Untitled_Artwork 42

Lembaran yang tertinggal di bandara

Untitled_Artwork 42


(Surat terakhir dari Geez untuk Ann)


Sejak dulu, di antara kita berdua, kamu yang paling pintar menulis. Dan sejak dulu juga, aku yang kebagian tugas untuk membacamu. Ann, kamu ceritaku yang sudah selesai namun tak akan pernah habis kuceritakan.


Tidak. Aku tidak sedang merapikan hidupku yang berantakan, karena aku baik-baik saja. Kamu ingat Mei tahun lalu? Sewaktu kita berpisah? Ya. Kita berpisah dua hari sebelum hari ulang tahunku. Tadinya, kupikir, kita bisa merayakannya di Berlin. Ada restoran yang ingin kutunjukkan padamu, restorannya romantis, tidak cocok untukku tapi aku tahu kamu pasti menyukainya.


Setahun sudah ya, Ann? Rasanya baru seperti kemarin aku menghampiri gadis kecil dengan baju seragam yang kebesaran. Ia berdiri sendirian di barisan paling belakang yang mungkin sekarang sangat melegenda. Bila tidak untukmu, setidaknya untukku. Ann, sekarang kamu sudah tumbuh dewasa, semakin cantik, semakin nyaman dengan penampilanmu yang aku tahu dulu kamu tidak pernah percaya diri. Perubahan baik dalam hidupmu kini jadi alasanku melanjutkan hidup.


Aku memutuskan berbicara lagi denganmu melalui surat ini, sebab kudengar Leo juga mengirimkanmu salam perpisahan. Aku tidak pernah menyangka jika ia juga menaruh hati padamu. Walau harusnya bisa kumengerti, betapa mudahnya untuk jatuh cinta denganmu.


Awalnya aku agak bingung, apa isi surat yang tepat untuk kuberikan padamu. Karena kalau harus tentang perpisahan, itu sudah kita lakukan. Maka yang akan kusampaikan padamu adalah sebuah batas. Sebab setelah dari surat ini kamu baca, tidak ada lagi yang bisa kita lewati.


Maafkan aku, Ann. Untuk menuntut banyak hal sulit tanpa peduli kamu mampu atau tidak. Untuk membiarkanmu menyayangi seseorang yang jaraknya jauh sekali dari jangkauanmu. Untuk memintamu menunggu dengan banyak kebingungan yang harus kamu telan sendirian. Untuk memaksamu mengerti caraku mencintai. Dan untuk segala hal yang tidak sepatutnya kamu terima. Aku minta maaf.


Di awal tadi, aku bilang bahwa aku tidak sedang merapikan hidupku sebab aku baik-baik saja. Sebenarnya itu bukan karena aku kuat, Ann, tetapi karena aku ingat permintaan terakhirmu di bandara adalah supaya aku baik-baik saja. Ya, Ann. Aku tidak berantakan dan akan melanjutkan hidupku, karena itu adalah satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk mewujudkan perasaan cintaku padamu. Itu caraku, Ann. Cara yang selalu kamu bilang aneh dan tidak masuk akal, tapi dengan itu, aku mempertahankanmu. Walau bentuknya tidak di sampingmu, tapi selalu ada bagian dari diriku yang hidup untukmu. Dan untuk yang itu, maaf, aku tidak bisa menghilangkannya, karena itu bukan kendaliku. Ya, Ann. Aku tidak akan pernah bisa mengendalikan diriku sendiri untuk berhenti menyayangimu.


Beberapa minggu lalu, ada seorang perempuan menyatakan cintanya padaku. Dia tidak mirip kamu. Jauh bila harus kayak kamu. Dan aku pun tidak mencintainya. Bukan karena dia tidak suka matcha, bukan karena dia tidak seperti bunga lily, bukan. Aku tidak mencintainya karena kupikir ia bisa membuatku merasakan hal yang sama seperti ketika aku dulu denganmu. Aku tidak mencintainya karena aku tidak berusaha untuk itu. Sampai ketika pada hari ini aku menuliskan surat untukmu, karena dengan ini kuputuskan untuk berusaha. Bukan berusaha membuka hati, Ann, tapi untuk menerima orang lain.


Aku mungkin tidak akan pernah bisa mencintainya sebesar aku mencintaimu, tidak, tidak akan mungkin. Dan aku tidak mau berusaha melupakanmu karena itu semakin membebaniku. Tapi aku bisa menemaninya berjalan ke depan, ke sebuah tujuan yang nyata adanya, ke sebuah kota besar yang ramai yang tidak pernah memperlakukanmu dengan baik. Karena kupikir, kalau jawabannya harus selalu kamu, maka baik-baik saja akan jadi permintaanmu yang paling sulit untuk diwujudkan.


Dulu, kupikir yang kuinginkan cuma akhir cerita yang bahagia. Namun ternyata hidup lebih dari itu, Ann. Dan kamu benar soal ending cerita, kita butuh yang baik, bukan cuma bahagia. Kamu cerita bahagiaku, Ann, tapi tidak cukup baik untukku. Kini aku semakin mengerti mengapa kita berpisah, karena berpasangan bukan jadi tujuan yang kita butuhkan. Terima kasih untuk perasaan senangnya selama lebih dari sepuluh tahun itu.


Tetap jadi dirimu, Ann, karena dengan begitu aku tahu aku selalu mengenalmu.


Dari ceritamu yang tidak tergantikan,

Gazza Chayadi

Untitled_Artwork 22

Di balik fiksi Geez & Ann

Untitled_Artwork 22


Ini bukan klarifikasi. Rasanya aneh juga kalau penulis harus klarifikasi segala sama bukunya sendiri. Tapi karena saya sayang kalian, sedikit, dan karena saya tahu bingung itu nggak enak, ya walau untuk beberapa keadaan menjadi tidak tahu adalah keadaan paling menenangkan, dan karena juga saya terlalu menyukai cerita ini, kita bongkar saja rahasianya. Rahasia yang sudah tidak lagi jadi rahasia, karena buat apa saya pendam, kalau satu-satunya orang yang paling tidak boleh tahu soal teka-teki ini justru jadi orang pertama yang memecahakannya.


Geez & Ann. Diambil dari nama Gazza Chayadi dan Keana Amanda. Cerita tentang dua manusia yang harus berhadapan dengan jarak yang membuat mereka harus memilih antara cinta dan cita-cita. Beberapa bulan lalu, bagian ketiga dari trilogi bukunya, yang merupakan penutup cerita mereka, baru saja terbit. Dan mungkin sudah banyak yang tahu bagaimana akhir cerita mereka. Tenang, tidak akan saya spoiler di sini, toh, bukan itu tujuan saya membicarakannya.


Empat tahun lalu, ketika saya memutuskan untuk bergabung ke wattpad, sebuah platform menulis. Ketika itu saya bingung, apa ya yang perlu saya bagikan di sana? Padahal ketika itu, di laptop saya cuma ada cerita Geez & Ann. Karena cerita itu sebenarnya sudah saya simpan di microsoft word lebih dari enam tahun lalu. Ya, ceritanya sudah lama sebenarnya. Tapi nggak, saya memilih untuk menerbitkan cerpen sederhana. Kalau ada yang ingat, judulnya 7 hari. Cerpen yang jadi awal mula novel Kata. Kalo ditanya kenapa saya nggak langsung membagikan Geez & Ann saja ketika itu, jawabannya sederhana: saya takut.


Dan jawaban sederhana itu yang mau saya bahas. Dan untuk membahasnya, saya harus mengajak kalian untuk kembali ke 8 tahun lalu.


8 tahun lalu, lama ya? Saat itu saya masih kelas 3 smp waktu sekolah mengadakan acara pensi, pentas seni. Dan zaman saya waktu itu, belum boleh manggil band/artis gitu dari luar, jadi pensi biasa, biasa banget. Cuma biasanya ada alumni yang datang, bahkan ada satu band yang selalu ditunggu-tunggu, ya, sama tipikal anak SMP centil pada umumnya, termasuk teman-teman saya. Dan hari itu, mereka udah duluan ke depan panggung, dan kalau nggak salah saya masih di kelas, lupa, nggak ingat lagingapain. Terus selang beberapa waktu, saya keluar, niatnya mau nyusul mereka. Tapi penuh banget. Untuk ke tengah-tengah aja susah, apalagi ke depan. Saya yakin banget mereka pasti di depan, karena katanya, vokalisnya ganteng.


Terus ya udah, saya berdiri di barisan paling belakang, bahkan itu bisa dibilang udah nempel sama tembok. Ya udah saya senderan aja. Merhatiin orang loncat-loncat, nyanyi-nyanyi, dalam hati ngebatin, pada ngapain sih. Terus nggak lama, hadeh saya masih deg-degan tiap kali mengingat ini, terus nggak lama, ada seseorang berdiri tepat di sebelah saya. DUH. Deg-degan gini. Huh, oke.


Dia pakai seragam putih abu-abu, hoodie warna hijau tosca, kacamata yang bentunya standar, dan sepatu converse. Bahkan warna sepatunya udah pudar, kayak udah lama nggak dicuci. Ya jadi jelas kalo dia bukan seangkatan saya. Tapi saat itu saya pikir kayak, ya udahlah. Dan baru aja saya mikir, tiba-tiba ini orang ngomong, dia bilang, “Ciee, pasti nonton vokalisnya ya?”


Wkwkwkwkw. Ya. Persis sekali seperti di novel. Dan itu awkward banget. Parah. Kayak. Apaansi ni orang. Saya nengok ke kanan kiri nggak ada orang, ternyata di belakang itu cuma ada saya dan dia. Ya karena saya bingung, dan super awkward, ya saya cabutlah, saya kabur ke kantin. Jadi dulu di kantin SMP, sohib saya tuh ibu-ibu yang jualan ciki. Dan posisinya memang membelakangi lapangan. Makanya saya pikir, untuk kabur ke situ jadi pilihan tepat. Kayak dikejar-kejar hantu padahal nggak. Ya udah saya duduk. Si ibu yang jual ciki nanya, “Kenapa kak?” Saya cuma geleng-geleng kepala, sambil ambil sebungkus ciki, terus duduk, terus makan cikinya. Duh, aneh banget perasaan saya ketika itu.


Dan makin aneh lagi, tiba-tiba orang tadi tuh muncul depan saya. Sok acting banget lagi. Ya nggak tahu sih acting atau nggak, tapi dia ikut-ikutan beli ciki yang sama. Dan beruntungnya saya salah satu temen saya tiba-tiba manggil dan nyamperin saya, “Tsan, gue cariin juga.” Terus saya cepat-cepat narik tangan teman saya untuk pergi dari situ. Mungkin karena gerak-gerik saya yang sangat nggak kayak biasanya. Teman saya nanya, “Tsan, lo sakit? Aneh banget kayak cemas gitu, kayak dikejar hantu.” Terus saya bilang aja “Iya, emang lagi dikejar hantu.”


Akhirnya saya cerita ke teman saya itu, dan ternyata, orang aneh yang membuat saya merasa ikut aneh itu namanya… namanya Geez.


Dia alumni sekolah saya juga ternyata, bahkan dia adalah sahabatnya kakak teman saya tadi. Dia nemenin teman-temannya yg lg manggung, dia emang nggak ikutan ngeband. Teman saya juga bilang, “Anaknya baik kok. Di antara temen-temen kakak gue, dia yang paling diem.”


Diem? Diem dari mana? Nggak kenal aja udah sok kenal, sok ngajak ngobrol. Ah, tapi saya berusaha untuk membenarkan semua dugaan saya ketika itu. Kayak, ya udahlah, nggak bakal ketemu lagi ini.


Dan ucapan saya barusan, malah jadi kenyataan. Kenyataan yang kebalikan. Pas bubaran sekolah, dan semua teman-teman saya udah pada pulang, dan saya masih nunggu dijemput, saya nunggu di pos security. Biar aman. Dan di samping pos security ada tiga atau empat motor gitu. Salah satunya motor vespa. Warna putih. Jam 3 sore. Saya masih inget banget, saya masih inget bahkan masih bisa terdengar di telinga saya waktu suara dia dan teman-temannya muncul lagi. Dan benar aja. Saya kayak, kok, kok gini sih. Kok masih ada di sini sih. Kok belom pulang.


Saya cukup panik ketika itu, karena dia dan teman-temannya semakin mendekat. Di situ saya udah mikir aneh-aneh, cuma untungnya saya lagi sama satpam jadi kalo pun dia mau macem-macem, ya dia nggak mungkin macem-macem juga sih.


Dia persis di depan saya lalu bicara, “Eh, ketemu lagi.”

Saya diem. Saya gngak mau nanggepin. Toh dia juga belum tentu ngomong sama saya.

“Belum dijemput?”

Sial dia ngomong lagi.

“Pak, jagain ya, temenin sampe dijemput, kalo hilang bahaya.”

Saya lupa dia ngomong apa aja, tapi kurang lebih kayak gitu, dan sebelnya, ternyata si pak satpam ini kenal juga sama dia. Saya cuma diem. Aneh banget rasanya. Terus dia ngambil motor, yang ternyata vespa warna putih tadi itu punya dia, terus sebelum cabut dia bilang. “Pulang ya? Hati-hati di jalan, kalau ada yang nanya dijawab, jangab disombongin.”

Hahahahaha


Abis dia pergi, saya senyum-senyum sendiri. Aneh banget rasanya. Saya kalo harus disuruh mengingat lagi mau senang gimana, mau sedih juga gimana. Huft. Oke, saya coba lanjutin ceritanya karena kalo boleh jujur untuk mengingat-ingat kyk gini lagi tuh agak berat, ya.


Sesampainya di rumah, saya buka komputer, waktu itu saya gak punya handphone, jd kalo hubungin temen pakai yahoo messenger atau pinjam hp ibu. Saya langsung lapor lah sama temen saya, saya cerita apa yang terjadi tadi. Dan temen saya bilang, “Iya tadi dia ngechat gue di BBM. Katanya lo kocak, diajak ngomong diem aja, terus dia minta juga pin bb lo, ya gue bilang lo nggak punya hp,”


Dan, cerita Geez & Ann bermula dari situ.


Saya nggak pernah tau bahwa tiba-tiba aja, ya… astaga, cuma dia yang bikin saya habis kata kayak gini. Ya, saya nggak perlu lah cerita detail, cuma kalo tentang sosoknya yang nyata, itu benar adanya. Dia hidup di planet yang sama kayak kita. Sampai ketika dia harus kuliah ke Jerman, setelah tiga tahun dekat, ya, seperti yg saya bilang, antara cinta dan cita, kadang kita emang harus milih. Akhirnya di ke Jerman, dan awalnya semua masih baik-baik aja. Sampai mulai dari kesibukan, perbedaan waktu, buat saya merasa ada dia atau nggak jadi sama aja, jadi nggak ada bedanya. Terus saya milih untuk selesai. Lagipula, selama ini juga nggak pernah ada yang pernah benar-benar dimulai. Jadi setelah 3 tahun, kedekatan itu harus terasing kembali. Dia kembali ke hidupnya, pun dengan saya.


Dia istimewa. Dia berarti banget buat saya. Ya yang seperti banyak orang bilang, rasa pertama itu susah untuk digantikan dengan rasa berikutnya. Mungkin rasa berikutnya bisa lebih indah, tapi yang pertama, tidak tergantikan. Ini salah saya, setelah dia nggak terdengar kabar, saya coba untuk jalin cerita dengan orang lain, dan selalu berujung gagal, karena saya selalu cari yang kayak dia dan itu salah. Itu nggak benar. Dan tiap kali saya coba untuk lupa, kenangan-kenangan itu muncul menggerogoti perasaan saya sendiri. Bahkan sekarang tiap kali buka laptop dan iseng buka skype, dia bahkan udah nggak pernah online lagi, padahal dulu setiap hari, sampai ketiduran, saya ingat waktu pertama kali dia sampai ke flat dia. Dia nunjukin ini tempat sampahnya, ini tempat aku bikin mi, kalo ini meja, nggak terlalu besar sih. Saya terlalu mengenal dia, sampai terlampau banyak hal di diri saya sudah jadi bagian dari dia.


Lalu saya sadar bahwa, ketika saya milih untuk selesai, ternyata perasaan itu justru baru memulai. Saya baru sadar saya nggak bisa kalo nggak ada dia, ketika dia udah nggak bisa ada sama saya. Saya sadar saya sudah menaruh segenap perasaan saya di langkah pertama saya ketemu dia di barisan paling belakang, ketika sekarang di sudah berpuluh ribu kilometer jauh dari saya. Saya menyanginya, hanya saja sayaterlambat.


Dan, itu dia. Itu alasan saya menulis. Itu alasan mengapa sekarang saya menulis ini semua karena, itu adalah satu-satunya cara untuk terus menyayanginya. Tahun 2017, buku Geez & Ann terbit. Yang pertama dan yang kedua. Lega sekaligus sesak, senang sekaligus sedih. Karena pada saat yang sama, saya sudah membiarkan ia dimiliki semua orang, dikagumi oleh kalian pembaca saya, bahwa dengan menulis, saya sudah menyimpan sekaligus melepasnya.


Saat itu, nggak pernah terbesit di kepala saya bahwa suatu hari dia akan membacanya. Setahun setelah bukunya terbit, di penghujung tahun 2018, ibu dari sahabat saya tadi meninggal dunia. Ya, teman, sahabat saya yang pertama kali mengenalkan saya pada Geez. Di rumahnya malam itu, ketika lantunan ayat-ayat quran terdengar, pandangan saya tertuju pada sosok laki-laki yang tentu saja tidak pernah jadi asing buat saya. Dia duduk dekat tangga. Mengenakan kemaja panjang warna hitam, dan masih kacamata yang sama. Saya langsung membalikan badan dan berjalan ke area luar. Duduk di antara teman-teman saya dan terus menduduk. Saya cuma nggak mungkin harus papasan sama dia lagi. Perasaan saya benar-benar campur aduk. Tapi bukan dia namanya kalau tidak menyebalkan. Tanpa basa basi, dia datang dan duduk tepat di sebelah saya.


Mengajak teman-teman saya ngobrol, “Jadi, kabar gimana nih?” katanya menyapa semua orang. Saya tetap diam. Padahal saya kangen, kangen sekali. Astaga, rasanya cuma baru seperti kemarin. Nggak ada yang berubah.

Lalu dia bilang, “Nih denger-denger ada yang jadi penulis, ya?”


Duh. Mati saya. Kok dia tau sih. Oke tenang, stay cool, mungkin yang dia maksud orang lain, enggak. Tentu saja itu saya.


“Tsana nulis buku ya?”


Caranya memanggil nama saya dengan sempurna. Dia nggak pernah menyingkat, Tsan atau Na, selalu Tsana. Saya mengelak, “Nulis buku? Nggak.”


“Kamu kalo boong tuh lucu tahu, nggak? Pernah nggak kamu ngaca kalo lagi boong gitu?”

Saya ingin sekali tersenyum. Tapi nggak. Saya memilih untuk pulang. Saya cuma… saya nggal bisa ada dia. Susah. Sulit sekali menyembunyikan perasaan kalau ada dia.


“Aku antar, ya?”

“Aku bareng temanku.”

“Oh, oke, hati-hati.”

Dan sebelum pergi dia sempat bilang, “Aku senang. Aku senang ketemu kamu lagi.”


Semesta memang hobi bercanda. Saya nggak mungkin melanjutkan kembali cerita yang sudah lama selesai. Tapi kemungkinan itu dibalas sebuah kejelasan ketika setelah bertahun lamanya, namanya muncul di notifikasi hp saya.

Saya bacain ya, kebetulan masih saya simpen. Kebetulan.


Halo, tsana

Halo

Bukunya bagus

Pas baca itu, saya langsung membelalak. Rasanya kayak… kayak main petak umpet terus ketauan. Tapi rules number 1: stay cool.

 

Buku apa?

Ya buku kamu

Hah buku apa?

Tsana….


Selalu ada satu orang yang nggak bisa kita boongin ya. Dan buat saya orang itu… dia sih. Percuma mau bohong gimana juga, karena dia pasti udah lebih tahu dari awal.


Iya, makasih ya,

Aku boleh minta tanda tangannya gak?

Hah? Ngapain minta tanda tangan segala

Tiap pembaca pasti pengin buku yg dibacanya ditanda tanganin sama penulisnya

Saya nggak suka berdebat dengan dia jadi saya memilih untuk bilang:

Ya udah, nanti

Aku ke rumah ya

Apaansih jangan, udah di gojekin aja.

Okeee kesatria hijau meluncyuuurr


Dia memang suka punya istilah aneh-aneh gitu, gojek dibilang kesatria hijau. Terus nggak lama kesatria hijaunya datang, di halaman depan ada notes bertuliskan halo, boleh minta tanda tangannya gak?.


Bukunya dateng, saya tanda tangan, saya foto ke dia dan bilang, “Udah ditanda-tanganin nih, aku gojekin lagi ya ke rumah kamu?”

“Jangan, nanti malem aku ambil.”


Dan malam itu, ketika akhirnya setelah sekian lama langkahnya kembali, ada perasaan lama yang minta disapa lagi. Saya nggak nyuruh dia masuk, walau dia bilang, “Nih tamunya gak disuruh masuk nih?”

“Udah deh kan cuma ambil buku.”

“Berarti ngobrol bentar di dluar gapapa lah ya?”


Mana mungkin menolak? Mana mungkin saya bilang nggak? Ketika malam itu adalah momen yang saya tunggu-tunggu, yang tanpa saya sadari saya menulis buku Geez & Ann untuk nunggu dia datang dan membacanya.


Di depan mobilnya, kami bersandar, melihat bintang yang malam itu seperti ikut mendengar cerita. Saya senang sekali melihatnya baik. Dia bilang juga dia menangis membaca buku yang kedua. Terus saya bilang, “Bukunya belum selesai, aku sedang mengerjakan bagian terakhirnya.”


“Oh iya? Buat yang epic ya?”

“Nggak tahu, deh. Akhirnya mereka pisah kayaknya.”


Dia diam. Hening.


“Tsana, kita gak pernah tau hari esok…”


Biasanya saya nggak pernah nanggepin dia kalau dia sudah bilang gitu, tapi malam itu saya bilang, “Kayaknya udah terlalu lama aku nunggu hari esok, kayaknya udah waktunya aku buat jawabanku sendiri. Pulang, Geez. Pulang sebagaimana seharusnya.”

Dia memahami tanpa perlu jelas saya terangkan bahwa semua memang sudah selesai, tanpa pernah dimulai. Dan sekarang ketiga bukunya sudah saya rampungkan, dan dengan itu, saya, mengikhlaskannya.

Untitled_Artwork 18

Surat dari Leo

Untitled_Artwork 18


Dear Keana


Aku menulis surat ini setelah kemarin aku bertemu dengan Geez di sebuah coffee shop di daerah Kreuzberg. Tiba-tiba saja dia mengajakku minum kopi, aku senang, aku senang karena kupikir akan berjumpa denganmu lagi. Sebab aku ingat betul terakhir kali Geez bilang bahwa kamu akan pindah ke Berlin.


Tetapi, tidak. Dari luar kaca jendela, aku melihatnya memandang secangkir cappuccino dengan nanar. Ia terlihat berantakan, seperti membawa kabar buruk. Dan benar saja, kamu tidak ada. Kamu tidak di Berlin. Ada perasaan jahat sekaligus sedih yang kurasakan, ketika Geez bercerita bagaimana akhirnya ia memilih untuk tidak akan pulang ke Indonesia lagi. Untuk tidak akan pulang lagi kepadamu.


Keana, aku tidak pernah kaget bila banyak orang bisa dengan mudah jatuh hati denganmu, tapi sekarang aku kaget karena pilihanmu jatuh pada sosok laki-laki yang jelas tidak ada apa-apanya, bila dibandingkan dengan aku atau juga dengan Geez.


Ketika itu, ketika aku bertemu denganmu di Berlin pertama kalinya, dan dengan kondisi Geez yang saat itu tidak ada harapan sembuh, aku merasa beruntung. Aku bahkan sempat mengira, kalaupun Geez tidak berhasil, aku yakin kamu akan berujung memilihku. Nyatanya, kamu tidak memilih aku, pun tidak pada Geez.


Kenapa, Keana? Apa sebenarnya yang kamu cari? Ini benar-benar di luar perkiraanku. Kamu memilih seseorang yang jelas tidak pantas untukmu, dari segi fisik, juga dari materi. Aku cuma berharap tukang kopi itu bisa selalu membuatmu bahagia, walau aku dan Geez jelas yang bisa memberimu dunia.


Tadinya, aku membayangkan bila kamu pindah ke Berlin, walau dengan akhir kamu menikah dengan Geez, aku masih tetap bisa melihatmu setiap hari di rumah sakit. Kamu akan bekerja di rumah sakit yang baru kubangun sembari mengambil studi spesialismu di sini. Walau tidak memilikimu, setidaknya aku berada di dekatmu. Namun, sekarang kamu bahkan tidak ada di sini. Kamu memilih dongengmu itu, sosok laki-laki yang pekerjannya tidak tetap, penghasilannya pun tidak jelas. Ya, aku harap ia bisa membahagiakanmu dengan kopi-kopinya, tapi jangan pernah cari aku bila ginjalmu rusak lagi karena kebanyakan minum kopi.


Sekarang aku akan mencari perempuan biasa untuk kuajak makan croissant di Poznan, dan makan malam di Praha. Sebab, percuma kusiapkan dunia bila yang kamu inginkan cuma ibu kota.


Berlin, 8 Juli 2020, setelah membaca bab terakhir

dr. Leo Indraswanto, Sp.PD

IMG_3294

Aku menulis ini karena aku takut lupa

IMG_3294

 

Aku menulis ini karena aku takut lupa dengan hari ini. Mungkin spontan kamu akan bilang, Ah, mana mungkin kamu bisa lupa. Hei, Tuan. Apa kamu lupa siapa di antara kita yang punya super memori? Hahahaha, jadi, untuk sekali ini, jangan protes dan biarin aku yang menang.

 

Sebenarnya juga, tulisan ini adalah lanjutan dari tanda titik sebelum kalimat selamat tidur. Nggak tahu kenapa aku baru bisa sebebas ini menuliskanmu ketika kamu sudah terlelap. Tenggelam jauh ke dalam mimpi-mimpi yang, entahlah, kamu belum pernah menceritakannya. Tapi aku mau, aku mau salah satu mimpiku akhir-akhir ini bisa kejadian beneran suatu hari nanti. Iya. Mimpi yang itu.

 

Jadi, bagaimana rasanya? Bangun di satu pagi yang akan jadi dirimu versi terbaru sampai setahun ke depan? Mmm… agak malas untuk mengakui ini tapi, yang pasti, kamu akan semakin keren dan semakin menginspirasi banyak orang. Beberapa hal yang aku yakini entah juga kenapa bisa seyakin itu.

 

Kamu tuh sadar nggak sih sebenarnya aku ini lumayan pelupa. Bahkan di antara teman-temanku, aku yang paling lemot dan lelet. Dua hal yang sangat mendukungku untuk jadi pelupa. Tahu, ya? Tahu sih kayaknya. Ini sebenarnya alasan kenapa aku menulis, alasan yang jarang kusampaikan ke publik. Ya… sebenarnya nggak pelupa-pelupa banget sih, cuma memang, aku cuma bisa mengingat hal-hal yang benar-benar berhasil masuk ke dalam duniaku. Karena nggak semua kuizinkan masuk, makanya banyak orang nggak heran kalau aku kelihatan sangat kesepian.

 

Walau kamu berhasil masuk ke dalam duniaku, diterima semestaku bahkan diterima oleh tiap sudut yang ada di dalamnya, aku akan tetap menuliskanmu walau cuma dalam sebuah kertas yang, ah, kamu nggak akan bisa membacanya. Tapi gapapa sih, toh, kamu sudah bisa baca aku tanpa perlu berusaha terlebih dulu.

 

Curang banget. Nggak adil. Ternyata kamu yang dapat hak veto itu, hak istimewa untuk bisa melakukan telepati denganku setiap waktu. Iya… telepati. Hal romantis yang menurutmu nggak lebih dari sesuatu yang logis. Kadang, aku kesulitan untuk bicara sama kamu. Tapi, kabar baiknya, kamu selalu memahami imajinasi-imajinasiku yang mungkin, sebenarnya kamu nggak benar-benar ngerti. Makasih, ya? Makasih nggak minta aku berubah.

 

Mungkin itu kenapa semestaku dan teman-temannya sangat senang denganmu. Mungkin itu juga yang jadi alasan kenapa aku nggak kaget kalau ada banyak orang yang mengagumimu. Dan… aku sangat berterima kasih untuk itu, untuk kamu ada di dunia ini. Ain’t nothing better than that.

 

Bertahun-tahun aku melukis kanvasku dengan warna hitam, sampai suatu hari pukul 5.44 sore, kamu bilang, “Tsana, semangat terus ya!”

 

Kita memang nggak akan pernah tahu sama cara kerja semesta. Tapi aku tahu ada hal baik yang semesta coba titipin buat aku lewat kamu. Dan ternyata, hal baik itu adalah warna baru buat kanvas aku. Memang lukisan yang kubuat masih saja abstrak, tapi setidaknya, nggak sehitam biasanya. Aku nggak bohong. Karena bukan aku doang yang merasa ada perubahan dalam diriku sendiri.

 

Suatu pagi, ketika aku bangun, rasanya, semesta terlihat jauh lebih menyenangkan dari hari-hari sebelumnya. Aku keluar kamar, menyapa semua orang di rumah.
“Selamat pagi!”
“Selamat pagi, Mbak, masak apa hari ini?”
“Hai ibu, gimana tanamannya?”

 

Aku jadi orang paling ceria hari itu.

 

Kenal kamu rasanya seperti mengenal diriku sendiri. Kayak melihat diriku di cermin. Sama persis. Nggak ada bedanya. Sampai aku sadar bahwa, kita beda. Iya, kayak aku lihat diriku di cermin. Walau terlihat sama, ternyata kita sangat berbeda. Walau terlihat dekat, semestaku dan semestamu ternyata sangat berjauhan. Tapi gapapa, karena aku ingat betul apa yang pernah Pak Sapardi bilang sama aku, “Ada masalah yang tidak perlu pemecahan, karena pemecahan terkandung dalam masalah itu. Ruang kedap suara akan menyatukan yang berbeda.”

 

Jadi, semua biar berjalan sebagaimana mestinya. Dan seiring waktu berjalan, kita akan sama-sama menyembuhkan. Hal-hal baru yang mengagetkan walau nggak juga terasa asing itu, akan jadi buku paling punya makna walau nggak pernah dituliskan. Karena, beberapa hal memang lebih baik disimpan sendirian, bukan?

 

Surat ini mungkin akan tua dimakan usia. Mungkin kita akan lupa, mungkin semua kesenangan itu akan lebih cepat berakhir dari yang kita kira, tapi kamu akan terus mengejar mimpi-mimpi hebatmu, dan percaya deh, aku akan selalu mengagumimu. Kamu hebat. Nggak ada yang lebih membuatku senang dari melihatmu senang melakukan apa yang kamu lakukan.

 

Aku lega karena kita nggak perlu memilih, aku lega karena kita memahami batas itu, aku lega karena kita sama-sama dewasa untuk mengerti bahwa beberapa hal sudah erat tanpa perlu terikat. Dan pada akhirnya, kapal itu pulang ke pelabuhannya masing-masing. Aku ke Utara, kamu ke Selatan, sebagaimana mestinya, sebagaimana cerita baik yang diselesaikan walau nggak pernah diciptakan.

IMG_3297

Manusia Tanpa Nama

IMG_3297

 

Kamu pasti pernah bertemu seseorang di tempat yang nggak terduga. Seseorang yang asing, yang terlihat angkuh, dan begitu dingin. Tapi semua menjadi berbalik ketika alam raya memutuskan untuk mengirimkanmu sebuah cerita.

 

Beberapa darimu pasti sudah nggak asing. Seseorang yang bahkan nggak saya tahu namanya itu, seseorang yang cuma bisa saya temui di dalam bus kota, justru memberi saya banyak cerita di tiap pertemuan yang nggak pernah berlangsung lama. Paling lama satu setengah jam. Kami juga nggak pernah bertukar nomor telepon. Seolah-olah, bus kota adalah dunia yang berbeda, kami bisa menjadi manusia yang lain, manusia tanpa nama, tanpa beban, tanpa kebenaran, juga tanpa sandiwara.


Ah, rasanya terlalu cepat bila diceritakan dari sini. Akan saya ceritakan awal ceritanya.

***


Setiap pagi, pukul 6 tepat, kami selalu bertemu di halte, menanti dan menaiki bis yang sama. Saya selalu duduk di belakangnya. Ia membaca buku, sedangkan saya melihat kendaraan dari kaca jendela. Ia selalu turun lebih dulu, di tempat pemberhentian yang sama. Ketika pulang, kami juga selalu berada di bis yang sama. Pukul setengah lima. Ia duduk lagi di depan saya. Tapi gantian saya yang turun lebih dulu. Saya nggak ingin percaya dengan kebetulan, tapi ini selalu terjadi. Saya kira ia nggak menyadari kejadian yang selalu berulang ini, sampai ketika pada sore itu, pukul empat, saya pulang lebih cepat dari jadwal. Saya melihatnya sudah di halte, terduduk. Canggung. Saya berdiri jauh darinya. Setengah jam menanti, bis tiba dan kami naik. Sialnya, sore itu bis penuh sekali. Kami berdiri. Ia tepat di sebelah saya, dan nggak lama setelah itu ia bertanya, “Turun di tempat biasa, Mbak?”


Pertanyaan pertama yang mengawali sebuah cerita. Jalanan macet menjadi menyenangkan. Kaki pun nggak terasa pegal walau harus berdiri dua jam lamanya, karena jalanan ibu kota lumpuh total. Ternyata ia bekerja di sebuah perusahaan asing. “Kalau, Mbak?”


Kalau saya jawab yang sejujurnya, apa ia percaya?


”Saya pembaca,”
Ia agak bingung, “Pembaca? Apakah itu pekerjaan? Atau semacamnya?”
Saya tertawa kecil. Memang sulit menjelaskan apa pekerjaan saya ini, ”Pembaca pertama tiap buku yang saya buat, Mas,”
“Mbak penulis?”
“Saya menulis, Mas, tapi bukan penulis.”
Ia menangkap maksud yang saya utarakan. Untuk orang yang suka membaca sepertinya, pasti nggak sulit memahami perkataan saya barusan. Kami berdua saling membalas senyum. Dialog sore itu diakhirinya dengan mengatakan, “Besok pagi jangan duduk di belakang saya, di sebelah saya saja.”

***


Lelaki di bus kota yang hingga kini nggak saya tahu namanya. Saya ingat, suatu hari ia pernah membawakan saya kopi, ia bercerita tentang tetangganya yang baru saja membuka toko roti. Saya menyimak, selalu senang mendengar suaranya bercerita. Dan sore ini, saya menunggunya di halte. Dari kejauhan saya lihat ia sedang berjalan menuju ke arah saya. Semakin dekat, semakin terlihat bahwa ada yang berbeda dari wajahnya, nggak seceria pagi tadi. Ia hanya diam, saya lebih diam. Bus datang, kami naik. Ia tetap nggak bersuara. Mungkin sedang ada masalah pekerjaan, pikirku. Ingin sekali saya bertanya, Ada apa? Tapi rasanya belum bisa sejauh itu. Kami hanya dekat, namun nggak erat.


Sampai akhirnya ia bicara, “Ibu saya sakit.”


Ternyata karena itu. Kesedihan tergambar jelas pada wajahnya, keresahan terpancar di matanya. Ibunya tinggal di Semarang. Di Jakarta ia hidup sendiri. Ingin pulang, namun perizinan menjadi penghalang.


“Memangnya sakit apa?” saya bertanya.
“Ibu bilang hanya kelelahan, sudah saya suruh istirahat tapi tetap saja buat kue.”
Saya tersenyum. Ia hanya sedang khawatir. “Doa, Mas, bukan hanya untuk kesembuhan beliau, tapi agar Mas nggak terlalu khawatir.”


Ia tersenyum. Lega mungkin. “Mbak, kalau orang-orang itu ingin terbebas dari macetnya ibu kota, saya malah sebaliknya. Saya malah berdoa, semoga jalannya lebih macet dari hari-hari sebelumnya, karena percakapan ini masih butuh banyak waktu. Apakah bisa dilanjutkan di luar bus kota?”

***


Kadang, kita akan lebih merasa dekat dengan seseorang yang baru kita kenal kemarin daripada dengan seseorang yang sudah kita kenal bertahun lamanya.


Dan pagi tadi, ia memberi tahu bahwa ia akan dipindahkan tugas kerjanya ke luar kota. Saya sedikit terkejut. Sudah terbayang hari ini dan esok hari tanpa adanya teman bercerita di dalam bus kota. Lalu saya berpikir lagi, bila kami dipertemukan pada keadaan yang nggak terduga, maka perpisahan seharusnya bukan menjadi perkara yang berat. Tapi manusia mana yang mudah menerima perpisahan?


Sampai akhirnya dia berkata, “Kita pasti akan ketemu lagi, Mbak, mungkin nggak di dalam bus ini. Dunia terlalu luas, alangkah menyedihkan bila kita hanya bertemu di sini saja.”


Ia benar. Bila pertemuan selalu berujung pada perpisahan, maka bukan mustahil bila perpisahan akan diawali dengan pertemuan yang sama.


Saya nggak tahu akan bertemu lagi dengannya atau nggak. Yang saya tahu, di dunia yang luas ini, saya pasti akan bertemu dengan orang-oranf  yang baru, dengan mereka yang akan menawarkan sebuah cerita. Dan bila kamu berkata, “Tapi ceritanya nggak akan sama.”


Justru itu. Justru karena ceritanya berbeda saya tahu saya akan belajar dari sebuah makna yang juga berbeda.


“Mungkin kita akan bertemu lagi saat kamu sudah mau memanggil dirimu sendiri seorang penulis.” katanya.
“Berarti kita nggak akan pernah bertemu lagi.”
“Benar-benar nggak mau dipanggil penulis?”
“Benar-benar.”
“Memang kenapa? Apa yang salah dengan sebutan itu?”
“Nggak ada. Saya hanya nggak pantas. Penulis yang saya tahu, mereka adalah orang-orang hebat, saya nggak mungkin sama dengan mereka. Itu sebabnya saya nggak akan pernah bisa jadi penulis. Saya sudah cukup bahagia menjadi seperti ini. Seorang gadis yang menulis, yang akan selalu menulis.”
“Hmm.. berarti kita akan bertemu di dalam bukumu.”
“Bagaimana mungkin? Nama saya saja kamu nggak tahu.”
“Tapi saya tahu bahasamu.” jawabnya.

IMG_3295

Mengapa Masih Sendiri?

IMG_3295

 

Dialog kali ini agak sedikit… bagaimana ya bilangnya. Jadi, begini. Sebelumnya saya sempat berpikir dua kali untuk pada akhirnya berani menuliskannya. Karena ini adalah sebuah jawaban dari pertanyaan orang banyak, yang biasanya cuma saya jawab dengan tersenyum. Karena dengan membaca ini berarti kamu membaca sebagian kecil dari dunia saya, yang sebenarnya nggak seindah kelihatannya.

 

“Mengapa masih sendiri? Nggak bosan ke mana-mana sendirian?”
Pertanyaan itu sering terdengar di telinga saya. Kadang terdengar lucu, nggak jarang pula terdengar menyebalkan. Mungkin karena saya perempuan, yang di rumah hanya untuk tidur, selebihnya saya habiskan di luar, sendirian.

 

Saya pun nggak mengerti. Mengapa untuk sebagian orang, sendirian adalah hal yang menyeramkan. Padahal sebenarnya nggak seseram itu. Memang kadang, nggak bisa saya pungkiri, saya kerap iri melihat sahabat-sahabat saya sudah berdua. Apalagi yang sudah berpacaran bertahun-tahun lamanya. Bahkan ada yang pacaran sampai delapan tahun. Ahahahaha, entah apa rahasianya, saya juga nggak tahu.

 

Saya tahu nggak ada yang mau sendiri. Karena kalau bisa berdua mengapa memilih sendiri? Saya tahu. Saya paham betul kalimat itu. Tapi untuk sebagian orang yang berkawan dengan waktu, ada beberapa momen yang memang harus dilewati seorang diri. Rasanya itu seperti, “Ah, belum saatnya.”

 

“Mengapa nggak dicoba dulu?”

 

Sudah. Sering. Tapi akhirnya selalu gagal, salah di saya yang belum mampu diajak membuat cerita bersama. Ketika dia-nya sudah serius, saya yang merasa berada di cerita yang salah. Dulu saya selalu bertanya, Mengapa sulit sekali rasanya? Mengapa saya nggak bisa membuka hati dan mencoba untuk merangkai cerita yang baru?

 

Ini memang membingungkan. Saya lupa kapan terakhir kali menjalin cerita. Lima tahun lalu kalau nggak salah. Itu pula hanya sebentar, nggak sampai enam bulan. Biasa, perkara anak SMA yang baru mengenal cinta. Wajar. Wajar bila saya sudah lupa seperti apa wajahnya. Mungkin karena itu bukan cinta. Hanya perasaan menyenangkan yang singgah sebentar lalu hilang. Bahkan saya sudah lupa seperti apa rasanya. Lupa bagaimana rasanya disayangi dan menyayangi, lupa bagaimana rasanya dirindukan dan merindukan.

 

Saya ingin, sungguh, saya benar-benar ingin mencoba. Mencoba menyayangi seorang laki-laki, mengajaknya minum kopi, ya, seperti orang pacaran pada umumnya. Tapi saya nggak merasakan apa-apa.

 

Dua tahun lalu. Dua tahun lalu ketika saya terakhir mencoba. Saya bahkan sudah lupa namanya. Tapi masih ada bayang wajahnya di kepala. Dia sudah lulus kuliah tahun lalu, sudah dapat pekerjaan yang layak. Dari penampilannya pun, bisa dibilang lumayan. Karena saking baiknya dia, saya benar-benar bertekad, pokoknya kali ini harus bisa, bagaimana pun caranya harus berhasil. Setelah dekat selama setahun, hasilnya tetap nggak ada. Dan ketika ia mengajak saya untuk serius, menawarkan saya masa depan walau masih terlalu dini, saya terpaksa mundur. Cerita itu harus disudahi sebelum saya menyakitinya lebih larut lagi. Dia sempat meminta saya untuk nggak menyerah dulu, tapi saya merasa sebesar apa pun usaha saya, perasaan punya kemampuannya sendiri. Ia nggak bisa direncakan untuk kepada siapa ia jatuh cinta, nggak juga bisa dipaksa bertekad untuk berkomitmen pada sebuah titik.

 

Seorang pernah bilang, “When you know, you know.”

 

Jadi ini mengapa saya sendiri. Saya hanya merasa bahwa belum waktunya untuk menjalin cerita dengan siapa pun. Saya masih nyaman dengan keadaan seperti ini. Walau kadang saya hanya nggakut saya terlalu nyaman dengan keadaan ini. Saya tahu ini nggak baik. Saya tahu ini harus segera disudahi. Tapi yang terbaik akan datang di waktu yang baik pula, bukan? Selama terus memperbaiki diri menjadi lebih baik, semesta akan mengirim orang yang baik juga. Ah, Kawan, kita semua pasti tahu teori sederhana itu.

 

Sendirian memang nggak baik, tapi sendirian menjadi jalan terbaik untuk saat ini. Masih banyak mimpi yang belum tercapai, yang memaksa saya untuk menggunakan waktu dengan sebaik mungkin. Akan tiba saatnya, pasti, hanya saja bukan sekarang. Perasaan ini lebih mengenal saya daripada saya mengenal diri saya sendiri. Jadi rasanya nggak ada yang perlu dikhawatirkan.

 

Sulit memang mencari yang tepat. Sesulit membuka hati untuk seseorang yang akan masuk ke dunia saya, mungkin saya-nya yang nggak mudah berbagi ruang untuk orang lain. Tapi saya nggak suka memaksakan sesuatu. Saya nggak mau menyakiti siapa pun, apalagi seseorang yang tulus menyayangi saya namun saya nggak bisa membalas apa-apa.

 

Hal ini selayaknya cerita dari tiap buku yang saya tulis. Tiap cerita membutuhkan waktu terbaiknya. Saya hanya perlu menunggu. Menikmati segala prosesnya, menghargai kesendirian, agar ketika sudah dipertemukan, saya punya tujuan dan nggak lagi kebingungan.

 

Jadi, mengapa saya masih sendiri?

 

Karena semesta masih mencari separuh perasaan yang sengaja saya hilangkan, karena yang terbaik pasti berhasil menemukan.

 

Oh, atau mungkin mengapa saya nggak bisa membuka hati untuk yang lain… karena… dia bukan kamu ternyata.

IMG_3298

Kepada Juni

IMG_3298

 

Seperti kata Biru, “Manusia dilahirkan lewat pertemuan untuk menghasilkan pelajaran dan kenangan.”

 

Sebenarnya, kata-kata itu saya rangkai ketika sedang mengingatnya. Namanya Juni. Seorang laki-laki yang masuk ke dalam dunia saya, yang berhasil mengubah cara pandang saya terhadap dunia, yang mengenalkan saya tentang makna kesederhanaan, walau ia nggak bisa singgah lama-lama di dunia saya.

 

Juni ada jauh sebelum saya mengenal Geez. Miripnya, saya bertemu dengannya juga setahun sekali. Biasanya ketika libur semester. Rumahnya yang satu kota dengan eyangkung saya, membuat saya nggak sulit untuk menjangkamunya. Walau sangat jauh dari Jakarta. Di perbatasan antara jawa tengah dan jawa timur.

 

Seperti kata Biru, bahwa nggak semua orang masuk ke dunia kita untuk menetap. Ada yang lama singgah lalu pergi, ada yang baru sebentar singgah tapi sudah harus pergi, karena memang ia dikirim semesta untuk menitipkan pelajaran atau beberapa kenangan indah yang menyebalkan karena nggak bisa dilupakan.

 

Terakhir, dua tahun lalu saya berkomunikasi dengannya. Juni sudah saya anggap sebagai kakak sendiri. Umurnya yang lima tahun lebih tua dari saya, membuat saya mendapat sosok kakak lelaki yang selama ini ingin saya miliki.

 

Perkenalan sederhana. Ketika itu, waktu masih SD, saya lupa tepatnya umur berapa, saya yang baru belajar naik sepeda, sudah bergaya ingin naik sepeda ke tepi sawah yang letaknya cukup jauh dari rumah eyangkung. Alhasil, saya jatuh. Baju saya penuh lumpur dan tanah. Sampai seseorang mengulurkan tangan dan akhirnya membantu saya. Penampilannya yang begitu sederhana, dengan tutur kata yang lembut sekali bila didengar. Ia menuntun sepeda saya dan menemani saya berjalan sampai rumah. Sesampainya di rumah, eyangkung tertawa dan rupanya beliau sudah kenal lebih dulu dengan Juni. Dalam bahasa jawa eyang mengucapkan terima kasih padanya.

 

Sejak itulah, kami menjadi dekat. Walau nggak pernah berkomunikasi lewat telepon, karena ia nggak memiliki handphone, tapi kami merasa dekat. Karena Juni selalu bilang, “Dekat ya karena dekat, nggak harus dengan suara, pesan, atau dering telepon.”

 

Sampai waktu membuat semua berjalan dan berubah. Saya semakin beranjak dewasa, pun dengannya. Setelah lulus SMA, ia mendapat beasiswa penuh di Universitas Diponegoro, Semarang. Ia pun lulus dengan predikat cum laude. Karena nggak bisa datang saat ia wisuda, saya segera menemuinya saat liburan, dua tahun lalu, ya, pertemuan terakhir saya dengannya.

 

Ia menjemput saya di rumah eyang dengan sepeda onthel tua yang selalu ia gunakan ke mana-mana, termasuk ke sawah. Hari itu, saya masih ingat sekali, ia mengajak saya ke perkebunan jagung milik bapaknya. Berjalan menikmati pemandangan dan kesunyian, karena di perkebunan yang luas itu, hanya ada saya dan Juni di sana. Namun dari awal saya sudah membatin, bahwa ada sesuatu yang ingin Juni sampaikan, sesuatu yang serius.
“Sudah dapat kuliah, Tsana?”
“Sudah, Mas (panggilanku padanya), di Jakarta,”
“Baguslah bila dapat yang dekat, jadi nggak perlu jauh dari rumah,”
“Ya.. begitulah. Bagaimana wisudamu kemarin?”
“Bapak, ibu, dan adikku datang, membahagiakan sekali, Na,”
“Padahal aku ingin sekali datang,”
“Doamu sudah cukup,”
“Lalu setelah ini?”
“Ya, aku di sini, di desa yang berada di kota mati, meneruskan bapakkku,”
“Menjadi petani?” saya agak terkejut mendengarnya.
“Ya, beliau semakin tua, sudah nggak mampu lagi mengurus sawahnya. Jadi harus aku. Aku nggak mungkin meninggalkan sawah yang menghidupi keluargaku selama ini,”
“Tapi gelar sarjanamu?”
“Kubiarkan hanya menempel di belakang namaku, dan nggak akan kugunakan,”
“Nggak sayang? Kamu kan lulus dengan nilai terbaik,”
“Bapakku hanya butuh aku di rumah, menjadi petani dan mengurus sawah. Juga sapi-sapi yang kini merupakan tanggung jawabku. Tsana, aku lahir di kota mati, wajar bila aku nggak harus punya mimpi.”

 

Ketika itu saya mulai mengerti arah pembicarannya.
“Kita terlampau berbeda, Tsana,”
“Apanya yang berbeda?”
“Dunia. Duniamu dengan duniaku selayaknya langit dan bumi.”
“Aku nggak pernah merasa begitu,”
“Tsana, dengar aku. Bapakku cuma petani, ibuku cuma pensiunan guru, dan aku nggak akan memakai gelar sarjanaku untuk kerja kantoran, karena aku harus mengabdikan hidupku untuk menjadi petani. Jadi apa yang kamu harapkan dariku? Dari mana kamu yakin aku mampu membahagiakanmu?”
“Dari caramu berusaha.”

 

Ia memilih untuk nggak melanjutkan topik pembicaraan tentang itu. Mungkin karena ia tahu topik itu membuat saya sedih. Akhirnya kami pulang. Dan esoknya saya kembali ke Jakarta. Kali ini entah mengapa terasa berbeda, saya merasa bahwa pembicaraan itu merupakan dialog terakhir antara saya dengan dirinya. Saya merasa ia sudah memberikan salam perpisahan walau nggak ia utarakan secara langsung. Sampai ketika saya mengirimkan dua buku saya, dan ia balas dengan sepucuk surat yang membuar air mata saya menetes. Sedih sekaligus bahagia.

 

Aku selalu percaya dengan mimpi-mimpimu, Tsana. Termasuk mimpimu yang akan menjelajahi isi dunia. Aku selalu percaya. Semustahil apa pun kedengarannya. Termasuk menulis buku karyamu sendiri. Percayalah manggaku berkaca-kaca ketika membacanya. Nggak menyangka bahwa gadis kecil yang jatuh dari sepeda di sawah waktu itu, kini sudah tumbuh menjadi seorang novelis dengan pendirian teguh dan nggak mudah dijatuhkan. Dan hal itu membuat kita semakin berbeda. Lanjutkan hidupmu, Tsana, raih segala mimpi-mimpimu, segila apa pun kelihatannya. Aku akan selalu di sini mendoakanmu. Nggak ke mana-mana. Seperti sedia kala. Kamu akan bertemu dengan orang lain, yang lebih mampu mewujudkan mimpi-mimpi aneh sekaligus luar biasa itu. Maaf, orang itu nggak akan pernah aku. Kamu harus mengerti dan menerima. Kamu perempuan yang baik, kupercayakan apa yang ada di depan pada semesta, karena aku yakin semesta akan memberikanmu yang terbaik pula. Teruslah menulis, karena dengan terus membaca tulisanmu, itulah cara agar kita selalu dekat. Karena memiliki nggak harus dengan menjadi satu, Na. Tetaplah menjadi Tsana yang seperti ini. Yang nggak suka pakai tas bermerek, yang sepatunya nggak pernah diganti, yang walau sudah rusak tapi malah kamu perbaiki di tukang sol sepatu langgananmu, dan yang menangis bila mendengar suara petir yang menggunjang jantungmu. Ketika semua orang mengejar mewahnya dunia, tetaplah menjadi Tsana yang semakin sederhana di tiap harinya. Dan aku ingin kamu tahu, dengan siapa pun akan kuhabiskan hidupku, akan selalu ada bagian dari diriku yang akan selalu menjadi milikmu.

 

Juni.

 

Setelah hari itu. Nggak kudengar lagi kabarnya. Tiap berkunjung ke rumah eyang, ia nggak lagi datang dan menjemput. Kami kini hidup masing-masing. Dia dengan dunianya, pun dengan saya. Tapi bila kita mengikhlaskan, kita nggak akan pernah merasa kehilangan. Seperti kata Juni, memiliki nggak harus dengan menjadi satu. Selama ia baik dan bahagia, saya pun akan begitu. Memiliki nggak harus selamanya. Saya sudah memilikinya, dan akan selalu memilikinya dalam satu momen yang saya abadikan di dalam sebuah buku yang nggak perlu dituliskan.

IMG_3299

Geez, apakah kamu membacanya?

IMG_3299

 

Saya menulis ini di beranda sebuah rumah sederhana, di kota kecil dan terpencil. Saya sedang berada jauh sekali rumah. Sengaja menepi dari Jakarta. Mengasingkan diri sebentar dari ibu kota yang telanjur membuat saya jatuh cinta. Memang nggak lama, tapi paling nggak cukup untuk menghidupkan kembali mimpi-mimpi yang tertunda karena realita menyita waktu saya. Di sebelah saya ada dua ekor sapi yang sedang asyik memakan rumput hijau, sulit sekali mencari sinyal di sini. Untuk memposting ini saja, saya harus berkendara ke alun-alun kota untuk mendapat sinyal. Tapi ini menyenangkan. Ah, saya terlalu mengulur waktu.

 

Gazza Chayadi.

 

Saya tahu pasti sudah nggak asing lagi. Mendengarnya kalian akan reflek berucap, “Geez!”
Sudah terlalu banyak kata, kalimat, bahasa, dan cerita tentangnya. Entah apa yang membuat kalian bisa merasakan kehadirannya di tiap paragraf yang kutuliskan di dalam buku. Sampai ketika pertanyaan demi pertanyaan yang sama, singgah di kotak pesan yang semakin hari semakin penuh.

 

“Kak, apakah ia nyata?”

 

Saya selalu terkejut bila membaca pertanyaan itu. Bahkan hingga sekarang. Saya masih ingat betul, ketika acara Festival Pembaca Indonesia tahun lalu, kebetulan saya jadi pembicara di sana. Kali pertama bercerita langsung di depan banyak orang. Dan pertanyaan itu ditanyakan oleh salah seorang Kawan yang datang. Saya terkejut, dan panik tentu saja. Dan ternyata sulit sekali untuk berbohong. Sudah saya coba untuk mengalihkan, tapi pertanyaan demi pertanyaan semakin menyudutkan saya. Hingga pada akhirnya…

 

“Oke. Baik. Begini.”

 

Setelah menghela napas, saya coba untuk memberi pengakuan.

 

Jadi… ya, ia nyata. Ia hidup di bumi bersama kita. Ia sungguh ada. Bukan hanya di dalam sebuah buku. Tapi nggak dengan cerita yang kamu baca. Itu murni fiksi. Murni hasil khayalan saya. Murni hasil imajinasi saya yang terlalu mengaguminya.

 

“Bagaimana, Kak? Bagaimana? Kurang paham.”

 

Menyebalkan sekali. Dari pertanyaan sederhana, “Nyata atau nggak?” menjelma cerita panjang yang nggak ada habisnya. Tapi rasanya memang nggak adil bila menyimpan ini sendirian.

 

Dulu, dia adalah kakak kelas saya ketika SMP. Tapi ketika itu ia sudah lulus dan sudah SMA. Ingat bab pertama di buku Geez & Ann? Ya, kurang lebih mirip dengan apa yang terjadi sesungguhnya. Termasuk hoodie berwarna hijau toska, sepatu converse-nya yang lusuh, juga kacamata yang hingga detik ini, nggak pernah ia ganti.

 

Tapi bila kalian kira ia begitu romantis, tampan, dan pintar mengeluarkan kata-kata yang akan melelehkan siapa saja yang mendengarkan, kalian salah. Sudah sejak lama ingin saya ceritakan sisi aslinya, dan akhirnya saya menemukan waktu terbaik untuk menceritakannya.

 

Ia dingin. Sangat dingin. Sangat idealis, dan serius. Tapi juga menyebalkan. Sering menggoda dan mengejek. Ia menyenangkan dan menyebalkan dalam satu waktu. Ia bercanda dan serius dalam saat yang bersamaan. Memang aneh. Ajaib. Dan mungkin itu yang membuat saya mengaguminya hingga berani menuliskannya sebuah buku yang ajaib pula, karena isinya benar-benar di luar kenyataan. Kami hanya berteman. Berteman dan nggak lebih. Sejak dulu hingga sekarang. Kami nggak pernah membahas tentang cinta dan sejenisnya, kami cukup bahagia dengan menjadi dekat walau nggak erat.

 

Oh, ya. Ia juga sangat mencintai buku. Seperti Pram dan Widji Thukul. Dua penulis favoritnya yang membuatnya menjadi begitu idealis. Juga mencintai musik rock yang sangat menyakitkan bila didengar. Maaf saya nggak bisa memberi tahu lagu atau band kesukaannya, Rahasia, katanya.

 

Tiap kali ia meminta saya untuk mendengar salah satu lagu kesukaannya, “Terlalu keras, nggak bisa didengar,”
“Bisa, asal kamu fokus pada nada yang ada di dalamnya.”

 

Gagasannya nggak boleh ditentang. Apabila ia menyatakan sesuatu, semua harus mengiyakan. Karena bila kamu nggak setuju, akan panjang jadinya. Ia akan terus membalas pendapatmu sampai kamu menyerah. Menyebalkan.

 

“Lalu, Kak? Apa dia sudah membacanya?”

 

Ini juga akan menjawab pertanyaan mengapa akhirnya akan saya tulis lanjutan ceritanya, buku yang menjadi akhir dari cerita Geez & Ann nanti.

 

Pertama, dia adalah manusia yang nggak bisa geer. Manusia paling nggak peka sedunia. Itu alasan pertama mengapa saya berani menuliskannya sebuah buku. Karena, Ah, ia nggak akan membacanya, pikir saya sebelum akhirnya menulis cerita Geez & Ann.

 

Sampai ketika itu. Sebulan setelah bukunya terbit. Saya masih ingat betul, tentu saja, di penghujung bulan Desember. Setelah lima tahun nggak bersua, nggak saling kontak, karena kami saling sibuk dan keadaan membuat kami nggak saling mengabari, semesta membuat saya kembali bertemu dengannya. Entah apa rencana yang sedang semesta buat, yang jelas kami bertemu kembali. Di malam itu. Kami bertemu.

 

Dan ia nggak berubah. Nggak bertemu lima tahun dengannya nggak membuat kami merasa asing. Langsung terjadi percakapan hangat yang membuat saya berucap, “Ia masih sama.” Masih dirinya yang menyebalkan, dan idealis. Bahkan suara tawanya yang nggak pernah hilang dari telinga, juga nggak berubah. Kacamata, senyuman, ah, Kawan, nggak ada yang berubah.

 

“Tsana?”
Dia yang pertama kali mengenali dan menyapa. Ada rasa haru dan senang yang bersamaan hadir di dalam hati.
“Kakak?”
“Apa kabar?”
“Baik.”
“Dengar-dengar Tsana menulis buku. Buku tentang apa?”

 

Kemudian semua terasa hening. Seketika saya berusaha untuk berbohong walau akhirnya justru terlihat konyol.
“Hah? Masa? Kata siapa? Enggak, enggak menulis buku.”
“Tsana… kamu tetap nggak pintar berbohong.”
Sial.

 

“Cerita yang… aneh.. Bukan jenis buku yang Kakak suka, nggak penting, nggak usah dibahas,”
“Kan belum dibaca…”
Ketika itu, dengan segera saya berkata ketus, “Pokoknya nggak boleh dibaca!” juga dengan sedikit panik.
“Kenapa memangnya?”
“Pokoknya nggak boleh!”

 

Padahal harusnya saya nggak perlu panik. Toh ceritanya berbeda. Dan ia nggak mungkin merasa. Ia nggak mudah geer. Jadi harusnya aman-aman saja. Semua baik-baik saja setelah pertemuan malam itu, hingga ketika muncul pesan masuk di handphone saya, yang lama nggak bersuara itu, “Tsana?”
“Iya, Kak?”
“Aku sudah membaca kedua bukunya, akan menjadi sebuah kehormatan bila bisa mendapat tanda tangan langsung dari penulisnya.”

 

Tolong jangan bertanya seperti apa kondisi saya ketika itu. Berantakan. Saya benar-benar terlihat konyol. Saya terus berusaha mencari jawaban agar ia nggak perlu meminta tanda tangan agar kami nggak perlu bertemu lagi. Tapi salah memang beradu argumen dengannya, saya pasti kalah.
“Nah gitu dong, ya sudah aku ke rumah ya?”
“JANGAN!” saya langsung panik. “Di-gojek-in aja!”
“Loh kenapa?”
“Aku sedang nggak di rumah.”
“Ya sudah nanti malam aku ambil lagi, ya?”
“JANGAN! Nanti malam aku gojek-in lagi,”
“Tsana, nanti malam aku ambil ke rumah.” jawabnya seakan nggak peduli dengan apa yang saya katakan. Menyebalkan. Benar, kan? Ia menyebalkan.

 

Padahal saya ada di rumah dan sedang nggak ingin ke mana-mana. Nggak lama, gojeknya datang, ia selalu bilang istilah gojek dengan kesatria hijau. Bukunya sampai dan ia menyelipkan sebuah kertas bertuliskan, “Boleh minta tanda tangannya?”

 

Di situ saya tersenyum. Nggak mengira buku akan menjadi jembatan yang membuat kami bertemu kembali. Dia sempat minta maaf terlebih dulu karena bukunya lecek dan ada bekas tumpahan kopi. Dan saya tipe manusia yang nggak suka memberi tanda tangan pada buku yang lecek, apalagi kotor. Itu sebabnya, saya menukar bukunya dengan yang baru. Nggak lupa menyelipkan sebuah pesan yang tentu saja nggak akan saya beri tahu di sini. :p

 

Malam yang saya harap nggak pernah ada pun tiba. Mobilnya berhenti di depan rumah. Sebelum ia masuk, saya segera melarang, “Jangan masuk, di sini saja,”
“Kenapa?”
“Pokoknya nggak bisa.”
“Ya sudah, mana bukunya?”
“Nih.” kuberikan buku yang baru dan ia menyadari bahwa itu adalah buku berbeda.
“Ini bukan bukuku.”
“Memang.”
“Aku maunya buku yang lama.”
“Yang lama nggak bisa kuberi tanda tangan.”
“Tsana lupa kalau aku suka baca buku?”
“Tentu saja ingat.”
“Kalau bukunya sampai lecek berarti buku yang kubaca berhasil menarik perhatianku, berarti bukunya bagus.”

 

Saya cuma bisa diam. “Ya sudah, gapapa deh, dari pada gak ada tanda tangannya,” katanya.
“Ya sudah, pulang,”
“Memang betul, bukunya belum berakhir?”
“Iya, akan ada satu lagi. Buku ketiga dari trilogi Geez & Ann.”
“Aku nggak sabar membacanya.”
“Tahun depan. Dan nanti di ending-nya, mereka pisah aja kayaknya.”
Ia langsung menoleh ke arahku dan berbicara serius, “Jangan!”
“Jangan?”
“Jangan, biarkan waktu yang menjawab,”
“Kelamaan, bukunya harus terbit tahun depan.”
“Tsana penulisnya. Aku tahu Tsana pasti bisa menulis akhir yang baik.”
“Yang terbaik, bukan yang baik.”

 

Kini kamu tahu, bukan? Mengerti, bukan?

 

Pertemuan yang baru menghasilkan cerita yang baru. Semesta pasti punya maksud. Dan di buku ketiganya nanti, ceritanya akan benar-benar berakhir. Semoga akan menjawab semua pertanyaanmu selama ini.

 

Saya bukan, Ann. Saya hanya seorang perempuan yang menuliskannya sebuah buku, dan itu sudah cukup membahagiakan.
Jadi, bagaimana kelanjutannya? Seperti kata Geez, kita biarkan waktu yang menjawab

IMG_3301

Kemarin

IMG_3301

 

“Selamat ya,”

 

Dia meraih jabatan tanganku, “Selamat juga ya.”
“Aku selalu mendoakan yang terbaik, semoga kamu bisa meraih semua cita-citamu.”
Dia menjawab dengan matanya yang mulai berbeda, “Aku pun begitu, nggak pernah ada hari yang terlewat untuk mendoakanmu. Jangan berhenti mengejar apa yang kamu inginkan, aku selalu percaya kamu bisa.”
Aku tersenyum sambil melepas tanganku dari jabatannya, “Pasti.”

 

Aku berbalik, kemudian pergi meninggalkannya yang mungkin juga sudah melangkah pergi.

 

Nggak ada hubungan yang benar-benar berakhir begitu saja, karena hubungan melibatkan perasaan, dan itu dia masalahnya.

 

Perasaan itu, aku bisa merasakannya. Jantung ini, masih berdetak cepat ketika tadi berjabat tangan dengan dia. Rasa yang sudah lama hilang, namun masih sangat familiar.

 

Situasi dan kondisinya memang sudah berubah, dia berdua dan aku tetap disini. Kelihatan berdiri padahal duduk, kelihatan berlari padahal diam, kelihatan menerima padahal nggak sama sekali.

 

“Kenapa kamu pilih dia?”

 

Pertanyaan yang sampai sekarang, aku bahkan belum tahu jawabannya apa. Aku marah, kenapa bisa kamu pilih dia? Kenapa kamu nggak berusaha memperbaiki dulu? Kita cari solusinya sama-sama, tapi kamu justru terlanjur sama dia.

 

Semua sudah terjadi, semua sudah telanjur berakhir. Bentuk usaha apa pun, sebesar apa pun, sekarang nggak akan ada gunanya. Aku yang salah, aku sudah menyia-nyiakan laki-laki yang baik. Wajar jika kamu memilih menyerah, pergi dan bersama dia. Semuanya menjadi hal yang wajar untukku sekarang.

 

Tapi yang aneh, ketika semua kondisinya kelihatan berubah, kamu nggak pernah kelihatan seperti itu. Nggak ada yang baru dari kamu, masih sama, masih tertata rapih bahkan nggak bergeser sedikit pun. Anehnya lagi, aku nggak pernah merasa kehilangan kamu.

 

Aku hanya merasa, kita sedang sama-sama beristirahat. Membalas chatmu, masih terasa sama. Aku nggak ingin kamu balasnya lama, apalagi sampai hanya dibaca saja. Tidakkah kamu merasa ini aneh? Kamu pun nggak akan bisa menjawabnya bukan?

 

Aku menghentikan langkahku, berbalik, kemudian berlari dan memeluknya yang masih mengarah kepadaku dari tadi.

 

“Apapun yang terjadi, kamu akan tetap jadi yang paling berarti. Bahkan ketika aku pergi dari sini, perasaan ini nggak akan pernah berubah. Akan rapih pada posisi awalnya, dan akan tetap seperti itu. Jangan tinggalkan dia, perempuan yang nggak pernah membuatmu lelah. Ini memang sudah jalannya untuk terjadi, dia yang terbaik bukan aku. Aku minta maaf untuk semuanya, sampai jumpa.”

IMG_3302

Ada apa, Jingga?

IMG_3302

 

“Bisa temui aku sebentar?”

 

“Jingga? Apa kabar? Ini kamu?”
“Nggak begitu baik,”
“Kamu sedang dimana?”
“Nggak tahu.”
“Jangan kemana-mana, saya akan ke sana dalam lima belas menit.”

 

Nggak perlu lama-lama untuk tahu dia sedang berada dimana jika kondisinya sedang seperti ini.

 

Ketika turun dari motor kemudian meletakan helm, saya termangu melihatnya duduk dengan tatapan nanar dan mata sendu seperti habis menangis. Saya menghampirinya dengan langkah perlahan, takut menganggu lamunannya yang kelihatan sedang seru sekali.

 

“Ayo,” saya mencoba untuk mengajaknya bermain ayunan yang hanya ia lihat dari tadi.
“Nggak selera.”
“Kamu duduk saja, saya yang ayunkan.”
“Tetap nggak selera.”
Nggak menghiraukan keputusannya, “Sudah deh, ayo.”

 

“Lelah,” sambil menghampirinya dari depan kemudian duduk di depannya.
“Payah.”
“Matamu kenapa tuh? Sedang musim hujan ya?”
“Musim pancaroba. Kadang hujan, kadang kemarau, lalu tiba-tiba hujan lagi, musim yang aneh.”

 

Saya diam, menyaksikan pertunjukkan yang paling saya nantikan sepanjang masa, wajahnya. Bibirnya terlihat sedikit pucat, pasti ada sesuatu yang terjadi. Nggak mungkin nggak.

 

“Kamu ingin saya ke sini untuk disuruh apa?”
“Ke sini.”
“Iya untuk apa?”
“Ke sini.”

 

Saya tersenyum, nggak memintanya untuk melakukan apa-apa. Saya akan bicara jika dia suruh bicara, saya diam jika dia diam, saya peluk ketika dia menangis. Ya, saya memang hanya perlu menjadi bayangannya ketika ia sedang bersedih.

 

“Kamu diam.”
Dia memang nggak bisa didiamkan lama-lama, “Habis kamu diam.”
“Memang sedang ingin diam, nggak boleh memangnya?”
“Boleh,”
“Lalu masalahnya apa?” ia bertanya lagi.
Saya menjawab serius, “Masalahnya kamu sudah terlalu larut dalam diam, itu bahaya.”

 

“Lalu aku harus apa?”
“Jika ingin berbicara, saya akan diam dan menjadi pendengar yang baik.”
“Dari mana aku tahu jika kamu mendengarkan?”
“Nanti beri saja saya pertanyaan, pasti benar.”

 

Saya mendengar ia menghela nafas, pun dengan saya.

 

“Aku nggak tahu harus cerita apa.”
Saya mencoba membuatnya tenang, “Apa saja, dari dulu pasti seru kalau kamu yang cerita.”

 

Dia menatap saya, matanya mulai berkaca-kaca. Saya tahu, ia pasti sudah nggak sanggup lagi menahannya. Dia mulai menangis. Di sini saya hancur, beban terberat adalah ketika harus melihatnya menangis. Saya nggak bisa apa-apa, kecuali perlahan memeluknya.

 

“Jingga…” terisak, dia nggak mampu bercerita.
“Keluarkan saja, biarkan pundak saya menampung air hujanmu supaya nggak terbuang cuma-cuma.”

 

Saya bisa merasakan, dia sedang mempererat pelukannya.

 

“Kalau kamu mau pulang, saya antar.”
“Jingga sudah pulang dan nggak mau kemana-mana lagi.”
“Maksudmu?”
“Kenapa kamu masih mau datang?”
“Saya nggak mengerti,”
“Kenapa kamu ada di sini? Setelah sekian lama aku menghilang tanpa kabar kemudian menangis di depanmu sekarang?”

 

Lidah ini tiba-tiba saja membeku nggak mampu mengeluarkan satu huruf pun, “Karena…”
“Apa karena perasaan itu? Perasaanmu yang nggak pernah aku hiraukan, iya?”
“Jingga…”
“Jawab!” ia membenggak.

 

Saya diam, menunduk dan nggak berani melihat wajahnya.
“Saya minta maaf.”
Dengan tangisannya yang semakin deras, “Kenapa harus aku? Kenapa nggak kamu?”

 

Saya menghela nafas kemudian berusaha untuk menjawabnya, “Karena menyayangimu adalah penderitaan yang paling saya nikmati, pelukanmu adalah sebuah kejutan yang selalu saya tunggu dan akan selalu begitu.”