3

Kata — Bab 3

3

 

BAB 3 – KE NEVERLAND

 

“Kalo kamu, Ta? Kenapa pilih komunikasi?”

“Biar bisa belajar cara berkomunikasi dengan baik… mungkin?”

“Hasilnya belum juga keliatan ya, Ta?”

Binta tertawa kecil, “Mungkin aku nggak akan bisa lulus dari jurusan ini.”

“Nggak bisa sama nggak mau beda lho, Ta.”

“Hmm.. berarti aku dua-duanya.”

“Ta, kalo aku ajak ke satu tempat lagi, mau nggak?”

“Enggak.”

“Sepuluh menit deh, Ta.”

“Sepuluh menit?”

“Ya.. lebih dikit, sih…”

“Sebelas menit berarti?”

“Ta…”

Binta berjalan. Baru kali ini langit melihatnya dapat tersenyum karena hal yang memang membuatnya ingin tersenyum. Nug tidak ingin Binta menjadi Peterpan. Nug ingin Binta bisa jadi anak komunikasi yang baik. Nug ingin Binta bisa membuka hatinya untuk dunia. Nug ingin Binta bisa merasa lebih baik.

“Nug?”

“Iya, Ta?”

“Tadi aku kura-kura, kamu apa?”

“Burung merpati. Karena burung merpati itu melambangkan perdamaian.”

“Tapi burung merpati nggak bisa buat dunia ini damai, Nug.”

“Setidaknya, masih ada sisa perdamaian di dunia ini.”

“Kalau alasannya karena kamu ingin mengirim surat untuk Tuhan lewat burung merpati, aku setuju.”

“Kamu mau coba?”

Binta agak kaget, “Coba?”

Nug tidak menjawabnya lagi. Ia segera memberhentikan taksi dan meminta Binta untuk menurut dan ikut. Di dalam taksi, Binta mengeluarkan walkman kesayangannya itu. Nug segera menilik ke arahnya.  

“Masih zaman emang dengerin lagu pake walkman?”

“Kalau zaman berubah, apa yang kita sukai juga harus diubah?”

Apa yang selalu keluar dari mulut Binta, selalu membuatnya berdecak kagum.

“Punya kaset apa aja, Ta?”

“Cuma satu. Itu pun tanpa kuduga langsung ada di dalam walkman-nya ketika kubeli.”

“Hah? Kamu serius?”

“Iya. Aku serius. Stevie Wonder. Sudah bertahun-tahun, cuma sepuluh lagunya saja yang kudengar di telingaku.”

“Nggak bosan?”

Binta menggelengkan kepala dan Nug juga jadi ikutan geleng-geleng kepala. Ia masih tidak percaya ada manusia seperti Binta.

Don’t You Worry ‘Bout a Thing.”

“Kenapa, Ta?”

“Itu lagu Stevie Wonder yang paling kusuka. Kapan pun aku merasa kurang baik, lalu aku dengar lagu itu, rasanya semua kekhawatiran yang kurasakan malah mengajakku menari. Rasanya, everything’s will be alright.”

“Memang, Ta, semua pasti akan baik-baik saja.”

“Kamu orang pertama yang tahu lagu kesukaanku.”

“Sebuah kehormatan untukku, princess…”

“Aku bukan princess, Nug, aku ini cuma Binta.”

“Iya, Princess Binta, kan?”

“Binta, Nug. Binta aja.”

“Binta banget kali…”

Binta hanya berusaha menahan senyumnya. Ia lantas menengok ke kaca mobil, memerhatikan jalan raya yang dipenuhi motor dan bus kota, yang asapnya mengabu di udara. Sebenarnya ia tidak suka naik bus, tidak suka pakai masker karena ia takut polusi udara itu masuk ke paru-parunya, tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak mungkin naik burung gereja yang semakin hari semakin menjauhi kota ini.

“Aku tidak suka lagu, Ta.”

“Mmm?”

“Aku tidak pernah suka mendengar lagu.”

Ternyata ada satu manusia yang bisa hidup tanpa mendengar sebuah lagu. Dialah Nugraha. Binta langsung kesulitan untuk membalas perkataannya. Ia tidak mengira ada orang yang lebih menyedihkan ketimbang dirinya.

“Satu pun?” tanya Binta berusah memastikan.

“Satu pun.”

“Kenapa emangnya?”

“Mungkin karena dunia ini sudah terlalu menyeramkan, Ta. Aku cuma sudah tidak bisa lagi menikmatinya.”

“Dunia boleh menyeramkan, Nug, tapi duniamu tidak boleh ikut menyeramkan.”

Taksinya berhenti. Binta melongok, “Di mana ini, Nug?”

“Pasar Burung Pramuka.”

“Mau ngapain?”

Nug tidak menjawab, ia lantas turun. Binta menyusul setelahnya. Seperti namanya, pasar ini menjual banyak jenis burung. Walaupun ada juga yang menjual hewan-hewan lain seperti hamster dan sejenisnya. Tempatnya cukup sumpek, dan baunya… ya… bau kotoran burung. Binta terus mengikuti Nug dengan tangan yang terus ia gunakan untuk menutup hidungnya.

“Nah, ini dia tempatnya!” seru Nug dengan semangat.
“Toko Burung Kurnia?” Binta membaca plang yang menempel di depan toko. 
“Binta tunggu di sini aja ya, di dalam bau.”

Binta mengangguk. Sesekali ia membalas tatapan orang yang berlalu-lalang melewatinya. Ia jarang sekali berada di tempat seramai ini. Ia mengambil ikat rambut yang ada di saku celananya, kemudian menguncir satu rambutnya. Ia sudah mulai kegerahan. Ditambah lagi panas matahari yang menembus bangunan pasar ini.

“Sudah, Ta.”

Nug keluar dengan membawa sebuah burung dara berwarna putih yang berada di sebuah kandang cantik.

“Mau kamu apakan?”

“Mau ajak kamu kirim surat ke Tuhan.”

Binta masih belum juga paham dengan maksud Nug.

“Burung dara dan merpati itu mirip, Ta, karena mereka sama-sama termasuk ke dalam famili Columbidae.”

“Kamu pikir aku nggak tahu?”

“Enggak.”

“Aku tahu, Nug. Yang aku tidak tahu itu mau kamu apakan mereka?”

“Kan, sudah kubilang…”

“Iya, tapi aku tidak tahu mau kirim surat apa ke Tuhan. Mungkin Dia juga tidak mau membacanya.”

“Berarti kamu mau, kamu cuma terlalu cemas. Ta, denger ya, terlalu cemas sama sesuatu hal yang sebenernya nggak perlu dikhawatirkan itu sama sekali nggak ada gunanya.”

“Aku tahu, Nug…”

“Tapi kamu tidak mau mengerti.”

Baru kali ini Binta dibuat bungkam oleh orang yang bahkan belum sampai tiga hari mengenalnya.

“Hmm… apa, ya, yang belum kamu tahu lagi?”

Dari tadi Nug hanya bicara sendiri. Sepertinya ia sudah kebal dibenci Binta, atau mungkin ia senang dengan situasi seperti ini.

Nug bergumam dalam hati sambil tersenyum, Aku suka Binta yang tidak banyak bicara, namun ketika satu kalimat keluar dari mulutnya, seakan semesta ini malu karena kalah indah dengan ucapannya.

“Ta, kamu tahu nggak kalau burung merpati itu makhluk paling setia?”

“Tau. Karena mereka nggak pernah gonta-ganti pasangan.”

“Hmm… tau ya. Kalau… Aha! Kamu tahu nggak kalau burung merpati itu adalah makhluk paling romantis?”

“Aku tau, Nug, aku pernah mendengarnya di radio.”

“Oh… jadi Binta yang kuno ini suka mendengar radio juga?”

“Kuno? Kok aku kuno?”

Walkman-mu?”

“Itu nggak kuno, Nug. Dengan kita menggunakan sesuatu yang sudah tidak ada lagi di masa yang baru, bukan berarti itu kuno, tapi kita menghargai sejarah.”

“Pantas saja kamu masuk komunikasi.”

“Karena aku suka sejarah?”

“Nggak nyambung.”

“Logikamu yang nggak keren.”

Binta bicara dalam hati, Entah makan apa manusia ini tadi pagi. Entah tindakannya ini adalah tindak kriminal atau bukan. Pertama dia mengembalikan tawa yang selama ini dicuri oleh bumi, dan yang kedua dia berani mengajakku berbicara.

“Kamu hina saja aku terus, Binta Dineschara, aku senang.”

“Dihina, kok, senang.”

“Dihina sama makhluk sempurna adalah sebuah kehormatan.”

Binta tidak mau mengambil serius rayuan Nug. Walau ia ingin sekali tersenyum, walau merah di pipinya ingin sekali dimunculkan. Tapi tidak. Binta tidak suka kemakan sebuah rayuan konyol yang berujung pada cerita yang jauh dari kenyataan.

“Di dekat sini ada taman kota, kita buat suratnya di sana saja.”

“Kamu aja yang buat, aku nggak.”

“Tapi aku telanjur beli dua burung dara, Binta.”

“Ya sudah, kamu tinggal buat dua surat, susah banget.”

“Ta, kamu tahu nggak burung merpati itu nggak punya empedu. Jadinya mereka nggak pernah menyimpan kepahitan, makanya mereka itu makhluk yang tidak pendendam.”

“Tapi aku ini manusia, Nug, aku punya empedu.”

“Kamu memang orangnya gak mau kalah, ya?”

“Bukannya gak mau kalah, tapi kamu memang gak bisa menyamakan manusia sama burung merpati.”

“Cuma karena empedunya?”

“Karena manusia adalah pendendam, sedangkan burung merpati tidak.”

“Jadi kamu mendendamkan sesuatu?”

“Semua manusia pasti memendam sesuatu, Nug, dan apa yang didendamkan tidak bisa hilang.”

Tidak. Binta harus menghilangkan dendam dalam hatinya itu. Bagaimana pun caranya, kata Nug dalam hati.

“Sepertinya burung daranya sedih.”

“Jadi sekarang burung dara bisa menangis juga?”

“Bisa, kalau Bintanya tidak mau buat surat.”

“Apa sih, Nug?”

“Ayo lah, Ta, ini cuma surat.”

“Ya karena cuma surat aku tidak mau membuatnya. Nggak ada gunanya, tau?”

Mereka berdua berjalan seperti sepasang kekasih yang sedang saling diam karena sang tuan putri salam paham. Tapi mereka bukan sepasang kekasih. Mereka cuma Nug dan Binta.

“Sini, Ta.”

“Di sini?”

“Kalau di rumahmu kan jauh,” jawabnya sambil tersenyum jahil.

Nug mengambil secarik kertas dan bolpoin hitam dari dalam tasnya, kemudian duduk dan menulis sesuatu. Binta cuma berdiri dan tidak mau melihat apa yang Nug tulis. Ia tidak suka jadi manusia yang terlalu ikut campur akan sesuatu yang bukan urusannya.

“Kamu mau baca nggak, Ta?”

“Nggak.”

“Berarti aku bacain.”

“Ih, kan aku bilang aku nggak mau baca.”

“Kan, pertanyaanku tadi mau baca atau nggak, bukannya mau dengar atau nggak.”

Nug mulai membaca, “Untuk Tuhan. Jadi begini, kemarin aku bertemu salah satu cucu Hawa. Dia itu berbeda sekali, Tuhan. Dia tidak suka tersenyum. Sukanya merengut dan bicara ketus. Sepertinya terlalu banyak kepahitan dalam hatinya. Aku tidak tau juga sih, Tuhan, soalnya dia tidak suka banyak bicara. Dia banyak diamnya. Jadi aku cuma menebak-nebak. Tapi, Kau pasti tahu mengapa dia begitu kan, Tuhan? Untuk itu, tolong beri tahu aku cara supaya bisa menjadikan senyuman menjadi riasan yang selalu ada di wajahnya setiap hari.”

Binta menelan ludahnya. Lalu menelan ludahnya sekali lagi. Tiba-tiba saja ia merasakan ada ketukan drum berbunyi dari dalam jantungnya. Lama-lama semakin kencang, lama-lama semakin membuatnya senang.

Ini pasti cuma rayuan tingkat tinggi. Aku tidak boleh tergoda. Apalagi dengan makhluk asing yang baru berumur satu hari itu.

“Nah, sekarang gantian Binta deh…”

“Nggak mau.”

Nug mengambil tangan kanan Binta, memberinya pensil dan kertas, “Udah cepet tulis.”

Binta berpikir keras. Ia sama sekali tidak tahu harus menulis apa. Ia tidak tahu mau minta apa. Seperti yang sudah ia khawatirkan, ia yakin Tuhan tidak mau membaca surat darinya.

“Bagaimana bila suratnya nggak sampe ke Tuhan?”

“Kan, kamu juga tahu, Ta, tanpa dibuat jadi surat pun, Tuhan akan selalu tahu.”

Ia menulis satu kata. Kemudian ia coret. Ia menulis satu kalimat, kemudian ia coret. Sampai satu kertas itu habis dengan coretan yang sama sekali tidak bisa dibaca.

“Tenang aja, Ta, aku masih punya banyak kertas. Kalau habis, aku beli lagi, pokoknya aku tunggu sampai berhasil.”

Tuhan, Binta ingin belajar ikhlas. Tolong beri tahu caranya.

Binta memberi secarik kertas itu pada Nug. Nug membacanya, lalu memandangi Binta. Satu kalimat yang Binta tulis berhasil membekukan perasaan Nug seketika. Ia mengambil benang, dan mengikatkan kertas itu pada salah satu kaki burung dara putih yang sudah ia beli.

“Binta mau menerbangkannya?”

“Tidak diterbangkan juga tidak apa-apa.”

“Nggak mau?”

“Nggak.”

Akhirnya hanya Nug yang menerbangkan kedua burung dara itu. Binta hanya duduk menyaksikan burung-burung itu terbang bebas.

“Harusnya penjual burung itu dipenjara.” kata Binta tiba-tiba.

“Penjual hamster juga?”

“Juga.”

“Penjual ayam?”

“Semua penjual hewan harus dipenjara.”

“Jangan dong, Ta, penuh nanti penjaranya.”

“Gapapa, biar jalanan kota jadi sepi.”

“Kamu bener-bener nggak suka keramaian ya, Ta?”

“Kalau aku jawab iya, kamu udah telanjur ngajak aku ke pasar burung yang ramai tadi.”

“Ya udah, nggak usah dijawab.”

“Nug?”

“Iya, Ta?”

“Kalau kamu pergi dari planet ini, apa yang paling kamu kangenin?”

“Ya, apa adanya planet ini. Planet lain nggak ada yang seperti bumi, mungkin itu yang bakal aku kangenin. Kalau kamu, Ta?”

“Nggak ada.”

Setelah bicara begitu, Binta beranjak kemudian pergi. Nug sempat menghampirinya, namun langkahnya berhenti ketika Binta bilang, “Aku mau sendiri, Nug.”

***

Bi Suti mengetuk pintu kamar Binta berkali-kali, tapi tak ada jawaban. Ia hendak membawakan sarapan untuknya karena sudah pukul delapan lewat ia belum juga keluar kamar. Karena biasanya Binta yang paling semangat bangun pagi.

Bi Suti akhirnya masuk ke dalam, mengelus rambut Binta perlahan. Harusnya bukan Bi Suti yang melakukan itu, harusnya Binta bisa merasakan bagaimana rasanya dibelai oleh ibunya sendiri. Tapi Binta sudah lama membuang jauh-jauh pikiran semacam itu. Baginya, semua manusia itu punya kapasitasnya masing-masing.

Perlahan-lahan Binta membuka matanya. “Eh, pagi Bi Suti…”

“Kak Binta kecapekan, ya?”

“Mama udah bangun, Bi?”

“Sudah…”

“Ya udah, aku ke Mama dulu ya, Bi.”

“Sarapannya gimana, Kak?”

“Taruh aja di situ.”

Binta berjalan menuju kamar sang mama. Dengan separuh nyawa yang masih tertinggal di alam mimpi, ia segera mempersiapkan senyuman lebar yang seperti biasa ia lakukan.

“Pagi, Ma!!” seru Binta sambil memeluk mamanya dari belakang.

“Mama udah sarapan belum?”

“Maaf Binta nggak nemenin Mama sarapan tadi, Binta kesiangan bangunnya…”

Tidak ada respon. Tidak pernah ada respon. Entah sampai kapan Binta bisa bertahan dengan kondisi seperti itu. Tapi ia selalu bilang, bertahan itu bukan pilihan, tapi keyakinan.

Cerita sama Mama nggak ya soal kemarin…? Nggak usah deh, dalam hati Binta memutuskan untuk tidak memperpanjang cerita tentang Nug.

“Ya udah, Mama istirahat ya, Binta mau mandi abis itu ke kampus. Nanti pulang kuliah, Binta beliin bubur ayam kesukaan Mama. Ya?”

Kadang, Binta sering kehabisan topik untuk bicara dengan sang mama. Percakapan di antara mereka selama bertahun-tahun, ya, cuma tentang itu. Ia sering sekali berdoa agar Tuhan mau menukar kondisinya dengan sang mama yang lebih pantas untuk menikmati dunia.

***

Cahyo tidak bisa menjemput. Binta harus naik bus kota. Tapi mungkin ia lebih tenang karena tidak ada si pengusik itu (Nug). Di dalam bis, ia memilih untuk duduk di samping seorang nenek tua yang sedang tertidur pulas dengan kepala yang ia senderkan ke dinding bis. Supaya ia bisa duduk tanpa diganggu dan diajak bicara. Karena ia pernah duduk dekat seorang ibu-ibu dengan riasan tebal, dan mau tidak mau ia harus mendengarnya bicara perihal anaknya yang akan menikah dengan seorang pilot muda. Waktu itu Binta cuma mengangguk dan sesekali tersenyum walau telinganya sudah ingin copot.

“Neng, mau roti?”

Ia kira si nenek benar-benar tertidur pulas, ternyata cuma sekadar memejamkan mata.

“Nggak usah, Nek, saya sudah sarapan tadi di rumah.” Binta terpaksa bohong. Sarapan yang Bi Suti taruh di kamarnya tadi lupa ia sentuh. 

“Ini cuma sepotong roti, daripada nggak dimakan, kan sayang…”

Akhirnya Binta menerima sepotong roti isi coklat itu, “Makasih ya, Nek,”

“Neng mau ke mana?”

“Ke kampus…”

“Nah, makanya makan yang banyak supaya bisa konsentrasi di kelas.”

Binta cuma tersenyum. Ia tidak suka memperpanjang pembicaraan. Walau ia ingin sekali bilang, “Saya sudah tidak bisa berpikir dengan baik sejak mama sakit.”

Ia berdiri karena tempat ia berhenti sudah dekat, “Bang, kiri!”

Sebelum turun ia kembali mengucapkan terima kasih kepada nenek yang tadi memberinya roti.

Ia kembali berjalan menuju kelas. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih lima belas menit. Dan dosen yang sudah masuk dari pukul sepuluh tepat itu tidak pernah bisa diajak kompromi. Orangnya sangat disiplin dan tepat waktu. Tapi Binta tidak peduli.

Ia membuka pintu kelas, masuk tanpa merasa melanggar aturan, dan duduk di kursi yang biasa ia duduki. Anak-anak yang lain cuma bisa memandanginya dengan tatapan, Nih orang niat kuliah nggak sih?

Seperti yang sudah ia duga, dosen itu akan menyuruhnya untuk keluar. Lagi-lagi, ia keluar tanpa memberi pembelaan apa-apa. Ia keluar tanpa memberi tahu kalau ibunya itu punya sakit kejiwaan yang harus mendapatkan perhatian lebih. Ya, ia hanya melangkah keluar, menjauh dari manusia-manusia yang tidak pernah menganggapnya ada.

Tapi kali ini Binta tidak ke kantin. Ia duduk di samping pintu kelas, menyandarkan tubuhnya ke dinding, kemudian memejamkan matanya.

Binta pernah bilang, kalau satu-satunya pekerjaan yang bisa ia lakukan dengan baik adalah berkhayal. Ya, Binta senang sekali berkhayal. Apalagi sebelum tidur. Ia senang membayangkan Peterpan datang untuk mengajaknya pergi ke Neverland. Tapi ia berharap tidak lagi kembali ke bumi. Selamanya saja berada di Neverland. Tidak ada koruptor, tidak ada pencuri kebahagiaan, Neverland adalah dunia untuk bersenang-senang. Mungkin itu mengapa ia tidak pernah cocok hidup di bumi.

“Kalau kemarin kamu minta aku jemput, pasti sekarang nggak akan duduk di luar.”

Binta membuka pejaman matanya. Ada Nug yang berdiri di depannya dengan membawa sebotol air mineral, “Aku nggak haus.”

“Minum air putih itu bukan cuma ketika haus, tapi ketika kamu tahu kalau tubuhmu butuh itu.” 

“Tubuhku tidak butuh air putih.”

“Karena mereka nggak bilang ke kamu?”

Binta mengangguk. Nug tersenyum.

“Ke kantin aja, mau?’

Binta menggelengkan kepalanya.

“Binta maunya ke mana?”

“Nug mau nemenin Binta ke segitiga bermuda?”

Sekali lagi Nug tersenyum dan duduk di sebelahnya, “Binta mau ngapain di sana?”

“Tenggelam.”

“Aku tidak ingin tenggelam bersamamu, Ta. Kalau kamu memang ingin tenggelam, tenggelam saja, boleh kok. Tapi aku tidak ikut, nanti yang menyelamatkanmu siapa?”

“Kita tenggelam saja sama-sama, nanti kita akan berada di ujung dunia yang tidak ada manusianya. Paling hanya ikan paus.”

“Binta….”

“Nug, kamu bukan manusia, kan?”

“Kok gitu?”

“Soalnya kamu menyenangkan.”

 

Nug kembali tersenyum, “Iya, aku bukan manusia. Aku ini ikan paus yang senang bisa membuat Binta senang.”

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *