ia mengambil benang, dan mengikatkan kertas itu pada salah satu kaki burung dara putih yang sudah ia beli.

“Binta mau menerbangkannya?”

“Tidak diterbangkan juga tidak apa-apa.”

“Nggak mau?”

“Nggak.”

Akhirnya hanya Nug yang menerbangkan kedua burung dara itu. Binta hanya duduk menyaksikan burung-burung itu terbang bebas.

“Harusnya penjual burung itu dipenjara.” kata Binta tiba-tiba.

“Penjual hamster juga?”

“Juga.”

“Penjual ayam?”

“Semua penjual hewan harus dipenjara.”

“Jangan dong, Ta, penuh nanti penjaranya.”

“Gapapa, biar jalanan kota jadi sepi.”

“Kamu bener-bener nggak suka keramaian ya, Ta?”

“Kalau aku jawab iya, kamu udah telanjur ngajak aku ke pasar burung yang ramai tadi.”

“Ya udah, nggak usah dijawab.”

“Nug?”

“Iya, Ta?”

“Kalau kamu pergi dari planet ini, apa yang paling kamu kangenin?”

“Ya, apa adanya planet ini. Planet lain nggak ada yang seperti bumi, mungkin itu yang bakal aku kangenin. Kalau kamu, Ta?”

“Nggak ada.”

Setelah bicara begitu, Binta beranjak kemudian pergi. Nug sempat menghampirinya, namun langkahnya berhenti ketika Binta bilang, “Aku mau sendiri, Nug.”

***

Bi Suti mengetuk pintu kamar Binta berkali-kali, tapi tak ada jawaban. Ia hendak membawakan sarapan untuknya karena sudah pukul delapan lewat ia belum juga keluar kamar. Karena biasanya Binta yang paling semangat bangun pagi.

Bi Suti akhirnya masuk ke dalam, mengelus rambut Binta perlahan. Harusnya bukan Bi Suti yang melakukan itu, harusnya Binta bisa merasakan bagaimana rasanya dibelai oleh ibunya sendiri. Tapi Binta sudah lama membuang jauh-jauh pikiran semacam itu. Baginya, semua manusia itu punya kapasitasnya masing-masing.

Perlahan-lahan Binta membuka matanya. “Eh, pagi Bi Suti…”

“Kak Binta kecapekan, ya?”

“Mama udah bangun, Bi?”

“Sudah…”

“Ya udah, aku ke Mama dulu ya, Bi.”

“Sarapannya gimana, Kak?”

“Taruh aja di situ.”

Binta berjalan menuju kamar sang mama. Dengan separuh nyawa yang masih tertinggal di alam mimpi, ia segera mempersiapkan senyuman lebar yang seperti biasa ia lakukan.

“Pagi, Ma!!” seru Binta sambil memeluk mamanya dari belakang.

“Mama udah sarapan belum?”

“Maaf Binta nggak nemenin Mama sarapan tadi, Binta kesiangan bangunnya…”

Tidak ada respon. Tidak pernah ada respon. Entah sampai kapan Binta bisa bertahan dengan kondisi seperti itu. Tapi ia selalu bilang, bertahan itu bukan pilihan, tapi keyakinan.

Cerita sama Mama nggak ya soal kemarin…? Nggak usah deh, dalam hati Binta memutuskan untuk tidak memperpanjang cerita tentang Nug.

“Ya udah, Mama istirahat ya, Binta mau mandi abis itu ke kampus. Nanti pulang kuliah, Binta beliin bubur ayam kesukaan Mama. Ya?”

Kadang, Binta sering kehabisan topik untuk bicara dengan sang mama. Percakapan di antara mereka selama bertahun-tahun, ya, cuma tentang itu. Ia sering sekali berdoa agar Tuhan mau menukar kondisinya dengan sang mama yang lebih pantas untuk menikmati dunia.

***

Cahyo tidak bisa menjemput. Binta harus naik bus kota. Tapi mungkin ia lebih tenang karena tidak ada si pengusik itu (Nug). Di dalam bis, ia memilih untuk duduk di samping seorang nenek tua yang sedang tertidur pulas dengan kepala yang ia senderkan ke dinding bis. Supaya ia bisa duduk tanpa diganggu dan diajak bicara. Karena ia pernah duduk dekat seorang ibu-ibu dengan riasan tebal, dan mau tidak mau ia harus mendengarnya bicara perihal anaknya yang akan menikah dengan seorang pilot muda. Waktu itu Binta cuma mengangguk dan sesekali tersenyum walau telinganya sudah ingin copot.

“Neng, mau roti?”

Ia kira si nenek benar-benar tertidur pulas, ternyata cuma sekadar memejamkan mata.

“Nggak usah, Nek, saya sudah sarapan tadi di rumah.” Binta terpaksa bohong. Sarapan yang Bi Suti taruh di kamarnya tadi lupa ia sentuh. 

“Ini cuma sepotong roti, daripada nggak dimakan, kan sayang…”

Akhirnya Binta menerima sepotong roti isi coklat itu, “Makasih ya, Nek,”

“Neng mau ke mana?”

“Ke kampus…”

“Nah, makanya makan yang banyak supaya bisa konsentrasi di kelas.”

Binta cuma tersenyum. Ia tidak suka memperpanjang pembicaraan. Walau ia ingin sekali bilang, “Saya sudah tidak bisa berpikir dengan baik sejak mama sakit.”

Ia berdiri karena tempat ia berhenti sudah dekat, “Bang, kiri!”

Sebelum turun ia kembali mengucapkan terima kasih kepada nenek yang tadi memberinya roti.

Ia kembali berjalan menuju kelas. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih lima belas menit. Dan dosen yang sudah masuk dari pukul sepuluh tepat itu tidak pernah bisa diajak kompromi. Orangnya sangat disiplin dan tepat waktu. Tapi Binta tidak peduli.

Ia membuka pintu kelas, masuk tanpa merasa melanggar aturan, dan duduk di kursi yang biasa ia duduki. Anak-anak yang lain cuma bisa memandanginya dengan tatapan, Nih orang niat kuliah nggak sih?

Seperti yang sudah ia duga, dosen itu akan menyuruhnya untuk keluar. Lagi-lagi, ia keluar tanpa memberi pembelaan apa-apa. Ia keluar tanpa memberi tahu kalau ibunya itu punya sakit kejiwaan yang harus mendapatkan perhatian lebih. Ya, ia hanya melangkah keluar, menjauh dari manusia-manusia yang tidak pernah menganggapnya ada.

Tapi kali ini Binta tidak ke kantin. Ia duduk di samping pintu kelas, menyandarkan tubuhnya ke dinding, kemudian memejamkan matanya.

Binta pernah bilang, kalau satu-satunya pekerjaan yang bisa ia lakukan dengan baik adalah berkhayal. Ya, Binta senang sekali berkhayal. Apalagi sebelum tidur. Ia senang membayangkan Peterpan datang untuk mengajaknya pergi ke Neverland. Tapi ia berharap tidak lagi kembali ke bumi. Selamanya saja berada di Neverland. Tidak ada koruptor, tidak ada pencuri kebahagiaan, Neverland adalah dunia untuk bersenang-senang. Mungkin itu mengapa ia tidak pernah cocok hidup di bumi.

“Kalau kemarin kamu minta aku jemput, pasti sekarang nggak akan duduk di luar.”

Binta membuka pejaman matanya. Ada Nug yang berdiri di depannya dengan membawa sebotol air mineral, “Aku nggak haus.”

“Minum air putih itu bukan cuma ketika haus, tapi ketika kamu tahu kalau tubuhmu butuh itu.” 

“Tubuhku tidak butuh air putih.”

“Karena mereka nggak bilang ke kamu?”

Binta mengangguk. Nug tersenyum.

“Ke kantin aja, mau?’

Binta menggelengkan kepalanya.

“Binta maunya ke mana?”

“Nug mau nemenin Binta ke segitiga bermuda?”

Sekali lagi Nug tersenyum dan duduk di sebelahnya, “Binta mau ngapain di sana?”

“Tenggelam.”

“Aku tidak ingin tenggelam bersamamu, Ta. Kalau kamu memang ingin tenggelam, tenggelam saja, boleh kok. Tapi aku tidak ikut, nanti yang menyelamatkanmu siapa?”

“Kita tenggelam saja sama-sama, nanti kita akan berada di ujung dunia yang tidak ada manusianya. Paling hanya ikan paus.”

“Binta….”

“Nug, kamu bukan manusia, kan?”

“Kok gitu?”

“Soalnya kamu menyenangkan.”

 

Nug kembali tersenyum, “Iya, aku bukan manusia. Aku ini ikan paus yang senang bisa membuat Binta senang.”

2

Kata — Bab 2

2


BAB 2 – KURA-KURA


“Ta, lo masih punya utang, lho… sama gue…”

“Utang apaan?” jawab Binta acuh.

“Kemarin, lo janji buat nggak ke mana-mana sampe gue selesai kelas. Tapi, lo malah balik.”

“Itu terhitung utang?”

“Iyalah, Ta. Harusnya, kalo lo emang nggak mau, nggak usah ngangguk.”

“Ya, terus?”

“Ya… utang harus dibayar dong, Ta…”

Semesta, jangan buat aku terjebak dengan orang ini. Tolong jangan merumitkan hidupku yang sudah pelik.

“Ta? Binta?”

“Nggak lebih dari lima belas menit, abis itu gue pulang.”

“Oke, janji, lima belas menit.”

“Emang lo mau ngajak gue ke mana, sih?”

“Kiri, Bang!”

Binta terkejut, tidak ia duga Nug akan langsung menghentikan bisnya dan mengajaknya turun detik itu juga. Awalnya Binta menolak, tapi kernet bis menyuruh mereka untuk segera turun. Daripada membuat gaduh, Binta akhirnya menurut. 

“Kenapa jadi turun, sih?”

“Tadi katanya mau bayar utang?”

“Ya, nggak sekarang juga!”

Amarah Binta meluap. Ia sudah di ujung batas kesabarannya. Ia mungkin sedang berdoa dalam hati supaya semesta mau memindahkannya ke planet lain sekarang juga. Ia segera mempercepat langkahnya walau yang punya tujuan adalah Nug, bukan dirinya. Tapi Binta sudah biasa pergi tanpa tujuan. Ia senang menjadi sesuatu yang asing di bumi tempat ia tinggal.

“Tunggu dong, Ta…” kata Nug pelan.

Matahari menerikkan cahayanya. Walau keringat sudah mengucur, Binta tetap berjalan tanpa menoleh apalagi bicara. Tak ada angin yang muncul, hanya truk sampah yang memaksa Binta untuk menutup hidung dan mulutnya. Untungnya Nug sedang berhadapan dengan Binta, perempuan yang tak suka mengeluh apalagi minta tolong pada orang lain. Binta tidak suka bergantung pada orang lain, ia menggantungkan hidupnya pada dirinya sendiri. Supaya jika hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi, ia tidak perlu kecewa dengan siapa-siapa kecuali dirinya sendiri.

“Ta? Lo mau sampe kapan kayak gini terus?”

Binta tetap diam. Sesekali ada taksi yang melipir untuk menawarkan tumpangan, juga iring-iringan mobil pejabat yang membuatnya semakin jengkel. “Binta, dengerin gue dulu,”

“Kalo lo nggak mau dengerin gue, kita akan makin lama nyampenya. Dan semakin lama nyampe, semakin lama juga lo stuck sama gue.”

Mendengar itu, Binta langsung berhenti dan diam. Nug akhirnya punya kesempatan untuk mendahuluinya dan berdiri di dekatnya. Ketika ia melihat wajah Binta yang menunduk dan penuh keringat, ia segera mengeluarkan sapu tangannya,

“Nih.”

Binta menolak, “Nggak.”

“Ambil atau gue akan buat ini semakin lama.”

“Lo, tuh, rese banget, ya!” ketus Binta sambil mengambil kasar sapu tangan milik Nug dan mengelap keringatnya. “Ini semua tuh salah lo! Kalo aja tadi lo nggak minta turun, gue juga nggak akan keringetan!”

“Tapi tempat yang mau gue datengin sama lo arahnya nggak ke sana, lagi pula… kalo cepet nyampe, cepet juga berakhir jatah lima belas menit gue.”

Binta sudah tidak punya kemampuan lagi untuk mengerti laki-laki asing yang mulai menganggu hidupnya itu, “Udah ah, cepet!”

Nug tersenyum dan berjalan di usampingnya, “Kalo jalannya sambil ngobrol, pasti nggak akan terasa lama.”  

“Nggak perlu.”

“Ta, lo mau tau, nggak? Sebenarnya gue itu nggak suka gambar, gue dipaksa masuk arsi sama bokap yang dulunya juga anak arsi. Tadinya gue pengen jadi chef, karena gue pengen masakin nyokap gue makanan yang enak-enak. Tapi, kalo waktu bisa diulang lagi, gue pengen jadi anak hukum. Supaya bisa menjarain pejabat-pejabat yang lewat pake iring-iringan mobil polisi yang tadi bikin lo kesel.”

“Lo pikir lulusan sarjana hukum kerjaannya cuma menjarain pejabat yang bikin gue kesel?”

“Kan berbeda itu seru, Ta.”

Binta berusaha mengalihkan pembicaraan, “Ini sebenernya mau ke mana sih?”

“Nanti juga lo tau sendiri.”

Sepanjang perjalanan menuju tempat yang ada di kepala Nug, ia terus saja bercerita walau Binta sudah muak sekali mendengarnya.  

“Ta, lo suka binatang, nggak?”

“Enggak.”

“Wah, sayang banget, Ta. Binatang itu teman cerita yang baik loh.”

“Teman cerita yang baik gimana? Emang mereka bisa bahasa manusia, apa?”

“Justru itu. Mereka nggak bisa bahasa manusia, dan kita nggak bisa bahasa binatang. Oleh karena itu, kalo cerita sama mereka, kita bisa merasa lebih bebas, nggak perlu denger tanggapan mereka terhadap cerita kita. Karena yang mereka lakukan cuma mendengarkan.”

“Yaudah, entar kapan-kapan gue coba.”

“Nah gitu dong, Ta. Coba sesuatu yang kedengarannya aneh, padahal menyenangkan. Hmm… tapi masa satu pun binatang nggak ada yang lo suka, Ta?”

“Nggak ada.”

“Pasti ada, Ta.”

“Gak ada, Nug.”

“Coba dipikir baik-baik. Binatang yang udah punah juga nggak apa-apa.”

Binta benar-benar mencoba untuk berpikir. Ia memang tidak pernah menyukai sesuatu. Sekalipun binatang yang menggemaskan.

“Mungkin kura-kura,” jawabnya tiba-tiba.

Nug menoleh penasaran, “Kura-kura?”

“Kura-kura bisa bawa rumahnya ke mana-mana, bisa hidup sendirian. Kura-kura itu makhluk paling beruntung yang hidup di muka bumi. Jalan mereka yang lambat, seakan lebih banyak mencuri kenangan ketimbang manusia, mereka bisa merasakan apa pun dengan waktu yang lebih lama. Mereka nggak pernah berlomba jadi juara, mungkin kura-kura adalah binatang paling bahagia. Enak kali ya, kalau semua manusia di dunia berjalan selayaknya kura-kura, mungkin takkan ada yang namanya juara, mereka sudah cukup bahagia dengan langkah lambat yang mereka punya.”

Matahari yang terasa terik sekali, berubah menjadi udara sejuk yang menyapa Nug. Tiap kata yang keluar dari mulut Binta, seakan memberi warna baru dalam hidupnya. Terlalu indah, entah bagaimana caranya ia bisa melupakan kalimat beberapa detik lalu yang keluar dari mulut seorang perempuan paling dingin yang ia kenal. Binta terus berjalan, menyusuri rel kereta, sedang Nug hanya bisa memandangi punggungnya dari belakang yang membuatnya ingin terus tersenyum. 

“Masih jauh, ya?”

Mungkin Binta mulai kelelahan. Hampir dua jam mereka berjalan, walau sebenarnya jadi hanya terasa satu jam karena ocehan Nug yang tak henti-hentinya membuat Binta jengkel. 

“Kapten Nug?!”

“Kapteeeennnn!!!”

Segerombolan anak kecil berlari, menghampiri, memeluk Nug bersamaan. Pakaian yang tidak terlihat seperti pakaian itu, semakin membuat mereka terlihat kumal. Nug membalas pelukan mereka, seakan senang apabila kemeja yang ia kenakan harus ikutan kotor.

“Kapten, hari ini kita mau gambar apa?” tanya salah seorang anak laki-laki dengan topi yang sudah ditambal berkali-kali.

“Kemarin kita gambar apa?”

“Gambar tinkerbell!!” seru anak yang lain.

“Berarti hari ini kita gambar…”

PETERPAN!” seru mereka berbarengan.

“Eits… tunggu dulu. Hari ini Kapten bawa teman, lho…” Nug segera menyiku Binta seakan memberi kode untuk menyuruhnya memperkenalkan diri.

“Ha? Oh, hei teman-teman… Aku Binta, salam kenal…” sapa Binta dengan hangat. 

“Kak Binta cantik seperti tinkerbell!” kata seorang anak perempuan yang rambutnya dikuncir dua. 

Binta segera membungkukkan tubuhnya, kemudian tersenyum, “Waduh… sepertinya si tinkerbell kalah cantik sama kamu.”

Ada sembilan anak, empat di antaranya perempuan. Binta belum bisa mengerti sepenuhnya mengapa Nug mengajaknya ke tempat ini. Kehidupan di pinggir rel kereta. Binta tak sanggup membayangkan bagaimana anak-anak itu bisa tersenyum dalam dimensi yang mungkin tak pernah mereka sukai. 

Anak perempuan yang bilang Binta seperti tinkerbell tadi meraih tangan Binta dan menghentikan lamunannya, “Kak Binta, ayo,” ajaknya perlahan.

Ia menuntun Binta mengikuti jejak lainnya yang sudah jalan lebih dulu. Hati Binta rasanya seperti teriris. Ia kira yang merasa asing di bumi ini cuma ia sendiri, ternyata tidak, ia tidak sendirian. Sedikit lega namun hatinya terus bergetar, mungkin ia ingin menangis, tapi ia masih cukup normal untuk tidak menangis di pinggir rel kereta dengan kondisi yang begitu kumuh dan tak terurus itu.

Langkahnya berhenti di sebuah lahan kecil, masih di sepanjang pinggir rel kereta, hanya saja ada papan tulis, spidol dan pensil warna, juga beberapa hasil karya mereka yang diletakkan di tumpukan kertas, yang apabila kereta lewat, semua akan berhamburan ke mana-mana.

Nug mengambil spidol hitam dan mulai menggambar sosok peterpan, sesuai janjinya. Sedangkan Binta berdiri di belakang anak-anak yang asyik memerhatikan Nug menggambar. 

Kalau ia ingin aku menggambar dengan maksud seperti ini, kenapa tidak ia bilang sejak awal?

Binta meninggalkan mereka, berbalik arah kemudian berjalan pelan menyusuri rel kereta, mumpung belum ada kereta yang lewat. Ia berniat hanyut dalam lamunannya, supaya ketika ada kereta yang lewat, ia takkan menyadari, dan kereta itu akan langsung menghantam tubuhnya dan membawanya ke dimensi yang lain, dimensi yang mungkin lebih baik dari yang sekarang ini. 

Sesekali ada orang yang lewat dengan membawa karung di punggungnya, juga ibu-ibu yang membakar sampah sehingga membuat rambut Binta jadi bau asap.

Orang-orang di sini tidak ramah, Ma, mungkin keramahan mereka sudah habis sepanjang usia kereta yang lewat.

“Kalau pagi, di sini seperti ada pasar, Ta.”

Binta menoleh ke kanan, ada Nug yang sedang berjalan di sampingnya, “I can’t.”

“Maksudnya?”

“Gue bukan lo, Nug, gue nggak bisa bantu mereka, gue bukan orang semacam itu.”

And I never ask you for that.”

“Hah?”

“Kan, gue cuma mau ngajak lo ke sini, buat ngeliat mereka. Gue nggak minta apa-apa, Ta, nggak berharap lo bisa suka sama dunia mereka, tapi gue seneng lo ada di sini, ya… walaupun dipaksa dikit, sih.”

“Gue suka kok, cuma, mungkin gue agak kaget.”

“Kaget kenapa?”

Mereka terus berjalan, Binta berdiri tepat di atas rel kereta, sedang Nug di sampingnya.

“Waktu gue masih seumuran mereka, nyokap selalu bacain dongeng setiap kali gue mau tidur. Dan Peterpan mungkin adalah dunia dongeng yang jadi impian gue sekarang.”

“Kenapa?”

Peterpan nggak pernah tumbuh jadi orang dewasa. Dia mampu hidup sendirian, bisa terbang, bisa bicara sama tinkerbell, bisa senang-senang ketika manusia yang nyata sedang tidur lelap dalam mimpinya. Peterpan bisa buat mimpinya sendiri, apa pun yang dia mau.”

“Walau mampu hidup sendirian, dia juga bisa merasa kesepian, Ta. Waktu Wendy balik ke bumi contohnya?”

“Ya… tapi dia berhasil ngalahin Kapten Hook.”

Nug tertawa. Pasti karena jawaban Binta sama sekali tidak nyambung dengan perkataannya sebelumnya. Ia hanya bisa membatin, Binta memang berbeda. Semakin ketus nada bicaranya, semakin senang aku menantikan tiap kata keluar dari mulutnya.

“Udah ah, balik yuk, mereka pasti lagi nungguin kaptennya.”

***

Seorang anak laki-laki menghampiri Binta dengan membawa selembar kertas yang sudah ia gambar, “Ini buat kakak,” sambil memberi Binta kertas itu.

“Wah… makasih ya, siapa namamu?”

“Surya, Kak.”

“Kamu tau nggak arti namamu apa?”

Surya cuma geleng-geleng kepala.

“Kalau dalam bahasa indonesia, Surya itu artinya matahari, kalau dalam bahasa Sanskerta, Surya itu berarti penguasa langit.”

“Dineschara dalam bahasa Sanskerta juga artinya matahari,” sahut Nug yang sedang merapikan peralatan gambar.

Binta agak terkejut ketika Nug tahu arti nama belakangnya itu. Sebenarnya, ia tidak suka dibuat terkejut, ia ingin merasa biasa saja terhadap apa pun yang ada di sekelilingnya. 

“Teman-teman, kapten harus nganterin Kak Binta pulang. Minggu depan, kita akan jumpa lagi, setuju?”

Mereka langsung memeluk Nug, membuat lekuk sabit dalam bibir Binta keluar. Mungkin baru kali ini, ia melihat kehangatan yang nyata walau hanya di pinggir rel kereta. Setelah selesai berpamitan, mereka berdua kembali menyusuri jalan menuju jalan raya untuk mencari bis kota yang lewat.

“Maaf ya, Ta, tadi itu lebih dari lima belas menit.”

“Nggak apa-apa, menyenangkan kok.”

Nug tersenyum.  

“Aku boleh ketemu mereka lagi?”

Nug tercengang.

“Binta?”

“Kenapa?”

“Itu.. tadi barusan ngomong aku?”

Gantian Binta yang tercengang. “Iya ya? Maaf, Nug, gue…”

“Nggak apa-apa, Ta, lebih enak didengar seperti itu.”

Siapa dia, semesta? Untuk apa dia masuk ke dalam kehidupanku? Pengganggu yang aneh, tapi sepertinya bukan benalu, mungkin.

“Ta, selain Peterpan, kamu suka dongeng sebelum tidur apa lagi?”

“Kamu berharap aku jawab dongeng putri tidur?”

“Ya… mungkin? Siapa yang tidak percaya dengan true love kiss?”

Binta tertawa terbahak-bahak, Nug bingung, “Kok ketawa, Ta?”

“Nugraha, Nugraha. Aku kira kamu ini jenius, ternyata kamu aneh. Denger ya, yang percaya sama true love kiss itu cuma anak kecil yang punya cita-cita jadi princess. Untuk sebagian orang yang punya banyak masalah di dalam hidup mereka, nggak ada satu detik pun waktu yang bisa digunakan untuk mikirin hal-hal semacam itu.”

“Kalo cinta, Ta?”

“Apalagi itu, Nug. Bagiku, cinta itu seperti iklan di televisi. Cuma bagus di TV, padahal aslinya biasa saja, bahkan mengecewakan.”

“Terus kamu maunya apa, Ta?”

“Aku ingin selalu berada dalam masalah, supaya semakin tidak ada celah untuk berkenalan dengan yang namanya cinta apalagi true love kiss. Itu cuma dongeng, Nug. Cinta yang ada di bumi tidak seindah cerita putri tidur yang berakhir hidup bahagia. Aku cuma malas berurusan dengan sesuatu yang menjanjikan kebahagiaan, padahal kepedihan akan segera menyusulnya.”

“Nggak bisa gitu, Ta…”

“Bisa, Nug…”

Tapi, Binta harus mengenal cinta, harus, kata Nug dalam hati.

“Bagaimana dengan teori cinta pada pandangan pertama?”

“Ini lagi, sudah deh, Nug. Buat aku, yang berhubungan sama cinta itu nggak pernah masuk ke dalam logikaku.”

“Tapi semua orang butuh cinta, Ta, dunia ini butuh cinta.”

“Itu masalahnya, Nug. Di dunia ini, aku tidak pernah diterima dengan baik. Mungkin aku salah planet. Harusnya aku dilahirkan di dunia yang tak pernah mengenal cinta. Coba saja kamu ini alien, Nug, mungkin pemikiran kita akan sejalan.”

“Perbedaan itu akan selalu ada, Ta, tidak ada dua manusia yang hidup dengan berbekal kesamaan saja.”

“Makanya, kamu jadi alien dulu.”

“Binta, Binta, kamu terlalu sering makan nasi uduk, jadi pikiranmu terlalu campur-aduk.”

“Waktu itu, aku pernah nanya sama seseorang, mengapa laki-laki dan perempuan harus saling jatuh cinta, tapi tidak ia jawab.”

“Karena peterpan saja, butuh tinkerbell, Ta. Peterpan nggak bisa hidup sendiri, Ta. Walaupun dia bisa terbang.”

1

Kata — Bab 1

1


BAB 1 – DI AMBANG PINTU


“Ma, Binta berangkat dulu ya.”

Binta Dineshcara. Perempuan biasa yang kuliah di jurusan komunikasi semester tiga. Hidup berdua dengan sang mama yang mengidap penyakit skizofrenia. Itulah kenapa ayahnya pergi, meninggalkan mereka menjadi keluarga yang rapuh. Jadi sudah bisa disimpulkan bahwa tidak ada banyak bahagia dalam hidupnya. Skizofrenia adalah penyakit kejiwaan yang membuat si penderita tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang ada di dalam pikirannya. Penderita skizofrenia mengalami delusi, halusinasi, banyak diam dan melamun, dan juga sering bicara aneh. 

“Kalau mau apa-apa, Mama bilang aja sama Bi Suti. Binta berangkat ya, Ma?”

Tidak pernah jadi hal yang mudah untuk Binta meninggalkan satu-satunya harta dalam hidupnya itu. Berkali-kali ia berpikir untuk berhenti kuliah, tapi itu tidak mungkin. Binta harus bisa membanggakan perempuan yang bahkan tidak pernah menanggapi ucapannya itu.

Cahyo, sahabat satu-satunya Binta, sudah parkir di depan rumahnya untuk menjemput. Hanya Cahyo yang mengetahui kondisi Binta, karena di depan banyak orang, Binta memilih untuk dikenal sebagai mahasiswi yang paling tidak bisa diajak berkomunikasi dengan baik. Semuanya heran kenapa Cahyo sanggup berteman dengannya, mungkin karena ia mampu mengerti Binta sebagaimana keadaannya, tanpa memintanya untuk berubah. 

Binta keluar rumah, meninggalkan kekhawatirannya di ambang pintu rumahnya. Ia berjalan sambil tersenyum walau Cahyo mengerti hal itu sama sekali tidak perlu dilakukan.

“Udah, Ta?”
“Lo udah sarapan belom? Sarapan nasi uduk depan kampus dulu, yuk.” sahut Binta.
“Siap, boss!”

Hampir setiap hari mereka sarapan nasi uduk sebelum masuk kelas. Ibu paruh baya penjual nasi uduknya sudah seperti ibu kedua Binta karena Binta lebih sering cerita dengan beliau ketimbang dengan ibunya sendiri. 

Dua tahun berteman dengan Binta, Cahyo tidak pernah banyak bertanya tentang keadaan mamanya. Baginya, itu tidak perlu. Cahyo akan bicara kalau Binta yang mulai cerita duluan, dan akan selalu seperti itu.

“Pagi, ibuk!!” sapa Binta sambil memeluk Bu Idah (si penjual nasi uduk) dari belakang.  
“Aih… Si Cantik… seperti biasa?”

Cahyo memesan teh tawar panas lalu duduk di depan Binta. Menyemil kerupuk yang tidak perlu membuatnya keluar uang untuk sarapan. 

“Ta, lo nggak mau ikut organisasi? Atau UKM mungkin?”
“Yo, kita kan udah pernah bahas ini.”
“Ya, tapi kan kalo lo ikut kegiatan kemahasiswaan, lo bisa nambah pengalaman baru, dapet temen yang lebih banyak.”
“Tapi pengalaman nggak harus dari kegiatan di kampus juga, kan?”
“Paling nggak, lo bisa nyibukin diri.”
“Terus? Gue harus lebih banyak ngeluarin waktu di kampus daripada nemenin nyokap gue?”
“Bukan gitu, Ta…”
“Yo, gue cuma mau kuliah, lulus, terus udah.”

Salah memang mengajak Binta berdebat. Cahyo hanya ingin membuat temannya itu lebih bersemangat lagi menjalani hidupnya, tapi segala cara yang ia lakukan selalu gagal. Karena buat Binta, mamanya adalah hidupnya. Tidak ada yang lebih penting daripada itu, bahkan kebahagiaannya sendiri.

“Oh iya, Ta, sebenernya gue mau ngasih tahu sesuatu…”
“Ah, tapi lo janji nggak boleh marah.”
“Iya apaan?”
“Nugraha…”
“Nugraha siapa?”
“Ada senior di arsitektur…”
“Jangan bilang…”

Ini adalah kesejuta kalinya Cahyo berusaha mencomblangi Binta dengan teman-temannya. Cahyo sendiri adalah anak pecinta alam, bisa dibilang ia cukup dikenal di kampus. Sudah tidak terhitung berapa kali ia ingin mencarikan Binta pacar. Ia ingin menunjukkan kepada Binta kalau hidup yang ramai itu menyenangkan, paling tidak dengan satu orang yang bisa mencintainya, yang bisa berbagi bebannya. 

“Ayo dong, Ta, dicoba…”
“Jangan bikin gue marah, plis.”
“Eh, ini gue nggak mengajukan elo, kok, dia sendiri yang emang udah kagum sama lo.”
“Kagum gimana ceritanya? Gue nampakin diri di muka umum aja nggak pernah. Nggak usah ngarang.”
“Ta…” ucap Cahyo dengan wajah memelas.
“Nggak.”
“Minimal lo chat-an sama dia sekaliii… aja.” ucap Cahyo terus memohon.
“Nggak.”

“Nih, Cantik… nasi uduknya.”
“Makasih, Ibu!!” jawab Binta gemas. Memang cuma si ibu nasi uduk ini yang bisa membuat suara girang dari dalam dirinya keluar. Karena cuma di tempat nasi uduk ini Binta bisa tertawa lepas, selebihnya tidak. Ia banyak melamun dan memikirkan ibunya yang entah bisa kembali normal atau tidak. 

Selesai menyantap sarapannya, Binta bergegas menuju kelas karena kelas pagi akan dimulai pukul sembilan. Cahyo mengikutinya dari belakang dengan masih memegang bakwan goreng. Di depan pintu kelas, ada seorang laki-laki bertubuh tinggi, seperti sedang menunggu seseorang. Tapi ketika laki-laki itu melihat Binta, ia segera menegakkan tubuhnya seakan ingin menghampiri Binta. Dan ternyata benar.

“Binta, ya?”

Binta menatap lelaki itu dengan curiga, “Tau nama gue dari mana?”

Lelaki itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya, “Ini pasti punya lo,” sambil memberi sobekan koran yang terdapat sebuah gambar di dalamnya.

Binta langsung bicara dalam hati, Sial.

“Gue Nugraha, arsitektur semester lima.”

Binta pasti lupa memasukkan sobekan kertas itu ke dalam tasnya kemarin setelah makan di tempat nasi uduk langganannya. Mungkin karena ia sudah terlambat untuk masuk kelas, sehingga ia terburu-buru dan tak sempat memeriksa lagi. Cahyo yang ketika itu memang tak berniat untuk masuk kelas, dengan tenang menyantap nasi uduknya. Tak lama setelah Binta pergi, Nugraha mendatangi tempat nasi uduk untuk sarapan. Tak ia sangka akan bertemu Cahyo yang juga merupakan temannya.

“Bu, nasi uduknya satu ya, tapi jangan dipakein bawang goreng,”

Cahyo masih asyik dengan nasi uduknya, “Tumben sarapan nasi uduk, biasanya lo sarapan ala eropa. Ahahahaha,”

“Telen dulu tuh yang ada di mulut lo, jijik liatnya. Eh, by the way, lo gak ada kelas?”

“Gak ada, libur.”

“Libur apa meliburkan diri?”

“Belom ngerjain tugas gue, males jadinya.”

Nugraha melihat sobekan kertas yang berada dekat dengannya, ia mengambil dan memandangi gambar indah yang bertabrakan dengan deretan kalimat berita yang ada, “Punya siapa nih?”

Cahyo menoleh, “Ohh… itu punya Binta.”

“Binta? Binta siapa?”

“Binta temen gue…”

Nugraha semakin penasaran, “Temen lo? Sejak kapan temen lo ada yang namanya Binta?”

“Temen kelas gue dari awal masuk kuliah. Emang gitu anaknya, invisible,”

“Ah, boong lo.”

“Ya gitu tuh, Binta, senengnya jadi orang yang gak keliatan, senengnya gambar di kertas koran, tapi gak mau nunjukkin gambarannya ke orang-orang. Kadang dibuang, kadang jadi bungkus gorengan, anaknya emang aneh.”

“Ini lo lagi bercanda apa lagi kekenyangan sih, Yo? Biasanya kan, kalo orang bisa gambar kayak gini, difoto, diupload ke instagram, biar eksis, biar banyak yang kenal.”

“Gini, deh. Kalo lo gak percaya ada manusia kayak Binta, lo besok ke kelas gue, balikin tuh koran ke dia. Lo pasti kaget.”

“Kaget kenapa?”

“Kaget karena untuk pertama kalinya ada perempuan yang akan dengan gampangnya menolak seorang Nugraha Pranadipta.”

Merasa tertantang, pagi ini ia menghampiri Binta di depan kelasnya. Menunggu sejak pagi agar rencananya bisa berjalan dengan baik. Sedangkan Binta, mulai tidak nyaman dengan situasi ini. Ia tahu ini pasti ulah Cahyo. Ia segera mengubah wajahnya menjadi begitu masam.

“Tadi siapa lo?”

“Nugraha,”

“Gini ya, Nug. Itu gambar bukan punya gue, dan gue gak bisa gambar. Jadi urusan soal koran cuma sampe di sini.”

Tanpa panjang lebar, Binta masuk ke kelas, sedangkan Cahyo berusaha untuk menyusun kembali strategi untuk membuat Binta dan Nugraha menjalin pertemanan. 

“Sabar, Man… Binta gitu anaknya.”
“Lo bener, dia emang beda. She doesn’t even know me. Misterius. Judes. Galak. But unique. Gue gak akan nyerah, Yo, karena gue menemukan sesuatu yang beda, she’s a magic.”
“Apa gue bilang,” sambil menepuk lengan Nug, Cahyo menyusul Binta masuk. 

Untuk Binta, dunia bagaikan planet asing. Ia selalu merasa kalau bumi bukan tempat yang cocok untuk dihuni. Sambil memasang headset ke telinganya, Binta menyalakan walkman-nya dan duduk di bangku paling belakang. Ia memejamkan matanya, seakan masuk ke dalam dunia bayangannya yang lebih ia sukai ketimbang yang nyata.

“Binta Dineshcara? Binta Dineshcara hadir atau tidak?” 

Dosen mata kuliah Etika Komunikasi itu sudah geram dengan sifat Binta yang terlalu tidak peduli dengan sekelilingnya. Tapi semua orang pasti setuju kalau Binta tidak pernah pantas jadi anak komunikasi. Apa ada anak jurusan ilmu komunikasi tapi tidak suka berkomunikasi?

Cahyo sudah berkali-kali memanggil Binta tapi volume suara walkman-nya terlalu besar dan membuat Bu Endah, dosen Etika Komunikasi, mendatanginya dengan wajah geram. Ia melepas headset yang terpasang di telinga Binta, “Keluar, kamu!”

Tanpa memberi pembelaan apa-apa, Binta keluar, membawa tas ransel berwarna hitam yang tak pernah ia ganti sejak semester satu itu beserta walkman, sahabat keduanya setelah Cahyo, yang ia beli di pasar loak. Memang terlalu kuno, tapi Binta begitu mencintai walkman-nya itu.

Binta seringkali dijuluki The Invisible Girl di kampus karena saking tak terlihatnya dia, saking tidak ada yang tahu kalau ada perempuan bernama Binta Dineshcara yang kuliah di sana. Anehnya, semakin tidak kelihatan, Binta semakin merasa tenang. Karena baginya, semakin sendirian, hidup akan semakin mudah dijalani. 

Ia berjalan santai menuju kantin, satu-satunya tempat yang ada di pikirannya saat ini. Kantin sedang tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa mahasiswa yang kelihatan sedang sibuk dengan laptop masing-masing. Binta hanya membeli sebotol air mineral, kemudian duduk.

Ia mengeluarkan koran yang tiap pagi tergeletak di depan pagar rumahnya, juga pensil yang tumpul karena ia malas sekali merautnya. Itu lah Binta. Ia gemar menggambar apa yang ada di kepalanya pada halaman sebuah koran. 

“Katanya gak suka gambar?”

Nug mengikutinya sejak ia keluar dari kelas. Binta menoleh sebentar, lalu melipat koran dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Tanpa merespon perkataan Nug, ia meneguk air mineralnya, lalu beranjak pergi. Namun, Nug tetap mengikutinya dari belakang, walau Binta tidak menanggapinya sama sekali. 

“Sayang lho, punya bakat tapi cuma ditaruh di koran.”

Binta terus berjalan, dan Nug tetap mengikutinya, “Ta…”

“Ta.”

“Binta.”

Akhirnya Binta kesal sendiri, menghentikan langkahnya, membalikkan badannya supaya bisa menatap Nug langsung untuk marah-marah, “Apa sih mau lo?!”

“Gue cuma mau temenan sama lo aja masa nggak boleh?”

“Nggak.”

“Kata Cahyo lo nggak ikut organisasi atau UKM apa-apa ya? Padahal lo punya skill, sayang kalo gak mau diasah.”

“Udah?”

“Udah apanya?”

“Ngebelain argumen lo yang serasa paling bener.”

Nug segera membuka matanya lebar-lebar, terkejut dengan perkataan Binta yang barusan ia dengar. Bukannya menyerah, ia justru mengejar Binta, “Ta, tunggu, Ta!”

“Duh, apaan lagi?”

“Lo mau ke mana?”

“Hah?”

“Ini lo mau ke mana?”

“Pulang.”

“Jangan balik dulu dong. Lo tunggu gue sampai kelar kelas.”

“Nggak mau.”

“Bentaaar aja, Ta.”

“Mau ngapain, sih, emangnya?”

“Gue mau ngajak lo ke sesuatu tempat, abis itu gue janji nggak ngintilin lo lagi.”

“Oke.”

“Beneran, Ta?”

“Kalo lo masih banyak nanya, gue pulang beneran.”

“Oke, Ta. Binta diam di sini ya, jangan ke mana-mana.”

Selagi Nug melangkah pergi, Binta cuma bisa geleng-geleng kepala. Setelah itu Binta pulang. Ya. Tentu saja dia tidak diam di sana. Tidak ada satu orang pun yang bisa mengubah keinginannya. Apalagi, Nug. Laki-laki paling nekat yang ia temui itu. Baru juga pagi tadi ia sebut namanya di hadapan wajah Binta, siangnya ia langsung berani menyuruh Binta untuk jangan ke mana-mana?

***

“Mama?? Mamaaa?” 

Binta masuk ke rumah sambil memanggil mamanya seperti anak kecil mengajak temannya untuk bermain. Di depan sang mama, Binta harus sebisa mungkin kelihatan bahagia. Tidak pernah ada setetes air mata yang muncul ketika ia sedang berdua dengan beliau. Karena buat Binta, bersedih di hadapannya akan semakin mempersulit keadaan.

Di tiap harinya, ia pulang dengan beragam kekhawatiran. Ketakutan akan jawaban dari Bi Suti selalu jadi alasan ia tidak berani pulang ke rumah,

Bi Suti keluar dengan membawa mangkuk berisi bubur ayam. Binta buru-buru mencuri bubur itu dari tangan Bi Suti, “Biar Binta aja, Bi,” kata Binta, “Oh, iya, hari ini mama marah-marah nggak, Bi?”

“Iya, Kak… tadi ngamuk sambil manggil nama Bapak, seperti kemarin.”

Mendengar itu membuat hatinya hancur, padahal itu bukan hal yang baru ia dengar, bahkan hampir terjadi setiap hari, tapi tetap tak bisa terbiasa dengan keadaan itu.”

“Ya udah, deh, Binta ke kamar mama dulu, ya?”

Binta mengetuk pintu, “Maamaaa!”

Ketika pintunya terbuka, beliau sedang duduk di kursi roda sambil menghadap ke jendela yang mengarah ke taman kecil di halaman belakang rumah. 

“Kenapa? Mama mau ganti bunga yang ada di taman?”

Binta duduk di sebelahnya.

“Tapi bunganya cantik kan, Ma? Soalnya lagi musim kemarau, kata tukang tanamannya bunga bougenvil memang lebih cantik waktu musim panas begini.”

“Sekarang mama makan dulu, nanti bulan depan kita ganti bunganya, ya? Kalau masih musim kemarau kita ganti bunga iris. Tapi kalau sudah masuk musim hujan, terpaksa bunga mawar lagi, deh.”

Sambil menyuapkan bubur buatan Bi Suti, Binta cerita, “Oh iya, Ma?”

“Tadi di kampus, ada cowok…” lanjut Binta mulai bercerita dengan ragu, “Namanya Nugraha, dia anak arsi, semester lima. Dia ngajak Binta kenalan, terus sempet mau ngajak Binta ke suatu tempat tapi Binta malah pulang. Ya… gitu doang sih, Ma, pasti dia cuma iseng kan, Ma? Cuma… cuma dia cowok kedua di kampus yang ngajak Binta kenalan setelah Cahyo. Padahal Binta tau sih, ini pasti akal-akalan Cahyo doang.”

“Kenapa sih, Ma? Cewek sama cowok itu harus saling jatuh cinta?”

Mungkin Binta berharap sang mama akan menjawab dengan segera, tapi baginya, diam sudah berarti jawaban.

“Menurut Mama, kira-kira… Binta akan jatuh cinta, nggak? Sama siapa ya, Ma? Seperti apa, ya, rasanya?”

***

Pagi ini, Binta sarapan sendiri di rumah, karena sang mama masih tertidur pulas, takkan tega ia membangunkannya. Bi Suti menghampiri Binta, memberitahunya kalau ada temannya yang sudah menunggu di depan. 

“Ya udah, sarapannya Binta lanjutin di kampus aja, deh. Nanti kalau mama udah bangun, bilangin kalau Binta udah berangkat, ya, Bi.”

Binta segera memakai sepatunya dan menyandang tas ranselnya, berjalan menuju pagar rumah. “Lo kepagian tau, Yo. Sarapan gue belom kelar!!” sahut Binta sambil mendekatinya.

“Pagi, Binta Dineschara.”

“Elo?! Kok elo, sih?”

“Cahyo lagi nggak bisa jemput lo, terus dia minta tolong sama gue buat jemput lo.”

“Dia itu selalu bisa jemput gue. Ini pasti akal-akalan lo doang, kan?!”

“Gue nggak tau, Ta, gue mau nolongin Cahyo aja.”

Binta pergi meninggalkan Nug untuk mencari bis umum. Cahyo akan menjadi santapan besarnya di kampus nanti. Binta menoleh ke belakang, ternyata Nug juga sedang mengikutinya dengan motor yang ia tinggal di depan rumah Binta sambil berusaha membuatnya mengerti, “Ta, naik motor aja sama gue biar cepet.”

“Lo aja sana yang naik motor!”

Nug mempercepat langkahnya supaya bisa berdiri tepat di hadapan Binta untuk akhirnya bilang, “Lo, tuh, kenapa, sih?”

“Gue itu orang dengan banyak ‘kenapa’, jadi berhenti ngikutin gue!”

Binta memberhentikan metro mini, naik, diikuti dengan Nug di belakangnya. Pagi itu bis penuh, jam sibuk orang berangkat kerja dan sekolah. Binta berdiri, begitu juga dengan Nug. Tingkat kejengkelan Binta sudah tak tertahankan lagi, tapi ia tahu ia tidak mungkin bertengkar di dalam bis umum. Maka yang ia lakukan cuma diam, sedangkan Nug, yang memiliki postur tubuh lebih tinggi darinya, hanya memerhatikannya dengan saksama. 

“Kayak lagi dikasih soal matematika,” kata Nug tiba-tiba.

“Hah?”

“Waktu SD, setiap ulangan matematika, pasti gue pandangin tiap soal-soalnya dulu. Terus gue mikir gimana cara ngerjain soalnya, biasanya gue mikirnya lama, tapi pasti kejawab.”

“Lo ngomong apaan, sih?”

“Iya, lo mirip sama soal matematika. Bedanya, gue sama sekali nggak tau harus gimana buat ngerti lo.”

Binta menelan ludah, “Ya, nggak usah ngertilah.”

“Gue bukan tipe orang yang gampang menyerah, Ta. Gue yakin setiap soal itu pasti bisa dikerjain dan ada jawabannya.”

Binta menatap Nug dengan tajam, benaknya diisi kebingungan, Ini orang apaan sih?

Jalanan ibukota memang sudah tidak kelihatan seperti jalan pada normalnya, lebih mirip dengan parkir gratis. Binta berkali-kali menekuk lututnya bergantian, sendi-sendi pada lututnya sudah mulai terasa kaku. Nug masih saja memandanginya, walau sesekali ia melihat ke arah jalanan yang semakin lama semakin tidak bergerak. 

“Pegal, Ta?”

“Lo emang banyak nanya, ya, orangnya?”

“Kalo nggak nanya, kan, bisa nyasar, Ta.”

Binta menggerutu dalam hati, Kenapa sih bisnya nggak terbang aja biar cepet sampe kampus?!

“Bentar ya, Ta.”

“Lama juga malah bagus.”

Nug berjalan pelan menuju bangku belakang, mendatangi seorang laki-laki yang sepertinya seumuran dengannya, “Hei, Man.”

“Nug? Apa kabar, lo? Tumben naik bis. Motor lo ke mana?”

It was a long story, gue pengen minta tolong, sih, sebenernya. Lo liat nggak, cewek yang pake kaos putih sama celana jeans robek itu? Yang lagi berdiri deket bapak-bapak baju hitam?”

“Ohh, kenapa dia? Cewek lo?”

“Hampir…”

“Cakep juga.”

“Dia pegel, deh, kayaknya. Nggak apa-apa, ya, dia duduk di bangku lo?”

Of course, Man!”

Nug kembali menghampiri Binta dan mengajaknya ke kursi belakang. Awalnya Binta menolak, tapi Nug menarik tas ranselnya dari belakang supaya Binta mau menurut. Setelah itu Binta duduk, dengan sesekali menatap sinis Nug yang justru membalasnya dengan tersenyum.

“Masih pegel?”

“Denger ya, Nug, kalau lo cuma mau buat gue ngerasa punya utang budi–”

“Apaan sih, Ta? Lo nggak bisa artiin kebaikan orang dengan maksud yang berbeda,” sela Nug segera.

Then don’t! Nggak usah nunjukin kebaikan lo di depan gue, karena gue nggak butuh itu.”

Nug ingin sekali marah, tapi semakin dibuat kesal, ia semakin penasaran dengan perempuan ini. Ia malah berbalik minta maaf, “Ya udah, maaf, ya. Makanya besok lagi naik motor aja sama gue, biar nggak pegel, dan lo nggak perlu nganggap gue sok baik karena ngasih tempat duduk buat lo. Oke?”

6

Geez & Ann — Bab 6

6


BAB 6


Banyak yang berubah, terutama dengan diriku. Semenjak musuh bebuyutanku itu tidak pernah absen untuk mengajakku berpetualang setiap hari, aku jadi tidak pernah melamun menunggu email masuk dari manusia misteriusku itu. Raka berhasil membuatku lupa hampir seratus persen dengan sosok yang kutunggu selama ini, walaupun masih sering teringat apalagi kalau sedang sendiri tetapi paling tidak aku sudah tidak fokus menunggu kabar terbaru darinya meski sebenarnya ingin.

Kini detik mulai berjalan normal, tidak seperti dulu sebelum ada Raka. Aku sekarang sadar bahwa aku bisa saja menunggu waktu, tetapi waktu nggak mungkin nungguin aku untuk bergerak. Semakin lama, semakin akan menyesal aku nantinya. Mungkin sudah saatnya untuk menghapus namanya dalam sebuah ruangan yang sudah lama terkunci. Sudah saatnya aku membuat kunci duplikat dan mengizinkan orang baru mengisinya.

Liburan kenaikan kelas ini, sebelum naik ke kelas tiga, seluruh anak kelasku memutuskan untuk mengadakan acara liburan bersama. Walaupun tidak lama, setidaknya kami bisa menghabiskan waktu bersama sebelum jadi orang sibuk selama kelas tiga. Tadinya sudah tidak mau ikut, tapi Tari jadi ngambek tiga hari sampai akhirnya aku bilang iya. Sebenarnya alasanku untuk tidak ikut sangat kuat, karena…

 “Kenapa sih harus ke Bandung? Kayak nggak ada tempat lain aja.”

Nah, sekarang kalian paham kan. Atau masih belum? Tidak apa-apa, tidak usah buru-buru.

“Udah deh, kamu akan baik-baik aja, kok.”

“Lagipula, memang Jogja kenapa sih? Kurang indah apa coba? Kenapa sampai jauh-jauh ke Bandung? Kan, ada banyak tempat di Jogja yang bisa dikunjungi.”

“Keana, udah deh ya. Kita udah berdebat tentang ini beribu-ribu kali.”

“Ya tapi kan, Ta…”

“Sekarang gini, memang Bandung kenapa? Hanya karena berdiri sebuah rumah pohon milik Geez lalu kamu jadi mengklaim Bandung seburuk itu? Ayolah, Ke.”

Dengan tas besar yang ia bawa, Raka menghampiriku dan Tari yang kelihatan sedang beradu argumen, “Tari bener.”

Aku hanya merengut.

Raka mengambil paksa tasku lalu ia masuk ke dalam kereta juga Tari. Tapi aku tidak. Aku masih duduk di bangku tunggu.

 “Udah ayo naik,” Raka menghampiriku yang masih saja duduk. Barang bawaannya pasti sudah ia taruh semua di dalam kereta. Awalnya hanya berdiri, tapi karena aku tidak bereaksi apa-apa, dia pun ikut duduk di sebelahku.

“Kamu tahu, kan, di Bandung ada apa? Gimana kalau rumah pohon itu mengirim kembali semua kenangan yang sedang berusaha kuhapus?”

“Harusnya masalah seperti ini memang nggak perlu dibahas lagi.” Kata Raka sambil menyandarkan tubuhnya. Lagi-lagi perkataan manusia menyebalkan itu harus aku benarkan, dua tahun tanpa email darinya harusnya sudah bisa menjadi alasan untuk berhenti membahas apapun yang berkaitan dengan Geez. Harusnya.

“Lo nggak akan ke sana, Keana. Kita mau ke villa, bukan ke rumah pohon.” Setelah bicara itu, Raka mengajakku untuk masuk ke dalam kereta. Kami naik kereta ekonomi, supaya lebih hemat. Aku duduk di sebelah Tari, berhadapan dengan dua temanku yang lain, Fachri dan Rifki, dua gembul kesayanganku yang selalu berhasil buat aku gemuk.

“Permisi, ada yang mau pesan makanan?”

“Saya pesan semua yang ada, mba! Lu mau apaan Ki?” sahut Fachri.

Tari melotot, “Kalian ini gila atau rakus atau laper atau apa?!”

Mereka hanya nyengir, sedangkan aku cuma bisa menahan tawa. “Udah biarin aja kenapa, Ta.” Tari kelihatan emosi sekali padahal mereka sama sekali tidak buat kesalahan apa-apa. Hanya pesan makanan. Itu saja. Walaupun semua makanan yang ada di menu.

“Iya tapi kan, mana ada coba manusia di dunia ini yang pesan semua makanan yang ada di menu? Kayak bakal habis aja.”

Tiba-tiba Raka mendatangiku. “Keana.”

“Apa?”

“Ikut gue sebentar.” Ia langsung meraih tanganku buru-buru. Seperti ada sesuatu yang serius yang harus ia ceritakan sesegera mungkin.

“Bentar, ya, Ta,” sembari beranjak dari tempat duduk, aku meninggalkan Tari dengan dua manusia yang sedang membuatnya kesal setengah mati. Aku berjalan menyusuri gerbong satu ke gerbong berikutnya. Raka di depan dan tetap tidak bicara apa-apa. Ketika langkahku menuju gerbong berikutnya, entah ada apa, keretanya cukup mengguncang dan aku hampir terjatuh kalau saja Raka tidak segera menangkapku, “Nggak kenapa-kenapa kan, Ke?” Matanya menatapku, aku spontan membalas tatapannya itu.

Walaupun masih sedikit kaget aku tetap berusaha menjawab, “Iya… nggak…”

Dia meraih tanganku dari depan, iya, dia, musuhku yang kini tiba-tiba membuat perasaan aneh itu muncul lagi, perasaan yang kurasakan dengan Geez dulu. Nggak. Nggak mungkin! Masa iya Raka yang berhasil menghidupkan kembali perasaan aneh itu? Ini pasti ada yang keliru, ini pasti salah. Tapi ketika tangannya menyentuh jemari tanganku, sesuatu terjadi, jantung berdegub cepat, kencang, rasanya berbeda sekali dengan biasanya. Aku tahu harusnya tidak perlu ada perasaan semacam ini, tapi sudah telanjur kurasakan dan tidak bisa ditolak.

Aku buru-buru kembali berdiri dan jalan duluan. Sebisa mungkin aku harus kelihatan biasa aja. Aku tidak mau sampai dia berpikir macam-macam. Ternyata Raka mengajakku ke restorasi yang ada di dalam kereta. “Lo mau apa, Ke?” Ranyanya sesampai di restorasi.

Aku bahkan tidak engeh sudah sampai, “Aku teh manis hangat saja.”

Kami pun duduk, dekat jendela, aku terus saja menghadap ke arah jendela melihat pemandangan sawah hijau untuk melupakan perasaan aneh barusan. Pasti beberapa detik lagi hilang, dan aku akan kembali pada perasaan normalku sebagai mana mestinya. Seperti guncangan akibat gempa, yang awalnya terasa dahsyat namun lama-lama juga hilang dan tidak ada. Perasaan aneh itu pasti bukan perasaan yang sebenarnya kumaksud. “Keana?”

“Ha?”

“Kok bengong, sih?”

Tehnya datang. Aku buru-buru meminum teh yang tadi kupesan, supaya sebisa mungkin tidak kelihatan sedang kenapa-kenapa, “Iya nggak apa-apa, tadi Raka mau cerita apa?”

Dia membenarkan posisinya, supaya ia bisa nyaman bercerita. “Jadi, tadi gue ketemu cewek.”

Aku tersedak, tehnya hampir tumpah semua, ingin mengucapkan kalimat terkejut tapi aku belum selesai tersedak.

“Ke, lo kenapa, sih? Sakit, ya?” Ketika bertanya itu nadanya berubah menjadi agak khawatir. Ia pergi untuk memesan segelas air mineral lalu kembali dan memberikan itu untuk kuminum. Entah kenapa muncul sejenis perasaan aneh yang lain ketika mulutnya berkata itu, sekali lagi aku harus tetap kelihatan biasa saja, “A girl?

Wajahnya berubah bersemangat ketika ingin menceritakannya padaku, “Teman lama sebenarnya, dulu sempet deket tapi nggak jadi gue tembak (jadiin pacar), karena dia harus pindah ke Bandung.”

Aku harus ikut bersemangat mendengar ceritanya, “Oh iya? Terus, terus?”

“Dia habis liburan di Jogja dan ternyata dia satu gerbong sama gue, Keanaaa!!!”

Aku memasang wajah paling munafik di dunia ini, tersenyum senang melihatnya gembira sekali, “Wah, kebetulan banget ya?”

“Nah itu dia yang gue mau bicarain, Ke. Mungkin dia kali ya, yang dikirim Tuhan untuk gantiin Sarah?”

Aku kira kamu yang dikirim Tuhan untuk menggantikan Geez. Ya ampun, Keana… kamu ini kenapa? Kenapa rasanya seperti…. seperti sakit sekali ketika mendengar dia bicara itu. Seperti kamu adalah seseorang yang tidak memiliki apa-apa, lalu suatu ketika ada seseorang datang, orang itu selalu menemanimu, orang itu berhasil membuat pelangi dalam abu-abu hidupmu, yang tidak pernah kamu izinkan untuk diambil orang lain, tapi kemudian sebentar lagi ia akan hilang, ya begitulah kira-kira.

“Ke? Keana? Lo sakit?” Raka menanyakan hal yang sama untuk kedua kalinya, sambil memegang keningku. Ketika selesai melamun, aku tiba-tiba merasa marah sekai dengannya. Padahal dia tidak buat sesuatu yang buat aku kesal. Amarah ini berbeda sekali. Aku tidak pernah merasa semarah ini dengannya.

“Apaan sih!” Kemudian aku pergi meninggalkannya lalu kembali ke gerbongku. Mungkin kalau sekarang dilihat di cermin, pasti wajahku seperti sedang ingin menelan manusia. Aku sebenarnya juga tidak tahu kenapa tiba-tiba marah seperti itu dengannya. Ketika kembali duduk di tempatku, Tari hanya menoleh. Dia tidak berani bertanya. Lagian, untuk apa sih aku harus sekesal ini? Harusnya bukan menjadi urusanku, kan? Mau Raka dekat dengan siapa pun itu, harusnya tidak jadi masalah. Dia kan hanya musuhku. Harusnya aku senang dia memiliki perhatian lain dan akan berhenti menggangguku.

***

Aku dan teman-teman menginap di penginapan milik salah satu teman, aku sekamar dengan Tari dan dua anak perempuan yang lain. Kami tiba pukul sembilan malam, hampir semua anak-anak langsung tertidur karena perjalanan yang cukup melelahkan, tetapi berbeda denganku. Aku justru tidak bisa tidur. Berkali-kali mengubah posisi tetap saja tidak bisa, karena kesal sendiri aku memutuskan untuk mencari angin keluar. Sudah sepi, pasti hanya aku yang masih melek. Aku berjalan mengitari gazebo yang ternyata masih belum sepi.

 “Keana? Keana!” Serunya sambil menghampiriku. Tidak perlu menunggu besok pagi untuk bicara lagi dengannya, aku ingin minta maaf sudah marah-marah nggak jelas di kereta siang tadi. Senang sekali mendengar suaranya memanggil namaku.

“Raka,” balasku menyapanya.

“Ke, lo harus tahu sesuatu. Sebelum turun dari kereta, gue sama dia tukeran nomor telfon dan barusan tadi kita telfonan!!! Lama banget lagi. Terus ternyata dia orangnya seru, nyambung banget sama gue,” serunya bersemangat.

“Hah?”

Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulutku, tubuhku lemas, tidak kusangka justru kalimat itu yang ia ucapkan, aku kira dia ingin minta maaf atau apa saja, asal jangan itu. Tapi wajah itu, tidak pernah kulihat wajah Raka sebahagia itu bahkan ketika denganku. Mana mungkin aku marah lagi apalagi menangis.

“Terus besok rencananya gue mau ke rumah dia, lo mau ikut???”

Aku berusaha menjawab sambil tersenyum, “Nggak deh, aku di sini aja.”

 

***

Selamat pagi.

Bandung dingin sekali pagi ini. Aku memutuskan ke dapur untuk membuat teh yang bisa menghangatkan badan. Awalnya kukira belum ada yang bangun tapi ternyata ketika menengok ke jendela Fachri sudah absen duluan untuk beli bubur ayam di depan. Dengan secangkir teh hangat yang baru saja kubuat, aku menghampirinya, “Masih pagi udah laper?”

Dia hanya nyengir sambil terus menghabiskan bubur ayamnya sampai habis, “Lebih baik gemuk daripada tidak gemuk tapi merokok.”

Aku tertawa kecil, “Hahaha, aku setuju kalau yang itu.”

 “Eh, Ke.”

“Iya, kenapa Ri?”

“Sebenernya ada sesuatu yang dari dulu mau kuberi tahu kamu, tapi aku takut.”

“Tentang?”

“Raka…”

Aku kira tentang apa, ternyata dia, “Raka? Raka kenapa?”

“Waktu itu pas aku sama Rifki mau pulang, kita lewatin tongkrongannya Raka. Nah, di tongkrongannya Raka ada roti bakar kesukaannya Rifki, tadinya aku udah bilang nggak usah beli karena banyak kakak kelas. Kamu tahu sendiri, kan, teman-temannya Raka seperti apa?”

“Iya tahu, lalu?”

“Terus pas aku sama Rifki turun dan pesan roti bakar, aku denger Raka dan teman-temannya itu, termasuk kakak kelas, lagi bicarain kamu.”

Aku mulai merasa ada yang tidak benar, “Bicarain aku?”

\

“Raka bilang, sebelum naik kelas tiga dia pasti akan berhasil buat kamu jatuh cinta sama dia. Terus aku juga denger, salah satu kakak kelas salut karena selama ini dia berhasil pura-pura mau temenan sama anak kayak kamu. Maaf, Ke.”

Aku terhenyak di kursi dekat gerobak tukang bubur, rasanya seperti dipanah berkali-kali. Jadi selama ini, semuanya adalah kebohongan? Tapi semua yang sudah dia lakukan untukku? Pertolongan perasaan yang dia berikan itu? Mengajakku berpetualang? Mencari objek foto? Main di laut? Minum wedang ronde di alun-alun setiap malam? Apa itu semua tidak ada yang tulus sama sekali? Satu pun? Semuanya hanya skenario? Aku hanya bahan lelucon?

Fachri berusaha bicara padaku pelan-pelan, “Keana, aku minta maaf, aku baru berani bicara ini sekarang. Jangan bilang Raka ya, aku dan Rifki bisa dihajar nanti.”

Aku berusaha tenang. “Oke. Makasih, ya.” Aku masuk dan berniat merapikan baju ke dalam tas untuk pulang kembali ke Jogja. Aku memang punya firasat sejak awal untuk tidak usah ikut ke Bandung. Lagipula, untuk apa lagi aku di sini? Melihat kebohongan dari seseorang yang tadinya kukira akan menjadi pengganti Geez? Dasar bodoh kamu, Keana Amanda. Dari awal kamu tahu kebencian itu sudah ada, lalu kamu kira bisa berubah dengan sesuatu yang sangat indah? Harusnya kamu percaya dengan logikamu kalau Raka Adam adalah musuhmu dan akan selalu begitu.

Karena terburu-buru, aku menabrak sesuatu, dan ketika aku melihat wajah seseorang yang tidak sengaja aku tabrak, aku berusaha untuk menghindarinya sebisa mungkin tetapi dia berhasil meraih tanganku, “Keana.”

“Lepas!”

“Lo kenapa?”

Berani sekali dia bertanya kenapa! Aku benar-benar muak melihat wajahnya, menjijikan. “Kenapa kamu bilang? Coba kamu pikir kenapa, hah?” Sepertinya dia mulai sadar jika aku sudah sadar dengan kebohongan yang selama ini dia tampilkan di depanku, “Keana…”

“Cukup! Yang boleh memanggil namaku hanya orang-orang yang tulus berteman denganku, bukan untuk seseorang yang hanya menjadikanku bahan lelucon!” Aku berkata ketus, lalu meninggalkannya dengan air mata yang deras. Jahat! Dia adalah manusia paling tidak punya hati yang pernah kutemui.

Semesta, sakit sekali rasanya, maaf aku menangis. Kebodohan terbesarku adalah pernah berpikir jika aku mulai menyayangi manusia jahat itu, benar-benar kesalahan besar.

Aku berlari meninggalkan tempat penginapan. Raka tidak mengejarku karena aku tahu dia pasti mengerti apa yang aku inginkan dan harusnya dia malu kalau masih berani mengejarku.ke manaAku hanya ingin pergi, pergi jauh, jauh, jauh sekali. Aku ingin berlari dari rasa kecewa yang padahal akan tetap menempel dalam diriku walau aku pergi ke ujung dunia sekalipun. Keringat dan air mata melebur menjadi satu kesatuan dalam wajahku, tidak tahu sudah seberapa lama dan seberapa jauh aku berlari, aku merasa sangat kelelahan, kepalaku mulai terasa sedikit berputar-putar.

“Neng Keana?” Tiba-tiba seorang bapak tua menghentikan langkahku yang sudah letih, ia memegang sapu lidi seperti habis membersihkan jalanan.

“Iya, Pak. Saya Keana,” jawabku sambil berusaha tersenyum walau lelah setengah mati.

“Akhirnya si eneng ke sini juga…”

Tentu saja aku bingung, “Ke sini?”

“Iya, ke rumah pohon. Ayo neng, bapak antar ke dalam,”

Wajahku berubah terkejut seperti habis melihat hantu, “Sebentar pak, rumah pohon?”

Bagaimana mungkin langkahku bisa sampai di sini? Ah, rumah pohon di dunia ini kan tidak cuma satu. Tapi kalau memang rumah pohon yang dimaksud si bapak adalah…

“Pak, bapak pasti salah, saya nggak mau ke rumah pohon. Dan oh iya, bapak bisa tahu nama saya dari mana? Saya, kan, belum bicara apa-apa.”

“Dari Mas Gazza, neng lupa?”

Lupa? Mana mungkin aku bisa lupa sama dia. Tunggu-tunggu, aku tidak sedang benar-benar berada di rumah pohon ‘itu’ kan? Ini pasti cuma mimpi. Langkah kakiku membawa jiwa yang sedang tenggelam dalam rasa sedih ke tempat ini? Tempat terindah ini? Ini semua diluar akal pikirku, jauh sekali dari logika. “Duh pak, gini ya, maaf tapi saya nggak bermaksud mau ke sini.”

Si bapak jadi ikutan bingung, “Loh, lalu si eneng mau ke mana? Di sekitar sini, kan, hanya ada rumah bapak sama ladang kecil dan rumah pohon, nggak mungkin atuh Neng Keana yang geulis mau pergi ke ladang?”

Aku jadi lebih bingung.Ke manake mana “Kok, bapak bisa menebak saya yang namanya Keana?”

“Ketika tadi neng tersenyum.”

Lagi-lagi alasannya itu, seperti bapak penjual bunga di Jogja. Ada apa sih dengan senyumku? Perasaan biasa saja, tidak ada bedanya dengan milik orang lain. Pasti ada sesuatu yang Geez beri tahu ke si bapak tentang ciri-ciriku!!! Sebal.

“Kalau bapak, bapak siapa?”

“Saya Pak Amir, bapak yang menjaga rumah pohon milik Neng Keana.”

“Tunggu-tunggu, rumah pohon saya? Pak, rumah pohonnya bukan punya saya, punya Gazza.” Si bapak akhirnya menjelaskan padaku tentang banyak hal. Tiga hari sebelum keberangkatannya, ia membeli rumah pohon ini atas nama Keana Amanda, dan mempekerjakan Pak Amir untuk merawat agar tidak rusak dan kotor.

“Jadi waktu itu Mas Gazza bilang, Pak, saya titip rumah pohonnya ya. Mungkin bapak akan ketemu sama yang punya dalam jangka waktu agak lama, tapi tolong dirawat ya pak. Saya nggak mau ketika yang punya datang ke sini, rumah pohonnya membuat dia kecewa, begitu katanya neng.”

“Terus, pak?”

“Ya bapak tanya namanya siapa, Mas Gazza bilang namanya Keana, Keana Amanda.”

Dia membeli rumah pohon ini? Rumah pohon atas nama Keana Amanda? Apa tidak salah?  Apa Keana Amanda itu aku? Atau Keana Amanda yang lain? Sungguh. Semua ini masih membuatku tidak percaya sama sekali. Bisa-bisanya Geez tidak memberi tahuku soal ini. Aku mencoba untuk bernapas pelan, “Baik kalau memang begitu, saya akan mampir sebentar,”

“Mau diantar neng?”

“Oh nggak pak, saya masih hafal jalannya.”

Kalau tanpa direncanakan saja langkahku bisa sampai di sini, sepertinya sangat mudah untuk hanya berjalan masuk menuju ke dalam rumah pohon. Dan ternyata tidak ada yang berubah, bunga mawar di sekitarnya masih tumbuh subur, Geez tidak akan menyesal sudah mempekerjakan Pak Amir. Semuanya masih sama, jalan setapak kecil yang ia buat, bahkan udaranya pun masih terasa sama, hanya bedanya sekarang aku datang seorang sendiri. Langkahku sekarang sudah tepat berada di depan istana kecil yang pernah jadi tempat terindahku dengannya dulu, tanganku tiba-tiba seperti terkena rintik hujan padahal langit sedang cerah sekali, pipiku pun begitu, ya ampun, aku menangis tidak tahu kenapa, aku hanya merindukannya, sangat merindukannya.

Sesampaiku pada tangga terakhir, aku terkejut dengan isi rumah pohonnya. Terakhir kali aku ke sini dengan Geez tidak ada apa-apa, sungguh. Sekarang yang kulihat adalah sebuah teropong yang mengarah keluar jendela, buku-buku karya Enid Blyton kesukaanku, karpet dan bantal bernuansa boho, dan lampu-lampu kecil seperti kunang-kunang. Bagaimana bisa menahan air mataku untuk tidak turun? Hal-hal yang menyangkut dengannya pasti selalu membuatku bahagia.

Indah sekali semuanya dari sini, harusnya sempurna kalau ada kamu. Geez, kamu ada apa? Ada apa sampai kamu tega melakukan ini sama aku? Maaf, maaf karena aku nggak bisa nepatin janji kamu untuk jadi Anna yang ceria. Ketika kamu pergi, hal-hal berubah menjadi berat. Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya untuk melewati semua ini. If only you were here, mungkin aku bisa percaya kalau semuanya akan baik-baik saja. But if you could see me right now, i’m alone, Geez. And i have no plan to do expect angry with myself, and crying.

Aku buru-buru menutup wajahku dengan kedua tanganku, lalu menangis, sederas yang aku bisa. Aku tutup karena malu dilihat oleh rumah pohon, takutnya dia mengadu pada Geez. Aku hanya tidak mau Geez sampai tahu aku sedih lalu ia tutup semua toko es krim yang ada di muka bumi.

“Pulang!”

Suara itu…suara itu!!!

Dia membuka wajahku, memegang kedua tanganku, kemudian duduk disampingku dan berkata lembut, “Balik sana ke tempat penginapan, semuanya sedang pusing mencarimu,”

Mulutku mendadak kaku tapi aku tetap harus mengatakan sesuatu, “Geez?”

Aku hanya ingin memastikan dia sungguh Geez. Kupegang wajahnya, ternyata ia benar-benar Geez. Ia menggenggam erat tanganku, kuharap itu adalah bentuk kalau ia tidak ingin melepasku pergi.

“Geez kenapa kamu hilang? Kenapa emailmu tidak pernah lagi muncul? Aku salah apa? Aku bandel ya?”

Dia berusaha menenangkanku seperti yang selalu ia lakukan, “Nggak, kamu nggak bandel. Sekarang kita harus bahas yang lebih penting dulu,”

“Ini penting, Geez!”

“Ann kenapa? Kenapa matanya sembab? Kenapa pipinya basah?”

Aku tidak bisa menjawab, otakku seperti bayi baru lahir yang tidak tahu apa-apa. Aku justru fokus memandangi wajahnya yang ingin sekali aku curi supaya tidak perlu kangen-kangen lagi.

“Ann, kamu masih ingat dengan ancamanku, kan?”

“Ingat,”

“Apa?”

“Kalau aku menangis, kamu akan menutup semua toko es krim di dunia ini.”

“Lalu kenapa kamu masih berani menangis?”

“Karena aku benar-benar marah dan kesal dan benci dan kecewa dan…”

“Iya sudah-sudah, aku mengerti. Tapi semua yang kamu rasakan itu pasti ada penjelasan dan penyelesaiannya,”

Aku memalingkan muka, “Penyelesaiannya adalah kamu tetap di sini.”

Hey, listen. You will be good, alright? Aku percaya dengan orang paling ceria ini sanggup menyelesaikan masalah-masalahnya.”

“Tapi email-emailmu?”

Dia tersenyum, senyuman yang akhirnya kusaksikan lagi, “Sekarang kamu harus kembali ke penginapan.”

“Tidak mau, ada Raka, manusia paling jahat di muka bumi ini! Aku ingin pulang ke Pluto saja, berteman dengan alien!!!”

“Kalau kamu bisa memaafkan dirimu sendiri karena pernah membenciku, kenapa kamu harus marah karena tidak bisa memaafkannya?”

Aku tidak menjawab dan beranjak menuju kaca jendela, melihat bintang-bintang melalui teropong yang sebenarnya aku tidak tahu cara menggunakannya. Untung saja dia paham kalau aku nggak ngerti, “Mau lihat apa sih?” Dia bertanyanya lembut.

“Kamu sama aku itu seperti jarak antara satu bintang dengan bintang yang lain. Kalau dari jauh kelihatan dekat, padahal kalau didekati sangat jauh.”

Dia membelai rambutku, “Itu karena aku dan kamu bukan bintang,”

Aku menoleh dengan heran, kenapa jawabannya selalu singkat, padat, dan nggak jelas, “Kok?”

“Iya, kita kan bukan bintang, aku Geez dan kamu Ann. Geez dan Ann yang hidup di bumi, yang menyadari kalau selama masih memandang langit yang sama, maka tidak akan pernah ada jarak terjauh yang memisahkan mereka.”

Kini giliran ia yang melihat ke langit, sedangkan aku tersenyum memandanginya lagi sehabis mendengar perkataannya barusan, “Benar?”

“Eneng, neng, neng, sudah gelap.”

Aku mendengar sesuatu, lalu membuka mataku yang terasa seperti habis lama terpejam.

“Neng? Neng Keana?”

Suara itu muncul lagi, ternyata dari bawah, Pak Amir berusaha membangunkanku, sepertinya. Iya benar, sudah gelap. Aku melihat ke atas, wah, banyak sekali bintang malam ini. Oh iya, kenapa aku tidak pakai teropong yang tadi kulihat dengan Geez…

GEEZ!

“Geez? Geez?”

“Neng ayo turun sudah malam.”

“Pak, Gazza ke mana ya pak? Dia ada di bawah sama bapak ya?” Tentu saja aku menanyakan hal itu.  Pak Amir memandangiku dengan penuh pertanyaan, “Gazza? Mas Gazza maksudnya gimana, neng?”

“Iya pak, tadi Gazza ada di sini.”

“Tapi dari tadi siang neng hanya sendirian di atas, kemudian ketiduran.”

Apa? Aku ketiduran? Jadi barusan itu hanya bunga tidur? Tidak nyata? Geez tidak benar-benar datang ke sini tadi? Tubuhku terasa ringan sekali, aku kecewa dengan diriku sendiri. Kalau saja tadi aku tidak tertidur, mungkin sekarang aku akan merasa biasa saja, tidak akan sekecewa ini. Jari-jariku dingin, ingin tidak menangis tapi ternyata sulit menahannya untuk tidak keluar. Aku menengok ke bawah dan Pak Amir masih menungguku untuk turun, sudah gelap, aku tidak tahu jam berapa sekarang. Mungkin Geez benar, aku harus pulang.

Karena melihat mataku sembab, Pak Amir jadi sedikit bingung, “Si eneng, kenapa? Kok seperti habis menangis?”

“Nggak apa-apa, pak, saya pulang dulu ya sudah gelap.”

“Mampir dulu ke rumah bapak ya, ada teh hangat dan ubi rebus. Neng Keana belum makan sejak tadi siang, sekarang lihat tuh, sudah hampir jam sepuluh malam.”

“Hah?! Jam sepuluh malam, pak? Selama itu saya tidur?”

Wajar sih lama, habis…mimpinya sangat indah. Pak Amir kemudian mengantarku ke rumahnya, rumah sederhana dengan kehangatan yang menyelimutnya, entah kenapa tapi aku bisa merasakan itu.

“Ya ampun, jadi ini yang namanya Keana? Geulis pisan,” kata seorang ibu yang menyapaku dari dalam.

“Waduh, saya sudah terkenal ya pak?” Tanyaku bercanda.

Si ibu tertawa kecil, “Iya atuh, Mas Gazza kan sering ke sini untuk minum teh kesukaannya.”

“Oh… jadi dia sering ke sini juga ya bu?”

“Wah iya, sering, sering juga cerita tentang si teteh.”

“Si teteh? Teteh siapa bu?”

“Teteh Keana maksudnya si ibu,” kata si bapak berusaha melengkapi.

“Ya udah, ibu buatkan teh dulu ya, ubinya baru saja matang,”

Aku tersenyum, bergumam dalam hati, masa sih aku sering diceritakan sebegitunya?

“Hmm… pak, bapak sudah lama kenal Gazza?”

“Wah sudah lama, neng. Dari Mas Gazza kecil, dulu si bapak sama ibu pernah kerja lama di rumahnya. Cuma karena sudah tua, ya pensiun, nggak kuat kerja. Tapi Mas Gazza sudah seperti anak sendiri, makanya dia sering ke sini. Sekadar minum teh, makan ubi rebus, sama cerita-cerita.”

“Cerita apa, pak?”

“Banyak, Mas Gazza punya cerita yang lucu-lucu. Tapi beberapa tahun terakhir si mas sering datang ke sini bicarakan tentang Neng Keana, nah rumah pohon itu, dulunya punya juragan sapi. Tapi karena nggak keurus, Mas Gazza beli. Terus si mas minta bapak supaya rumah pohonnya dibereskan supaya jadi layak. Karena katanya untuk seseorang.”

“Seseorang, Pak?”

“Iya… untuk Neng Keana.”

Ya ampun semesta, kok bisa sih ada makhluk seperti dia? Tapi, bagaimana mungkin? Dia tidak pernah memberi tahuku soal ini, bahkan dia hanya mengajakku sekali waktu itu sebelum dia berangkat ke Berlin. Sampai kapan dia terus memberiku kejutan seperti ini? Kalau saja dia tahu, aku tidak mau lagi diberi kejutan, aku tidak mau lagi disuruh menyelesaikan teka-teki yang dia berikan, aku hanya ingin dia datang dan menjelaskan tentang kebingungan yang aku rasakan sejak pertemuan pertama dengannya.

Setelah mencicipi ubi rebus paling lezat yang pernah kucoba dan secangkir teh hangat, aku berpamitan dengan Pak Amir dan istrinya. Tidak perlu takut tersesat karena aku sudah mengerti arahan yang tadi Pak Amir beri tahu. Sepanjang jalan menuju tempat penginapan, kepalaku tidak bisa berhenti melupakan omongan yang tadi Pak Amir ceritakan. Semua ini pasti ada arti dan maksudnya, mana mungkin ada seseorang yang bertemu hanya setahun sekali tapi membelikanmu sebuah rumah pohon terindah yang pernah kulihat, bahkan yang kulihat di internet tidak ada yang seindah itu.

“Ya ampun, Keana!!!!!”

Aku kaget, seseorang tiba-tiba memelukku, terlalu dalam berpikir membuatku tidak sadar sudah sampai dekat penginapan, cepat sekali rasanya, waktu seperti ditelan pekerjaan otak yang sejak tadi belum juga beristirahat.

Tari kelihatan panik, “Kamu dari mana aja? Kamu hampir menghilang seharian, kalau mau pergi bilang aku susah banget sih. Handphone pakai acara tidak dibawa, jantungku hampir copot tau tidak? Untung saja Basta mencegahku untuk tidak dulu lapor ke polisi,”

“Ta, aku kan udah di sini, kamunya aja yang terlalu parno,”

Tari merangkul dan mengajakku untuk masuk ke dalam, Raka terlihat berdiri di depan pintu dan aku hanya melewatinya tanpa melirik sedikit pun. Semuanya memang kelihatan cemas, memang selama itu aku pergi ya? Aku duduk di sofa dengan secangkir coklat panas yang Tari buat, “Ke, kamu jangan kayak gitu lagi ya?”

Aku mengangguk, tapi bukan berarti berjanji tidak akan lagi melakukan itu. Kadang kita memang nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari, tapi apa pun yang sudah terjadi pada hari ini atau kemarin, harus aku terima karena memang sudah telanjur terjadi. Dan mengenai permusuhanku dengan Raka yang pernah jadi pertemanan menyenangkan, harus diakhiri dengan kekecewaanku yang tak akan bisa disembuhkan, apa yang ia perbuat benar-benar keterlaluan. Sekarang aku tidak perlu lagi memusuhinya, karena kini dia hanya orang asing dan tidak lebih dari itu.

Ketika di kamar berdua Tari dan anak-anak yang lain sudah tertidur, aku mencoba untuk bicara dengannya soal keinginanku ingin pulang, bisa kalian tebak pasti Tari tidak akan setuju.

“Pokoknya kamu tidak boleh pulang!” Ketusnya merebut ranselku.

“Ta, aku nggak bisa di sini. Kamu nggak mau lihat aku sedih kan? Semakin lama melihat Raka cuma membuatku semakin benci dengan diriku sendiri.”

“Tapi, Ke…”

Aku mengambil kembali tas yang digenggam Tari, “Nanti aku kabari kalau aku sudah sampai Jogja.”

Tari memelukku, “Kamu hati-hati ya, aku nggak tahu kenapa semuanya bisa jadi rumit seperti ini.”

Setelah berpamitan dengan Tari, aku berusaha berjalan pelan supaya tidak membangunkan yang lain, dan untung saja lampunya sudah dimatikan semua, jadi aku bisa aman. Duh, kenapa Bandung harus sedingin ini ketika malam, aku melirik jam tanganku dan sudah pukul dua pagi. Keretaku berangkat jam setengah tiga, untung saja Pak Amir memberiku tumpangan gratis dengan ojek yang tidak lain adalah temannya, karena sulit sekali mencari kendaraan umum dini hari seperti ini.

“Sudah pak di sini saja, nanti saya tinggal jalan kaki, sudah tinggal dekat juga. Sekali lagi terima kasih ya pak, salamkan untuk Pak Amir dan ibu, kalau ada waktu saya akan kunjungi mereka lagi dalam waktu dekat,” setelah itu aku turun dengan menopang tasku untuk masuk ke dalam. Tapi belum sampai melangkah, aku dikejutkan oleh suara seseorang yang memanggilku, “Keana?” Suara itu? Suara itu kenapa bisa ada di sini? Tidak mungkin si bapak berubah suara menjadi suara yang tidak pernah ingin kudengar lagi itu kan? Amarahku muncul lagi ketika suara itu masuk tepat ke dalam sistem pendengaranku. Mau tidak mau aku harus memaksa kakiku berhenti diam di tempat.

“Keana, gue…”

Tanpa berbalik menghadapnya (karena tidak sudi melihat wajah paling menjijikan itu), aku berusaha sepenuh hati untuk mencegahnya melanjutkan perkataan yang sangat tidak ingin aku harapkan terdengar, “Pergi.”

“Tapi,”

“Kalau begitu aku yang pergi.” Ia meraih tanganku, aku berusaha keras untuk menahan air mataku turun karena masih tidak percaya dia berani melakukan itu denganku.  “Maaf,”

Aku berbalik menghadapnya (walaupun dengan berat hati), “Aku bilang pergi.” Panggilan keretaku terdengar sampai ke sini, aku menatap wajahnya yang tidak berani menatapku, “Ternyata aku yang harus pergi, jadi kamu nggak perlu repot-repot pergi, jadi kalau kamu mau di sini sampai besok pun… terserah,”

“Gue jahat, selama ini gue bohong. Gue udah kurang ajar, jadiin lo taruhan, jadiin lo bahan lelucon buat temen-temen gue, gue keterlaluan.” Ingin sekali aku menamparnya ketika kalimat itu keluar dari mulutnya, “Terus untuk apa kamu masih berani ada di sini!” Ketusku, jelas saja aku benar-benar marah.

“Untuk bilang sama lo kalau nggak sepenuhnya apa yang terjadi adalah kebohongan. Kali ini lo harus percaya, gue mohon Ke, niatnya mungkin iya tapi seiring berjalannya waktu niat gue hilang, gue beneran tulus mau temenan sama lo. Karena gue nggak bisa lihat lo sedih setiap hari, gue…. gue cuma mau menghibur lo dan gue seneng bisa ngelakuin itu buat lo.”

Aku menarik tanganku dari genggamannya, membalikkan tubuhku lagi untuk masuk ke dalam stasiun. Dia menangis, “Keana, lo nggak bisa giniin gue.” Apa? Dia menangis? Laki-laki seperti dia bisa menangis juga? Kenapa jadi dia yang menangis? Kalau kalian terkejut, maka jangan tanya seperti apa wajahku ketika mendengar isakannya. Untuk apa coba dia menangis? “Gue nggak bisa nggak ada lo. Keana, jangan pergi.”

Panggilan terakhir untuk penumpang kereta jam setengah pagi bersuara lagi, aku mengenakan ranselku lagi kemudian masuk ke dalam. Seperti yang sudah kukatakan, apa pun yang sudah terjadi pada hari ini atau kemarin, harus aku terima karena memang sudah telanjur terjadi. Tapi untuk menghilangkan kekecewaan ini…. itu sulit, itu mustahil. Maaf Raka, sudah kucoret namamu dalam tokoh yang harusnya ada di bab-bab berikutnya. Namamu berakhir di halaman terakhir pada bab ini. 

5

Geez & Ann — Bab 5

5

 

BAB 5

 

Untuk Geez dan selalu untuk Geez

Satu tahun sudah kamu pergi, sepuluh bulan sudah tidak lagi kulihat email-mu masuk ke dalam kotak inbox. Sedang apa kamu? Bagaimana Berlin? Sudah kepikiran untuk pulang belum? Kamu mau tahu sesuatu tidak? Aku tidak bisa melewatkan satu hari saja untuk tidak membeli bunga lily, karena hanya itu yang dapat mengobati rasa rinduku. Iya, Geez, aku merindukanmu.

Setahun ini kuhabiskan waktu dengan banyak pertanyaan yang pasti sudah kamu tahu apa itu. Duh Geez… kenapa sih kamu harus menghilang? Apa karena aku nakal jadi kamu menghukumku dengan cara seperti itu? Tapi nakal kenapa? Aku melakukan apa sampai kamu tega menghilang dari bumi? Mana janjimu untuk tidak akan membuatku merasa sendirian? Bumi terasa kosong sekali, Jogja yang tadinya indah menjadi biasa saja.

Ada banyaaaaak sekali hal yang ingin aku ceritakan padamu, tentang Tari sahabatku di SMA, juga Raka si laki-laki alien yang selalu buat tekanan darahku jadi tinggi. Aku benci sekali dengan Raka. Dia benar-benar tidak punya sopan santun, dia memperlakukanku seenaknya. Aku ingin ceritakan semuanya, Geez, munculah sebentar.

Aku belum bisa membuktikan perkataanmu kalau SMA adalah masa-masa paling indah dalam hidup seseorang. Entahlah Geez, aku hanya ingin mendapatkan jawaban atas kebingunganku setahun ini. Itu saja.

Sekarang aku mengerti bahkan sangat mengerti kenapa kamu memilih nama Geez sebagai identitasmu untuk dikenal oleh dunia, itu karena kamu memang seperti dewa yang tidak bisa diganggu gugat kemauannya, dewa yang mengatur kehidupannya sendiri dan tidak mau ada satu orang pun yang boleh ikut campur, termasuk aku.

Dulu ketika pertama kali kamu beri tahu makna sebuah nama “Geez”, mungkin belum terlalu jadi masalah untukku. Bahkan aku sangat tidak mau ikut campur dengan kehidupanmu, aku tidak mau mengurusi hidup orang seperti kamu. Tidak tahu ya, aku jadi sedikit menyesal pernah bicara seperti itu. Aku hanya ingin kamu sedikit mengerti kalau aku tidak ingin masuk ke dalam rencanamu. Aku tidak mau diatur untuk menunggu, untuk tiba-tiba bahagia, lalu sedih lagi. Tidak.

Oh iya, coretan tidak penting ini aku tulis di buku yang kamu berikan waktu itu, waktu aku ulang tahun, buku yang aku gunakan kalau kamu sedang tidak bisa dengar ceritaku. Sudah dulu ya Geez, aku mau berangkat sekolah dulu. Aku tahu kalau sebenarnya aku hanya sedang membuang waktuku sepuluh menit karena menulis surat yang tidak tahu akan kamu baca atau tidak.

Dari peri kecilmu,

Ann.

 “Pagi Keana.”

“Oh hei, Ta.”

Sambil melepas tas dan duduk, Tari memperhatikan wajahku, “Kamu baik kan, Ke?”

“Sedang berusaha baik.”

“Ya ampun… Geez? Kamu masih mikirin dia? Sudah hampir setahun dan kondisi perasaannmu masih sama?”

“Tidak kelihatan semudah itu, Ta. Aku sudah berusaha melupakan banyak momen tapi semakin kesini semakin terasa mustahil untuk dilupakan.”

“Kalau mustahil berarti kamu tidak berusaha apa-apa.”

“Aku berusaha.”

“Tapi hatimu tidak pernah ikhlas untuk berusaha melupakan dia. Iya, kan?”

Aku menunduk, membenarkan perkataan Tari barusan. Di satu sisi aku merasa harus melupakan manusia misterius itu, tapi ada sisi lain yang bilang untuk apa melupakannya? Memang sudah pasti dia akan lenyap? Masih ada kemungkinan dia akan kembali, bukan?

***

Seperti biasa, sepulang sekolah aku pergi ke kios bunga untuk membeli bunga lily, aktivitas yang sudah kulakukan hampir setahun ini.

  Lalu, ketika bunga lily itu ada di tanganku, aku diam, memfokuskan pikiranku pada satu pertanyaan. Untuk apa, ya, ini? Tapi kalau bukan dari bunga lily, dari mana lagi aku bisa merasa dekat dengan Geez? Kalau tidak membeli bunga lily, lalu aku harus melakukan apa lagi? Memandangi layar laptop, berharap ada pesan masuk darinya? Kan, tidak mungkin.

Aku meninggalkan kios bunga dan pulang ke rumah, mengambil sepeda kemudian pergi ke Kalibiru dengan tiga petik bunga lily yang masih segar.

Tempat ini memang jadi tempat terbaikku untuk menangis, untuk bisa menjadi diriku sendiri, untuk meluapkan apa saja yang ingin aku keluarkan tanpa takut dilihat orang banyak, termasuk Geez.

Aku naik ke atas puncak, menarik napasnapasku dan membuangnya pelan-pelan. Aku hanya merasa sudah kehilangan diriku yang dulu, Keana Amanda yang periang kini sudah dikubur oleh pengharapan bodoh.

Aku teriak dan terus teriak sekuat yang kubisa, “AAAAAAAAAA!!!!!”

Seram! Tiba-tiba ada seseorang yang menutup mulutku dengan tangannya, seperti adegan penculikan anak kecil yang sering aku tonton di televisi. Tentu saja aku berusaha untuk teriak minta tolong walaupun tidak akan kedengaran, “TOLONG!”

Si penculik melepas tangannya dari mulutku, “Ish, siapa juga yang mau nyulik lo.”

“Raka?”

Kenapa jadi ada dia? Siapa yang mengundang alien di acara menyedihkan ini? Kenapa harus dia yang melihat mataku sedang berhujan? Ih, tidak sudi! Setelah membuatku merasa ingin diculik, ia duduk tanpa merasa punya salah apa-apa.

“Ngapain kamu di sini?” pertanyaan yang sangat harus aku tanyakan.

“Bebas lah, emangnya ada tulisan Raka dilarang masuk?”

“Ya nggak ada sih, tapi kan…”

“Nah ya udah, nggak usah pake acara nambah-nambah argumen lo yang nggak penting.”

“Nggak penting?!”

“Iya, nggak penting. Semua yang berhubungan sama lo, tuh, nggak penting.”

“Hah?!” Aku benar-benar kelewat kesal mendengar perkataannya. Apa mulutnya tidak bisa mengeluarkan kalimat yang lebih sopan dari itu?!

“Mana ada manusia di bumi ini yang setiap hari kerjaannya beli bunga yang sama? Nggak normal tau gak lo.”

“Hah?” nada kesalku berubah jadi pelan mendengar perkataannya.

 “Lo jadi aneh begini karena lo lagi jatuh cinta sama seseorang, kan?”

 “Ah, sok tahu!”

 “Tanya aja sama Kalibiru, siapa yang lebih dulu ke sini.”

“Jadi kamu sering ke sini?”

“Udah deh, denger ya culun, nggak ada gunanya lo kayak gitu. Beli bunga setiap hari, meratapi hidup lo yang makin hari makin ikutan aneh kayak orangnya.”Aku terdiam, memandangi wajahnya yang menyebalkan. Bagaimana mungkin orang yang paling aku benci itu bisa mengeluarkan kalimat yang sangat menamparku. Aku bergumam pelan, “Enak ya jadi laki-laki, bisa membuat keputusan seenaknya, bisa menyatakan apa saja yang ingin dikatakan.”

“Nggak juga,”

“Nggak juga?”

“Namanya Sarah, gue suka dia tapi gue nggak pernah berani ngomong.”

“Karena?”

“Karena gue nggak berani buat keputusan,”

“Karena?”

“Karena dia terlalu sulit ditempuh, Keana, dia cantik, banyak banget yang suka sama dia.”

“Lalu?”

“Ya mana mungkin dia suka sama orang kayak gue?”

“Iya juga, ya.”

“Eh, ngomong sembarangan!”

ke mana***

“Ta, temenin ke Malioboro, yuk,” ajakku sambil merapikan buku. Bel pulang sekolah belum lama berbunyi.

“Kenapa? Kamu mau cari sesuatu?”

“Cari objek buat difoto, mau?”

“Ah males ah, aku kira kamu mau belanja. Panas tau, Ke, nggak deh aku pulang aja.”

Akhirnya aku pergi duluan meninggalkan Tari yang masih menunggu sang pujaan hati, menunggu becak yang tumben sekali lama datangnya.

“Ayo, naik.”

Dia muncul, aku tidak sanggup lagi untuk heran, dia benar-benar sedang aneh sekali hari ini, “Raka, udah deh.”

“Gua bisa bantu lo cari objek foto!!”

Daripada berdebat dan aku memang sedang ada deadline di ekskul fotografi, aku duduk di bangku belakang sepedanya. Yogyakarta sedang panas sekali hari ini.

Ternyata omongannya sungguhan, ia tahu di mana sudut terbaik untuk mengambil foto di Malioboro. Aku kira dia cuma mengada-ada, seakan membaca pikiranku dia menyaut, “Bener, kan bagus. Gue nggak pernah bohong!”

“Iya, iya. Maaf deh, habis mukamu penuh kebohongan,” kataku sambil menahan ketawa.

“Astaga, segitunya apa?”

Aku tidak menjawabnya, hanya melanjutkan mengambil foto kesana kemari. Malioboro termasuk salah satu tempat yang menurutku tidak pernah sepi, selalu bising akan suara pedagang yang tidak berhenti menjualkan dagangannya. Tapi lensa kameraku tiba-tiba mengarah pada sebuah cinderamata yang membuat Malioboro sekejap menjadi terasa sunyi, seakan hanya ada aku di sana, tidak kudengar suara apapun kecuali degup jantungku yang entah kenapa tiba-tiba menjadi bergerak kencang. Aku meletakkan kameraku ke dalam tas, berjalan cepat menuju penjual cinderamata yang menarik perhatianku daritadi.

“Brandenburg Gate,” gumamku pelan.

Aku tersenyum kecil, “Yang ini saja satu, pak.”

 “Sepuluh ribu saja deh, saya diskon lima ribu untuk si mbak yang ayu.”

Setelah membayar aku pergi duduk di sebuah trotoar depan toko yang sudah tutup, meletakkan miniatur Brandenburg Gate persis di depan mataku. Menghela napas pelan, seketika wajahnya muncul lagi dibenakku.

Di tengah kerumunan seramai ini saja, masih kudengar suara tawamu yang muncul pada ingatan. Sudut kota Jogja selalu menyediakan tempat untukmu, dan anehnya aku selalu menemukan hal kecil itu. Geez, bagaimana caranya menghapus semua ini? Bagaimana bersikap biasa saja menghadapi kerinduan yang selalu membengkak di setiap harinya?

“Hoi!”

“Ah, ngagetin aja sih!”

“Keana, Keana.”

Raka duduk di sebelahku. “Sesuatu yang cuma buat lo sakit, berarti harus disembuhin, dan sebenernya cuma lo yang tahu gimana caranya.”

“Gimana?”

“Ikhlas. Berusahalah merelakan sesuatu yang lo pasti tahu emang harus direlakan.”

“Tapi kalau dia balik lagi? Gimana kalau dia cuma pergi sebentar?”

“Setahun masih hitungan sebentar? Ke, coba deh, pikir lagi baik-baik. Menyelamatkan pengharapan setahun kemarin atau menghidupkan harapan yang baru dengan hari besok?”

Aku kembali memperhatikan miniatur Brandenburg Gate baik-baik, aku tidak bisa membedakan mana hal yang normal mana yang tidak.

“Raka, tapi…”

“Mau sampe kapan jawabannya selalu tapi? Gue yang ngeliat aja capek, apa lo nggak capek? Nungguin sesuatu yang nggak tahu masih ada atau nggak?”

“Pulang, yuk,” kataku sambil berbalik badan.

***

Raka mengantarku pulang dengan sepedanya. Setiba di rumah, aku turun dan masuk ke dalam tanpa bicara apa-apa padanya. Masuk ke dalam rumah lalu menuju kamarku. Aku duduk di bangku meja belajar. Membuka laptop, memerika pesan masuk tapi tidak ada. Kali ini aku akan coba untuk bicara dengannya, tidak peduli dibalas atau tidak, dibaca atau tidak.

Keana Amanda: Aku mulai membenci bunga lily.

Keana Amanda: I buy them everyday after school. I’m getting more friendly with the florist and he never gives me a disappointed flowers.

Keana Amanda: I know, i know it doesn’t look like there’s something wrong.

Keana Amanda: But there was a day, when i sit and stared at those lily, and suddenly i hate them. I hate every single time when they start to be withered, then died, then i have to throw them out, and then i realize that it’s time to buy new flowers again.

Keana Amanda: You know, i hate them. But i hate myself more.

Keana Amanda: Can you imagine how does it feel? Doing the same thing in almost one year, without know the reason why i still keep doing that.

Keana Amanda: It’s disgusting.

Keana Amanda: Everything makes me sick, Geez.

“Keana, ada telepon dari si mas,” seru eyang dari dapur.

“Iya, eyang sudah aku sambungkan ke telepon kamar,”

Tumben sekali dia telepon, pasti ada maunya, “Halo?”

“Halo adek abang paling jelek,”

“Pasti abang lagi mau sesuatu.”

“Ih dasar bocah, orang gua beneran kangen sama adek sendiri emang nggak boleh apa?”

“Ah, biasanya abang telepon juga kalau ada maunya.”

“Eh, Gazza gimana Gazza?”

Ih! Ngapain sih dia ngomongin nama itu, “Tahu deh.” Aku berusaha tidak peduli. Mengeluarkan nada suara yang sedikit kesal.

“Apa kabar dia? Terakhir kali dia bilang sama gue suruh ingetin lo untuk jangan lupa makan, jangan suka main ujan-ujanan, karena dia paling nggak mau denger lo sakit.”

Mataku membelalak. Dia kasih tahu abang tapi dia gak ngomong apa-apa sama aku?! “Biarin aja sakit. Udah sakit juga.”

“Dia sering banget nyuruh gue ngingetin lo soal itu, tapi gue-nya aja yang lupa melulu.”

“Kenapa nggak dia aja coba yang langsung ngomong ke aku?”

“Ya lu kayak nggak tahu aja dia orangnya gimana. Tapi, lu masih in contact sama dia kan?”

“Nggak.”

“Serius? Masa sih? Lo udah coba buka kado dari dia belom?”

“Nggak mau buka.”

“Lu jadi keras kepala nurunin siapa, sih?”

Aku lantas diam, tidak menjawab pertanyaan abang yang membuat otakku yang tadinya ingin tidur jadi harus bekerja lembur. Aku menengok ke bawah tempat tidur, aku sengaja meletakkan kado yang diberikan Geez di sana supaya aku tidak perlu melihatnya setiap hari dan jadi ingin membukanya, dan kotak kadonya masih diam dengan rapi walaupun sudah mulai berdebu.

“Pokoknya, aku mau buka kadonya sama Geez!” bentakku sambil menutup teleponnya.

Eyang kemudian menghampiriku yang kelihatan sedang sangat emosi, “Ono opo to, ndok?”

“Nggak ada apa-apa eyang, tadi si mas biasa godain aku.”

***

Semenjak hari itu, hubunganku dengan Raka menjadi lebih baik. Ternyata dia harus lebih dikenal dulu untuk tahu kalau dia tidak semenyebalkan yang kubayangkan. Ia membantuku untuk menghidupkan lagi hati yang tengah sekarat, dari mulai pergi mencari tempat-tempat menarik di Jogja yang belum aku tahu sebelumnya, melakukan hal-hal gila yang menyenangkan. Pokoknya dia mengajakku masuk kedalam kehidupannya yang abstrak, tetapi keren! Seru! Raka berhasil mewarnai kanvas kosong yang pernah Geez tinggalkan, hari-hariku tidak lagi gelap walaupun kesedihan tetap muncul setiap kali ingat dengannya.

Aku dibonceng di sepedanya lagi. Dengan seragam yang masih menempel, aku dan Raka pergi menuju alun-alun. Kita memang tidak boleh terlalu membenci seseorang. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari.

“Bu, dua ya.” Ia bicara dengan penjual wedang ronde langganannya.

“Ih, aku teh panas aja,” kataku mencegahnya untuk langsung mesan.

“Bu ya udah, teh panas satu sama kopi hitamnya satu.”

“Loh, kamu nggak jadi minum wedang?”

Angin Jogja sedang dingin sekali malam ini. Entah sedang apa dia di negeri itu, memikirkanku kah? Tentu tidak jawabannya, mungkin ia sedang bersama peri kecilnya yang lain. Apa dia tahu apa yang kurasakan sekarang? Kerinduan yang menyakitkan ini butuh disembuhkan sesegera mungkin, tapi dia tidak memahami itu. Geez, aku hanya ingin kamu mengerti kalau aku tidak menyukai semua ini.

Lamunan menyedihkan ini dihentikan oleh aroma sesuatu yang sangat…. ah aku tidak bisa mendeskripsikannya.

Si ibu wedang ronde datang dengan pesananku dan Raka, “Iki mas, monggo.”

Matur nuwun, Bu.”

“Raka itu apa?”

“Ini? Kopi lah,”

“Pahit ya?”

“Kenapa? Takut?”

 “Kita bisa mendapatkan banyak pelajaran dari secangkir kopi, Keana. Di dunia yang kejam ini, sebenarnya kita hanya perlu sedikit kepahitan untuk dinikmati. Walaupun tidak semanis teh panasmu, tetapi dia sudah jujur dari awal. Dia tidak mau dibilang kopi manis kalau akhirnya akan terasa pahit, lebih baik dari awal sudah ketahuan pahit tapi akhirnya bisa dinikmati dengan sempurna. Daripada teh panasmu yang dipesan manis ternyata rasanya tawar?”

Aku mengecap kopi yang disodorkan Raka. Indra perasaku langsung terkejut. Ada rasa yang aneh yang belum terdefinisikan oleh lidahku. Pahit sekali. Tapi berbeda.

“Hmm…” aku cuma bisa bergumam untuk menyembunyikan kekagumanku akan kalimatnya yang baru keluar barusan.

“YA AMPUN, KEANA!”

Tiba-tiba dia memelukku, mataku membelalak, bingung, tidak tahu harus apa.

Dia hanya berbisik pelan, “Bagaimana bisa gua lupa? Selamat ulang tahun, Keana. Tetaplah jadi musuh sejati Raka satu-satunya, jangan berhenti benci gua supaya gua selalu punya waktu untuk buat lo kesel. Happy birthday.”

4

Geez & Ann — Bab 4

4


BAB 4

 

Hari ini, tepat dua bulan semenjak Geez pergi, dan hari ini umurku juga genap berumur 16 tahun. Aku sempat memeriksa email pukul 00.00 WIB, dan ada pesan masuk dari Geez di sana. Kubuka, kubaca, tapi tidak kubalas.

 

Selamat berulang tahun peri kecil, kudoakan semua yang terbaik untukmu, tetaplah menjadi gadis periang paling menyenangkan yang pernah kutemui. Jangan berubah jadi orang lain, kamu akan selalu jadi Ann dan akan selalu begitu.

 

Geez.

 

Setelah keberangkatannya dua bulan lalu, dia menepati janjinya untuk terus mengirimkanku email. Kelihatannya memang tidak ada yang salah, mungkin aku-nya saja yang merasa ada yang salah. Tiga tahun mengenalnya, tiga kali bertemu dengannya, kalian merasa ada yang salah tidak, sih? Hanya tiga kali tapi Geez berhasil mengubahmengubah hidupku. Awalnya kukira berubah menjadi indah, tapi semakin hari aku semakin mengerti kalau ternyata ia datang hanya untuk memberiku banyak pertanyaan.

Ada yang bilang rindu itu indah, masa sih? Indah dari mananya? Dari segi sudut pandang sepasang kekasih yang saling mencinta kali ya? Karena rindu tidak akan pernah jadi indah kalau dirasakan seorang diri, tidak akan pernah.

Entahlah, aku cuma lagi berpikir, menunggu Geez itu pilihan atau kebodohan?

***

Pagi ini adalah hari pertamaku masuk SMA. Berita baiknya, aku berhasil masuk ke SMA pilihanku di Yogyakarta, sedangkan teman-temanku yang lain tetap menetap di Jakarta. Satu langkah lagi memasuki gerbang sekolah baru, aku berbisik dalam hati, jangan temukan aku dengan Geez yang lain, semesta, aku mohon.

Realita yang sangat melelahkan, masa orientasi siswa, pengenalan materi, dan penyesuaian diri. Beruntungnya aku dapat kelas IPA, mencapai target awalku untuk jadi dokter. Kesan pertama masuk ke dalam kelas itu ternyata tidak terlalu banyak menarik perhatianku. Bukan berarti aku mencari Geez, tidak akan ada yang bisa menyamakan juga. Aku hanya tidak bisa menemukan sosok tujuh manusia kesayanganku di dalam kelas itu, kecuali seorang perempuan yang cukup menyenangkan, namanya Tari.

“Halo, aku Tari,” sapanya sambil meminta izin untuk duduk di sebelahku, “Boleh duduk di sebelah kamu? Ada orangnya, nggak?”

“Belum ada yang isi, kok. Duduk aja.”

Kami pun berkenalan.Anaknya cantik, mirip Hana, tapi ia lebih tembam. Rambutnya dikuncir dua, pakai behel dan kulitnya putih. “Kamu dari Jakarta ya?” tanyanya.

Tidak butuh waktu lama, kami langsung akrab setelah itu. Membicarakan soal SMP kita masing-masing, soal keluarga, teman-teman, ya… begitu deh. Aku dan Tari duduk di baris ketiga, entah kenapa kami masih merasa asing dengan yang lain. Mungkin memang tidak harus terlalu buru-buru untuk mengenal semuanya, aku butuh beberapa waktu untuk menyesuaikan diri.

“Pacar gimana? Pasti punya dong,” kata Tari menebak-nebak.

Aku hanya menjawabnya sambil tersenyum. Langsung muncul nama Geez di pikiranku. Geez? Apa Geez bisa dibilang sebagai pacar? Ah, tentu saja tidak. Kalau yang namanya pacar, kan didahului dengan pernyataan cinta dari laki-laki, lalu si perempuan akan bilang iya atau tidak. Kalau aku dengan Geez… boro-boro deh, ketemu saja sekali-sekali. “Enggak punya. Kamu?”

“Baru putus, Ke…” jawabnya dengan nada sedih.

Aku tersenyum. “Gini ya, Ta. Kamu sama dia itu, seperti sepasang sepatu. Tapi, si pembuat sepatu lupa kalau kalian berdua ternyata beda ukuran. Sayangnya kalian telanjur dimasukkan ke dalam satu kotak dan dibeli seseorang. Kalian telanjur menjalani sebuah cerita sama-sama, entah itu senang, sedih, beda argumen, lalu baikan lagi, ya pokoknya seperti itu. Sampai akhirnya, sang pemakai sepatu sadar jika ia memakai sepatu yang berbeda, yang membuatnya merasa tidak nyaman. Tentu saja ia tukar, dengan mengambil pasangan sepatumu. Jadi, kenapa harus sedih jika akhirnya kamu akan dapat pasangan dengan ukuran yang sama?”

Tari tersenyum sambil menyimak perkataanku baik-baik, matanya kelihatan berkaca-kaca, lalu memelukku. Aku membalas pelukannya sambil berkata pelan, “Tenang saja, katanya di SMA kamu bisa cari pasangan sepatumu yang hilang.”

***

Setelah dua minggu masuk sekolah baru, aku belum juga merasakan ada perubahan. Sampai pada suatu pagi Tari memberiku sebuah kabar, “Keana, katanya hari ini kita kedatangan siswa baru.”

“Oh, iya?”

Tidak lama setelah ucapan Tari, pak guru masuk dengan seorang anak laki-laki. Postur tubuhnya tidak begitu tinggi, rambutnya keriting, kulitnya sawo matang yang kemudian berdiri di depan kelas, “Nama gue, maaf, maksudnya, nama saya, Raka Adam. Panggil aja Raka.”

Kemudian dia berjalan untuk duduk tepat di depanku. Tari memperhatikannya sambil berbisik padaku, “Mukanya nyebelin ya.” Aku tertawa kecil mendengar Tari, tapi dia benar. Mukanya menunjukkan sekali jika anak baru itu adalah orang yang menyebalkan, angkuh dan pasti pilih-pilih dalam berteman. Entah apa dia sadar kalau sedang aku bicarakan dengan Tari, atau memang dia memiliki indera ke enam, aku tidak tahu, yang jelas tiba-tiba saja ia menengok ke belakang.

Dia menyodorkan tangannya, “Gue Raka.”

 

***

“Pulang yuk, Ke?” Tanya Tari untuk mengajakku pulang bersama. Rumahku dan Tari memang searah, jadi hampir setiap hari kami pulang bareng. Tapi untuk kali ini aku menolak, karena eyang menitip minta dipesankan bunga untuk acara arisan di rumah.

“Yah, maaf ya Ta. Aku harus ke toko bunga nih, eyang minta dipesenin bunga buat acara arisannya minggu depan. Nggak apa-apa, kan?”

“Tapi Ann… kamu yakin bisa sendiri? Kamu tahu tokonya dimana?”

Aku mengangguk mantap.

“Nanti kalau kesasar tanya aja, orang Jogja ramah-ramah kok, Ke.”

Iya, aku tahu orang Jogja ramah-ramah. Geez pernah bilang.

Akhirnya aku berpisah dengan Tari di persimpangan jalan. Kata eyang toko bunganya tidak terlalu jauh dari sekolahku. Makanya, aku memutuskan untuk jalan kaki saja sekalian menghemat ongkos. Supaya uang sisanya bisa kutabung untuk menyusul Geez ke Berlin. Ah! Apa-apaan sih kamu, Keana? Sudah gila, ya.

Setelah jalan kaki setengah jam dan ternyata melelahkan karena aku baru ingat kalau aku membawa ransel yang cukup berat, akhirnya aku tiba di sebuah kios bunga. Aneh, tiba-tiba aku merasa waktu membawaku kembali ke hari itu, hari dimana Geez membawaku ke kios bunga dulu. Kalian masih ingat kan? Bagaimana dia membuat pipiku menjadi sebuah apel yang merah karena ia samakan aku dengan bunga lily?

 “Cari apa, Mbak?”

 “Saya pesan tiga puluh ikat bunga apa saja deh, yang biasanya sering dipakai untuk arisan. Minggu depan saya ambil.”

“Oh, baik, Mbak. Mari saya antar untuk bayar dan ambil notanya.”

Tepat di samping meja kasir, aku melihat banyak sekali bunga lily yang dipajang, “Pak? Ini dijual nggak? Boleh saya beli?”

“Ambil saja, tidak usah bayar.”

“Ah, Bapak bercanda, nih.”

Si bapak langsung membungkuskan tiga petik bunga lily dan memberikannya padaku. “Beberapa waktu lalu pernah ada seorang laki-laki yang mampir ke sini, dia memberikan sejumlah uang dan bilang sama bapak untuk selalu menyediakan bunga lily kalau nanti ada seorang perempuan yang akan mencari bunga itu.”

Geez?

“Siapa, Pak?”

“Waduh, saya ndak sempat nanya namanya, karena si mas kelihatan sedang buru-buru. Hanya–”

“Hanya apa, Pak?” tanyaku benar-benar penasaran.

“Hanya mbak mirip sekali dengan ciri-ciri yang si mas dulu kasih tahu ke saya.”

“Memang dia bilang apa sama bapak? Kasih tahu ciri-ciri apa?”

“Dia bilang, tidak sulit untuk membedakan perempuan itu dengan perempuan yang lain. Pokoknya perempuan itu memiliki senyuman yang akan membuat siapa pun yang melihatnya ikut tersenyum dan merasa tenang, perempuan itu juga memiliki sepasang mata paling indah, katanya saya nggak akan kesulitan menebak dia, matanya adalah cerminan kejujuran paling tulus. Begitu katanya, mbak.”

Iya, itu Geez. Tapi untuk apa dia seniat itu sampai ke sini hanya untuk melakukan itu? Oh iya aku lupa, dia Geez. Tapi kalau memang lelaki itu adalah Geez… entahlah aku mungkin tetap tidak bisa melakukan apa-apa. Dia punya banyak sekali rencana gila sekaligus indah.

 

Dengan membawa tas ransel yang berat dan seikat bunga lily, aku berjalan pulang menuju rumah. Kadang kalau sedang sendirian, kita memang jadi sering memikirkan hal-hal yang jauh. Maksudku, sesuatu yang seharusnya tidak perlu dipikirkan. Seperti…

Mungkin tidak, ya, aku bertemu lagi dengan Geez? Mungkin tidak, ya, tiba-tiba dia mendatangiku lagi seperti tahun-tahun sebelumnya? Tapi kalau pertanyaannya mungkin atau tidak, berarti jawabannya adalah kemungkinan dan bukan kepastian. Ah! Dari semua laki-laki di dunia ini kenapa juga, sih, aku harus menggantungkan diriku padanya? Seseorang yang bahkan tidak jelas kehidupannya apalagi perasaannya! Dia tidak mungkin menghampiriku di Jogja tiba-tiba, memberiku kejutan seperti yang pernah ia lakukan. Kenapa? Karena dia berada ribuan mil dariku. Itu sudah cukup memberi kesimpulan yang logis, bukan?

***

Sesampainya aku di rumah, aku langsung buru-buru membuka laptop. Ya, aku harus mengklarifikasi dengan Geez atas apa yang terjadi di kios bunga tadi.

 

Keana Amanda: Kamu tuh ngapain sih?

Gazza Chayadi: Aku hanya mengucapkanmu selamat ulang tahun, Ann

Keana Amanda: Bukan itu!!!

Gazza Chayadi: Oh… jadi kamu sudah beli bunga lily hari ini?

Keana Amanda: Aku tidak perlu beli, dikasih.

Gazza Chayadi: Kamu marah?

Keana Amanda: Enggak. Aku cuma nggak pernah berhasil mengerti isi pemikiran seorang Gazza Chayadi. Kamu ini sebenarnya mau apa?

Gazza Chayadi: :)

Keana Amanda: Aku mengatakan kalimat itu berharap kamu akan memberiku penjelasan, bukannya malah memberiku simbol tersenyum!

Gazza Chayadi: Kan, kamu sudah tahu apa penjelasannya.

Keana Amanda: Apa? Karena kamu Geez? Apa tidak ada penjelasan yang lebih bermutu dari itu?

Gazza Chayadi: Kejadian di kios bunga adalah hadiah dariku untukmu yang sedang berulang tahun.

Keana Amanda: Lalu? Aku harus bilang terima kasih karena sudah dibuat bingung sama kamu?

Gazza Chayadi: Ann, ke depan rumah sebentar, deh.

Keana Amanda: Ngapain?

Gazza Chayadi: Kayaknya ada tukang antar paket datang.

Keana Amanda: Jangan bercanda, aku sedang tidak ingin main-main.

Gazza Chayadi: Periksa saja sendiri.

Jangan-jangan dia berulah lagi. Aku langsung berlari ke depan rumah dan… benar saja, ada seorang pengantar paket dengan motornya. Ia seperti membawa secarik kertas yang kuduga adalah tanda terima.

“Mas, bisa nggak kalau saya tolak aja?”

Dia kelihatan bingung, “Maksudnya, mbak nggak mau ambil kiriman ini? Jangan mbak, nanti saya dimarahi atasan. Setiap paket harus sampai kepada yang dituju.”

Setelah paketnya berada di kamarku, aku mendengar bunyi email masuk dari laptop.

Gazza Chayadi: Sudah diterima?

Keana Amanda: Tidak boleh dikembalikan sama tukang paketnya.

Gazza Chayadi: Aku harus apa supaya kamu berhenti marah?

Keana Amanda: Pikir saja sendiri!

Gazza Chayadi: Nanti kamu buka paketnya, ya, peri kecil.

Keana Amanda: Kalau aku ada waktu. Sudah dulu aku mau pergi.

Padahal aku tidak mau ke mana-mana, aku hanya benar-benar kesal. Dia selalu membuat sesuatu hal tanpa penjelasan walau aku sudah menanyakannya berkali-kali. Aku memandangi paket darinya, sebuah kotak berukuran sedang yang dibungkus dengan rapi, tidak mau kubuka, gengsi. Malah kuletakkan di bawah tempat tidur, saking kesalnya. Pokoknya aku mau buka hadiah itu sama dia!

***

Saat istirahat, tiba-tiba Raka menghampiriku yang sedang makan siang di kelas. “Nanti pulang sekolah temenin gue, ya.”

Hampir tersedak aku berusaha menjawabnya, “Hah?”

Tapi, dia tidak menjawab, hanya membalikkan tubuhnya ke depan. Aku kira dia hanya bercanda, tapi ternyata dia sungguh-sungguh. Sepulang sekolah ketika aku dan Tari berjalan keluar ingin pulang, ia mendatangiku dengan sepedanya, “Ayo, naik.”

Aku memandang ke Tari. Dia hanya mengangkat bahu tidak mengerti. Dengan pasrah, aku diboncengi dengan sepeda untuk pertama kalinya oleh seorang makhluk asing.Tak disangka Raka mengajakku ke kios bunga yang kemarin.ke mana

Aku sempat bertengkar dengan Raka di tengah jalan yang berbuntut Raka menyuruhku jalan kaki menyusulnya. Apa-apaan dia? Laki-laki macam apa, sih orang ini? Aku sampai di depan kios bunga dengan tubuh penuh peluh. Raka yang lebih dulu sampai dan memarkir sepedanya di depan kios malah sedang enaknya duduk sambal meminum air mineral dingin. Rasanya panas hari itu mempercepat kemarahanku mendidih. Kalau bukan untuk menghormati pemilik kios bunga, pasti sudah kutonjok mukanya.

“Loh… si mbak yang kemarin?” sapa si bapak pemilik kios.

“Hehe, pak,” balasku sambil nyengir. Cuma bisa bicara itu karena aku benar-benar lelah sekali. Si aneh itu berani-beraninya menyahut secara tiba-tiba, “Pak ini temen saya yang tadi saya ceritakan.”

“Cerita apa kamu?” Aku tidak bisa berhenti bernada ketus ketika sedang menghadapinya.  Melihat mukanya saja bisa membuatku darah tinggi. Kenapa di kota menyenangkan ini, aku harus bertemu dengan alien dari planet lain yang tidak punya sopan-santun sama sekali?!

“Tadi si mas cerita, mbak ini pintar sekali memilih bunga, makanya dia minta ditemani mbak untuk mencari bunga.”

“Enak banget, ya, dia minta ditemenin! Teman juga bukan!”

Si bapak jadi ikut bingung, “Nyuwun sewu, mbak?”

 “Saya mau beli bunga yang kemarin si culun ini beli, Pak.”

“Oh iya, tunggu sebentar.”

Aku heran, makhluk ini tahu dari mana kalau aku habis beli bunga? Tapi aku sengaja diam, tidak bertanya, daripada aku jadi semakin emosi lebih baik memang diam.

“Nah, ini mas,” kata si bapak sambil memberikannya bunga lily.

Setelah ia bayar, kami pulang. Tapi ia tidak menaiki sepedanya, ia tuntun sambil berjalan persis di sebelahku. Lagi-lagi aku diam, aku mau tahu saja apa yang ingin dia lakukan sebenarnya.

 “Eh culun, lo nggak kepengen tahu apa ini bunga buat siapa?”

“Paling buat pacar.”

 “Kenapa ya cewek seneng banget dikasih bunga? Apa gunanya?”

“Kamu mau dengar filosofinya?”

“Filosofinya?”

“Bunga-bunga yang kamu lihat di kios tadi, sebenarnya tidak pernah ingin laku terjual. Ia ingin berada di kios itu sampai layu, sampai mati pun tidak apa-apa. Yang penting ia tetap bersama si bapak penjual bunga, yang merawatnya setiap hari, menyiraminya, yang menggantungkan hidupnya hanya untuk menunggu si bunga sampai layu.”

“Lalu apa persamaannya dengan cewek?”

“Mereka sama-sama tidak mau asal laku jadi milik orang lain yang tidak mau menyayanginya, yang hanya menjadikannya sebuah pajangan di ruang tamu, lalu dibuang ketika sudah layu.”

“Gue nggak ngerti,”

“Aku mengerti kalau kamu tidak mengerti.”

“Hah?”

“Fungsi nurani yang berada di otakmu tidak pernah digunakan dengan baik, makanya ketika membahas suatu tentang perasaan kamu tidak bisa mengerti.”

Aku tersenyum, “Aku pulang ke kanan, duluan ya.”

Tiba-tiba ia menghadangku untuk tidak pulang, “Temenin gue main basket dulu dong.”

 “Nggak, ah.”

“Nggak mau ikut ekskul basket?”

“Nggak, aku mau ikut fotografi.”

“Itu ekskul anak cupu.”

“Aku, kan, memang anak cupu. Lagipula bagiku fotografi itu bukan ekskul, tetapi pekerjaan menguntungkan.”

“Menguntungkan?” Ia kelihatan bingung sekaligus penasaran.

“Iya, karena tanpa sengaja aku sudah mengabadikan banyak hal yang kadang tidak sempat disimpan di dalam otak. Udah, ya. Bye!”

***

Sesampainya di rumah, seperti biasa aku langsung membuka laptop. Baru ingat, email terakhirku dengan Geez, aku sedang ngambek. Walaupun sekarang masih sedikit kesal, tetap saja aku tidak sabar membuka email darinya.

Gazza Chayadi: Ya sudah, hati-hati kalau kamu ingin pergi

Gazza Chayadi: Ann, aku mohon kalau sempat berikan waktumu untuk membuka paket yang kuberikan

Gazza Chayadi: Aku tidak bisa mengabarimu untuk beberapa saat, ada suatu hal yang akan membuatku tidak bisa membalas email-mu beberapa hari ke depan

Gazza Chayadi: Pasti kamu menangis ketika membaca ini, tapi tenang saja, aku sudah minta abangmu untuk menyediakan tissue di meja belajarmu.

Gazza Chayadi: :)

Gazza Chayadi: Pasti sekarang hatimu bertanya-tanya, “Kenapa Geez?”

Gazza Chayadi: Alasannya tidak penting, Ann. Yang paling penting sekarang kamu harus serius sekolah supaya bisa mengejar cita-citamu. Aku akan selalu mendukungmu apa pun itu, karena aku tahu kamu yang terbaik dan kamu tahu yang terbaik untuk dirimu sendiri

Gazza Chayadi: Berjanjilah untuk tetap bahagia, aku janji aku akan baik-baik saja.

Tubuhku mendadak kaku, aku merasakan sesuatu yang tidak aku tahu apa namanya, sesuatu yang pedih, menyakitkan.

Aku hanya berusaha mencegah tubuhku untuk jatuh, meyakinkan diriku jika semuanya akan kembali seperti sedia kala. Tapi tidak bisa, kali ini hati dan otakku sedang tidak bisa diajak bekerja sama.

Sunyiku berganti menjadi langkah yang terburu-buru, aku harus pergi, meninggalkan realita yang kian berusaha membuatku hangus dibakar berita pedih. Aku tidak tahu mau ke mana, tidak tahu harus ke mana, tidak tahu mau apa, yang jelas aku ingin saja melangkah pergi.

Tapi sebelum tenagaku habis, aku sampai di Kalibiru. Setibanya di sana aku justru banyak berpikir kenapa aku bisa datang ke tempat itu. Tidak afdal rasanya kalau tidak naik ke atas puncak, melihat keindahan karya Tuhan yang mungkin bisa menenangkanku sekarang. Dari atas sini, aku bisa melihat Bukit Menoreh dan Waduk Sermo, juga terlihat dari kejauhan derasnya ombak Pantai Selatan. Ah, sempurna sekali untuk menemaniku diriku yang sedang setengah hancur ini.

Aku tahu tempat ini bukan dari ibu, bulik, atau siapa saja, tetapi dari Geez. Dia pernah bilang waktu itu, “

“Kalibiru.”

 “Di sana ada sebuah pohon tinggi yang bisa kamu naiki seperti rumah pohon, pemandangan yang kamu lihat juga lebih indah dari yang kupunya, Kalau kamu sedang sedih, pergilah ke sana. Pemandangannya bisa membuat hatimu merasa lebih baik.”

Ya, ampun, pantas saja sekarang aku bisa ke sini. Geez adalah alasan kakiku bisa melangkah ke tempat yang tidak pernah kuduga. Intuisi yang kupunya menuntunku hingga sampai di sini, kata-kata Geez berhasil melekat permanen dalam otakku.

Aku menangis.

Kalibiru, sampaikan salam rinduku padanya. Sebarkan pesan rindu lewat angin yang menyusuri ombak deras, alirkan hingga ia bisa merasakannya, hingga ia tahu kalau aku marah akan pesan terakhirnya di email.

Setelah itu aku teriak, sekuat yang kubisa, berharap suaraku sampai di telinganya.

“SEMESTA, AKU RINDU GEEZ.”

***