Untitled_Artwork 18

Surat dari Leo

Untitled_Artwork 18


Dear Keana


Aku menulis surat ini setelah kemarin aku bertemu dengan Geez di sebuah coffee shop di daerah Kreuzberg. Tiba-tiba saja dia mengajakku minum kopi, aku senang, aku senang karena kupikir akan berjumpa denganmu lagi. Sebab aku ingat betul terakhir kali Geez bilang bahwa kamu akan pindah ke Berlin.


Tetapi, tidak. Dari luar kaca jendela, aku melihatnya memandang secangkir cappuccino dengan nanar. Ia terlihat berantakan, seperti membawa kabar buruk. Dan benar saja, kamu tidak ada. Kamu tidak di Berlin. Ada perasaan jahat sekaligus sedih yang kurasakan, ketika Geez bercerita bagaimana akhirnya ia memilih untuk tidak akan pulang ke Indonesia lagi. Untuk tidak akan pulang lagi kepadamu.


Keana, aku tidak pernah kaget bila banyak orang bisa dengan mudah jatuh hati denganmu, tapi sekarang aku kaget karena pilihanmu jatuh pada sosok laki-laki yang jelas tidak ada apa-apanya, bila dibandingkan dengan aku atau juga dengan Geez.


Ketika itu, ketika aku bertemu denganmu di Berlin pertama kalinya, dan dengan kondisi Geez yang saat itu tidak ada harapan sembuh, aku merasa beruntung. Aku bahkan sempat mengira, kalaupun Geez tidak berhasil, aku yakin kamu akan berujung memilihku. Nyatanya, kamu tidak memilih aku, pun tidak pada Geez.


Kenapa, Keana? Apa sebenarnya yang kamu cari? Ini benar-benar di luar perkiraanku. Kamu memilih seseorang yang jelas tidak pantas untukmu, dari segi fisik, juga dari materi. Aku cuma berharap tukang kopi itu bisa selalu membuatmu bahagia, walau aku dan Geez jelas yang bisa memberimu dunia.


Tadinya, aku membayangkan bila kamu pindah ke Berlin, walau dengan akhir kamu menikah dengan Geez, aku masih tetap bisa melihatmu setiap hari di rumah sakit. Kamu akan bekerja di rumah sakit yang baru kubangun sembari mengambil studi spesialismu di sini. Walau tidak memilikimu, setidaknya aku berada di dekatmu. Namun, sekarang kamu bahkan tidak ada di sini. Kamu memilih dongengmu itu, sosok laki-laki yang pekerjannya tidak tetap, penghasilannya pun tidak jelas. Ya, aku harap ia bisa membahagiakanmu dengan kopi-kopinya, tapi jangan pernah cari aku bila ginjalmu rusak lagi karena kebanyakan minum kopi.


Sekarang aku akan mencari perempuan biasa untuk kuajak makan croissant di Poznan, dan makan malam di Praha. Sebab, percuma kusiapkan dunia bila yang kamu inginkan cuma ibu kota.


Berlin, 8 Juli 2020, setelah membaca bab terakhir

dr. Leo Indraswanto, Sp.PD

Tags: No tags

286 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *