IMG_3295

Mengapa Masih Sendiri?

IMG_3295

 

Dialog kali ini agak sedikit… bagaimana ya bilangnya. Jadi, begini. Sebelumnya saya sempat berpikir dua kali untuk pada akhirnya berani menuliskannya. Karena ini adalah sebuah jawaban dari pertanyaan orang banyak, yang biasanya cuma saya jawab dengan tersenyum. Karena dengan membaca ini berarti kamu membaca sebagian kecil dari dunia saya, yang sebenarnya nggak seindah kelihatannya.

 

“Mengapa masih sendiri? Nggak bosan ke mana-mana sendirian?”
Pertanyaan itu sering terdengar di telinga saya. Kadang terdengar lucu, nggak jarang pula terdengar menyebalkan. Mungkin karena saya perempuan, yang di rumah hanya untuk tidur, selebihnya saya habiskan di luar, sendirian.

 

Saya pun nggak mengerti. Mengapa untuk sebagian orang, sendirian adalah hal yang menyeramkan. Padahal sebenarnya nggak seseram itu. Memang kadang, nggak bisa saya pungkiri, saya kerap iri melihat sahabat-sahabat saya sudah berdua. Apalagi yang sudah berpacaran bertahun-tahun lamanya. Bahkan ada yang pacaran sampai delapan tahun. Ahahahaha, entah apa rahasianya, saya juga nggak tahu.

 

Saya tahu nggak ada yang mau sendiri. Karena kalau bisa berdua mengapa memilih sendiri? Saya tahu. Saya paham betul kalimat itu. Tapi untuk sebagian orang yang berkawan dengan waktu, ada beberapa momen yang memang harus dilewati seorang diri. Rasanya itu seperti, “Ah, belum saatnya.”

 

“Mengapa nggak dicoba dulu?”

 

Sudah. Sering. Tapi akhirnya selalu gagal, salah di saya yang belum mampu diajak membuat cerita bersama. Ketika dia-nya sudah serius, saya yang merasa berada di cerita yang salah. Dulu saya selalu bertanya, Mengapa sulit sekali rasanya? Mengapa saya nggak bisa membuka hati dan mencoba untuk merangkai cerita yang baru?

 

Ini memang membingungkan. Saya lupa kapan terakhir kali menjalin cerita. Lima tahun lalu kalau nggak salah. Itu pula hanya sebentar, nggak sampai enam bulan. Biasa, perkara anak SMA yang baru mengenal cinta. Wajar. Wajar bila saya sudah lupa seperti apa wajahnya. Mungkin karena itu bukan cinta. Hanya perasaan menyenangkan yang singgah sebentar lalu hilang. Bahkan saya sudah lupa seperti apa rasanya. Lupa bagaimana rasanya disayangi dan menyayangi, lupa bagaimana rasanya dirindukan dan merindukan.

 

Saya ingin, sungguh, saya benar-benar ingin mencoba. Mencoba menyayangi seorang laki-laki, mengajaknya minum kopi, ya, seperti orang pacaran pada umumnya. Tapi saya nggak merasakan apa-apa.

 

Dua tahun lalu. Dua tahun lalu ketika saya terakhir mencoba. Saya bahkan sudah lupa namanya. Tapi masih ada bayang wajahnya di kepala. Dia sudah lulus kuliah tahun lalu, sudah dapat pekerjaan yang layak. Dari penampilannya pun, bisa dibilang lumayan. Karena saking baiknya dia, saya benar-benar bertekad, pokoknya kali ini harus bisa, bagaimana pun caranya harus berhasil. Setelah dekat selama setahun, hasilnya tetap nggak ada. Dan ketika ia mengajak saya untuk serius, menawarkan saya masa depan walau masih terlalu dini, saya terpaksa mundur. Cerita itu harus disudahi sebelum saya menyakitinya lebih larut lagi. Dia sempat meminta saya untuk nggak menyerah dulu, tapi saya merasa sebesar apa pun usaha saya, perasaan punya kemampuannya sendiri. Ia nggak bisa direncakan untuk kepada siapa ia jatuh cinta, nggak juga bisa dipaksa bertekad untuk berkomitmen pada sebuah titik.

 

Seorang pernah bilang, “When you know, you know.”

 

Jadi ini mengapa saya sendiri. Saya hanya merasa bahwa belum waktunya untuk menjalin cerita dengan siapa pun. Saya masih nyaman dengan keadaan seperti ini. Walau kadang saya hanya nggakut saya terlalu nyaman dengan keadaan ini. Saya tahu ini nggak baik. Saya tahu ini harus segera disudahi. Tapi yang terbaik akan datang di waktu yang baik pula, bukan? Selama terus memperbaiki diri menjadi lebih baik, semesta akan mengirim orang yang baik juga. Ah, Kawan, kita semua pasti tahu teori sederhana itu.

 

Sendirian memang nggak baik, tapi sendirian menjadi jalan terbaik untuk saat ini. Masih banyak mimpi yang belum tercapai, yang memaksa saya untuk menggunakan waktu dengan sebaik mungkin. Akan tiba saatnya, pasti, hanya saja bukan sekarang. Perasaan ini lebih mengenal saya daripada saya mengenal diri saya sendiri. Jadi rasanya nggak ada yang perlu dikhawatirkan.

 

Sulit memang mencari yang tepat. Sesulit membuka hati untuk seseorang yang akan masuk ke dunia saya, mungkin saya-nya yang nggak mudah berbagi ruang untuk orang lain. Tapi saya nggak suka memaksakan sesuatu. Saya nggak mau menyakiti siapa pun, apalagi seseorang yang tulus menyayangi saya namun saya nggak bisa membalas apa-apa.

 

Hal ini selayaknya cerita dari tiap buku yang saya tulis. Tiap cerita membutuhkan waktu terbaiknya. Saya hanya perlu menunggu. Menikmati segala prosesnya, menghargai kesendirian, agar ketika sudah dipertemukan, saya punya tujuan dan nggak lagi kebingungan.

 

Jadi, mengapa saya masih sendiri?

 

Karena semesta masih mencari separuh perasaan yang sengaja saya hilangkan, karena yang terbaik pasti berhasil menemukan.

 

Oh, atau mungkin mengapa saya nggak bisa membuka hati untuk yang lain… karena… dia bukan kamu ternyata.

Tags: No tags

142 Responses

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *