Tiga

Gelisah menghuni batin Kinan. Kepalanya tiba-tiba diisi oleh wajah seorang laki-laki yang bahkan tidak diketahui namanya itu. Satu yang terekam jelas cuma suara yang terus berbicara di telinganya. Biarkan ia pulang. Biarkan ia pulang. Tidak, Kinan tidak sedang bertanya siapa sebenarnya laki-laki berwajah cakap itu. Kinan cuma tidak suka merasa punya hutang. Lalu terbayang kembali sepasang mata yang begitu terang dan menatapnya langsung, ia ingat betul bahwa saat itu yang bisa ia rasakan cuma napasnya sendiri yang begitu cepat. Apakah aku harus kembali ke sana? Menjelaskan? Bahwa aku sungguh-sungguh minta maaf atas kebimbanganku yang mengganggu semua orang? Memang iya awalnya aku yakin, tapi Pra muncul di kepalaku waktu itu. Tapi, bukankah aku tidak pernah mengizinkannya masuk ke dalam bagaimana cara otakku bekerja? Atau apakah mungkin aku sudah mengizinkannya? Apakah Pra kini sudah memegang kendali atas kehidupanku yang bahkan tidak juga pernah mengharapkanku?

Kebingungan kadang membawa seseorang ke sebuah dunia baru yang tidak siapa pun menghuni kecuali hatinya sendiri. Itu pula yang sedang terjadi pada Kinan. Ia tidak suka merasa menerima apalagi sampai harus meminjam sesuatu. Terlebih lagi, Pra hadir sebagai pembelaan yang mendukung prinsipnya itu.

“Kebaikan orang lain kepadamu tidak perlu kamu balas, Nan.”

“Nggak dosa?”

“Ya kecuali kamu membuat mereka terpaksa berbuat baik padamu.”

“Hah? Maksudnya apa, nih? Kok jadi labil begini? Kamu ada di pihak siapa sebenarnya?”

“Aku setuju denganmu bukan berarti aku ada di pihakmu, Nan.”

“Gitu sih?”

“Kalau harus ada di pihakmu berarti aku harus jadi kekasihmu dulu, dong?”

“Sakit jiwa sudah.”

Tidak ada yang lebih membuat Pra tertawa dari berhasil mengejek perempuan judes itu. Sering membuatnya bingung mengapa Kinan masih saja menghiraukan persepsinya, bila secara jelas Kinan katakan bahwa ia sudah tidak waras.

“Kenapa sih masih butuh dukunganku?”

“Dengar ya Pra, kalaupun kamu tidak sependapat denganku, itu bukan urusanku. Lagipula, apa yang bisa kuharapkan dari pemikiran seseorang yang otaknya mungkin sudah berubah jadi mainan plastik?”

“Kok tahu, Nan?”

“Hah?”

“Iya, kok kamu bisa tahu aku sampai seisi-isinya begitu? Pernah masuk memang?”

“Sudah. Aku mau balik kerja.”

“Nan,” Pra mengambil tangan Kinan sambil menyambung, “Cuma di hadapanmu aku senang pura-pura gila, dan cuma kamu yang bisa menerima ketidakrasionalanku.”

Kinan memerhatikan tangan Pra yang menggenggam tanganya, “Lepas atau habis ini kamu mati.”

“Aku sudah mati sejak pertama kali ibuku mengumumkan namaku kepada salah seorang perawat di rumah sakit.”

***

Kinan sedang menyapu teras depan ketika suara motor Rina terdengar, “Loh, Rin?”

“Ayo bareng aku saja,”

Dengan girang ia menjawab, “Sungguh?”

“Lima menit!”

Rina tidak pernah menyangka akan menyayangi Kinan seperti menyayangi anaknya sendiri yang masih berusia tiga tahun itu. Dalam hidupnya, ia sudah biasa soal ikhlas-mengikhlaskan, soal kalah-mengalah, soal siapa yang tidak perlu dimenangkan dan siapa yang perlu diberi pembelaan. Rina anak sulung dari dua bersaudara. Suatu hari ia kawin dengan seorang laki-laki kenalan pamannya dan dikaruniai seorang anak perempuan. Suaminya bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik roti. Sedangkan untuk tambahan biaya sehari-hari, Rina terpaksa harus bekerja walau gajinya tidak seberapa. 

Sesekali Rina mengenalkan kawanan dari suaminya untuk dekat dengan Kinan tapi tidak ada yang cocok. Entah karena tidak cocok atau Rina sendiri memang tidak percaya dengan pernikahan. 

“Mengapa tidak kau coba dulu?”

“Tidak suka. Bibirnya terlalu hitam. Pasti perokok.”

“Kinan… Kinan…”

“Apa? Kamu bertanya mengapa dan aku beri alasannya.”

“Pra merokok dan itu tidak jadi masalah buatmu?”

“Ya, dia kan temanku, bukan untuk jadi suamiku.”

Sejak waktu itu, Rina berhenti mencarikannya jodoh, karena satu-satunya orang yang paling pasti untuk jadi jodohnya ya cuma Pra. Walau Kinan sendiri tidak setuju, walau juga tidak pernah ada yang benar-benar tahu situasi di dalam hatinya. Kenapa harus Pra? Memang tidak ada orang lain di dunia ini? Lagipula, aku tidak jelek-jelek amat. Pasti ada orang asing yang suatu hari bisa mencintaiku, memberiku ketenangan yang selama ini tidak pernah berani kuimpikan. Dan orang itu tidak mungkin, Pra. Tidak mungkin.

***

Setelah mengunci pintu dan memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka berangkat dengan motor milik Rina. Motor yang juga belum lunas, karena memiliki anak ternyata tidak seindah yang dibayangkan sebagian orang. Sekali waktu Rina pernah menyuruh Kinan untuk belajar naik motor, tapi Pra tidak setuju. Kinan tidak berani melanggar karena terakhir kali ia mencoba untuk melanggar larangan Pra, kejadiannya tidak berujung baik. Biarlah, toh, ini cuma perkara sepeda motor. Pra belum sampai ikut campur tentang aku harus hidup dengan siapa dan harus mati dengan siapa.

“Memang mau keliling Indonesia?”

“Memang orang yang naik motor itu harus keliling Indonesia?”

“Aku nanya, memangnya kamu mau keliling Indonesia?”

“Ya… Nggak sih.”

“Ya udah, nggak usah.”

“Rina aja pake motor kalau kerja.”

“Kamu Rina bukan?”

“Hah?”

“Kamu jadi Rina dulu, baru boleh naik motor.”

“Gimana ceritanya jadi Rina?”

“Kawin denganku.”

Ketika tadi Rina datang menjemput, sebenarnya lamunan Kinan sedang mengembara ke sebuah bagian dunia yang cuma menjadi miliknya sejak ia dilahirkan. Tempat yang membuatnya sesak, tapi juga melapangkan hatinya; tubuhnya sendiri. Ia teringat kembali pada hari di mana bapaknya datang dengan seorang perempuan yang akrab dipanggilnya dengan sebutan Roh Jahat. Hahahaha, Kinan… Kinan. Seksi begitu dipanggil Roh Jahat, begitu kata Pra waktu pertama kali Kinan bercerita soal Iva, ibu barunya. 

“Ini Iva, Nan, semoga hadirnya bisa mengisi kehampaanmu setelah ibumu berpulang.”

Geram akan apa yang diucapkan bapaknya, Kinan pergi meninggalkan rumah dengan sebelumnya membanting pintu depan dengan begitu kuat. Sejak hari itu, muncul keberanian juga ketangguhan untuk tidak bertumpu pada siapa pun kecuali pada dirinya sendiri. Bahwa tiap-tiap unsur pemikiran yang tidak bisa masuk dalam pemahamannya, akan ia sangkal bagaimana pun caranya. Dan pada hari baik yang entah siapa telah menentukannya, ia menang. Anak tangga itu jadi saksi, bahwa tidak akan ada yang bisa melukainya, termasuk masa lalunya sendiri.

“Dia tidak bisa gantiin ibuku, Pra, bapak sudah habis akal.”

“Bapakmu nggak habis akal, Nan, dia cuma berusaha menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.”

“Menyelamatkan apa? Menyelamatkan siapa? Ibu?”

“Menyelamatkan dirinya sendiri.”

Bahkan seorang Pra tidak mampu mengubah kata hatinya yang sudah kusut, sudah tidak terselamatkan. Namun tentu tidak akan berhenti sampai di situ, Pra percaya detik waktu mengubah semua hal, termasuk dendam yang Kinan rasakan, termasuk perasaan yang belum Kinan rasakan. Perasaannya tertutup, bukan terkunci. Kalau pun Tuhan tidak mau balas jawaban, biar aku sendiri saja yang mengirimkan Kinan jawaban atas doa-doa yang tak pernah disembahyangkannya. Biar aku sendiri yang membuka pintu dalam rasa hatinya. Biar.

***

Kinan berjalan menuju pesisir. Seorang laki-laki berbaju putih dan berpeci hitam lusuh melambaikan tangan pada kinan. Kinan mendekatinya, keheranan. 

“Kamu ngapain pake peci segala?”

“Cocok nggak?”

“Cocok, tapi lebih cocok lagi kalau warna-warni.”

“Kamu ini, Nan, itu mah namanya topi ulang tahun.”

“Pra, ulang tahun, yuk?”

“Memangnya mau minta apa?”

“Secarik kertas dan selembar doa.”

Jantung Pra seperti ditempa besi besar. Ada apa dengannya? Sejak kapan ia menyukai perayaan? Sejak kapan ia tertarik pada kertas dan doa? Bukankah itu adalah dua hal yang paling ia benci? Ada apa dengannya? Apakah ia perlahan menerima serpihan dari puing-puing yang tersisa dari semestaku? Atau karena ia sedang menghidupkan kembali sastra lamanya yang semua orang kira sudah punah?

“Kalau kamu minta diajak tenggelam di tengah laut, aku tidak kaget, Nan,”

“Jadi sekarang kamu lagi kaget?”

“Kamu kamus bahasaku. Aku bisa berkata-kata atau tidak, kendalinya di kamu.”

“Pra…”

“Buat apa sih memangnya? Kertas dan doa?”

“Buat aku kasih lagi ke kamu.”

Itu adalah permintaan Kinan yang kedua, setelah pernah minta diajak ke tengah laut untuk pada akhirnya menenggelamkan dirinya. Masuk akal, bisa diberikan, tapi tidak akan. Pra tidak akan pernah mampu mewujudkan permintaan Kinan, tidak, walau mungkin sebenarnya dia bisa. 

Pra terdiam. Seorang penyair tidak akan cukup menghidupi dirinya sendiri, bila hanya dari puisi-puisinya. Aku memilih diriku yang sekarang, bukan karena Kinan tidak memberiku kesempatan untuk memilih, tapi karena di negeri ini, tidak semua sepadan dengan apa yang diimpikan. Aku cuma ingin selalu ada untuk Kinan, dan membukukan khayalan-khayalan yang ada di dalam kepalaku bukanlah jalan keluarnya.   

“Kamu nggak mau coba, karena kamu ragu. Dan selamanya kamu akan ragu kalau kamu nggak tahu gimana rasanya setelah kamu mencoba.”

“Lantas kalau sudah kulakukan, setelah itu apa, Nan?”

“Kamu bisa coba mengirimnya ke penerbit, Pra,”

“Setelah itu apalagi yang bisa kucoba? Mencoba untuk menunggu kabar dari penerbit-penerbit itu? Yang jelas langsung menaruh naskahku ke tempat sampah, atau paling-paling menyimpannya di gudang.”

“Setidaknya diciptakan, Pra. Apa salahnya?”

“Apa salahnya? Sungguh? Sungguh kamu ingin tahu apa salahnya? Yang aku lakukan sama saja dengan seorang perempuan yang membunuh sendiri janin dalam kandungannya.”

Kinan tidak menduga kalimat itu keluar dari mulut Pra. “Pra…?”

“Dan kamu ingin tahu apa salahnya? Salahnya adalah perempuan itu gagal membunuh calon bayinya, dan sekarang bayi itu tumbuh jadi seorang laki-laki paling sial di dunia, laki-laki yang sedang berdiri di hadapanmu sekarang, laki-laki yang tidak minta siapa pun menentukan nasib dirinya karena setiap malam aku ada di laut bukan untuk siapa, bukan supaya apa, tapi karena itu memang peta yang kupilih! Kamu ternyata benar tidak akan bisa mengerti, Nan, harusnya aku percaya itu.”

 Pra berlalu setelah membentak Kinan dengan suara kerasnya. Kinan membuka mulutnya karena tercengang dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut Pra. Seakan sadar dari amarah yang menguasai hati dan pikirannya, Pra kembali mendekati Kinan yang sudah bersiap untuk beranjak pulang meninggalkannya. Dan yang Kinan lakukan cuma berseru sekeras mungkin, “Kamu sakit!”

Pra menghentikan langkanya. Dia melihat ke arah Kinan tanpa lengah. Tidak, Kinan tidak menangis. Rasa benci sekaligus peduli sudah hancur dan terbentuk ulang kembali, dan selalu begitu. Kinan menatap kedua mata Pra dengan seluruh perasaan tidak suka yang ia miliki. 

“Maafkan aku, Nan,” ucapnya lirih. 

Pra tetap berusaha mendekat Kinan, berniat untuk merengkuh tubuh Kinan dan seperti tahu apa yang akan terjadi, Kinan mencegahnya. “Kalau kamu berani melangkah lagi, jangan berharap bisa melihatku lagi!”

“Kamu tahu maksudku tidak begitu, Nan…”

“Aku tidak pernah mendengar ucapanmu yang sejujur itu, Pra. Aku pikir aku sudah mengenalmu, tapi nyatanya tidak sebaik itu!”

“Pikiranku sedang kacau, Nan, sungguh aku tidak benar-benar berniat mengatakan itu.”

“Kamu dengar, ya. Kalau hidupmu kacau, berantakan, tidak karuan, itu bukan salah ibumu yang berhasil melahirkanmu walau kamu tidak menginginkannya! Kebencianmu terhadap dirimu sendiri, bukan jadi tanggung jawabku untuk meredakannya!”

Kinan meninggalkannya. Aku tidak akan lagi meletakkan peduliku barang sedikit saja untuknya, apa pun bentuknya. Betapa bodohnya laki-laki itu. Ia kira keangkuhannya bisa menolongnya dari realita hidup yang tidak pernah sesuai dengan keinginannya? Kalau dia sakit hati karena nasib buruk yang menimpanya, aku bisa mengerti. Tapi bila berujung jadi salahku karena aku cuma menginginkan ia memperbaiki bagian yang masih punya peluang? Tentu tidak bisa kuterima. Antara dia dan aku, memang tidak akan bisa ada perasaan yang campur-mencampur. 

*** 

Pada suatu hari, Pra datang ke tempat kerja Kinan untuk menemui sahabatnya yang sudah seminggu tidak ada kabarnya itu. Pulang sajalah, kau, Pra. Begitu jawaban yang ia terima dari Rina. Seakan ada penjelasan yang sengaja tidak Rina sampaikan, karena Kinanlah yang harus menyampaikannya secara langsung. Itu memang pertama kali ia geram denganku dan, ya, kupikir paling-paling akan mereda sehari atau dua hari. Dan kini sudah satu minggu apakah ia benar-benar mengamini sumpahnya itu? Untuk tidak menemuiku lagi? 

Sorenya, Pra mendatangi indekos tempat Kinan tinggal dan jawaban yang ia terima jutsru mengejutkan. “Baru kemarin, Pra. Dia melunasi uang sewa indekos yang belum sampai akhir bulan. Dia dapat kerjaan di Semarang.”

Pra berpikir sebentar. Biasanya Kinan tidak pernah sampai begini. Kalau soal belajar naik motor saja dia sampai minta izin dengan Pra dulu, mengapa hal besar seperti pergi ke Semarang tidak ia sampaikan? Lagi-lagi, tidak ada yang pernah benar-benar mengetahui isi hatinya. Kinan pernah mengira bahwa mungkin suatu hari Pra bisa memberikan kasih sayang dan kelembutan hati untuknya, dan kini Kinan tahu tidak seharusnya ia menaruh perkiraan itu. 

“Kau dengar, ya. Kalau hidupmu kacau, berantakan, tidak karuan, itu bukan salah ibumu yang berhasil melahirkanmu walau kau tak menginginkannya! Kebencianmu terhadap dirimu sendiri, bukan jadi tanggung jawabku untuk meredakannya!”

Kata-kata Kinan terbawa dalam pikiran Pra pada hari-hari kemudian. Cuaca sedang tidak sebaik biasanya. Berdasarkan info dari Kepala Meteorologi, akan terjadi gelombang tinggi dan angin kencang. Itu sebabnya sudah dua hari ini ia tidak pergi melaut. Dan seperti seorang nelayan kehilangan arah anginnya, seperti itu pula kondisi Pra setelah Kinan tidak terdengar lagi kabar keberadaannya. 

“Sakit kau, Pra?”

Ia menoleh ke arah Dawan yang baru saja selesai merapikan perahunya. Laki-laki berusia tiga puluh dua tahun itulah yang membawa Pra ke lingkup kelautan. Bukan karena Pra sangat meyakinkan, malah sebaliknya, sifatnya yang pesimistis dan skeptis itu lebih sering membuat Dawan ingin membiarkan Pra terlantar daripada membantu hidupnya menjadi lebih baik. Tapi setelah mengenalnya selang beberapa waktu kemudian, Dawan tahu bahwa Pra adalah orang yang tidak suka kepada hal-hal yang berkaitan dengan kehidupannya sendiri, walau bagian paling kecil sekali pun. Itu sebabnya, Dawan mengenalkan laut pada Pra. Hal baru yang tidak pernah ia kenal dalam hidupnya, supaya setidaknya, ia tetap hidup. Itu saja.  

“Aku cuma malas di rumah,” jawabnya.

“Kupikir kau melaut hari ini.”

“Memang cuacanya sudah membaik, Bang?”

“Belum.”

“Ya untuk apa aku melaut kalau begitu?”

“Bukannya itu kenapa kau mau ikut melaut denganku? Untuk pada suatu hari kapal yang kau bawa karam dan kau tenggelam bersamanya.”

Pra terdiam keheranan. Heran dengan alasan yang pernah ia ciptakan sendiri. Dapat ia rasakan pandangan Dawan menatapnya sinis sekaligus mengejek. Akhirnya ia mengambil pasir di dekatnya untuk menyibukkan diri dan mengalihkan kebingungannya. 

Dawan tertawa melihat raut wajah Pra yang serba salah. Ia tidak memasalahkan apa saja yang diinginkan Pra karena laki-laki yang tak pernah bernai bermimpi itu, harus punya satu tujuan yang setidaknya bisa menjadi tempat pengganti laut untuk pulang. 

“Aku tidak bisa menemukan, Kinan,” katanya lirih. Sebenarnya, ia tidak pernah memiliki keberanian untuk sesekali bercerita tentang Kinan kepada orang lain, apalagi kalau orang lain itu adalah Dawan. Ia tidak mau habis disindir olehnya seperti yang sudah-sudah. 

“Ada banyak perempuan dan kau menginginkan yang judes macam Kinanti itu.”

“Aku tidak menginginkannya.”

“Lantas mengapa kepergiannya harus menjadi tanggung jawabmu?”

Kedatangan Kinan dalam hidupnya adalah pemberian tiada terkira, meskipun ia juga tahu bahwa dengan begitu maka akan ada perpisahan yang baru, ia tahu sewaktu-waktu pemberian itu akan diambil kembali. Buatnya, pertanyaan kapan adalah bagian dari cara kerja semesta yang tidak akan pernah ia pahami, jadi seiring waktu berjalan, persiapan untuk kepergian yang akan datang itu akan terencana dengan sendirinya. Atau mungkinkah ini yang disebut-sebut dengan akhir sebuah cerita? Apakah Kinan benar-benar memilih hidupnya dan meninggalkan aku di sini? Tentu. Tentu saja dia memilih hidupnya tapi apakah caranya harus dengan tanpa jejak seperti ini? Aku sayang padamu, Nan. Dan itu bukan bagian dari larik sajak yang kutuliskan. Itu kebenaran yang tidak pernah bisa kusuarakan.

Pikiran-pikiran yang menggerogoti isi kepalanya itu melepaskan niatnya untuk menunggu matahari terbenam dan memutuskan untuk pulang. Ia berdiri tenang. Ia mulai berpikir bahwa bukan pekerjaannya untuk menghapus apa yang sudah tertulis, untuk menghentikan perjalanan yang berputar pada poros yang sama. Kalau memang ia ingin pergi, bukan kewajibanku untuk memintanya kembali. Itu pilihannya untuk memulai sekaligus mengakhirinya.

“Kau mau ke mana?”

“Aku lapar. Aku mau cari soto.”

Dawan memandang temannya itu dengan penuh kasihan. Langkahnya tidak pernah mengarah pada hal yang pasti. Ia selalu mengira-ngira apa yang ada di dalam kepala Pra itu. Satu-satunya keputusan paling masuk akal yang pernah didengarnya adalah ketika barusan ia memilih untuk pulang karena lapar. 

Pra berlalu sambil menenteng sepatunya ketika Dawan berteriak, “Dia dapat pekerjaan yang lebih baik, Pra!”

Pra menunduk. Ia mengandaikan jika manusia memiliki tombol ON/ OFF yang bisa ia gunakan kapan saja. Nan, bagaimana kalau kita pergi dan tidak kembali? Kadang aku berpikir bahwa tujuan hanya ada dalam kepala dan tidak pernah ada wujud aslinya. Karena bukankah hidup memang seperti laut, Nan? Sunyi, padahal berisik. Tenang, padahal pemarah. Luas, padahal tidak sama sekali. Aku tidak akan menjangkaumu, Nan. Jangan berharap ada puisi yang bisa selesai tuntas, karena itu tidak lebih dari kejahatan yang paling masuk akal, yang bisa kulakukan terhadap diriku sendiri. Harusnya memang tidak pernah ada kamu.

Tanpa menoleh, Pra berucap, “Itu pilihannya untuk meninggalkanku, Wan.”

“Dia tidak pergi, Pra. Dia cuma lari darimu.”

328 Comments

  1. AjengJune 3, 2020

    Wahh yg ditunggu2 usss:”

    Reply
    1. Rifa NidiaJune 12, 2020

      Ditunggu banget deh kelanjutannya

      Reply
    2. sqrratuainiJune 13, 2020

      belajar melepaskan dirinya~ backsound untuk pra sekarang

      Reply
    3. skurJune 29, 2020

      semangat usss❤❤

      Reply
  2. ShafwaJune 3, 2020

    Ntah kenapa cerita ini relate bgt sama apa yg aku rasakan akhir akhir ini😭

    Reply
  3. deedeedadeedeeJune 3, 2020

    menunggu kelanjutannya… 🙂

    Reply
    1. FarhaJune 3, 2020

      Wahh Duluan nih ceritanya

      Reply
      1. nuriawlyiJune 8, 2020

        Love U Pra❤

        Reply
    2. rifda nafisahJune 3, 2020

      🖤🖤

      Reply
    3. Shinta Nur HasanahJune 4, 2020

      Thank you Pays ❣️

      Reply
    4. FisianaJune 4, 2020

      typo gapapa (bernai)

      Reply
      1. AnaaaJune 6, 2020

        Huwaaa penasarann sm kelanjutannyaa :'(((

        Reply
      2. FairuzaaJune 28, 2020

        Praa yg sabar yaa siapa tau yg dibilang dewan bener kalau kinan tidak pergi, ia cuma lari darimu pra ❤

        Reply
    5. NatasyaAdindaraJune 4, 2020

      Terima kasih paus updatenya!! Semoga Kinanti segera kembali ke sisi Pra, atau jika itu tidak memungkinkan, setidaknya kinan bisa memberi penjelasan mengapa ia memiliki pilihan sendiri sebesar itu. Karena bila benar kinan akan pergi jauh-jauh dari hidup pra, aku tidak yakin pra akan baik-baik saja. Begitupun sebaliknya. Jujur aku khawatir dengan pra. Semoga bab 4 membawa kabar baik😭😭❤❤❤

      Reply
      1. IndahJuly 8, 2020

        Soto mengingatkanku pada ann di kantin rumah sakit

        Reply
    6. HilJune 4, 2020

      Sedih sakit kacau

      Reply
    7. PerempuanJune 4, 2020

      Pra..pra..!

      Reply
      1. MilkteaJune 27, 2020

        Kesedihan bertebaran disini

        Reply
    8. Fitri VeronikaJune 5, 2020

      Sayang banget sama pra jadi semangat nabung biar cepet ketemunya:)

      Reply
    9. syahbillah jlJune 11, 2020

      demi apasih selalu takjub sama kak Tsana 😭🥺💗

      Reply
  4. Eka AnnJune 3, 2020

    Uwaa ketigaa:)))

    Reply
  5. AzSalmaJune 3, 2020

    Cepet baikan yaa pra sma kinan

    Reply
  6. yunita azhariJune 3, 2020

    ‘Kadang aku berpikir bahwa tujuan hanya ada dalam kepala dan tidak pernah ada wujud aslinya’ , ya…. seperti itu pra, aku juga merasakannya:)))
    *tulisanmu selalu indah, seperti biasa. Kak tsana<3

    Reply
  7. AraJune 3, 2020

    “Kalau memang ia ingin pergi, bukan kewajibanku untuk memintanya kembali. Itu pilihannya untuk memulai sekaligus mengakhirinya.”

    Semoga semakin kuat ;

    Reply
  8. avaJune 3, 2020

    Reply
  9. anjanniJune 3, 2020

    💔☺

    Reply
  10. PatrickJune 3, 2020

    ada bnyak kesedihan disini:(

    -P.S

    Reply
    1. AstariJune 4, 2020

      Love pra dan kinan❤

      Reply
  11. asaJune 3, 2020

    apa arti nama pra?

    Reply
  12. PutriJune 3, 2020

    Hi, Kak. Aku suka banget sama cerita ini, diksinya khas Rintik Sedu, yang manis, puitis, dan terkadang bikin pembaca berhenti sejenak untuk menyerap makna demi makna.

    Tapi boleh ku kasih kritik? Menurutku karakter Pra di sini sangat mirip dengan Nugraha, bahkan seperti Nugraha dan sedikit modifikasi dan tada jadilah Pra. Aku ingin membaca sesuatu yang baru, berbeda, bahkan gayanya dalam berbicara pun mengingatkanku dengan Nug.

    Reply
  13. AwkepencetJune 3, 2020

    Gue lagi-lagi SPECHLESS:'(

    Reply
  14. Aisyah frdinaaaJune 3, 2020

    Tsanaaaaaaaaaaaaa semangat nulisnyaaaaa

    Reply
    1. MelawatiJune 12, 2020

      Tidak bisa berkata-kata. Habis sudah💙

      Reply
  15. SasareeeJune 3, 2020

    Bagus banget ❤️😭

    Reply
  16. RatnaJune 3, 2020

    Kalau memang ia ingin pergi, bukan kewajibanku untuk memintanya kembali. Itu pilihannya untuk memulai sekaligus mengakhirinya.
    Keren bngt us jadi makin penasaran hehehe

    Reply
  17. raraJune 3, 2020

    huaaa praaa

    Reply
    1. leaJune 4, 2020

      bacanya sambil nangis:(

      Reply
  18. Naila syafa kamilaJune 3, 2020

    Ahh sadd kinan pergi:(

    Reply
  19. DwJune 3, 2020

    Praaaa!!!!!!!!

    Reply
  20. Arsel0511June 3, 2020

    Selalu keren.
    Sehat selalu paus.
    Aku akan selalu menunggu karya-karyamu.

    Reply
  21. AnisaramadhaniJune 3, 2020

    😭😭😭😭

    Reply
  22. awanbiruJune 3, 2020

    Bikinn jadi pengen terus bacanya kaa.

    Reply
  23. Halte SinggahJune 3, 2020

    Selalu menarik apapun yang kau buat paus!❤️

    Reply
    1. BernikaJune 5, 2020

      feel-nya dapet banget, nyaman sekali baca sampai tuntas.

      Reply
  24. Lilfdh27June 3, 2020

    Yang ditunggu2😍😍

    Reply
  25. kacikakaciJune 3, 2020

    Aaaa nangis, Kinan balik dong😭😭😭
    Btw terima kasih Paus sudah sempatkan waktu melanjutkan cerita ini🖤🖤

    Reply
  26. Metika DesyaJune 3, 2020

    nyatanya pra sungguh merasa kehilangan akan sosok kinan hu hu

    Reply
  27. jennisya.aJune 3, 2020

    dia tidak pergi..

    Reply
  28. naandfaJune 3, 2020

    setiap habis baca nggak tau kenapa pengen ngucapin terimakasih sebanyak2 buat tsana, terimakasih tsana sudah melahirkan PRA di bumi:)

    Reply
  29. Jasmine FragranceJune 3, 2020

    Mantab! 🥺🥺

    Reply
  30. juliet yang romeonya ilangJune 3, 2020

    NAN?? JANGAN PERGI DONG NAN!! BUSEDEHH😌

    Reply
  31. AnjanidwifaJune 3, 2020

    Aku selaluu sukaa pausss :”

    Reply
  32. Sekar kiraniJune 3, 2020

    “Dia tidak pergi, Pra. Dia cuma lari darimu.”

    Reply
  33. dhiaJune 3, 2020

    bapakmu cuma menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkam. paus alafyu

    Reply
    1. aleJune 6, 2020

      dia tidak pergi,dia cuma lari.
      NYES :’)

      Reply
  34. syifaaa🦋June 3, 2020

    yang ditunggu-tunggu!😘🥰

    Reply
  35. Koceng itemJune 3, 2020

    Dalem banget ya kak🙂

    Reply
  36. biruJune 3, 2020

    dia tidak pergi pra, dia cuma lari darimu … fix ini jleb banbanget 😭😭

    Reply
    1. Dewi Sri Utami WulandariJune 3, 2020

      Ada kesedihan yang Pra rasakan dan membuatku ikut sedih juga🥺makasihh kakakkk de best emang🤜

      Reply
    2. RismayaJune 12, 2020

      Ceritanya ngena bangett kak:(

      Reply
  37. MawaddahJune 3, 2020

    Kacau dunia mu Pra

    Reply
    1. ririJune 3, 2020

      Sedih ni sedihh :((

      Reply
    2. difaJune 3, 2020

      Pra kehilangan porosnya..

      Reply
  38. SalsaJune 3, 2020

    Pra adalah aku :”)

    Reply
  39. BrinaJune 3, 2020

    Yeyeyeyeyeyeyeyeyeyeyyyeyyeyeyye
    Menunggu selanjutnyaaa
    Semangatttt ka tsana nulisnyaa
    Semangattttttttt
    Salam sayangg♡♡♡

    Reply
  40. RFannyJune 3, 2020

    Sampe netes wadaww

    Reply
  41. Kinan hanya lelah Pra.

    Reply
    1. MINJune 3, 2020

      Pra tolol wkwkwk

      Reply
  42. NadyaaJune 3, 2020

    Kok sad yaaAllah:’)

    Reply
  43. KudaJune 3, 2020

    Praaa Kinan mu pasti kembali…utututu

    Reply
  44. Maryanda kalsaJune 3, 2020

    Aku nangis baca ini😭😭

    Reply
  45. salsavirginiaJune 3, 2020

    so sad:(

    Reply
  46. Vera meiJune 3, 2020

    Penasaran keempat

    Reply
  47. MelidaJune 3, 2020

    Astagaa, tumben jam segini usssss. Biasanya tengah malem. Fix banget aku perlu 2, 3 kali untuk bisa memahaminya. Tapi gatau aku kok suka ya, aku penasaran pesan apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan

    Reply
  48. alfirayJune 3, 2020

    Banyak terharu di sini.
    Menunggu bab selanjutnya😍😍😍

    Reply
  49. hanaJune 3, 2020

    sedih liat Pra sedih:(

    Reply
  50. KhofchocsJune 3, 2020

    ku merasa seperti diputuskann:(((((

    Reply
  51. KhofchocsJune 3, 2020

    menangiss. aku merasa seperti diputuskann:(((((

    Reply
  52. FdywewJune 3, 2020

    Oyy Pra, kupikir Nan yg trlalu perasa, jga kau yg trlalu membatu. Mungkin sedikit lembut agar menyatu.

    Reply
  53. DindaJune 3, 2020

    Kejar pra:(

    Reply
    1. MalamJune 4, 2020

      Entah kenapa Pra membawaku kembali mengingat karakter Biru
      Dia dengan masa lalu nya
      Dengan laut dan puisi-puisinya
      Aku mengharap akhir baik buat Pra :”)
      Hidup nya sudah cukup tragis, biarkan ia bahagia us (:

      Reply
  54. DevafitrianaJune 3, 2020

    Sedihhhh kinannya pergii

    Reply
  55. TisaJune 3, 2020

    Huhuuu sad

    Reply
  56. IntanJune 3, 2020

    Praaa😭

    Reply
  57. aghnamlyJune 3, 2020

    baca ini harus bnr” konsentrasi

    Reply
  58. arifahJune 3, 2020

    sabar Pra, Kinan ‘mungkin’ kembali jika salahmu sudh termaafkan

    haaa lopyu us <3

    Reply
  59. bocullJune 3, 2020

    Kinan hanya sebentar, Pra.

    Reply
    1. Ibu negaraJune 5, 2020

      Kadang kita harus berani buat bermimpi, pra.

      Reply
  60. Siti NurhayatiJune 3, 2020

    Campur aduk ya perasaan ya duhhh:”))

    Reply
  61. pacarnya tomhollandJune 3, 2020

    sayangg bgt sama lo usss <3

    Reply
  62. SJune 3, 2020

    wah pra..

    Reply
  63. SindyJune 3, 2020

    Banyak bawang berataburan di sini
    😢😭

    Reply
  64. Afifah IAJune 3, 2020

    Wiwwwww mantepp kakk

    Reply
  65. Lu'luun NafisahJune 3, 2020

    Huaaaa😭

    Reply
  66. SindyJune 3, 2020

    Banyak bawang bertaburan di sini
    😢😭

    Reply
  67. KurniaJune 3, 2020

    Sukaaaaa

    Reply
  68. Rianti irawatiJune 3, 2020

    Pra😭❤️

    Reply
    1. Rahsa.RenjanaJune 4, 2020

      bukan kewajibanku untuk memintanya kembali. Itu pilihannya untuk memulai sekaligus mengakhirinya.

      Kadang aku berpikir bahwa tujuan hanya ada dalam kepala dan tidak pernah ada wujud aslinya

      Aaaaaak😍😍🥺suka banget kaak,
      kok jadi ikutan sedih yaa kak?? Ditunggu kak kelanjutan ceritanya 💕💕

      Reply
  69. TopJune 3, 2020

    Ada yang saat ini pergi dariku us. Dia juga lari dariku.

    Reply
  70. araaJune 3, 2020

    praa:(

    Reply
  71. araaJune 3, 2020

    jan sedih pra, yok cari kinan yok:(

    Reply
  72. AuliaJune 3, 2020

    Dia tdk pergi pra dia cuma pergi darimu,aw sakit bet sumpah

    Reply
  73. Milannia CitraJune 3, 2020

    pra 😭

    Reply
    1. LauraJune 3, 2020

      Nngis dongg😭😭😭

      Reply
  74. AmaliaJune 3, 2020

    “Dia tidak pergi, Pra. Dia cuma lari darimu”.
    Nyesss banget :((

    Reply
  75. DhiyaulJune 3, 2020

    Haruskah masalah memaklumi sebuah pelarian?

    Reply
  76. AuliaJune 3, 2020

    Lanjuuutttt…..,semangat!!!

    Reply
  77. dlyJune 3, 2020

    Sayang dehhh sama pausss

    Reply
  78. DhiyaulJune 3, 2020

    Haruskah masalah memaklumi sebuah pelarian? Kalau memang iya berarti yg “Dia” lakukan sudah benar.

    Reply
  79. DhiyaulJune 3, 2020

    Haruskah masalah memaklumi sebuah pelarian? Kalau memang iya berarti yg “Dia” lakukan sudah benar.

    Reply
  80. Riza hartika suriJune 3, 2020

    Jangan lama lama us Updatenya

    Reply
  81. IntanJune 3, 2020

    Selalu menyayat hatii

    Reply
  82. RayJune 3, 2020

    Luv

    Reply
  83. BiyaJune 3, 2020

    pauuuuss aku suka praa

    Reply
  84. Avi SheilaJune 3, 2020

    Bab yg sukses bikin aku nangis :’) Terus berkarya Us. Terimakasih sudah membuka pikiranku akan sesuatu yg tidak benar-benar pasti.

    Reply
  85. NaiJune 3, 2020

    Ditilik per-kata dalam nya banyak makna
    💛Paus

    Reply
  86. FilzaJune 3, 2020

    Terharu banget :”

    Reply
  87. Ika NovitaJune 3, 2020

    😍😍😍

    Reply
  88. ZzaJune 3, 2020

    Penuh emosi baca yang ketiga ini us

    Reply
  89. Talitha Athaya RahmanJune 3, 2020

    setelah baca ini hati gw berasa dipukul pukul:)

    Reply
  90. MiaaJune 3, 2020

    Kinan jangan lama lama menjauh dari pra yah, lup yuu us ❤

    Reply
  91. manusiaJune 3, 2020

    ingin berandai andai kalo Pra itu nyata, bkn cm tokoh di dalam kepala.

    Reply
  92. NrsJune 3, 2020

    The best✨

    Reply
  93. 30nfffllll44June 3, 2020

    ”Kalau memang ia ingin pergi,bukan kewajiban ku untuk memintanya kembali.itu pilihannya untuk memulai sekaligus mengakhirinya” 🙂

    PRAAAA♥️!

    Reply
  94. AndhiniJune 3, 2020

    Pra 🙁

    Reply
  95. Rezky PutriJune 3, 2020

    Huhu bagus bangett, sering” up yaa kak 😍

    Reply
  96. ZafiraaJune 3, 2020

    Terima kasij us untuk lanjutan cerita pra kali ini. Terima kasih msih mau mempercayai dirimu dan kita untuk memplubikasikan cerita mu yang sebenar benarnya dirimu ini. Salam cinta dan sukses selalu us❤

    Reply
  97. wahbatul awwaliahJune 3, 2020

    Aku sayang padamu, Nan.

    Reply
  98. SeptianiJune 3, 2020

    Sukaaaaaa😍

    Reply
  99. MitsuhaJune 3, 2020

    Dia tidak pergi, dia cuma lari darimu.

    Reply
  100. FelJune 3, 2020

    Selalu keren

    Reply
  101. AdilatuzzahroJune 3, 2020

    Yang sabar Pra 😊

    Reply
  102. gajahpinterJune 3, 2020

    kak tsana. terimakasih telah menghadirkan pra dan kinan 🙂

    Reply
  103. LutfiJune 3, 2020

    🖤

    Reply
  104. nabilaJune 3, 2020

    kinan pasti kembali 🙂

    Reply
  105. IndyJune 3, 2020

    Tidak ada yang bisa mengubah apapun kecuali diri sendiri emang, keren us :'(

    Reply
  106. IvanaJune 3, 2020

    Ngagetin si alur ceritanya

    Reply
  107. Dyah pertiwiJune 3, 2020

    Kinan akan kembali pra ❤️😭

    Reply
  108. Ufuk TemaramJune 3, 2020

    Kamu terlalu susah mencoba hal baru Pra.

    Reply
  109. DiaaanJune 3, 2020

    Selalu keren us🐳😍

    Reply
    1. sipembaca.June 4, 2020

      Bab 4,ya?

      Reply
  110. JeanetteJune 3, 2020

    akan terus ku nanti kalian kinan dan pra 🙂

    Reply
  111. GinJune 3, 2020

    Kinan hanya ke surabaya, Pra:’)

    Reply
  112. bocilllllJune 3, 2020

    gak sabar lanjutannya 😖

    Reply
  113. Andi TantriJune 3, 2020

    Sedih:(

    Reply
  114. Gin*June 3, 2020

    Kinan hanya ke surabaya, Pra:’)
    Ditunggu banget us, bab selanjutnya:))

    Reply
  115. SilminblJune 3, 2020

    Kejar Kinan, Pra. Jangan sampai dia menemukan sesosok yang membuatnya nyaman setelah kau.

    Reply
  116. DilaJune 3, 2020

    Selalu apik, kak tsana memang unik❤

    Reply
  117. HnyJune 3, 2020

    Ada banyak puing kesedihann di part ini:)

    Reply
  118. AniiiJune 3, 2020

    Kukira Pra akan mengejarmu Nan.

    Reply
  119. LehaJune 3, 2020

    Aku punya alasan untuk menangis. Trms

    Reply
  120. CacaJune 3, 2020

    Hiih keren bat us marah ni gw sm lu😭

    Reply
  121. nazhwa nsJune 4, 2020

    Kinan jangan lama-lama menghindar nya 😭

    Reply
  122. NazhwaaaaaaJune 4, 2020

    Jangan lama pergi nya, Kinan. 😭

    Reply
  123. Sulistia MeidaJune 4, 2020

    suka bgt sama pra pokoknya.

    Reply
  124. AlrettaJune 4, 2020

    gasabar kelanjutannya😭

    Reply
  125. ErikaaaaaJune 4, 2020

    Akhirnyaa💛

    Reply
  126. Awan kelabuJune 4, 2020

    Udah ceritanya sedih, baca coment malah makin sedih:’

    Reply
  127. RipinJune 4, 2020

    Sad lah us

    Reply
  128. Putri YuniasariJune 4, 2020

    “Antara dia dan aku, memang tidak akan bisa ada perasaan yang campur-mencampur. ” Uhhhh😭

    Reply
  129. NusaibahJune 4, 2020

    “Dia tidak pergi, Pra. Dia cuma lari darimu.”🙃

    Reply
  130. dineJune 4, 2020

    huaaaa 😭

    Reply
  131. AnandaJune 4, 2020

    Mau kaya pra 1. Untuk saat ini

    Reply
  132. FzanycJune 4, 2020

    ♥️♥️🐳

    Reply
  133. FinkaayuuJune 4, 2020

    Praa!😿😿

    Reply
  134. FinkaayuuJune 4, 2020

    Praaa!😿😿😿😿

    Reply
  135. zahrotaaJune 4, 2020

    so sad:'(

    Reply
  136. uliJune 4, 2020

    sabar Pra 🙂

    Reply
  137. SabillaJune 4, 2020

    Aku selalu suka dengan cara menulis mu us🐋🐳
    Ku tunggu kelanjuat Ceritanya

    Reply
  138. LiaJune 4, 2020

    Huaaa😭😭😭

    Reply
  139. Zi.kəyJune 4, 2020

    Apakah ada Pra yang bisa kukenal dalam gemuruh laut?

    Reply
  140. ZahtyanJune 4, 2020

    Apakah ada Pra yang bisa kukenal dalam gemuruh laut?

    Reply
  141. AdnsyfJune 4, 2020

    suddah peduli eh disakiti

    Reply
  142. Sudut ruangJune 4, 2020

    Siapa yang tahu kita akan bertemu di masa depan? Ini tentang yakin, semoga

    Reply
  143. dinaaJune 4, 2020

    Ketinggalan yg bab 1 bab 2🙂hm

    Reply
  144. Nessa Rosifa PutriJune 4, 2020

    Sabar pra, kinan pasti akan kembali 😌❤

    Reply
  145. SavanaJune 4, 2020

    Udah ada 30 komen yang mewakili isi kepala gw tentang tulisan lu us 💙

    Reply
  146. AnyaJune 4, 2020

    Selalu keren, heran🙄lopyu pull us😂❤

    Reply
  147. Sawi UnguJune 4, 2020

    Ga pernah mengecewakan us😭❤️

    Reply
  148. MutiahJune 4, 2020

    😭😭😭 nangesss

    Reply
  149. nopaJune 4, 2020

    sedihhhh, mas pra 😭😭

    Reply
  150. NurhabibaJune 4, 2020

    ❤❤❤❤

    Reply
  151. NurqalbiJune 4, 2020

    huaaa

    Reply
  152. NurqalbiJune 4, 2020

    Huaaaa

    Reply
  153. ChesyJune 4, 2020

    Selalu menunggu setiap bagian cerita ini

    Reply
  154. CitraJune 4, 2020

    ❤❤❤

    Reply
  155. Cempaka SariJune 4, 2020

    Pra andai kita bisa bertemu ku pastikan akan ada keajaiban yang terjadi, kuharap itu ❤️

    Reply
  156. MicyraJune 4, 2020

    Anjayyy banget nih emang ceritanya

    Reply
  157. Laily KurniawatiJune 4, 2020

    Kita sering mengira jika kita sudah mengenal seseorang lebih jauh ke dalam lubang terdalam, tapi tidak. Tidak sama sekali, bahkan untuk mengetahuinya di permukaan pun tak pernah kita tahu.

    Reply
  158. DilaJune 4, 2020

    Ceritanya paus gak bisa di baca sekali duduk, kudu baca di waktu-waktu kemudian biar bisa bener2 paham.

    Lopyu usss

    Reply
  159. Karin AJune 4, 2020

    Kinan cuma lelah, jadi kejar dong Pra jgn dibiarin gitu aja sih:(

    Reply
  160. MitiJune 4, 2020

    Praaa:((

    Reply
  161. DenurJune 4, 2020

    Anjay banget

    Reply
  162. Dinda PutriJune 4, 2020

    kinan butuh waktu pra, klo sudah membaik bakal balik pra

    Reply
  163. MegaaaaJune 4, 2020

    Luv dh pokoknya.di tunggu kelanjutannya uss

    Reply
  164. TikaaaJune 4, 2020

    ini bagian Pra yang paling aku suka. ada senang dan sedih saat membacanya.
    semangat terus paus!

    Reply
  165. aiJune 4, 2020

    praa:’))

    Reply
  166. hniybnyJune 4, 2020

    PARAH AH US😶

    Reply
  167. AraJune 4, 2020

    Huaaa:(

    Reply
  168. OhriyuJune 4, 2020

    Masuk dunia Pra jadi bingung. Pra ini dunia macam apa, sih?

    Reply
  169. Sukaaa bangett😍 terus menulisss kak tsanaaa❤️❤️

    Reply
    1. naJune 4, 2020

      “Kebencianmu terhadap dirimu sendiri, bukan jadi tanggung jawabku untuk meredakannya!”
      —love bgt ini :’)

      Reply
  170. Sel.June 4, 2020

    Pra,kejar kinan.Please.
    Jangan seperti dia yg tdk meragukan kepergianku:(

    Reply
  171. Azma An NatsuriyahJune 4, 2020

    Kamu nggak mau coba, karena kamu ragu. Dan selamanya kamu akan ragu kalau kamu nggak tahu gimana rasanya setelah kamu mencoba.

    Makin cinta sama paus, selalu ada nilai hidup dalam setiap part yang menggambarkan betapa pentingnya mencintai diri sendiri.. Love yu us.. Semangat buat merangkai kata❤

    Reply
  172. Mallika insyirah syngenta(tata)June 4, 2020

    Wahhhh Prasaan,ku tunggu kelanjutannya

    Reply
  173. RiyJune 4, 2020

    Memang paling mewakili:)

    Reply
  174. salsasalJune 4, 2020

    praa:(

    Reply
  175. MeiraJune 4, 2020

    Sudahlah pra kinan hanya lelah

    Reply
  176. LilisJune 4, 2020

    Kinan marah sma pra?:(

    Reply
  177. LilisJune 4, 2020

    Gk sbarr nunggu kinanti pulng:)

    Reply
  178. Yulia MaulinaJune 4, 2020

    Pra. Kinan akan kembali saat hatinya merindukanmu 😭

    Reply
  179. raniJune 4, 2020

    suka bgt, apalagi lg ujian ky gini bisa buat balikin mood. terus berenang paus♥️

    Reply
    1. knryJune 7, 2020

      keep going paus! <3

      Reply
  180. AzhaJune 4, 2020

    Menunggu kelanjutan

    Reply
  181. siapapunJune 4, 2020

    banyak kejutan menyedihkan disini

    Reply
  182. SoniaJune 4, 2020

    karena satu-satunya orang yang paling pasti untuk jadi jodohnya ya cuma Pra.

    Pas mantep😍😍

    Reply
  183. HaniJune 4, 2020

    Ko sediihh 😭😭

    Reply
  184. nailalJune 4, 2020

    Kinan cuman lari bukan pergi:)

    Reply
  185. DawaniJune 4, 2020

    Selalu dan akan selalu bilang, makasih ka. Tulisanmu selalu membuatku tenang. Amarahku jadi berkurang. Seakan mendongeng. Walau tidak mudah untuk dimengerti tapi cukup untuk dipahami. Salam cinta dariku. Ibumu melahirkan manusia setengah malaikat, yaitu dirimu

    Reply
    1. NitJune 4, 2020

      Mereka sama sama sebuah kesedihan dan kebahagian disatu waktu untuk satu sama lain,, 😰

      Reply
  186. AmalinaJune 4, 2020

    Menunggu kelanjutannya

    Reply
  187. Sabrina kusumaJune 4, 2020

    Terbaikkk❤👍

    Reply
  188. nrrshfasyallJune 4, 2020

    ini isi kepala kakak? Luar biasa🐳

    Reply
  189. netaJune 4, 2020

    “dia tidak pergi, dia meninggalkan mu” jleb bgt bacanya :)))

    Reply
  190. zeJune 4, 2020

    Kalau memang ia ingin pergi, bukan kewajibanku untuk memintanya kembali. Itu pilihannya untuk memulai sekaligus mengakhirinya.

    (:

    Reply
    1. IvyJune 5, 2020

      Pra, aku pamit ya

      Reply
  191. AyuniJune 4, 2020

    Ampun daaaah, nyesek banget ini

    Reply
  192. HiuJune 4, 2020

    Praa aku padamu

    Reply
  193. tarskaJune 4, 2020

    perlu berulang kali aku bacanya sampai paham betul apa maksudnya tapi suka bangett dan selalu di tunggu karya-karya baru dari kak tsana

    Reply
  194. NanatJune 4, 2020

    Pas gue baca, Tulisan ka tsana tuh mewakili gue banget. PRA tuh dia, penuh teka teki, gue peduli dan berusaha memperbaiki yang masih jadi peluang, tapi dia angkuh😢 gue curcol apa ngalunya😅

    Reply
  195. Tri listianaJune 4, 2020

    Huehue emosional bacanya

    Reply
  196. NitJune 4, 2020

    Mereka sama sama sebuah kesedihan dan kebahagian disatu waktu untuk satu sama lain,, 😰

    Reply
  197. Watermelon SugarJune 4, 2020

    Kenapa harus begitu, Kinan? 🙁

    Reply
  198. Riska Putri AmaliaJune 4, 2020

    Apa bedanya meninggalkan dengan pergi? Itu sama saja wan.

    Hikss yang sabar pra😭

    Semangat terus kak tsana🔥 ku tunggu kelanjutannya

    Reply
  199. KikiJune 4, 2020

    Jarak ada untuk meredakan ego kita, bukan?

    Reply
  200. TianaJune 4, 2020

    “Ada banyak perempuan, dan kau menginginkan yang judes”
    Ngena banget us plis

    Reply
  201. athallaJune 4, 2020

    Kinan hanya rehat, Pra. Ia pasti akan kembali, kepada Pra tentunya…

    Reply
  202. iwufmyselfJune 5, 2020

    ribut sekali yaa isi pikiran Pra.
    Pra dan Kinan, dua manusia yang paling uwu sejagat rayaaaaa :3

    Reply
  203. yelniiiJune 5, 2020

    thnaks sudah post :), saya tunggu next part nya.

    Reply
  204. piaJune 5, 2020

    pra😭

    Reply
  205. piaJune 5, 2020

    pra T^T

    Reply
  206. IndriJune 5, 2020

    Selalu bagus ❤️

    Reply
  207. EnJune 5, 2020

    Still waiting for tge next part!

    Reply
  208. DeaaJune 5, 2020

    Aku suka semua kalimat itu, aahh sayang bangetttt sama ka tsanaa, terima kasih pokoknya

    Reply
  209. NaillaJune 5, 2020

    can relate sama kisah saya, ga tau harus gimana kalo ada di posisi Kinan, mau pergi tapi sudah terlanjur bergantung sama Pra.

    Reply
  210. mutiaraJune 5, 2020

    🥺🥺

    Reply
  211. ZizieJune 5, 2020

    Emosi yang bagus

    Reply
  212. RifaJune 5, 2020

    praaa😭

    Reply
  213. elmaputriJune 5, 2020

    hiks,,,pra😭❤️

    Reply
  214. Devi AriasihJune 6, 2020

    Sangat menunggu kelanjutannya

    Reply
  215. PuteriJune 6, 2020

    ga sabar baca yg keempat!

    Reply
  216. faiizahJune 6, 2020

    luvv😢😍

    Reply
  217. MilatulJune 6, 2020

    Lanjutkan kak

    Reply
  218. fromplutoJune 6, 2020

    aku mau kamu

    praaa😭

    Reply
  219. Agreste MadisonJune 6, 2020

    The big whale who never scare to dive into the deep of the darkness, her plankton feel ( that ) is the readers. Our feel always captured in your eyes Us, keep writing, and be better!

    Reply
  220. NugJune 6, 2020

    Terimah kasih memberikan bacaan

    Reply
  221. SavaJune 6, 2020

    “semesta emang suka bercanda” semua butuh waktu pra, it’s okay.

    Reply
    1. NatashaaJune 6, 2020

      Sukaa❤

      Reply
  222. KakaaJune 6, 2020

    Jangan pergi kinan kasian pra😭

    Reply
  223. ZiyaaaJune 6, 2020

    💓💓💓

    Reply
  224. aleJune 6, 2020

    dia tidak pergi,dia cuma lari.
    NYES 🙂

    Reply
  225. nayaJune 6, 2020

    gemes sendiri makin diaduk aduk ini rasa tiap baca bab perbab nya!! 😭❤

    Reply
  226. Always SummerJune 6, 2020

    Terus menulis yaa tsana

    Reply
  227. Anugerah GilangJune 6, 2020

    Yok lanjuttt uss 😊

    Reply
  228. AyJune 6, 2020

    Kalau memang ia ingin pergi, bukan kewajibanku untuk memintanya kembali. Itu pilihannya untuk memulai sekaligus mengakhirinya. :’

    Reply
  229. bagJune 7, 2020

    Usss😭

    Reply
  230. Katerine AngeliaJune 7, 2020

    SEMESTA KOK LUCU KALI😭😭😭

    Reply
  231. diflaJune 7, 2020

    Nama namanya unik ya uss, Pra, Kinan & sekarang Dawan 😍😍

    Reply
  232. rahasiakentangJune 7, 2020

    kalo saja baca ini ga didepan kaka udh nangis niiiii semangat teru us <3

    Reply
  233. PutasJune 7, 2020

    Dia tidak pergi, dia cuma lari dari mu

    Reply
  234. GieJune 7, 2020

    Paus selalu make hati emang jadi semua tulisannya juga psti nyampe ke hati❣

    Reply
  235. Rosyi~June 7, 2020

    Masih menebak-nebak bagaimana kelanjutannya

    Reply
  236. Farah SabilaJune 7, 2020

    Penuh teka teki;:)

    Reply
  237. Putri WulandariJune 7, 2020

    🙁

    Reply
  238. NiaramaaJune 7, 2020

    Makinn penasaran sama kelanjutan kisah Pra

    Reply
  239. imayyyJune 7, 2020

    Ehggg sukaa 💖

    Reply
  240. Rampai AsaJune 7, 2020

    Entah memang dibuat seperti itu, atau cuman perasaan aja, tapi setiap kata ditulis rasanya seperti puzzle yang harus kita susun. Tiap baca bagian baru, pasti langsung “Oh kayanya gini deh, oh ternyata dia tuh bisa kaya gitu karena ini toh, …”. Experience membaca yang seru, semangat terus us!!!

    Reply
  241. NabillahJune 7, 2020

    :’)

    Reply
  242. ainiJune 7, 2020

    ditunggu next partnya kak tsana ❤

    Reply
  243. AlifiaJune 7, 2020

    Yaampun kenapa sih :((((

    Reply
  244. AlifiaJune 7, 2020

    Reply
  245. uteJune 7, 2020

    pra dia tidak pergi dia cuma lari.
    percaya atau tidak dia pasti akan kembali tpi abu abu apakah dia kembali padamu atau tidak.

    Reply
  246. PiJune 7, 2020

    Greget bgt sm lu us

    Reply
  247. Arum Purwa KusumaJune 8, 2020

    Lari sesaat tuk kembali kemudian:’)

    Reply
  248. NadineJune 8, 2020

    Terima kasih untuk tetap menulis! Always fallin’ in love with ur writings ❤

    Reply
  249. RennJune 8, 2020

    Dia cuma lari darimu😢

    Reply
  250. annisaJune 8, 2020

    sukak!!

    Reply
  251. Laila NoviJune 8, 2020

    nunggu kinan☹

    Reply
  252. AnYJune 8, 2020

    Kinan pergi untuk kembali Pra 🙂

    Reply
  253. MpittJune 8, 2020

    Kenapa bisa sekeren ini 😭 Pra dan kinan adalah Nug dan Binta yang lahir kembali. Semoga gak ada sosok biru di sini 😏
    Ditunggu kelanjutannya kak Tsana

    Reply
  254. TikJune 8, 2020

    Praaa😭

    Reply
  255. JhooJune 8, 2020

    Bukan tentang rasa yang dirasakan tetapi soal rasa yang tak kunjung disadari 🙂

    Reply
  256. SJune 9, 2020

    “Kamu nggak mau coba, karena kamu ragu. Dan selamanya kamu akan ragu kalau kamu nggak tahu gimana rasanya setelah kamu mencoba.” 😭

    Reply
  257. MufJune 9, 2020

    Ditunggu part “empat”nya usss

    Reply
  258. AmeliaJune 9, 2020

    KINAN JANGAN LAMA-LAMA YA PERGINYA, KAMU DITUNGGU!

    Reply
  259. MandaJune 10, 2020

    Karena memang setiap hal dikehidupan harus diawali dengan keikhlasan ya, Pra.

    Reply
  260. BeiJune 10, 2020

    Seru bgt, feel nya ngena bgt uss😚😚

    Reply
  261. ItsmefiraJune 10, 2020

    Gk tau lagi mo ngomong apa

    Reply
  262. zxnairhJune 10, 2020

    Aku sayang padamu, Nan. Dan itu bukan bagian dari larik sajak yang kutuliskan. Itu kebenaran yang tidak pernah bisa kusuarakan.

    Pra..😭❤

    Reply
  263. RraJune 10, 2020

    Pra😭💖

    Reply
  264. AtikaJune 10, 2020

    Entah kenapa itu bisa dimengerti dengan pemikiran aku walaupun bahasa sedikit susah dimengerti, tp aku merasakan apa maksud yg disampaikan kak tsana ini 🙂

    Reply
  265. AinunJune 11, 2020

    Laut

    Reply
  266. thirtyJune 11, 2020

    akhirnya bisa baca pra setelah ujian😭

    Reply
  267. AlleaJune 11, 2020

    yaallah us gua tunggu tunggu ternyata gini

    Reply
  268. Nida KRJune 11, 2020

    huaaa

    Reply
  269. MocharettaJune 12, 2020

    Semangat terus, Us! Aku menantikan dengan sangat kabar baik dari Pra dan Kinan di bab berikutnya.

    Reply
  270. fikriyyyyJune 12, 2020

    pra adalah air, keras tapi ga pernah jadi api.

    Reply
  271. AlibiJune 12, 2020

    Sedih boleh gak sih padahal ini cuma dibaca tapi kok berasa sesak

    Reply
  272. MaudyJune 14, 2020

    Pauss ,kok jd semakin penasaran dan jd spoiler sendiri huhu

    Reply
  273. HansJune 14, 2020

    Makasih sudah menulis ini Us 🙂

    Reply
  274. TitanbalqisJune 16, 2020

    Seriusan, udah diulang baca ttp gk bosen jadi makin ngeh, semangat paus😆 bakal memantau dan mengakhiri buah hati kamu yang satu ini,,,,,

    Reply
  275. NsaaJune 16, 2020

    Praa:(((

    Reply
  276. SriJune 17, 2020

    Mkasi ka 😊

    Reply
  277. SisiJune 19, 2020

    Us. Tiap hari gw nge cek blog lu us. Buat cek bab 4 nya Pra. Kapaaan?

    Reply
  278. IlmaJune 19, 2020

    Pengennn nangisss kapausss 😩😭😭😭

    Reply
  279. SNHJune 19, 2020

    Sedikitnya ngerasain apa yang Pra rasain di sini, hidup seakan gak punya tujuan, gak terarah, bingung. Lanjut Kak Tsana, always nunggu.

    Reply
  280. Echa AnastasyaJune 22, 2020

    Abis belajar PBM buat utbk jadi merhatiin tulisannya wkwk, masih ada yg salah tulisannya, but no problem yg penting ceritanya keren❤

    Reply
  281. AZJune 22, 2020

    Mood booster setelah UAS❣️ selamat pauss udah berhasil buat aku melting🤧

    Reply
  282. Ripka meirindaJune 23, 2020

    Seru gila uss,ditunggu pra 4nya

    Reply
  283. IraaJune 28, 2020

    Why so relateable with me rn :'(

    Reply
  284. RaraJune 28, 2020

    Lu nulis pke tangan gk si us?gue baca pke air mata masa…baper anjay

    Reply
  285. GajahhhhJune 28, 2020

    Pra itu.. manusia apa apaan sih?? Ga ketebak bgt cara pikirnya🤔

    Reply
  286. PausJune 29, 2020

    Tak selalu mempertahankan♡

    Reply
  287. UnaaJune 29, 2020

    Hwaaaaaaaaaaaa nangis nangis, tulisan paus mengandung bawang

    Reply
  288. UnaaaJune 29, 2020

    Hwaaaaaaaaaaaa nangis nangis, tulisan paus mengandung bawang

    Reply
  289. Reda oktayanaJuly 9, 2020

    Always🖤

    Reply
  290. UtascorakJuly 16, 2020

    Kinan tuh aku banget us :’

    Reply
  291. Yunita azhariJuly 20, 2020

    Udh baca berulang kali, tetep sampe ke hati.
    “sunyi, pdahal berisik. Tenang, pdhl pemarah. Luas, pdhl tidak sama sekali”

    Iya😭😭😭

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top