IMG_3363 2

Dua

IMG_3363 2

 

Andai suara yang bisa didengar nggak cuma dari mulut doang, ya. Andai yang ada di kepala juga bisa didengar orang lain tanpa perlu dikatakan. Maka barangkali, tiap manusia nggak akan lagi saling menyakiti, karena telepati akan jadi hal umum buat semua orang. Maka barangkali juga, Kinan akan mengenyahkan semua puisi-puisi jelek yang tidak akan bisa dihapus dari dalam kepala Pra. Ia ingat betul apa yang pernah dikatakan laki-laki yang memiliki nama depan Dewa itu, Nan, aku sedang mengumpulkan serpihan angkat-angka dari sisa umurku ke dalam sebuah buku. Nanti kamu baca, ya.

 

“Puisi itu tidak bisa dimakan, Nan.” Salah seorang temannya yang juga bekerja di tempat yang sama dengannya itu berkata demikian, ketika Kinan coba untuk minta pendapatnya. Seolah-olah, sedikit saja naluri perasaan yang ia miliki tidak boleh digunakan barang sekali saja dalam seumur hidupnya. “Lagian, cowok macam dia itu pasti pacarnya ada selusin!”


Yang bisa membenarkan kabar angin itu cuma Pra atau bahkan dirinya sendiri. Kinan tahu Pra bukan laki-laki sempurna, bahkan ia juga tahu Pra bukan orang baik, tapi semua yang keluar dari mulutnya adalah hal yang nyata adanya, sekalipun puisi-puisi bodoh yang tidak masuk akal itu. Kinan percaya dengan deretan kata-kata yang Pra ciptakan, karena entah apa ada yang lebih jelas dari itu.


“Kamu ini hidup di mana, Pra?”
“Di sini bersamamu.”
“Tubuhmu, ya. Isi kepalamu? Aku tidak pernah tahu.”
“Mau?”
“Mau?”
“Mau masuk ke kepalaku?”
“Ogah! Kalau aku keluar lalu jadi penyair juga sepertimu, lantas bagaimana? Siap kalah saing denganku?”
“Aku sudah selalu kalah kalau harus berhadapan denganmu, Nan.”


Kinan tersenyum. Kenapa dia mesem-mesem begitu? Jangan-jangan dia mulai suka aku. Atau memang ke semua dia begitu. Kinan… Kinan… Harusnya kau simpan saja senyummu itu sendirian.

 

Keduanya saling diam dan tidak memerhatikan. Saling atur rencana setelah ini harus apa. Harusnya ini kesempatan buat Pra memulai pertunjukan kata-kata, atau mungkin dengan sengaja Kinan sudah membungkam pemikirannya.


Tiba-tiba, perempuan yang senang menonton acara memasak di internet itu dihampiri kecurigaan, bahwa mungkin saja ada yang ganjal di dalam perasaannya. Apa ini yang dinamakan rasa senang? Apakah ini perasaan yang selalu dibicarakan orang-orang?


“Kamu ini kayak orang yang suka masak, tapi cuma masak buat dirinya sendiri.”
“Menulis puisi nggak bisa pakai resep di televisi, Nan.”
“Terus pakai resep apa?”
“Resep ikan laut?”
“Ikan air tawar saja nggak bisa memangnya?”
“Bangkrut dong usahaku,”
“Sejak kapan kamu dicatat jadi pengusaha?”
“Kita pengusaha sejak keluar dari tubuh ibu, Nan. Harus begitu kalau belum mau mati.”


Kinan tersenyum kembali. Didapati hatinya berjalan keluar dari batas aman yang dijaganya selama ini. Mungkin ia akan tersandung perasaannya sendiri esok hari, atau mungkin ia sudah jatuh dan ketika itu segera berdiri lagi, atau ia akan selalu jatuh dan tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.


“Ditulis, Pra…Kalau cuma ada di kepalamu, nggak akan pernah jadi puisi.”
“Terus selama ini aku buat apa?”
“Kamu tidak pernah buat apa-apa.”
“Nah, kamu ke aku kayak gitu. Ada, tapi nggak nyata. Nggak ada, tapi nyata di kepala.”
“Kamu suka aku?”
“Aku mau kamu.”


Seketika, jarum jam yang selama ini begitu terlihat pasti, mendadak berjalan dengan langkah yang begitu jarang. Seakan malu mengaku ragu, seakan mau menyembunyikan masa lalu.


Pra menoleh, sebab perempuan yang paling disayanginya itu justru tertawa. Kenapa? Tidak. Terlalu puitis menanyakan kabarnya. Apa, sih? Tidak juga. Terlalu posesif. Tidak ada surat kepemilikan di antara mereka. Jadi secara hukum semesta, itu tidak bisa tercipta.


“Kamu tidak pernah suatu hari bercermin lalu tertawa, Nan?”
“Memangnya aku gila?”
“Entahlah, karena tiap kali kamu tertawa, aku tidak bisa waras.”
“Lho, memang pernah? Memang pernah waras?”


Satu-satunya nelayan yang dikenal tidak waras oleh Kinan itu, menahan tawanya. Bukan cuma tawa, tapi rasanya juga. Ia merelakan kenyamanan itu, bukan karena ia takut kehilangan Kinan di sebuah cerita yang buruk, tapi karena ia tahu bahwa ia sudah memilikinya di waktu singkat yang baik.

***


“Besok libur?”
“Ya, aku ada janji dengan Pra.”
“Masih mau kau bertemu orang gila seperti dia?”


Yang boleh bilang Pra orang gila cuma aku. Yang boleh jahat padanya cuma aku. Siapa saja yang tidak mengenalnya, yang tidak tahu perjuangannya di tengah samudra yang bisa saja tidak mengizinkannya pulang, tidak boleh menyerangnya. Karena sebenarnya dia tidak gila, dia cuma menginginkan aku dan itu bukan salahnya. Kinan tidak berhenti belajar untuk mendesain rasio berpikirnya supaya mampu menangkap pandangan Pra terhadap dunia. Walau ia sering kesulitan bila harus berhadapan dengan mimpi-mimpi Pra yang sering tidak masuk akal, sekaligus hebat di saat yang bersamaan.


Mimpi-mimpi tentang sebuah ruang yang bisa membekukan angka-angka. Tentang perjalanan ke tempat yang banyak orang menyebutnya dengan masa lalu. Tentang memeluk tubuh seorang ibu yang baginya lebih baik mati, daripada harus tahu bagaimana pahitnya rasa merindu. Tentang ayah yang tidak pernah mengetuk pintu sejak rumah jadi kenyamanan yang membelenggu. Tentang potret Jakarta yang menelan habis bahagia dan jiwanya. Aku sudah lama mati, Nan. Aku yang ada di hadapanmu adalah manusia baru yang berharap tidak pernah dilahirkan.


“Kalian tuh apa sih, Nan? Kekasih?”
“Kami berteman baik, Rin.”
“Teman kok selalu saja berantem.”
“Nah, iya, kan? Mana mungkin jadi kekasih.”
“Ya-”
“Sudah, aku pulang duluan, ya.”


Akerina, teman kerja Kinan. Perempuan yang lahir dan besar di Maluku. Ia juga yang mengajak Kinan bekerja, ketika waktu itu Kinan masih jadi buruh pabrik di sebuah perusahaan tekstil. Sekarang, perusahaan tekstil itu sudah gulung tikar karena produk kain impor yang membanjir. Memang nggak ada yang pernah pasti hidup di negeri ini. Semua berubah dengan cepat. Bahkan untuk menyadarinya saja nggak sempat.


Tapi aku selalu sama, Nan, aku akan selalu jadi Pra.
Itu barusan kamu kasih aku berita buruk?
Ya, bahwa beberapa hal emang nggak akan berubah, Nan.
Buat kamu, mungkin.
Loh, aku nggak berubah buat kamu.
Pra, kamu sekarang lihat aku. Lihat hidupku. Kemeja putihku sudah memudar warnanya, dan untuk beli yang baru aja aku harus mikir-mikir lagi. Memangnya kamu bisa beliin aku? Hah? Kamu sehari bisa makan saja udah lumayan. Pra, nyatanya, beberapa roda memang nggak akan berputar. Kesedihan ini stagnan, bahkan kayaknya, cuma itu satu-satunya yang pasti.

 

Kinan harus mencari kerja tambahan, karena gaji pokoknya di salon kecantikan tempat ia bekerja, tidak cukup untuk bayar tagihan. Pernah suatu hari, Rina, begitu panggilan akrabnya pada Akerina, memberi tahu bahwa ada lowongan penyiar radio di pusat kota. Sudah dicoba, berujung gagal karena Kinan bukan orang yang pintar bicara. Pernah juga ditawari jadi penyanyi di kafe, juga gagal karena Pra tidak menyetujuinya.


“Ya, aku tau suaramu bagus tapi bukan berarti harus nyanyi di kafe begitu, Nan.”
“Tapi uangnya lumayan.”
“Apa tidak ada yang lain selain perkara uang di otakmu itu?”
“Apa tidak ada yang lain selain kertas-kertas jelek yang tidak pernah ada wujudnya itu?”
“Pokoknya aku tidak setuju.”
“Aku tidak minta setujumu.”
“Jadi?”
“Aku mengambil pekerjaan itu.”


Harinya tiba. Kinan sudah siap dengan bibir merah yang sebenarnya tidak membuatnya nyaman, tapi bila atas urusan pekerjaan, terjun ke jurang sekalipun akan ia lakukan. Kadang-kadang aku berpikir, seandainya ibu masih ada dan aku bisa tahu bagaimana rasanya tinggal di rumah yang utuh, apakah yang terjadi hari ini tidak akan lebih buruk? Orang lain bisa meraih bintang harapannya. Bahkan ada yang sudah sampai ke bulan. Sedangkan aku? Bersenang-senang saja tidak pernah. Aku tidak tahu rasanya jadi manusia. Atau memang cuma begini saja rasanya?

 

“Kau sudah siap?”


Seorang laki-laki berbicara ke arahnya. Dia sepertinya yang bertugas mengurus pembayaran tiap penyanyi yang bekerja di sana, termasuk Kinan salah satunya. Ia mengamati penampilan Kinan dari atas hingga ujung kaki, bergumam lewat tatapan jahat yang bisa dengan mudah dilihat lewat matanya, yang tak berhenti memandangi bibir Kinan yang indah. Kinan merasakan ada respon yang aneh dari tubuhnya. Ia bahkan juga mendengar suara Pra seperti memintanya pulang. Persiapan yang sudah begitu sempurna, runtuh dalam sedetik saja.


“Maaf, saya mau pulang aja.”


Laki-laki itu membentaknya, “Sudah gila, kau?! Mau pulang bagaimana semua sudah menunggu? Cepat!!”


Ia kemudian menarik tangan Kinan sekeji-kejinya. Begitu kasar. Tidak manusiawi sama sekali. Perempuan yang dikenal begitu tangguh itu menangis, ketakutan. “Lepaskan aku!!! Lepaskan aku!”


“Biarkan ia pulang.”


Muncul seorang laki-laki. Tubuhnya tinggi. Dilihat dari wajahnya, sepertinya masih muda. Dia sebentar melihat ke arah Kinan. Kinan pun ikut mencari di mana sumber suara yang dengan begitu lembutnya membolehkan ia pulang. Tanpa berpikir, Kinan segera berlari keluar kafe sampai ketika tubuhnya menabrak seseorang.


“Nan?”
“Pra, kita pulang!”


Mereka pun pulang berjalan kaki. Kinan berjalan di depan, dan Pra mengikutinya di belakang. Kinan masih tidak berucap apa pun, yang dilakukannya cuma mengingat kembali bagaimana sentuhan kasar itu menindas habis perasaannya. Ia tidak suka menangis. Ia tahu harusnya ia tidak perlu sampai menangis. Apalagi bila Pra sampai melihatnya, satu-satunya orang yang mengenalnya kuat dan tidak mudah dikalahkan. Namun, semakin ditahan semakin menggetarkan hatinya sendiri. Begitu rendahkah aku di mata seorang laki-laki? Apa mungkin bapak juga pernah bersikap kasar kepada ibu seperti apa yang dilakukan orang di kafe tadi? Apakah Pra juga bisa memenuhi kemungkinan itu? Diam-diam, ia terus menangis walau sebenarnya yang ingin ia lakukan adalah meneriakkan berbagai kata-kata, tetapi tidak. Ia tidak akan membiarkan hatinya menguasainya tanpa ada yang tersisa. Nggak. Ini semua nggak nyata.

 

Pra berjalan mendekatinya, berusaha mengambil tangannya ke dalam genggamannya, namun Kinan yang masih sensitif dengan segala macam sentuhan itu menolaknya dan menahan dirinya untuk tidak bersuara.


“Nan, tunggu,”
“Berhenti, Kinanti!”


Kinan menghentikan langkahnya, Pra menghampiri dan melihat wajahnya berubah merah seperti ada amarah yang berkecamuk di dalam hati dan pikirannya. Kinan lalu menundukkan kepalanya.


“Nan, maaf aku tidak setuju kamu bernyanyi, tapi aku datang karena ingin melihatmu. Sekarang kenapa jadi begini?”
“Sudahlah,” Kinan membuang pandangannya dan menguatkan suaranya.
“Apanya yang sudah, Nan? Kamu menangis, dan tidak bisa jadi sudah begitu saja.”
“Maaf aku tidak menuruti perkataanmu,” katanya dengan terisak dan menyambung, “Aku mau pulang, Pra, aku cuma mau pulang saja.”


Kinan menangis dan melepas tangisannya sampai ia bahkan tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri. Pra mengambilnya ke pelukannya, dan pada saat itu, untuk pertama kalinya Kinan merasakan kelembutan seorang laki-laki, kelembutan yang kalau diperhatikan adalah satu-satunya kelembutan yang bisa ia temukan setelah ibunya berpulang.


“Hal paling bodoh yang kulakukan adalah memelukmu, jadi jika setelah ini kamu ingin membunuhku, lakukan saja, Nan. Aku cuma tidak bisa melihatmu menangis.”


Betapa tenangnya hatiku mendengar apa yang barusan dikatakannya. Aku memang pernah bilang akan mengirimnya ke ujung dunia kalau sampai ia jatuh cinta denganku, tapi tidak bisa kuelakkan bahwa aku nyaman sekali berada dalam dekapannya. Kinan sudah lama menyadari perhatian Pra terhadap hidupnya. Dia melihat bagaimana Pra berusaha menjaganya, dan untuk sekarang ini, Pra adalah satu-satunya orang yang paling memahaminya. Tapi Pra tidak pernah memerhatikan hidupnya sendiri, itu yang jadi satu-satunya alasan mengapa Kinan mengutuk segala macam rasa yang menghuni Pra. Ia tidak akan mengizinkan siapa pun membuat hidupnya berantakan karena cinta, apalagi kalau orang itu adalah Pra. Tidak. Tidak akan pernah.

 

Malam itu, mereka seperti memerankan sebuah pertunjukan. Waktu Kinan menyatu dalam separuh dari tubuh Pra, ada kasih sayang yang diharapkan Pra lebih dari apapun. Ia selalu tahu bahwa yang dihadapinya setiap hari tetaplah seorang perempuan. Sekuat dan setangguh apapun kelihatannya, Kinan tetap perempuan, apalagi bila urusannya dengan tentang rasa yang tak pernah mau diungkapkannya. Kesedihan menciptakan harapan baru. Kinan harus mau dipaksa belajar bahwa hidup ini memang tentang rasa sakit, ia harus mau menerima bahwa ia tetap manusia paling lemah di dunia walau sebesar apapun usahanya untuk berpura-pura. Nan, aku memahamimu, lebih dari pemahamanku tentang mengapa waktu harus terus berjalan, bila akan lebih mudah kalau kita hentikan di sini saja. Aku sungguh-sungguh waktu aku bilang aku menginginkanmu. Dan kalau rumah tentang pulang, dan tiap pengelana harus mencari tujuan, maka kamu adalah bekal sekaligus tanah kematianku, Nan. Kalau tidak kamu, maka tidak siapa pun. Itu kutukan yang bisa saja selesai, tapi lebih baik hidup dalam kutukan daripada harus meninggalkanmu. Menangislah, Nan. Menangislah karena pertunjukan ini tidak akan bisa jadi abadi. Menangislah karena itu satu-satunya yang bisa kulakukan untuk bisa memilikimu.

Tags: No tags

661 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *