IMG_3303

Langit Tanpa Senja

IMG_3303

 

Namanya Senja, anugerah terindah yang tiba-tiba saja dikirimkan Tuhan untuk menitipkan beberapa pelajaran. Pelajaran tentang kedewasaan, kehendak, juga perbedaan.

 

Senja harus tahu, jikalau saya nggak pernah merencanakan hati ini untuk jatuh padanya. Sungguh, niat saja nggak pernah terpikir sama sekali pada awalnya. Semua berubah begitu saja, niatan yang tadinya sama sekali nggak ada menjelma menjadi kenggakutan terbesar bila harus kehilangannya.

 

Kami berbeda, sangat berbeda. Saya berpikir kiri, dia berpikir kanan. Dia percaya bila perbedaan akan selalu menjadi pertentangan, saya nggak. Saya selalu percaya bila perbedaan bisa menjadi alat untuk mempersatukan, tetapi dia nggak.

 

Tuhan, saya mau dia. Saya mau Kamu kirim dia bukan sekedar menitipkan pelajaran, pun menitipkan hatinya untuk bisa saya sayangi sepenuh hati.

 

Kami berbicara, matanya terlihat sedang berusaha keras untuk nggak mengeluarkan air mata. “Kamu harus dapatkan yang terbaik dan saya bukan yang terbaik. Lupakan saya, karena kamu pun tahu jika kita memang diharuskan untuk saling melupakan. Kita jauh berbeda, Langit. Kamu hitam, saya putih, pun sebaliknya. Kalaupun dipaksa bersatu, kamu tahu akan menjadi warna apa. Abu-abu, Langit. Semuanya akan menjadi percuma.”

 

Saya raih kedua tangannya, berharap ia mau mendengar dan duduk sebentar. “Saya yakin nggak ada yang percuma, Senja. Saya ingin bertahan karena saya tahu kamu yang terbaik, kita harus mencoba untuk saling bertahan. Saya mohon.”

 

“Nggak, kamu salah. Kita nggak boleh mencobanya sama sekali, karena semuanya akan semakin menjadi tambah percuma. Saya menyayangimu, saya nggak mau masing-masing dari kita semakin sakit. Langit, kehendak Tuhan memang nggak bisa dilawan. Kamu harus mencari warna yang lain, saya bukan warna yang akan melengkapi pelangimu. Saya haya abu-abu.” Ia melepas genggaman tangannya dari genggaman saya, kemudian matanya menangis deras.

 

Saya menduduk lemas, menangis, nggak sanggup bersuara keras. “Kamu tahu saya hancur?”

 

“Kamu tahu saya pun begitu?”

 

Ia beranjak pergi, meninggalkan saya tanpa perpisahan apa-apa.

 

Dia nggak mengerti atau saya yang nggak mau mengerti? Senyumannya adalah pengharapan, matanya adalah kejujuran, dia adalah satu yang mustahil untuk direlakan.

 

Perasaan ini semakin nggak karuan. Hati dan onggak kian berdebat hebat. Disatu sisi saya harus merelakannya, namun ada sisi lain yang lebih besar yang mengatakan bila saya harus terus bertahan.

 

Namun, akhirnya saya berpikir murni dan berujung pada kesimpulan dimana ada beberapa tujuan yang nggak bisa memiliki jalan yang searah. Ada perasaan yang nggak bisa dilalui dari arah yang berbeda.

 

Mungkin dia benar, ini yang terbaik. Biarkan saja perasaan ini ada dan pernah ada, biarkan dia menjadi bingkai pelajaran yang paling berharga.

IMG_3305

Biru Kelabu II

IMG_3305

 

Dulu aku sering sekali ke gedung teater ini, biasanya ada pertunjukkan drama dan seni tari, tapi sayangnya sekarang sedang nggak ada pertunjukkan apa-apa. Aku kira bangunan ini sudah digusur dan dibangun apartemen, ternyata masih utuh dan nggak berubah sama sekali.

 

“Jadi, ini masih tempat favoritmu sampai sekarang?” tanya seseorang yang tiba-tiba saja berdiri disebelah kiriku. Setelah delapan tahun, aku menyaksikan lagi wajahnya yang sulit untuk nggak dikenali. Aku menoleh ke arahnya, memperhatikan rupanya dari ujung kaki hingga pangkal rambut. Belum banyak berubah, hanya saja ia lebih terlihat rapi jika dibandingkan dengan terakhir kali aku melihatnya.

 

“Kamu berubah ya, semakin dewasa.” katanya lagi.
“Kamu apa kabar?” tanyaku.
“Baik, sangat baik. Buktinya, kamu nggak bisa berkomentar yang buruk dengan penampilan saya bukan?” jawabnya sambil tersenyum angkuh. Aku membalasnya dengan tersenyum kecil. Daridulu, aku memang selalu mengaturnya bagaimana cara berpenampilan. Karena dulu, ia sangat berantakan.

 

“Masih sering terhanyut dalam lagu-lagu kesukaanmu?” tanyanya. Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaannya. “Yaampun Biru, hampir tiga belas tahun dan kamu belum juga menghilangkan kebiasaan terburukmu itu?” tanyanya lagi dengan sedikit kesal. Aku mengajaknya duduk kemudian memintanya untuk mendengarkan sebuah lagu, “Dengar deh, lalu pejamkan matamu seperti yang biasa aku lakukan.” ”Untuk pertama dan terakhir aku mau menururti permintaanmu yang ini ya, Biru!” jawabnya kesal.

 

“Daydreamer. Sitting on sea, soaking up the sun. She is a real lover of making up the past and feeling up her man, like she”s never his figure before.” Tiba-tiba saja dia menyanyikan lagu yang aku suruh dengar, ternyata dia tahu lagunya. “Lanjutkan.” perintahnya.

 

“A jaw dropper, looks good when he walks is the subject of their talk. he would be hard to chase, but good to catch. And he could change the world with his hands behind his back, oh..” lanjutku.

 

Kami berdua saling menatap, kemudian tersenyum.

 

“You can find her sitting on your doorstep, waiting for a surprise. And she will feel like she”s been there for hours, and you can tell that she”ll be there for life.” dia melanjutkannya lagi. Aku pun nggak mau kalah, ”Daydreamer, with eyes that make you melt. He lends his coat for shelter, plus he”s there for you when he shouldn”t be. But, he stays all the same waits for you. Then sees, you through.”

 

“There”s no way i could describe her, what i”ll say is just what i”m hoping for.” lanjutnya seakan mengakhiri konser kecilnya denganku itu.

 

Kami saling bertatapan kembali, kali ini cukup lama. Aku menatap kedua matanya yang penuh rahasia, begitu pula dengannya. Tiba-tiba saja kami tertawa berbarengan, suara yang paling aku rindukan selama delapan tahun ini.

 

“Sekarang pacarmu siapa, Biru? tanyanya.
“Nggak kepikiran untuk pacaran, aku kan bukan kamu.” jawabku mengejek.
“Minum kopi yuk? Masih ingat kedai kopi dekat sini nggak? tanyanya.
“Tentu saja ingat!”

 

Kami berjalan menuju kedai kopi yang jaraknya nggak begitu jauh dari gedung teater tadi. Kedai kopi, tempat dimana kami sering sekali menghabiskan waktu, dulu.

 

“Saya mau pesan…”
“Americano tanpa gula?” tanyaku dengan yakin.

 

Dia hanya tersenyum, berarti jawabanku benar sempurna.

 

“Sekarang kerja dimana?” tanyanya sambil meminum kopi miliknya.
“Kemarin sempat kerja di sebuah editor majalah fashion, membosankan.” jawabku.
“Sekarang?”
“Aku sedang mau lanjut S2, aku diterima di IFA Paris.” jawabku lagi.
“BIRU?” tanyanya sedikit teriak hingga orang-orang disekeliling menoleh ke arah kami.
“Apa?”
“Kok kamu nggak pernah cerita?!” tanyanya kesal.

 

Keasikan mengobrol ternyata sudah larut malam.

 

“Aku harus pulang, ibu sendirian di rumah.” kataku.
“Saya antar ya?” tawarnya.
“Nggak usah, aku biasa pulang sendiri kok.” kataku menolak ajakannya.
“Ya, itu kan biasanya. Sekarang kan ada saya, berarti saya yang harus mengantarmu pulang dengan utuh dan nggak boleh sampai ada lecet sedikitpun. Seperti pesan ibumu setiap kali saya pinjam anak gadisnya untuk bermalam minggu.” katanya dengan sedikit tersenyum. Dia memang keras kepala, setiap permintaannya sulit sekali untuk ditolak.

 

Akhirnya sampai depan rumah, entah kenapa rasanya aku nggak mau turun.

 

“Biru?”
“Ya?” jawabku.
“Setelah lulus dan nggak tahu bagaimana cara menghubungimu lagi dan sejak hari pertama saya di Amerika hingga sekarang, saya merasa ada yang hilang dari bagian hidup saya. Bagian yang hilang itu membuat saya hancur. Dan kamulah bagian itu, Biru.” jawabnya sambil menatapku, matanya terlihat berkaca-kaca ingin menangis.

 

“Aku?”
“Berkali-kali saya mencari alternatif lain yang saya kira cocok, tapi nggak ketemu. Karena saya selalu mencari alternatif yang seperti kamu. Ya, yang saya mau hanya kamu. Biru yang periang, yang selalu bisa membuat saya tersenyum walau keadaan seburuk apapun, yang nggak pernah menyerah sama saya. Ternyata kamu orangnya, kamu orang yang bisa membuat saya berhenti mencari, ternyata kemanapun saya pergi kamu selalu menjadi tempat saya kembali. Kamu, Biru.” jelasnya sambil memegan tanganku erat dan menangis deras.

 

Aku langsung memeluknya erat, menahan air mataku kuat-kuat supaya nggak turun.

 

“Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Biru bicarakan denganmu dari dulu, dari sebelum kamu takeoff ke Amerika.” kataku perlahan.
“Biru ingin bilang apa?”
“Biru memang hanya salah satu dari sekian banyak orang di dalam kehidupan kamu. Biru mungkin hanya orang baru, yang nggak ada apa-apanya dengan orang yang lebih dahulu kenal kamu. Aku juga mungkin hanya orang yang mengenal kamu nggak jauh lebih baik dari orang-orang yang lebih tahu kamu. Tapi, aku mungkin satu-satunya orang yang merasa sangat beruntung karena bisa masuk ke dalam kehidupan kamu.”

 

“Lalu?” tanyanya lagi.
“Lalu, Biru ingin kamu tahu kalau kamu yang paling berarti. Sampai akhirnya, aku jatuh cinta sama kamu. Aku jatuh sampai benar-benar jatuh, sampai aku sadar kamu bukan yang terbaik, kamu yang paling mengecewakan.” kataku lagi.

 

“Biru, saya minta maaf.”
“Jika kamu ingin kamu tahu, perasaan ini masih sama seperti gedung teater dan kedai kopi langganan kita, nggak ada yang berubah. Tapi, sekarang Biru sadar. Kamu hanya masa lalu yang nggak boleh disentuh lagi, kamu sudah seperti daun yang gugur yang nggak lagi punya kesempatan untuk dihijaukan.”

 

“Biru, aku mohon.”
“Aku yang mohon supaya kamu bisa mengerti. Dari kamu aku belajar, kalau hidup harus terus berjalan dengan atau nggak adanya kamu. Pulanglah, pulang supaya kamu bisa berpikir dengan jernih hingga kamu mengerti dan benar-benar mengerti. Paham?”

 

Dia hanya diam dan menangis. Aku kembali memeluknya kemudian berbisik, “Sampai jumpa.”

IMG_3306

Biru Kelabu

IMG_3306

 

Aku sedang duduk di bangku taman dekat rumah. Terlihat banyak sekali anak anak riang bermain, terdengar pula gemericik air seakan bersenandung lembut, oh suara itu berasal dari kolam kecil lengkap dengan air terjun buatan, dekat ayunan.

 

Sambil memperhatikan mereka, aku memasang earpodku. Aku senang sekali mendengarkan lagu sambil memejamkan mata, hingga aku terhanyut dalam tiap nadanya. Bahkan, aku sampai lupa kalau aku hanya sedang mendengarkan, bukan memerankannya. Namun, lamunanku berhenti karena tiba tiba salah satu earphone-ku terlepas. Keliru, lebih tepatnya dilepas.

 

“Aku nggak pernah suka kebiasaanmu yang itu, Biru. Aku yakin, kamu pun sudah bosan sekali mendengarkanku berkata ini.” protesnya sambil menyodorkan sebuah es krim cokelat kesukaanku. “Terimakasih,” jawabku tersenyum sambil mengambil es krim cokelatnya. “kok tahu aku disini?” lanjutku. “Setelah hampir tiga tahun dan kamu tetap ingin aku menjawabnya?” jawabnya nggak terima. Baru saja ingin meletakan kembali earpodku yang tadi dilepasnya, ia buru buru mencegahku melakukan itu. “Biru?! Aku dilahirkan nggak hanya untuk mengantarkan es krim untukmu, bukan?” katanya sambil menyita earpod dan ipodku.

 

“Lapangan?” godaku seraya memohon permintaan maaf darinya. “Layang-layang?” jawabnya bersemangat sambil menarik tanganku.

 

Senyumanya lebih indah dari sebuah puisi yang pernah ada, tertawanya lebih merdu dari sebuah melodi yang pernah tercipta. Aku nggak pernah mencintainya, aku hanya mengalami sedikit kesulitan dalam hal jauh darinya.

 

“Rumputnya nggak basah, singgah dulu ya? Mataharinya terlihat indah sekali dari sini, aku ingin melihatnya tertidur.” pintaku sambil menarik lengan bajunya. “Untung saja aku sudah terbiasa dengan kebiasaan kebiasaan anehmu itu.” katanya sambil mengacak rambutku. Aku menunjukkan wajah protes dan menidurkan tubuhku dirumput sambil menyaksikan langit bermain dengan awan. “Biru?” tanyanya sambil melipatkan kaki, kemudian duduk memandangi matahari. “Ya?” jawabku. “Kita akan terus seperti ini bukan?” tanyanya.

 

Pertanyaannya sontak membuat perhatianku berpindah. Padahal biasanya, nggak ada satu pun yang bisa mengalihkan perhatianku ketika sedang menatap langit. Aku perlahan membangunkan tubuhku dan duduk mendekatinya, “Tentu saja.” kataku dengan tersenyum menatapnya.

 

Lima tahun, ya, 1825 hari bersamanya. Bukan waktu yang sebentar untuk hafal semua gerak geriknya, kan? Aku mengenalnya seperti aku mengenal diriku sendiri. Bagaimana posisinya ketika tidur, kaos kaki yang ia cuci tiga minggu sekali, nilai matematikanya yang selalu ia sembunyikan dibawah tempat tidur, wangi tubuhnya, suara langkah kakinya dan bagaimana ia mengeluarkan senyuman itu. Tapi, aku lupa akan satu hal. Aku lupa, jika hidup ini mengalir, bumi terus mengelilingi matahari, Juni pasti berganti Juli, dan waktu akan terus tumbuh. Begitu pula dengan aku dan dia. Karena tanpa disadari, kami akan pergi meninggalkan masing masing. Pergi ke cerita yang baru, pergi mencari permainan yang baru dan pergi, mencari tokoh yang baru.

 

Nggak ada lagi rebutan air minum di lapangan setelah bermain layang layang, nggak ada lagi rumput yang terjiplak oleh tubuhku dan dirinya, nggak akan ada lagi. Kini semua berubah, berbeda, nggak menyenangkan, bagiku. Entah bagaimana dengannya, yang semakin hari semakin jauh denganku. Semakin lupa dengan jadwal melihat matahari terbenam bersamaku, bahkan untuk menemuiku untuk sekadar makan bersama. Ya, ia semakin terlihat baik baik saja tanpaku, ia sudah menjadi tokoh dalam dunianya yang baru. Aku hanya hari kemarin untuknya, bukan untuk menjadi hari esok atau lusa atau seribu tahun lagi.

 

Aku kembali duduk dibangku taman itu, memejamkan mata, mendengarkan lagu kesukannya, dan tersenyum. Aku terhanyut ke dalam dua tahun lalu, dimana aku nggak perlu meminta izin untuk bisa tidur dibahunya, dimana aku nggak perlu repot repot mencarinya karena dimana aku selalu ada dia. Aku kembali tersenyum, membuka mataku dan menoleh ke arah seseorang disebelahku. Ia menatapku penuh rahasia, matanya memang nggak pernah bisa berbohong dari dulu. Aku beranjak pergi, berusaha meningggalkannya.

 

“Kamu mau ke mana? Tunggu!”

 

Aku menghentikan langkahku, menghilangkan raut rindu yang nggak kuasa aku bendung sendirian, kemudian menoleh ke belakang.

 

“Aku ingin ikut kamu, Biru.”
“Ikut? Memangnya aku mau kemana?”
“Pokoknya aku ikut!”
“Kamu nggak akan pernah ikut kemana mana, karena aku pun nggak akan kemana mana.”
“Lalu? Kenapa matamu berkata ingin pergi?”
“Aku hanya berjalan jalan saja. Mencari angin segar, seperti yang biasa dulu kita lakukan. Kalau beruntung, aku akan menemukan tempat untuk menunggu,”

 

“Oh, kamu sedang ada janji rupanya. Maaf Biru, aku nggak tahu. Sedang menunggu siapa?”
“Waktu. Aku menunggu waktu datang, ketika skenarionya berbalik. Ketika aku nggak lagi menjadi penunggu, tapi kamu. Ketika aku nggak lagi jadi pencari, melainkan kamu.”
“Biru..”
“Skenario dimana kamu lelah menungguku datang, berharap aku akan kembali, memelukmu hangat, mencium keningmu dengan mata terpejam, dan membiarkanmu kembali menyatu dengan wangi tubuhku. Skenario dimana kamu akan muak mencariku. Berteriak, menangis, hingga marah pada dirimu sendiri karena merasa bodoh nggak bisa menemukanku, “Dimana?””
“Biru, aku mohon jangan…”
“Berhenti! Jangan tambah lagi langkahmu walau sejengkal, kamu harus pulang. Aku menerima pesanmu, pesan nggak tersirat itu. Aku akan pergi sebelum kamu usir, jadi tolong jangan ikut aku. Pulanglah!”

 

Aku berlari, menangis, nggak sanggup lagi menerima jika kenyataanya sang bintang sudah kehilangan satu satunya purnama paling indah, untuk selamanya.

IMG_3307

Duduk Sebentar

IMG_3307

 

Aku sedang duduk dipojok sebuah kedai kopi. Cukup ramai, nggak terlalu sepi seperti hari biasanya. Aku cocok sekali dengan jenis keadaan seperti ini, yang nggak benci keramaian, hanya terkadang ia merasa sangat kesepian ditengah hiruk pikuk keramaian. Mungkin yang merasa nggak cocok dan nggak sepamahaman akan bertanya. “Kok sendiri?” atau “Sendirian?” dengan wajah heran tercampur bingung mungkin.

 

Aku bisa lihat banyak sekali aktivitas dihadapanku ini. Ada yang sedang mengobrol dengan rekan kerjanya, ada yang terlihat asik sendiri dengan laptopnya, ada yang gelisah menunggu seseorang yang nggak kunjung datang, ada pula yang sedang membaca novel tebal dengan greentea frappuccinonya berukuran besar.

 

Aku sering sekali ke tempat ini, seorang diri. Baristanya saja sampai hafal dengan kopi yang akan aku pesan dan tempat duduk yang akan aku tempati. Pun denganku yang sampai hafal diluar kepala terhadap kegiatan yang sering kali dilakukan orang orang ketika ke tempat ini. Kegiatan yang selalu sama, hanya saja dengan orang yang berbeda.

 

Berawal ketika aku datang pertama kali ke kedai kopi itu. Aku belum tahu kopi apa yang sangat direkomendasikan, sampai akhirnya salah satu barista menawarkan secangkir macchiato untukku. Seperti terhipnotis, aku hanya menganggukkan kepala seraya mengiyakan.

 

Setelah secangkir macchiato pesananku jadi, aku segera mengambilnya kemudian mencari tempat duduk yang nyaman, yang akan membuatku betah untuk berlama lama, yang akan membuatku malas untuk pulang. Terlihat sebuah meja kecil dan dua kursi yang menganggur, hmm aku pikir nggak ada salahnya.

 

Setelah duduk, aku menghela napas kemudian melihat kearah sekitar. Dimana orang orang sedang sibuk dengan dunianya, entah kerabat, kekasih atau kerjaan. Banyak macamnya dan sepertinya hanya aku yang nggak tahu harus melakukan apa.

 

Secangkir macchiato itu berhasil membuatku nggak bisa berpisah dengan rasanya yang begitu sempurna. Aku suka semua jenis kopi, but macchiato is my favorite. Karena untukku, rasa pertama nggak akan bisa diganti dengan rasa yang kedua, ketiga atau yang kesekian kalinya. Sejak saat itu, aku nggak perlu lagi mengucapkan pesanan yang akan dipesan karena baristanya sudah terlalu hapal dengan apa yang aku pikirkan ketika berada didepan meja kasir itu.

 

Sampai akhirnya, kondisi jenuh itu terjadi. Bukan dengan rasa macchiatonya, tetapi dengan pemandangannya. Pemandangan yang selalu sama, dimana kursi didepanku ini belum ada yang menduduki sejak pertama kali aku ke kedai kopi ini. Aku jadi sering berpikir, kapan ya?

 

Kapan ada seseorang yang duduk menemaniku mengopi, mengobrol dan menghilangkan kejenuhan itu? Nggak mudah tapi bisa menjadi simple. Aku hanya perlu mencari seseorang yang bisa seperti tempat duduk yang selalu kududuki, yang selalu membuatku betah untuk berlama lama, yang membuat waktu nggak terasa, “Wah, sudah sore ya? Sepertinya baru beberapa menit yang lalu kita mengobrol,”

 

Tapi siapakah dia?
Aku masih dan akan terus mencari disetiap aroma dan rasa kopi yang kurasakan.