OverPage-0

Empat

OverPage-0

 

Kinan menutup matanya kuat-kuat. Masih tidak disangkanya bahwa ia akan melanjutkan petualangannya sendirian, dengan bekal keberanian yang tiap hari kian menipis. Apakah benar yang kupilih ini? Bagaimana kalau laki-laki yang mengaku bernama Hara itu adalah orang jahat? Tapi apakah orang jahat selalu mudah dipercaya? Apakah juga adalah hal yang benar kalau aku pergi tanpa menyisakan pamit untuk Pra? Tunggu dulu, mengapa tiba-tiba ia jadi topik penting sampai masuk dalam pertanyaan? Biarlah Pra dengan hidupnya. Aku mungkin tidak bisa memintanya untuk memilih, tapi aku bisa memilih untuk tidak ikut berantakan sebagaimana dirinya.

 

“Permisi?”

“Pencet saja belnya, Mbak.”

 

Kinan menoleh ke belakang. Seorang perempuan paruh baya duduk di teras sebuah rumah yang berada tepat di depan tempat indekosnya yang baru. Kinan lalu mengangguk, “Iya, Bu, terima kasih.”

 

Apa semua orang di sini ramah-ramah, ya? Kinan bergumam bingung. Sejak turun pesawat, orang-orang di sekelilingnya seperti memberinya panduan perjalanan. Tentang habis ini harus bagaimana, harus melangkah ke mana. Juga sewaktu tadi mau naik taksi, seorang bapak tua di sebelahnya berkata pelan, Naik bus umum saja, Mbak, sampai ketemu becak. Agak lama sih nunggunya, tapi lebih murah.

 

“Mbak Kinan, ya?”

“Iya, Pak..”

“Mari, silakan masuk. Nomor yang di internet itu nomor istri saya, kebetulan dia masih di luar,”

“Nggak apa-apa, Pak,”

“Biar saya saja yang bawa barang-barangnya,”

 

Awalnya, Kinan sempat gugup mengetahui bahwa Rina tidak punya kenalan sama sekali di Semarang. Tapi ia bilang, “Cari saja di internet.” Dan ternyata memang banyak hal sudah dimudahkan oleh teknologi. Ia menyewa sebuah kos murah di pusat kota Semarang. Dapat AC dan TV, walau salurannya cuma ada beberapa. Bahkan kamar mandinya di dalam.

 

“Ini kuncinya, ya, Mbak. Jam sepuluh malam biasanya pagarnya saya gembok, jadi kalau mau buka pakai kunci yang ini, yang ada goresan cat warna hijau,”

“Oh jadi setelah jam sepuluh nggak boleh keluar ya, Pak?”

Yo, boleh, to. Cuma kalau keluar musti digembok dan kalau baru pulang juga digembok lagi.”

“Baik, Pak,”

“Yowes, kalau ada butuh apa-apa bilang saja, atau lewat sms juga ndak apa-apa. Selamat istirahat, Mbak Kinan,”

 

Kinan percaya bahwa hidup mempunyai rencanya sendiri, tapi yang namanya manusia selalu bisa menciptakan waktu yang tepat dalam tiap hal yang sempat. Dan itulah yang dilakukannya. Ketika pada akhirnya ia sadar bahwa roda yang sedang membebaninya itu tidak akan bergerak, bila ia sendiri tetap jalan di tempat. Hal baik atau buruk yang datang setelahnya akan jadi konsekuensi yang sudah ia setujui sebelumnya.

 

“Malam itu kita tidak sempat berkenalan. Saya Hara.”

 

Pada suatu sore, selang beberapa waktu setelahnya, Kinan kembali ke tempat itu. Saat itu, pembelaannya bukan tentang kebaikan yang harus dibayar lunas, tetapi ia tidak mau hidup dalam sebuah ketakutan. Ia kembali karena ia memilih untuk membawa kemungkinan yang bisa saja jadi takdir hidup yang harus diterimanya.

 

“Aku sudah tahu namamu,”

 

Dalam nada yang ramah, ia menyampaikan kekagumannya, “Kok sudah tahu? Kemarin saya tanya Barry, dia bilang belum mengenalkan saya padamu.”

 

“Barry?”

“Orang yang membuatmu takut, yang membuat pergelangan tanganmu merah.”

“Tidak sampai merah.”

“Tapi sampai membuatmu takut, kan?”

“Aku baru tahu namamu sekitar lima menit lalu,”

 

Seperti berusaha menunjukan darimana ia akhirnya mengetahui nama laki-laki itu. Kinan menoleh ke arah meja depan. Seorang penjaga dengan seragam seperti satpam tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya. Ia belum pernah melihat sikap seorang karyawan kepada atasannya sebagaimana yang ia lihat sekarang. Sosok yang halus namun tegas. Ya, cuma itu yang bisa disimpulkannya ketika pertama kali bersemuka dengan Hara.

 

“Jangan melihat dari caranya bersikap pada saya, Kinan.”

“Aku tidak menilai apa pun. Tidak berhak juga.”

 

Hara bukan jenis orang yang menyukai perdebatan. Ia lebih akrab dengan kata mengalah daripada harus menguji siapa yang paling benar. Karena itulah ia tidak menanggapinya lagi. Tidak juga menyahut ke percakapan yang lain. Kedatangan Kinan sore itu seperti kiriman paket yang salah alamat. Hara cuma bisa menilainya dengan sosok perempuan cerdas namun pendiam. Dan ia menyukai sikap Kinan yang itu.

 

Ia mengambil sebatang rokok dari saku kemejanya, lalu menyalakannya. Kinan cuma diam dengan cukup lama memerhatikan sikap Hara yang begitu tenang. Tampaknya, Kinan juga berpikir tentang tempat di mana ia sedang berdiri sekarang. Sebuah kafe dengan konsep minimalis, dengan dinding bangunan luar yang dilapisi batu bata berwarna merah gelap. Di setiap sudut, terdapat pot-pot berisi tanaman hijau. Ah, pasti Pra tahu jenis apa tanaman-tanaman itu.Tempatnya memang tidak terlalu besar, tapi tata letak yang disusun rapi membuat kesan yang begitu nyaman. Kinan semakin dikuasai oleh rasa keingintahuannya.

 

“Jadi ini tempat apa?”

“Yang kau tahu ini tempat apa?”

“Entah. Hanya kalau sore begini, tidak begitu gelap.”

 

Hara tersenyum mendengar jawabannya. Pribadi yang keras namun mudah dikenali. Diputuskannya untuk tidak menyinggung hal-hal yang sudah tidak lagi jadi masalah. Bahkan sebenarnya, tanpa perlu dijelaskan, ia tahu mengapa malam itu Kinan memilih pergi dengan tatapan takut yang mengarah kepadanya. Bagaimana bisa baru sekarang?

 

Melihat adanya perubahan raut muka Hara setelah mendengar jawabannya, ia buru-buru menjelaskan maksud kedatangannya dengan sesingkat mungkin. Bahwa ia tidak bermaksud untuk bekerja seenak hati, bahwa segala hal yang terjadi di luar perkiraannya.

 

Kinan tampak lega setelah menyampaikannya. Seperti mengembalikan barang yang dipinjam dengan kondisi utuh. Tidak ada lecet. Tidak ada rusak. Seperti pertama kali barang itu sampai pada genggamannya.

 

“Saya senang kamu tidak minta maaf,”

“Kau menyindir?”

“Tidak. Itu sungguh-sungguh,” ucap Hara lembut sambil melanjutkan, “Tadinya saya khawatir kamu akan mengira sudah melakukan kesalahan, karena sebenarnya tidak. Tidak seharusnya Barry memperlakukanmu seperti itu.”

 

Kinan lantas diam. Ragu-ragu untuk menjawab. Ia takut salah bicara. Sebab, ketika mengetahui bahwa pemilik café tempat seharusnya ia bekerja dengan begitu baik menerima sikapnya, ia tidak mau mengulangi hal bodoh untuk kedualinya. Kinan sebenarnya sangat menyukai percakapan yang sedang berjalan di antara mereka, ia ingin berucap tentang apa saja yang saat itu muncul di kepalanya. Tetapi tidak, ia harus mengingat kembali siapa dirinya. Bukankah lancang untuk berbincang dengan seorang bos yang tangannya dihiasi jam mewah berwarna keperakan itu.

 

“Aku ke sini supaya tidak ada salah paham.”

“Memang tidak ada salah paham, Nan.”

“Itu menurutmu. Aku cuma tidak suka menyimpan perasaan hutang budi.”

“Kau tidak meminjam apa pun,”

 

Suara azan magrib terdengar. Kinan menengok keluar jendela dan langit memang sudah mulai gelap. Kalau ditanya masih adakah yang ingin disampaikannya, jawabannya tidak. Tapi kalau ditanya ia sudah ingin pulang atau tidak, jawabannya akan sederhana saja: Aku sebenarnya masih ingin menuntaskan banyak pertanyaanku di tempat ini. Tentang pukul berapa café ini buka. Tentang di mana Hara membeli batu bata yang merahnya begitu indah, tidak seperti batu bata pada umumnya. Tentang berapa harga jam tangan yang dipakainya. Tentang bagaimana ia tidak bernada marah sedikit pun, padahal yang kulakukan jelas menjengkelkan.

 

Pertanyaan yang mengejutkan. Ia tidak tahu darimana datangnya pertanyaan-pertanyaan itu. Walau cuma bersuara di dalam kepalanya, seketika itu pula ia kaku. Wajahnya berubah canggung. Untuk sejenak Kinan tidak tahu harus melakukan apa, padahal jelas sebelumnya ia tahu bahwa ia hanya perlu segera pulang.

 

“Magrib begini jangan melamun,” tegurnya lembut.

“Aku boleh gak ya gila sedikit?”

“Mau ngapain?”

“Masuk akal gak kalau aku minta satu kesempatan lagi?”

Hara segera mengerti. Dia diam sebentar, lalu mengutarakan sebuah penawaran.

“Kesempatan untuk bekerja atau untuk bernyanyi?”

“Maksudmu?”

“Saya yang sedang nanya maksudmu,” sambil tersenyum Hara menambahkan, “Bahkan saya belum tahu betul kamu ini bisa nyanyi atau tidak.”

Kinan tidak menyahut. Rasa bersalahnya baru datang sekarang. Ia membetulkan perasaan tidak enak itu. Harusnya kata maaf sudah cukup. Harusnya egoku tidak perlu diberi instruksi untuk jalan ke depan. Berlawanan dengan harapan besar yang ada di dalam dirinya, ia mengulangi kebodohannya. “Kalau tidak bisa tidak apa-apa. Harusnya aku sudah cukup senang kamu menerima maafku.”

“Minta maaf? Bukannya tidak ada maaf daritadi?”

 

Pertemuannya dengan Hara berujung pada kebingungan sekaligus pengertian. Ia seperti berada di sebuah labirin. Hara menciptakan jalan berliku-liku di antara percakapan mereka. Dan Kinan sudah berusaha untuk mempertajam pemahamannya agar dapat melihat apa yang sebenarnya coba Hara nyatakan, tapi tidak bisa. Kalimat-kalimat orang yang berkuasa yang tidak akan bisa kumengerti. Kalaupun aku mengerti, tidak ada gunanya juga. Kepentingan orang seperti Hara itu seperti instruksi sekali jalan. Jadi, mungkin mendengar semua perkataannya adalah perintah pertama yang harus kupatuhi.

 

Di sudut kegugupannya, Hara menjemputnya dengan sebuah pertimbangan.

 

“Kalau untuk memberimu kesempatan bernyanyi, saya tidak yakin, Nan,” ucapnya yang disambung dengan bujukan lembut, “Tapi kalau kesempatan yang lain saya mau. Mau sekali.”

***

 

Kita mungkin cuma ingin bahagia dan berbahagia. Segala bentuk kebendaan yang datang sesudahnya, cuma pemanis yang akan habis di batas waktu yang ada. Dan itu yang kerap kali tidak Kinan mengerti. Harusnya, jadi perihal yang masuk akal bila untuk sesekali ia memikirkan perkara kebahagiaannya sendiri. Seperti yang pernah ia bilang, “Pra, andai hidup bisa dicopot-pasang kayak batre, ya,”

 

“Maksudnya? Mati, terus hidup, terus mati lagi, gitu?”

“Mati, tapi pas hidup lagi jadi orang lain.”

 

Demikian tenangnya Kinan menjelaskan rekaan hidupnya yang rumit dengan kalimat yang begitu sederhana. Aku sayang dia. Aku mengasihi hidupnya lebih dari hidupku sendiri. Dulu aku memang senang mengetahui ada orang yang sama hancurnya denganku, tapi semakin lama mengenal Kinan, aku berharap lebih dari itu. Pra tahu bahwa cita-citanya itu akan jadi jurang curam yang siap menelannya, bahwa mimpi adalah kegelapan tanpa ujung. Ia tahu tidak seharusnya ia menaruh harap, terlebih pada satu orang yang paling mungkin mematahkan hatinya. Di antara celah untuk jalan ke depan atau berhenti, bila bisa bersama Kinan, maka lebih baik hidup dalam pengungsian daripada kembali pada tanah kelahiran.

 

“Jangan jadi batre deh, Nan, yang lain,”

“Jadi tahun saja kalau begitu, biar selalu berubah,”

“Bertambah tidak melulu berubah, Nan.”

“Terus apa dong?”

“Yang berubah itu pohon, yang tidak berubah itu tanah.”

 

Kebiasaan Pra mengutak-atik kata-kata tidak jarang membuat Kinan kesal. Bukan karena istilah-istilah yang tidak ia pahami, tapi karena semua itu tidak pernah ditulisnya. Dibiarkan hilang setelah diucapkan, direlakan habis setelah disampaikan. Dan tiap kali ditegur, jawabannya selalu sama, “Aku kan punya super memory.”

 

Kini, Kinan sudah tidak bisa membedakan dirinya ketika sedang menoleransi sifat-sifat Pra, dan ketika membenarkan perlakuannya. Jika Pra adalah tokoh yang hadir untuk mengusik kententeraman hidup seseorang, sungguhlah ia berhasil memerankannya. Lagipula, mau sampai kapan ia percaya pada memori di dalam kepalanya itu? Apa susahnya sih menulis? Apa dia tidak tahu caranya? Apa perlu aku?

 

“Jadi maksudmu… daripada jadi batre, lebih baik jadi tanah? Begitu?”

“Sekeliling kita pasti berubah, Nan, tapi tempat kita berpijak, termasuk diri kita sendiri, nggak boleh. Nggak boleh berubah. Karena kalau bumi aja berputar pada porosnya, kenapa kamu harus jadi orang lain cuma untuk menghidupi hidup? Pohon bisa selalu ditanam lagi, Nan, tapi tanah? Dia nggak boleh sampai habis. Sama aja kayak kamu. Yang namanya hari besok masih bisa dibangun lagi, selama kamu bisa jaga diri kamu sendiri.”

 

Suara ramai di sekitar pantai yang sejenak menjadi sunyi, membuatnya sadar bahwa di saat-saat tertentu, Pra mampu menyapu segala suara bising di bumi. Dan cuma dia yang bisa begitu.

 

“Tetangga Rina ada yang meninggal, Pra,”

“Kau mau ke sana sekarang?”

“Aku tidak mengajakmu,”

“Aku antar,” katanya tanpa ragu-ragu sambil melambaikan tangan ke arah Dawan, “Wan, pinjam motor!”

 

Pra benar. Yang berubah itu pohon, yang tidak berubah itu tanah. Maka, mungkin itu juga yang jadi salah satu alasan mengapa Kinan memelihara rutinitasnya berkunjung ke rumah duka, karena kematian adalah kehidupan terakhir yang tidak akan bisa berubah.

 

“Aku mau punya motor sendiri,” katanya sambil melihat Kinan di kaca spion motor.

“Ngapain? Nggak punya motor aja hidupmu sudah susah,” sahut Kinan sambil menambahkan, “Mending cara pekerjaan lain yang uangnya lebih pasti daripada nyari ikan.”

“Nanti, kalau aku sudah punya motor, aku yang nganterin kamu. Ke rumah duka mana pun, Nan, aku antar!”

“Males.”

“Kenapa?”

“Kalau orang yang meninggal gak kamu kenal? Atau gak aku kenal? Mana mau kamu nganterin aku,”

“Lah, ini sekarang aku lagi ngapain?”

 

Melihat gelagat Pra yang kesal, Kinan tertawa. Kalau urusan mengakhiri percakapan dengan nada menyebalkan, Kinan memang jagonya. Kira-kira dia setia benar tidak, ya? Kenapa tidak pernah diturutinya permintaanku untuk tenggelam di dasar laut? Toh, tidak ada yang akan mencariku. Bapak sudah punya anak lagi dari istri barunya. Sanak keluarga lain juga sedang susah dengan hidupnya masing-masing. “Apa kita menjemput kematian saja, Pra? Mungkin dosa besar yang kekal itu justru bisa menyelamatkan kita.”

 

“Sabarlah, Nan, biar yang itu Tuhan saja yang kerjakan.”

“Lantas, bagaimana dengan banyak penjahat yang memilih untuk menyerahkan dirinya sendiri, Pra? Apalagi kalau bukan karena merasa lebih hidup di penjara?”

“Jadi kau percaya surga?”

“Aku cuma tau kita sedang di neraka.”

 

Pra ingin sekali menyela ucapan Kinan dengan: Apa hadirku tidak sedikit pun membawa perubahan apa-apa, Nan? Mengapa kita masih saja di neraka? Apa karena selama ini kita tidak pernah ke mana-mana?

 

Tapi bagaimanapun juga, tidak banyak yang bisa Pra lakukan. Apalagi, peranannya juga tidak terlalu istimewa. Ia tidak lebih dari seorang yang hampir selalu menemani Kinan pergi melayat ke rumah duka. Dan dalam hal ini, ia sangat bangga dengan keputusan Kinan. Ia tahu betul dengan mengizinkan Pra menemaninya berkunjung ke rumah duka, maka Kinan sudah melampaui batas dari peraturannya sendiri. Karena jika dikatakannya bahwa ia tidak akan pernah membiarkan orang lain ikut campur dalam hal-hal yang bersifat prinspil, dengan urusan yang berkaitan dengan hati dan kepalanya, maka dengan begitu, orang pertama yang mengingkari janjinya justru dirinya sendiri.

 

“Kalau dunia harus mengikuti aturanmu, besok juga kiamat, Nan.”

“Ya makanya aku nggak maksa,”

“Kamu juga nggak perlu maksa diri kamu sendiri, sih,”

“Untuk ikutin aturan dunia?”

“Untuk ikutin aturan yang kamu buat.”

 

Hidup Kinan mungkin sama saja dengan kehidupan kebanyakan orang. Yang ketika tidur memikirkan menu makan besok, yang ketika bangun mencari upah atas pertanyaan yang semalam diciptakannya. Tetapi ada kalanya ia ingin presisi itu diubahnya menjadi ketenangan hati. Ketenangan yang akan menyuruhnya untuk tidak melakukan apa pun. Walau ia mengerti hakikat hidupnya sendiri. Bahwa nasi akan jadi basi, bahwa sabar tidak selalu mendatangkan subur, bahwa uang juga akan berujung usang, bahwa pada akhirnya tanah akan selalu jadi panah, bahwa hidup… cuma perkara hirup.

 

IMG_3365 2

Tiga

IMG_3365 2


Gelisah menghuni batin Kinan. Kepalanya tiba-tiba diisi oleh wajah seorang laki-laki yang bahkan tidak diketahui namanya itu. Satu yang terekam jelas cuma suara yang terus berbicara di telinganya. Biarkan ia pulang. Biarkan ia pulang. Tidak, Kinan tidak sedang bertanya siapa sebenarnya laki-laki berwajah cakap itu. Kinan cuma tidak suka merasa punya hutang. Lalu terbayang kembali sepasang mata yang begitu terang dan menatapnya langsung, ia ingat betul bahwa saat itu yang bisa ia rasakan cuma napasnya sendiri yang begitu cepat. Apakah aku harus kembali ke sana? Menjelaskan? Bahwa aku sungguh-sungguh minta maaf atas kebimbanganku yang mengganggu semua orang? Memang iya awalnya aku yakin, tapi Pra muncul di kepalaku waktu itu. Tapi, bukankah aku tidak pernah mengizinkannya masuk ke dalam bagaimana cara otakku bekerja? Atau apakah mungkin aku sudah mengizinkannya? Apakah Pra kini sudah memegang kendali atas kehidupanku yang bahkan tidak juga pernah mengharapkanku?

 

Kebingungan kadang membawa seseorang ke sebuah dunia baru yang tidak siapa pun menghuni kecuali hatinya sendiri. Itu pula yang sedang terjadi pada Kinan. Ia tidak suka merasa menerima apalagi sampai harus meminjam sesuatu. Terlebih lagi, Pra hadir sebagai pembelaan yang mendukung prinsipnya itu.

 

“Kebaikan orang lain kepadamu tidak perlu kamu balas, Nan.”

“Nggak dosa?”

“Ya kecuali kamu membuat mereka terpaksa berbuat baik padamu.”

“Hah? Maksudnya apa, nih? Kok jadi labil begini? Kamu ada di pihak siapa sebenarnya?”

“Aku setuju denganmu bukan berarti aku ada di pihakmu, Nan.”

“Gitu sih?”

“Kalau harus ada di pihakmu berarti aku harus jadi kekasihmu dulu, dong?”

“Sakit jiwa sudah.”

 

Tidak ada yang lebih membuat Pra tertawa dari berhasil mengejek perempuan judes itu. Sering membuatnya bingung mengapa Kinan masih saja menghiraukan persepsinya, bila secara jelas Kinan katakan bahwa ia sudah tidak waras.

 

“Kenapa sih masih butuh dukunganku?”

“Dengar ya Pra, kalaupun kamu tidak sependapat denganku, itu bukan urusanku. Lagipula, apa yang bisa kuharapkan dari pemikiran seseorang yang otaknya mungkin sudah berubah jadi mainan plastik?”

“Kok tahu, Nan?”

“Hah?”

“Iya, kok kamu bisa tahu aku sampai seisi-isinya begitu? Pernah masuk memang?”

“Sudah. Aku mau balik kerja.”

“Nan,” Pra mengambil tangan Kinan sambil menyambung, “Cuma di hadapanmu aku senang pura-pura gila, dan cuma kamu yang bisa menerima ketidakrasionalanku.”

Kinan memerhatikan tangan Pra yang menggenggam tanganya, “Lepas atau habis ini kamu mati.”

“Aku sudah mati sejak pertama kali ibuku mengumumkan namaku kepada salah seorang perawat di rumah sakit.”

***

 

Kinan sedang menyapu teras depan ketika suara motor Rina terdengar, “Loh, Rin?”

“Ayo bareng aku saja,”

Dengan girang ia menjawab, “Sungguh?”

“Lima menit!”

 

Rina tidak pernah menyangka akan menyayangi Kinan seperti menyayangi anaknya sendiri yang masih berusia tiga tahun itu. Dalam hidupnya, ia sudah biasa soal ikhlas-mengikhlaskan, soal kalah-mengalah, soal siapa yang tidak perlu dimenangkan dan siapa yang perlu diberi pembelaan. Rina anak sulung dari dua bersaudara. Suatu hari ia kawin dengan seorang laki-laki kenalan pamannya dan dikaruniai seorang anak perempuan. Suaminya bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik roti. Sedangkan untuk tambahan biaya sehari-hari, Rina terpaksa harus bekerja walau gajinya tidak seberapa. 

 

Sesekali Rina mengenalkan kawanan dari suaminya untuk dekat dengan Kinan tapi tidak ada yang cocok. Entah karena tidak cocok atau Rina sendiri memang tidak percaya dengan pernikahan. 

 

“Mengapa tidak kau coba dulu?”

“Tidak suka. Bibirnya terlalu hitam. Pasti perokok.”

“Kinan… Kinan…”

“Apa? Kamu bertanya mengapa dan aku beri alasannya.”

“Pra merokok dan itu tidak jadi masalah buatmu?”

“Ya, dia kan temanku, bukan untuk jadi suamiku.”

 

Sejak waktu itu, Rina berhenti mencarikannya jodoh, karena satu-satunya orang yang paling pasti untuk jadi jodohnya ya cuma Pra. Walau Kinan sendiri tidak setuju, walau juga tidak pernah ada yang benar-benar tahu situasi di dalam hatinya. Kenapa harus Pra? Memang tidak ada orang lain di dunia ini? Lagipula, aku tidak jelek-jelek amat. Pasti ada orang asing yang suatu hari bisa mencintaiku, memberiku ketenangan yang selama ini tidak pernah berani kuimpikan. Dan orang itu tidak mungkin, Pra. Tidak mungkin.

***

 

Setelah mengunci pintu dan memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka berangkat dengan motor milik Rina. Motor yang juga belum lunas, karena memiliki anak ternyata tidak seindah yang dibayangkan sebagian orang. Sekali waktu Rina pernah menyuruh Kinan untuk belajar naik motor, tapi Pra tidak setuju. Kinan tidak berani melanggar karena terakhir kali ia mencoba untuk melanggar larangan Pra, kejadiannya tidak berujung baik. Biarlah, toh, ini cuma perkara sepeda motor. Pra belum sampai ikut campur tentang aku harus hidup dengan siapa dan harus mati dengan siapa.

 

“Memang mau keliling Indonesia?”

“Memang orang yang naik motor itu harus keliling Indonesia?”

“Aku nanya, memangnya kamu mau keliling Indonesia?”

“Ya… Nggak sih.”

“Ya udah, nggak usah.”

“Rina aja pake motor kalau kerja.”

“Kamu Rina bukan?”

“Hah?”

“Kamu jadi Rina dulu, baru boleh naik motor.”

“Gimana ceritanya jadi Rina?”

“Kawin denganku.”

 

Ketika tadi Rina datang menjemput, sebenarnya lamunan Kinan sedang mengembara ke sebuah bagian dunia yang cuma menjadi miliknya sejak ia dilahirkan. Tempat yang membuatnya sesak, tapi juga melapangkan hatinya; tubuhnya sendiri. Ia teringat kembali pada hari di mana bapaknya datang dengan seorang perempuan yang akrab dipanggilnya dengan sebutan Roh Jahat. Hahahaha, Kinan… Kinan. Seksi begitu dipanggil Roh Jahat, begitu kata Pra waktu pertama kali Kinan bercerita soal Iva, ibu barunya. 

 

“Ini Iva, Nan, semoga hadirnya bisa mengisi kehampaanmu setelah ibumu berpulang.”

 

Geram akan apa yang diucapkan bapaknya, Kinan pergi meninggalkan rumah dengan sebelumnya membanting pintu depan dengan begitu kuat. Sejak hari itu, muncul keberanian juga ketangguhan untuk tidak bertumpu pada siapa pun kecuali pada dirinya sendiri. Bahwa tiap-tiap unsur pemikiran yang tidak bisa masuk dalam pemahamannya, akan ia sangkal bagaimana pun caranya. Dan pada hari baik yang entah siapa telah menentukannya, ia menang. Anak tangga itu jadi saksi, bahwa tidak akan ada yang bisa melukainya, termasuk masa lalunya sendiri.

 

“Dia tidak bisa gantiin ibuku, Pra, bapak sudah habis akal.”

“Bapakmu nggak habis akal, Nan, dia cuma berusaha menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.”

“Menyelamatkan apa? Menyelamatkan siapa? Ibu?”

“Menyelamatkan dirinya sendiri.”

 

Bahkan seorang Pra tidak mampu mengubah kata hatinya yang sudah kusut, sudah tidak terselamatkan. Namun tentu tidak akan berhenti sampai di situ, Pra percaya detik waktu mengubah semua hal, termasuk dendam yang Kinan rasakan, termasuk perasaan yang belum Kinan rasakan. Perasaannya tertutup, bukan terkunci. Kalau pun Tuhan tidak mau balas jawaban, biar aku sendiri saja yang mengirimkan Kinan jawaban atas doa-doa yang tak pernah disembahyangkannya. Biar aku sendiri yang membuka pintu dalam rasa hatinya. Biar.

***

 

Kinan berjalan menuju pesisir. Seorang laki-laki berbaju putih dan berpeci hitam lusuh melambaikan tangan pada kinan. Kinan mendekatinya, keheranan. 

“Kamu ngapain pake peci segala?”

“Cocok nggak?”

“Cocok, tapi lebih cocok lagi kalau warna-warni.”

“Kamu ini, Nan, itu mah namanya topi ulang tahun.”

“Pra, ulang tahun, yuk?”

“Memangnya mau minta apa?”

“Secarik kertas dan selembar doa.”

 

Jantung Pra seperti ditempa besi besar. Ada apa dengannya? Sejak kapan ia menyukai perayaan? Sejak kapan ia tertarik pada kertas dan doa? Bukankah itu adalah dua hal yang paling ia benci? Ada apa dengannya? Apakah ia perlahan menerima serpihan dari puing-puing yang tersisa dari semestaku? Atau karena ia sedang menghidupkan kembali sastra lamanya yang semua orang kira sudah punah?

 

“Kalau kamu minta diajak tenggelam di tengah laut, aku tidak kaget, Nan,”

“Jadi sekarang kamu lagi kaget?”

“Kamu kamus bahasaku. Aku bisa berkata-kata atau tidak, kendalinya di kamu.”

“Pra…”

“Buat apa sih memangnya? Kertas dan doa?”

“Buat aku kasih lagi ke kamu.”

 

Itu adalah permintaan Kinan yang kedua, setelah pernah minta diajak ke tengah laut untuk pada akhirnya menenggelamkan dirinya. Masuk akal, bisa diberikan, tapi tidak akan. Pra tidak akan pernah mampu mewujudkan permintaan Kinan, tidak, walau mungkin sebenarnya dia bisa. 

 

Pra terdiam. Seorang penyair tidak akan cukup menghidupi dirinya sendiri, bila hanya dari puisi-puisinya. Aku memilih diriku yang sekarang, bukan karena Kinan tidak memberiku kesempatan untuk memilih, tapi karena di negeri ini, tidak semua sepadan dengan apa yang diimpikan. Aku cuma ingin selalu ada untuk Kinan, dan membukukan khayalan-khayalan yang ada di dalam kepalaku bukanlah jalan keluarnya.   

 

“Kamu nggak mau coba, karena kamu ragu. Dan selamanya kamu akan ragu kalau kamu nggak tahu gimana rasanya setelah kamu mencoba.”

“Lantas kalau sudah kulakukan, setelah itu apa, Nan?”

“Kamu bisa coba mengirimnya ke penerbit, Pra,”

“Setelah itu apalagi yang bisa kucoba? Mencoba untuk menunggu kabar dari penerbit-penerbit itu? Yang jelas langsung menaruh naskahku ke tempat sampah, atau paling-paling menyimpannya di gudang.”

“Setidaknya diciptakan, Pra. Apa salahnya?”

“Apa salahnya? Sungguh? Sungguh kamu ingin tahu apa salahnya? Yang aku lakukan sama saja dengan seorang perempuan yang membunuh sendiri janin dalam kandungannya.”

Kinan tidak menduga kalimat itu keluar dari mulut Pra. “Pra…?”

“Dan kamu ingin tahu apa salahnya? Salahnya adalah perempuan itu gagal membunuh calon bayinya, dan sekarang bayi itu tumbuh jadi seorang laki-laki paling sial di dunia, laki-laki yang sedang berdiri di hadapanmu sekarang, laki-laki yang tidak minta siapa pun menentukan nasib dirinya karena setiap malam aku ada di laut bukan untuk siapa, bukan supaya apa, tapi karena itu memang peta yang kupilih! Kamu ternyata benar tidak akan bisa mengerti, Nan, harusnya aku percaya itu.”

 

 Pra berlalu setelah membentak Kinan dengan suara kerasnya. Kinan membuka mulutnya karena tercengang dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut Pra. Seakan sadar dari amarah yang menguasai hati dan pikirannya, Pra kembali mendekati Kinan yang sudah bersiap untuk beranjak pulang meninggalkannya. Dan yang Kinan lakukan cuma berseru sekeras mungkin, “Kamu sakit!”

 

Pra menghentikan langkanya. Dia melihat ke arah Kinan tanpa lengah. Tidak, Kinan tidak menangis. Rasa benci sekaligus peduli sudah hancur dan terbentuk ulang kembali, dan selalu begitu. Kinan menatap kedua mata Pra dengan seluruh perasaan tidak suka yang ia miliki. 

 

“Maafkan aku, Nan,” ucapnya lirih. 

 

Pra tetap berusaha mendekat Kinan, berniat untuk merengkuh tubuh Kinan dan seperti tahu apa yang akan terjadi, Kinan mencegahnya. “Kalau kamu berani melangkah lagi, jangan berharap bisa melihatku lagi!”

 

“Kamu tahu maksudku tidak begitu, Nan…”

“Aku tidak pernah mendengar ucapanmu yang sejujur itu, Pra. Aku pikir aku sudah mengenalmu, tapi nyatanya tidak sebaik itu!”

“Pikiranku sedang kacau, Nan, sungguh aku tidak benar-benar berniat mengatakan itu.”

“Kamu dengar, ya. Kalau hidupmu kacau, berantakan, tidak karuan, itu bukan salah ibumu yang berhasil melahirkanmu walau kamu tidak menginginkannya! Kebencianmu terhadap dirimu sendiri, bukan jadi tanggung jawabku untuk meredakannya!”

 

Kinan meninggalkannya. Aku tidak akan lagi meletakkan peduliku barang sedikit saja untuknya, apa pun bentuknya. Betapa bodohnya laki-laki itu. Ia kira keangkuhannya bisa menolongnya dari realita hidup yang tidak pernah sesuai dengan keinginannya? Kalau dia sakit hati karena nasib buruk yang menimpanya, aku bisa mengerti. Tapi bila berujung jadi salahku karena aku cuma menginginkan ia memperbaiki bagian yang masih punya peluang? Tentu tidak bisa kuterima. Antara dia dan aku, memang tidak akan bisa ada perasaan yang campur-mencampur. 

*** 

 

Pada suatu hari, Pra datang ke tempat kerja Kinan untuk menemui sahabatnya yang sudah seminggu tidak ada kabarnya itu. Pulang sajalah, kau, Pra. Begitu jawaban yang ia terima dari Rina. Seakan ada penjelasan yang sengaja tidak Rina sampaikan, karena Kinanlah yang harus menyampaikannya secara langsung. Itu memang pertama kali ia geram denganku dan, ya, kupikir paling-paling akan mereda sehari atau dua hari. Dan kini sudah satu minggu apakah ia benar-benar mengamini sumpahnya itu? Untuk tidak menemuiku lagi? 

 

Sorenya, Pra mendatangi indekos tempat Kinan tinggal dan jawaban yang ia terima jutsru mengejutkan. “Baru kemarin, Pra. Dia melunasi uang sewa indekos yang belum sampai akhir bulan. Dia dapat kerjaan di Semarang.”

 

Pra berpikir sebentar. Biasanya Kinan tidak pernah sampai begini. Kalau soal belajar naik motor saja dia sampai minta izin dengan Pra dulu, mengapa hal besar seperti pergi ke Semarang tidak ia sampaikan? Lagi-lagi, tidak ada yang pernah benar-benar mengetahui isi hatinya. Kinan pernah mengira bahwa mungkin suatu hari Pra bisa memberikan kasih sayang dan kelembutan hati untuknya, dan kini Kinan tahu tidak seharusnya ia menaruh perkiraan itu. 

 

“Kau dengar, ya. Kalau hidupmu kacau, berantakan, tidak karuan, itu bukan salah ibumu yang berhasil melahirkanmu walau kau tak menginginkannya! Kebencianmu terhadap dirimu sendiri, bukan jadi tanggung jawabku untuk meredakannya!”

 

Kata-kata Kinan terbawa dalam pikiran Pra pada hari-hari kemudian. Cuaca sedang tidak sebaik biasanya. Berdasarkan info dari Kepala Meteorologi, akan terjadi gelombang tinggi dan angin kencang. Itu sebabnya sudah dua hari ini ia tidak pergi melaut. Dan seperti seorang nelayan kehilangan arah anginnya, seperti itu pula kondisi Pra setelah Kinan tidak terdengar lagi kabar keberadaannya. 

 

“Sakit kau, Pra?”

 

Ia menoleh ke arah Dawan yang baru saja selesai merapikan perahunya. Laki-laki berusia tiga puluh dua tahun itulah yang membawa Pra ke lingkup kelautan. Bukan karena Pra sangat meyakinkan, malah sebaliknya, sifatnya yang pesimistis dan skeptis itu lebih sering membuat Dawan ingin membiarkan Pra terlantar daripada membantu hidupnya menjadi lebih baik. Tapi setelah mengenalnya selang beberapa waktu kemudian, Dawan tahu bahwa Pra adalah orang yang tidak suka kepada hal-hal yang berkaitan dengan kehidupannya sendiri, walau bagian paling kecil sekali pun. Itu sebabnya, Dawan mengenalkan laut pada Pra. Hal baru yang tidak pernah ia kenal dalam hidupnya, supaya setidaknya, ia tetap hidup. Itu saja.  

 

“Aku cuma malas di rumah,” jawabnya.

“Kupikir kau melaut hari ini.”

“Memang cuacanya sudah membaik, Bang?”

“Belum.”

“Ya untuk apa aku melaut kalau begitu?”

“Bukannya itu kenapa kau mau ikut melaut denganku? Untuk pada suatu hari kapal yang kau bawa karam dan kau tenggelam bersamanya.”

 

Pra terdiam keheranan. Heran dengan alasan yang pernah ia ciptakan sendiri. Dapat ia rasakan pandangan Dawan menatapnya sinis sekaligus mengejek. Akhirnya ia mengambil pasir di dekatnya untuk menyibukkan diri dan mengalihkan kebingungannya. 

 

Dawan tertawa melihat raut wajah Pra yang serba salah. Ia tidak memasalahkan apa saja yang diinginkan Pra karena laki-laki yang tak pernah bernai bermimpi itu, harus punya satu tujuan yang setidaknya bisa menjadi tempat pengganti laut untuk pulang. 

 

“Aku tidak bisa menemukan, Kinan,” katanya lirih. Sebenarnya, ia tidak pernah memiliki keberanian untuk sesekali bercerita tentang Kinan kepada orang lain, apalagi kalau orang lain itu adalah Dawan. Ia tidak mau habis disindir olehnya seperti yang sudah-sudah. 

“Ada banyak perempuan dan kau menginginkan yang judes macam Kinanti itu.”

“Aku tidak menginginkannya.”

“Lantas mengapa kepergiannya harus menjadi tanggung jawabmu?”

 

Kedatangan Kinan dalam hidupnya adalah pemberian tiada terkira, meskipun ia juga tahu bahwa dengan begitu maka akan ada perpisahan yang baru, ia tahu sewaktu-waktu pemberian itu akan diambil kembali. Buatnya, pertanyaan kapan adalah bagian dari cara kerja semesta yang tidak akan pernah ia pahami, jadi seiring waktu berjalan, persiapan untuk kepergian yang akan datang itu akan terencana dengan sendirinya. Atau mungkinkah ini yang disebut-sebut dengan akhir sebuah cerita? Apakah Kinan benar-benar memilih hidupnya dan meninggalkan aku di sini? Tentu. Tentu saja dia memilih hidupnya tapi apakah caranya harus dengan tanpa jejak seperti ini? Aku sayang padamu, Nan. Dan itu bukan bagian dari larik sajak yang kutuliskan. Itu kebenaran yang tidak pernah bisa kusuarakan.

 

Pikiran-pikiran yang menggerogoti isi kepalanya itu melepaskan niatnya untuk menunggu matahari terbenam dan memutuskan untuk pulang. Ia berdiri tenang. Ia mulai berpikir bahwa bukan pekerjaannya untuk menghapus apa yang sudah tertulis, untuk menghentikan perjalanan yang berputar pada poros yang sama. Kalau memang ia ingin pergi, bukan kewajibanku untuk memintanya kembali. Itu pilihannya untuk memulai sekaligus mengakhirinya.

 

“Kau mau ke mana?”

“Aku lapar. Aku mau cari soto.”

 

Dawan memandang temannya itu dengan penuh kasihan. Langkahnya tidak pernah mengarah pada hal yang pasti. Ia selalu mengira-ngira apa yang ada di dalam kepala Pra itu. Satu-satunya keputusan paling masuk akal yang pernah didengarnya adalah ketika barusan ia memilih untuk pulang karena lapar. 

 

Pra berlalu sambil menenteng sepatunya ketika Dawan berteriak, “Dia dapat pekerjaan yang lebih baik, Pra!”

 

Pra menunduk. Ia mengandaikan jika manusia memiliki tombol ON/ OFF yang bisa ia gunakan kapan saja. Nan, bagaimana kalau kita pergi dan tidak kembali? Kadang aku berpikir bahwa tujuan hanya ada dalam kepala dan tidak pernah ada wujud aslinya. Karena bukankah hidup memang seperti laut, Nan? Sunyi, padahal berisik. Tenang, padahal pemarah. Luas, padahal tidak sama sekali. Aku tidak akan menjangkaumu, Nan. Jangan berharap ada puisi yang bisa selesai tuntas, karena itu tidak lebih dari kejahatan yang paling masuk akal, yang bisa kulakukan terhadap diriku sendiri. Harusnya memang tidak pernah ada kamu.

 

Tanpa menoleh, Pra berucap, “Itu pilihannya untuk meninggalkanku, Wan.”

“Dia tidak pergi, Pra. Dia cuma lari darimu.”

IMG_3363 2

Dua

IMG_3363 2

 

Andai suara yang bisa didengar nggak cuma dari mulut doang, ya. Andai yang ada di kepala juga bisa didengar orang lain tanpa perlu dikatakan. Maka barangkali, tiap manusia nggak akan lagi saling menyakiti, karena telepati akan jadi hal umum buat semua orang. Maka barangkali juga, Kinan akan mengenyahkan semua puisi-puisi jelek yang tidak akan bisa dihapus dari dalam kepala Pra. Ia ingat betul apa yang pernah dikatakan laki-laki yang memiliki nama depan Dewa itu, Nan, aku sedang mengumpulkan serpihan angkat-angka dari sisa umurku ke dalam sebuah buku. Nanti kamu baca, ya.

 

“Puisi itu tidak bisa dimakan, Nan.” Salah seorang temannya yang juga bekerja di tempat yang sama dengannya itu berkata demikian, ketika Kinan coba untuk minta pendapatnya. Seolah-olah, sedikit saja naluri perasaan yang ia miliki tidak boleh digunakan barang sekali saja dalam seumur hidupnya. “Lagian, cowok macam dia itu pasti pacarnya ada selusin!”


Yang bisa membenarkan kabar angin itu cuma Pra atau bahkan dirinya sendiri. Kinan tahu Pra bukan laki-laki sempurna, bahkan ia juga tahu Pra bukan orang baik, tapi semua yang keluar dari mulutnya adalah hal yang nyata adanya, sekalipun puisi-puisi bodoh yang tidak masuk akal itu. Kinan percaya dengan deretan kata-kata yang Pra ciptakan, karena entah apa ada yang lebih jelas dari itu.


“Kamu ini hidup di mana, Pra?”
“Di sini bersamamu.”
“Tubuhmu, ya. Isi kepalamu? Aku tidak pernah tahu.”
“Mau?”
“Mau?”
“Mau masuk ke kepalaku?”
“Ogah! Kalau aku keluar lalu jadi penyair juga sepertimu, lantas bagaimana? Siap kalah saing denganku?”
“Aku sudah selalu kalah kalau harus berhadapan denganmu, Nan.”


Kinan tersenyum. Kenapa dia mesem-mesem begitu? Jangan-jangan dia mulai suka aku. Atau memang ke semua dia begitu. Kinan… Kinan… Harusnya kau simpan saja senyummu itu sendirian.

 

Keduanya saling diam dan tidak memerhatikan. Saling atur rencana setelah ini harus apa. Harusnya ini kesempatan buat Pra memulai pertunjukan kata-kata, atau mungkin dengan sengaja Kinan sudah membungkam pemikirannya.


Tiba-tiba, perempuan yang senang menonton acara memasak di internet itu dihampiri kecurigaan, bahwa mungkin saja ada yang ganjal di dalam perasaannya. Apa ini yang dinamakan rasa senang? Apakah ini perasaan yang selalu dibicarakan orang-orang?


“Kamu ini kayak orang yang suka masak, tapi cuma masak buat dirinya sendiri.”
“Menulis puisi nggak bisa pakai resep di televisi, Nan.”
“Terus pakai resep apa?”
“Resep ikan laut?”
“Ikan air tawar saja nggak bisa memangnya?”
“Bangkrut dong usahaku,”
“Sejak kapan kamu dicatat jadi pengusaha?”
“Kita pengusaha sejak keluar dari tubuh ibu, Nan. Harus begitu kalau belum mau mati.”


Kinan tersenyum kembali. Didapati hatinya berjalan keluar dari batas aman yang dijaganya selama ini. Mungkin ia akan tersandung perasaannya sendiri esok hari, atau mungkin ia sudah jatuh dan ketika itu segera berdiri lagi, atau ia akan selalu jatuh dan tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.


“Ditulis, Pra…Kalau cuma ada di kepalamu, nggak akan pernah jadi puisi.”
“Terus selama ini aku buat apa?”
“Kamu tidak pernah buat apa-apa.”
“Nah, kamu ke aku kayak gitu. Ada, tapi nggak nyata. Nggak ada, tapi nyata di kepala.”
“Kamu suka aku?”
“Aku mau kamu.”


Seketika, jarum jam yang selama ini begitu terlihat pasti, mendadak berjalan dengan langkah yang begitu jarang. Seakan malu mengaku ragu, seakan mau menyembunyikan masa lalu.


Pra menoleh, sebab perempuan yang paling disayanginya itu justru tertawa. Kenapa? Tidak. Terlalu puitis menanyakan kabarnya. Apa, sih? Tidak juga. Terlalu posesif. Tidak ada surat kepemilikan di antara mereka. Jadi secara hukum semesta, itu tidak bisa tercipta.


“Kamu tidak pernah suatu hari bercermin lalu tertawa, Nan?”
“Memangnya aku gila?”
“Entahlah, karena tiap kali kamu tertawa, aku tidak bisa waras.”
“Lho, memang pernah? Memang pernah waras?”


Satu-satunya nelayan yang dikenal tidak waras oleh Kinan itu, menahan tawanya. Bukan cuma tawa, tapi rasanya juga. Ia merelakan kenyamanan itu, bukan karena ia takut kehilangan Kinan di sebuah cerita yang buruk, tapi karena ia tahu bahwa ia sudah memilikinya di waktu singkat yang baik.

***


“Besok libur?”
“Ya, aku ada janji dengan Pra.”
“Masih mau kau bertemu orang gila seperti dia?”


Yang boleh bilang Pra orang gila cuma aku. Yang boleh jahat padanya cuma aku. Siapa saja yang tidak mengenalnya, yang tidak tahu perjuangannya di tengah samudra yang bisa saja tidak mengizinkannya pulang, tidak boleh menyerangnya. Karena sebenarnya dia tidak gila, dia cuma menginginkan aku dan itu bukan salahnya. Kinan tidak berhenti belajar untuk mendesain rasio berpikirnya supaya mampu menangkap pandangan Pra terhadap dunia. Walau ia sering kesulitan bila harus berhadapan dengan mimpi-mimpi Pra yang sering tidak masuk akal, sekaligus hebat di saat yang bersamaan.


Mimpi-mimpi tentang sebuah ruang yang bisa membekukan angka-angka. Tentang perjalanan ke tempat yang banyak orang menyebutnya dengan masa lalu. Tentang memeluk tubuh seorang ibu yang baginya lebih baik mati, daripada harus tahu bagaimana pahitnya rasa merindu. Tentang ayah yang tidak pernah mengetuk pintu sejak rumah jadi kenyamanan yang membelenggu. Tentang potret Jakarta yang menelan habis bahagia dan jiwanya. Aku sudah lama mati, Nan. Aku yang ada di hadapanmu adalah manusia baru yang berharap tidak pernah dilahirkan.


“Kalian tuh apa sih, Nan? Kekasih?”
“Kami berteman baik, Rin.”
“Teman kok selalu saja berantem.”
“Nah, iya, kan? Mana mungkin jadi kekasih.”
“Ya-”
“Sudah, aku pulang duluan, ya.”


Akerina, teman kerja Kinan. Perempuan yang lahir dan besar di Maluku. Ia juga yang mengajak Kinan bekerja, ketika waktu itu Kinan masih jadi buruh pabrik di sebuah perusahaan tekstil. Sekarang, perusahaan tekstil itu sudah gulung tikar karena produk kain impor yang membanjir. Memang nggak ada yang pernah pasti hidup di negeri ini. Semua berubah dengan cepat. Bahkan untuk menyadarinya saja nggak sempat.


Tapi aku selalu sama, Nan, aku akan selalu jadi Pra.
Itu barusan kamu kasih aku berita buruk?
Ya, bahwa beberapa hal emang nggak akan berubah, Nan.
Buat kamu, mungkin.
Loh, aku nggak berubah buat kamu.
Pra, kamu sekarang lihat aku. Lihat hidupku. Kemeja putihku sudah memudar warnanya, dan untuk beli yang baru aja aku harus mikir-mikir lagi. Memangnya kamu bisa beliin aku? Hah? Kamu sehari bisa makan saja udah lumayan. Pra, nyatanya, beberapa roda memang nggak akan berputar. Kesedihan ini stagnan, bahkan kayaknya, cuma itu satu-satunya yang pasti.

 

Kinan harus mencari kerja tambahan, karena gaji pokoknya di salon kecantikan tempat ia bekerja, tidak cukup untuk bayar tagihan. Pernah suatu hari, Rina, begitu panggilan akrabnya pada Akerina, memberi tahu bahwa ada lowongan penyiar radio di pusat kota. Sudah dicoba, berujung gagal karena Kinan bukan orang yang pintar bicara. Pernah juga ditawari jadi penyanyi di kafe, juga gagal karena Pra tidak menyetujuinya.


“Ya, aku tau suaramu bagus tapi bukan berarti harus nyanyi di kafe begitu, Nan.”
“Tapi uangnya lumayan.”
“Apa tidak ada yang lain selain perkara uang di otakmu itu?”
“Apa tidak ada yang lain selain kertas-kertas jelek yang tidak pernah ada wujudnya itu?”
“Pokoknya aku tidak setuju.”
“Aku tidak minta setujumu.”
“Jadi?”
“Aku mengambil pekerjaan itu.”


Harinya tiba. Kinan sudah siap dengan bibir merah yang sebenarnya tidak membuatnya nyaman, tapi bila atas urusan pekerjaan, terjun ke jurang sekalipun akan ia lakukan. Kadang-kadang aku berpikir, seandainya ibu masih ada dan aku bisa tahu bagaimana rasanya tinggal di rumah yang utuh, apakah yang terjadi hari ini tidak akan lebih buruk? Orang lain bisa meraih bintang harapannya. Bahkan ada yang sudah sampai ke bulan. Sedangkan aku? Bersenang-senang saja tidak pernah. Aku tidak tahu rasanya jadi manusia. Atau memang cuma begini saja rasanya?

 

“Kau sudah siap?”


Seorang laki-laki berbicara ke arahnya. Dia sepertinya yang bertugas mengurus pembayaran tiap penyanyi yang bekerja di sana, termasuk Kinan salah satunya. Ia mengamati penampilan Kinan dari atas hingga ujung kaki, bergumam lewat tatapan jahat yang bisa dengan mudah dilihat lewat matanya, yang tak berhenti memandangi bibir Kinan yang indah. Kinan merasakan ada respon yang aneh dari tubuhnya. Ia bahkan juga mendengar suara Pra seperti memintanya pulang. Persiapan yang sudah begitu sempurna, runtuh dalam sedetik saja.


“Maaf, saya mau pulang aja.”


Laki-laki itu membentaknya, “Sudah gila, kau?! Mau pulang bagaimana semua sudah menunggu? Cepat!!”


Ia kemudian menarik tangan Kinan sekeji-kejinya. Begitu kasar. Tidak manusiawi sama sekali. Perempuan yang dikenal begitu tangguh itu menangis, ketakutan. “Lepaskan aku!!! Lepaskan aku!”


“Biarkan ia pulang.”


Muncul seorang laki-laki. Tubuhnya tinggi. Dilihat dari wajahnya, sepertinya masih muda. Dia sebentar melihat ke arah Kinan. Kinan pun ikut mencari di mana sumber suara yang dengan begitu lembutnya membolehkan ia pulang. Tanpa berpikir, Kinan segera berlari keluar kafe sampai ketika tubuhnya menabrak seseorang.


“Nan?”
“Pra, kita pulang!”


Mereka pun pulang berjalan kaki. Kinan berjalan di depan, dan Pra mengikutinya di belakang. Kinan masih tidak berucap apa pun, yang dilakukannya cuma mengingat kembali bagaimana sentuhan kasar itu menindas habis perasaannya. Ia tidak suka menangis. Ia tahu harusnya ia tidak perlu sampai menangis. Apalagi bila Pra sampai melihatnya, satu-satunya orang yang mengenalnya kuat dan tidak mudah dikalahkan. Namun, semakin ditahan semakin menggetarkan hatinya sendiri. Begitu rendahkah aku di mata seorang laki-laki? Apa mungkin bapak juga pernah bersikap kasar kepada ibu seperti apa yang dilakukan orang di kafe tadi? Apakah Pra juga bisa memenuhi kemungkinan itu? Diam-diam, ia terus menangis walau sebenarnya yang ingin ia lakukan adalah meneriakkan berbagai kata-kata, tetapi tidak. Ia tidak akan membiarkan hatinya menguasainya tanpa ada yang tersisa. Nggak. Ini semua nggak nyata.

 

Pra berjalan mendekatinya, berusaha mengambil tangannya ke dalam genggamannya, namun Kinan yang masih sensitif dengan segala macam sentuhan itu menolaknya dan menahan dirinya untuk tidak bersuara.


“Nan, tunggu,”
“Berhenti, Kinanti!”


Kinan menghentikan langkahnya, Pra menghampiri dan melihat wajahnya berubah merah seperti ada amarah yang berkecamuk di dalam hati dan pikirannya. Kinan lalu menundukkan kepalanya.


“Nan, maaf aku tidak setuju kamu bernyanyi, tapi aku datang karena ingin melihatmu. Sekarang kenapa jadi begini?”
“Sudahlah,” Kinan membuang pandangannya dan menguatkan suaranya.
“Apanya yang sudah, Nan? Kamu menangis, dan tidak bisa jadi sudah begitu saja.”
“Maaf aku tidak menuruti perkataanmu,” katanya dengan terisak dan menyambung, “Aku mau pulang, Pra, aku cuma mau pulang saja.”


Kinan menangis dan melepas tangisannya sampai ia bahkan tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri. Pra mengambilnya ke pelukannya, dan pada saat itu, untuk pertama kalinya Kinan merasakan kelembutan seorang laki-laki, kelembutan yang kalau diperhatikan adalah satu-satunya kelembutan yang bisa ia temukan setelah ibunya berpulang.


“Hal paling bodoh yang kulakukan adalah memelukmu, jadi jika setelah ini kamu ingin membunuhku, lakukan saja, Nan. Aku cuma tidak bisa melihatmu menangis.”


Betapa tenangnya hatiku mendengar apa yang barusan dikatakannya. Aku memang pernah bilang akan mengirimnya ke ujung dunia kalau sampai ia jatuh cinta denganku, tapi tidak bisa kuelakkan bahwa aku nyaman sekali berada dalam dekapannya. Kinan sudah lama menyadari perhatian Pra terhadap hidupnya. Dia melihat bagaimana Pra berusaha menjaganya, dan untuk sekarang ini, Pra adalah satu-satunya orang yang paling memahaminya. Tapi Pra tidak pernah memerhatikan hidupnya sendiri, itu yang jadi satu-satunya alasan mengapa Kinan mengutuk segala macam rasa yang menghuni Pra. Ia tidak akan mengizinkan siapa pun membuat hidupnya berantakan karena cinta, apalagi kalau orang itu adalah Pra. Tidak. Tidak akan pernah.

 

Malam itu, mereka seperti memerankan sebuah pertunjukan. Waktu Kinan menyatu dalam separuh dari tubuh Pra, ada kasih sayang yang diharapkan Pra lebih dari apapun. Ia selalu tahu bahwa yang dihadapinya setiap hari tetaplah seorang perempuan. Sekuat dan setangguh apapun kelihatannya, Kinan tetap perempuan, apalagi bila urusannya dengan tentang rasa yang tak pernah mau diungkapkannya. Kesedihan menciptakan harapan baru. Kinan harus mau dipaksa belajar bahwa hidup ini memang tentang rasa sakit, ia harus mau menerima bahwa ia tetap manusia paling lemah di dunia walau sebesar apapun usahanya untuk berpura-pura. Nan, aku memahamimu, lebih dari pemahamanku tentang mengapa waktu harus terus berjalan, bila akan lebih mudah kalau kita hentikan di sini saja. Aku sungguh-sungguh waktu aku bilang aku menginginkanmu. Dan kalau rumah tentang pulang, dan tiap pengelana harus mencari tujuan, maka kamu adalah bekal sekaligus tanah kematianku, Nan. Kalau tidak kamu, maka tidak siapa pun. Itu kutukan yang bisa saja selesai, tapi lebih baik hidup dalam kutukan daripada harus meninggalkanmu. Menangislah, Nan. Menangislah karena pertunjukan ini tidak akan bisa jadi abadi. Menangislah karena itu satu-satunya yang bisa kulakukan untuk bisa memilikimu.

IMG_3362

Satu

IMG_3362

 

Jadi, bagaimana Jakarta? Pra melepas sepatunya, meletakannya di belakang sebuah pot putih berisikan tanaman monstera. Dibaca dari banyaknya monstera yang tumbuh, pemilik rumahnya pasti sibuk bekerja. Sebab, monstera bukan tanaman yang manja. Ia bahkan mau memaafkan cahaya paling terang sekalipun dengan tetap hidup.

 

“Siapa lagi yang berpulang?”

 

“Ibunya. Ibu kandungnya.”

 

Pra diam sebentar, tak lama ia melangkah masuk ke dalam rumah yang diisi orang berpakaian serba hitam. Ia kemudian melihat kemejanya sendiri, “Nan, ini biru tua apa hitam?”

 

“Sudah. Duduklah.”

 

Semua orang duduk mengelilingi jenazah seorang perempuan yang bahkan tidak ia kenal sebelumnya. Membacakan doa-doa, entah itu isinya ucapan selamat atau terima kasih. Selamat sudah abadi. Terima kasih sudah pernah hidup. “Kok, ada yang buka handphone di saat lagi begini, Nan?”

 

“Kan, sekarang banyak aplikasi doa di handphone. Kamu nggak tahu?”

 

“Kitab suci modern gitu?”

 

“Susah ngomong sama orang jadul!”

 

Tampak seorang gadis kecil duduk tepat di samping jenazah, bersimpuh, memohon agar kedua mata itu bisa terbuka lagi. Pra menilik, Kenapa tidak ada yang berusaha menenangkan tangis anak kecil itu? Apa upacara kepergian selalu memaklumi kesedihan?

 

Kinan ikut mengamati kebingungan Pra, segera ia bertanya sebelum laki-laki paling sok tahu itu seenaknya mengambil keputusan. “Hei, lihat apa?”

 

Pra lantas berjalan merangkak, semakin dekat dengan gadis kecil itu. Dihantui hantu atau rasa  penasarannya sendiri sudah tidak ada bedanya. Orang-orang yang ada di situ berhenti membaca doa, memerhatikan Pra yang entah sedang melakukan apa. Kinan hanya menampung malu dengan terus tersenyum. Awas Si Jadul itu. Aku pukul dia nanti!

 

“Kenapa menangis?”

 

Sungguh pertanyaan yang tidak pantas dikeluarkan oleh laki-laki berusia dua puluh empat tahun di sebuah rumah duka. Kinan yang melihatnya cuma bisa menarik nafas panjang. Jangan sampai sepulang dari sini gantian aku yang mati karena habis sudah paham maklumku padamu, Pra.

 

Yang terdengar hanya suara sesenggukan, hal normal yang dilakukan anak kecil ketika ditinggal ibunya. Hal yang selalu normal untuk dilakukan semua orang ketika ditinggal orang yang dicintainya. Kinan menghampiri Pra, mengajaknya keluar.

 

“Kamu ini udah gila, ya?”

“Nan, apa ucapara kepergian selalu memaklumi kesedihan?

 

Perempuan yang paling marah bila ditanya ada apa itu memelankan laju suaranya, “Kita pulang aja deh.”

***

 

“Nan, kamu memang senang ya datang ke rumah duka? Memang tadi yang meninggal siapamu?”

“Bukan siapa-siapa, Pra.”

“Lalu? Aku ngapain tadi?”

“Aku tidak memintamu ikut. Bukannya kamu sendiri yang bertanya aku ada di mana?”

“Nan, nggak melayat orang yang bahkan nggak kamu kenal itu nggak dosa,”

“Kamu ngomong kayak gitu kalau baru sehari kenal aku nggak jadi masalah deh.”

“Cie. Tumben anak kekinian ini senang punya masalah.”

 

Tempat favorit Kinan di muka bumi ini adalah sebuah rumah, rumah duka lebih tepatnya. Pra sudah berulang kali menebak-nebak mengapa ia senang sekali melayat orang mati yang juga tidak ia kenal.

 

Karena kamu juga mau mati, Nan?

Karena kamu senang dengar orang baca doa bareng-bareng?

Karena ramai aja gitu?

Oh! Aku tahu. Pasti karena kamu bisa lihat yang begitu-begituan, kan.

Sudahlah, Nan, biarkan mereka pergi dengan tenang. Apa kamu nggak takut ketemu hantu?

Ya kalau bukan itu semua, terus apa dong?

 

Kinan tidak menjawab. Perempuan paling jelek di tempat ia bekerja itu tidak pernah mau menanggapi pertanyaan Pra yang tidak jarang kelewat gila. Seperti:

 

Nan, sekarang ke bulan sudah gampang. Apa nggak mau daftar?

Nan, apa menurutmu alam raya perlu dibela?

Duh, Nan, kamu ini terlalu sibuk dengan batas waktu yang memburu, sampai tidak sadar bahwa selama ini kamus bahasa memperlakukan manusia dengan tampa. Tidakkah pantas kata tanya diciptakan tanpa ada kata jawabnya?

Hei, Nan, kamu menyukaiku, kan?

Yang terakhir adalah pertanyaan yang pernah buat Kinan marah. Sampai-sampai, seminggu lamanya ia tidak mau melihat wajah Pra muncul di tempat ia bekerja. “Kamu kalau masih berani ke sini, aku lurusin rambutmu!”

***

 

“Tadi… bagus ya, Nan, tanaman monsteranya? Itu yang meninggal tadi pasti orang sibuk itu.” Pra masih saja mencoba untuk mencairkan suasana dari rumah duka. Padahal ia pun tahu, kalau sudah begini, kebaikan seputih mutiara pun tidak akan benar buat Kinan; perempuan yang umurnya dua tahun lebih tua darinya, perempuan yang walau sudah hampir empat tahun mengenalnya masih saja penasaran sebenarnya Pra ini orang beneran atau bukan.

 

Satu-satunya hal yang membuat mereka masih berada di tempat yang sama adalah karena mereka sama-sama sendirian. Pra hidup sendiri, sedangkan ibu Kinan meninggal ketika melahirkannya dan bapaknya sudah menikah lagi dan entah sekarang berada di mana. Nasib buruk menghadirkan rasa cukup.

 

“Kamu juga tau nggak kalau monstera itu beracun?”

“Wah. Berarti keindahan itu berbahaya, ya, Nan?”

 

Kinan adalah monsteraku. Tidak pernah membuatku susah, bahkan aku yang lebih sering membebaninya. Seperti daun monstera yang cukup besar dan tidak mudah gugur, kesabarannya padaku seperti kasih sayang seorang ibu. Kalau monstera luarnya indah tetapi beracun, maka Kinan tampak buruk namun dalam hatinya ia seperti karpet berbahan wol di rumah duka tadi. Tidak. Jangan sampai Kinan tahu apa yang sedang Pra pikirkan dalam kepalanya. Bisa-bisa ia mengirimnya ke neraka. Walau Kinan sendiri tidak percaya bahwa ada tempat yang bisa lebih mengerikan dari dunia yang sedang dia huni sekarang. Atau jangan-jangan, selama ini mereka memang sudah tinggal di neraka?

 

Waktu itu, Kinan masih kelas satu SMP ketika bapaknya memutuskan untuk menikahi sales rokok yang lebih cocok jadi kakaknya ketimbang jadi ibu angkatnya. Bahkan Kinan yakin pasangan yang tidak sudi ia anggap orangtua baru itu, sekarang, pasti sudah berpisah. Heran, padahal bapakku bukan orang kaya. Kenapa perempuan yang kakinya seputih tepung terigu itu mau memberikan mahkotanya untuk kakek-kakek? Dan kenapa harus menikah segala? Padahal masih banyak hotel melati yang kosong dan banyak kesempatan bahkan di luar batas angka-angka yang mereka ketahui. Kenapa harus dengan menikah? Apakah ikatan suci sekarang bisa untuk kepentingan saja? Pikiran kotornya itu selalu tidak terpecahkan karena pada akhirnya ia kembali pada keyakinannya bahwa cinta adalah sesuatu yang valid tanpa perlu diuji, yang mengalir dalam darah manusia tanpa perlu dilihat di ruang laboratorium. Ia percaya, cinta adalah hal terakhir yang masih bisa membedakan dunia yang ia huni sekarang dengan neraka yang akan datang. Ya. Ia selalu percaya itu. Tapi mungkinkah cinta yang ia butuhkan ada dalam tubuh penyair gagal yang pikirannya jadul itu?

 

“Aku tidak akan mau sama kamu, Pra,”

“Aku cuma bahas monstera dari tadi.”

“Terus? Kenapa ke sini? Hmm? Kenapa masih ke sini lagi?”

 

Pra diam. Mengingat perpisahan yang baru terjadi beberapa jam sebelumnya. Bahwa ada yang lebih menyedihkan dari tangisan gadis kecil di rumah duka tadi. Bahwa sebenarnya ia ingin sekali menangis, bersimpuh, berdoa, agar… agar tidak pernah kembali. Tapi kalau harus ia ceritakan semua, mungkin sejak awal ia tidak akan pernah mencintai puisi; tanah lapang di mana yang kelihatan akan sulit untuk benar-benar terlihat. Ia tidak suka menjelaskan sebuah maksud, juga memaksudkan yang sudah benar-benar jelas. Buatnya, tidak ada yang perlu dibentuk karena manusia adalah abstrak. Seperti lingkaran hitam yang ketika didekati ternyata merupakan bagian atap dari sebuah topi. Yang membuat suatu hal jadi benar karena ada yang tidak benar, Nan, kalau semua masih terlihat mudah, di situ letak masalah.

 

“Kamu sekarang cuma bisa bahasa serangga, ya?”

 

Pra tidak menjawab. Ia malah membayangkan bagaimana bila besok ketika bangun, ia sudah menjelma menjadi seekor serangga? Tapi ia tidak sendiri, Kinan juga ikut menemaninya. Kira-kira serangga apa yang cocok buat menggambarkannya? Apa kita setia seperti kupu-kupu saja, Nan? Tapi apa harus jadi kupu-kupu dulu untuk bisa setia? Mereka cuma kawin sekali dalam seumur hidupnya. Menolak hati lain yang mendekatinya. Apa kita mampu, Nan?

 

“Nan, kalau jadi kupu-kupu, mau?”

“Nggak. Umurnya pendek.”

 

Tidak ada yang tersisa kecuali dirinya sendiri. Tubuh jangkung yang kian hari kian kurus itu dengan rambut ikalnya yang sengaja dibiarkan panjang, supaya semakin sepadan dengan hidupnya yang berantakan. Tidak ada yang tersisa dari Jakarta. Termasuk bau aspal, jembatan penyebrangan, tempat ibadah, restoran siap saji yang padahal jual burger kesukaannya, juga tukang parkir yang akhirnya jadi gila karena ditinggal istrinya. Jangankan rumah, tempat berpijak pun tidak ada. Senja kesayangannya sudah lumer dan membentuk sebuah kota mati yang memanggilnya untuk melahirkan sebuah puisi.

 

“Nan, tunggu dong, apa nggak bisa jalannya lebih pelan sedikit?”

 

Kinan menghentikan langkahnya.

 

“Pra, aku nggak bisa ngikutin semua mau kamu. Kalau yang kamu cari adalah pasangan puisimu itu, maka sudah sampai bosan kukatakan bahwa bukan aku orangnya. Sastraku sudah lama tidak terdengar nafasnya, Pra. Sekarang yang kuinginkan cuma hidup, bukan tentang buku-buku itu. Maaf, tapi fantasimu tidak cukup untuk duniaku. Pulang, Pra, pulanglah.”

 

Oke. Akan kubiarkan ia meneruskan langkahnya yang terburu-buru, jika memang itu maunya. Tapi aku tidak akan pulang, tidak selain kepadanya.

***

 

Meskipun sebenarnya ia ingin sekali mengejar Kinan, yang gerakan kakinya seolah-olah dikejar kereta api itu, tapi tidak. Bukti bahwa sebenarnya segala hal yang Kinan inginkan bisa ia berikan, sekalipun waktu. Kamu tidak bisa santai sedikit, ya, Nan? Tidak usah dijawab kalau dengan buru-buru, toh, sama juga menjelaskan, begitu kata Pra ketika itu.

 

“Apa?”

“Yang biasa saja, Bu.”

 

Pra membeli sebungkus rokok. Berdiri di depan sebuah warung pinggir jalan yang juga jual es kelapa muda kesukaannya. Tempo hari ia mengajak Kinan juga, tapi tetap, bukan juga tempat yang bisa membuatnya senang.

 

“Aku cuma mau berusaha.”

“Kamu tau tidak semua yang diusahakan bisa ada hasilnya.”

“Terus gimana dong? Masa hidup cuma duduk manis saja sampai mati?”

“Kalau dengan begitu kamu tidak ganggu aku, ya sudah, mungkin lebih baik memang begitu.”

“Terus ke mana, Nan? Kalau nggak sama kamu aku harus ke mana?”

 

Perempuan yang senang pakai jeans teratung itu menatapnya kasihan. Dalam hatinya ia berusaha memaafkan sikap dirinya sendiri terhadap satu-satunya laki-laki di dunia yang mustahil membuatnya jatuh cinta. Atau justru sebaliknya. Dasar bego kamu, Pra. Apa aku harus menerima cintamu dulu baru puisi-puisi jelekmu itu berhenti kamu kirim? Apa kamu tidak tahu bahwa ibu kos lah yang selalu jadi pembaca pertama puisi-puisimu itu? Pra. Cinta yang kamu anggap suci itu tidak lebih dari bon belanja sayur yang berkerut-kerut. Kertas-kertas itu lebih indah bila kulipat jadi perahu daripada harus kubaca. Aku tidak akan membiarkan hatiku senang karenamu, Pra. Aku tidak mau jadi bait dalam puisimu. Lebih baik aku menikah dengan nelayan yang paling-paling akan meninggalkanku karena ditelan laut, bukan pergi tanpa pesan seperti yang bisa kamu lakukan. Pra, aku tidak akan memberimu kesempatan itu. Tidak selama aku hidup.

 

Ia kembali sendirian, keadaan paling bermasalah sekaligus solusi dari masalah itu sendiri. Tidak jarang dipikirkannya tentang ke mana perginya doa-doa itu. Aku tidak pernah minta hujan, tapi hujan dikirim-Nya. Aku tidak pernah minta diriku sendiri, tapi aku dikirim-Nya ke bumi. Selama ini yang kuinginkan cuma sebuah surat balasan, tapi tidak juga kuterima. Apakah di surga tidak ada tukang pos? Kinan bilang sekarang kitab suci sudah ada di dalam handphone, lantas apa Tuhan tidak bisa belajar menjawab lewat sms saja? Atau lewat whatsapp karena kuota internetku masih banyak. Tuhan, Kau di mana? Apakah tidak sampai pertanyaan-pertanyaan itu? Lalu, harus ke mana lagi? Kalau kamus bahasa saja selama ini memperlakukanku dengan tampa?

 

Pembunuh paling kejam nomor satu di dunia itu berkeliaran di dalam kepalanya sendiri. Mungkin dia akan baik-baik saja, tapi tidak sekarang. Mungkin juga dia tidak akan baik-baik saja, tapi cuma untuk sekarang. Dalam kenyataannya, nggak ada yang benar-benar tahu berapa sebetulnya takaran kesembuhan yang kita butuhkan. Karena bisa jadi, rasa sakit adalah keadaan paling sembuh yang bisa kita rasakan.