Untitled_Artwork 29

Tiga


Gelisah menghuni batin Kinan. Kepalanya tiba-tiba diisi oleh wajah seorang laki-laki yang bahkan tidak diketahui namanya itu. Satu yang terekam jelas cuma suara yang terus berbicara di telinganya. Biarkan ia pulang. Biarkan ia pulang. Tidak, Kinan tidak sedang bertanya siapa sebenarnya laki-laki berwajah cakap itu. Kinan cuma tidak suka merasa punya hutang. Lalu terbayang kembali sepasang mata yang begitu terang dan menatapnya langsung, ia ingat betul bahwa saat itu yang bisa ia rasakan cuma napasnya sendiri yang begitu cepat. Apakah aku harus kembali ke sana? Menjelaskan? Bahwa aku sungguh-sungguh minta maaf atas kebimbanganku yang mengganggu semua orang? Memang iya awalnya aku yakin, tapi Pra muncul di kepalaku waktu itu. Tapi, bukankah aku tidak pernah mengizinkannya masuk ke dalam bagaimana cara otakku bekerja? Atau apakah mungkin aku sudah mengizinkannya? Apakah Pra kini sudah memegang kendali atas kehidupanku yang bahkan tidak juga pernah mengharapkanku?

 

Kebingungan kadang membawa seseorang ke sebuah dunia baru yang tidak siapa pun menghuni kecuali hatinya sendiri. Itu pula yang sedang terjadi pada Kinan. Ia tidak suka merasa menerima apalagi sampai harus meminjam sesuatu. Terlebih lagi, Pra hadir sebagai pembelaan yang mendukung prinsipnya itu.

 

“Kebaikan orang lain kepadamu tidak perlu kamu balas, Nan.”

“Nggak dosa?”

“Ya kecuali kamu membuat mereka terpaksa berbuat baik padamu.”

“Hah? Maksudnya apa, nih? Kok jadi labil begini? Kamu ada di pihak siapa sebenarnya?”

“Aku setuju denganmu bukan berarti aku ada di pihakmu, Nan.”

“Gitu sih?”

“Kalau harus ada di pihakmu berarti aku harus jadi kekasihmu dulu, dong?”

“Sakit jiwa sudah.”

 

Tidak ada yang lebih membuat Pra tertawa dari berhasil mengejek perempuan judes itu. Sering membuatnya bingung mengapa Kinan masih saja menghiraukan persepsinya, bila secara jelas Kinan katakan bahwa ia sudah tidak waras.

 

“Kenapa sih masih butuh dukunganku?”

“Dengar ya Pra, kalaupun kamu tidak sependapat denganku, itu bukan urusanku. Lagipula, apa yang bisa kuharapkan dari pemikiran seseorang yang otaknya mungkin sudah berubah jadi mainan plastik?”

“Kok tahu, Nan?”

“Hah?”

“Iya, kok kamu bisa tahu aku sampai seisi-isinya begitu? Pernah masuk memang?”

“Sudah. Aku mau balik kerja.”

“Nan,” Pra mengambil tangan Kinan sambil menyambung, “Cuma di hadapanmu aku senang pura-pura gila, dan cuma kamu yang bisa menerima ketidakrasionalanku.”

Kinan memerhatikan tangan Pra yang menggenggam tanganya, “Lepas atau habis ini kamu mati.”

“Aku sudah mati sejak pertama kali ibuku mengumumkan namaku kepada salah seorang perawat di rumah sakit.”

***

 

Kinan sedang menyapu teras depan ketika suara motor Rina terdengar, “Loh, Rin?”

“Ayo bareng aku saja,”

Dengan girang ia menjawab, “Sungguh?”

“Lima menit!”

 

Rina tidak pernah menyangka akan menyayangi Kinan seperti menyayangi anaknya sendiri yang masih berusia tiga tahun itu. Dalam hidupnya, ia sudah biasa soal ikhlas-mengikhlaskan, soal kalah-mengalah, soal siapa yang tidak perlu dimenangkan dan siapa yang perlu diberi pembelaan. Rina anak sulung dari dua bersaudara. Suatu hari ia kawin dengan seorang laki-laki kenalan pamannya dan dikaruniai seorang anak perempuan. Suaminya bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik roti. Sedangkan untuk tambahan biaya sehari-hari, Rina terpaksa harus bekerja walau gajinya tidak seberapa. 

 

Sesekali Rina mengenalkan kawanan dari suaminya untuk dekat dengan Kinan tapi tidak ada yang cocok. Entah karena tidak cocok atau Rina sendiri memang tidak percaya dengan pernikahan. 

 

“Mengapa tidak kau coba dulu?”

“Tidak suka. Bibirnya terlalu hitam. Pasti perokok.”

“Kinan… Kinan…”

“Apa? Kamu bertanya mengapa dan aku beri alasannya.”

“Pra merokok dan itu tidak jadi masalah buatmu?”

“Ya, dia kan temanku, bukan untuk jadi suamiku.”

 

Sejak waktu itu, Rina berhenti mencarikannya jodoh, karena satu-satunya orang yang paling pasti untuk jadi jodohnya ya cuma Pra. Walau Kinan sendiri tidak setuju, walau juga tidak pernah ada yang benar-benar tahu situasi di dalam hatinya. Kenapa harus Pra? Memang tidak ada orang lain di dunia ini? Lagipula, aku tidak jelek-jelek amat. Pasti ada orang asing yang suatu hari bisa mencintaiku, memberiku ketenangan yang selama ini tidak pernah berani kuimpikan. Dan orang itu tidak mungkin, Pra. Tidak mungkin.

***

 

Setelah mengunci pintu dan memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka berangkat dengan motor milik Rina. Motor yang juga belum lunas, karena memiliki anak ternyata tidak seindah yang dibayangkan sebagian orang. Sekali waktu Rina pernah menyuruh Kinan untuk belajar naik motor, tapi Pra tidak setuju. Kinan tidak berani melanggar karena terakhir kali ia mencoba untuk melanggar larangan Pra, kejadiannya tidak berujung baik. Biarlah, toh, ini cuma perkara sepeda motor. Pra belum sampai ikut campur tentang aku harus hidup dengan siapa dan harus mati dengan siapa.

 

“Memang mau keliling Indonesia?”

“Memang orang yang naik motor itu harus keliling Indonesia?”

“Aku nanya, memangnya kamu mau keliling Indonesia?”

“Ya… Nggak sih.”

“Ya udah, nggak usah.”

“Rina aja pake motor kalau kerja.”

“Kamu Rina bukan?”

“Hah?”

“Kamu jadi Rina dulu, baru boleh naik motor.”

“Gimana ceritanya jadi Rina?”

“Kawin denganku.”

 

Ketika tadi Rina datang menjemput, sebenarnya lamunan Kinan sedang mengembara ke sebuah bagian dunia yang cuma menjadi miliknya sejak ia dilahirkan. Tempat yang membuatnya sesak, tapi juga melapangkan hatinya; tubuhnya sendiri. Ia teringat kembali pada hari di mana bapaknya datang dengan seorang perempuan yang akrab dipanggilnya dengan sebutan Roh Jahat. Hahahaha, Kinan… Kinan. Seksi begitu dipanggil Roh Jahat, begitu kata Pra waktu pertama kali Kinan bercerita soal Iva, ibu barunya. 

 

“Ini Iva, Nan, semoga hadirnya bisa mengisi kehampaanmu setelah ibumu berpulang.”

 

Geram akan apa yang diucapkan bapaknya, Kinan pergi meninggalkan rumah dengan sebelumnya membanting pintu depan dengan begitu kuat. Sejak hari itu, muncul keberanian juga ketangguhan untuk tidak bertumpu pada siapa pun kecuali pada dirinya sendiri. Bahwa tiap-tiap unsur pemikiran yang tidak bisa masuk dalam pemahamannya, akan ia sangkal bagaimana pun caranya. Dan pada hari baik yang entah siapa telah menentukannya, ia menang. Anak tangga itu jadi saksi, bahwa tidak akan ada yang bisa melukainya, termasuk masa lalunya sendiri.

 

“Dia tidak bisa gantiin ibuku, Pra, bapak sudah habis akal.”

“Bapakmu nggak habis akal, Nan, dia cuma berusaha menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.”

“Menyelamatkan apa? Menyelamatkan siapa? Ibu?”

“Menyelamatkan dirinya sendiri.”

 

Bahkan seorang Pra tidak mampu mengubah kata hatinya yang sudah kusut, sudah tidak terselamatkan. Namun tentu tidak akan berhenti sampai di situ, Pra percaya detik waktu mengubah semua hal, termasuk dendam yang Kinan rasakan, termasuk perasaan yang belum Kinan rasakan. Perasaannya tertutup, bukan terkunci. Kalau pun Tuhan tidak mau balas jawaban, biar aku sendiri saja yang mengirimkan Kinan jawaban atas doa-doa yang tak pernah disembahyangkannya. Biar aku sendiri yang membuka pintu dalam rasa hatinya. Biar.

***

 

Kinan berjalan menuju pesisir. Seorang laki-laki berbaju putih dan berpeci hitam lusuh melambaikan tangan pada kinan. Kinan mendekatinya, keheranan. 

“Kamu ngapain pake peci segala?”

“Cocok nggak?”

“Cocok, tapi lebih cocok lagi kalau warna-warni.”

“Kamu ini, Nan, itu mah namanya topi ulang tahun.”

“Pra, ulang tahun, yuk?”

“Memangnya mau minta apa?”

“Secarik kertas dan selembar doa.”

 

Jantung Pra seperti ditempa besi besar. Ada apa dengannya? Sejak kapan ia menyukai perayaan? Sejak kapan ia tertarik pada kertas dan doa? Bukankah itu adalah dua hal yang paling ia benci? Ada apa dengannya? Apakah ia perlahan menerima serpihan dari puing-puing yang tersisa dari semestaku? Atau karena ia sedang menghidupkan kembali sastra lamanya yang semua orang kira sudah punah?

 

“Kalau kamu minta diajak tenggelam di tengah laut, aku tidak kaget, Nan,”

“Jadi sekarang kamu lagi kaget?”

“Kamu kamus bahasaku. Aku bisa berkata-kata atau tidak, kendalinya di kamu.”

“Pra…”

“Buat apa sih memangnya? Kertas dan doa?”

“Buat aku kasih lagi ke kamu.”

 

Itu adalah permintaan Kinan yang kedua, setelah pernah minta diajak ke tengah laut untuk pada akhirnya menenggelamkan dirinya. Masuk akal, bisa diberikan, tapi tidak akan. Pra tidak akan pernah mampu mewujudkan permintaan Kinan, tidak, walau mungkin sebenarnya dia bisa. 

 

Pra terdiam. Seorang penyair tidak akan cukup menghidupi dirinya sendiri, bila hanya dari puisi-puisinya. Aku memilih diriku yang sekarang, bukan karena Kinan tidak memberiku kesempatan untuk memilih, tapi karena di negeri ini, tidak semua sepadan dengan apa yang diimpikan. Aku cuma ingin selalu ada untuk Kinan, dan membukukan khayalan-khayalan yang ada di dalam kepalaku bukanlah jalan keluarnya.   

 

“Kamu nggak mau coba, karena kamu ragu. Dan selamanya kamu akan ragu kalau kamu nggak tahu gimana rasanya setelah kamu mencoba.”

“Lantas kalau sudah kulakukan, setelah itu apa, Nan?”

“Kamu bisa coba mengirimnya ke penerbit, Pra,”

“Setelah itu apalagi yang bisa kucoba? Mencoba untuk menunggu kabar dari penerbit-penerbit itu? Yang jelas langsung menaruh naskahku ke tempat sampah, atau paling-paling menyimpannya di gudang.”

“Setidaknya diciptakan, Pra. Apa salahnya?”

“Apa salahnya? Sungguh? Sungguh kamu ingin tahu apa salahnya? Yang aku lakukan sama saja dengan seorang perempuan yang membunuh sendiri janin dalam kandungannya.”

Kinan tidak menduga kalimat itu keluar dari mulut Pra. “Pra…?”

“Dan kamu ingin tahu apa salahnya? Salahnya adalah perempuan itu gagal membunuh calon bayinya, dan sekarang bayi itu tumbuh jadi seorang laki-laki paling sial di dunia, laki-laki yang sedang berdiri di hadapanmu sekarang, laki-laki yang tidak minta siapa pun menentukan nasib dirinya karena setiap malam aku ada di laut bukan untuk siapa, bukan supaya apa, tapi karena itu memang peta yang kupilih! Kamu ternyata benar tidak akan bisa mengerti, Nan, harusnya aku percaya itu.”

 

 Pra berlalu setelah membentak Kinan dengan suara kerasnya. Kinan membuka mulutnya karena tercengang dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut Pra. Seakan sadar dari amarah yang menguasai hati dan pikirannya, Pra kembali mendekati Kinan yang sudah bersiap untuk beranjak pulang meninggalkannya. Dan yang Kinan lakukan cuma berseru sekeras mungkin, “Kamu sakit!”

 

Pra menghentikan langkanya. Dia melihat ke arah Kinan tanpa lengah. Tidak, Kinan tidak menangis. Rasa benci sekaligus peduli sudah hancur dan terbentuk ulang kembali, dan selalu begitu. Kinan menatap kedua mata Pra dengan seluruh perasaan tidak suka yang ia miliki. 

 

“Maafkan aku, Nan,” ucapnya lirih. 

 

Pra tetap berusaha mendekat Kinan, berniat untuk merengkuh tubuh Kinan dan seperti tahu apa yang akan terjadi, Kinan mencegahnya. “Kalau kamu berani melangkah lagi, jangan berharap bisa melihatku lagi!”

 

“Kamu tahu maksudku tidak begitu, Nan…”

“Aku tidak pernah mendengar ucapanmu yang sejujur itu, Pra. Aku pikir aku sudah mengenalmu, tapi nyatanya tidak sebaik itu!”

“Pikiranku sedang kacau, Nan, sungguh aku tidak benar-benar berniat mengatakan itu.”

“Kamu dengar, ya. Kalau hidupmu kacau, berantakan, tidak karuan, itu bukan salah ibumu yang berhasil melahirkanmu walau kamu tidak menginginkannya! Kebencianmu terhadap dirimu sendiri, bukan jadi tanggung jawabku untuk meredakannya!”

 

Kinan meninggalkannya. Aku tidak akan lagi meletakkan peduliku barang sedikit saja untuknya, apa pun bentuknya. Betapa bodohnya laki-laki itu. Ia kira keangkuhannya bisa menolongnya dari realita hidup yang tidak pernah sesuai dengan keinginannya? Kalau dia sakit hati karena nasib buruk yang menimpanya, aku bisa mengerti. Tapi bila berujung jadi salahku karena aku cuma menginginkan ia memperbaiki bagian yang masih punya peluang? Tentu tidak bisa kuterima. Antara dia dan aku, memang tidak akan bisa ada perasaan yang campur-mencampur. 

*** 

 

Pada suatu hari, Pra datang ke tempat kerja Kinan untuk menemui sahabatnya yang sudah seminggu tidak ada kabarnya itu. Pulang sajalah, kau, Pra. Begitu jawaban yang ia terima dari Rina. Seakan ada penjelasan yang sengaja tidak Rina sampaikan, karena Kinanlah yang harus menyampaikannya secara langsung. Itu memang pertama kali ia geram denganku dan, ya, kupikir paling-paling akan mereda sehari atau dua hari. Dan kini sudah satu minggu apakah ia benar-benar mengamini sumpahnya itu? Untuk tidak menemuiku lagi? 

 

Sorenya, Pra mendatangi indekos tempat Kinan tinggal dan jawaban yang ia terima jutsru mengejutkan. “Baru kemarin, Pra. Dia melunasi uang sewa indekos yang belum sampai akhir bulan. Dia dapat kerjaan di Semarang.”

 

Pra berpikir sebentar. Biasanya Kinan tidak pernah sampai begini. Kalau soal belajar naik motor saja dia sampai minta izin dengan Pra dulu, mengapa hal besar seperti pergi ke Semarang tidak ia sampaikan? Lagi-lagi, tidak ada yang pernah benar-benar mengetahui isi hatinya. Kinan pernah mengira bahwa mungkin suatu hari Pra bisa memberikan kasih sayang dan kelembutan hati untuknya, dan kini Kinan tahu tidak seharusnya ia menaruh perkiraan itu. 

 

“Kau dengar, ya. Kalau hidupmu kacau, berantakan, tidak karuan, itu bukan salah ibumu yang berhasil melahirkanmu walau kau tak menginginkannya! Kebencianmu terhadap dirimu sendiri, bukan jadi tanggung jawabku untuk meredakannya!”

 

Kata-kata Kinan terbawa dalam pikiran Pra pada hari-hari kemudian. Cuaca sedang tidak sebaik biasanya. Berdasarkan info dari Kepala Meteorologi, akan terjadi gelombang tinggi dan angin kencang. Itu sebabnya sudah dua hari ini ia tidak pergi melaut. Dan seperti seorang nelayan kehilangan arah anginnya, seperti itu pula kondisi Pra setelah Kinan tidak terdengar lagi kabar keberadaannya. 

 

“Sakit kau, Pra?”

 

Ia menoleh ke arah Dawan yang baru saja selesai merapikan perahunya. Laki-laki berusia tiga puluh dua tahun itulah yang membawa Pra ke lingkup kelautan. Bukan karena Pra sangat meyakinkan, malah sebaliknya, sifatnya yang pesimistis dan skeptis itu lebih sering membuat Dawan ingin membiarkan Pra terlantar daripada membantu hidupnya menjadi lebih baik. Tapi setelah mengenalnya selang beberapa waktu kemudian, Dawan tahu bahwa Pra adalah orang yang tidak suka kepada hal-hal yang berkaitan dengan kehidupannya sendiri, walau bagian paling kecil sekali pun. Itu sebabnya, Dawan mengenalkan laut pada Pra. Hal baru yang tidak pernah ia kenal dalam hidupnya, supaya setidaknya, ia tetap hidup. Itu saja.  

 

“Aku cuma malas di rumah,” jawabnya.

“Kupikir kau melaut hari ini.”

“Memang cuacanya sudah membaik, Bang?”

“Belum.”

“Ya untuk apa aku melaut kalau begitu?”

“Bukannya itu kenapa kau mau ikut melaut denganku? Untuk pada suatu hari kapal yang kau bawa karam dan kau tenggelam bersamanya.”

 

Pra terdiam keheranan. Heran dengan alasan yang pernah ia ciptakan sendiri. Dapat ia rasakan pandangan Dawan menatapnya sinis sekaligus mengejek. Akhirnya ia mengambil pasir di dekatnya untuk menyibukkan diri dan mengalihkan kebingungannya. 

 

Dawan tertawa melihat raut wajah Pra yang serba salah. Ia tidak memasalahkan apa saja yang diinginkan Pra karena laki-laki yang tak pernah bernai bermimpi itu, harus punya satu tujuan yang setidaknya bisa menjadi tempat pengganti laut untuk pulang. 

 

“Aku tidak bisa menemukan, Kinan,” katanya lirih. Sebenarnya, ia tidak pernah memiliki keberanian untuk sesekali bercerita tentang Kinan kepada orang lain, apalagi kalau orang lain itu adalah Dawan. Ia tidak mau habis disindir olehnya seperti yang sudah-sudah. 

“Ada banyak perempuan dan kau menginginkan yang judes macam Kinanti itu.”

“Aku tidak menginginkannya.”

“Lantas mengapa kepergiannya harus menjadi tanggung jawabmu?”

 

Kedatangan Kinan dalam hidupnya adalah pemberian tiada terkira, meskipun ia juga tahu bahwa dengan begitu maka akan ada perpisahan yang baru, ia tahu sewaktu-waktu pemberian itu akan diambil kembali. Buatnya, pertanyaan kapan adalah bagian dari cara kerja semesta yang tidak akan pernah ia pahami, jadi seiring waktu berjalan, persiapan untuk kepergian yang akan datang itu akan terencana dengan sendirinya. Atau mungkinkah ini yang disebut-sebut dengan akhir sebuah cerita? Apakah Kinan benar-benar memilih hidupnya dan meninggalkan aku di sini? Tentu. Tentu saja dia memilih hidupnya tapi apakah caranya harus dengan tanpa jejak seperti ini? Aku sayang padamu, Nan. Dan itu bukan bagian dari larik sajak yang kutuliskan. Itu kebenaran yang tidak pernah bisa kusuarakan.

 

Pikiran-pikiran yang menggerogoti isi kepalanya itu melepaskan niatnya untuk menunggu matahari terbenam dan memutuskan untuk pulang. Ia berdiri tenang. Ia mulai berpikir bahwa bukan pekerjaannya untuk menghapus apa yang sudah tertulis, untuk menghentikan perjalanan yang berputar pada poros yang sama. Kalau memang ia ingin pergi, bukan kewajibanku untuk memintanya kembali. Itu pilihannya untuk memulai sekaligus mengakhirinya.

 

“Kau mau ke mana?”

“Aku lapar. Aku mau cari soto.”

 

Dawan memandang temannya itu dengan penuh kasihan. Langkahnya tidak pernah mengarah pada hal yang pasti. Ia selalu mengira-ngira apa yang ada di dalam kepala Pra itu. Satu-satunya keputusan paling masuk akal yang pernah didengarnya adalah ketika barusan ia memilih untuk pulang karena lapar. 

 

Pra berlalu sambil menenteng sepatunya ketika Dawan berteriak, “Dia dapat pekerjaan yang lebih baik, Pra!”

 

Pra menunduk. Ia mengandaikan jika manusia memiliki tombol ON/ OFF yang bisa ia gunakan kapan saja. Nan, bagaimana kalau kita pergi dan tidak kembali? Kadang aku berpikir bahwa tujuan hanya ada dalam kepala dan tidak pernah ada wujud aslinya. Karena bukankah hidup memang seperti laut, Nan? Sunyi, padahal berisik. Tenang, padahal pemarah. Luas, padahal tidak sama sekali. Aku tidak akan menjangkaumu, Nan. Jangan berharap ada puisi yang bisa selesai tuntas, karena itu tidak lebih dari kejahatan yang paling masuk akal, yang bisa kulakukan terhadap diriku sendiri. Harusnya memang tidak pernah ada kamu.

 

Tanpa menoleh, Pra berucap, “Itu pilihannya untuk meninggalkanku, Wan.”

“Dia tidak pergi, Pra. Dia cuma lari darimu.”

Tags: No tags

335 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *